KAJIAN PUSTAKA
2.3 Pembangunan Masyarakat .1 Pengertian Pembangunan
Menurut Siagian (2002: 67) pembangunan didefenisikan sebagai suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana yang dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintahan menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa dengan harapan kesejahteraan rakyat dapat tercapai.
Mengenai defenisi tentang istilah pembangunan itu sendiri, Riyadi (dalam Theresia 2015: 2) mengungkapkan bahwa beragam rumusan yang dikemukakan oleh banyak pihak, namun kesemuanya itu mengarah kepada suatu kesepakatn bahwa Pembangunan adalah suatu usaha atau proses perubahan, demi tercapainya tingkat kesejahteraan atau mutu hidup suatu masyarakat (dan individu-individu di dalamnya) yang berkehendak dan melaksanakan pembangunan itu.
Berdasarkan pendapat diatas dapat dipaparkan bahwa pembangunan adalah usaha perubahan yang dilakukan suatu bangsa, Negara dan pemerintah yang bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat.
Dalam Theresia (2015: 3) terkandung begitu banyak pokok-pokok pikiran tentang istilah pembangunan yaitu:
a. Pembangunan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan yang tidak pernah kenal berhenti untuk terus menerus mewujudkan perubahan-perubahan dalam kehidupan masyarakat dalam rangka mencapai perbaikan mutu hidup dalam situasi lingkungan kehidupan yang juga terus menerus mengalami perubahan.
b. Proses pembangunan yang terjadi bukanlah sesuatu yang sifatnya alami atau given melainkan suatu proses yang diaksanakan dengan sadar atau terencana.
c. Proses perubahan yang akan dilaksanakan dan ingin dicapai dalam setiap pembangunan adalah perubahan yang menyeluruh yang mencakup beragam aspek dan tatanan kehidupan masyarakat yang bersangkutan.
d. Pembangunan dimaksudkan untuk menghasilkan individu-individu yang senantiasa memiliki kepekaan tentang keadaan-keadaan yang akan terjadi, masalah-masalah yang sedang dan akan terjadi, alernatif-alternatif yang mungkin dilaksanakan untuk mengatasi atau memecahkan masalah tersebut dan dengan kemampuan sendiri (swakarsa, swadaya, swadana) mengambil keputusan untuk memilih alternative-alternatif demi perbaikan mutu hidup masyarakat dan keluarganya.
e. Pembangunan adalah sesuatu yang dari, oleh dan untuk masyarakat sehingga pembangunan bukanlah kegiatan yang direncanakan, dilaksanakan dan dimaksudkan untuk memenuhi kepentingan segolongan atau sekelompok warga masyarakat.
f. Pembangunan adalah pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan masyarakat yang bersangkutan. Artinya pembangunan harus benar-benar dimaksudkan untuk memperbaiki mutu hidup setiap individu dam masyarakatnya dan bukannya mengorbankan manusia demi tercapainya tujuan-tujuan pembangunan.
Sejalan dengan pengertian diatas, maka secara ringkas dikemukakan oleh Mardikanto (dalam Theresia, 2015: 6):
Pembangunan adalah upaya yang dilakukan secara sadar dan terencana, dilaksanakan terus menerus oleh pemerintah bersama-sama segenap warga masyarakatnya atau dilaksanakan oleh masyarakat dengan difasilitasi oleh pemerintah dengan menggunakan teknologi yang terpilih, untuk memenuhi segala kebutuhan atau memecahkan masalah-masalah yang sedang dan akan dihadapi, demi tercapainya mutu hidup atau kesejahteraan
seluruh warga masyarakat dari suatu bangsa yang merencanakan dan melaksanakan pembangunan tersebut.
Kartasasmita (dalam Theresia 2015: 14) menjelaskan bahwa pembangunan menurut kepustakaan ekonomi pembangunan seringkali didefenisikan sebagai suatu proses yang berkesinambungan untuk mewujudkan peningkatan pendapatan riil perkapita melalui peningkatan jumlah dan produktivitas sumber daya.
2.3.2 Pendekatan Pembangunan
Muhi et.al (dalam Theresia 2015: 12) mengemukakan beberapa pendekatan teoritis tentang pembangunan yaitu:
1. Teori Evolusi, yang mengacu kepada evolusi peradaban yang dikemukakan oleh Charles Darwin yang menyebutkan bahwa setiap komunitas akan mengalami perubahan dari kehidupan yang sangat sederhana kearah yang semakin kompleks, sebagai akibat dari perubahan-perubahan sosial, ekonomi, kependudukan, geografi, rasial, teknologi maupun ideologi
2. Teori Perubahan Sosial, Emile Durkheim (1964) yang menyatakan bahwa pembangunan terjadi sebagai akibat adanya perubahan struktur sosial dalam bentuk pembagian pekerjaan. Sedangkan Redfield (1947) menyatakan bahwa pembangunan terjadi karena terjadinya perubahan masyarakat tradisional kea rah masyarakat perkotaan
3. Teori Struktural Fungsional, Parsons (1851) mengemukakan bahwa pembangunan terjadi karena adanya perubahan status dari suatu interaksi sosial yang terjadi dalam:
- Adaptasi terhadap kebutuhan situasional - Pencapaian tujuan-tujuan
- Integrasi atau pengaturan tata hubungan
- Pola pemeliharaan atau pengurangan ketegangan dari pada budaya tertentu 4. Teori Ekonomi, Gunar Mrdal (1970) mengemukakan bahwa pembangunan
terjadi karena beberapa kondisi ekonomi yang mencakup:
- Hasil dan pendapatan - Tingkat produktivitas - Tingkat kehidupan - Sikap dan pranata - Rasionalitas
5. Teori Konflik yang dicetuskan oleh Karl Marx (1883-1919) yang menyatakan bahwa pembangunan terjadi karena adanya konflik atau pertentangan kepentingan ekonomi antar kelas antara kelas pemodal (yang berkuasa) dan kelas yang tertindas (buruh)
6. Teori Ekologi yang dikemukakan oleh Odum (1971) tentang hubungan antar manusia dari lingkungannya (fisik dan sosial). Menurutnya, pembangunan terjadi sebagai akibat pemanfaatan sumber daya yang melimpah maupun optimasi pemanfaatan sumber daya yang semakin terbatas
7. Teori Ketergantungan (Dependensi) yang berkembang di Amerika Latin sebagaimana dilaporkan oleh Frank (Wilber, 1979) dimasa Negara Maju mendominasi Negara yang belum berkembang sedemikian rupa sehingga pembangunan di Negara yang belum maju sangat tergantung kepada kehendak/kebutuhan Negara maju yang menjadi “penjajah”nya.
8. Teori Alternatif, dalam mencari jalan kearah pembangunan yang berkeadilan serta ketidakpuasan terhadap pelaksanaan teori-teori pembangunan di Negara-negara berkembang. Korten (1984) memunculkan teori baru yang menyajikan potensi-potensi baru yang penting guna memantapkan pertumbuhan dan kesejahteraan manusia, keadilan dan kelestarian pembangunan itu sendiri.
Teori ini menyatakan bahwa pembangunan harus berorientasi pada peningkatan kualitas hidup manusia bukan pada pertumbuhan ekonomi melalui pasar maupun memperkuat Negara.
Terkait dengan perkembangan teori tentang pembangunan tersebut Wrihatnolo dan Dwijiwinoto (dalam Theresia, 2015) mengemukakan adanya pergeseran paradigma pembangunan sebagai berikut:
Pembangunan berbasis masyarakat secara sederhana dapat diartikan sebagai pembangunan yang mengacu kepada kebutuhan masyarakat, direncanakan dan dilaksanakan oleh masyarakat dengan sebesar-besarnya memanfaatkan potensi sumber daya (alam, manusia, kelembagaan, nilai-nilai sosial-budaya dll) yang ada dan dapat diakses masyarakat setempat.
Sejalan dengan itu, telaahan tentang pembangunan berbasis masyarakat akan mencakup (Theresia, 2015: 28):
1. Pembangunan dari atas dan atau dari bawah (Top Down/Buttom Up) 2. Pembangunan berbasis sumber daya lokal
3. Pembangunan berbasis modal sosial 4. Pembangunan berbasis kebudayaan 5. Pembangunan berbasis kearifan lokal 6. Pembangunan berbasis modal spiritual 2.3.4 Ciri-Ciri Pembangunan Masyarakat
Dalam melakukan pembangunan perlu diketahui apa tujuan dari pembangunan itu, apakah berbasis masyarakat atau tidak. Berikut ini dijelaskan ciri-ciri pembangunan masyarakat antara lain:
Moeljarto Tjokrowinoto (dalam Theresia 2015: 22) memberikan deskripsi mengenai cirri-ciri pembangunan yang berpusat pada rakyat sebagai berikut:
1. Pertama, prakarsa dan proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tahap demi tahap harus diletakkan pada masyarakat sendiri.
2. Kedua, fokus utamanya adalah meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengelola dan memobilisasikan sumber-sumber yang terdapat di komunitas untuk memenuhi kebutuhan mereka.
3. Ketiga, pendekatan ini mentoleransi variasi lokal dan karenanya sifatnya fleksibel menyesuaikan dengan kondisi lokal
4. Keempat, didalam melaksanakan pembangunan ditekankan proses social learning yang didalamnya terdapat interaksi kolaboratif antara birokrasi dan komunitas mulai dari proses perencanaan sampai evaluasi proyek dengan mendasarkan diri saling belajar
5. Kelima, proses pembentukan jejaring (networking) antara birokrasi dan lembaga swadaya masyarakat, satuan-satuan organisasi tradisional yang mandiri merupakan bagian integral dari pembangunan. Melalui proses networking diharapkan terjadi simbiosis antara struktur-struktur pembangunan di tingkat lokal. Dasar interpretasi pembangunan yang berpusat pada rakyat adalah asumsi bahwa manusia adalah sasaran pokok dan sumber paling strategis.
Inti dari pembangunan masyarakat adalah pemberdayaan (empowerment) yang mengarah pada kemandirian masyarakat. Dalam konteks ini, dimensi partisipasi masyarakat menjadi sangat penting. Melalui partisipasi kemampuan masyarakat dan perjuangan mereka untuk membangkitkan dan menopang pertumbuhan kolektif menjadi kuat. Tetapi partisipasi disini bukan hanya berarti keterlibatan masyarakat
dalam pelaksanaan pembangunan atau masyarakat hanya ditempatkan sebagai
“objek”, melainkan harus diikuti keterlibatan masyarakat dalam pembuatan keputusan dan proses perencanaan pembangunan atau masyarakat juga ditempatkan sebagai
“subjek” utama yang harus menentukan jalannya pembangunan.
2.3.5 Kategori Pembangunan Masyarakat
Dalam pembangunan masyarakat, kategori ini dijadikan acuan oleh para fasilitator dan semua pemangku kepentingan termasuk masyarakat untuk mengambil keputusan tentang kegiatan-kegiatan yang seharusnya dilakukan untuk mencapai tujuan pembangunan yang diinginkan.
Philips dan Pittman (dalam Theresia, 2015: 304) mengemukakan beberapa kategori pembangunan berbasis masyarakat yang mencakup: (a) mutu hidup, (b) pembangunan berbasis kepemimpinan, (c) evaluasi kinerja, (d) kesehatan masyarakat dan (e) keberlajutan. Untuk penjelasannya sebagai berikut:
a. Mutu Hidup merupakan kategori yang utama karena pada hakikatnya pembangunan berbasis masyarakat bertujuan untuk memperbaiki mutu hidup masyarakat. Tentang hal ini terdapat 9 parameter yang dapat digunakan, yaitu:
- Modal ventura atau modal penyertaan oleh pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat
- Pemerataan hubungan antara individu dan kelompok dalam masyarakat - Kesehatan masyarakat
b. Pembangunan Berbasis Kepemimpinan menjadi kategori yang penting diperhatikan karena didalam setiap upaya pembangunan berbasis masyarakat selalu dilakukan pengorganisasian masyarakat. Dengan demikian, kepemimpinan masyarakat merupakan hal yang sangat strategis bagi keberhasilan pembangunan berbasis masyarakat. Lebih lanjut pembangunan berbasis kepemimpinan juga sangat diperlukan untuk keberlajutan program/kegiatan pembangunan berbasis masyarakat
c. Evaluasi Kinerja mencakup proses dan hasil pembangunan berbasis masyarakat juga penting untuk dijadikan kategori
d. Kesehatan Masyarakat dijadikan kategori pembangunan masyarakat karena perbaikan ekonomi tidak selalu mencerminkan kondisi kesehatan masyarakat seperti kesehatan ibu dan anak, kesehatan lingkungan serta penghayatan masyarakat terhadap pentingnya kesehatan
e. Keberlanjutan merupakan salah satu kategori yang harus diperhatikan karena untuk menjaga agar pembangunan berbasis masyarakat jangan terhenti seperti
“proyek pasar malam” yang hilang tak berbekas manakala proyeknya telah berhenti.
Selain kategori-kategori diatas, perlu diperhatikan pula tentang kategori keberdayaan masyarakat yang dapat menunjukkan seseorang atau masyarakat itu berdaya atau tidak. Sehingga ketika pendampingan sosial diberikan, segenap upaya dapat dikonsentrasikan pada aspek-aspek apa saja dari penerima manfaat perubahan yang perlu dioptimalkan.