BAB III PEMODELAN STRUKTUR
3.4 Pembebanan Struktur
Perencanaan pembebanan adalah pendefinisian beban-beban yang bekerja pada struktur sesuai dengan Pedoman Perencanaan untuk Rumah dan Gedung (SKBI- 1.3.53.1987). Seluruh beban yang telah didefinisikan akan bekerja pada model struktur bangunan ini. Beban-beban yang bekerja pada struktur bangunan ini antara lain :
3.4.1. Beban Mati
Beban mati adalah seluruh bagian dari komponen struktur bangunan yang bersifat tetap dan tidak terpisahkan dari bangunan tersebut selama masa layannya.
Beban mati yang diperhitungkan untuk struktur bangunan ini antara lain :
Beban sendiri beton bertulang 2400 kg/
Beban sendiri profil baja 7850 kg/
Beban Dinding Bata sebesar 250 kg/
Berat sendiri Lantai sebesar 2400 kg/
3.4.2. Beban hidup
Beban hidup yang direncakan dan diperhitungkan adalah sebesar 250 kg/ untuk beban pelat lantai. Beban ini disesuaikan dengan kegunaannya sebagai gedung perumahan.
24
3.4.3. Beban Gempa
Beban gempa adalah semua beban statik ekivalen yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang menirukan pengaruh dari gerakan tanah akibat gempa itu dan menggunakan tabel Respons Spektra untuk wilayah Medan dan yang diambil adalah tanak keras 2002 ( ---)
Gambar 3.4. Tabel Respons Spektrum untuk wilayah Medan
25
Gambar 3.5 Tampak 3 Dimensi Bangunan yang akan direncanakan
Kombinasi Pembebanan yang digunakan untuk Analisa Struktur dengan SAP 2000 :
1.4 DL ;
1.2 DL + 1.6 LL ;
1 DL + 1 LL + Rsp
o Rsp = 1 untuk arah sumbu x o Rsp = 0.3 untuk arah sumbu y
26
BAB IV
ANALISIS PERHITUNGAN
Struktur bangunan yang telah dimodelkan terlebih dahulu, dianalisis dengan menggunakan bantuan program SAP 2000 untuk mendapatkan gaya- gaya dalam dan beserta profil yang akan digunakan.
Hasil perhitungan yang didapatkan akan ditampilkan sebagai berikut :
Gambar 4.1. Gaya Normal Beban mati (DL) pada Beton
27
Gambar 4.2. Gaya Normal Beban mati (DL) pada Baja
Gambar 4.3. Gaya Normal Beban Hidup (LL) pada Beton
28
Gambar 4.4. Gaya Normal Beban Hidup (LL) pada Baja
Gambar 4.5. Gaya Normal Gempa (Rsp) pada Beton
29
Gambar 4.6. Gaya Normal Gempa (Rsp) pada Baja
Gambar 4.7. Gaya Normal Beban Kombinasi 1 pada Beton
30
Gambar 4.8. Gaya Normal Beban Kombinasi 1 pada Baja
Gambar 4.9. Gaya Normal Beban Kombinasi 2 pada Beton
31
Gambar 4.10. Gaya Normal Beban Kombinasi 2 pada Baja
Gambar 4.11. Gaya Normal Beban Kombinasi 3 pada Beton
32
Gambar 4.12. Gaya Normal Beban Kombinasi 3 pada Baja
Gambar 4.13. Gaya Lintang Beban Mati (DL) pada beton
33
Gambar 4.14. Gaya Lintang Beban Mati (DL) pada baja
Gambar 4.15. Gaya Lintang Beban Mati (DL) pada baja
34
Gambar 4.16. Gaya Lintang Beban Hidup (LL) pada beton
Gambar 4.17. Gaya Lintang Beban Hidup (LL) pada baja
35
Gambar 4.18. Gaya Lintang Gempa (Rsp) pada Beton
Gambar 4.18. Gaya Lintang Gempa (Rsp) pada Baja
36
Gambar 4.19. Gaya Lintang Kombinasi 1pada Beton
Gambar 4.20. Gaya Lintang Kombinasi 1 pada Baja
37
Gambar 4.21. Gaya Lintang Kombinasi 2 pada Beton
Gambar 4.22. Gaya Lintang Kombinasi 2 pada Baja
38
Gambar 4.23. Gaya Lintang Kombinasi 3 pada Beton
Gambar 4.24. Gaya Lintang Kombinasi 3 pada Baja
39
Gambar 4.25 Gaya Momen Beban Mati (DL) pada beton
Gambar 4.26. Gaya Momen Beban Hidup (DL) pada baja
40
Gambar 4.27. Gaya Momen Beban Hidup (LL) pada beton
Gambar 4.28. Gaya Momen Beban Hidup (LL) pada baja
41
Gambar 4.29. Gaya Momen Gempa (Rsp) pada Beton
Gambar 4.30. Gaya Momen Gempa (Rsp) pada Baja
42
Gambar 4.31. Gaya Momen Kombinasi 1 pada Beton
Gambar 4.32. Gaya Momen Kombinasi 1 pada Baja
43
Gambar 4.33. Gaya Momen Kombinasi 2 pada Beton
Gambar 4.34. Gaya Momen Kombinasi 2 pada Baja
44
Gambar 4.35. Gaya Momen Kombinasi 3 pada Beton
Gambar 4.36. Gaya Momen Kombinasi 3 pada Baja
45
Gambar 4.37. Desain Beton Tampak Depan
Gambar 4.38. Desain Beton Tampak Samping
46
Gambar 4.39. Desain Beton Tampak Atas
Gambar 4.40. Desain Baja Tampak Depan
47
Gambar 4.41. Desain Baja Tampak Samping
Gambar 4.42. Desain Baja Tampak Atas
48
Gambar 4.43. Menyatakan Beton memenuhi syarat dan bisa menahan beban
Gambar 4.44. Menyatakan Baja memenuhi syarat dan bisa menahan beban
49
4.1 Analisa Profil Beton
A. Kolom 40 x 40 , Jumlah = 8 kolom
50
51
D. Balok anak 25 x 45
Volume beton K-250 = 0.25 x 0.45 x 4.7m x 45 balok = 23.805 Begisting = 1.15 m x 4.7 m x 45 balok = 243.45 Pembesian
6 10 mm @5.5m = 33m x 0.616 kg/m x45 balok = 914.76kg
25 8 mm @1.2m =30m x 0.393 kg/m x45 balok = 530.55kg+
= 1445.31kg
52
4.2 Analisa Profil Baja
A. Kolom Dasar WF 400 x 200 x 8 x 13 Jlh = 24 Kolom
1. WF 400 x 200 x 11 x 16 mm x 4m = 24 batang 2. Tapak Pondasi bawah 500 x 250 , t = 15 mm = 24 keping 3. Tapak atas 400 x 200 , t = 15 mm = 24 keping 4. Stiffener 400 x 100 , t = 10mm = 48 keping
53
B. Kolom Lantai 1 WF 350 x 175 x 7 x 11 Jlh = 24 Kolom
1. WF 350 x 175 x 7 x 11 mm x 4m = 24 batang 2. Tapak bawah 350 x 175 , t = 12 mm = 24 keping 3. Tapak atas 350 x 175 , t = 12 mm = 24 keping 4. Stiffener 350 x 80 , t = 10mm = 48 keping
54
C. Kolom Lantai 2 WF 300 x 150 x 6.5 x 9 Jlh = 24 Kolom
1. WF 300 x 150 x 6.5 x 9 mm x 4m = 24 batang 2. Tapak bawah 300 x 150 , t = 12 mm = 24 keping 3. Tapak atas 300 x 150 , t = 12 mm = 24 keping 4. Stiffener 300 x 75 , t = 10mm = 48 keping
55
D. Balok Induk Lantai 1 WF 300 x 150 x 6.5 x 9 mm L =4,6m Jlh = 20 batang
1. WF 300 x 150 x 6.5 x 9 mm x 4,6m = 20 batang 2. Sokongan WF 300 x 150 x 6.5 x 9 mm x 1m = 20 batang 3. Plat 150 x 600 , t = 12 mm = 40 keping 4. Stiffener Plat 300 x 75 , t = 10 mm = 80 keping
E. Balok Induk Lantai 2 WF 300 x 150 x 6.5 x 9 mm L =4,65m Jlh = 20 batang
1. WF 300 x 150 x 6.5 x 9 mm x 4,65m = 20 batang 2. Sokongan WF 300 x 150 x 6.5 x 9 mm x 1m = 20 batang 3. Plat 150 x 600 , t = 12 mm = 40 keping 4. Stiffener Plat 300 x 75 , t = 10 mm = 80 keping
56
F. Balok Induk Lantai 3 WF 300 x 150 x 6.5 x 9 mm L =4,7m Jlh = 20 batang
1. WF 300 x 150 x 6.5 x 9 mm x 4,7m = 20 batang 2. Sokongan WF 300 x 150 x 6.5 x 9 mm x 1m = 20 batang 3. Plat 150 x 600 , t = 12 mm = 40 keping 4. Stiffener Plat 300 x 75 , t = 10 mm = 80 keping
G. Balok Induk Lantai 1,2,3 WF 300 x 150 x 6.5 x 9 mm L =4,99m Jlh = 54 batang
1. WF 300 x 150 x 6.5 x 9 mm x 4,99m = 54 batang 2. Sokongan WF 300 x 150 x 6.5 x 9 mm x 1m = 54 batang 3. Plat 150 x 600 , t = 12 mm = 108 keping 4. Stiffener Plat 300 x 75 , t = 10 mm = 216 keping
57
H. Balok Anak Lantai 1,2,3 WF 200 x 100 x 7 x 11 mm L =4,99m Jlh = 45 batang
1. WF 200 x 100 x 7 x 11 mm x 4,99m = 45 batang 2. Plat 100 x 200 , t = 10 mm = 90 keping 3. Stiffener Plat 200 x 50 , t = 10 mm = 180 keping
58
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil perencanaan bangunan dengan struktur beton bertulang dengan struktur baja, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
Harga Total Bangunan Struktur Beton bertulang = Rp. 374.205.342,72,-
Harga Total Bangunan Struktur Baja = Rp. 695.416.929,57,-
Jadi Bangunan Struktur Beton Bertulang lebih hemat 46,19% dari bangunan Struktur Baja
Bangunan dengan struktur baja lebih mahal dibandingkan dengan bangunan struktur beton pada bangunan , sehingga struktur beton merupakan struktur yang paling ekonomis.
Akan tetapi , pengerjaan Beton memakan waktu lebih lama daripada pengerjaan Baja
5.2. Saran
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dan kesimpulan yang didapat , dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut :
Jika ingin mendapatkan bangunan yang lebih aman , cepat dan tahan gempa , maka gunakanlah bangunan struktur baja.
Jika membutuhkan bangunan yang kuat ,tetapi dengan harga yang ekonomis , maka gunakanlah Struktur beton bertulang ,tetapi akan membutuhkan jangka waktu yang lebih lama.
59
DAFTAR PUSTAKA
Brokenbrough, Roger.Structural . 1999. Steel Designer’s Handbook. Mc Graw Hill.
Chia Ming Uang. Ductile Design of Steel Structures. Mc Graw Hill.
Englekirk, Robert. 1994. Steel structures. John Wiley & sons, Inc.
SKBI 1.2.53.1987,1987, Perencanaan Pembebanan Berdasarkan Pedoman Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung , Jakarta
SNI 03-1726-2002, 2002 , Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung , Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah.
SNI 03 -1729 – 2002, 2002, Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung
, Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah.
Tamboli, Akbar 1999. Structural Steel Connection Design and Detail.Mc Graw Hill
60 Badan Standarisasi Nasional , 2002, Tata Cara Perhitungan struktur Beton untuk bangunan
Gedung , SNI-2487-2002, Jakarta.