• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBELAJARAN IPA TERPADU MELALUI METODE DIALOGIS

Dalam dokumen RESPON SISWA KELAS X A SMAN 1 UPAU DENGA (Halaman 75-78)

Iswan Setiadi1

ABSTRAK

Banyaknya metode pembelajaran yang sifatnya lebih teknis dibandingkan model pembelajaran semakin memudahkan guru dalam pembelajaran. Salah satunya adalah metode dialogis dalam pembelajaran di kelas yang menyesuaikan antara penerapan kurikulum 2013 dengan kebutuhan gaya siswa dalam belajar. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang bukan mengedepankan guru sebagai figur sentral dalam pembelajaran (komunikasi satu arah), namun juga mengambil peran aktif dari siswa untuk diajak dialog bersama membahas materi pembelajaran IPA yang bisa bersumber dari lingkungan sekitar. Pembelajaran yang biasanya hanya memindahkan konsep-konsep atau pengetahuan dari guru ke siswa (transfer of knowledge) juga harus diubah dengan menambahkan nilai-nilai luhur di dalamnya (transfer of value). Konstruksi alam pikirnya akan seimbang dengan nilai luhur dalam dirinya ketika hal ini diterapkan dalam pembelajaran secara dini melalui metode dialogis yang merupakan satu dari sekian banyak contoh komunikasi sosial. Kedepannya peran IPA terhadap siswa yaitu untuk menyiapkannya dalam menghadapi perkembangan globalisasi yang sangat cepat.

Kata Kunci: Metode Dialogis, Pembelajaran IPA

PENDAHULUAN

Rendahnya kualitas mutu pendidikan di Indonesia bukan lagi menjadi rahasia umum, tak terkecuali dalam bidang sains/IPA. Hal ini bisa dilihat dari berbagai data survei maupun penelitian seperti laporan hasil PISA 2012 dituliskan bahwa rata-rata nilai sains siswa Indonesia adalah 382, dimana Indonesia menempati peringkat 64 dari 65 negara peserta atau dengan kata lain menempati peringkat kedua terbawah dari seluruh negara peserta PISA (OECD, 2013; Kurnia, 2014). Berdasarkan data tersebut, rata-rata siswa Indonesia hanya mampu mengenali sejumlah fakta dasar tetapi belum mampu mengkomunikasikan dan mengaitkan berbagai topik sains, apalagi menerapkan konsep-konsep yang kompleks dan abstrak.

Kesulitan siswa dalam pembelajaran IPA perlu dicermati. Dalam prakteknya pembelajaran IPA saat ini masih dianggap pelajaran hafalan yang membosankan karena terkait dengan karekteristik IPA yaitu objeknya yang abstrak, konsep dan prinsipnya berjenjang serta prosedur pengerjaannya yang banyak memanipulasi gambar membuat siswa seringkali mengalami kesulitan. Hal ini menggambarkan bagaimana siswa harus memahami teoritis dan konsep yang sangat banyak namun susah dalam memahami proses terjadinya atau penemuan konsep tersebut.

1 Program Studi Magister Pendidikan IPA Universitas Lambung Mangkurat ([email protected])

Permasalahan ini diperparah dengan sistem pembelajaran di kelas-kelas yang kebanyakan masih berupa pembelajaran berpusat kepada guru sehingga siswa mengalami kebuntuan dalam memahami materi dan konsep yang diajarkan serta akan cepat mengalami kebosanan dalam belajar. Guru ditempatkan sebagai pemegang kuasa penuh dalam pembelajaran di kelas yang dengan otoriternya menetapkan batas-batas pengetahuan yang harus dikuasai siswa. Ilmu pengetahuan tidak akan berkembang dengan praktek-praktek seperti ini. Kondisi ini akan memperlambat evaluasi pengetahuan yang siswa terima. Jika dibiarkan berlarut-larut akan menyebabkan pada rendahnya pemahaman siswa pada materi dan minat belajarnya. Perlu adanya inovasi pembelajaran yang mampu mengakomodir kebutuhan siswa dalam belajar sekaligus mampu memotivasinya. Salah satunya adalah penerapan metode pembelajaran yang bersifat praktis dan nyata dipraktekkan contohnya metode dialogis. hal ini akan memunculkan pertanyaan, bagaimana implementasi metode dialogis dalam mengatasi permasalahan tersebut.

PEMBAHASAN

Implementasi Metode Dialogis dalam Pembelajaran IPA

Metode merupakan suatu prosedur pembelajaran yang berbentuk kegiatan nyata dan praktis dalam mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan dialog sebuah literatur dan teatrikal yang terdiri dari percakapan secara lisan atau tertulis antara dua orang atau lebih. Penggunaan dialog sudah lama dipraktekkan dalam pembelajaran, namun hal ini sering tidak kita sadari bagaimana poin penting dari dialog itu sendiri membangun pengetahuan siswa dalam belajar. Menurut Freire (1987) dialog adalah suatu proses dimana seseorang membangun kembali pengetahuan serta cara kita belajar. Metode dialog dianggap mampu mengurangi dominasi figur sentral guru dalam belajar dan menolak pengasingan murid dalam kepasifannya ketika belajar.

Pembelajaran seperti ini dapat ditelusuri ke tradisi metode pengajaran Socrates; guru sebagai fasilitator dalam pencarian siswa untuk membangun pengetahuan mereka, guru menggunakan dialog untuk mendukung, meningkatkan partisipasi, dan untuk mengalihkan kekuasaan dari dirinya/dirinya untuk siswa (Fisher, 2003). Selain itu, pembelajaran yang biasanya hanya memindahkan konsep-konsep atau pengetahuan dari guru ke siswa (transfer of knowledge) juga harus diubah dengan menambahkan nilai-nilai luhur di dalamnya (transfer of value). Dalam proses dialog terdapat nilai-nilai luhur yang dapat dijelaskan kepada siswa bahwa proses belajar adalah suatu proses berbagi (share) ilmu pengetahuan. Peralihan orientasi gaya belajar ini akan meningkatkan keterlibatan aktif siswa dan nantinya membangun rasa ingin tahunya terhadap sesuatu. Keterlibatan aktif merupakan aktivitas nyata dalam mengeksplor pengetahuan yang belum ia ketahui, namun diyakini memiliki kemampuan dalam melakukan penelaahan terhadap pengetahuan tersebut. Berangkat dari sini pulalah nantinya pemikiran akan berpikir kritis yang merupakan bagian dari berpikir tingkat tinggi muncul (High Order Thingking Skill). Konstruksi alam pikirnya akan seimbang dengan nilai luhur dalam dirinya ketika hal ini diterapkan dalam pembelajaran secara dini melalui metode dialogis yang merupakan satu dari sekian banyak contoh komunikasi sosial dan membangkitkan kemampuan mengkritisi informasi yang dimilikinya, apa kaitannya dan menjadikannya kritis tersebut menjadi sebuah terobosan atau solusi terhadap suatu masalah.

Metode dialogis dalam mencapai tujuan pembelajaran menempatkan ilmu pengetahuan sebagai objek, dan guru-siswa sebagai subjeknya. Dengan kata lain dalam prosesnya nanti, ilmu pengetahuan akan semakin berkembang sejalan dengan proses penemuan dan eksplorasi. Dalam pelaksanaannya, perlu keterbukaan antar masing-masing

individu ketika berdialog agar nantinya terjadi reaksi “take and give”. Salah satu pihak

memberi pernyataan atau apa yang diungkapkan, dan pihak lainnya menangkap atau menyerap pernyataan yang oleh pasangan dialognya. Dialog merupakan suatu bentuk interaksi tukar pikiran atau opini dari masing-masing individu dan mengasimilasinya dengan

pemahaman yang dipunyainya. Ketika ada sesuatu yang salah, diharapkan terjadi koreksi dengan guru sebagai fasilitator yang akan membantu memutuskan keabsahannnya.

Kaitannya dengan pembelajaran IPA dengan segala karakteristiknya, dialog dianggap mampu untuk menjembatani kesulitan siswa. Kondisi pembelajaran dialog harus dibuat seharmonis mungkin agar siswa dapat berpikir secara efektif, jernih, dan objektif sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Tentu untuk menciptakan ini semua membutuhkan partisipasi semua warga belajar, sehingga kedepannya akan terbentuk kesadaran sendiri. Selain itu, untuk menunjang proses berpikir siswa mengeksplor materi pembelajaran IPA bisa menggunakan sumber belajar dari lingkungan sekitar. Wawasan yang sifatnya abstrak dan mikro akan lingkungan sekitar tentu jauh lebih bisa dimanfaatkan karena bersumber dari pengalaman sehari-harinya.

KESIMPULAN

Penerapan metode dialogis bisa diterapkan karena mudah dalam pelaksanaannya (praktis) dan kegiatan nyata keterlibatan aktif siswa dalam belajar. Proses belajar terjadi dalam suatu interaksi komunikasi yang mengoreksi kebenaran suatu ilmu pengetahuan berdasarkan opini-opini yang muncul dalam dialog tersebut. Penyampaian ilmu pengetahuan dalam dialog dibarengi dengan nilai-nilai di dalamnya sebagai bentuk interaksi sosial.

DAFTAR PUSTAKA

Fisher, R. 2003. Teaching Thinking (2nd Ed). London: Continuum.

Kurnia, Feni, Zulherman, dan Apit Fathurohman. 2014. Analisis Bahan Ajar Fisika SMA Kelas XI di Kecamatan Indralaya Utara Berdasarkan Kategori Literasi Sains. Jurnal Inovasi dan Pembelajaran Fisika Vol.1 No.1, pp. 43-47. diakses melalui ejournal.unsri.ac.id/index.php/jipf/article/download/1263 /419 pada 15 April 2016. OECD. 2013. PISA 2012 Assessment and Analytical Framework Mathematics, Raading,

Science, Problem Solving and Financial Literacy. http://www.oecd.org/pisa/pisa products/PISA%202012%20framework%20e-book_final.pdf diakses pada 27 Januari 2014.

Shor, Ira, dan Paulo Freire. 1987. What is The “Dialogical Method” of Teaching? Journal Of Eduaction. Vol. 19 No. 3.

Dalam dokumen RESPON SISWA KELAS X A SMAN 1 UPAU DENGA (Halaman 75-78)