• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

III- 56. Pembatasan Masalah

Agar masalah yang dibahas tidak menyimpang dari pokok permasalahan dan tujuan yang telah ditetapkan maka dilakukan pembatasan masalah. Pada bagian ini akan dijelaskan hal-hal apa yang melatarbelakangi penetapan batasan masalah dalam penelitian ini.

Perusahaan memiliki tiga jenis suku cadang, rotable material, repairable material, dan consumable material. Dalam penelitian ini, suku cadang yang diteliti adalah suku cadang consumable. Hal ini dikarenakan pada suku cadang jenis consumable sering terjadi beberapa permasalahan pada kondisi persediaan seperti terjadinya stock out dan over stock. Selain terjadinya permasalahan tersebut, suku cadang consumable merupakan material yang harus dihitung mulai dari proses kebutuhan, penggunaan, pengadaan, hingga pemenuhannya karena material consumable ini mutlak harus dipenuhi apabila ada suatu aktivitas perawatan, maka suku cadang consumable memerlukan stock yang lebih dipantau di gudang dibandingkan dengan suku cadang rotable dan repairable yang harganya sangat mahal, sehingga perusahaan tidak akan mengisi stock sampai suku cadang tersebut memang tidak bisa lagi diperbaiki atau digunakan kembali.

Data suku cadang yang diambil adalah 60 jenis suku cadang consumable yang paling tinggi frekuensi permintaannya mulai tahun 2001 hingga tahun 2010. Hal ini dikarenakan penelitian dilakukan pada tahun 2011 dan pada proses penyelesaian penelitian ini memerlukan data permintaan beberapa tahun yang lalu. Harga suku cadang yang dipakai adalah harga suku cadang pada tahun 2010, karena harga pada tahun tersebut paling mendekati dengan harga suku cadang pada tahun 2011.

3.2.2 Pengklasifikasian Suku cadang Berdasarkan Metode Klasifikasi ABC

Pengklasifikasian suku cadang dilakukan untuk mengetahui tingkat kepentingan dari masing-masing item suku cadang. Tahap-tahap yang dilakukan dalam pengklasifikasian persediaan berdasarkan konsep ABC adalah :

1. Membuat daftar semua suku cadang yang ingin diklasifikasikan dan menentukan jumlah pemakaian suku cadang untuk setiap item suku cadang tersebut. Data yang diperlukan dalam proses ini yaitu data historis permintaan 60 suku cadang pada tahun 2001 hingga 2010.

commit to user

III-6

2. Penentuan harga beli masing-masing suku cadang yang ingin diklasifikasikan. Data yang diperlukan dalam proses ini yaitu data harga suku cadang pada tahun 2010.

3. Penentuan nilai pemakaian setiap item suku cadang dengan cara mengalikan jumlah pemakaian dengan harga beli masing-masing suku cadang.

4. Penjumlahan nilai pemakaian semua item suku cadang untuk memperoleh nilai pemakaian total semua suku cadang.

5. Perhitungan persentase pemakaian setiap suku cadang dari hasil bagi antara nilai pemakaian tiap suku cadang dengan nilai pemakaian total semua suku cadang.

6. Pengurutan daftar nilai pemakaian tiap-tiap suku cadang mulai dari nilai pemakaian yang terbesar hingga terkecil.

7. pengklasifikasian nilai pemakaian suku cadang yang telah diurutkan tersebut ke dalam kelas A, B dan C dengan kriteria kelas A dengan maksimal nilai persentase pemakaian 80%, kelas B dengan maksimal nilai persentase pemakaian 15% dan sisanya dikelompokan ke dalam kelas C.

3.2.3 Perhitungan Rata-Rata Permintaan, Standar Deviasi, Holding Cost,

Ordering Cost, dan Shortage Cost

Pada perhitungan total biaya persediaan suku cadang membutuhkan perhitungan rata-rata permintaan, standar deviasi, holding cost, ordering cost dan shortage cost. Berikut ini adalah uraian dari masing-masing perhitungan komponen tersebut :

1. Rata-Rata Permintaan Suku cadang

Perhitungan rata-rata permintaan suku cadang didapatkan melalui perhitungan rata-rata permintaan suku cadang pada data kurun waktu 2001 hingga 2010 disesuaikan dengan keterkaitan data masing-masing part number. Berikut uraian perhitungan rata-rata permintaan suku cadang:

x

X X X ………… X

n ….………(3.1)

Dimana :

commit to user

III-7

Xn = data permintaan suku cadang ke-n (unit) n = jumlah data (unit)

2. Standar Deviasi

Dalam perhitungan standar deviasi terdapat 2 komponen yang dibutuhkan yaitu data jumlah permintaan dan rata-rata dari data jumlah permintaan. Berikut adalah uraian perhitungan standar deviasi:

σ=艰 X1- x 2+ X2- x 2+...+ Xn- x 2

n-1 ………….………..(3.2)

Dimana:

σ = standar deviasi (unit)

Xn = data jumlah permintaan ke-n (unit)

x = rata-rata dari data jumlah permintaan (unit)

3. Holding Cost

Holding cost adalah biaya yang digunakan untuk merawat persediaan suku cadang. Dalam menentukan holding cost terdapat dua komponen yang diperlukan yaitu interest rate dan biaya operasional gudang. Data yang dibutuhkan untuk menentukan interest rate yaitu bunga pinjam bank dan harga suku cadang per unit. Kemudian Data yang dibutuhkan untuk menentukan biaya operasional gudang yaitu data gaji pegawai selama setahun dan rata-rata jumlah persediaan suku cadang digudang persediaan. Berikut adalah uraian perhitungan holding cost :

hb = I + B……….…..….(3.3) Dimana,

hb = holding cost (Rp/unit/periode) I = interest rate (Rp/unit/tahun)

B = biaya operasional gudang (Rp/unit/tahun) Keterangan :

I = bunga pinjam bank × harga suku cadang per unit………...(3.4) B = gaji pegawai selama satu tahun

commit to user

III-8

4. Ordering Cost

Ordering cost merupakan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk memperoleh suku cadang dari pemasok. Data yang diperlukan untuk menentukan ordering cost yaitu data biaya internet selama satu bulan, jumlah seluruh order dalam satu tahun, serta proporsi penggunaan internet. Berikut adalah uraian perhitungan ordering cost :

A = f × bt

j ………..(3.6)

Dimana,

A = Ordering cost (Rp/order)

f = Proporsi penggunaan internet untuk pemesanan suku cadang (%) bt = Biaya internet selama satu bulan (Rp)

j = Jumlah seluruh order dalam satu tahun (order)

5. Shortage Cost

Merupakan biaya yang dikeluarkan perusahaan karena terjadi kekurangan persediaan. Shortage cost terdiri dari biaya transportasi akibat kekurangan suku cadang. Shortage cost ditetapkan oleh perusahaan untuk masing-masing suku cadang yaitu 20% dari harga suku cadang.

3.2.4 Penentuan Total Biaya Persediaan Suku cadang Berdasarkan Kebijakan Usulan Menggunakan Metode Continuous Review

Dalam menentukan total biaya persediaan suku cadang berdasarkan kebijakan usulan, langkah yang dilakukan adalah dengan menggunakan metode Continuous Review. Langkah-langkah dalam metode Continuous Review:

1. Penentuan nilai service level dan nilai k

Service level merupakan tingkat pelayanan perusahaan terhadap konsumen. Range service level yang digunakan untuk setiap suku cadang yaitu mulai dari 90 % hingga 99 %. Penentuan range ini dikarenakan semakin besar nilai service level maka pemenuhan ketersedian suku cadang semakin baik, hal ini dapat mengurangi shortage dan menghidari terjadinya kekurangan stock. Pada tiap suku cadang dilakukan perhitungan nilai q, safety stock, ekspektasi backorder, ROP, serta total biaya persediaan dengan menggunakan range service level 90 % hingga 99%. Setelah itu nilai service

commit to user

III-9

level yang terpilih ditentukan berdasarkan total biaya persediaan yang terkecil.

Berdasarkan nilai serive level tersebut maka dapat ditentukan nilai dari safety factor. Safety factor atau k merupakan suatu variabel keputusan yang digunakan untuk meminimasi jumlah backorder dengan meningkatkan jumlah safety stock. Nilai k atau safety factor dapat dihitung mengacu pada persamaan 2.11.

2. Perhitungan nilai Ψk

Nilai Ψk berfungsi untuk menghitung jumlah ekspektasi backorder. Perhitungan nilai Ψk diperoleh dari perhitungan excel sebagai berikut:

Ψk = NORMDIST( x, 0, 1, 0)-F89*(1-NORMDIST( x, 0, 1, 1)) 3. Perhitungan nilai lot pemesanan (Q)

Lot pemesanan merupakan jumlah item yang dipesan oleh perusahaan agar persediaan suku cadang digudang tetap aman dengan total biaya persediaan yang minimal. Perhitungan nilai lot pemesanan (Q) mengacu pada persamaan 2.10.

4. Perhitungan safety stock

Safety stock merupakan stock pengaman yang disediakan untuk menghadapi ketidakpastian permintaan. Komponen yang menunjang dalam perhitungan safety stock yaitu safety factor (k), standar deviasi ( ), serta lead time. Perhitungan safety stok dapat diselesaikan dengan persamaan berikut ini:

SS = k × × √L……….……….(3.7)

Dimana,

SS = Safety stock (unit) K = Safety factor

= Standar deviasi (unit) L = Lead time (periode)

5. Perhitungan ekspektasi backorder

Merupakan perhitungan kemungkinan terjadinya backorder atau dapat dikatakan perkiraan terjadinya pesanan pelanggan yang tidak terpenuhi,

commit to user

III-10

karena persediaan tidak cukup memenuhi item tersebut. Perhitungan ekspektasi backorder mengacu pada persamaan 2.7.

6. Perhitungan ROP

ROP atau reorder point merupakan titik pemesanan atau pengisian kembali persediaan. Dalam perhitungan ROP membutuhkan data rata-rata permintaan, lead time, serta safety stock. Perhitungan ROP dapat diselesaikan dengan persamaan berikut ini:

ROP = D × L + SS……….……….(3.8) Dimana,

ROP = Reorder point (unit) D = Demand (unit) L = Lead time (periode) SS =Safety stock (unit)

7. Perhitungan total biaya persediaan

Dalam perhitungan total biaya persediaan, komponen yang dibutuhkan yaitu total biaya pemesanan, total biaya penyimpanan, serta total biaya backorder. Untuk menentukan total biaya pemesanan komponen yang dibutuhkan adalah data rata-rata permintaan, jumlah lot pemesanan, dan biaya pemesanan. Pada perhitungan total biaya penyimpanan komponen yang dibutuhkan adalah jumlah lot pemesanan, safety factor, standar deviasi, lead time, serta biaya simpan. Kemudian untuk menentukan total biaya backorder diperlukan beberapa komponen yaitu rata-rata permintaan, lot pemesanan, biaya backorder, standar deviasi, lead time, dan nilai Ψk. Perhitungan total biaya persediaan mengacu pada persamaan 2.9.

3.2.5 Penentuan Total Biaya Persediaan Suku cadang Berdasarkan Kebijakan Perusahaan Menggunakan Simulasi Montecarlo

Dalam menentukan total biaya persediaan suku cadang berdasarkan kebijakan perusahaan, langkah yang dilakukan adalah melakukan simulasi Montecarlo. Simulasi Montecarlo merupakan simulasi dengan model probabilistic, dimana data dihasilkan dari bilangan random yang kemudian disusun suatu distribusi probabilitas. Simulasi Montecarlo akan digunakan untuk penentuan total biaya persediaan perusahaan. Dalam simulasi montecarlo dapat menentukan

commit to user

III-11

persediaan rata-rata suku cadang selama satu tahun, jumlah order, dan banyaknya shortage. Alasan mengapa memilih menggunakan model probabilistik (simulasi montecarlo) daripada model deterministik (EOQ) yaitu karena data pada perusahaan tidak mencukupi beberapa parameter yang digunakan dalam model deterministik. Data yang tidak dimiliki oleh perusahaan diantaranya yaitu data jumlah backorder dan jumlah frekuensi pemesanan. Disamping itu untuk melakukan perbandingan metode satu dengan yang lainnya harus memiliki kriteria atau bobot pebanding yang seimbang, maka digunakan metode simulasi montecarlo untuk dibandingkan dengan metode continuous review. Langkah-langkah dalam Simulasi Montecarlo :

1. Menentukan parameter yang diamati dalam sistem, untuk hal ini adalah permintaan suku cadang.

2. Membuat distribusi frekuensi permintaan. 3. Membuat distribusi probabilitas kumulatif.

4. Mengkaitkan nilai parameter dengan bilangan random. 5. Melakukan simulasi

Beberapa data yang dibutuhkan pada proses simulasi adalah data banyaknya lot pemesanan perusahaan (Q) setiap suku cadang, data titik pemesanan kembali perusahaan (ROP) setiap suku cadang, data lead time, serta data komponen biaya berupa holding cost, ordering cost, dan shortage cost. Ada beberapa tahap dalam melakukan simulasi yaitu :

a. Penentuan jumlah permintaan suku cadang

Jumlah permintaan suku cadang ditentukan berdasarkan hasil dari pengkaitan nilai parameter dengan bilangan random.

b. Penentuan jumlah lot pemesanan

Jumlah lot pemesanan ditentukan berdasarkan banyaknya jumlah pemesanan pada kebijakan perusahaan.

c. Penentuan jumlah posisi persediaan

Posisi persediaan adalah jumlah persediaan yang ada di gudang. Untuk jumlah posisi persediaan dihitung dengan persamaan :

Posisi persediaan n = Posisi persediaan (n-1) + lot pemesanan (n) – Permintaan (n) – shortage (n-1)……….……….(3.9)

commit to user

III-12

Dokumen terkait