• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN KONTEKSTUAL

Dalam dokumen dasar teori kreativitas (Halaman 25-56)

1. Definisi

Menurut Johnson (2002, h. 65) pembejalaran dan pengajaran kontekstual (CTL) adalah sebuah sistem yang menyeluruh. Pembelajaran dan pengajaran kontekstual terdiri dari bagian-bagian yang saling terhubung. Jika bagian-bagian ini terjalin satu sama lain, maka akan dihasilkan pengaruh yang melebihi hasil yang diberikan bagian-bagiannya secara terpisah. Pembelajaran dan pengajaran kontekstual merupakan suatu pendekatan pendidikan yang berbeda, melakukan lebih daripada sekadar menuntun para siswa dalam menggabungkan subjek-subjek  akademik dengan konteks keadaan mereka sendiri. Johnson juga menambahkan bahwa pembelajaran dan pengajaran kontektual melibatkan  para siswa dalam mencari makna “konteks” itu sendiri. Pembelajaran dan  pengajaran kontekstual mendorong mereka melihat bahwa manusia sendiri memiliki kapasitas dan tanggung jawab untuk mempenngaruhi dan membentuk sederetan konteks yang meliputi keluarga, kelas, klub, tempat kerja, masyarakat, dan lingkungan tempat tinggal, hingga ekosistem.

Tidak jauh berbeda dengan Johnson, menurut Sanjaya (2008)   pembelajaran dan pengajaran kontekstual (CTL) adalah suatu strategi  pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara

  penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajarinya dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan mereka. Menurut Sanjaya ada tiga hal yang dapat dipahami dalam pembelajaran dan pengajaran kontekstual yaitu :

1) Pembelajaran dan pengajaran kontekstual menekankan pada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar  diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar  dalam konteks pembelajaran dan pengajaran kontekstual tidak  mengaharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi  proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.

2) Pembelajaran dan pengajaran kontekstual mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata.

3) Pembelajaran dan pengajaran kontekstual mendorong siswa untuk  dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya pembelajaran dan   pengajaran kontekstual bukan hanya mengharapkan siswa dapat

memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi  pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.

Dari definisi yang disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran dan pengajaran kontekstual adalah suatu metode   pendidikan dengan mengajak para siswa untuk meghubungan materi   pelajaran dengan kehidupan sehari-hari dan menemukan makna dari

materi pelajaran yang dipelajari.

2. Komponen Pembelajaran

Dan Pengajaran Kontekstual

Komponen pembelajaran dan pengajaran kontekstual menurut Jhonson ada delapan yaitu :

1) Membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna

Para siswa mampu membangun keterkaitan antara sekolah dan konteks kehidupan nyata seperti bisnis dan lembaga masyarakat.

2) Melakukan pekerjaan yang berarti

Para siswa melakukan suatu pekerjaan yang memiliki tujuan,  berguna untuk orang lain, yang melibatkan proses menentukan pilihan,

dan menghasilkan produk, nyata atau tidak nyata. 3) Melakukan pembelajaran yang diatur sendiri

Para siswa mampu untuk mengatur diri sendiri dan aktif sehingga dapat mengembangkan minat individu, mampu bekerja sendiri atau dalam kelompok. Belajar lewat praktik.

Para siswa mampu untuk bekerja sama baik dengan pihak sekolah maupun di luar sekolah. Dengan bekerja sama akan membantu siswa untuk bekerja dengan efektif dalam kelompok; membantu mereka memahami bahwa apa yang mereka lakukan mempengaruhi orang lain; membantu mereka berkomunikasi dengan orang lain.

5) Berpikir kritis dan kreatif 

Dalam berpikir kritis dan kreatif para siswa akan menganalisis, melakukan sintesis, memecahkan masalah, membuat keputusan, menggunakan logika dan bukti.

6) Membantu individu untuk tumbuh dan berkembang

Pembelajaran dan pengajaran kontekstual membantu para siswa untuk mengembangkan dirinya dengan memberi perhatian dan meletakkan harapan yang tinggi untuk setiap anak. Pembelajaran dan  pengajaran kontekstual juga memotivasi dan mendorong setiap siswa

melalui dukungan dari orang dewasa dan teman sebayanya. 7) Mencapai standar yang tinggi

Pembelajaran dan pengajaran kontekstual membantu para siswa untuk mengenali dan mencapai standar yang tinggi melalui mengidentifikasi tujuan yang jelas dan memotivasi siswa untuk  mencapainya. Menunjukkan kepada siswa cara untuk mencapai keberhasilan.

Penilaian autentik menantang para siswa untuk menerapkan informasi dan keterampilan akademik baru dalam situasi nyata untuk  tujuan tertentu. Penilaian autentik memberik kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka sambil mempertunjukkan apa yang sudah mereka pelajari. Penilaian autentik    berfokus pada tujuan, melibatkan pembelajaran secara langsung, mengharuskan membangun keterkaitan dan kerja sama, dan menanamkan tingkat berpikir yang lebih tinggi.

Dari uraian yang telah dijelaskan di atas dapat kita simpulkan   bahwa komponen-komponen dalam pembelajaran dan pengajaran

kontekstual ini saling melengkapi dan membantu siswa untuk mencapai hasil belajar yang lebih tinggi dan memuaskan. Kedelapan komponen tersebut adalah membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna, melakukan pekerjaan yang berarti, melakukan pembelajaran yang diatur  sendiri, bekerja sama, berpikir kritis dan kreatif, membantu individu untuk  tumbuh dan berkembang, mencapai standar yang tinggi, dan menggunakan  penilaian autentik.

3. Prinsip Ilmiah dalam

Pembelajaran dan Pengajaran Kontekstual

Menurut Jhonson ada tiga prinsip ilmiah dalam pembelajaran dan  pengajaran kontekstual yaitu:

1) Prinsip Kesaling- bergantungan

Menurut para ilmuwan modern, segala sesuatu di alam semesta saling bergantung dan saling berhubungan. Segalanya, baik manusia, maupun bukan manusia, benda hidup dan tak hidup, terhubung satu dengan yang lainnya. Semuanya berperan dalam pola jaringan hubungan yang rumit. Prinsip kesaling-bergantungan mengajak para guru untuk mengenali keterkaitan guru dengan guru yang lainnya, dengan siswa-siswa, dengan masyarakat, dan dengan bumi.

Prinsip kesaling-bergantungan memungkinkan para siswa untuk  membuat hubungan yang bermakna. Prinsip kesaling-bergantungan   juga mendukung kerja sama. Dengan bekerja sama, para siswa

terbantu dalam menemukan persoalan, merancang rencana, dan mencari pemecahan masalah. Pandangan setiap orang yang berbeda dan kemampuan-kemampuan yang unik secara bersama-sama akan tersusun menjadi sesuatu yang lebih besar daripada penjumlahan dari  bagian-bagiannya itu sendiri.

2) Prinsip Diferensiasi

Kata differensiasi merujuk pada dorongan terus-menerus dari alam semesta untuk menghasilkan keragaman yang tidak terbatas, perbedan,  berlimpahan, dan keunikan. Alam tidak pernah membuat benda yang sama. Ada berarti menjadi berbeda. Semakin meneliti suatu hal, semakin ditemukan adanya ciri-ciri yang membedakannya dari yang

lain. prinsip diferensiasi mendorong alam semesta menuju keragaman yang tak terbatas, dan hal itu menjelaskan kecendrungan entitas-entitas yang berbeda untuk bekerja sama dalam bentuk yang disebut dengan simbiosis. Pembelajaran dan pengajaran kontekstual membawa siswa menuju keunikan. Pembelajaran dan pengajaran kontekstual membebaskan para siswa untuk menjelajahi bakat pribadi mereka, memunculkan cara belajar mereka sendiri, berkembang dengan langkah mereka sendiri

3) Prinsip Pengaturan

Diri

Prinsip pengaturan-diri menyatakan bahwa setiap entitas terpisah di alam semesta memiliki sebuah potensi bawaan, suatu kewaspadaan atau kesadaran yang menjadikannya sangat berbeda. Prinsip   pengaturan-diri meminta para guru untuk mendorong setiap siswa untuk mengeluarkan seluruh potensinya. Untuk menyesuaikan dengan   prinsip ini, sasaran utama sistem pembelajaran dan pengajaran

kontekstual adalah menolong para siswa mencapai keunggulan akademik, memperoleh keterampilan karier, dan mengembangkan karakter dengan cara menghubungkan tugas sekolah dengan  pengalaman serta pengetahuan pribadinya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ada tiga prinsip ilmiah dalam pelaksanaan metode pembelajaran dan pengajaran kontekstual. Ketiga prinsip ini bekerja sesuai dengan prinsip kerja alam semesta.

Ketiga prinsip ini juga saling berkaitan antara satu sama lain dan saling melengkapi. Prinsip kesaling-bergantungan membuat hubungan-hubungan menjadi mungkn segala sesuatunya adalah bagian dari suatu jaringan kehidupan. Prinsip diferensiasi mewujudkan keunikan dan keberagaman yang tak terbatas. Segala yang beragam itu menciptakan ragam baru di alam semesta. Prinsip pengorganisasian diri menganugerahi setiap entitas dengan kepribadiannya, kesadaran tentang dirinya dan potensinya.

4. Faktor Yang

Mempengaruhi Pembelajaran Dan Pengajaran Kontekstual

Menurut Sanjaya ada empat factor yang mempengaruhi system  pembelaran, yaitu :

Faktor guru

Guru merupakan komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu strategi pembelajaran. Tanpa guru, bagaimanapun  bagus dan idealnya suatu strategi, maka strategi itu tidak mungkin bisa diaplikasikan. Keberhasilan implementasi suatu strategi pembelajaran akan tergantung pada kepiawaian guru dalam mempergunakan metode, teknik, dan taktik pembelajaran.

Menurut Dunkin (dalam Sanjaya, 2008) ada sejumlah aspek yang mempengaruhi kualitas proses pembelajaran dilihat dari factor guru, diantaranya :

Meliputi jenis kelamin serta semua pengalaman hidup guru yang menjadi latar belakang social mereka. Yang termasuk ke dalam aspek ini diantaranya meliputi tempat kelahiran guru termasuk suku, latar belakang budaya, dan adapt istiadat, keadaan keluarga darimana guru tersebut berasal.

Teacher training experience

Meliputi pengalaman-pengalaman yang berhubungan dengan aktivitas dan latar belakang pendidikan guru

Teacher properties

Segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat yang dimiliki guru misalnya sikap guru terhadap profesinya, sikap guru terhadap siswa, kemampuan dan inteligensi guru, motivasi dan kemampuan dalam pengelolaan pembelajaran termasuk di dalamnya kemampuan dalam merencanakan dan evaluasi pembelajaran maupun kemampuan dalam penguasaan materi pengajaran.

Selain latar belakang guru, pandangan guru terhadap mata   pelajaran yang diajarkan juga dapat mempengaruhi proses   pembelajaran. Guru yang menganggap mata pelajaran IPS sebagai

mata pelajaran hapalan, misalnya akan berbeda dalam pengelolaan  pembelajarannya dibandingkan dengan guru yang menganggap mata   pelajaran tersebut sebagai mata pelajaran yang dapat meningkatkan

 b. Faktor siswa

Siswa adalah organisme yang unik yang berkembang sesuai dengan tahapan perkembangannya. Perkembangan anak adalah  perkembangan seluruh aspek kepribadiannya, akan tetapi tempo dan irama perkembanga masing-masing anak pada setiap aspek tidak selalu sama. Proses pembelajaran dapat dipengaruhi oleh perkembangan anak  yang tidak sama tersebut, di samping karakteristik lain yang melekat  pada diri anak.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran dilihat dari aspek siswa adalah aspek latar belakang siswa yang menurut Dunkin disebut  pupil formative experiences serta faktor sifat yang dimiliki siswa (  pupil properties). Sifat yang dimiliki siswa meliputi kemampuan dasar, pengetahuan, dan sikap.

c. Faktor sarana dan prasarana

Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap kelancaran proses pembelajaran, misalnya media  pembelajaran, perlengakapan sekolah, dan lain sebagainya.

Prasarana adalah segala sesuatu yang secara tidak langsung dapat mendukung keberhasilan proses pembelajaran, misalnya jalan menuju sekolah, penerangan sekolah, kamar kecil, dan sebagainya.

d. Faktor Lingkungan

1) faktor organisasi kelas

Meliputi sejumlah siswa dalam satu kelas. Organisasi kelas yang terlalu besar akan kurang efektif untuk mencapai   pembelajaran. Kelompok belajar yang besar dalam satu kelas  berkecendrungan :

sumber daya kelompok akan bertambah sesuai dengan jumlah siswa, sehingga waktu yang tersedia akan semakin sempit.

Kelompok belajar akan kurang mampu memanfaatkan dan mempergunakan semua sumber daya yang ada.

Kepuasan belajar setiap siswa akan cendrung menurun.

Perbedaan individu antara anggota akan semakin tampak  sehingga semakin sukar mencapai kesepakatan.

Anggota kelompok yang terlalu banyak berkecendrungan akan semakin banyaksiswa yang terpaksa menunggu untuk sama-sama maju mempelajari materi pelajaran baru.

Anggota kelompok yang terlalu banyak akan cendrung semakin  banyaknya siswa yang enggan berpartisipasi aktif dalam setiap

kegiatan kelompok.

2) faktor iklim social-psikologis

Yang dimaksud dalam iklim social-psikologis adalah keharmonisan hubungan antara orang yang terlibat dalam proses  pembelajaran. Iklim social ini juga dapat terjadi secara internal

siswa-siswa, siswa-guru, guru-guru. Sedangkan secara eksternal misalnya hubungan sekolah-orangtua siswa, sekolah-lembaga masyarakat.

Dari uraian di atas ada terdapat empat faktor yang mempengaruhi   berhasil atau tidaknya suatu metode pembelajaran termasuk metode   pembelajaran dan pengajaran kontekstual. Dengan keberadaan guru yang

kompeten, siswa yang aktif dan memiliki minat dan motivasi untuk belajar  yang tinggi, dan didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai, serta lingkungan yang mendukung baik dari faktor organisasi kelas maupun faktor iklim sosial-psikologis, akan menjadikan metode pembelajaran dan  pengajaran menjadi semakin efektif dan berhasil dalam pelaksanaannya.

C. PENGARUH METODE PEMBELAJARAN

DAN PENGAJARAN KONTEKSTUAL TERHADAP KREATIVITAS Kreativitas merupakan suatu hal yang penting yang harus dimiliki oleh siswa. Dengan kreativitas seseorang dapat mewujudkan dan mengaktualisasikan dirinya (Maslow dalam Munandar, 2004). Munandar  (2004) menambahkan bahwa kreativitaslah yang memungkinkan seseorang untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

Fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan seringkali menghambat kreativitas di kalangan para siswa. Guilford dalam pidatonya  pada tahun 1950 menyatakan bahwa pengembangan kreativitas di telantarkan dalam pendidikan formal, padahal kreativitas amat bermakna bagi

 pengembangan potensi anak secara utuh dan bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan seni budaya. Bentuk pemikiran kreatif masih kurang mendapat perhatian dalam pendidikan, sebab, di sekolah yang dilatih adalah penerimaan  pengetahuan, ingatan, dan penalaran/berfikir logis (dalam Munandar, 2004). Metode pembelajaran tradisional cendrung menuntut para siswanya untuk  mampu menghapalkan materi-materi yang ada di dalam buku pelajaran. Para siswa tidak dapat memiliki pikirannya sendiri sehingga secara tidak langsung menghambat kreativitas yang dimiliki oleh para siswanya.

Metode pembelajaran dan pengajaran kontekstual merupakan suatu metode yang mengaitkan materi pelajaran yang ada dengan kehidupan nyata dan menemukan makna dari setiap materi yang dipelajarinya. Dalam metode  pembelajaran dan pengajaran kontekstual ini, siswa diminta untuk mengaitkan

segala aspek kehidupan sesuai dengan prinsipnya yaitu kesaling- bergantungan.

Selain itu, metode pembelajaran dan pengajaran kontekstual juga mengajak para siswanya untuk bisa bekerja sama dengan teman sebayanya dalam menyelesaikan tugas mereka atau memecahkan suatu permasalahan. Dengan bekerja sama maka siswa akan menemukan gagasan yang berbeda karena pada dasarnya manusia itu tidak ada yang sama.

Selain itu, metode pembelajaran dan pengajaran juga mengajak para siswanya untuk melihat suatu penyelesaian dari berbagai sudut pandang yang  berbeda. Menurut Sukmadinata (2003, h. 157), siswa yang dapat melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandangan, atau menguraikan sesuatu masalah

atas beberapa kemungkinan pemecahan jawaban merupakan siswa yang memiliki pola pikir divergen. Guilford (dalam Munandar, 1999, h. 122) menyebutkan, pola piker divergen merupakan salah satu indikator dari kreativitas. Merangsang siswa untuk melihat suatu permasalahan dari   bermacam-macam sudut pandang sehingga siswa dapat memberikan

alternatif-alternatif penyelesaian akan menumbuhkan fleksibilitas pemikiran yang merupakan salah satu aspek utama dari kreativitas (Munandar, 1999, h. 122).

Dalam metode pembelajaran dan pengajaran kontekstual para siswa diajak untuk berpikir kritis dan kreatif. Menurut Sizer (dalam Jhonson, 2009, h. 181-182), sekolah artinya belajar menggunakan pikiran dengan baik,  berpikir kreatif menghadapi persoalan-persoalan penting, serta menanamkan kebiasaan untuk berpikir. Sistem pembelajaran dan pengajaran kontekstual adalah tentang pencapaian intelektual yang berasal dari partisipasi aktif  merasakan pengalaman-pengalaman yang bermakna, pengalaman yang memperkuat hubungan antara sel-sel otak yang sudah ada dan membentuk  hubungan baru. Pembelajaran dan pengajaran kontekstual memberikan kesempatan untuk menggunakan keahlian berpikir dalam tingkatan yang lebih tinggi ini dalam dunia nyata. Berpikir kreatif dan kritis memungkinkan siswa untuk mempelajari masalah secara sistematis, menghadapi berjuta tantangan dengan cara yang terorganisasi, merumuskan pertanyaan inovatif, dan merancang solusi orisinal. Hal ini sejalan dengan aspek-aspek yang terdapat dalam kreatifitas terutama aspek orisinalitas.

Dari uraian di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa prinsip-  prinsip dan komponen yang terdapat dalam pembelajaran dan pengajaran kontekstual memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan aspek-aspek yang terdapat dalam kreatifitas

D. HIPOTESIS

Hipotesis dalam penelitian ini adalah metode pembelajaran dan  pengajaran kontekstual dalam pelajaran IPA berpengaruh terhadap kreativitas siswa kelas V SD. Siswa yang mendapatkan metode pembelajaran dan  pengajaran kontekstual memiliki kreativitas yang lebih tinggi daripada siswa yang tidak mendapatkan metode pembelajaran dan pengajaran kontekstual. Dengan kata lain, terjadi peningkatan kreativitas pada siswa yang mendapatkan metode pembelajaran dan pengajaran kontekstual.

DAFTAR PUSTAKA

Akbar. R., Hawadi, Wiharjdo, Wiyono. 2001. Kreativitas. Jakarta: Gramedia Freeman. J., Munandar. U. 2001. Cerdas dan Cemerlang. Jakarta: Gramedia

Hurlock, Elizabeth B. 1992. Perkembangan Anak: Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Johnson, Elaine B. 2002. Contextual Teaching and Learning : Menjadikan   Kegiatan Belajar-Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna. Bandung:

Mizan Learning Center (MLC).

Mihalyi, C. 1996. Creativity: Flow and the Psychology of Discovery and   Invention. New York: HarperCollinPublihers

Munandar, Utami. 1983. Kreativitas sebagai Aktualisasi Diri: Sebuah Tinjauan  Psikologis. Jakarta: Dian Rakyat.

  ______________. 1999. Kreativitas dan Keberbakatan: Strategi Mewujudkan  Potensi Kreatif dan Bakat. Jakarta: Gramedia

 ______________. 2004. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat . Jakarta: PT Rineka Cipta.

Petty, Geoffrey. 2002.  How to be Better at Creativity: Memaksimalkan Potensi  Kreatif . Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Pendidikan . Jakarta: Kencana

West, M. 2000.   Developing Creativity in Organizations: Mengembangkan  Kreativitas dalam Organisasi. Yogyakarta: Kanisius

Dalam dokumen dasar teori kreativitas (Halaman 25-56)

Dokumen terkait