HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pembebanan pada plat lanta
Gambar 34. Denah Balok 1) Beban Hidup
Berdassarkan SNI 03-1726-1989 yaitu :
Beban hidup fungsi gedung untuk perkantoran adalah tiap 1 m adalah 250 Kg/m
2) Beban Mati Plat lantai
Berat Spesi (2 cm) : 0,02 x 2100 x 1 = 42 kg/m Berat Kramik (1 cm) : 0,01 x 2400 x 1 = 24 kg/m
Berat plafond +Penggantung : = 18 kg/m
Beban M/E : = 25 kg/m +
= 109 kg/m 3) Beban Mati Plat Balkon
Berat Spesi (2 cm) : 0,02 x 2100 x 1 = 42 kg/m
Berat plafond +Penggantung : = 18 kg/m
Beban M/E : = 25 kg/m +
75 4) Pembebanan Pada Balok
Berat dinding batu bata : 250 kg/m2 Tinggi dinding lantai 3 : 4 m Tinggi dinding lantai 2 : 5 m
Berat dinding lantai 3 : (4-0,5) x 250 = 875 kg/m Berat dinding lantai 2 : (5-0,5) x 250 = 1125 kg/m
Berat dinding Partisi
Berat dinding partisi 20% dari berat dinding batu bata =250 x 20% = 50 kg/m2 Berat dinding partisi lantai 2 : (5-0,5) x 50 = 225 kg/m
Pembebanan Pada Plat Lantai
76 Pembebanan Pada Balok
Gambar 36. Pembebanan pada balok
Input Beban Rangka Atap sebagai beban titik pada kolom
77 B. Menghitung kapasitas kolom
Untuk Lantai 1.
1. Analisis Penampang Kolom K1 elev. +0.00 - +4.00
Gambar 38. Sketsa Penampang kolom K1 Dimensi : (450 x 450) mm2
Jumlah Tul. : 20 Ø16 Sengkang : Ø10 – 175 Selimut Beton : 20 mm
Luas Penampang (Ag) = 202500 mm2
Luas Tulangan (Ast) = 4019,2 mm2
Faktor reduksi kekuatan ϕ = 0,65 Faktor reduksi eksentrisitas kecil = 0,80
Kuat tekan beton (fc’) = 20,75 MPa. Tegangan Leleh Baja (fy) = 400 MPa
Φ Pn.max = 0,80 ( ϕ( 0,85 x fc’ x (Ag – Ast) + fy x Ast))
= 0,80 ( 0,65 ( 0,85 x 20,75 x (202500 – 4019,2) + 400 x 4019,2)) = 2656,360 KN.
78 Untuk Lantai 2.
2. Analisis Penampang Kolom K3 elev. +4.00 - +9.00
Gambar 39. Sketsa Penampang kolom K3
Dimensi : (400 x 400) mm2 Jumlah Tul. : 12 Ø16
Sengkang : Ø10 – 200 Selimut Beton : 20 mm
Luas Penampang (Ag) = 160000 mm2
Luas Tulangan (Ast) = 2411,52 mm2
Faktor reduksi kekuatan ϕ = 0,65 Faktor reduksi eksentrisitas kecil = 0,80
Kuat tekan beton (fc’) = 20,75 MPa. Tegangan Leleh Baja (fy) = 400 MPa
Φ Pn.max = 0,80 ( ϕ( 0,85 x fc’ x (Ag – Ast) + fy x Ast))
= 0,80 (0,65(0,85 x 20,75 x(160000 – 2411,52) + 400 x 2411,52)) = 1946,919 kN.
79 Untuk Lantai 3.
3. Analisis Penampang Kolom K5 elev. +9.00 - +13.00
Gambar 40. Sketsa Penampang kolom K5 Dimensi : (300 x 300) mm2
Jumlah Tul. : 8 Ø16 Sengkang : Ø10 – 200 Selimut Beton : 20 mm
Luas Penampang (Ag) = 90000 mm2
Luas Tulangan (Ast) = 1607,68 mm2
Faktor reduksi kekuatan ϕ = 0,65 Faktor reduksi eksentrisitas kecil = 0,80
Kuat tekan beton (fc’) = 20,75 MPa. Tegangan Leleh Baja (fy) = 400 MPa
Φ Pn.max = 0,80 ( ϕ( 0,85 x fc’ x (Ag – Ast) + fy x Ast))
= 0,80 (0,65(0,85 x 20,75 x(90000 – 1607,68) + 400 x 1607,68)) = 1145,088 kN.
Dengan menggunakan cara yang sama seperti diatas. Maka, hasil evaluasi kapasitas setiap type kolom di rangkumkan dalam bentuk tabel di bawah ini.
80 Tabel 9. Kapsitas Kolom
Type
Kolom Φ.Pn Max (N) Φ.Pn Max (kN)
K1 2656360,257 2656,360 K2 2496533,956 2496,534 K3 1946918,904 1946,919 K4 1787092,603 1787,093 K5 1145087,603 1145,088 K6 686512,6029 686,513
81 C. Menghitung kapasitas balok dengan menggunakan aplikasi Beton2000
1. Balok Induk 1 (BI. 1) Data umum balok:
Lebar : 300 mm Tinggi : 500 mm Tebal selimut : 20 mm Tulangan atas : 5Ø22 mm Tulangan bawah : 3Ø22 mm Tulangan sengkang : Ø10 – 150 mm Kuat tekan beton (fc’) : 20,75 MPa Kuat leleh tul.pokok (fy) : 400 MPa Kuat leleh tul.sengkang (fy) : 343,5 MPa
Input data dan sketsa penampang balok BI 1 daerah tumpuan
82 Hasil Analisis
Gambar 42. Hasil analisis BI 1 Adapun hasil analisis sebagai berikut:
Mr atas : 241,748 kNm. Mr bawah : 151,182 kNm.
2. Balok Induk 2 (BI. 2) Data umum balok:
Lebar : 300 mm Tinggi : 500 mm Tebal selimut : 20 mm Tulangan atas : 4Ø22 mm Tulangan bawah : 3Ø22 mm Tulangan sengkang : Ø10 – 150 mm Kuat tekan beton (fc’) : 20,75 MPa Kuat leleh tul.pokok (fy) : 400 MPa Kuat leleh tul.sengkang (fy) : 343,5 MPa Input data dan sketsa penampang balok
83 Input data dan sketsa penampang balok BI 2 daerah tumpuan
Gambar 43. Input data BI 2 Hasil Analisis
Gambar 44. Hasil analisis BI 2 Adapun hasil analisis sebagai berikut:
Mr atas : 205,972 kNm. Mr bawah : 151,182 kNm.
84 3. Balok Induk 3 (BI. 3)
Data umum balok:
Lebar : 300 mm Tinggi : 650 mm Tebal selimut : 20 mm Tulangan atas : 6Ø22 mm Tulangan bawah : 3Ø22 mm Tulangan sengkang : Ø10 – 125 mm Kuat tekan beton (fc’) : 20,75 MPa Kuat leleh tul.pokok (fy) : 400 MPa Kuat leleh tul.sengkang (fy) : 343,5 MPa
Input data dan sketsa penampang balok BI. 3 daerah tumpuan
85 Hasil Analisis
Gambar 46. Hasil analisis BI. 3 Adapun hasil analisis sebagai berikut:
Mr atas : 398,81 kNm. Mr bawah : 205,921 kNm.
4. Balok Induk 4 (BI. 4) Data umum balok:
Lebar : 300 mm Tinggi : 650 mm Tebal selimut : 20 mm Tulangan atas : 3Ø19 mm Tulangan bawah : 3Ø19 mm Tulangan sengkang : Ø10 – 150 mm Kuat tekan beton (fc’) : 20,75 MPa Kuat leleh tul.pokok (fy) : 400 MPa Kuat leleh tul.sengkang (fy) : 343,5 MPa
86 Input data dan sketsa penampang balok BI. 4 daerah tumpuan
Gambar 47. Input data BI 4
Hasil Analisis
Gambar 48. Hasil analisis BI 4 Adapun hasil analisis sebagai berikut:
Mr atas : 116,263 kNm. Mr bawah : 116,263 kNm.
87 B. Analisis Wilayah Gempa dengan Peta Gempa Tahun 2010
Lokasi Objek : Bungku Tengah, Kab. Morowali Klasifiasi site : Tanah lunak
Faktor keutamaan gedung, IE : II dengan koefisien 1,00
Peta Respons Spektra percepatan 0,2 detik (Ss) di batuan dasar (SB) untuk probabilitas 2% dalam 50 tahun
Gambar 49. Peta Respons Spektra percepatan 0,2 detik (Ss) di batuan dasar (SB) untuk probabilitas 2% dalam 50 tahun
Lokasi DPRD Morowali
88 Peta Respons Spektra percepatan 1,0 detik (S1) di batuan dasar (SB) untuk probabilitas 2% dalam 50 tahun.
Gambar 50. Peta Respons Spektra percepatan 1,0 detik (S1) di batuan dasar (SB) untuk probabilitas 2% dalam 50 tahun.
A. Menentukan Koefisien Situs, Fa dan Fv Tabel 10. Koefisien periode pendek, Fa
Klasifikasi Site (Sesuai Tabel 3) SS Ss ≤ 0.25 Ss = 0.5 Ss= 0.75 Ss = 1.0 Ss ≥ 1.25 Batuan Keras (SA) 0.8 0.8 0.8 0.8 0.8 Batuan (SB) 1.0 1.0 1.0 1.0 1.0
Tanah Sangat Padat
dan Batuan Lunak (SC) 1.2 1.2 1.1 1.0 1.0
Tanah Sedang (SD) 1.6 1.4 1.2 1.1 1.0
Tanah Lunak (SE) 2.5 1.7 1.2 0.9 0.9
Tanah Khusus (SF) SS SS SS SS SS
Dari hasil tabel diatas diperoleh nialai Fa untuk tanah lunak (SE) adalah 0,9
Lokasi DPRD Morowali
89 Tabel 11. Koefisien periode 1 detik, Fv
Klasifikasi Site (Sesuai Tabel 3) S1 S1 ≤ 0.1 S1 = 0.2 S1 = 0.3 S1 =0.4 S1 ≥ 0.5 Batuan Keras (SA) 0.8 0.8 0.8 0.8 0.8 Batuan (SB) 1.0 1.0 1.0 1.0 1.0
Tanah Sangat Padat
dan Batuan Lunak (SC) 1.7 1.6 1.5 1.4 1.3
Tanah Sedang (SD) 2.4 2.0 1.8 1.6 1.5
Tanah Lunak (SE) 3.5 3.2 2.8 2.4 2.4
Tanah Khusus (SF) SS SS SS SS SS
Dari hasil tabel diatas diperoleh nialai Fv untuk tanah lunak (SE) adalah 2,4
B. Menentukan Spektral Respon Percepatan SDS dan SD1
Koefisien Situs, Fa dan Fv masing – masing untuk tanah lunak adalah 0,9 dan 2,4 maka, nilai SDS dan SD1 :
SDS = 2/3 (Fa x Ss) = 2/3 (0,9 x 2,25) = 1,35 SD1 = 2/3 (Fv x S1) = 2/3 (2,4 x 0,65) = 1,04
Tabel 12. Kategori Desain Seismik Berdasarkan Parameter Respon Percepatan Pada Periode Pendek
90 Tabel 13. Kategori Desain Seismik Berdasarkan Parameter Respon Percepatan Pada
Periode 1 Detik
Dari hasil diatas, Kategori Desain Seismik (KDS) berdasarkan nilai SDS adalah D dan berdasarkan nilai SD1 adalah D. Kesimpulan dari hasil Kategori Desain Seismik (KDS) adalah D. Dengan kategori desain seismik (KDS) adalah D, maka sistem bangunan yang digunakan adalah sistem bangunan Struktur Rangka Beton Bertulang Pemikul Momen Khusus.
C. Desain Respon Spektrum, Sa
a) Untuk perioda yang lebih kecil dari T0, digunakan grafik dari persamaan: [ ]
b) Untuk perioda T0 sampai TS, digunakan grafik dari persamaan: Sa = SDS c) Untuk perioda lebih besar dari Ts, digunakan grafik dari persamaan:
Dimana : T = Periode Getar Fundamental Struktur sebagai berikut
d) Perkiraan periode fundamental alami, Ta
Nilai Ta untuk gedung < 12 lantai, dengan sistem rangka penahan momen beton atau baja :
91 Ta = 0,1 x 3 = 0,3
D. Kombinasi Pembebanan 1,2D + 1,0E + L
0,9D + 1,0E
Akibat beban sesimik maka kombinasi pembebanan sebagai berikut : E = Eh ± Ev, dimana : Eh = Pengaruh beban gempa horizontal.
Ev = Pengaruh beban gempa vertikal.
Eh = ρQE
Ev = 0,20 SDS D
Dimana : ρ = faktor redudansi, untuk KDS D dan F adalah 1,30 QE = pengaruh gaya gempa horizontal dari V atau Fp. SDS = respon spektra desain periode pendek adalah 1,35
Untuk mensimulasikan arah pengaruh gempa rencana yang sembarang terhadap struktur gedung, pengaruh pembebanan gempa dalam arah utama harus dianggap efektif 100% dan harus dianggap terjadi bersamaan dengan pengaruh Pembebanan gempa dalam arah tegak lurus pada arah utama pembebanan tetapi dengan efektifitas hanya 30%.
Jadi persamaan kombinasi pembebanan adalah : 1,47D + 1,0Ex + 0,3Ey + L
1,47D + 0,3Ex + 1,0Ey + L 1,17D + 1,0Ex + 0,3Ey 1,17D + 0,3Ex + 1,0Ey
92 C. Analisis gedung dengan menggunakan respon spektrum berdasarkan
Peta gempa tahun 2010
Setelah dilakukan evaluasi element struktur dan balok, maka tahap selanjutnya adalah menganalisis seluruh komponen struktur gedung dengan menginput nilai respon spektrum ke pembebanan gedung tersebut.
Gambar 51. Grafik Respon Spektrum yang diinput ke SAP2000
Setelah menginput grafik respon spektrum ke SAP2000, maka tahap selanjutnya mencoba menganalisis struktur tersebut dengan merunning program tersebut, dan hasilnya sebagai berikut.
93 Dari hasil analisis yang dilakukan, diperoleh kegagalan struktur berjumlah 478 buah element struktur kolom dan balok yang mengalami failure (kegagalan).
Gambar 53. Hasil check struktur
Berikut gambar-gambar kerusakan struktur yang terjadi.
94 Jenis kegagalan yang terjadi adalah kegagalan geser (shear) seperti gambar berikut ini.
Gambar 55. Kegagalan geser
Setelah diketahuinya kegagalan yang terjadi, secara garis besar bahwa dapat disimpulkan bahwa stabilitas struktur (Capasity) yang ada sekarang masih sangat kurang untuk dapat menahan kombinasi beban yang diberikan khususnya dengan beban gempa yang berdasarkan peta gempa tahun 2010. Maka upaya yang dilakukan adalah perkuatan element struktur (Retrofitting) dengan cara merubah dimensi balok untuk tercapainya kestabilan yang diinginkan (Demand). Perlu diketahui bahwa, analisis yang dilakukan bukan hanya dengan analaisis Respon Spectrum melainkan dengan analisis Statik Eqivalen.
Kedua metode Respon Spektrum dan metode Analisis Statik Eqivalen
dilakukan untuk memenuhi syarat bangunan tak beraturan untuk gaya geser dasar (Pasal 7.1.3 SNI 03-1726-2002) yakni V respon spektrum > 80% V statik eqivalen. Untuk analisis respon spektrum yang dilakukan juga harus dalam partisipasi massa dalam menghasilkan respon total mencappai minimal 90% (Pasal 7.2.1 SNI-03-1726- 2002).
Setelah dengan diketahuinya tipe kegagalan geser yang terjadi, maka upaya perkuatan yang dilakukan yakni dengan memperbesar dimensi balok yang mengalami kegagaln tersebut. Dari hasil triall and eror yang dilakukan untuk mendapatkan struktur yang stabil maka dapat diperoleh dimensi dari tiap-tiap balok yang ada. Berikut hasil dimensi balok sebelum dan setelah dievaluasi.
95 Evalusi BI.1
Dari hasil analisis dengan aplikasi Sap2000 diperoleh: Vu = 387164,9 N
bw = 300 mm, h = 500 mm
d = 500 - 20 - 10 – 22 – (22/2) = 437 mm fc’ = 20,75 MPa
Kuat geser beton adalah Vc = √
Vc = √ Vc = 99531,49 N.
Kegagalan geser berarti ; Vs >Vs maks ( √ ) Dimana ; Vs maks = √
Vs maks = √ Vs maks = 398125,9 N.
Vs = Vu/Ø – Vc
Vs = (387164,9/0,65) - 99531,49
Vs = 483700 N > Vs maks (solusinya adalah dengan memperbesar dimensi)
Dalam penelitian ini dilakukan trial and eror dikarenakan ketika mendapatkan dimensi yang tepat (Vs < Vs maks) namun masih tetap terbaca kegagalan geser pada SAP2000, maka dimensi diperbesar sampai mendapatkan dimensi BI.1 adalah 55/75 dengan Vs = 224735,899 N dan Vs maks = 1433982,25 N (Vs < V maks).
Dengan cara yang sama, elemen struktur yang mengalami kegagalan geser dilakukan dengan memperbesar dimensi penampang. Hasil dari evaluasi tersebut dibuat dalam bentuk tabel (Tabel. 14) berikut ini.
96 Tabel 14. Dimensi Sebelum dan Setelah Evaluasi
No. Type Balok dan Kolom Dimensi (cm)
Sebelum Setelah 1 BI 1 50 x 30 75 x 55 2 BI 2 50 x 30 75 x 45 3 BI 3 65 x 30 65 x 45 4 BI 4 50 x 30 50 x 30 5 Ba 0 30 x 20 50 x 30 6 Ba 1 40 x 20 60 x 40 7 Ba 2 50 x 20 60 x 40 8 Ba 3 50 x 25 55 x 30 9 Ba 4 40 x 15 75 x 45 10 Ba 5 30 x 20 75 x 55 11 Ba 6 80 x 10 80 x 30 12 RB 50 x 30 65 x 45 13 RB 1 25 x 15 75 x 45 14 RB 2 20 x 15 60 x 45
Tambahan balok untuk balok balkon
teras 15 BI 2 - 1 50 x 30 70 x 50 16 BI-11 50 x 30 95 x 60 17 K1 45 x 45 45 x 45 18 K2 45 x 45 60 x 60 19 K3 40 x 40 45 x 45 20 K4 40 x 40 40 x 40 21 K5 30 x 30 45 x 45
97 Berikut gambar hasil pemeriksaan struktur setelah di evaluasi
Gambar 55. Setelah di evaluasi Kontrol gaya geser dasar yang dihasilkan
98 Pada tabel Base Shear di atas tertulis untuk comb 3 gaya geser dasar arah-X adalah 660744,81 Kg dan combo 4 arah-Y adalah 642608,21 Kg sedangkan untuk STEx dan STEy (statik eqivalen) adalah 538758,65 kg. Maka syarat gaya geser dasar untuk metode analisis respon spektrum terhadap metode statik eqivalen Vrp > 80%Vsq terpenuhi.
Kontrol participacing mass ratio yang dihasilkan
Gambar 57. participacing mass ratio
Participacing mass ratio untuk mengetahui jumlah ragam (mode) dalam analisis Modal mencukupi sehingga partisipasi massa dalam menghasilkan respon total mencapai minimal 90% (Pasal 7.2.1 SNI 03-1726-2002). Dan hasil yang diperoleh dalam analisis ini telah tercapai mode partsipasi massa dengan Modal 12 yakni SumUX sebesar 0,994 dan SumUY sebesar 0,993.
99 D. Evaluasi joint dengan menggunakan Beton2000
Evaluasi pada joint dilakukan sebagai syarat struktur bangunan dengan menggunakan sistem Struktur Beton Bertulang Penahan Momen Khusus. Evaluasi dilakukan pada titik-titik yang dianggap kritis beban pada join eksterior dan interior.
1) Joint interior ( J , 4) elev. +4.00 m
Input data dan hasil analisis pada Beton2000
100 Gambar 59. Penulangan pada joint interior ( I , 5)
Diperoleh output yaitu:
Jumlah tulangan sengkang : 1Ø10 mm
Jarak bersih : 649 mm
2) Joint eksterior ( I,3 ) elev. +4.00 m Input data
101 Hasil analisis
Gambar 61. Hasil analisis joint eksterior ( I,3 )
Hasil gambar
Gambar 62. Penulangan pada joint eksterior ( I,3 )
Diperoleh output penulangan pada joint yaitu: Jumlah tulangan sengkang : 1Ø10 mm
102 3) Joint interior ( J , 4) Elev. +9.00 m
Input data
103 Hasil gambar
Gambar 64. Penulangan pada joint interior ( J , 4) Hasil output sebagai berikut.
Jumlah sengkang : 1 Ø10 mm Jarak bersih : 352 mm
4) Joint eksterior ( I , 3) Elev. +9.00 m Input data
104 Hasil analisis
Gambar 66. Hasil analisis joint eksterior ( L , 4) Hasil gambar penulangan pada joint
Gambar 67. Penulangan pada joint eksterior ( L , 4) Hasil output sebagai berikut.
Jumlah sengkang : 10 Ø10 mm Jarak bersih : 55,9 mm
105 E. Metode Perkuatan Struktur dengan Metode Concreate Jacketing
Setelah proeses evaluasi dilakukan, maka hasil yang diperoleh adalah perubahan dimensi penampang element struktur dalam hal ini balok dan kolom. Maka metode yang memungkinkan untuk dilakukan adalah metode perkuatan dengan Concreate Jacketing. Perbaikan struktur beton menggunakan metode penyelubungan beton (Concreate Jacketing) ini dilaksanakan dengan menyelubungi struktur asli dengan beton dan menambahkan tulangan longitudinal dan tulangan tranversal yang disebar secara merata dalam beton tersebut. Jumlah tulangan longitudinal dan tranversal yang diperlukan disesuaikan dengan gaya-gaya yang terjadi pada struktur yang diakibatkan gempa dengan kala ulang gempa yang telah disesuaikan.
Gambar 68. Perkuatan dengan metode Concreate Jacketing (sumber: Mejia 2002) Tahapan pelaksanaan dari metode ini sebagai berikut:
1. Balok di antara kolom yang diperbaiki disangga dengan perancah selama perbaikan.
2. Bobok bagian bawah balok yang berbatasan dengan kolom bagian atas untuk penjangkaran tulangan kolom.
106 4. Rangkai tulangan longitudinal dan transfersal di sekeliling kolom eksisiting
sesuai dengan perencanaan.
5. Pasang bekisting dari multiplek 9 mm. buat corong di bagian atas kolom. 6. Grouting kolom tersebut dengan mortar.
7. Setelah 24 jam, bekisting dilepas & bagian beton yang menonjol akibat corong dibuang.
Perbaikan element non struktur yakni dinding yang retak dan rangka plafon yang rusak, maka metode yang dilakukan untuk dinding adalah dengan menambahkan angker pada pertemuan kolom dan dinding dengan menggunakan
epoxin resin dan perbaikan untuk plafond dilakukan perbaikan dengan mengganti
material rangka palofond menjadi kayu yang sebelumnya baja ringan.
107 Gambar 68. Perbaikan rangka plafond dari baja ringan menjadi kayu
108 BAB V
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Dari penjelasan bab-bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1. Hasil evaluasi gedung kantor DPRD Morowali dengan menggunakan peta gempa tahun 2010 menghasilkan 478 elemen struktur yang mengalami kegagalan struktur dan yang terjadi kegagalan geser. Ini membuktikan bahwa kombinasi beban gempa berdasarkan peta gempa tahun 2010 lebih besar dibandingkan peta gempa tahun 2002 terlihat dari hasil pemeriksaan struktur failure tersebut.
2. Metode-metode yang dapat dijadikan sebagai rekomendasi untuk melakukan perbaikan atau perkuatan yakni sebagai berikut :
a. Penyelubungan (jacketing) dengan bahan baja, baja spiral, beton atau komposit.
b. Penambahan tulangan luar dengan bahan steel strap/plate, tulangan sengkang.
c. Penulangan luar berupa plat baja d. Injeksi epoksi
e. Metode perkuatan dengan menggunakan Fiber Reinforced Polymer
B. Saran
Saran yang dapat dikemukakan dalam penulisan ini yaitu sebagai berikut:
1. Dengan dikeluarkannya peta gempa tahun 2010 sebaiknya, prasarana publik dapat dilakukan evaluasi kembali mengenai keandalan struktur yang ada, guna sebagai tindakan preventif untuk meminimalisir dampak kerugian yang akan terjadi jika terjadinya gempa khususnya di daerah yang mendapat peningkatan zona kegempaannya.
109 2. Untuk setiap perencanaan struktur (struktur gedung), sebaiknya dalam analisis strukturnya menggunakan beban gempa sesuai dengan peta gempa tahun 2010.
3. Pemilihan metode perbaikan atau perkuatan sebaiknya dilakukan dengan memilih metode perkuatan yang dapat dilakukan seefisien dan seefektif mungkin.
4. Sebaiknya penelitian selanjutnya mendesaian kembali pondasi karena adanya perubahan massa gedung.