• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN

B. Praktek Perjanjian Antara Pemilik Beras Dengan Pengampas

2. Pembayaran Beras Dilakukan Setelah Laku Terjual

Terkait dengan pembayaran beras, biasanya pengampas akan melakukan pembayaran setelah beras tersebut laku dijual. Sebagaimana yang dikatakan oleh pengampas yang bernama Hery yang mengatakan;

“Aok tetun, ye wah alesank mele ampas beras jumrah arik, sengakn sak tebayah pas wah laku berasn sikt jualn kance ndkt perlu yak bedoe modal jarin cukup sadang modal Rp. 200.000-Rp. 400.000 jari sikt beli bensin sampet olek ngampas”.(“Iya benar, itulah alasan saya mau keliling berjualan beras jumrah dek, karena pembayarannya setelah beras laku dijual dan tidak perlu mempunyai modal cukup menyediakan modal Rp.

200.000-Rp. 400.000 sebagai modal bensin sampai pulang berjualan keliling”).81

Pernyataan Hery hampir sama dengan yang dikatakan oleh Doni, yang mengatakan:

“Aok, pasn wah laku berasn taokt bayahn terus ite cukup bedoe modal jari ajin bensin doang”(“Iya, pada saat beras sudah laku baru dibayar terus saya cukup punya modal untuk harga bensin saja”).82

80 Bapak Zulkarnaen (Kepala Desa), wawancara, Semoyang, 12 Mei 2022.

81 Hery (Pengampas), wawancara, Semoyang, 12 Mei 2022.

82 Doni (Pengampas), wawancara, Semoyang, 12 Mei 2022

38 Amak Nim yang mengatakan:

“Aok anake, ndkt yak pineng angkak pikiran modal lamut ampas beras, sengak dimin wah laku ampokn tebayah beras nukn”.

(“Iya nak, ndak pusing makanya mikirin modal kalok keliling jualan beras, karena pada saat beras sudah laku baru dibayar itu”).83

Pernyataan dari para pengampas tersebut, dibenarkan oleh pemilik beras Jumrah yang mengatakan:

“Aok arik, sengak aku kance pengampas saleng tolong dasarn, berembe ntan adit sak pade mauk untung, ye ampoke mele tebayah pasn wah laku berask, terus pengampas-pengampas nu cume sadang modal bensin gakn arik”.(“Iya dek, karena saya dengan pengampas saling tolong-menolong dasarnya, gimana caranya supaya saling menguntungkan, itulah kenapa saya mau dibayar pada saat beras sudah laku terus pengampas-pengampas itu Cuma menyediakan modal bensin saja dek”).84

3. Upah Diambil Dari Selisih Harga Beras.

Dalam praktek perjanjian antara pemilik beras dengan pengampas ini ialah sistem pengupahan, terkait dengan pengupahan ini peneliti menemukan bahwa dalam pengupahan, pihak pengampas memperoleh upah dari selisih harga yang diberikan oleh pemilik beras dengan harga yang pihak pengampas dapatkan.

Kondisi di atas tersebut sebagaimana tergambar dari hasil wawancara peneliti terhadap pihak pengampas atas nama Amak Nim yang memaparkan:

“Aok tetu anak, upak sak muke mauk elek epen beras ye aji lebih sak muke mauk elek ajin beras sak muke jual mesake. Epen beras bengk ajin beras sekilo aji Rp. 9.000 dait Rp. 225.000 ajin perkarong, elek aji Rp. 225.000 nu aku bejual juk dengan elekn kiseran Rp.

230.000 sampe Rp. 250.000 elek selisih aji tye aku mauk untung elekn Mulai elek Rp. 5.000 sampe Rp. 20.000 pekarong. Lamun care bagi maukt lek te nu aku cukupk bebeng setoran juke pen beras keloek ajin beras sak muke jauk, marak biase aku bejauk beras 40 karong, muk ajin

83 Amak Nim (Pengampas), wawancara, Semoyang, 12 Mei 2022.

84 Jumrah(Penilik Beras), wawancara, Semoyang, 12 Mei 2022.

39

beras sak 40 karong nu Rp. 9.000.000 muk kepeng sak muk mauk lek jelo nu arak Rp. 9.425.000 elek selisih sak Rp. 425.000 nu ye jari untungk sekaligus upake elek epen beras”.(“Iya benar nak, upah yang saya dapatkan dari pemilik beras merupakan harga lebih yang saya dapat dari pemilik beras dengan harga jual yang saya peroleh sendiri.

Pihak pemilik beras memberi harga per/Kg beras seharga Rp.9.000 dan Rp. 225.000 untuk harga per/karungnya dan dari harga Rp. 225.000 tersebut saya akan menjualnya kepada konsumen mulai dari kisaran harga Rp. 230.000 sampai dengan harga Rp. 250.000 dari selisih harga itulah saya akan memperoleh keuntungan mulai dari Rp.5.000 sampai dengan Rp. 20.000. per/karung. Mengenai cara pembagian hasilnya disini adalah saya cukup melakukan setoran kepada pemilik beras sejumlah harga beras yang saya bawa, seperti biasanya saya membawa beras pemilik beras sebanyak 40 karung dan harga 40 karung beras tersebut sebesar Rp. 9.000.000 dan uang yang saya peroleh pada hari itu adalah Rp. 9.425.000 dan dari selisih Rp. 425.000 inilah yang menjadi keuntungan sekaligus upah yang saya peroleh dari pemilik beras tersebut”).85

Pernyataan Amak Nim selaras dengan pernyataan yang dikatakan Amak Lena yang mengatakan :

“Aok tetu arik, aku lek ten mauk untung kance upak elek epen beras, elek aji lebih ajin beras sak tebengk isik epen beras kance ajin beras sak muke mauk bejual nu, kance lek te ite cume perlu nyetor kepeng sekeloek ajin kelapuk beras sak muke jauk”.(“Iya benar dek, saya disini mendapatkan keuntungan serta upah dari pemilik beras, berasal dari harga lebih harga yang diberikan pemilik beras denga harga yang saya peroleh dari konsumen tersebut, dan disini kita hanya perlu menyetorkan uang sejumlah harga keseluruhan beras yang kita bawa”).86

85 Amak Nim (Pengampas), wawancara, Semoyang, 12 Mei 2022.

86 Amak Lena (Pengampas ), wawancara, Semoyang 12 Mei 2022.

40

Pernyataan Amak Lena di atas dibenarkan oleh pihak pemilik beras Jumrah yang mengatakan :

“Aok anak, upak pengampas lek te tergantung elek keloek maukn pade bejual, kance kelapukn cume perlu nyetor sekeloek ajin kelapuk berask.Aku bebeng aji beras pekarong aji Rp. 225.000 kance biasen pengampas nu bejual juk dengan aji Rp. 230.000 sampe aji Rp.

250.000 elek selisih aji nu nie yak mauk untung kance upakn elek aku”.(“Iya nak, upah pengampas disini tergatung dari jumlah penjualan yang diperoleh, dan mereka hanya perlu menyetor sejumlah harga keseluruhan beras milik saya. Saya memberikan harga beras per/karung seharga Rp. 225.000 dan biasanya mereka menjual kepada konsumen seharga Rp. 230.000 sampai dengan harga Rp.250.000 dan dari selisih harga tersebutlah mereka akan mendapatkan keuntungan skaligus upah dari saya”).87

4. Resiko Yang Ditanggung Oleh Pihak Pengampas.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti, resiko atas perjanjian antara pemilik beras dengan pengampas tersebut di tanggung oleh pihak pengampas. Resiko yang dimaksud disini adalah resiko atas tidak laku terjualnya beras dari pemilik beras tersebut, mengakibatkan tidak adanya pendapatan atau pemasukan yang diperoleh oleh pihak pengampas dari beras milik pemilik beras, resiko lainnya juga ialah apabila terjadi kerusakan atau cacat terhadap beras pemilik beras yang disebabkan oleh kelalaian pihak pengampas maka pihak pengampas harus memberikan ganti rugi yang dialami oleh pemilik beras atas kerusakan beras miliknya. Karena pemilik beras tidak ingin rugi begitu saja karna kelalaian pihak pengampas, inilah yang menjadi alasan pemilik beras mencantumkan syarat-syarat tersebut pada waktu melakukan negosiasi.

Keadaan tersebut tergambar dari kutipan hasil wawancara peneliti dengan beberapa pengampas diantaranya :

Doni yang mengatakan :

“Pas aku pinak perjanjian antare epen beras kance pengampas nu, muk piran nu endah wah sanggupk isik resiko sak yake terimak lemak, lamun beras elek pen beras ndkn laku sike jualn, berarti

87 Jumrah (Pemilik Beras), wawancara, Semoyang, 12 Mei 2022.

41

aku ndke mauk hasil ato upak elek epen beras. Lamun arak side atau lecet beras epen beras sak muke jauk, sak tesebabpan kelalaian aku mesake siepk yak ganti rugi juk epen beras”.(“Saat saya membuat perjanjian antara pemilik beras dengan pengampas tersebut, maka pada waktu itu juga saya telah sanggup atas resiko yang saya terima nantinya, apabila beras dari pemilik beras tidak laku saya jual, maka saya tidak mendapatkan hasil ataupun upah dari pihak pemilik beras.

Apabila terjadi kerusakan ataupun cacat terhadap beras pemilik beras yang saya bawa, yang disebabkan kelalaian saya sendiri maka saya siap melakukan ganti rugi kepada pihak pemilik beras”.)88

Amak Nim yang mengatakan:

“Jingke waktu nu aku ngampas beras lek jalan sak jaok elek gubuk ato bangunan-bangunan, piran nu bare-baren entun ujan dait aku lupake jauk terpal isike tutup beras. Ye ampokn beras sak muke jauk basak kelapukn dait ndkn bau isike yak jualn. Isik kejadian nu aku harusk bebeng ganti rugi juke epen beras seloek Rp. 9.000.000”.(“Pada waktu itu saya mengampas beras dijalan yang jauh dari pemukiman ataupun bangunan-bangunan, pada saat itu tiba-tiba turun hujan dan saya lupa membawa terpal untuk menutupi beras. Sehingga beras yang saya bawa basah semua dan tidak bisa saya jual. Karena kejadian tersebut saya harus memberi ganti rugi kepada pemilik beras sebesar Rp. 9.000.000”).89

5. Laku Atau Tidaknya Beras Tetap Harus Dikembalikan.

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis teliti ini lebih pada adanya kewajiban pengampas untuk lansung mengembalikan beras pemilik beras apabila tidak laku terjual pada hari itu, dan apabila laku terjual sebagian maka harus tetap dikembalikan disertai dengan uang setoran hasil penjualan beras dari pemilik beras.Sebagaimana yang dikatakan oleh pengampas yang bernama Amak Lena :

“Aok arik aku ngendeng lek epen beras adin pask sak piak perjanjian ndkn bengt syarat-syarat sak berat lalok juk ite sak jari pengampas, adin sak ndk langsung tetulakan berasn lamun ndk laku tejual jelo nu, sengak lamun marak menu aku ndkn arak yake mauk

88 Doni (Pengampas), wawancara, Semoyang, 12 Mei 2022.

89 Amak Nim (Pengampas), wawancara, Semoyang 12 Mei 2022.

42

hasil ape-apen berat lalo berat olek jarin yakt perutang berasn ndkt tebengs sik epen beras”.(“Iya dek saya meminta pada pemilik beras agar pada saat melakukan perjanjian tidak memberi syarat-syarat yang terlalu memberatkan saya selaku pengampas, untuk tidak langsung mengembalikan beras miliknya apabila tidak laku terjual pada hari itu, karena apabila itu terjadi maka saya samasekali tidak mendapatkan hasil apa-apa berat pergi berat pulang jadinya beras mau dihutangin tidak dibolehkan pemilik beras”).90

Pernyataan Amak Lena senada dengan pernyataan Amak Feby yang mengatakan :

“Meni pask sak terimak tawaran elek epen beras jumrah, sak paling julun aku ngendeng juke pen beras adin sak pas bebeng syarat, syarat nu ndkn sak beratan aku, muke endengn lamun berasn sak muke jauk nu lamun ndk laku tejual yak tebeng perutang berasn kance tetepk yak tebeng upak timake sak ndk mauk jualan berasn samasekali”.(“Begini pada saat saya menerima tawaran dari pemilik beras jumrah, maka terlebih dahulu saya meminta pada pemilik beras supaya pada waktu memberi syarat, syarat tersebut tidak terlalu memberatkan saya, saya meminta apabila beras yang saya bawa tersebut tidak laku terjual maka saya tetap diberikan upah atas jasa saya meski saya tidak berhasil menjual satupun beras miliknya”).91

Perkataan yang dikatakan oleh Amak Feby dan Amak Lena dibenarkan oleh oleh pemilik beras jumrah yang mengatakan :

“Aok tetu anake, sak unin Amak Feby ndke yak pinak perjanjian lamun elek pihak pengampas ndkn mele isik syarat-syarat sak muke bengn nu, sengak lamun aku tetep yak bengn upakn timakn beras aku ndkn laku tejual samsekali , muk aku yake rugi, sengak posisin ni aku endah ndke mauk hasl ape-ape elek pihak pengampas, dait lamun aku yak bengn izin juk pengampas yak jauk berask juk balen, takutk laun arak ape-ape sak ndkt mele sak yak bengt resiko juk kancet due, epen beras kance pengampas laun”.(“Iya benar nak, yang dikatakan Amak Feby saya tidak mau melakukan perjanjian apabila

90 Amak Lena (Pengampas), wawancara, Semoyang, 12 Mei 2022.

91 Amak Feby (Pengampas), wawancara, Semoyang, 12 Mei 2022.

43

dari pihak penganpas tidak berkenan atas syarat-syarat yang saya berikan tersebut, sebab apabila saya tetap memberikan upah meski beras saya tidak laku terjual samasekali maka saya mengalami kerrugian , karena posisinya disini saya juga tidak mendapatkan hasil apa-apa dari pihak pengampas, dan apabila saya memberi izin kepada pengampas untuk membawa beras milik saya kerumahnya, takutnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang memberi resiko bagi kami berdua pihak pemilik beras dan pihak pengampas nantinya”).92

92 Jumrah (pemilik beras), wawancara, Semoyang 12 Mei 2022

Dokumen terkait