• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Pendekatan Saintifik

Tujuan mata pelajaran Bahasa Indonesia dalam Permendiknas No 22 (2006: 317) agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.

a. berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis

b. menghargai dan bangga menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara

untuk berbagai tujuan

d. menggunakan Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial

e. menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa

f. menghargai dan membanggakan sastra indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia indonesia.

Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia dalam Permendiknas Nomor 22 (2006: 318) mencakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut: 1) mendengarkan; 2) berbicara; 3) membaca; dan 4) menulis.

Mendengar/menyimak (Asnah 2014: 3) merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam lisan yang bersifat reseptif. Dengan demikian, menyimak tidak sekadar kegiatan mendengarkan tetapi juga memahaminya. Ada dua jenis situasi dalam menyimak, yaitu situasi menyimak secara interaktif dan situasi menyimak secara noninteraktif. Menyimak secara interaktif terjadi dalam percakapan tatap muka dan percakapan di telepon atau yang sejenisnya. Dalam menyimak jenis ini, kita bergantian melakukan aktivitas menyimak dan berbicara. Oleh karena itu, kita memiliki kesempatan untuk bertanya guna memperoleh penjelasan, meminta lawan bicara mengulang apa yang diucapkan olehnya atau mungkin memintanya berbicara agak lebih lambat. Kemudian, contoh situasi-situasi mendengarkan noninteraktif, yaitu mendengarkan radio, TV, film, khotbah,

atau menyimak dalam acara-acara seremonial. Dalam situasi menyimak noninteraktif tersebut, kita tidak dapat meminta penjelasan dari pembicara, tidak bisa pembicara mengulangi apa yang diucapkan, dan tidak bisa meminta pembicaraan diperlambat.

Berikut ini adalah keterampilan-keterampilan mikro yang terlibat ketika kita berupaya untuk memahami apa yang kita dengar, yaitu pendengar harus mampu menguasai beberapa hal berikut:

a. menyimpan/mengingat unsur bahasa yang didengar menggunakan daya ingat jangka pendek (short-term memory);

b. berupaya membedakan bunyi-bunyi yang membedakan arti dalam bahasa target;

c. menyadari adanya bentuk-bentuk tekanan dan nada, warna suara, intonasi, dan adanya reduksi bentuk-bentuk kata;

d. membedakan dan memahami arti kata-kata yang didengar;

e. mengenal bentuk-bentuk kata khusus (typical word-order patterns); f. mendeteksi kata-kata kunci yang mengidentifikasi topik dan gagasan; g. menebak makna dari konteks;

h. mengenal kelas-kelas kata (grammatical word classes); i. menyadari bentuk-bentuk dasar sintaksis;

j. mengenal perangkat-perangkat kohesif (recognize cohesive devices);

k. mendeteksi unsur-unsur kalimat seperti subjek, predikat, objek, preposisi, dan unsur-unsur lainnya.

Berbicara (Asnah 2014: 4) merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam lisan yang bersifat produktif. Sehubungan dengan keterampilan berbicara ada tiga jenis situasi berbicara, yaitu interaktif, semiinteraktif, dan noninteraktif. Situasi-situasi berbicara interaktif, misalnya percakapan secara tatap muka dan berbicara lewat telepon yang memungkinkan adanya pergantian antara berbicara dan menyimak, dan juga memungkinkan kita meminta klarifikasi, pengulangan atau kita dapat meminta lawan bicara memperlambat tempo bicara dari lawan bicara. Kemudian, ada pula situasi berbicara yang semiinteraktif, misalnya alam berpidato di hadapan umum secara langsung. Dalam situasi ini, audiens memang tidak dapat melakukan interupsi terhadap pembicaraan, namun pembicara dapat melihat reaksi pendengar dari ekspresi wajah dan bahasa tubuh mereka. Beberapa situasi berbicara dapat dikatakan betul-betul bersifat noninteraktif, misalnya berpidato melalui radio atau televisi.

Berikut ini beberapa keterampilan mikro yang harus dimiliki dalam berbicara. Seorang pembicara harus dapat:

a. mengucapkan bunyi-bunyi yang berbeda secara jelas sehingga pendengar dapat membedakannya;

b. menggunakan tekanan dan nada serta intonasi yang jelas dan tepat sehingga pendengar dapat memahami apa yang diucapkan pembicara;

c. menggunakan bentuk-bentuk kata, urutan kata, serta pilihan kata yang tepat; d. menggunakan register atau ragam bahasa yang sesuai terhadap situasi

komunikasi, termasuk sesuai ditinjau dari hubungan antara pembicara dan pendengar;

e. berupaya agar kalimat-kalimat utama (the main sentence constituents) jelas bagi pendengar;

f. berupaya mengemukakan ide-ide atau informasi tambahan guna menjelaskan ide-ide utama;

g. berupaya agar wacana berpautan secara selaras sehingga pendengar mudah mengikuti pembicaraan.

Membaca merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam tulis yang bersifat reseptif (Asnah 2014: 5). Keterampilan membaca dapat dikembangkan secara tersendiri, terpisah dari keterampilan menyimak dan berbicara. Tetapi, pada masyarakat yang memiliki tradisi literasi yang telah berkembang, sering kali keterampilan membaca dikembangkan secara terintegrasi dengan keterampilan menyimak dan berbicara.

Keterampilan-keterampilan mikro yang terkait dengan proses membaca yang harus dimiliki pembaca adalah:

a. mengenal sistem tulisan yang digunakan; b. mengenal kosakata;

c. menentukan kata-kata kunci yang mengidentifikasikan topik dan gagasan utama;

d. menentukan makna-makna kata, termasuk kosakata split, dari konteks tertulis; e. mengenal kelas kata gramatikal: kata benda, kata sifat, dan sebagainya;

f. menentukan konstituen-konstituen dalam kalimat, seperti subjek, predikat, objek, dan preposisi;

h. merekonstruksi dan menyimpulkan situasi, tujuan-tujuan, dan partisipan; i. menggunakan perangkat kohesif leksikal dan gramatikal guna menarik

kesimpulan-kesimpulan;

j. menggunakan pengetahuan dan perangkat-perangkat kohesif leksikal dan gramatikal untuk memahami topik utama atau informasi utama;

k. membedakan ide utama dari detail-detail yang disajikan;

l. menggunakan strategi membaca yang berbeda terhadap tujuan-tujuan membaca yang berbeda, seperti skimming untuk mencari ide-ide utama atau melakukan studi secara mendalam.

Menulis (Asnah 2014: 6) merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam tulis yang bersifat produktif. Menulis dapat dikatakan keterampilan berbahasa yang paling rumit di antara jenis-jenis keterampilan berbahasa lainnya. Ini karena menulis bukanlah sekadar menyalin kata-kata dan kalimat-kalimat; melainkan juga mengembangkan dan menuangkan pikiran-pikiran dalam suatu struktur tulisan yang teratur.

Berikut ini keterampilan-keterampilan mikro yang diperlukan dalam menulis, penulis perlu untuk:

a. menggunakan ortografi dengan benar, termasuk di sini penggunaan ejaan; b. memilih kata yang tepat;

c. menggunakan bentuk kata dengan benar; d. mengurutkan kta-kata dengan benar;

e. menggunakan struktur kalimat yang tepat dan jelas bagi pembaca; f. memilih genre tulisan yang tepat, sesuai dengan pembaca yang dituju;

g. mengupayakan ide-ide atu informasi utama didukung secara jelas oleh ide-ide atau informasi tambahan;

h. mengupayakan terciptanya paragraf dan keseluruhan tulisan koheren sehingga pembaca mudah mengikuti jalan pikiran atau informasi yang disajikan;

i. membuat dugaan seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca sasaran mengenai subjek yang ditulis dan membuat asumsi mengenai hal-hal yang belum mereka ketahui dan penting untuk ditulis.

Hubungan antara membaca dan menulis yaitu membaca adalah merupakan proses awal yang melatih dan meningkatkan keterampilan bahasa lisan sehingga mampu mengembangkan keterampilan bahasa tulis dalam bentuk karya sastra. Secara garis besar hubungan antara membaca dan menulis adalah sebagai berikut :

a. membaca (reseptif) dan menulis (produktif);

b. menulis adalah kegiatan menyampaikan gagasan, pesan, informasi, sedangkan membaca adalah kegiatan memahami gagasan, perasaan, informasi dalam tulisan;

c. sebelum menulis, seringkali penulis melakukan aktifitas membaca;

d. dalam kegiatan membaca, seringkali pembaca menulis atau membuat catatan, bagan, rangkuman, atau komentar; dan

e. Seringkali kita menulis apa yang kita baca dan membaca apa yang kita tulis Ruang lingkup materi Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar tertuang dalam Permendikbud Nomor 64 (2013: 49) sebagai berikut:

1) bentuk dan ciri teks faktual (deskriptif, petunjuk/arahan, laporan sederhana), teks tanggapan (ucapan terima kasih, permintaan maaf, diagram/tabel), teks cerita (narasi sederhana, puisi) teks cerita non-naratif (cerita diri/personal, buku harian);

2) konteks budaya, norma, serta konteks sosial yang melatarbelakangi lahirnya jenis teks;

3) paralinguistik (lafal, kelantangan, intonasi, tempo, gestur, dan mimik); dan 4) satuan bahasa pembentuk teks: kalimat sederhana dua kata pola SP.

b. Materi Bahasa Indonesia untuk kelas III dan kelas IV

1) bentuk dan ciri teks genre faktual (teks laporan informatif hasil observasi, teks arahan/petunjuk, teks instruksi, teks surat tanggapan pribadi), genre cerita (cerita petualangan, genre tanggapan, teks dongeng, teks permainan/dolanan daerah (teks wawancara, ulasan buku );

2) konteks budaya, norma, serta konteks sosial yang melatarbelakangi lahirnya jenis teks; dan

3) satuan bahasa pembentuk teks: kalimat sederhana pola SPO dan SPOK, kata, dan kelompok kata Penanda kebahasaan dalam teks.

c. Materi Bahasa Indonesia untuk kelas V dan kelas VI

1) bentuk dan ciri teks genre faktual (teks laporan buku, laporan investigasi, teks penjelasan tentang proses, teks paparan iklan), genre cerita (teks narasi sejarah, teks pantun dan syair), dan genre tanggapan (pidato persuasif, ulasan buku, teks paparan, teks penjelasan);

2) konteks budaya, norma, serta konteks sosial yang melatarbelakangi lahirnya jenis teks;

3) satuan bahasa pembentuk teks: kalimat sederhana pola SPPel, SPOPel, SPOPelK, kata, frasa, pilihan kata/diksi;

4) penanda kebahasaan dalam teks; dan

5) paralinguistik (lafal, kelantangan, intonasi, tempo, gestur, dan mimik) Implementasi dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (2005: 441) adalah implementasi/impleméntasi/E pelaksanaan: pertemuan kedua ini bermaksud mencari bentuk – dari apa yang telah disepakati dulu.

Jadi implementasi pembelajaran saitifik yang tematik adalah pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik dalam pembelajaran tema sebagai pengikat antar mata pelajaran.

Pelaksanaan pembelajaran tematik, menurut Hosnan (2014: 366) perlu dilakukan kegiatan yang mencakup kegiatan pemetaan kompetensi dasar, pengembangan jaringan tema, pengembangan silabus, penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran.

a. Menentukan tema

1) mempelajari standar kompetensi dasar yang terdapat dalam masing-masing mata pelajaran, dilanjutkan dengan menentukan tema yang sesuai.

2) menetapkan lebih dahulu tema-tema pengikat keterpaduan. untuk menentukan tema tersebut, guru bekerja sama dengan peserta didik sehingga sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.

1) memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan siswa 2) dari yang termudah menuju yang sulit

3) dari yang sederhana menuju yang kompleks 4) dari yang kongkrit menuju ke yang abstrak

5) tema yang dipilih harus memungkinkan terjadinya proses berfikir pada diri siswa.

6) ruang lingkup tema disesuaikan dengan usia dan perkembangan siswa, termasuk minat, kebutuhan, dan kemampuannya.

c. Menetapkan jejaring tema

Buatlah jejaring tema yang menghubungkan kompetensi dasar dan indikator dengan tema pemersatu. Dengan jaringan tema tersebut akan terlihat kaitan antartema, kompetensi dasar dan indikator dari setiap mata pelajaran. Jaringan tema ini dapat dikembangkan sesuai dengan alokasi waktu setiap tema. Untuk jejaring tema pada kurikulum 2013 sudah dibuatkan jejaring oleh tim penyusun buku kurikulum 2013.

d. Tahap kegiatan

Pelaksanaan pebelajaran tematik setiap hari dapat dilakukan dengan menggunakan tiga tahap kegiatan, yaitu kegiatan pembukaan/awal/ pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Alokasi waktu untuk setiap tahapan adalah kegiatan pembukaan kurang lebih satu jam pelajaran (1 X 35 menit), kegiatan inti 3 jam pelajaran ( 3 X 35 menit), dan kegiatan penutup satu jam pelajaran (1 X 35 menit).

Untuk tahapan kegiatan pembelajaran pada kurikulum 2013 sudah dibuatkan alur pembelajaran yang ada dalam buku pegangan guru, contoh pembelajaran sebagai berikut.

Dokumen terkait