4.1.Tempat dan Sarana Pembayaran/Penyetoran Pajak
Pembayaran dan penyetoran pajak dilakukan ke Kas Negara melalui: a. layanan pada loket/teller (over the counter); dan/atau
b. layanan dengan menggunakan Sistem Elektronik lainnya, pada Bank Persepsi/Pos Persepsi/Bank Devisa Persepsi/Bank Persepsi Mata Uang Asing.
Pembayaran dan penyetoran pajak dilakukan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) atau sarana administrasi lain yang disamakan dengan SSP. Pembayaran dan penyetoran pajak meliputi pembayaran dan penyetoran PPh, PPN, PPnBM, Bea Meterai, dan PBB. Surat Setoran Pajak berfungsi sebagai bukti pembayaran pajak apabila telah disahkan oleh Pejabat kantor penerima pembayaran yang berwenang atau apabila telah mendapatkan validasi, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
Sarana administrasi lain dalam pembayaran dan penyetoran pajak dapat berupa:
1) BPN (Bukti Penerimaan Negara) atas pembayaran dan penyetoran
pajak melalui system pembayaran pajak secara elektronik atau dengan datang langsung ke Bank Persepsi
2) SSPCP atas pembayaran dan penyetoran PPh Pasal 22 impor, PPN
impor, dan PPnBM impor serta PPN Hasil Tembakau Buatan Dalam Negeri;
3) Bukti Pbk atas pembayaran dan penyetoran pajak melalui
Pemindahbukuan; atau
4) Bukti penerimaan pajak lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Tujuan pembelajaran:
29 SSP atau sarana administrasi lain dinyatakan sah dalam hal telah divalidasi dengan NTPN. Dikecualikan dari ketentuan bukti pembayaran tersebut, untuk bukti Pbk dinyatakan sah dalam hal telah ditandatangani oleh Pejabat yang berwenang untuk menerbitkanbukti Pbk. Terkait dengan pembayaran yang dilakukan oleh Wajib Pajak, diakui sebagai pelunasan kewajiban sesuai dengan tanggal bayar yang tertera pada BPN atau tanggal bayar berdasarkan validasi MPN pada SSP atau sarana administrasi lain.
4.2.Jangka Waktu Pembayaran/Penyetoran Pajak
Tabel Error! No text of specified style in document.-1 Batas Waktu Pembayaran atau Penyetoran Pajak
No Jenis Setoran Disetor Paling Lama
1 PPh Pasal 4 ayat (2) yang
dipotong oleh Pemotong
Pajak Penghasilan
Tanggal 10 (sepuluh) bulan
berikutnya setelah Masa Pajak
berakhir kecuali ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan.
2 PPh Pasal 4 ayat (2) yang
harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak
Tanggal 15 (lima belas) bulan
berikutnya setelah Masa Pajak
berakhir kecuali ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan
3 PPh Pasal 15 yang dipotong
oleh Pemotong PPh
Tanggal 10 (sepuluh) bulan
berikutnya setelah Masa Pajak
berakhir
4 PPh Pasal 15 yang harus
dibayar sendiri
Tanggal 15 (lima belas) bulan
berikutnya setelah Masa Pajak
berakhir
5 PPh Pasal 21 yang dipotong
oleh Pemotong PPh
Tanggal 10 (sepuluh) bulan
berikutnya setelah Masa Pajak
berakhir 6 PPh Pasal 23 dan PPh Pasal
26 yang dipotong oleh
Pemotong PPh
Tanggal 10 (sepuluh)bulan
berikutnya setelah Masa Pajak
berakhir
7 PPh Pasal 25 Tanggal 15 (lima belas) bulan
berikutnya setelah Masa Pajak
30
No Jenis Setoran Disetor Paling Lama
8 PPh Pasal 22, PPN atau PPN
dan PPnBM atas impor
Bersamaan dengan saat pembayaran Bea Masuk dan dalam hal Bea Masuk ditunda atau dibebaskan, PPh Pasal 22, PPN atau PPN dan PPnBM atas impor harus dilunasi pada saat
penyelesaian dokumen
pemberitahuan pabean impor
9 PPh Pasal 22, PPN atau PPN
dan PPnBM atas impor yang dipungut oleh DJBC
Dalam jangka waktu 1 (satu) hari kerja setelah dilakukan pemungutan pajak
10 PPh Pasal 22 yang dipungut oleh bendahara
Pada hari yang sama dengan
pelaksanaan pembayaran atas
penyerahan barang yang dibiayai dari APBN/D, dengan menggunakan
SSP atas nama rekanan dan
ditandatangani oleh bendahara
11 PPh Pasal 22 atas penyerahan
bahan bakar minyak, gas, dan
pelumas kepada
penyalur/agen atau industri yang dipungut oleh Wajib Pajak badan yang bergerak dalam bidang produksi bahan bakar minyak, gas, dan pelumas
Tanggal 10 (sepuluh) bulan
berikutnya setelah Masa Pajak
berakhir
12 PPh pasal 22 yang
pemungutannya dilakukan
oleh Wajib Pajak badan tertentu sebagai Pemungut Pajak
Tanggal 10 (sepuluh) bulan
berikutnya setelah Masa Pajak
berakhir
13 PPN atau PPn dan PPnBM
yng terutang dalam satu Masa Pajak
Akhir bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir dan sebelum Surat
Pemberitahuan Masa PPN
disampaikan
14 PPN yang terutang atas
pemanfaatan Barang Kena
Pajak tidak berwujud
dan/atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean harus disetor oleh orang pribadi atau badan yang memanfaatkan Barang Kena
Pajak tidak berwujud
dan/atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean
Tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah saat terutangnya pajak
31
No Jenis Setoran Disetor Paling Lama
15 PPN atau PPN dan PPnBM
yang pemungutannya
dilakukan oleh Bendahara
Pemerintah atau instansi
Pemerintah yang ditunjuk
Tanggal 7 (tujuh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir
16 PPN atau PPN dan PPnBM
yang pemungutannya
dilakukan oleh Pejabat
Penandatangan Surat
Perintah Membayar sebagai Pemungut PPN, harus disetor
Pada hari yang sama dengan
pelaksanaan pembayaran kepada
PKP Rekanan Pemerintah melalui Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara
17 PPN atau PPN dan PPnBM
yang pemungutannya
dilakukan oleh Pemungut
PPN selain Bendahara
Pemerintah atau instansi
Pemerintah yang ditunjuk
Tanggal 15 (lima belas) bulan
berikutnya setelah Masa Pajak
berakhir
18 PPh Pasal 25 bagi Wajib
Pajak dengan kriteria tertentu
sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 3 ayat (3b) Undang-Undang KUP yang melaporkan beberapa Masa Pajak dalam satu SPT Masa
Pada akhir Masa Pajak terakhir
19 Pembayaran masa selain PPh
Pasal 25 bagi Wajib Pajak
dengan kriteria tertentu
sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 3 ayat (3b) Undang-Undang KUP yang melaporkan beberapa masa pajak dalam satu SPT Masa
Sesuai dengan batas waktu untuk masing-masing jenis pajak
Selain itu, terdapat beberapa ketentuan terkait pembayaran antara lain:
a. Kekurangan pembayaran pajak yang terutang berdasarkan Surat
Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan harus dibayar lunas sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan disampaikan tetapi tidak melebihi batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan.
b. Bea Meterai harus dilunasi pada saat terutang Bea Meterai.
c. Pajak yang terutang berdasarkan Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang harus dilunasi paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal diterimanya Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang oleh Wajib Pajak.
32 d. Pajak yang terutang berdasarkan Surat Ketetapan Pajak PBB harus dilunasi paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal diterimanya Surat Ketetapan Pajak PBB oleh Wajib Pajak.
e. Pajak yang terutang berdasarkan Surat Tagihan Pajak PBB harus dilunasi paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal diterimanya Surat Tagihan Pajak PBB oleh Wajib Pajak.
f. Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, serta Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, dan Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pembetulan, Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah, harus dilunasi dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkan. Dalam hal Wajib Pajak mengajukan keberatan atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan untuk Tahun Pajak 2008 dan sesudahnya, jangka waktu untuk jumlah pajak yang belum dibayar pada saat pengajuan keberatan sebesar pajak yang tidak disetujui dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, tertangguh sampai dengan 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Surat Keputusan Keberatan.
g. Untuk jumlah pajak yang tidak disetujui dalam hasil pembahasan akhir hasil pemeriksaan baik sebagian atau seluruhnya, namun tidak diajukan keberatan, harus dilunasi dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan untuk Tahun Pajak 2008 dan sesudahnya.
h. Dalam hal Wajib Pajak mengajukan banding atas Surat Keputusan
Keberatan sehubungan dengan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan untuk Tahun Pajak 2008 dan sesudahnya, jangka waktu pelunasan jumlah pajak yang belum dibayar tertangguh sampai dengan 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Putusan Banding.
i. Bagi Wajib Pajak usaha kecil dan Wajib Pajak di daerah tertentu, jangka waktu pelunasan dapat diperpanjang menjadi paling lama 2 (dua) bulan sejak tanggal penerbitan.
Dalam hal tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak bertepatan dengan hari libur, pembayaran atau penyetoran pajak dapat
33 dilakukan paling lambat pada hari kerja berikutnya. Hari libur yang dimaksud adalah hari Sabtu, hari Minggu, hari libur nasional, atau hari yang diliburkan untuk penyelenggaraan Pemilihan Umum, atau cuti bersama secara nasional.
Saat ini Wajib Pajak dapat melakukan pembayaran/penyetoran pajak dengan sistem pembayaran pajak secara elektronik. Sistem pembayaran pajak secara elektronik adalah bagian dari sistem Penerimaan Negara secara elektronik yang diadministrasikan oleh Biller Direktorat Jenderal Pajak dan menerapkan Billing System. Billing System adalah metode pembayaran elektronik dengan menggunakan Kode Billing. Pembayaran/penyetoran pajak meliputi seluruh jenis pajak, kecuali pajak dalam rangka impor yang di- administrasikan pembayarannya oleh Biller Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan pajak yang tata cara pembayarannya diatur secara khusus. Transaksi pembayaran/penyetoran pajak secara elektronik dilakukan melalui Bank/Pos
Persepsi dengan menggunakan Kode Billing. Transaksi
Pembayaran/penyetoran pajak tersebut dapat dilakukan melalui Teller Bank/Pos Persepsi, Anjungan Tunai Mandiri (ATM), Internet Banking dan EDC (Electronic Data Capture yaitu alat yang dipergunakan untuk transaksi kartu debit/kredit yang terhubung secara online dengan sistem/ jaringan Bank Persepsi).
Atas pembayaran/penyetoran pajak secara elektronik maka Wajib Pajak akan menerima BPN sebagai bukti setoran. BPN diterbitkan dalam bentuk: a) Dokumen bukti pembayaran yang diterbitkan Bank/Pos Persepsi untuk
pembayaran/penyetoran melalui Teller dengan Kode Billing
b) Struk bukti transaksi untuk pembayaran melalui ATM dan EDC
c) Dokumen elektronik untuk pembayaran/penyetoran melalui internet
banking
d) Teraan BPN pada SSP/SSP PBB, untuk pembayaran melalui Teller
Bank/Pos Persepsi dengan menggunakan SSP/SSP PBB.
Wajib Pajak dapat memperoleh Kode Billing antar lain dengan cara:
1) Membuat sendiri pada Aplikasi Billing DJP yang dapat diakses melalui
laman Direktorat Jenderal Pajak dan laman Kementerian Keuangan 2) Melalui Bank/Pos Persepsi atau pihak lain yang ditunjuk oleh Direktur
34 3) Diterbitkan secara jabatan oleh Direktorat Jenderal Pajak dalam hal terbit ketetapan pajak, Surat Tagihan Pajak, SPPT PBB atau SKP PBB yang mengakibatkan kurang bayar.
4.3.Sanksi Administrasi Karena Terlambat Membayar/Menyetor
Menteri Keuangan menentukan tanggal jatuh tempo pembayaran dan penyetoran pajak yang terutang untuk suatu saat atau Masa Pajak bagi masing- masing jenis pajak, paling lama 15 (lima belas) hari setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak. Kekurangan pembayaran pajak yang terutang berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan harus dibayar lunas sebelum Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan disampaikan.
Pembayaran atau penyetoran pajak yang dilakukan setelah tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak, dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan yang dihitung dari tanggal jatuh tempo pembayaran sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.
Atas pembayaran atau penyetoran pajak yang dilakukan setelah tanggal jatuh tempo penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan, dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan yang dihitung mulai dari berakhirnya batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.
Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, serta Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, dan Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pembetulan, Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah, harus dilunasi dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkan.
Bagi Wajib Pajak usaha kecil dan Wajib Pajak di daerah tertentu, jangka waktu pelunasan dapat diperpanjang paling lama menjadi 2 (dua) bulan yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
Direktur Jenderal Pajak atas permohonan Wajib Pajak dapat memberikan persetujuan untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak termasuk kekurangan pembayaran paling lama 12 (dua belas) bulan, yang
35 pelaksanaannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
Batas waktu pembayaran dan penyetoran pajak yang terutang untuk suatu saat atau Masa Pajak ditetapkan oleh Menteri Keuangan dengan batas waktu tidak melampaui 15 (lima belas) hari setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak. Keterlambatan dalam pembayaran dan penyetoran tersebut berakibat dikenai sanksi administrasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Ketentuanini mengatur pengenaan bunga atas keterlambatan pembayaran atau penyetoran pajak. Untuk jelasnya cara penghitungan bunga tersebut diberikan contoh sebagai berikut:
Angsuran masa Pajak Penghasilan Pasal 25 PT A tahun 2008 sejumlah Rp10.000.000,00 per bulan. Angsuran masa Mei tahun 2008 dibayar tanggal 18 Juni 2008 dan dilaporkan tanggai 19 Juni 2008. Apabila pada tanggal 15 Juli 2008 diterbitkan Surat Tagihan Pajak, sanksi bunga dalam Surat Tagihan Pajak dihitung 1 (satu) bulan sebagai berikut:
1 x 2% x Rp 10.000.000,00 = Rp 200.000,00
Atas permohonan Wajib Pajak, Direktur Jenderal Pajak dapat memberikan persetujuan untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak
yang terutang termasuk kekurangan pembayaran Pajak Penghasilan
yang masih harus dibayar dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan meskipun tanggal jatuh tempo pembayaran telah ditentukan. Kelonggaran tersebut diberikan dengan hati-hati untuk paling lama 12 (dua belas) bulan dan terbatas kepada Wajib Pajak yang benar-benar sedang mengalami kesulitan likuiditas.
36
RANGKUMAN
1. Pembayaran dan penyetoran pajak dilakukan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) atau sarana administrasi lain yang disamakan dengan SSP.
2. Surat Setoran Pajak berfungsi sebagai bukti pembayaran pajak apabila telah disahkan oleh Pejabat kantor penerima pembayaran yang berwenang atau apabila telah mendapatkan validasi.
3. Dalam hal tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak bertepatan dengan hari libur, pembayaran atau penyetoran pajak dapat dilakukan paling lambat pada hari kerja berikutnya.
4. Sistem pembayaran pajak secara elektronik adalah bagian dari sistem Penerimaan Negara secara elektronik yang diadministrasikan oleh Biller Direktorat Jenderal Pajak dan menerapkan Billing System.
5. Pembayaran atau penyetoran pajak yang dilakukan setelah tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak, dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan.
6. Pembayaran atau penyetoran pajak yang dilakukan setelah tanggal jatuh tempo penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan, dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan.
LATIHAN
1. Jelaskan terkait dengan SSP dinyatakan sebagai bukti pembayaran pajak yang sah!
2. Jelaskan terkait dengan tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak yang bertepatan dengan hari libur!
37