• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1. Pengantar 2. Tujuan Instruksional Umum

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1. Pengantar 2. Tujuan Instruksional Umum"

Copied!
112
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1. Pengantar

Aristoteles (filsuf Yunani) menyatakan, bahwa manusia merupakan Zoon Politicon, artinya manusia merupakan makhluk sosial yang dalam hidupnya selalu mempunyai kecenderungan besar untuk berinteraksi dan hidup dengan sesama guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan-kepentingannya. Dengan demikian, untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingannya, manusia tidak dapat hidup sendiri; manusia dalam hidupnya dengan manusia lain saling membutuhkan dan saling bergantung satu dengan lainnya.

Dalam pergaulan sosial/bermasyarakat, kebutuhan dan kepentingan antara manusia yang satu dengan yang lainnya tidaklah selalu sejalan, bahkan seringkali berbenturan. Agar interaksi sosial/pergaulan sosial berjalan dengan tertib dan menyelesaikan benturan kepentingan dengan tertib pula, maka diperlukan ‘aturan main’ , bagaimana seharusnya manusia dalam interaksi sosial itu berperilaku dan bertindak terhadap orang lain. ‘Aturan main’ inilah yang disebut dengan norma/kaidah. Ada norma yang berlaku dengan sendirinya karena kebiasaan atau karena keyakinan/kepercayaan, ada pula norma yang sifatnya memaksa (seharusnya) dengan disertai sanksi/ancaman, apabila orang melanggarnya. Norma yang berlaku dengan sifat memaksa inilah yang disebut sebagai hukum. Salah satu bidang hukum adalah ilmu hukum pidana.

Pada bagian ini akan dibahas kedudukan ilmu hukum pidana dalam hubungannya dengan ilmu lain, objek ilmu hukum pidana, perbedaan metode dan objek ilmu hukum pidana dengan kriminologi dan tujuan mempelajari ilmu hukum pidana.

2. Tujuan Instruksional Umum

Dengan mempelajari uraian dalam bab ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami dan menjelaskan pengertian, tujuan dan kedudukan ilmu hukum pidana serta hubunngannya dengan ilmu-ilmu lainnya, seperti kriminologi.

(2)

3. Tujuan Instruksional Khusus

Dengan mempelajari uraian dalam bab ini, mahasiswa diharapkan mampu:

a. memahami dan menjelaskan berbagai macam norma;

b. memahami dan menjelaskan pengertian, kedudukan dan tujuan mempelajari ilmu hukum pidana;

c. memahami dan menjelaskan perbedaan metode dan objek antara ilmu hukum pidana dengan kriminologi.

4. Kegiatan Belajar

4.1 Nilai, Norma dan Sanksi

Interaksi sosial/pergaulan sosial diantara individu yang satu dengan lainnya, orang dihadapkan pada anggapan, petunjuk atau ketentuan bagaimana seharusnya ia berperilaku, berbuat dan bertindak apabila berhadapan dengan orang lain, baik dalam suatu kelompok atau dalam masyarakat. Anggapan, petunjuk atau ketentuan inilah yang disebut sebagai norma/kaidah. Norma mengandung arti, yang diharapkan, yang seharusnya dan yang sepatutnya. Dari istilah norma muncul istilah normatif (yang seharusnya). Landasan dari adanya norma adalah nilai, yaitu ukuran yang disadari atau tidak disadari oleh suatu masyarakat untuk menetapkan yang benar dan yang baik. Misalnya, kejujuran, kesetiaan, kesucian, keindahan, kehormatan dan sebagainya. Norma pada umumnya terdiri dari norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan dan norma hukum.

Norma agama, kesusilaan dan kesopanan berlaku dalam masyarakat jika terdapat faktor-faktor sosial yang membuat anggota masyarakat bertindak atau berperilaku sesuai dengan dengan norma tersebut (conform, sebaliknya disebut non-conformist). Agar suatu norma ditaati, tiap norma akan disertai dengan sanksi. Norma yang disertai sanksi inilah yang disebut sebagai norma hukum. Sanksi merupakan alat pemaksa atau penjamin agar norma hukum yang berlaku ditaati dan juga merupakan akibat yang harus ditanggung oleh seseorang yang telah melanggar norma hukum yang berlaku.

Norma hukum yang tertulis disebut undang-undang, sedangkan norma hukum yang tidak tertulis disebut hukum adat.

Undang-undang sebagai norma hukum yang tertulis mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi penetapan norma dan fungsi penciptaan norma. Fungsi penetapan norma tidak mengubah norma sosial (agama, kesusilaan dan kesopanan) yang ada, tetapi menguatkannya. Misalnya, perbuatan mencuri dan membunuh sudah

(3)

3 lama dilarang oleh norma sosial yang ada. Undang-undang hanya menuliskan kembali larangan itu dan menguatkannya dengan merumuskan sanksi terhadap orang yang melakukannya. Sedangkan fungsi penciptaan norma terjadi jika norma hukum menciptakan suatu norma yang sama sekali belum ada di dalam norma sosial.

Misalnya, kewajiban untuk memakai helm, melindungi lingkungan, larangan pencucian uang (money laundering) dan sebagainya.

Adressat (sasaran) dari norma hukum adalah anggota masyarakat, baik masyarakat biasa maupun penegak hukum. Bagi masyarakat biasa norma hukum mengharuskan masyarakat tidak berbuat atau berbuat seperti yang dihendaki norma hukum yang berlaku. Sedangkan bagi penegak hukum, norma hukum merupakan landasan/dasar kewenangannya untuk mengambil tindakan.

4.2 Tujuan Mempelajari Ilmu Hukum Pidana

Menurut guru besar hukum pidana Barda Nawawi Arif, ilmu hukum pidana merupakan ilmu tentang hukum pidana. Dengan demikian, objek/sasaran ilmu hukum pidana adalah mengkaji hukum pidana. Hukum pidana sebagai objek ilmu hukum pidana merupakan objek yang abstrak, sedangkan objek yang konkrit sama dengan objek ilmu hukum pada umumnya, yaitu perbuatan atau tingkah laku manusia dalam pergaulan hidup bermasyarakat. Perbuatan manusia tersebut dapat dipelajari dari sudut ‘bagaimana seharusnya’ dan

‘bagaimana senyatanya’.

Sudut pandang dari ‘bagaimana seharusnya’ tersebut juga disebut sebagai mempelajari/mengkaji dari sudut pandang normatif, yaitu mempelajari/mengkaji hukum pidana dari sudut pandang normatif atau dari dunia ide/harapan/cita-cita (das sollen), sehingga disebut ilmu hukum pidana normatif. Sedangkan sudut pandang kedua, dari sudut ‘yang senyatanya’ mempelajari hukum pidana dari sudut faktual/dunia realita (das sein), sehingga disebut ilmu hukum pidana faktual. Sebagaimana ilmu hukum lainnya, ilmu hukum pidana pada hakikatnya merupakan ilmu kemasyarakatan normatif (normative maatschappij wetenschap), yaitu ilmu normatif tentang hubungan antar manusia, ilmu normatif tentang tingkah laku manusia dalam kehidupan bermasyarakat.

Objek ilmu hukum pidana normatif berupa hukum pidana positif, berupa ilmu hukum pidana materiil/substantif dan ilmu hukum pidana formil/prosedural/ajektif. Ilmu hukum pidana positif hanya mempelajari ketentuan hukum yang sedang berlaku (ius constitutum), sedangkan ilmu hukum normatif/dogmatif juga mempelajari hukum pidana yang ‘seharusnya/sebaiknya (ius constituendum). Mempelajari hukum pidana ‘yang

(4)

seharusnya/sebaiknya’ inilah yang disebut sebagai kebijakan /politik hukum pidana (penal policy, strafrechtspolitiek, criminal law policy), sebagai bagian dari kebijakan kriminal, yaitu upaya menyeluruh (penal dan non penal) untuk menanggulangi kejahatan dalam rangka melindungi masyarakat untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.

Dalam kaitannya dengan kebijakan kriminal, maka ilmu hukum pidana sebagai upaya pencegahan dan penanggulangan kejahatan membutuhkan bantuan dari ilmu-ilmu lainnya, seperti ilmu politik, sosiologi, ekonomi, komunikasi, psikologi, planologi dan sebagainya. Sehubungan dengan hal tersebut, Van Haersolte, bahwa seorang sarjana hukum tanpa pengetahuan tentang kemasyarakatan dan ekonomi secara wajar sama seperti seorang biolog tanpa pengetahuan tentang ilmu kimia atau seorang dokter tanpa pengetahuan tentang biologi. Olehnya diutarakan lebih lanjut, ilmu hukum lebih membutuhkan bantuan ilmu sosiologi dan ilmu ekonomni daripada sebaliknya.

4.3 Ilmu Hukum Pidana dan Kriminologi

Objek ilmu hukum pidana adalah hukum pidana yang mempelajari peraturan perundangan yang mengatur mengenai tindak pidana (perbuatan pidana), pertanggungjawaban pidana dan sanksi pidana. Tujuan utama mempelajari hukum pidana adalah:

1. menganalisa dan menyusun secara sistematis peraturan perundangan pidana;

2. mencari asas-asas yang menjadi dasar dari peraturan perundangan pidana;

3. melakukan penilaian terhadap kesesuaian asas-asas dengan falsafah bangsa;

4. melakukan penilaian terhadap kesesuaian asas-asas dengan peraturan perundangan pidana.

Dengan perkataan lain, tujuan utama dalam mempelajari ilmu hukum pidana untuk menjelaskan (melakukan interpretasi), mengkaji norma hukum pidana (melakukan konstruksi) dan menerapkan norma hukum pidana terhadap perbuatan yang melanggar larangan dan perintah.

Jika ilmu hukum pidana mempelajari perbuatan jahat secara abstrak (in-abstracto), maka kriminologi mempelajari kejahatan sebagai gejala sosial (in-concreto), yaitu mempelajari kejahatan sebagaimana terjadi secara konkrit di tengah-tengah masyarakat.

Krimonologi juga mempelajari kausalitas (sebab-sebab) terjadinya

(5)

5 kejahatan (etiologi kriminil) dalam rangka melakukan pencegahan dan penanggulangannya (kebijakan kriminal)

Latihan

Untuk membantu mahasiswa memahami pengertian, kedudukan dan tujuan mempelajari ilmu hukum pidana serta hubungannya dengan kriminologi, maka Saudara harus mengerjakan soal-soal latihan secara tertulis dan mendiskusikannya pada tatap muka berikutnya.

1. Jelaskan manusia merupakan zoon politicon.

2. Apakah yang dimaksud dengan norma dan nilai. Berikan contoh.

3. Kapan suatu norma menjadi norma hukum.

4. Undang-undang sebagai norma hukum mempunyai dua fungsi, sebutkan.

5. Sebutkan objek dari ilmu hukum pidana.

6. Mempelajari hukum pidana dapat dilakukan dari dua sudut, sebutkan dan jelaskan.

7. Jelaskan arti istilah a. das sollen dan das sein.

b. Ius constitutum dan ius constituendum

8. Ilmu hukum pidana juga dapat disebut sebagai ilmu kemasyarakatan normatif. Jelaskan.

9. Mengapa ilmu hukum pidana lebih membutuhkan bantuan dari ilmu-ilmu lainnya. Jelaskan.

10. Sebutkan tujuan utama mempelajari ilmu hukum pidana.

Rangkuman

Dalam interaksi sosial, antara anggota masyarakat yang satu dengan lainnya mempunyai tujuan dan kepentingan yang sama dan berbeda. Agar masing-masing tujuan dan kepentingan yang berbeda tidak berbenturan satu dengan yang lain, maka diperlukan ‘aturan main’ yang disebut sebagai norma/kaidah.

Norma/kaidah yang disertai sanksi disebut norma hukum, termasuk hukum pidana yang merupakan objek ilmu hukum pidana. Hukum pidana dapat dipelajari dari dua sudut, yaitu sudut pandang das sollen yang disebut sebagai ilmu hukum normatif dan sudut pandang das sein yang disebut ilmu hukum

(6)

pidana faktual, yaitu ilmu kemasyarakatan normatif, ilmu normatif tentang tingkah laku manusia dalam interaksi sosial.

Tes Formatif

Pilihlah jawaban yang paling tepat.

1. Manusia disebut zoon politicon, oleh karena manusia senang a. berpolitik

b. bersenang-senang c. bergaul

d. berinteraksi sosial.

2. Dalam hidup bermasyarakat, agar tujuan dan kepentingan antara anggota masyarakat yang satu dengan lain tidak berbenturan, maka diperlukan:

a. etika b. kesopanan c. kesusilaan d. norma/kaidah

3. Norma yang memiliki kekuatan untuk memaksa anggota masyarakat mematuhinya disertai sanksi bagi pelanggarnya disebut:

a. norma agama b. norma kesusilaan c. norma kesopanan d. norma hukum

4. Dasar dari norma adalah nilai, yang salah satunya adalah:

a. kecantikan.

b. kegagahan c. kekayaan d. kesetiaan

5. Norma hukum tertulis mempunyai dua fungsi, salah satunya yaitu:

a. fungsi memaksa

(7)

7 b. fungsi menghukum

c. fungsi mempertahankan d. fungsi mencipta

6. Ilmu hukum normatif mempelajari hukum pidana dari sudut pandang:

a. yang seharusnya b. yang riil

c. yang senyatanya d. yang paling baik

7. Ilmu hukum pidana juga disebut ilmu kemasyarakatan normatif, karena:

a. mempelajari tingkah laku/perbuatan manusia yang seharusnya.

b. mempelajari tingkah laku manusia in-abstracto c. mempelajari tingkah laku in-concreto.

d. mnempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan- hubungan sosial secara normatif.

8. Tujuan utama mempelajari ilmu hukum pidana adalah untuk a. melakukan interpretasi, konstruksi dan penerapan norma

hukum

b. mengkaji perbuatan-perbuatan in-abstracto c. mengkaji perbuatan-perbuatan in-concreto

d. merumuskan undang-undang pidana yang paling baik.

9. Kebijakan hukum pidana merupakan ilmu yang mempelajari:

a. undang-undang pidana yang sedang berlaku

b. rancangan undang-undang pidana yang akan berlaku c. perumusan undang-undang pidana

d. mempelajari bagaimana sebaiknya hukum pidana dibuat, disusun dan digunakan untuk mengatur tingkah laku manusia dalam rangka melindungi dan mencsejahterakan masyarakat.

10. Ilmu hukum pidana lebih membutuhkan bantuan dari ilmu-ilmu sosial lainnya. Hal itu dikatakan oleh:

(8)

a. Van Haersolte d. Van den Bosch b. Van Kan

c. Van Hamel

(9)

9 BAB II

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP HUKUM PIDANA

1. Pengantar

Objek ilmu hukum pidana adalah hukum pidana. Pengertian hukum pidana sendiri hingga sekarang belum terdapat kesatuan pendapat. Oleh karena itu, dalam bab ini akan diuraikan pendapat dari para ahli untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh mengenai pengertian hukum pidana. Disamping itu, akan diuraikan ruang lingkup hukum yang akan membahas sifat, fungsi dan jenis hukum pidana serta hakikat dari sanksi pidana.

2. Tujuan Instruksional Umum

Dengan membaca dan memahami uraian dalam bab ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami pengertian hukum pidana dan ruang lingkupnya, termasuk memahami sifat, fungsi dan jenis hukum pidana serta hakikat dari sanksi pidana

3. Tujuan Instruksional Khusus Mahasiswa diharapkan mampu:

a. menerangkan pengertian hukum pidana menurut Simons, Moeljatno, Mezger;

b. menjelaskan/menganalisis pengertian hukum pidana ; c. menerangkan perbedaan antara ius poenale dan ius puniendi;

d. menyebutkan jenis-jenis hukum pidana dengan memberikan contoh;

e. menjelaskan sifat hukum pidana;

f. menjelaskan fungsi hukum pidana;

g. menjelaskan arti dan hakikat pidana;

h. menerangkan perbedaan antara pidana dan tindakan.

4. Kegiatan Belajar

4.1. Pengertian Hukum Pidana

Simons membedakan hukum pidana subjektif dan hukum pidana objektif, antara hukum pidana material dengan hukum pidana formal. Hukum pidana objektif didefinisikan sebagai:

“Semua tindakan-tindakan keharusan (gebod) dan larangan (verbod) yang dibuat oleh negara atau penguasa umum lainnya, yang

(10)

terhadap pelanggarnya diancamkan derita khusus, yaitu pidana, demikian juga peraturan-peraturan yang menentukan syarat bagi akibat hukum tersebut serta ketentuan-ketentuan mengenai dasar penjatuhan pidana dan pelaksanaannya”.

Selanjutnya dikemukakan, bahwa hukum pidana material memuat ketentuan serta rumusan dari tindak pidana, ketentuan mengenai pertanggungjawaban pidana, ketentuan mengenai pelaku dan ketentuan mengenai pidana. Sedangkan hukum pidana formal mengatur mengenai cara-cara untuk mewujudkan hak menjatuhkan dan menjalankan pidana. Simons menyatakan pula, bahwa hukum pidana termasuk hukum publik. Ciri-ciri hukum publik adalah:

a. mengatur hubungan antara kepentingan negara/masyarakat dengan kepentingan individu;

b. kedudukan penguasa/negara lebih tinggi daripada kedudukan individu;

c. penuntutan terhadap seseorang yang telah melakukan tindak pidana tidak bergantung kepada kepentingan orang yang dirugikan, melainkan penguasa/negara wajib menuntutnya;

d. hak subjektif penguasa ditimbulkan oleh hukum pidana objektif/

hukum pidana positif.

Pompe mendefinisikan hukum pidana sebagai semua aturan hukum yang menentukan terhadap tindakan apa yang seharusnya dijatuhkan pidana dan apa macam pidananya yang sesuai.

Moeljatno, sebagaimana dikutip oleh Roeslan Saleh menyatakan, bahwa hukum pidana adalah bagian dari hukum pada umumnya yang mengadakan dasar dan aturan-aturan untuk menentukan:

- perbuatan yang dilarang dengan disertai sanksi pidana tertentu terhadap orang yang melanggar;

- kapan dan dalam hal apa terhadap pelanggar dijatuhkan pidana sebagaimana diancamkan;

- dengan cara bagaimana penjatuhan pidana itu dapat dilaksanakan.

Pendapat Moeljatno yang menyatakan, bahwa hukum pidana merupakan bagian dari hukum pada umumnya, artinya berdiri sendiri dan memiliki normanya sendiri telah membatah pendapat Van Kan yang menyatakan hukum pidana hanya merupakan hukum sanksi belaka, sedangkan normanya ada pada bagian hukum lainnya.

(11)

11 Wirjono Prodjodikoro dengan singkat merumuskan hukum pidana sebagai peraturan hukum mengenai pidana. Unsur pokok dari hukum pidana adalah norma dan sanksi pidana terhadap orang yang melanggar norma tersebut.

Satauchid Kartanegara merumuskan hukum pidana sebagai sejumlah peraturan yang merupakan bagian dari hukum positif yang mengandung larangan dan keharusan yang ditentukan oleh negara atau kekuasaan lain yang berwenang untuk menentukan peraturan- peraturan pidana, larangan atau keharusan tersebut disertai ancaman pidana dan apabila dilanggar timbul hak dari negara untuk melakukan tuntutan, menjalankan dan melaksanakan pidana.

Mezger sebagaimana dikutip oleh Sudarto menyatakan, bahwa hukum pidana adalah aturan hukum yang mengikatkan kepada suatu perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu suatu akibat berupa pidana.

Van Hamel menyatakan, bahwa hukum pidana merupakan keseluruhan dasar dan aturan yang dianut oleh negara dalam kewajibannya untuk menegakkan hukum, yakni dengan melarang apa yang bertentangan dengan hukum (onrecht) dan mengenakan suatu nestapa (penderitaan) kepada yang melanggar larangan tersebut.

Pengertian atau definisi hukum pidana sebagaimana dikemukakan beberapa guru besar hukum pidana tersebut merupakan pengertian hukum pidana sebagai ius poenale.

Disamping itu terdapat ius puniendi yang dapat diartikan dalam arti luas dan sempit. Ius puniendi dalam arti luas adalah hak dari negara atau alat perlengkapan negara untuk mengancam pidana terhadap perbuatan-perbuatan tertentu. Sedangkan dalam arti sempit, ius puniendi diartikan sebagai hak untuk menuntut perkara-perkara pidana, menjatuhkan dan melaksanakan pidana terhadap orang yang melakukan perbuatan yang dilarang. Hak ini dilaksanakan oleh badan-badan peradilan.

Dari beberapa pengertian hukum pidana tersebut, maka ada 2 hal pokok dalam hukum pidana, yaitu : (a) perbuatan yang memenuhi syarat tertentu; (b) pidana. Perbuatan yang memenuhi syarat tertentu terdiri dari perbuatan yang dapat dipidana atau perbuatan jahat (crime atau verbrechen) atau perbuatan yang dilarang dan orang yang melanggar larangan tersebut.

(12)

4.2. Jenis-jenis Hukum Pidana

Seperti pembidangan/pembagian hukum pada umumnya, hukum pidana dapat pula dibagi dalam bidang-bidang tertentu:

a. Hukum Pidana Materiil dan Hukum Pidana Formal

Hukum pidana materiil memuat aturan yang menetapkan dan merumuskan perbuatan-perbuatan yang dapat dipidana, syarat- syarat untuk menjatuhkan pidana dan ketentuan mengenai pidana. Contohnya, KUHP.

Hukum pidana formal disebut juga hukum acara pidana, mengatur bagaimana negara dengan alat perlengkapannya melaksanakan haknya untuk menerapkan pidana. Contohnya KUHAP (Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981)

b. Hukum Pidana Umum dan Hukum Pidana Khusus

Hukum pidana umum (ius commune) adalah ketentuan- ketentuan hukum pidana yang berlaku bagi setiap orang.

Misalnya KUHP, UU. No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, UU. No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, dan sebagainya.

Hukum pidana khusus (ius speciale) memuat aturan-aturan hukum pidana yang menyimpang dari hukum pidana umum yang hanya berlaku untuk golongan masyarakat tertentu atau hanya mengatur jenis-jenis perbuatan tertentu. Misalnya, UU No. 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer, UU No. 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak, Perpu RI No. I Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, hukum pidana fiskal, hukum pidana ekonomi dan sebagainya.

c. Hukum pidana yang dikodifikasikan dan yang tidak dikodifikasikan.

Hukum pidana yang dikodifikasikan, misalnya KUHP dan Kitab undang-undang Hukum Pidana Militer.

Hukum pidana yang tidak dikodifikasikan pada umumnya adalah peraturan perundangan di luar KUHP, misalnya yang mengatur pembajakan pesawat udara, perjudian, korupsi dan sebagainya

d. Hukum pidana nasional dan hukum pidana lokal

Hukum pidana nasional adalah aturan-aturan hukum pidana yang dibentuk oleh DPR dengan Pemerintah dan berlaku untuk seluruh bangsa.

(13)

13 Hukum pidana lokal adalah aturan-aturan hukum pidana yang dibentuk oleh pemerintah daerah, misalnya Perda yang mengatur masalah tertentu.

e. Hukum pidana nasional dan hukum pidana internasional

Hukum pidana internasional adalah hukum pidana nasional yang berasal dari ketentuan-ketentuan internasional. Beberapa contoh dari hukum pidana internasional, diantaranya:

- Charter of London, 8 Agustus 1945 yang menjadi dasar diadilinya penjahat-penjahat perang di Nurenberg, Jerman;

- The Suppresion of Counterfeiting Currency and Protocol Geneva, 1929 yang disahkan oleh UU. No. 6 Tahun 1983;

- UU. No. 2 Tahun 1976 yang mengesahkan Konvensi Tokyo 1963, Konvensi The Hague 1970 dan Konvensi Montreal 1971 sebagai tindak lanjut diundangkannya UU No. 4 Tahun 1976 (lihat Bab XXIX A KUHP);

f. Hukum pidana tertulis dan tidak tertulis

Hukum pidana tertulis, misalnya KUHP dan KUHAP.

Sedangkan hukum pidana tidak tertulis adalah hukum pidana adat yang masih berlaku berdasarkan Pasal 5 ayat (3) UU/Drt./1951.

4.3. Fungsi Hukum Pidana

Hukum pidana mempunyai fungsi umum dan fungsi khusus.

Fungsi umum hukum pidana sama dengan fungsi umum bidang hukum lainnya, yaitu mengatur hidup kemasyarakatan atau menyelenggarakan tata tertib dalam masyarakat. Sedangkan fungsi khusus hukum pidana adalah melindungi kepentingan hukum dari perbuatan yang melanggar hukum dan menimbulkan kerugian dengan sanksi pidana yang sifatnya lebih tajam daripada sanksi hukum lainnya. Hukum pidana bertujuan untuk menanggulangi tindak pidana dengan menggunakan ancaman sanksi pidana. Oleh karena itu, sanksi hukum pidana mempunyai pengaruh preventif (pencegahan) terhadap terjadinya pelanggaran norma-norma hukum.

Pengaruh itu sudah ada sejak sanksi pidana dicantumkan dalam peraturan hukum.

Sebagai alat kontrol sosial, maka fungsi hukum pidana adalah subsidier, artinya hukum pidana (baca : undang-undang pidana) sebaiknya baru diadakan, jika upaya-upaya lain tidak memadai lagi. Didalam menegakkan dan mempertahankan norma- norma hukum, hukum pidana menggunakan sanksi pidana, yaitu

(14)

dengan sengaja mengenakan penderitaan. Oleh karena itu, hukum pidana dengan sanksinya yang amat tajam harus dipandang sebagai ultimum remedium atau upaya terakhir dalam mencegah dan menanggulangi pelanggaran norma-norma hukum.

Penerapan sanksi pidana yang merupakan penderitaan sebenarnya merupakan ‘pedang bermata dua’, artinya dalam melindungi kepentingan hukum tertentu, hukum pidana justru dengan menggunakan cara ‘melukai’ kepentingan hukum lainnya.

4.4. Hakikat Hukum Pidana

Istilah pidana berasal dari kata straft yang menurut guru besar hukum pidana Moeljatno dan Sudarto merupakan istilah yang tepat serta lebih baik daripada istilah hukuman. Istilah hukuman dipakai secara umum di berbagai bidang, misalnya agama, moral, pendidikan dan sebagainya. Sedangkan istilah pidana hanya digunakan sebagai sanksi yang digunakan dalam hukum pidana.

Sudarto mengartikan pidana sebagai penderitaan yang sengaja dibebankan kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Roeslan Saleh mendefinisikan pidana sebagai reaksi atas delik dan ini berujud nestapa yang dengan sengaja ditimpakan negara kepada pembuat delik itu. Dari dua definisi tersebut, pidana memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. pidana pada hakikatnya adalah pengenaan penderitaan;

2. pidana diberikan dengan sengaja oleh badan yang memiliki wewenang;

3. pidana diberikan terhadap orang yang melakukan tindak pidana;

4. pidana merupakan pencelaan terhadap pelaku tindak pidana.

Selain pendapat yang menyatakan, bahwa pidana merupakan penderitaan, terdapat pendapat lain mengenai hakikat pidana. Hulsman berpendapat hakikat pidana adalah menyerukan untuk tertib (tot de orde roepen), pidana pada hakikatnya mempunyai dua tujuan, yaitu mempengaruhi tingkah laku dan menyelesaikan konflik (conflictoplossing). Konflik diselesaikan melalui perbaikan kerugian, perbaikan hubungan atau pengembalian kepercayaan.

Disamping pidana terdapat pula tindakan. Apabila pidana merupakan terjemahan dari punishment, maka tindakan merupakan terjemahan dari treatment. Perbedaan antara pidana dengan tindakan terletak pada tujuannya. Jika pidana ditujukan untuk melakukan

(15)

15 pencelaan terhadap perbuatan pelaku, maka tindakan (maatregel) ditujukan untuk memperbaiki pelaku.

Latihan

Untuk membantu mahasiswa memahami pengertian, kedudukan dan tujuan mempelajari ilmu hukum pidana serta hubungannya dengan kriminologi, maka Saudara harus mengerjakan soal-soal latihan secara tertulis dan mendiskusikannya pada tatap muka berikutnya.

1. Sebutkan definisi hukum pidana menurut Simons, Moeljatno dan Mezger.

2. Sebutkan ciri-ciri hukum pidana sebagai hukum publik.

3. Jelaskan pendapat Van Kan tentang hukum pidana sepanjang menyangkut norma hukum. Bagaimana pendapat Saudara terhadap pendapat tersebut.

4. Apakah yang dimaksud dengan ius poenale dan ius puniendi dan sebutkan perbedaannya.

5. Sebutkan dua hal pokok dalam hukum pidanan.

6. Jelaskan istilah-istilah di bawah ini dengan diberikan contoh:

a. Hukum pidana materiil dan formil.

b. Hukum pidana umum dan hukum pidana khusus

c. Hukum pidana yang dikodifikasikan dan yang tidak dikodifikasikan.

d. Hukum pidana nasional dan lokal

e. Hukum pidana nasional dan internasional f. Hukum pidana tertulis dan tidak tertulis.

7. Sebutkan dua fungsi hukum pidana .

8. Jelaskan hukum pidana mempunyai fungsi subsideir dan ultimum remedium.

9. Jelaskan arti dari pidana dan sebutkan ciri-ciri dari pidana.

10. Jelaskan perbedaan antara pidana dan tindakan.

Rangkuman

Hukum pidana merupakan aturan-aturan yang merumuskan perbuatan yang dilarang, syarat-syarat untuk menjatuhkan pidana dan jenis pidana yang diancamkan kepada orang yang melanggar larangan atau perintah. Fungsi umum hukum pidana

(16)

sama dengan bidang hukum lainnya, sedangkan fungsi khususnya adalah melindungi kepentingan hukum dengan menggunakan ancaman atau penjatuhan pidana terhadap orang- orang yang melanggar larangan atau perintah. Oleh karena pidana merupakan sanksi yang amat tajam dan dalam kaitannya dengan fungsinya sebagaoi kontrol sosial, maka hukum pidana mempunyai fungsi subsider dan ultimum remedium. Tujuan pengenaan pidana adalah pencelaan terhadap diri pelaku.

Disamping itu terdapat tindakan yang bertujuan untuk memperbaiki pelaku.

Tes Formatif

Pilihan jawaban yang paling tepat.

1. Yang menyatakan dengan tegas, bahwa hukum pidana merupakan hukum publik adalah:

a. Simons b. Sudarto c. Roeslan Saleh d. Van Kan

2. Hukum pidana merupakan hukum sanksi belaka, karena normanya ada pada hukum lainnya. Pendapat tersebut dikemukakan oleh:

a. Van Hamel.

b. Van Kan.

c. Van Bemellen d. Van Haersolte

3. Hukum pidana merupakan aturan hukum yang mengikatkan suatu perbuatan yang memenuhi syarat tertentu dengan suatu akibat pidana dikemukan oleh:

a. Simons

b. Wirjono Prodjodikoro c. Van Hamel

d. Mezger.

4. Salah satu ciri hukum pidana sebagai hukum publik adalah:

a. mengatur antara kepentingan umum dengan kepentingan pribadi;

(17)

17 b. berlakunya norma hukum tergantung yang dirugikan;

c. kedudukan para pihak seimbang

d. hak subjektif tidak didasarkan pada hukum objektif.

5. Hukum pidana yang merumuskan perbuatan yang dilarang atau perintah yang harus dilakukan adalah:

a. ius poenale;

b. ius puniendi;

c. ius constitutum;

d. ius constituendum.

6. Yang termasuk hukum pidana umum dan khusus adalah:

a. UU. No. 3 Tahun 1971;

b. UU. No. 3 Tahun 1997;

c. UU. No. 31 Tahun 1999;

d. UU. No. 15 Tahun 2002.

7. Yang termasuk hukum pidana umum dan hukum pidana formal adalah:

a. UU. No.8 Tahun 1981;

b. UU. No. 3 Tahun 1997;

c. UU. No. 31 Tahun 1999;

d. UU. No.15 Tahun 2002.

8. Menggunakan hukum pidana secara hati-hati, sesuai dengan fungsi:

a. umum;

b. khusus;

c. primer d. subsider;

9. Hukum pidana merupakan bagian dari bidang hukum pada umumnya, berdiri sendiri dan memiliki norma sendiri, dikemukakan oleh:

a. Van Hamel.

b. Van Kan.

c. Sudarto.

(18)

d. Moeljatno

10. Yang membedakan antara pidana dengan tindakan adalah:

a. tingkat penderitaan yang ditimbulkan;

b. hakihat penderitaan yang dialami;

c. tingkat kewenangan yang dimiliki lembaga;

d. tingkat pencelaan terhadap pelaku.

(19)

19 BAB III

SUMBER HUKUM PIDANA DI INDONESIA

1. Pengantar

Sumber utama hukum pidana di Indonesia terutama adalah hukum tertulis, yaitu KUHP yang berasal dari Wetboek van Straftrecht voor Nederlandsch Indie (WvS) yang berlaku di Hindia Belanda berdasarkan Koninklijk Besluit/KB tanggal 15 Oktober 1915 dan mulai berlaku tanggal 1 Januari 1918 (diundangkan dalam Staatblad 1915 No.732). Dengan demikian, sejak tanggal 1 Januari 1918 telah terjadi kodifikasi dan unifikasi (pemberlakuan ketentuan- ketentuan KUHP untuk seluruh penduduk di Indonesia). Meskipun KUHP berasal dari WvS/KUHP Belanda, tidak seluruhnya diberlakukan di Indonesia, tetapi telah diadakan beberapa perubahan disesuaikan dengan perkembangan yang ada.

Disamping hukum tertulis/hukum positif, sumber hukum pidana juga ada pada hukum tidak tertulis, yaitu hukum adat pidana berdasarkan ketentuan pasal Pasal 5 ayat (3) sub b UU.

No.1/Drt/1951.

2. Tujuan Instruksional Umum

Dengan membaca dan memahami uraian dalam bab ini, mahasiswa diharapkan dapat mengetahui dan memahami sumber utama hukum pidana, sejarah perkembangannya dan perubahan-perubahan yang ada sesuai dengan perkembangan di Indonesia.

3. Tujuan Instruksional Khusus

Pada akhir kuliah, mahasiswa diharapkan mampu:

1. menyebutkan dasar hukum berlakunya hukum pidana tertulis;

2. menyebutkan dasar hukum berlakunya hukum pidana tidak tertulis;

3. menjelaskan berlakunya hukum pidana tidak tertulis dengan memberikan contoh kasus;

4. menjelaskan secara ringkas sejarah KUHP;

(20)

5. menjelaskan perubahan, penambahan dan perkembangan hukum pidana positif, baik yang terdapat dalam KUHP maupun di luar KUHP.

6. menyebutkan sistematika lengkap KUHP;

7. menjelaskan hubungan Bagian Umum dan Bagian Khusus KUHP

4. Kegiatan Belajar

Sejarah Berlakunya KUHP dan Sumber Hukum Pidana

di Indonesia

Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, melalui Pasal II dan Pasal IV Aturan Peralihan Undang Undang Dasar 1945, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1945, tanggal 10 Oktober 1945 yang terdiri dari dua pasal.

Pasal 1 PP. No. 2/1945 menetapkan :

“Segala badan-badan Negara dan peraturan-peraturan yang ada sampai berdirinya negara RI pada tanggal 17 Agustus 1945, selama belum diadakan yang baru menurut Undang Undang Dasar, masih tetap berlaku, asal saja tidak bertentangan dengan Undang Undang Dasar tersebut”.

Pasal 2 PP. No. 2/1945 menetapkan:

“Peraturan ini mulai berlaku tanggal 17 Agustus 1945.”

Dari ketentuan Pasal 2 PP No. 2 Tahun 1945 tersebut, maka peraturan peraturan pidana yang dinyatakan berlaku adalah peraturan-peraturan yang ada sebelum tanggal 17 Agustus 1945 yang tidak lain adalah peraturan-peraturan dari pemerintahan Balatentara Jepang. Undang-undang (Osamu Seirei) No. 1 Tahun 2602 (Tahun Syoowa, bertepatan dengan tanggal 7 Maret 1945), Pasal 3 menetapkan:

“Semua badan-badan pemerintahan dan kekuasaannya, hukum dan undang-undang dari pemerintah yang dahulu, tetap diakui sah untuk sementara waktu, asal saja tidak bertentangan dengan aturan Pemerintahan Militer”.

Yang dimaksud dengan “pemerintahan yang dahulu”

sebagaimana tertulis dalam Osamu Seirei tersebut adalah pemerintahan Hindia Belanda. Pada jaman pemerintahan Hindia Belanda, peraturan-peraturan hukum pidana yang berlaku bersumber pada Wetboek van Straftrecht voor Nederlandsch-Indie – disingkat

(21)

21 WvSvNI (S.1915. No. 732) dan peraturan-peraturan lain di luar Wetboek tersebut.

Pemerintahan pendudukan Balatentara Jepang sendiri pada tahun 1944 mengeluarkan peraturan-peraturan hukum pidana yang disebut Gunsei Keizirei yang berlaku sejal tanggal 1 Juni 1944.

Berdasarkan uraian sebelumnya, peraturan-peraturan yang ada sampai kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945 adalah peraturan yang ada pada saat pendudukan Jepang, yaitu WvSvNI dan Gunsei Keizirei. Dengan demikian, secara yuridis, pada saat kemerdekaan 17 Agustus 1945, berlaku dualisme peraturan pidana.

Untuk mengakhiri dualisme tersebut, diundangkan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana tanggal 26 Pebruari 1946. Pasal I undang-undang tersebut menegaskan:

“Dengan menyimpang seperlunya dari peraturan Presiden RI tertanggal 10 Oktober 1945 No.2 menetapkan, bahwa peraturan-peraturan hukum pidana yang sekarang berlaku ialah peraturan-peraturan hukum pidana yang ada pada tanggal 8 Maret 1942”.

Berdasarkan penegasan tersebut, maka peraturan hukum pidana yang ada pada tanggal 8 Maret 1942 adalah WvSvNI.

Menurut Han Bing Siong, Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 mempunyai dua fungsi, yaitu (1) fungsi menghapuskan/membatalkan (an annuling function) peraturan hukum pidana yang dibuat Jepang dan (2) fungsi memulihkan kembali (a restoring function) atau mengefektifkan kembali semua peraturan pidana dari pemerintah Hindia Belanda, yaitu WvSvNI.

Meskipun demikian, tidak seluruh ketentuan dalam WvSvNI diberlakukan, oleh karena ada kriteria tertentu atas pemberlakuan WvSvNI tersebut. Hal ini diatur dalam Pasal V UU.No. 1 Tahun 1946 dengan menyatakan:

“Peraturan-peraturan hukum pidana, yang seluruhnya atau sebagian sekarang tidak dapat dijalankan, atau bertentangan dengan kedudukan Republik Indonesia sebagai negara merdeka atau tidak mempunyai arti lagi, harus dianggap seluruhnya atau sebagian sementara tidak berlaku”.

Dari ketentuan Pasal V tersebut, maka kriteria untuk tidak memberlakukan ketentuan-ketentuan pidana dalam WvSvNI/KUHP adalah:

1. seluruhnya atau sebagian tidak dapat dijalankan;

(22)

2. bertentangan dengan kedudukan negara RI sebagai negara merdeka;

3. tidak mempunyai arti lagi.

Sehubungan dengan ketentuan Pasal V tersebut, guru besar hukum pidana Oemar Senoadji menyatakan, bahwa Pasal V undang- undang tersebut merupakan screening board atau toetsteen untuk menguji berhak atau tidaknya peraturan pidana hidup di negara RI.

Dalam kaitannya dengan fungsi Pasal V undang-undang tersebut timbul perbedaan pendapat. Sudarto dan Han Bing Siong menyatakan, bahwa Pasal V tersebut hanya digunakan untuk menilai terhadap peraturan hukum pidana di luar KUHP. Sedangkan Muljatno dan Oemar Senoadji menyatakan, bahwa ketentuan Pasal V tersebut dapat digunakan untuk menilai peraturan pidana, baik terhadap KUHP sendiri maupun undang-undang pidana yang ada di luar KUHP.

Beberapa ketentuan penting lainnya dari Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946, diantaranya Pasal VI yang mengubah WvSvNI menjadi WvS (Wetboek van Strafrecht) dan menerjemahkannya dengan nama Kitab Undang-undang Hukum Pidana/KUHP; Pasal VIII melakukan penghapusan dan perubahan pasal-pasal dalam KUHP dan Pasal IX sampai Pasal XVI menambah ketentuan-ketentuan baru ke dalam KUHP.

Namun demikian, UU. No. 1946 masih mengandung dualisme peraturan hukum pidana. Hal ini ternyata dalam ketentuan Pasal XVII yang menyatakan, bahwa undang-undang tersebut pada saat diundangkan, tanggal 26 Pebruari 1946 hanya berlaku untuk Jawa dan Madura, sedangkan untuk daerah lainnya akan ditetapkan oleh Presiden.

Dengan ketentuan Pasal XVII tersebut, maka untuk daerah lainnya (di luar Jawa dan Madura) masih berlaku ketentuan dari NICA (Nederlands Indies Civil Administration) atau Pemerintahan Sipil Hindia Belanda yang telah melakukan beberapa perubahan terhadap WvSvNI dengan mengubah namanya menjadi WvS voor Indonesia.

Dualisme tersebut baru diakhiri dengan diundangkannya Undang-undang Nomor 73 Tahun 1958 tanggal 29 September 1958 yang menyatakan, bahwa Undang-undang No.1 Tahun 1946 berlaku untuk seluruh Indonesia. Dengan penegasan tersebut, maka UU. No.

73 Tahun 1958 telah mengadakan uniformitas terhadap peraturan- peraturan hukum pidana.

(23)

23 4.2 Perkembangan KUHP

Perkembangan KUHP meliputi pencabutan dan penambahan ketentuan-ketentuan hukum dalam KUHP. Beberapa perubahan tersebut diantaranya:

1. UU. No. 20 Tahun 1946 yang menetapkan jenis pidana tutupan.

2. UU.No.23/Perpu/1959 memperberat ancaman pidana dua kali lipat terhadap pelanggaran pasal-pasal 211, 212, 213, 214, 216, 217, 218 KUHP apabila dilakukan dalam keadaan bahaya.

3. UU. No. 4/Perpu/1960 tentang perluasan wilayah teritorial laut dan perairan pendalaman dalam kaitannya dengan Bab I Buku I KUHP.

4. UU. No. 1 Tahun 1960 tentang Perubahan KUHP, mengubah ancaman pidana dalam pasal-pasal 188, 359, dan 360 KUHP (delik-delik culpa) menjadi maksimum 5 tahun penjara.

5. UU. No. 16/Prp/1960 mengubah kalimat vijf en twintig gulden dalam pasal-pasal 364, 373, 379, 384 dan 407 ayat (1) KUHP menjadi Rp. 250,- untuk kerugian yang timbul.

6. UU. No.18/Prp/1960 melipatkan 15X ancaman pidana denda yang terdapat di dalam KUHP.

7. UU. No. 2/Pnps/1964 tentang pelaksanaan pidana mati.

8. UU. No.1/Pnps/1965, menambah pasal 156 a tentang penodaan agama dengan ancaman pidana penjara 5 tahun.

9. UU. No.7 Tahun 1974 tentang Penerbitan Perjudian mengubah:

a. ancaman pidana yang terdapat dalam :

- Pasal 303 (1) KUHP menjadi pidana penjara selamanya 10 tahun atau denda maksimal Rp. 25.000.000,-;

- Pasal 542 (1) KUHP menjadi pidana penjara selamanya 4 tahun atau denda maksimal Rp.10.000.000,-

- Pasal 542 (3) KUHP menjadi pidana penjara selamanya 6 tahun atau denda maksimal Rp. 15.000.000,-

b. Pasal 542 KUHP menjadi pasal 303 bis.

10. UU. No.4 Tahun 1976 tentang ‘Perubahan dan Penambahan Beberapa Pasal dalam KUHP Bertalian dengan Perluasan Berlakunya Ketentuan Undang-undang Pidana terhadap Kejahatan Penerbangan dan Kejahatan terhadap Sarana/prasarana Penerbangan:

(24)

- Pasal I mengubah dan menambah Pasal 3 dan Pasal 4 angka 4 Bab I Buku I KUHP

- Pasal II menambah 3 pasal baru ke dalam Bab IX Buku I KUHP yaitu pasal-pasal 95a, 95b, dan 95c

- Pasal III menambah bab baru setelah Bab XXIX KUHP dengan Bab XXIX A tentang ‘Kejahatan Penerbangan dan Kejahatan Terhadap Sarana/prasarana Penerbangan’

terdiri dari Pasal 479 huruf a sampai dengan huruf r (18 pasal)

11. UU. No. 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak yang mencabut Pasal 45, 46 dan Pasal 47 KUHP dalam hal tindak pidana dilakukan oleh anak di bawah umur.

12. UU. No. 27 Tahun 1999 tentang Perubahan KUHP yang Berkaitan dengan Kejahatan Terhadap Keamanan Negara yang menambah 6 (enam ) ketentuan baru di antara Pasal 107 dan Pasal 108 KUHP dengan Pasal 107 a, 107 b, 107c, 107 d, 107 e, dan 107 f.

4.3 Sistematika dan Hubungan Bagian Umum dan Bagian Khusus KUHP

KUHP merupakan sumber utama hukum pidana materiil yang dikodifikasikan dan terdiri dari tiga buku yang digabungkan menjadi satu kitab. KUHP terdiri dari:

1. Buku Kesatu mengatur ‘Aturan Umum’ yang terdiri dari Pasal 1 sampai dengan Pasal 103 KUHP.

2. Buku Kedua mengatur tentang ‘Kejahatan’ yang terdiri dari Pasal 104 sampai dengan Pasal 488 KUHP.

3. Buku Ketiga mengatur tentang ‘Pelanggaran’ yang terdiri dari Pasal 489 sampai dengan Pasal 569 KUHP.

Dari sistematika tersebut dapat diketahui KUHP terdiri dari dua bagian, yaitu:

1. Bagian Umum terdapat dalam Buku I berisi asas-asas umum dan pengertian-pengertian dalam hukum pidana yang berlaku untuk seluruh lapangan hukum pidana, baik yang ada dalam KUHP maupun yang ada di luar KUHP (Baca Pasal 103 KUH).

Ketentuan-ketentuan dalam Buku I yang berlaku untuk undang- undang pidana di luar KUHP adalah ketentuan-ketentuan yang ada dalam Bab I sampai dengan Bab VIII, sedangkan Bab IX (Pasal 86 sampai dengan Pasal 102 KUHP) hanya berlaku untuk KUHP saja karena memuat arti dari beberapa istilah yang

(25)

25 digunakan dalam KUHP yang tidak lain merupakan penafsiran otentik.

2. Bagian Khusus terdapat dalam Buku II dan Buku III yang memuat perbuatan-perbuatan yang dilarang atau yang diperintahkan dengan disertai ancaman pidana terhadap pelanggarnya. Buku II KUHP mengatur mengenai ‘Kejahatan’, sedangkan Buku III mengatur mengenai ‘Pelanggaran’.

Catatan:

Didalam naskah/draft RUU KUHP konsep tahun 1999/2000 sistematikanya tidak lagi mengikuti 3 (tiga) pembagian (Buku I, II, dan III), tetapi hanya terdiri dari 2 (dua ), yaitu Buku I tentang ‘Ketentuan Umum’ dan Buku II tentang ‘Tindak Pidana Dan Pertanggungjawaban Pidana’.

Pembagian sistematika KUHP ke dalam Bagian Umum dan Bagian Khusus tersebut juga berpengaruh terhadap perkembangan ilmu hukum pidana, sehingga darinya timbul ilmu hukum pidana umum dan ilmu hukum pidana khusus. Ilmu hukum pidana umum mempelajari pengertian-pengertian dan asas-asas umum yang berlaku dan menjadi dasar seluruh ketentuan hukum pidana.

Sedangkan ilmu hukum pidana khusus mempelajari delik-delik khusus atau tindak pidana tertentu.

Sehubungan dengan Bagian Umum dan Bagian Khusus tersebut, Hazewinkel-Suringa menyatakan, bahwa Bagian Umum merupakan ‘persekutuan pembagi terbesar’ (grootste gemene deler) dari seluruh ketentuan-ketentuan pidana. Hubungan antara Bagian Umum dan Bagian Khusus berlangsung erat, oleh karena Bagian Umum tumbuh secara berangsur-angsur dari bagian khusus.

Latihan

Untuk membantu mahasiswa dalam memahami sumber hukum pidana dan sejarah serta perkembangan KUHP, maka mahasiswa harus mengerjakan soal-soal latihan secara tertulis dan membahasnya pada tatap muka berikutnya.

1. Sebutkan dasar hukum dasar hukum berlakunya hukum pidana tertulis.

2. Sebutkan dasar hukum berlakunya hukum pidana tidak tertulis dan berikan contohnya.

3. Jelaskan secara ringkas sejarah berlakunya KUHP di Indonesia.

4. Sejak kapan terjadi unifikasi undang-undang pidana di Indonesia.?

(26)

5. Jelaskan mengenai dualisme dalam penegakan hukum pidana di Indonesia sejak kemerdekaan dan kapan hal tersebut diakhiri.

6. Sebutkan 5 undang-undang terbaru yanng telah mengubah dan menambah ketentuan-ketentuan dalam KUHP.

7. Jelaskan fungsi dari UU. No. 1 Tahun 1946 menurut Han Bing Siong.

8. Sebutkan kriteria untuk menilai undang-undang pidana dapat atau tidaknya diberlakukan di Indonesia sebagaimana ditentukan dalam Pasal V UU. No. 1 Tahun 1946.

9. Sebutkan dan jelaskan sistematika KUHP.

10. Jelaskan hubungan yang erat antara Bagian Umum dan Bagian Khusus KUHP dan apa konsekuensinya bagi perkembangan ilmu hukum pidana

Rangkuman

Sumber hukum positif di Indonesia yang utama adalah KUHP yang berasal dari Wetboek van Straftrecht voor Nederlandsch Indie (WvS) yang berlaku di Hindia Belanda berdasarkan Koninklijk Besluit/KB tanggal 15 Oktober 1915 dan mulai berlaku tanggal 1 Januari 1918 (diundangkan dalam Staatblad 1915 No.732). Dengan demikian, sejak tanggal 1 Januari 1918 telah terjadi kodifikasi dan unifikasi (pemberlakuan ketentuan- ketentuan KUHP untuk seluruh penduduk di Indonesia.

Unifikasi undang-undang pidana (KUHP) ditegaskan kembali melalui UU. Nomor 1 Tahun 1946 juncto UU. Nomor 73 Tahun 1958. Dalam perkembangan selanjutnya, KUHP telah beberapa kali mengalami perubahan, baik dalam bentuk penghapusan maupun penambahan ketentuan-ketentuan di dalamnya.

Disamping hukum tertulis/hukum positif, sumber hukum pidana juga ada pada hukum tidak tertulis, yaitu hukum adat pidana berdasarkan ketentuan pasal Pasal 5 ayat (3) sub b UU.

No.1/Drt/1951.

Tes Formatif

Pilihlah jawaban yang paling tepat.

1. Unifikasi undang-undang pidana telah terjadi sejak:

a. 1881 b. 1915 c. 1918

(27)

27 d. 1945.

2. KUHP berlaku di Indonesia sejak : a. 1 Januari 1918.

b. 17 Agustus 1945.

c. 26 Pembruari 1946.

d. 29 September 1958.

3. Berdasarlan Pasal 1 UU. No.1 Tahun 1946, maka peraturan yang ada sampai berdirinya Negara RI, 17 Agustus 1945 adalah:

a. Peraturan Balatentara Jepang.

b. Peraturan Pemerintahan Sipil Hindia Belanda.

c. KUHP.

d. Peraturan NICA

4. An annuling function and restoring function dari UU. No. 1 Tahun 1946 dikemukakan oleh:

a. Han Bing Siong.

b. Sudarto.

c. Moeljatno.

d. Oemar Senoadji

5. Screening board atau toetsteen yang digunakan untuk menguji layak atau tidaknya suatu peraturan pidana berlaku setelah Indonesia merdeka diatur dalam UU. No. 1 Tahun 1946:

a. Pasal IV.

b. Pasal V.

c. Pasal VI d. Pasal VII

6. WvSvNI diubah menjadi WvS atau KUHP oleh UU. No. 1 Tahun 1946 dan diatur di dalam :

a. Pasal IV.

b. Pasal V c. Pasal VI d. Pasal VIII

(28)

7. Undang-undang yang menaikkan ancaman pidana untuk delik- delik culpa menjadi 5 (lima) tahun pidana penjara adalah:

a. UU. No. 1 Tahun 1960.

b. UU. No. 4/Perpu/1960.

c. UU. No. 16/Prp/1960.

d. UU. No.18/Prp/1960,

8. Penambahan Pasal 156a pada KUHP diatur didalam:

a. UU. No.2/Pnps/1964 b. UU. No. 1/Pnps/1965 c. UU. No. 16/Prp/1960 d. UU. No. 18/Prp/1960

9. Bab XXIX A ditambahkan ke dalam KUHP oleh:

a. UU. No. 4 Tahun 1974 b. UU. No. 4 Tahun 1976.

c. UU. No. 1 Tahun 1974 d. UU. No. 7 Tahun 1974

10. Pasal 45, 46, 47 KUHP dicabut oleh : a. UU. No. 3 Tahun 1997.

b. UU. No. 31 Tahun 1999.

c. UU. No. 27 Tahun 1999 d. UU. No. 23 Tahun 2002

(29)

29 BAB IV

RUANG BERLAKUNYA HUKUM PIDANA MENURUT WAKTU DAN TEMPAT

1. Pengantar

Berlakunya norma-norma hukum harus didasarkan pada asas-asas hukum yang menjadi legitimasi dalam prosedur penemuan, pembentukan dan pelaksanaan hukum. Asas-asas hukum merupakan kecenderungan-kecenderungan yang dituntut oleh rasa susila, berasal dari kesadaran hukum atau kesusilaan yang melandasi fungsi pengendalian masyarakat, penyelenggaraan ketertiban dan dan penanggulangan kejahatan.

Sehubungan dengan hal tersebut, uraian bab ini akan membahas asas legalitas yang dijadikan dasar untuk menerapkan ketentuan-ketentuan hukum pidana yang ada pada saat tindak pidana dilakukan dan asas-asas yang mendasari ruang lingkup berlakunya hukum pidana, seperti asas teritorial, asas personal, asas perlindungan dan asas universal.

2. Tujuan Instruksional Umum

Dengan membaca uraian dalam bab ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami asas legalitas (ruang berlakunya hukum pidana menurut waktu) dengan berbagai konsekuensinya dan asas-asas teritorial, personal, perlindungan dan asas universal.

3. Tujuan Instruksional Khusus

a. menjelaskan pengertian asas legalitas, baik dalam hukum pidana materiil maupun hukum pidan formil;

b. menjelaskan rumusan asas legalitas dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP;

c. menjelaskan makna yang terekandung dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP;

d. menjelaskan konsekuensi asas legalitas;

e. menjelaskan teori paksaan psikis dari Anselm von Feurbach;

f. menjelaskan syarat berlaku surutnya peraturan hukum pidana;

g. menjelaskan 3 makna perubahan undang-undang menurut Pasal 1 ayat (2) KUHP;

(30)

h. menjelaskan pengertian asas asas teritorial, asas personal, asas perlindungan dan asas universal;

i. menerapkan asas-asas tersebut j. menjelaskan masalah ekstradiksi k. menjelaskan teori-teori locus delicti 4. Kegiatan Belajar 1

4.1 Ruang Berlakunya Hukum Pidana Menurut Waktu

Asas legalitas yang merupakan salah satu asas fundamental dalam hukum pidana ditetapkan dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP sebagai berikut:

“Suatu perbuatan tidak dapat dipidana, kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan perundang-undangan pidana yang telah ada sebelum perbuatan itu dilakukan”.

Asas legalitas ini sebenarnya berasal dari kalimat dalam bahasa Latin, yaitu Nullum delictum, nulla poena sine praevia lege poenali (tidak ada delik/kejahatan, tidak ada pidana, tanpa undang- undang pidana yang ada sebelumnya), yang dirumuskan oleh Paul Johann Anselm von Feurbach, sering dikenal dengan nama Anselm von Feurbach. Menurut Anselm von Feurbach, asas legalitas memang sengaja dirumuskan dan ditetapkan secara formal untuk melindungi kepentingan umum dan menjamin hak-hak warga masyarakat secara lebih baik.

Anselm von Feurbach juga dikenal dengan teori/ajaran paksaan psikis atau de leer van de psychologische dwang.

Menurutnya, hukum pidana dengan ancaman pidananya bertujuan secara psikis untuk melakukan pencegahan umum. Artinya, dengan dicantumkannya sanksi pidana/ancaman pidana dan menerapkan pidana terhadap pelaku tindak pidana , maka secara psikologis akan memaksa warga masyarakat untuk tidak melakukan perbuatan yang sama.

Mencermati ketentuan Pasal 1 ayat (1) KUHP, maka akan ditemukan dua prinsip yang amat penting, yaitu:

a. Tindak pidana harus dirumuskan dalam undang-undang pidana.

Prinsip pertama ini mengandung konsekuensi:

(1) Undang-undang pidana harus tertulis. Dengan prinsip tersebut, maka hukum yang tidak tertulis tidak diakui keberlakuannya.

(31)

31 (2) Larangan penggunaan penafsiran analogi. Penafsiran analogi berarti suatu perbuatan yang pada waktu dilakukan tidak merupakan tindak pidana, kemudian diterapkan ketentuan pidana yang berlaku untuk tindak pidana lain yang mempunyai sifat atau bentuk yang sama, karena kedua perbuatan tersebut dipandang analog (hampir sama/mempunyai kemiripan) satu sama lain.

b. Undang-undang pidana tidak dapat berlaku surut (non- retroaktif).

Undang-undang pidana yang diterapkan adalah undang- undang pidana yang telah ada pada saat tindak pidana dilakukan. Jika suatu perbuatan semula bukan merupakan tindak pidana, kemudian dirumuskan dalam undang- undang pidana dan diancam dengan sanksi pidana, maka undang-undang pidana yang baru tersebut tidak dapat diterapkan untuk perbuatan sebelumnya.

Terhadap dua prinsip tersebut dan konsekuensi yang menyertainya, perlu dikemukakan beberapa hal dalam kaitannya dengan perkembangan pemikiran dan asas-asas hukum pidana.

4.2 Asas Legalitas

Salah satu konsekuensi asas legalitas adalah undang-undang pidana harus tertulis. Dengan kata lain, sumber hukum pidana hanya ada pada hukum pidana positif. Dengan demikian, KUHP yang sekarang berlaku menganut asas legalitas formal. Oleh karena itu, jika asas tersebut dianut secara ketat, maka hukum tidak tertulis tidak diakui keberlakuannya.

Namun di Indonesia, keberadaan hukum tidak tertulis tersebut masih diakui. Hal ini dapat dilihat pada Pasal 5 ayat (3) sub b UU No.1/Drt./1951, Pasal 14 ayat (1), Pasal 23 ayat (1), Pasal 27 ayat (1) UU. No. 14 Tahun 1970 , Resolusi Bidang Hukum Pidana Seminar Nasional I tahun 1963 butir IV dan Butir VIII, Seminar Hukum Nasional IV/1979 laporan sub.II mengenai Sistem Hukum Nasional.

Realitas hukum pidana (adat) menunjukkan, bahwa beberapa daerah masih (seperti di Bali dan Sulawesi) mengakui berlakunya hukum adat pidana. Sebagai contoh di Bali, delik adat yang menyangkut pelanggaran kesusilaan, seperti Lokika Sanggraha, Drati krama, Gamia gamana dan lain-lain masih diakui oleh masyarakat setempat dan juga pengadilan. Demikian juga hal di beberapa daerah di Sulawesi. Mahkamah Agung dengan putusan

(32)

Nomor 126 K/Kr/1960 mengakui berlakunya hukum pidana adat Ndjurmak. Selain itu masih diakui hukum pidana adat, khususnya yang menyangkut kesusilaan, seperti, sapa’ri tanah, salimar, malaweng luse (ketiganya mirip dengan incest dan perkosaan), sinrong (kumpul kebo), kagau-gau(sodomy), mallariang, silariang (mirip dengan percabulan atau perbuatan tidak senonoh) dan sebagainya.

Perkembangan pemikiran dan asas-asas hukum pidana di Indonesia sepanjang menyangkut asas legalitas juga menunjukkan mulai bergesernya asas legalitas dalam pengertian formal ke arah asas legalitas dalam pengertian material. Dengan diakuinya asas legalitas dalam pengertian material, maka sumber hukum tidak tertulis/hukum adat pidana diakui eksisitensinya sebagai dasar patut dipidananya perbuatan sepanjang perbuatan itu tidak ada persamaannya atau tidak diatur dalam undang-undang.

Perluasan asas legalitas juga merupakan penerapan prinsip mono-dualistik yang menekankan keseimbangan antara kepentingan masyarakat dengan kepentingan individu, dan antara kepastian hukum dan keadilan. Dengan keseimbangan mono-dualistik, maka hukum pidana yang akan dibangun dengan memperhatikan segi-segi objektif dari perbuatan (daad) dan juga segi-segi subjektif dari pembuat (dader). Inilah yang dikenal sebagai hukum pidana yang berorientasi Daad-dader Strafrecht.

Pemikiran yang mendasarkan pada keseimbangan mono- dualistik, telah membawa konsekuensi dipertahankannya dua asas fundamental dalam hukum pidana, yaitu asas legalitas dan asas kesalahan (asas culpabilitas). Asas legalitas merupakan asas kemasyarakatan, karena melindungi masyarakat dari perbuatan melanggar hukum (baik dari penguasa maupun individu); sedangkan asas kesalahan merupakan asas kemanusiaan, artinya asas yang mengakui dan melindungi hak-hak tersangka atau terdakwa.

Catatan :

Pasal 1 ayat (3) RUU KUHP menyatakan, bahwa ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak mengurangi berlakunya hukum yang hidup atau hukum adat yang menentukan bahwa menurut hukum adat setempat seseorang patut dipidana walaupun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan.

(33)

33 4.3 Larangan Penggunaan Penafsiran Analogi

Larangan penggunaan penafsiran analogi (analogische interpretatie, analogische wetstoepasing, argumentum per analogiam) merupakan konsekuensi dari asas legalitas. Penafsiran analogi merupakan penafsiran dengan menerapkan ketentuan yang sifatnya lebih umum terhadap peristiwa/perbuatan yang dipandang memiliki kemiripan/kesamaan dengan peristiwa/perbuatan yang telah diatur secara tegas.

Misalnya Pasal 378 KUHP menetapkan:

“Barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan suatu barang kepadanya,

…”

Pasal 378 KUHP mengancam pidana terhadap orang yang melakukan penipuan, sehingga orang tersebut menyerahkan barang.

Istilah barang sebagaimana dimaksud pasal tersebut merupakan barang yang dapat dinilai secara ekonomis. Apabila terjadi peristiwa, seorang laki-laki mengajak pacarnya berhubungan sex dengan janji akan dikawini dan kemudian diingkarinya, apakah laki- laki tersebut dapat dipidana berdasarkan Pasal 378 KUHP?

Beberapa unsur yang telah dipenuhi oleh laki-laki tersebut adalah:

- dengan maksud menguntungkan diri sendiri;

- secara melawan hukum;

- dengan tipu muslihat;

- menggerakkan orang lain menyerahkan suatu barang.

Persoalannya, apakah barang sebagaimana dimaksud Pasal 378 KUHP memiliki kemiripan dengan “barang” (selaput dara/hymen) yang telah diserahkan oleh pacarnya? Apabila istilah barang (Pasal 378 KUHP) ditafsirkan identik/sama dengan selaput dara/hymen yang telah diserahkan pacarnya, maka terjadi penafsiran analogi. Inilah penafsiran yang dilarang sebagai konsekuensi asas legalitas, karena penafsiran semacam itu dapat menimbulkan ketidakpastian hukum. Metode penafsiran dalam hukum pidana adalah :

a. Metode penafsiran otentik (authentieke interpretatie) Penafsiran suatu undang-undang sesuai dengan penjelasan- penjelasan atau ketentuan-ketentuan sebagaimana terdapat

(34)

dalam undang-undang itu sendiri. Misalnya, dalam KUHP yang sekarang berlaku penafsiran otentik merujuk pada Bab IX Buku I KUHP.

b. Metode penafsiran sistematis (systematische interpretatie) Metode ini digunakan dengan cara mendasarkan suatu arti sebuah ketentuan sebagaimana diatur sesuai dengan sistematika undang-undang yang mengatur ketentuan tersebut.

Contoh, Pasal 341 KUHP mengancam pidana terhadap seorang ibu yang dengan sengaja merampas nyawa anaknya pada saat dilahirkan atau tidak lama kemudian, karena takut ketahuan akan melahirkan anak.

Pasal 341 KUHP dikenal sebagai pembunuhan terhadap janin/orok. Pertanyaan yang timbul, apakah anak yang dibunuh tersebut sebelumnya harus dalam keadaan hidup sebelum dilahirkan atau tidak beberapa lama setelah dilahirkan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut dan karena KUHP sendiri tidak menjelaskannya, maka harus dilihat, bahwa Pasal 341 KUHP berada dalam Bab XIX yang mengatur Kejahatan Terhadap Nyawa, maka bayi/orok/anak yang dibunuh tersebut sebelumnya atau beberapa lama setelah dilahirkan harus dalam keadaan hidup (untuk dapat disebut sebagai nyawa)

c. Metode penafsiran historis (wethistorische interpretatie).

Penafsiran in dilakukan dengan mencoba mengetahui maksud pembentuk undang-undang ketika merancang dan menyusunnya.

Contoh:

Pasal 263 KUHAP menetapkan:

“Terhadap putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, kecuali putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum, terpidana atau ahli waris dapat mengajukan permintaan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung”.

Meskipun di dalam KUHAP tidak ada larangan bagi Jaksa/Penuntut Umum (JPU) untuk mengajukan PK (peninjauan kembali), bukan berarti JPU dapat mengajukan PK. Pertama, harus diketahui latar belakang sejarah pengaturan PK yang justru dibentuk untuk melindungi

(35)

35 terpidana yang sama sekali tidak bersalah. Kasus Sengkon dan Karto yang dijatuhi pidana penjara secara in kracht dan kemudian dibebaskan karena tidak bersalah). Kedua, pada ketentuan tersebut jelas, bahwa apabila hakim menjatuhkan putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum, maka JPU tidak dapat mengajukan PK.

d. Metode penafsiran menurut tatabahasa (grammaticale interpretatie).

Metode ini dilakukan dengan memperhatikan arti dari suatu istilah atau kalimat menurut tatabahasa dan hubungannya dengan kalimat lainnya.

e. Metode penafsiran teleologis (teleologische interpretatie) Penafsiran undang-undang dengan mengetahui tujuan, maksud atau arti dari ketentuan undang-undang.

f. Metode penafsiran fungsional (functionele interpretatie) Penafsiran dengan memperhatikan fungsi yang harus dipenuhi oleh ketentuan undang-undang dalam masyarakat pada suatu saat tertentu.

g. Metode penafsiran sosiologis (sociologische interpretatie) Penafsiran yang dilakukan dengan melihat kebutuhan- kebutuhan masyarakat pada waktu tertentu.

h. Metode penafsiran futuristik/antisipasi (anticiperende interpretatie)

Penafsiran dilakukan dengan melihat rencana-rencana mengenai pembentukan undang-undang yang bersangkutan atau dengan melihat rencana-rencana undang-undang yang sedang akan dibicarakan.

Metode penafsiran yang lain yang berlawanan dengan analogi adalah metode redering a contrario atau argumentum a contrario atau rechtsvergelijkende interpretatie. Metode ini dilakukan dengan cara berpikir sebaliknya. Misalnya, Pasal 34 BW menentukan, bahwa seorang wanita yang bercerai untuk dapat melangsungkan pernikahan yang ke dua harus menunggu selama 300 hari. Apakah hal ini berlaku untuk pria yang akan menikah ke dua kalinya? Oleh karena ketentuan-ketentuan dalam BW sama sekali tidak mengaturnya, maka ketentuan tersebut tidak berlaku bagi pria.

(36)

Metode penafsiran yang banyak menimbulkan perdebatan diantara para guru besar hukum pidana adalah metode yang digunakan oleh Hoge Raad dalam kasus yang dikenal dengan Electriciteits-arrest, tanggal 23 Mei 1921. N.J. 1921.

Dalam Electriciteits-arrest tersebut Hoge Raad menyatakan, bahwa tenaga listrik (electrische energie) harus dimasukkan ke dalam pengertian benda (goed) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 362 WvS. Dengan mengkategorikan tenaga listrik sebagai benda, maka tenaga listrik dapat diambil. Hoge Raad mendasarkan pertimbangannya sebagai berikut:

a. bahwa, tidaklah dapat disangkal lagi kebenarannya tenaga listrik itu mempunyai arti yang tersendiri; dan

b. bahwa, tenaga listrik itu mempunyai suatu nilai ekonomis.

Menurut van Bemmelen, Hoge Raad telah menggunakan tiga metode penafsiran sekaligus, yaitu menurut tata-bahasa, teleologis dan anticiperende. Hazewinkel-Suringa menyatakan, bahwa yang dilakukan oleh Hoge Raad adalah metode teleologis.

Sedangkan Taverne, van Hattum, Pompe menyatakan, bahwa dalam kasus Electriciteits HR (Hoge Raad) melakukan penafsiran dengan menggunakan metode analogi. Lain halnya dengan van Hamel, Langemeijer dan Roling menyatakan, bahwa HR menggunakan metode ekstensif, yaitu memperluas arti atau maksud yang sebenarnya dari suatu ketentuan undang-undang.

4.4 Undang-undang Tidak Boleh Berlaku Surut (Asas Non- Retroaktif)

Berdasarkan asas legalitas yang bertujuan untuk menjamin kepastian hukum, maka undang-undang pidana tidak boleh berlaku surut. Namun pengecualiannya ada dalam Pasal 1 ayat (2) KUHP menyatakan, bahwa bilamana ada perubahan dalam perundang- undangan sesudah perbuatan dilakukan, maka terhadap terdakwa diterapkan ketentuan yang paling menguntungkannya. Berdasarkan Pasal 1 ayat (2) KUHP tersebut, maka undang-undang pidana dapat berlaku surut, artinya ada retroaktif, apabila:

a. ada perubahan perundang-undangan, setelah terdakwa melakukan tindak pidana;

b. perubahan perundang-undangan tersebut menguntungkan terdakwa..

(37)

37 Apakah yang dimaksud dengan perundang-undangan ? Undang-undang dapat dibedakan antara undang-undang dalam arti formal (wet in formele zin) dan undang-undang dalam arti materiil (wet in materiale zin). Undang-undang dalam arti formil adalah semua perundang-undangan yang dibentuk oleh presiden bersama-sama dengan/atas persetujuan DPR. Sedangkan undang- undang dalam arti materiil adalah peraturan-perundangan oleh penguasa atau badan-badan yang memiliki kekuasaan untuk itu, misalnya peraturan pemerintah, keputusan presiden, keputusan menteri, peraturan daerah dan sebagainya.

Sehubungan dengan makna undang-undang sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP, van Bemmelen berpendapat undang-undang yang dimaksud harus diartikan sebagai undang-undang dalam arti formil. Sedangkan Pompe, van Hattum dan van Hamel berpendapat, bahwa undang-undang yang dimaksud harus diartikan dalam arti materiil.

Apakah arti dari perubahan dalam perundang-uindangan?

Mengenai arti dari perubahan perundang-undangan, ada 3 (tiga) ajaran/paham yang dianut oleh para guru besar hukum pidana, yaitu:

a. Ajaran Formal:

Perubahan perundang-undangan sebagaiman dimaksud Pasal 1 ayat (2) KUHP harus diartikan sebagai perubahan dalam perundang-undangan pidana (strafwetgeving). Jika terjadi perubahan perundang-undangan di luar hukum pidana, maka hal itu harus dipandang tidak ada perubahan sebagaimana dimaksud Pasal 1 ayat (2) KUHP. Misalnya, KUHP mengancam pidana terhadap seorang germo yang ‘mempekerjakan’ seorang gadis berusia 20 tahun yang dianggap masih di bawah umur.

Kemudian di dalam BW (Kitab Undang-undang Hukum Perdata) terjadi perubahan, bahwa yang dimaksud di bawah umur adalah kurang dari 18 tahun. Dalam hal demikian, menurut ajaran formil tidak terjadi perubahan perundang- undangan, karena undang-undang pidana sendiri tidak mengalami perubahan , sehingga terdakwa tetap dapat dipidana.

Penganut: Simons, van Hamel dan Zevenbergen.

b. Ajaran Materiil

Yang dimaksud dengan perubahan perundang-undangan bukan hanya perubahan undang-undang pidana, melainkan juga perubahan yang terjadi dalam perundang-undangan lainnya.

(38)

Oleh karena itu, jika dalam BW terjadi perubahan usia di bawah umur dari di bawah 21 tahun menjadi di bawah 18 tahun, maka terdakwa pada kasus germo sebagaimana telah disebutkan sebelumnya tidak dapat dipidana.

c. Ajaran Materiil Terbatas

Ada perubahan perundang-undangan, jika terjadi perubahan dalam keyakinan hukum. Dengan demikian, jika terjadi perubahan usia dewasa dari 21 tahun menjadi 18 tahun, maka telah terjadi perubahan dalam keyakinan hukum. Penganut:

Simons dan van Geuns d. Ajaran Materiil tak Terbatas

Menurut ajaran ini, semua perubahan perundang-undangan dipertimbangkan untuk keuntungan terdakwa. Penganut: Pompe dan van Hattum.

Catatan:

RUU KUHP (draft 1999/2000) di dalam Pasal 2-nya mengatur ketentuan apabila terjadi perubahan peraturan perundang- undangan sebagai berikut:

(1) Jika terjadi perubahan peraturan perundang-undangan sesudah perbuatan terjadi, maka diterapkan peraturan perundang-undangan yang paling menguntungkan.

(2) Jika setelah putusan pemidanaan telah memperoleh kekuatan hukum tetap, perbuatan yang terjadi tidak lagi merupakan tindak pidana menurut peraturan perundang- undangan yang baru, maka pelaksanaan putusan pemidanaan dihapuskan.

(3) Jika setelah putusan pemidanaan telah memperoleh kekuatan hukum tetap, perbuatan yang terjadi diancam pidana yang lebih ringan menurut peraturan perundang- undangan yang baru, maka pelaksanaan putusan pemidanaan tersebut disesuaikan dengan batas-batas pidana menurut peraturan perundang-undangan yang baru.

Penjelasan Pasal 2 RUU KUHP menyatakan:

“Asas ketentuan pidana tidak berlaku surut (non retroaktif) adalah mutlak. Namun apabila terdapat perubahan peraturan perundang- undangan pidana setelah seseorang melakukan suatu tindak pidana, maka digunakan ketentuan yang lebih menguntungkan bagi terdakwa”.

Referensi

Dokumen terkait

Ulkus Diabetik merupakan luka terbuka pada permukaan kulit karena adanya komplikasi makroangiopati sehingga terjadi vaskuler insusifiensi dan neuropati, yang lebih

Dalam modul ini akan diuraikan pengertian paparan dan satuan paparan, pengertian dan satuan dosis serap, kerma dan faktor kualitas/bobot radiasi, pengertian dan satuan dosis

Mengembangkan potensi anggota Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Kota Gorontalo melalui berbagai kegiatan pengabdian masyarakat baik sebagai pribadi, kelompok maupun organisasi

Menurut Moeljatno menyatakan bahwa hukum pidana adalah bagian dari keseluruhan hukum yang berlaku di suatu negara yang mengadakan dasar-dasar dan mengatur ketentuan tentang

Diketahui bahwa adanya keterkaitan antara perilaku manajemen keuangan pribadi dan literasi keuangan yaitu apabila individu dapat memahami dengan baik pemahaman dasar konsep

 Teori kuantum lama diawali oleh hipotesa Planck yang menyatakan bahwa energi yang dipancarkan oleh sumber (berupa osilator) bersifat kuanta/diskrit karena hanya bergantung

Dalam langkah ini para pemuka masyarakat dibimbing untuk menetapkan Pengurus/Pengelola UKBM (dalam bentuk sesuai untuk mengatasi masalah, yaitu

Jelaskan bahwa menurut peraturan yang berlaku pemegang izin berkewajiban memberikan informasi yang diminta oleh inspektur (PP No. 10) dan jelaskan bahwa dokumen tersebut sudah