BAB II BAB II
LANDASAN TEORI LANDASAN TEORI
A.
A. KRKREAEATITIVIVITATASS 1
1.. DDeeffiinniissi i KKrreeaattiivviittaass
Kreativitas menurut Drevdahl (dalam Hurlock, 1992, h. 4) adalah Kreativitas menurut Drevdahl (dalam Hurlock, 1992, h. 4) adalah kem
kemampampuan uan sesseseoreorang ang untuntuk uk menmenghaghasilsilkan kan komkomposposisiisi, , proprodukduk, , ataatauu gagasan apa saja yang pada dasarnya baru, dan sebelumnya tidak dikenal gagasan apa saja yang pada dasarnya baru, dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya. Ia dapat berupa kegiatan imajinatif atau sintesis pemikiran pembuatnya. Ia dapat berupa kegiatan imajinatif atau sintesis pemikiran
ya
yang ng hahasisilnlnya ya bubukakan n hahanynya a peperarangngkukumaman. n. Ia Ia mumungngkikin n memencncakakupup pe
pembembentuntukan kan polpola a barbaru u dan dan gabgabungungan an infinformormasi asi yanyang g dipdiperoeroleh leh dardarii pengalaman sebelumnya dan pencangkokan hubungan lama ke situasi baru pengalaman sebelumnya dan pencangkokan hubungan lama ke situasi baru dan mungkin mencakup pembentukan korelasi baru. Ia harus mempunyai dan mungkin mencakup pembentukan korelasi baru. Ia harus mempunyai mak
maksud sud dan dan tujtujuan uan yanyang g ditditententukaukan, n, bukbukan an fanfantastasi i semsemataata, , walwalaupaupunun merupakan hasil yang sempurna dan lengkap. Ia mungkin dapat berbentuk merupakan hasil yang sempurna dan lengkap. Ia mungkin dapat berbentuk produk seni, kesusteraan, produk ilmiah, atau mungkin bersifat prosedural produk seni, kesusteraan, produk ilmiah, atau mungkin bersifat prosedural
atau metodologis. atau metodologis.
Pe
Petttty y (1(199997) 7) memengngatatakakan an babahwhwa a jijika ka sesebubuah ah mamasasalalah h tetelalahh terpecahkan atau kesulitan telah teratasi atau jika sesuatu yang baru telah terpecahkan atau kesulitan telah teratasi atau jika sesuatu yang baru telah diciptakan atau sesuatu yang lama telah mengalami penyesuaian, berarti diciptakan atau sesuatu yang lama telah mengalami penyesuaian, berarti kr
kreaeatitivivitatas s tetelalah h bebekekerjrja. a. MeMenunururut t MuMunanandndar ar krkreaeatitivivitatas s adadalalahah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibilitas) dan kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibilitas) dan or
(me
(mengengembambangkngkan, an, memmemperperkaykaya, a, memmemperperincinci) i) suasuatu tu gaggagasaasan n (da(dalamlam Irwanto, 2002, h.185 ).
Irwanto, 2002, h.185 ).
Rogers (dalam Munandar, 2004) mengatakan bahwa sumber dari Rogers (dalam Munandar, 2004) mengatakan bahwa sumber dari kr
kreaeatitivivitatas s adadalalah ah kekececendndrurungngan an ununtutuk k memengngakaktutualalisisasasikikan an didiriri,, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang dan menjadi matang, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang dan menjadi matang, ke
kececendndrurungngan an ununtutuk k memengngekekspspreresisikakan n dadan n memengngakaktitifkfkan an sesemumuaa k
keemmaammppuuaan n oorrggananiissmmee. . MMoouuttakakiis s ((ddaallaam m MuMunnaannddaarr, , 22000044)) menambahkan bahwa kreativitas adalah pengalaman mengekspresikan dan menambahkan bahwa kreativitas adalah pengalaman mengekspresikan dan me
mengngakaktutualalisisasasikikan an ididenentititas tas inindidivividu du dadalalam m bebentntuk uk terterpapadu du dadalamlam hubungan dengan diri sendiri, dengan alam, dan dengan
hubungan dengan diri sendiri, dengan alam, dan dengan orang lain.orang lain.
Menurut Rhodes (dalam Munandar, 2004) dari hasil analisisnya Menurut Rhodes (dalam Munandar, 2004) dari hasil analisisnya dari sejumlah definisi tentang kreativitas diperloh kesimpulan bahwa pada dari sejumlah definisi tentang kreativitas diperloh kesimpulan bahwa pada umumnya kreativitas dirumuskan dalam istilah pribadi (
umumnya kreativitas dirumuskan dalam istilah pribadi ( person person), proses,), proses, dan
dan proprodukduk. . KreKreatiativitvitas as dapdapat at pulpula a ditditinjinjau au dardari i konkondisdisi i pripribadbadi i dandan lingkungan yang mendorong (
lingkungan yang mendorong ( press) individu ke perilaku kreatif. Rhodes press) individu ke perilaku kreatif. Rhodes menyebutkan keempat jenis definisi tentang kreativitas ini sebagai “
menyebutkan keempat jenis definisi tentang kreativitas ini sebagai “ Four Four P’s of Creativity: Person, Process, Press, Product
P’s of Creativity: Person, Process, Press, Product ”. Keempat P ini saling”. Keempat P ini saling berkaitan: pribadi kreatif yang melibatkan diri dalam proses kreatif, dan berkaitan: pribadi kreatif yang melibatkan diri dalam proses kreatif, dan dengan dukungan dan dorongan dari lingkungan, menghasilkan produk dengan dukungan dan dorongan dari lingkungan, menghasilkan produk kreatif.
kreatif.
Kreativitas menurut Hawadi, Wihardjo, Wiyono (2001, h.5) adalah Kreativitas menurut Hawadi, Wihardjo, Wiyono (2001, h.5) adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk ciri-ciri
non-aptitude, baik dalam karya maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada, yang semuanya itu relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya. Menurut Torrance (dalam Mujiati, 2006), kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat hipotesis
masalah, menilai, dan menguji kebenaran hipotesis, kemudian mengubah dan mengujinya lagi, dan akhirnya menyampaikan hasil- hasilnya.
Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan suatu produk yang baru, memecahkan suatu masalah dengan caranya sendiri atau mampu menemukan pemecahan suatu masalah dengan cara yang berbeda dari yang biasanya, dan juga mampu mengembangkan gagasannya dari ilmu pengetahuan yang sudah ada.
2. Aspek-aspek Kreativitas
Aspek-aspek kreativitas menurut Torrance (dalam Heinkel, 2002) adalah:
a. Fluency (Kelancaran)
Fluency atau kelancaran mengacu pada sejumlah besar ide, gagasan, atau alternatif dalam memecahkan persoalan. Kelancaran menyiratkan pemahaman, tidak hanya mengingat sesuatu yang dipelajari.
b. Flexibility (Fleksibilitas)
Fleksibilitas mengacu pada produksi gagasan yang menunjukkan berbagai berbagai kemungkinan. Fleksibilitas melibatkan kemampuan
untuk melihat berbagai hal dari sudut pandang yang berbeda serta menggunakan banyak strategi atau pendekatan yang berbeda.
c. Elaboration (Elaborasi)
Elaborasi adalah proses meningkatkan gagasan dengan membuatnya menjadi lebih detail. Kejelasan dan detail tambahan akan meningkatkan minat dan pemahaman topik tersebut.
d. Originality (Keaslian)
Keaslian melibatkan produksi dari gagasan yang tidak biasa atau unik. Keaslian juga melibatkan penyampaian informasi dengan cara baru.
Kreativitas menurut Freeman dan Munandar (2001, h. 251) dapat ditinjau dari empat aspek yang sering disebut sebagai 4P, yaitu:
a. Aspek Pribadi (Person)
Ditinjau dari aspek pribadi, kreativitas muncul dari keunikan individu dalam interaksi dengan lingkungannya. Tiap siswa mempunyai bakat kreatif, namun masing-masing dalam bidang dan kadar yang berbeda-beda.
b. Aspek Pendorong (Press)
Kreativitas ditinjau dari aspek pendorong menunjuk pada perlunya dorongan dari dalam individu (berupa minat, hasrat, dan motivasi) dan dari luar (lingkungan, keluarga, sekolah, dan masyarakat) agar bakat kreatif dapat diwujudkan.
c. Aspek Proses (Process)
Kreativitas sebagai proses ialah proses bersibuk diri secara kreatif. Saat pembelajaran, siswa yang selalu dituntut untuk memenuhi standar tertentu tidak akan memiliki kesenangan untuk berkreasi.
d. Aspek Produk (Product)
Kreativitas sebagai produk, merupakan suatu ciptaan yang baru dan bermakna bagi individu dan atau lingkungannya. Hasil karya seorang siswa sudah dapat disebut kreatif jika karya tersebut belum pernah ia buat sebelumnya dan ia tidak meniru atau mencontoh pekerjaan orang lain.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek kreativitas terdiri dari aspek kelancaran ( fluency), kelenturan (flexibility) , orisinalitas (originality), dan elaborasi (elaboration).
3. Ciri-Ciri Kemampuan Berpikir Kreatif
Munandar (dalam Hawadi, Wihardjo, Wiyono, 2001, h.5) menyatakan, ciri-ciri kemampuan berpikir kreatif dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Ciri-ciri Aptitude
Ciri-ciri aptitude dari kemampuan berpikir kreatif adalah: 1) Keterampilan berpikir lancar
2) Keterampilan berpikir luwes (fleksibel) 3) Keterampilan berpikir rasional
4) Keterampilan memperinci atau mengelaborasi 5) Keterampilan menilai (mengevaluasi)
b. Ciri-ciri Afektif (Non-aptitude)
Ciri-ciri afektif dari kemampuan berpikir kreatif adalah: 1) Rasa ingin tahu
2) Bersifat imajinatif
3) Merasa tertantang oleh kemajuan 4) Sifat berani mengambil resiko 5) Sifat menghargai
West (2000, h. 36) menyebutkan, orang yang kreatif biasanya memiliki ciri:
a. Nilai-Nilai Intelektual dan Artistik
Orang yang konsisten kreatif cenderung tertarik pada kegiatan-kegiatan intelektual, seperti membaca buku. Nilai artistiknya juga dikembangkan dengan baik.
b. Ketertarikan Pada Kompleksitas
Orang yang kreatif cenderung tertarik pada usaha menjelajahi masalah yang sulit dan rumit untuk mendapatkan solusi atas masalah tersebut.
c. Kepedulian Pada Pekerjaan dan Pencapaian
Orang yang kreatif memiliki disiplin diri dan cenderung memotivasi diri sendiri.
d. Ketekunan
Orang kreatif cenderung mempunyai tekad keras untuk mencapai tujuannya.
e. Pemikiran yang Mandiri
Orang-orang kreatif menunjukkan kemandirian karakteristik dalam membuat kesimpulan dan tetap loyal pada opini mereka.
f. Toleransi Terhadap Ambiguitas
Orang-orang kreatif sering merespon pada situasi-situasi ambigu, misalnya situasi yang belum mereka kenal sebelumnya.
g. Otonom
Orang-orang kreatif cenderung mengarahkan diri sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Mereka memiliki kebutuhan akan
kebebasan dari kendali terhadap aturan-aturan. h. Kepercayaan Diri
Orang yang percaya pada kreativitas mereka sendiri dan yakin pada kemampuan-kemampuan mereka lebih besar untuk berperilaku
kreatif.
i. Kesiapan Mengambil Resiko
Orang kreatif cenderung lebih siap untuk mengambil resiko dengan ide-ide baru serta mencoba cara-cara baru dan lebih baik dalam mengerjakan berbagai hal, sekalipun tidak ada dukungan dari lingkungan sekitarnya.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti memilih menggunakan ciri-ciri kemampuan berpikir kreatif yang dikemukakan oleh Munandar karena alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan tes kreativitas yang diadaptasi oleh Munandar, yang terdiri dari ciri aptitude kreativitas yaitu keterampilan berpikir lancar, keterampilan berpikir luwes (fleksibel), keterampilan berpikir rasional, keterampilan memperinci (mengelaborasi), keterampilan menilai (mengevaluasi).
4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kreativitas
Menurut Hurlock (1992, h. 8-9) ada lima faktor yang menyebabkan terjadinya variasi dari kreativitas tiap individu. Kelima faktor tersebut adalah:
1) Jenis Kelamin
Anak laki-laki memiliki kreativitas yang lebih besar dari anak perempuan terutama setelah berlalunya masa kanak-kanak. Hal ini
disebabkan karena anak laki-laki diberi kesempatan untuk mandiri, didesak oleh teman sebayanya untuk lebih mengambil resiko dan didorong oleh para orang tua dan guru untuk lebih menunjukkan insiatif dan orisinalitas.
2) Status Sosio Ekonomi
Anak dari kelompok sosio ekonomi yang lebih tinggi cenderung kreatif dibandingkan dengan anak kelompok yang lebih rendah karena lingkungan anak kelompok sosio ekonomi yang lebih tinggi memberi lebih banyak kesempatan untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang diperlukan bagi kreativitas.
3) Urutan Kelahiran
Anak dari berbagai urutan kelahiran menunjukkan kreativitas yang berbeda. Tekanan yang diberikan pada anak pertama untuk
menyesuaikan diri dengan harapan orang tua mereka mendorong anak untuk menjadi penurut daripada pencipta. Anak tunggal agak bebas
dari tekanan orang tua dan cenderung lebih diberi kesempatan untuk mengembangkan individualitasnya.
4) Ukuran Keluarga
Anak dari keluarga kecil, dalam kondisi yang sama cenderung lebih kreatif dari anak keluarga besar. Dalam keluarga besar, orang tua cenderung mendidik anak dengan otoriter sehingga menghalangi perkembangan kreativitas anak.
5) Lingkungan tempat tinggal
Anak dari lingkungan kota cenderung lebih kreatif dari anak lingkungan pedesaan. Di pedesaan, anak lebih umum dididik secara otoriter.Lingkungan pedesaan juga kurang merangsang kreativitas dibandingkan lingkungan kota dan sekitarnya.
6) Inteligensi
Pada setiap umur, anak yang pandai menunjukkan kreativitas yang lebih besar dari anak yang kurang pandai. Mereka mempunyai lebih banyak gagasan baru untuk menangani suasana konflik sosial dan
mampu merumuskan lebih banyak penyelesaian bagi konflik tersebut. Hurlock(1992, h. 11) menambahkan ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan kreativitas, yaitu:
1) Waktu
Untuk menjadi kreatif, kegiatan anak seharusnya jangan diatur sedemikian rupa sehingga hanya sedikit waktu bebas bagi mereka
untuk bermain-main dengan gagasan-gagasan dan konsep-konsep dan mencobanya dalam bentuk baru dan orisinal.
2) Kesempatan Menyendiri
Anak dapat menjadi kreatif apabila ia tidak mendapat tekanan dari kelompok sosial. Singer (dalam Hurlock, 1992, h. 11) menerangkan bahwa anak membutuhkan waktu dan kesempatan menyendiri untuk
mengembangkan kehidupan imajinatif yang kaya.
3) Dorongan
Terlepas dari seberapa jauh prestasi anak memenuhi standar orang dewasa, mereka harus didorong untuk kreatif dan bebas dari ejekan dan kritik yang seringkali dilontarkan pada anak yang kreatif.
4) Sarana
Sarana untuk bermain dan kelak sarana lainnya harus disediakan untuk merangsang dorongan eksperimental dan eksplorasi, yang merupakan unsur penting dari semua kreativitas.
5) Lingkungan yang Merangsang
Lingkungan rumah dan sekolah harus merangsang kreativitas anak dengan memberikan bimbingan dan dorongan untuk menggunakan sarana yang akan mendorong kreativitas. Ini harus dilakukan sedini mungkin sejak masa bayi dan dilanjutkan hingga masa sekolah dengan menjadikan kreativitas suatu pengalaman yang menyenangkan dan dihargai secara sosial.
6) Hubungan Orang Tua-Anak yang Tidak Posesif
Orang tua yang tidak terlalu melindungi atau terlalu posesif terhadap anak, mendorong anak untuk mandiri dan percaya diri, dua kualitas yang sangat mendukung kreativitas.
7) Cara Mendidik Anak
Mendidik anak secara demokratis dan permisif di sekolah meningkatkan kreativitas sedangkan cara mendidik otoriter memadamkannya.
8) Kesempatan untuk memperoleh Pengetahuan
Kreativitas tidak muncul dalam kehapaan. Semakin banyak pengetahuan yang diperoleh anak, semakin baik dasar untuk mencapai
hasil yang kreatif. Pulaski (dalam Hurlock, 1992, h. 11) mengatakan bahwa anak-anak harus berisi untuk berfantasi.
Berdasarkan uraian di atas faktor yang mempengaruhi kreativitas dibagi dalam dua kategori yang faktor yang menyebabkan timbulnya variasi dalam kreativitas dan faktor yang dapat meningkatkan kreativitas. Kedua kategori ini saling melengkapi dalam mempengaruhi kreativitas siswa. Yang termasuk ke dalam faktor yang menyebabkan munculnya variasi dalam kreativitas antara lain: jenis kelamin, status sosioekonomi, urutan kelahiran, urutan keluarga, lingkungan tempat tinggal, dan inteligensi. Faktor yang dapat meningkatkan kreativitas antara lain: waktu, kesempatan menyendiri, dorongan, sarana, lingkungan yang merangsang,
hubungan orang tua-anak yang tidak posesif, cara mendidik anak, dan kesempatan untuk memperoleh pengetahuan.
B. PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN KONTEKSTUAL
1. Definisi
Menurut Johnson (2002, h. 65) pembejalaran dan pengajaran kontekstual (CTL) adalah sebuah sistem yang menyeluruh. Pembelajaran dan pengajaran kontekstual terdiri dari bagian-bagian yang saling terhubung. Jika bagian-bagian ini terjalin satu sama lain, maka akan dihasilkan pengaruh yang melebihi hasil yang diberikan bagian-bagiannya secara terpisah. Pembelajaran dan pengajaran kontekstual merupakan suatu pendekatan pendidikan yang berbeda, melakukan lebih daripada sekadar menuntun para siswa dalam menggabungkan subjek-subjek akademik dengan konteks keadaan mereka sendiri. Johnson juga menambahkan bahwa pembelajaran dan pengajaran kontektual melibatkan para siswa dalam mencari makna “konteks” itu sendiri. Pembelajaran dan pengajaran kontekstual mendorong mereka melihat bahwa manusia sendiri memiliki kapasitas dan tanggung jawab untuk mempenngaruhi dan membentuk sederetan konteks yang meliputi keluarga, kelas, klub, tempat kerja, masyarakat, dan lingkungan tempat tinggal, hingga ekosistem.
Tidak jauh berbeda dengan Johnson, menurut Sanjaya (2008) pembelajaran dan pengajaran kontekstual (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara
penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajarinya dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan mereka. Menurut Sanjaya ada tiga hal yang dapat dipahami dalam pembelajaran dan pengajaran kontekstual yaitu :
1) Pembelajaran dan pengajaran kontekstual menekankan pada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks pembelajaran dan pengajaran kontekstual tidak mengaharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.
2) Pembelajaran dan pengajaran kontekstual mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata.
3) Pembelajaran dan pengajaran kontekstual mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya pembelajaran dan pengajaran kontekstual bukan hanya mengharapkan siswa dapat
memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
Dari definisi yang disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran dan pengajaran kontekstual adalah suatu metode pendidikan dengan mengajak para siswa untuk meghubungan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari dan menemukan makna dari
materi pelajaran yang dipelajari.
2. Komponen Pembelajaran
Dan Pengajaran Kontekstual
Komponen pembelajaran dan pengajaran kontekstual menurut Jhonson ada delapan yaitu :
1) Membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna
Para siswa mampu membangun keterkaitan antara sekolah dan konteks kehidupan nyata seperti bisnis dan lembaga masyarakat.
2) Melakukan pekerjaan yang berarti
Para siswa melakukan suatu pekerjaan yang memiliki tujuan, berguna untuk orang lain, yang melibatkan proses menentukan pilihan,
dan menghasilkan produk, nyata atau tidak nyata. 3) Melakukan pembelajaran yang diatur sendiri
Para siswa mampu untuk mengatur diri sendiri dan aktif sehingga dapat mengembangkan minat individu, mampu bekerja sendiri atau dalam kelompok. Belajar lewat praktik.
Para siswa mampu untuk bekerja sama baik dengan pihak sekolah maupun di luar sekolah. Dengan bekerja sama akan membantu siswa untuk bekerja dengan efektif dalam kelompok; membantu mereka memahami bahwa apa yang mereka lakukan mempengaruhi orang lain; membantu mereka berkomunikasi dengan orang lain.
5) Berpikir kritis dan kreatif
Dalam berpikir kritis dan kreatif para siswa akan menganalisis, melakukan sintesis, memecahkan masalah, membuat keputusan, menggunakan logika dan bukti.
6) Membantu individu untuk tumbuh dan berkembang
Pembelajaran dan pengajaran kontekstual membantu para siswa untuk mengembangkan dirinya dengan memberi perhatian dan meletakkan harapan yang tinggi untuk setiap anak. Pembelajaran dan pengajaran kontekstual juga memotivasi dan mendorong setiap siswa
melalui dukungan dari orang dewasa dan teman sebayanya. 7) Mencapai standar yang tinggi
Pembelajaran dan pengajaran kontekstual membantu para siswa untuk mengenali dan mencapai standar yang tinggi melalui mengidentifikasi tujuan yang jelas dan memotivasi siswa untuk mencapainya. Menunjukkan kepada siswa cara untuk mencapai keberhasilan.
Penilaian autentik menantang para siswa untuk menerapkan informasi dan keterampilan akademik baru dalam situasi nyata untuk tujuan tertentu. Penilaian autentik memberik kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka sambil mempertunjukkan apa yang sudah mereka pelajari. Penilaian autentik berfokus pada tujuan, melibatkan pembelajaran secara langsung, mengharuskan membangun keterkaitan dan kerja sama, dan menanamkan tingkat berpikir yang lebih tinggi.
Dari uraian yang telah dijelaskan di atas dapat kita simpulkan bahwa komponen-komponen dalam pembelajaran dan pengajaran
kontekstual ini saling melengkapi dan membantu siswa untuk mencapai hasil belajar yang lebih tinggi dan memuaskan. Kedelapan komponen tersebut adalah membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna, melakukan pekerjaan yang berarti, melakukan pembelajaran yang diatur sendiri, bekerja sama, berpikir kritis dan kreatif, membantu individu untuk tumbuh dan berkembang, mencapai standar yang tinggi, dan menggunakan penilaian autentik.
3. Prinsip Ilmiah dalam
Pembelajaran dan Pengajaran Kontekstual
Menurut Jhonson ada tiga prinsip ilmiah dalam pembelajaran dan pengajaran kontekstual yaitu:
1) Prinsip Kesaling- bergantungan
Menurut para ilmuwan modern, segala sesuatu di alam semesta saling bergantung dan saling berhubungan. Segalanya, baik manusia, maupun bukan manusia, benda hidup dan tak hidup, terhubung satu dengan yang lainnya. Semuanya berperan dalam pola jaringan hubungan yang rumit. Prinsip kesaling-bergantungan mengajak para guru untuk mengenali keterkaitan guru dengan guru yang lainnya, dengan siswa-siswa, dengan masyarakat, dan dengan bumi.
Prinsip kesaling-bergantungan memungkinkan para siswa untuk membuat hubungan yang bermakna. Prinsip kesaling-bergantungan juga mendukung kerja sama. Dengan bekerja sama, para siswa
terbantu dalam menemukan persoalan, merancang rencana, dan mencari pemecahan masalah. Pandangan setiap orang yang berbeda dan kemampuan-kemampuan yang unik secara bersama-sama akan tersusun menjadi sesuatu yang lebih besar daripada penjumlahan dari bagian-bagiannya itu sendiri.
2) Prinsip Diferensiasi
Kata differensiasi merujuk pada dorongan terus-menerus dari alam semesta untuk menghasilkan keragaman yang tidak terbatas, perbedan, berlimpahan, dan keunikan. Alam tidak pernah membuat benda yang sama. Ada berarti menjadi berbeda. Semakin meneliti suatu hal, semakin ditemukan adanya ciri-ciri yang membedakannya dari yang
lain. prinsip diferensiasi mendorong alam semesta menuju keragaman yang tak terbatas, dan hal itu menjelaskan kecendrungan entitas-entitas yang berbeda untuk bekerja sama dalam bentuk yang disebut dengan simbiosis. Pembelajaran dan pengajaran kontekstual membawa siswa menuju keunikan. Pembelajaran dan pengajaran kontekstual membebaskan para siswa untuk menjelajahi bakat pribadi mereka, memunculkan cara belajar mereka sendiri, berkembang dengan langkah mereka sendiri
3) Prinsip Pengaturan
Diri
Prinsip pengaturan-diri menyatakan bahwa setiap entitas terpisah di alam semesta memiliki sebuah potensi bawaan, suatu kewaspadaan atau kesadaran yang menjadikannya sangat berbeda. Prinsip pengaturan-diri meminta para guru untuk mendorong setiap siswa untuk mengeluarkan seluruh potensinya. Untuk menyesuaikan dengan prinsip ini, sasaran utama sistem pembelajaran dan pengajaran
kontekstual adalah menolong para siswa mencapai keunggulan akademik, memperoleh keterampilan karier, dan mengembangkan karakter dengan cara menghubungkan tugas sekolah dengan pengalaman serta pengetahuan pribadinya.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ada tiga prinsip ilmiah dalam pelaksanaan metode pembelajaran dan pengajaran kontekstual. Ketiga prinsip ini bekerja sesuai dengan prinsip kerja alam semesta.
Ketiga prinsip ini juga saling berkaitan antara satu sama lain dan saling melengkapi. Prinsip kesaling-bergantungan membuat hubungan-hubungan menjadi mungkn segala sesuatunya adalah bagian dari suatu jaringan kehidupan. Prinsip diferensiasi mewujudkan keunikan dan keberagaman yang tak terbatas. Segala yang beragam itu menciptakan ragam baru di alam semesta. Prinsip pengorganisasian diri menganugerahi setiap entitas dengan kepribadiannya, kesadaran tentang dirinya dan potensinya.
4. Faktor Yang
Mempengaruhi Pembelajaran Dan Pengajaran Kontekstual
Menurut Sanjaya ada empat factor yang mempengaruhi system pembelaran, yaitu :
Faktor guru
Guru merupakan komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu strategi pembelajaran. Tanpa guru, bagaimanapun bagus dan idealnya suatu strategi, maka strategi itu tidak mungkin bisa diaplikasikan. Keberhasilan implementasi suatu strategi pembelajaran akan tergantung pada kepiawaian guru dalam mempergunakan metode, teknik, dan taktik pembelajaran.
Menurut Dunkin (dalam Sanjaya, 2008) ada sejumlah aspek yang mempengaruhi kualitas proses pembelajaran dilihat dari factor guru, diantaranya :
Meliputi jenis kelamin serta semua pengalaman hidup guru yang menjadi latar belakang social mereka. Yang termasuk ke dalam aspek ini diantaranya meliputi tempat kelahiran guru termasuk suku, latar belakang budaya, dan adapt istiadat, keadaan keluarga darimana guru tersebut berasal.
Teacher training experience
Meliputi pengalaman-pengalaman yang berhubungan dengan aktivitas dan latar belakang pendidikan guru
Teacher properties
Segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat yang dimiliki guru misalnya sikap guru terhadap profesinya, sikap guru terhadap siswa, kemampuan dan inteligensi guru, motivasi dan kemampuan dalam pengelolaan pembelajaran termasuk di dalamnya kemampuan dalam merencanakan dan evaluasi pembelajaran maupun kemampuan dalam penguasaan materi pengajaran.
Selain latar belakang guru, pandangan guru terhadap mata pelajaran yang diajarkan juga dapat mempengaruhi proses pembelajaran. Guru yang menganggap mata pelajaran IPS sebagai
mata pelajaran hapalan, misalnya akan berbeda dalam pengelolaan pembelajarannya dibandingkan dengan guru yang menganggap mata pelajaran tersebut sebagai mata pelajaran yang dapat meningkatkan
b. Faktor siswa
Siswa adalah organisme yang unik yang berkembang sesuai dengan tahapan perkembangannya. Perkembangan anak adalah perkembangan seluruh aspek kepribadiannya, akan tetapi tempo dan irama perkembanga masing-masing anak pada setiap aspek tidak selalu sama. Proses pembelajaran dapat dipengaruhi oleh perkembangan anak yang tidak sama tersebut, di samping karakteristik lain yang melekat pada diri anak.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran dilihat dari aspek siswa adalah aspek latar belakang siswa yang menurut Dunkin disebut pupil formative experiences serta faktor sifat yang dimiliki siswa ( pupil properties). Sifat yang dimiliki siswa meliputi kemampuan dasar, pengetahuan, dan sikap.
c. Faktor sarana dan prasarana
Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap kelancaran proses pembelajaran, misalnya media pembelajaran, perlengakapan sekolah, dan lain sebagainya.
Prasarana adalah segala sesuatu yang secara tidak langsung dapat mendukung keberhasilan proses pembelajaran, misalnya jalan menuju sekolah, penerangan sekolah, kamar kecil, dan sebagainya.
d. Faktor Lingkungan
1) faktor organisasi kelas
Meliputi sejumlah siswa dalam satu kelas. Organisasi kelas yang terlalu besar akan kurang efektif untuk mencapai pembelajaran. Kelompok belajar yang besar dalam satu kelas berkecendrungan :
sumber daya kelompok akan bertambah sesuai dengan jumlah
siswa, sehingga waktu yang tersedia akan semakin sempit.
Kelompok belajar akan kurang mampu memanfaatkan dan
mempergunakan semua sumber daya yang ada.
Kepuasan belajar setiap siswa akan cendrung menurun.
Perbedaan individu antara anggota akan semakin tampak
sehingga semakin sukar mencapai kesepakatan.
Anggota kelompok yang terlalu banyak berkecendrungan akan
semakin banyaksiswa yang terpaksa menunggu untuk sama-sama maju mempelajari materi pelajaran baru.
Anggota kelompok yang terlalu banyak akan cendrung semakin
banyaknya siswa yang enggan berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan kelompok.
2) faktor iklim social-psikologis
Yang dimaksud dalam iklim social-psikologis adalah keharmonisan hubungan antara orang yang terlibat dalam proses pembelajaran. Iklim social ini juga dapat terjadi secara internal
siswa-siswa, siswa-guru, guru-guru. Sedangkan secara eksternal misalnya hubungan sekolah-orangtua siswa, sekolah-lembaga masyarakat.
Dari uraian di atas ada terdapat empat faktor yang mempengaruhi berhasil atau tidaknya suatu metode pembelajaran termasuk metode pembelajaran dan pengajaran kontekstual. Dengan keberadaan guru yang
kompeten, siswa yang aktif dan memiliki minat dan motivasi untuk belajar yang tinggi, dan didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai, serta lingkungan yang mendukung baik dari faktor organisasi kelas maupun faktor iklim sosial-psikologis, akan menjadikan metode pembelajaran dan pengajaran menjadi semakin efektif dan berhasil dalam pelaksanaannya.
C. PENGARUH METODE PEMBELAJARAN
DAN PENGAJARAN KONTEKSTUAL TERHADAP KREATIVITAS Kreativitas merupakan suatu hal yang penting yang harus dimiliki oleh siswa. Dengan kreativitas seseorang dapat mewujudkan dan mengaktualisasikan dirinya (Maslow dalam Munandar, 2004). Munandar (2004) menambahkan bahwa kreativitaslah yang memungkinkan seseorang untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
Fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan seringkali menghambat kreativitas di kalangan para siswa. Guilford dalam pidatonya pada tahun 1950 menyatakan bahwa pengembangan kreativitas di telantarkan dalam pendidikan formal, padahal kreativitas amat bermakna bagi
pengembangan potensi anak secara utuh dan bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan seni budaya. Bentuk pemikiran kreatif masih kurang mendapat perhatian dalam pendidikan, sebab, di sekolah yang dilatih adalah penerimaan pengetahuan, ingatan, dan penalaran/berfikir logis (dalam Munandar, 2004). Metode pembelajaran tradisional cendrung menuntut para siswanya untuk mampu menghapalkan materi-materi yang ada di dalam buku pelajaran. Para siswa tidak dapat memiliki pikirannya sendiri sehingga secara tidak langsung menghambat kreativitas yang dimiliki oleh para siswanya.
Metode pembelajaran dan pengajaran kontekstual merupakan suatu metode yang mengaitkan materi pelajaran yang ada dengan kehidupan nyata dan menemukan makna dari setiap materi yang dipelajarinya. Dalam metode pembelajaran dan pengajaran kontekstual ini, siswa diminta untuk mengaitkan
segala aspek kehidupan sesuai dengan prinsipnya yaitu kesaling- bergantungan.
Selain itu, metode pembelajaran dan pengajaran kontekstual juga mengajak para siswanya untuk bisa bekerja sama dengan teman sebayanya dalam menyelesaikan tugas mereka atau memecahkan suatu permasalahan. Dengan bekerja sama maka siswa akan menemukan gagasan yang berbeda karena pada dasarnya manusia itu tidak ada yang sama.
Selain itu, metode pembelajaran dan pengajaran juga mengajak para siswanya untuk melihat suatu penyelesaian dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Menurut Sukmadinata (2003, h. 157), siswa yang dapat melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandangan, atau menguraikan sesuatu masalah
atas beberapa kemungkinan pemecahan jawaban merupakan siswa yang memiliki pola pikir divergen. Guilford (dalam Munandar, 1999, h. 122) menyebutkan, pola piker divergen merupakan salah satu indikator dari kreativitas. Merangsang siswa untuk melihat suatu permasalahan dari bermacam-macam sudut pandang sehingga siswa dapat memberikan
alternatif-alternatif penyelesaian akan menumbuhkan fleksibilitas pemikiran yang merupakan salah satu aspek utama dari kreativitas (Munandar, 1999, h. 122).
Dalam metode pembelajaran dan pengajaran kontekstual para siswa diajak untuk berpikir kritis dan kreatif. Menurut Sizer (dalam Jhonson, 2009, h. 181-182), sekolah artinya belajar menggunakan pikiran dengan baik, berpikir kreatif menghadapi persoalan-persoalan penting, serta menanamkan kebiasaan untuk berpikir. Sistem pembelajaran dan pengajaran kontekstual adalah tentang pencapaian intelektual yang berasal dari partisipasi aktif merasakan pengalaman-pengalaman yang bermakna, pengalaman yang memperkuat hubungan antara sel-sel otak yang sudah ada dan membentuk hubungan baru. Pembelajaran dan pengajaran kontekstual memberikan kesempatan untuk menggunakan keahlian berpikir dalam tingkatan yang lebih tinggi ini dalam dunia nyata. Berpikir kreatif dan kritis memungkinkan siswa untuk mempelajari masalah secara sistematis, menghadapi berjuta tantangan dengan cara yang terorganisasi, merumuskan pertanyaan inovatif, dan merancang solusi orisinal. Hal ini sejalan dengan aspek-aspek yang terdapat dalam kreatifitas terutama aspek orisinalitas.
Dari uraian di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa prinsip- prinsip dan komponen yang terdapat dalam pembelajaran dan pengajaran kontekstual memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan aspek-aspek yang terdapat dalam kreatifitas
D. HIPOTESIS
Hipotesis dalam penelitian ini adalah metode pembelajaran dan pengajaran kontekstual dalam pelajaran IPA berpengaruh terhadap kreativitas siswa kelas V SD. Siswa yang mendapatkan metode pembelajaran dan pengajaran kontekstual memiliki kreativitas yang lebih tinggi daripada siswa yang tidak mendapatkan metode pembelajaran dan pengajaran kontekstual. Dengan kata lain, terjadi peningkatan kreativitas pada siswa yang mendapatkan metode pembelajaran dan pengajaran kontekstual.
DAFTAR PUSTAKA
Akbar. R., Hawadi, Wiharjdo, Wiyono. 2001. Kreativitas. Jakarta: Gramedia Freeman. J., Munandar. U. 2001. Cerdas dan Cemerlang. Jakarta: Gramedia
Hurlock, Elizabeth B. 1992. Perkembangan Anak: Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Johnson, Elaine B. 2002. Contextual Teaching and Learning : Menjadikan Kegiatan Belajar-Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna. Bandung:
Mizan Learning Center (MLC).
Mihalyi, C. 1996. Creativity: Flow and the Psychology of Discovery and Invention. New York: HarperCollinPublihers
Munandar, Utami. 1983. Kreativitas sebagai Aktualisasi Diri: Sebuah Tinjauan Psikologis. Jakarta: Dian Rakyat.
______________. 1999. Kreativitas dan Keberbakatan: Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan Bakat. Jakarta: Gramedia
______________. 2004. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat . Jakarta: PT Rineka Cipta.
Petty, Geoffrey. 2002. How to be Better at Creativity: Memaksimalkan Potensi Kreatif . Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Pendidikan . Jakarta: Kencana
West, M. 2000. Developing Creativity in Organizations: Mengembangkan Kreativitas dalam Organisasi. Yogyakarta: Kanisius