NILAI AL-QUR’AN BERBANTUAN PAKET SCAFFOLDING UNTUK
SISWA MA/SMA–ISLAM
Nispi Hariyani1
ABSTRAK
Bahan ajar berperan penting untuk menunjang kesuksesan belajar siswa pada tiap aspek kompetensi, Akan tetapi, berdasarkan fakta diketahui bahwa bahan ajar fisika berbasis karakter nilai Al-Qur’an berbantuan paket scaffolding masih belum ada tersedia disekolah- sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan bahan ajar fluida dinamis berbasis karakter nilai Al-Qur’an berbantuan paket scaffolding untuk siswa MA/SMA-Islam, dengan tujuan khusus mendeskripsikan: (1) kevalidan, (2) kepraktisan, dan (3) keefektifan bahan ajar fluida dinamis berbasis karakter nilai Al-Qur’an berbantuan paket scaffolding yang dikembangkan. Penelitian ini berupa pengembangan yang mengikuti model Kemp. Data dianalisis dengan metode deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil analisis menunjukkan validitas bahan ajar 88% pada kategori valid tanpa revisi, persentase rata-rata keterlaksanaan RPP 92,1% pada kategori sangat praktis, hasil tes dari N-Gain rata-rata 0,745 pada kategori tinggi dan dari t-test diperoleh 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 > 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 yang menunjukkan hasil post-test dan pre-test
yang signifikan, skor rata-rata sikap berkarakter siswa 3,21 berkategori baik, skor rata-rata keterampilan proses siswa 3,23 berkategori baik, serta skor rata-rata hasil respon siswa pada bahan ajar 3,37 berkategori sangat baik. Diperoleh simpulan bahwa bahan ajar fluida dinamis berbasis karakter nilai Al-Qur’an berbantuan paket scaffolding yang dikembangkan dalam kategori layak untuk digunakan.
Kata Kunci : Bahan Ajar, Fluida Dinamis, Karakter, Model Kemp, Nilai Al-Qur’an,
Scaffolding
PENDAHULUAN
Kurikulum 2013 dirancang untuk memperkuat kompetensi siswa dari sisi pengetahuan, keterampilan dan sikap secara utuh dalam rangka menghadapi tantangan masa depan. Sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang (UU) Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertangung jawab.
1 Program Studi Magister Keguruan IPA Universitas Lambung Mangkurat ([email protected])
Azis (2011: 170) menjelaskan bahwa tujuan pendidikan berdasarkan UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 tersebut dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu sasaran pendidikan hati yang meliputi iman, takwa, mandiri, demokratis, serta tanggung jawab, dan pendidikan otak yang meliputi berilmu, cakap, terampil, serta kreatif. Pendidikan hati akan membentuk karakter. Adapun pendidikan otak akan membentuk kecakapan. Dijelaskannya lagi, sasaran pendidikan hati ternyata memiliki beban kurikulum yang lebih berat dibandingkan untuk otak. Tetapi pada praktik pelaksanaannya sejauh ini aspek pendidikan otaklah yang mendapat porsi lebih besar, adapun porsi untuk pendidikan hati sepenuhnya diserahkan kepada pelajaran agama, itupun lebih banyak sekedar penyampaian pengetahuan saja, bukan penanaman nilai. Maka kurikulum 2013 pada pelaksanaannya menghendaki adanya integrasi pendidikan karakter pada setiap mata pelajaran yang diajarkan di sekolah.
Pendidikan karakter adalah suatu proses penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah khususnya siswa yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran, atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.
Konsep pendidikan karakter ini bersesuaian dengan visi sekolah berbasis Islam seperti Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) ataupun Sekolah Islam Terpadu untuk membentuk siswa seimbang dalam aspek dzikir maupun ikhtiar. Marzuki (2012) menyatakan bahwa makna karakter identik dengan akhlak. Baik dan buruk karakter seseorang sangat tergantung pada tata nilai yang menjadi pijakannya. Dalam perspektif Islam, karakter atau akhlak mulia merupakan buah yang dihasilkan dari proses penerapan syariah (ibadah dan muamalah) yang dilandasi dengan fondasi aqidah yang kokoh. Lebih lanjut dijelaskan olehnya bahwa karakter dalam perspektif Islam merupakan persoalan yang terkait dengan akal, ruh, hati, jiwa, realitas, dan tujuan yang digariskan oleh akhlaq qur’aniah melalui sumber al-Qur’an dan hadits.
Sejalan dengan hal di atas, Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Selatan dengan memperhatikan berbagai unsur kearifan lokal yang ada maka sejak tahun 2010 lalu telah memberlakukan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 tahun 2009 tentang Pendidikan Al-Qur’an di Kalimantan Selatan sebagai upaya Pemerintah Daerah dalam rangka mendorong terwujudnya generasi Islami yang beriman, cerdas, dan berakhlak mulia. Perda tersebut bertujuan agar setiap peserta didik selain dapat membaca dan menulis huruf-huruf Al-Qur’an secara baik dan benar juga fasih, memahami, menghayati serta mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an.
Menyambut upaya pemerintah untuk mengembangkan pendidikan karakter yang diintegrasikan ke dalam mata pelajaran. Hal ini tentunya juga menggerakkan guru-guru Fisika untuk turut berbenah menyiapkan pembelajaran Fisika berbasis karakter tersebut. Fisika yang pada kurikulum 2013 termasuk dalam mata pelajaran peminatan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi inti agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar
secara religius, berkarakter dan bersikap ilmiah. Siswa diarahkan untuk dapat “mencari tahu” dan “berbuat” untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang fenomena- fenomena atau gejala-gejala yang terjadi di alam sekitar melalui pengalaman proses dan pemahaman produk fisika, selain itu mereka juga diajarkan bagaimana menyikapinya sehingga dapat memperoleh pengalaman langsung yang lebih bermakna. Di sinilah nilai-nilai agama dan ketuhanan, akhlak mulia, sikap taat asas serta pengembangan kecerdasan dapat diintegrasikan dalam pembelajaran fisika.
Banyaknya konsep fisika yang harus disampaikan, kadang-kadang menuntut siswa untuk belajar secara mandiri. Hasil penelitian Prayugi (2013) menunjukkan bahwa pemberian tutorial tidak selamanya efektif karena keterbatasan waktu dan tutor/ guru, sehingga menurutnya perlu ada modul/ bahan ajar berbasis scaffolding yang dapat menuntun untuk belajar mandiri tanpa harus tatap muka. Scaffolding atau tuntunan yang terdapat dalam bahan ajar yang dikembangkannya tersebut, dinilai dapat membantu mengatasi kesulitan belajar
dalam hal penguasaan konsep fisika. Hasil penelitian Harydi (2013) menunjukkan pula pada perlunya dikembangkan materi ajar berbasis scaffolding sebagai pendukung kegiatan pembelajaran di kelas agar tidak berpusat hanya kepada guru.
Berangkat dari penjelasan di atas dan keprihatinan melihat realitas sosial yang pada praktiknya pendidikan di Indonesia masih jauh dari tujuan pendidikan nasional yang hendak mencapai kualitas manusia Indonesia yang tidak hanya memiliki kesadaran intelektual dan kemampuan keterampilan, tapi juga kesadaran berakhlak mulia sebagai cermin dari kualitas keimanan dan ketakwaan sebagai insan fi ahsani taqwim. Sejalan dengan itu guru fisika sebagai pelaksana pendidikan tentunya membutuhkan bahan ajar yang mendukung untuk tercapainya tujuan tersebut. Bahan ajar fisika yang digunakan tersebut hendaknya mengacu
pada perlunya keseimbangan antara karakter nilai Al Qur’an (yang menumbuhkan karakter
akhlak mulia) dengan tanpa mengesampingkan pada perlunya penguasaan dan pemahaman konsep fisika itu sendiri.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk mengangkat sebuah penelitian
dan pengembangan yang berjudul “Pengembangan Bahan Ajar Fluida Dinamis Berbasis
Karakter Nilai Al-Qur’an Berbantuan Paket Scaffolding untuk Siswa MA/SMA-Islam”. Peneliti berkeyakinan bahwa bahan ajar yang dikembangkan ini dapat memfasilitasi guru dalam menanamkan nilai-nilai karakter kepada siswa serta melalui paket scaffolding pada bahan ajar yang dikembangkan dapat membantu siswa memahami dan menguasai konsep fisika.
METODEPENELITIAN
Penelitian ini berupa penelitian pengembangan, yang bertujuan untuk mengetahui kelayakan bahan ajar fluida dinamis berbasis karakter nilai Al-Qur’an berbantuan paket
scaffolding untuk siswa MASMA-Islam. Metode pengembangan ini mengikuti model pengembangan Kemp, meliputi: identifikasi masalah pembelajaran, analisis siswa, analisis tugas, menentukan strategi pembelajaran, penyusunan instrumen evaluasi, pemilihan sumber pembelajaran, pelayanan pendukung, evaluasi formatif, revisi, dan evaluasi sumatif.
Subjek penelitian ini adalah 29 orang siswa kelas XI IPA MA Nurul Islam Kurau tahun ajaran 2013/2014. Mereka rata-rata berusia 17 tahun, 29 siswa tersebut terdiri atas 11 orang siswa laki-laki dan 18 orang siswa perempuan. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Februari sampai dengan Juni 2014.
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil
Hasil akhir bahan ajar yang dikembangkan ini dapat digunakan untuk mendukung proses kegiatan belajar mengajar yang sesuai dengan karakteristik siswa dan karakteristik materi fluida dinamis untuk siswa MA/SMA Islam kelas XI IPA. Bahan ajar yang dikembangkan menanamkan nilai-nilai karakter berbasis Al-Qur’an dan ditambahkan paket
scaffolding sebagai bantuan kepada siswa agar dapat belajar lebih mandiri.
Bahan ajar yang dikembangkan ini telah dirancang secara utuh dan sistematis agar tercapai tujuan kompetensi siswa yang telah dirumuskan. Bahan ajar yang dikembangkan ini berupa bahan ajar tertulis yang memiliki spesifikasi antara lain: (1) sampul depan, (2) menu bahan ajar, (3) daftar isi, (4) karakteristik kurikulum, Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), dan tujuan pembelajaran, (5) peta konsep materi dan kata kunci (6) pendahuluan, (7) kegiatan EUREKA, (8) kolom tips, trik, dan info, (9) kolom karakter ulil albab, (10) kolom lensa fisika, (11) contoh soal, (12) latihan penguasaan materi, (13) tokoh fisika, (14) kolom hikmah fisika, (15) ayo diskusi, (16) rangkuman, (17) glosarium, (18) apendiks, dan (19) uji kompetensi.
Nilai-nilai karakter ditanamkan oleh bahan ajar ini melalui kolom karakter ulil albab yang berisi ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang karakter-karakter yang harus dimiliki sebagai seorang siswa. Nilai-nilai karakter juga ditanamkan melalui uraian pendahuluan, kolom hikmah fisika dan lensa fisika yang mana uraian tersebut mengajak siswa mengenal dan memahami nilai karakter yang tersirat dalam ilmu fisika.
Hasil Validasi Bahan Ajar
Berdasarkan validasi bahan ajar yang dilakukan oleh 1 dosen ahli dan 1 guru fisika menggunakan lembar validasi, diperoleh data hasil validasi seperti yang disajikan dalam Tabel 1, data hasil simulasi bahan ajar disajikan pada Tabel 2, dan data hasil Keterlaksanaan/keterterapan bahan ajar yang dikembangkan disajikan pada Tabel 3.
Tabel 1. Hasil Validasi Bahan Ajar
No. Aspek penilaian Persentase
validitas Kategori 1 Aspek relevansi 95,00% Valid tanpa revisi 2 Aspek keakuratan 100,00% Valid tanpa revisi 3 Aspek Kelengkapan Sajian 100.00% Valid tanpa revisi 4 Aspek metode sajian 95,00% Valid tanpa revisi 5 Aspek kebahasaan 90,63% Valid tanpa revisi 6 Aspek kegrafisan 84,38% Valid dengan revisi kecil 7 Aspek pendukung 68,75% Valid dengan revisi besar Validitas keseluruhan 88,00% Valid tanpa revisi Reliabilitas 0,99 Derajat reliabilitas tinggi Tabel 2. Kritik dan saran perbaikan bahan ajar dari hasil simulasi
No. Nama Kritik dan saran
1 Risna Afrianti Letakkan kalimat “perhatian” agar terlihat jelas, isi kolom-kolom yang kosong, dan rapikan kalimat yang ada dalam kotak.
2 Muhammad Abdul Karim
Penulisan rumus terlihat kecil, beberapa penomoran salah (halaman 6), dan beri keterangan pada beberapa contoh yang dijawab dengan mengisi titik-titik.
3 Noormiati Z.
Kotak pada rumus terlalu pas huruf, penulisan paragrap rata kiri kanan, dan tambahkan biodata tentang penulis pada cover belakang agar tidak terlihat sepi.
4 Ita Purnama Sari
Pendahuluannya sangat padat, covernya dibuat agar lebih mencerminkan berbasis karakter nilai Al-Qur’an, dan font rumus kurang besar.
5 Qamariah Lebih baik lagi pakai daftar gambar, stabilo rumus pilih warna yang kontras, huruf-huruf pada glosarium lebih baik diperjelas lagi. 6 Aulia
Rahmawati
Pakai italic saat menulis kata berbahasa Inggris, perhatikan penulisan kata, dan font rumus terlalu kecil.
7 Ria Fitriany Masih ada ruang kosong, masih ada kata-kata yang salah dicetak, dan rumus tulisannya lebih diperbesar 8 Mila Sejahtera
Masih ada yang belum sesuai EYD, setelah titik (.) huruf besar, stabilo birunya gelap, rata kiri kanan, dan sama dengannya ada yang belum sejajar.
9 Hendrika Mei Riyandy
Warna untuk rumus pilih yang cerah, masih terdapat salah ketik, dan masih ada kata yang otomatis berubah ke bahasa Inggris. 10 Rifki Tio Arbi Seharusnya penyingkatan rumus itu digunakan untuk rumus
Hasil Uji Coba Kelas
Keterlaksanaan/Keterterapan Bahan Ajar yang Dikembangkan
Tabel 3. Hasil Pengamatan Keterlaksanaan RPP untuk 3 Kali Pertemuan
Tahap pembelajaran
Pertemuan I Pertemuan II Pertemuan III Rata-rata