3.10 2.1 Landasan Teori
2.2 Pembelajaran Berbasis Proyek ( Project Based Learning )
Project Based Learning (PjBL) merupakan salah satu model pembelajaran dengan menggunakan masalah sebagai langkah awal menggunakan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam berkreatifitas secara nyata. Kemudian masalah tersebut dipecahkan secara berkelompok. Pada pembelajaran ini siswa mampu menemukan penyelesaian dari tugas atau pertanyaan yang diberikan dan menyelesaikan sebuah produk.
Pembelajaran berbasis proyek adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa dalam pemecahan masalah dan tugas-tugas bermakna lainnya, memfasilitasi siswa untuk berinvestigasi, memberikan peluang siswa bekerja keras otonom, menginstruksi belajar mereka sendiri dan puncaknya menghasilkan produk
karya siswa. Melalui pembelajaran berbasis proyek, siswa mampu mengembangkan pengetahuan melalui keikutsertaannya dalam proses pembelajaran.
Wena (2013) mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada guru untuk mengelola pembelajaran di kelas dengan melibatkan kerja proyek pada siswa. Kerja proyek akan melibatkan siswa dalam investigasi pemecahan masalah. Melalui pembelajaran kerja proyek kreatifitas dan motivasi siswa akan meningkat.
Berikut adalah pengertian Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) menurut beberapa ahli pendidikan:
1) (Project Based Learning) adalah model pengajaran sistematik yang mengikutsertakan pelajar kedalam pembelajaran, pengarahan dan keahlian yang kompleks, pertanyaan authentic dan perancangan produk dan tugas (Nurohman, 2007).
2) Menurut Grath (dikutip oleh Chen, 2006) Project Based Learning
merupakan kegiatan mengajar dan belajar seputar proyek-proyek yang didorong oleh pertanyaan atau masalah otentik yang merupakan pusat disiplin atau kurikulum, melibatkan pembangunan sebuah komunitas pelajar, dan puncaknya adalah penyajian hasil PjBL yang berfokus untuk membantu peserta didik mengatasi hambatan pembelajaran yang tidak umum dibahas dalam pembelajaran biasa.
3) Menurut Boud & Felleti (1997). Project Based Learning adalah cara yang kontruktivis dalam pembelajaran menggunakan permasalahan sebagai stimulus dan berfokus kepada aktivitas pelajar.
Berdasarkan pendapat tersebut, maka Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) dapat dipandang sebagai pembelajaran yang dapat mendorong peserta didik membangun pengetahuan dan ketrampilan melalui pengalaman secara langsung. Proyek memiliki tujuan dan ketentuan khusus, menghasilkan sebuah produk yang hasilnya kemudian dapat dipresentasikan.
Hasil penelitian yang dilakukan Musa (2012), menyatakan bahwa:
“The findings of this study have shown that PjBL facilitates the transference and inculcation of workplace related skills among the subjects. PjBL has successfully exposed students to various skills such as team-working, managing conflicts, decision making, and communication skills.”
Melalui mengerjakan proyek, siswa dapat berkolaborasi dengan guru tetapi siswa melakukan investigasi dalam kelompok kolaboratif antara empat sampai lima orang. Keterampilan yang dibutuhkan dan dikembangkan oleh siswa dalam tim adalah merencanakan, mengorganisasikan, negosiasi dan membuat konsensus tentang tugas yang dikerjakan, siapa mengerjakan apa, dan bagaimana mengumpulkan informasi yang dibutuhkan dan berinvestigasi. Oleh karena hakikat proyek adalah kolaboratif, maka pengembangan keterampilan tersebut sebaiknya ditujukan untuk semua tim (Wena, 2013).
Menurut Thomas (2000) dalam Wena (2013) mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis proyek mempunyai beberapa prinsip. Prinsip-prinsip tersebut dijabarkan dalam Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Prinsip-prinsip Pembelajaran Berbasis Proyek
Prinsip-Prinsip PjBL Penjelasan
Prinsip sentralis
(centrality)
Prinsip sentralis menegaskan bahwa kerja proyek merupakan esensi dari kurikulum.
Prinsip pertanyaan pendorong (driving
question)
Prinsip ini merupakan external motivation yang mampu menggugah kemandiriannya dalam mengajarkan tugas-tugas pembelajaran
Prinsip investivigasi konstruktif (constructive
investivigation)
Merupakan proses mengarahkan kepada pencapaian tujuan yang mengandung kegiatan inkuiri, pembangunan konsep dan resolusi
Prinsip otonomi
(autonomy)
Merupakan kemandirian siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran .
Prinsip realistis (realism) Prinsip ini mengatakan bahwa proyek merupakan sesuatu yang nyata, bukan seperti di sekolah. 2.2.1 Ciri-ciri Pembelajaran Berbasis Proyek
Menurut materi pelatihan kurikulum 2013 yang diterbitkan oleh BPSDMPK dan PMP tahun 2013 dan Center For Youth Development and Education-Boston
(Muliawati, 2010:10) adalah:
1. adanya permasalahan atau tantangan kompleks yang diajukan ke siswa
2. siswa mendesain proses penyelesaian permasalahan atau tantangan yang diajukan dengan menggunakan penyelidikan
3. siswa mempelajari dan menerapkan keterampilan serta pengetahuan yang dimilikinya dalam berbagai konteks ketika mengerjakan proyek
4. siswa bekerja dalam tim kooperatif demikian juga pada saat mendiskusikannya dengan guru
5. siswa mempraktekkan berbagai keterampilan yang dibutuhkan untuk kehidupan dewasa mereka dan karir (bagaimana mengalokasikan waktu, menjadi individu yang bertanggungjawab, keterampilan pribadi, belajar melalui pengalaman)
6. siswa secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan 7. produk akhir siswa dalam megerjakan proyek dievaluasi
2.2.2 Keuntungan dan Kelemahan Pembelajaran Berbasis proyek
Menurut Moursund seperti dikutip dalam Wena (2013) beberapa keuntungan dari pembelajaran berbasis proyek, antara lain sebagai berikut:
1. Meningkatkan motivasi (Increased motivation)
2. Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah (Increased problem-solving ability)
3. Meningkatkan keterampilan mencari Informasi (Improved library research skills)
4. Meningkatkan kerjasama (Increased collaboration)
5. Meningkatkan keterampilan manajemen (Increased resource-management skills)
Wena (2011) juga menjelaskan beberapa kelemahan dari Pembelajaran Berbasis Proyek, antara lain:
1. Kurikulum yang berlaku di negara kita saat ini belum menunjang pelaksanaan metode
2. Organisasi bahan pelajaran, perencanaan, dan pelaksanaan metode ini sukar dan memerlukan keahlian khusus dari guru
3. Harus dapat memilih topic unit yang tepat sesuai kebutuhan siswa, cukup fasilitas, dan memiliki sumber-sumber belajar yang diperlukan
4. Bahan pelajaran sering menjadi luas sehingga dapat mengaburkan pokok unit yang dibahas.
2.2.3 Langkah-langkah mendesain suatu proyek
Stienberg seperti dikutip dalam Wena (2013) mengajukan enam strategi dalam mendesain suatu proyek yang disebut dengan The Six A’s of Designing Project, yaitu sebagai berikut:
1. Keautentikan (Authenticity)
2. Ketaatan terhadap nilai akademik (AcademicRigor) 3. Belajar pada dunia nyata (AppliedLearning) 4. Aktif meneliti (ActiveExploration)
5. Hubungan dengan ahli (AdultRelationship) 6. Penilaian (Assesment)
Keenam langkah evaluatif tersebut dapat dijadikan pedoman dalam merancang suatu bentuk pembelajaran berbasis proyek. Dengan mengacu pada standar tersebut, pembelajaran berbasis proyek yang dilakukan oleh siswa lebih bermakna bagi pemngembangan dirinya.
2.2.4 Langkah-Langkah Operasional Pembelajaran Berbasis Proyek
Menurut Kemendikbud (2013), ada 6 fase/langkah-langkah operasional dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek, yakni:
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan kepada siswa dalam melakukan suatu aktivitas. Topik penugasan sesuai dengan dunia nyata yang relevan untuk siswa.
2. Fase II : Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project) Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara guru dan siswa. Dengan demikian siswa diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.
3. Fase III : Menyusun Jadwal (Create a Schedule)
Guru dan siswa secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat alokasi waktu untuk menyelesaikan proyek, (2) membuat batas waktu akhir penyelesaian proyek, (3) membawa siswa agar merencanakan cara yang baru, (4) membimbing siswa ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan (5) meminta siswa untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara.
4. Fase IV : Memonitor siswa dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project)
Guru bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas siswa selama menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi siswa pada setiap proses. Dengan kata lain guru berperan menjadi mentor bagi
aktivitas siswa. Agar mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting.
5. Fase V : Menguji Hasil (Assess the Outcome)
Penilaian dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing- masing siswa, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai siswa. 6. Fase VI : Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience)
Pada akhir pembelajaran, guru dan siswa melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan.