• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembelaan Terpaksa (Noodweer)

ALASAN PENGHAPUS PIDANA 1. Pengantar

4.3 Pembelaan Terpaksa (Noodweer)

Salah satu tujuan hukum pidana adalah melindungi kepentingan hukum seseorang. Perlindungan demikian dilakukan oleh aparat penegak hukum. Oleh karena itu, setiap ada serangan terhadap kepentingan hukum seseorang, aparat penegak hukum, dalam hal ini polisi akan bertindak melindungi kepentingan hukum tersebut.

Namun demikian, tidak setiap serangan aparat penegak hukum dapat melindungi setiap kepentingan hukum seseorang, oleh karena jumlahnya yang terbatas. Untuk itulah, pasal 49 KUHP memberikan perlindungan hukum terhadap seseorang yang dalam keadaan terpaksa membela sendiri kepentingan hukumnya. Syarat-syarat pembelaan terpaksa yang dibenarkan diatur dalam pasal 49 ayat (1) KUHP tersebut.

Pasal 49 ayat (1) KUHP menyatakan, bahwa tidak dipidana, barangsiapa melakukan suatu perbuatan pembelaan terpaksa yang dibenarkan untuk diri sendiri atau orang lain, membela kehormatan-kesusilaan atau harta benda sendiri atau orang lain, karena ada serangan atau ancaman serangan yang melawan hukum yang mengancam langsung atau seketika itu juga. Berdasarkan pasal 49 ayat (1) KUHP tersebut, maka ada dua hal pada pembelaan terpaksa adalah:

1. ada serangan atau ancaman serangan yang sifatnya:

101 a. seketika;

b. langsung mengancam;

c. melawan hukum;

2. sengaja ditujukan kepada badan, kehormatan-kesusilaan dan harta-benda diri sendiri atau orang lain.

3. ada pembelaan yang perlu dilakukan terhadap serangan tersebut, dengan syarat:

1) pembelaan harus dilakukan;

2) pembelaan dilakukan untuk melindungi kepentingan tertentu (yaitu, badan, kehormatan-kesusilaan dan harta benda )

Berdasarkan pada syarat-syarat perlunya diadakan perbuatan yang berupa pembelaan terpaksa tersebut, tampak bahwa objek serangan dan pembelaan terpaksa telah ditentukan secara limitatif. Demikian pula antara serangan dengan pembelaan terpaksa harus ada hubungan kausal. Serangan tersebut dapat berupa tindak pidana atau bukan tindak pidana sepanjang memenuhi syarat-syarat tersebut.

Syarat ada serangan yang seketika dan langsung mengancam menun-jukkan, bahwa serangan dan bahaya serangan sedang berlangsung. Dengan demikian, serangan yang sudah dihentikan atau sudah selesai tidak termasuk dalam pengertian serangan pasal 49 ayat (1) KUHP, sehingga perbuatan yang berupa pembelaan terpaksa tidak dapat dilakukan.

Pertanyaannya, kapankah ada serangan dan kapankah serangan berakhir? Penentuan terhadap masalah tersebut harus ditetapkan secara kasuistik. Hazewinkel-Suringa menetapkan, bahwa dimulai atau berakhirnya serangan ditentukan dapat atau tidaknya hal tersebut dicegah. Sebagai contoh, A menunggu B di luar pintu dengan maksud untuk melakukan penodongan dan B mengetahui tentang hal itu.

Dalam hal demikian, tidak dibenarkan jika B justru melakukan penyerangan lebih dahulu. B masih memiliki kemungkinan untuk mencegah serangan A dengan cara lain. Dengan demikian, ketakutan dari pihak yang akan diserang atau penyerang sendiri telah menjauhkan diri, bukan merupakan alasan yang dapat membenarkan adanya pembelaan terpaksa.

Keadaannya menjadi berbeda, jika A dengan pisau terhunus menyerang B, maka dalam keadaan demikian B dapat

melakukan tindakan untuk melindungi dirinya misalnya dengan menembak kaki A. Apabila dari tembakan tersebut, A tidak melakukan serangan lagi, maka tidak dibenarkan jika B mengulangi untuk menembak A lagi.

Syarat serangan harus bersifat melawan hukum menunjukkan, bahwa terhadap serangan yang tidak melawan hukum tidak diperkenankan untuk melakukan pembelaan terpaksa.

Misalnya, terhadap tindakan yang berdasarkan undang-undang tidak diperkenankan untuk melakukan pembelaan terpaksa.

Contoh, seorang reserse dengan upaya tertentu hendak memborgol seseorang yang dicurigai sebagai pelaku tindak pidana.

Dalam hal demikian, orang yang dicurigai tidak diperkenankan melakukan tindakan dengan berlindung pada pasal 49 ayat (1) KUHP. Demikian pula halnya, tidak ada serangan jika ada ijin dari pihak yang diserang; misalnya seorang penari striptease membiarkan dirinya ditelanjangi oleh penari lainnya.

Sifat melawan hukum dari serangan juga menunjukkan, bahwa tidak ada pembelaan terpaksa terhadap perbuatan yang tidak bersifat melawan hukum. Misalnya, A diserang oleh anjing yang digerakkan oleh aparat dengan maksud menangkap A sebagai tersangka, maka A tidak dapat membela diri dengan berlindung pada ketentuan pasal 49 ayat (1) KUHP. Binatang bukanlah subjek hukum.

Dalam hal ini, anjing yang dimaksud sekedar alat yang dipergunakan oleh aparat hukum untuk melaksanakan tugasnya.

Dengan demikian, penyerangan anjing tersebut tidak bersifat melawan hukum. Dalam hal penggunaan alat ini (misalnya anjing pelacak) perlu pula diperhatikan pandangan Simons yang menyatakan, bahwa alat yang digunakan itu haruslah memenuhi syarat, yaitu polisi memiliki keyakinan, bahwa alat (anjing) tersebut hanya menyerang orang tertentu sebagaimana yang diperintahkannya. Apabila ternyata anjing tersebut justru membahayakan orang lain, maka penggunaan alat tersebut bersifat melawan hukum.

Demikian pula halnya, jika polisi menggunakan anjing tersebut untuk menyerang anak kecil yang memasuki daerah terlarang (restricted area - lihat pasal 551 KUHP), maka pembelaan terpaksa dari orang lain yang melihatnya dapat dibenarkan, oleh karena tindakan polisi tersebut bersifat melawan hukum.

Pada pembelaan terpaksa, penentuan diperkenankan atau tidaknya pembelaan tersebut didasarkan pada asas-asas:

103 a) Asas Subsidiaritas

Asas ini menghendaki selama masih ada kemungkinan untuk berbuat lain yang lebih baik, maka tidak ada pembelaan terpaksa. Misalnya, seseorang diancam untuk dibunuh, maka selama ia masih memiliki kemungkinan untuk melarikan diri, maka tidak diperkenankan baginya untuk mendahului serangan. Contoh lain, jika dua orang reserse hendak menangkap seorang tersangka yang melakukan perlawanan, maka tidak dibenarkan jika salah satu anggota reserse tersebut langsung menembak tersangka tepat di kepala atau jantungnya. Seharusnya, dalam keadaan demikian, anggota reserse tersebut dapat menempuh tindakan lain yang lebih seimbang, tanpa menghilangkan nyawa orang lain.

Demikian juga, misalnya seseorang memasang senapan dengan harapan jika ada pencuri masuk, maka pencuri tersebut dapat tertembak bukan merupakan pembelaan darurat dalam arti paal 49 ayat (1) KUHP, kecuali jika di daerah tersebut pencurian merupakan perbuatan yang telah merajalela dan tidak ada cara lain yang dapat mengatasinya. Dengan demikian, selama msih ada kemungkinan untuk berbuat lain yang lebih baik, maka tidak diperkenankan untuk melakukan tindakan tertentu dengan berlindung pada alasan pembelaan darurat.

b) Asas Proporsionalitas

Dalam melakukan pembelaan terpaksa harus ada keseimbangan antara kepentingan hukum yang akan dilindungi dengan kepentingan hukum pihak pelanggar. Dengan demikian, dalam pembelaan terpaksa perbuatan yang dilakukan untuk pembelaan tersebut tidak boleh lebih berat daripada pelanggarannya.

Misalnya, A mencopet B, dalam hal demikian tidak diperkenankan B langsung menembak atau menusuk A dengan senjata atau pisau.

Sekalipun diperlukan pembelaan, namun cara pembelaan demikian tidak diper-kenankan.

c) Asas Culpa in Causa

Asas ini menyatakan, bahwa seseorang karena perbuatannya sendiri (yang dapat dicela) berada dalam keadaan/situasi darurat tetap bertanggungjawab atas perbuatannya.

Dengan demikian, jika seseorang karena perbuatannya sendiri mengakibatkan ia diserang orang lain, maka ia tidak dapat berlindung berdasarkan ketentuan pasal 49 ayat (1) KUHP.

Misalnya, A mengejek-/mencemooh B, kemudian B menyerang A

dengan memukul, maka perlawanan A tidak termasuk yang dilindungi pasal 49 ayat (1) KUHP.

Obyek pembelaan terpaksa telah ditentukan secara limitatif, yaitu terhadap diri sendiri, kehormatan-kesusilaan dan harta benda.

Objek diri sendiri termasuk serangan yang membahayakan jiwa seseorang. Sedangkan kehormatan-kesusilaan berkaitan dengan hal-hal yang memiliki dimensi seksual, bukan berkaitan dengan nama baik atau yang sejenis dengan itu.

Dengan demikian, penyerangan terhadap nama baik (lihat pasal 310 KUHP) tidak termasuk kehormatan-kesusilaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 49 ayat (1) KUHP.

Kehormatan-kesusilaan sebagaimana dimaksud dalam pasal tersebut, misalnya menyentuh bagian-bagian terlarang dari tubuh wanita. Cara pembelaan terhadap serangan nama baik (pasal 310 KUHP) diatur dalam pasal 319 KUHP atau pasal 312 KUHP.

Antara pembelaan terpaksa/darurat dengan keadaan darurat memiliki kemiripan. Baik pembelaan terpaksa maupun keadaan darurat, pelaku dihadapkan pada pilihan, berarti ada unsur kehendak untuk melakukan perbuatan yang dipilihnya. Perbedaannya:

1. Pada keadaan darurat terjadi benturan antara kepentingan hukum dengan kepentingan hukum dan dengan kewajiban hukum serta antara kewajiban hukum dengan kewajiban hukum.

Sedangkan pada pembelaan darurat, situasi darurat timbul dari perbuatan yang bersifat melawan hukum. Dengan perkataan lain, pada keadaan darurat hak berhadapan dengan hal, sedangkan pembelaan darurat hak berhadapan dengan bukan hak,

2. Pada keadaan darurat tidak diperlukan adanya serangan, sedangkan pada pembelaan terpaksa/darurat harus ada serangan terlebih dahulu.

3. Alasan-alasan untuk keadaan darurat tidak ditentukan secara limitatif, sedangkan pada pembelaan terpaksa/darurat, alasan-alasan tersebut ditentukan secara limitatif.

4. Sifat dari keadaan darurat dapat menjadi alasan pemaaf atau alasan pembenar, sedangkan pembelaan terpaksa merupakan alasan pembenar, yaitu menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan.

5. Pembelaan terpaksa/darurat pada dasarnya terjadi sebagai akibat dari adanya serangan atau ancaman serangan.

Bagaimanakah halnya, jika seseorang mengira bahwa ia

105 diserang atau akan diserang, sehingga melakukan pembelaan terpaksa? Ada kemungkinan seseorang melakukan pembelaan terpaksa karena mengira ia diserang atau akan diserang. Inilah yang disebut putatief noodweer. Dalam putatief noodweer, apakah pembelaan terpaksa-/darurat tersebut termasuk sebagaimana yang dirumuskan pasal 49 ayat (1) KUHP?

Dalam menetapkan, bahwa putatief noodweer merupakan pembelaan terpaksa/darurat, maka harus dilihat secara kasuistik.

Apabila perkiraan akan diserang itu disebabkan karena ketegangan yang mencekam sebagai akibat dari kondisi chaos (misalnya timbul krisis di bidang politik, agama, kesukuan dan sebagainya), maka putatief noodweer relevan dengan ketentuan pasal 49 ayat (1) KUHP.

4.4 Pembelaan Terpaksa Yang Melampaui Batas ( Noodweer

Dokumen terkait