A. Deskripsi Teoretik
3. Pembelajaran jarak jauh (Daring)
a. Pengertian pembelajaran jarak jauh (Daring)
Pembelajaran daring ialah pembelajaran yang dilakukan dengan jarak jauh dengan bantuan internet. Dalam pembelajaran daring dibutuhkan sarana dan prasarana, seorang guru juga harus mampu menyesuaiakan dengan keadaan siswa.
Pembelajaran daring merupakan sistem pembelajaran yang dilakuakn dengan tidak berattap muka langsung tetapi menggunaka platform yang dapat membantu proses belajar mengajar yang dilakuakan meskipun jarak jauh.39
38 Desmita. Op.cit.,h.107-108
39 Oktafia Ika Handarini, “Pembelajaran daring sebagai upaya study from home (SFH) selama pandemic covid 19 ”Jurnal Pendidikan Administrasi Perkantoran (JPAP), Vol 8 No. 3, 2020 h.497-500
b. Rencana pelaksanan pembelajaran (RPP) dalam pembelajaran daring
1) Pengertian RPP
Secara umum rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) merupakan salah satu bagian dari administrasi pembelajaran yang harus dipersiapkan oleh guru. Persiapaan ini dilakukan oleh seorang guru sebelum memberikan pengejaran/pelatihan kepada peserta didik di dalam kelas. Secara khusus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) merupakan kandungan rencana kegiatan pembelajarab nyata yang dilakukan oleh guru di dalam suatu kelas ataupun di ruangan praktek (workshop).
Rencana pelaksanaan pembelajaran bisa diartikan sebagai rambu-rambu yang harus diikuti oleh guru dalam proses pembelajaran dan penilaian pembelajaran.
Berdasarkan pohan menjelaskan bahwa rencana pelaksanaan pembelajaran merupakan kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan ataulebih dilaksanakan di kelas teori, kelas praktek dan dunia kerja. Renacana pelaksanaan pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai kompetensi dasar (KD) dan indikator pencapaian kompetensi (IPK) secara terukur (measurable) dan unggul (reliable).
Dengan demikian target dan tujuan pembelajaran dapat dipahami lebih jelas secara programatik oleh tenaga pengajar.
Keharusan membuat dan mempersiapkan rencana pelkasaan pembelajaran (RPP) sudah tertuang secara yuridis. Hal ini tercantum dalam undang-undang pendidikan nomor 20 tahun 20003 tentang sisitem pendidikan nasional pasal 39 ayat 1 dan 2 dinyatakan bahwa :
a) Tenaga pendidik bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembanhan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan.
b) Pendidikan merupakan tenaga profesioanal yang bertugas melaksanakan proses pembelajaran, menilai pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta penilaian dan pengabdian pada masyarakat terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.
Pada ayat 1 di atas dinyatakan bahwa guru harus melaksanakan administrasi pembelajaran. Artinya adalah seorang guru harus merencanakan pembelajaran secra administrative, menyelenggarakan pembelajaran secara metodik, dan melakukan penilaian (evaluation) secara objektif dan terukur (measurable). Administrasi yang dimaksud seperti membuat perincian minggu efektif berdasarkan kalender pendidikan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah.
Membuat secra terstuktur program tahunan, program semesteran, menetapkan kriteria ketuntasan minimal (KKM), mengembangkan silabus berdasarkan kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD), mengembangkan rencana proses pemebelajaran (RPP) berdasarkan silabus, mengembangkan materi pembelajaran, dan mengembangkan instrument penilaian hasil belajar siswa secara taksonom.
2) Komponen Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
Komponen RPP terdiri dari beberapa komponen yang tidak bisa dipisahkan yang satu dengan yang lain. Komponen RPP dalam pembelajaran langsung tatap muka dengan RPP Pembelajaran dalam daring pada dasarnya tidak berbeda.
Perbedaannya terdapat terdapat pada konsep kegiatan yang
dirancang dalam kegiatan proses belajar atau pada kegiatan inti.
Adapun Komponen RPP sebagai berikut:
a) Identitas mata pelajaran
Pada komponen ini, penyusun harus menuliskan nama sekolah dengan baik dan benar. Tidak diperkenankan menulis nama dengan singkatan yang tidak lajim.
Menuliskan nama pelajaran, menuliskan kelas dan semester baik ganjil maupun semester genap. Dan menuliskan alokasi waktu sesuai dengan perhitungan yang terdapat dari program tahuanan dan program semester.
b) Kompetensi Inti
Kompetensi inti diambil dari permendikbud nomor 21 tahun 2016tentantang standard isi. Pada mata pelajaran normative, kompetensi inti di maksudkan dalam RPP adalah KI 3 (Kompetensi Inti Pengetahuan) dan KI 4 (kompetensi Inti keterampilan).
c) Kompetensi Dasar
Kompetensi dasar diambil dari permendikbud nomor 37 Tahun 2018 tentang kompetensi dasar Mata Pelajaran.
Kompetensi dasar ini terdiri dari KD pengetahuan dan KD Keterampilan.
d) Indikator Pencapain Kompetensi
Pada komponen ini, penyusun harus merumuskan indikator yang mencakup kompetensi pengetahuan, keterampilan dan sikap sesuai dengan KD. Menggunakan Kata kerja operasional relevan dengan KD yang dikembangkan. Dan merumuskan indikator yang cukup sebagai penanda ketercapaian KD.
e) Nilai karakter
Penyusun harus merumuskan nilai karakter yang harsu dimunculkan dalam proses pembelajaran dan karakter yang
harus diukur sesuai dengan materi pembelajaran yang relevan. Butir karakter yang dituliskan adalah butir karakter operasional.
f) Tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran adalah sesuatu yang harus dicapai siswa setelah mengikuti pembelajaran. Tujuan pembelajaran harus dirumuskan satu atau lebih setiap indikator pencapaian kompetensi. Tujuan pembelajaran harus mengandung unsur audience (A), behaviour (B), condition (C), dan degree (D).
g) Materi pembelajaran
Materi pembelajaran harus sesuai dengan KD yang dapat mendorong ketercapaian indicator pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran. Materi Pembelajaran dikembangkan sesuai dengan ketersediaan waktu pembelajaran, efesien dan menarik serta variatif. Materi pembelajaran disajikan dengan kedalam materi yang baik.
h) Metode pembelajaran
Metode pembelajaran yang dipilih yang harus sesuai dengan karakter peserta didik dan materi pembelajaran dalam ranah pendekatan ilmiah. Berdasarkan permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 tentang standard proses merekomendasikan model pembelajaran discovery learning, problem-based learning, dan project-based learning untuk diterapkan dalam pembelajaran. Penyusun boleh menggunakan satu atau lebih metode pembelajaran dalam proses pembelajaran. Metode pembelajaran mestinya memfasilitasi peserta didik untuk mencapai indicator-indikator KD serta kecakapan abad 21.
i) Media dan bahan ajar
Penyusun harus memilih media belajar dimana siswa mampu mengikuti proses pembelajaran dengan bantuan
media yang digunakan. Manfaatkan media untuk mewujudkan pendekatan saintifik. Memilih media untuk menyampaikan pesan yang menarik, variative, dan sesuai dengan indicator pencapaian kompetensi. Dalam pembelejaran daring, penyusun memilih berbagai platform pembelajaran seperti e-learning, edmodo, google, classroom, video converence, zoom dan lain sebagainya.
j) Sumber belajar
Sumber belajar yang dapat digunakan adalah sumber belar yang familiar dengan siswa. Seperti memanfaatkan alam atau lingkungan sosial. Menggunakan buku teks pelajaran dari pemerintah. Merujuk materi-materiyang diperoleh melalui perpustakaan dan web tertentu.
k) Penilaian
Pada komponen ini, penyusun harus mencantumkan teknik, bentuk, dan contoh instrument penilaian pada ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan indicator. Menyusun sample butir instrument penilaian sesuai kaidah pengembangan instrument. Dan penyusun juga harus mengembangkan pedoman penskoran (rubric) sesuai dengan instrument.
l) Pembelajaran remedial
Pada komponen ini, penyusun harus merumuskan pemebelajaran remedial yang sesuai dengan karakteristik peserta didik, alokasi waktu, sarana dan media pembelajaran.
Menuliskan salah satu atau lebih aktivitas kegiatan pembelajaran remedial. Seperti pembelajaran ulang, bimbingan perorangan, belajar kelompok, dan tutor sebaya.
m) Pembelajaran pengayaan
Pengayaan dilakukan dengan merumuskan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik, alokasi waktu, sarana, dan tingkat kognitif siswa.
n) Lember verfikasi
Pada komponen ini, penyusun menuliskan tanggal pengesahan RPP yang dibuat. Kepala sekolah memeriksa kebenaran perangkat yang dibuat agar dapat digunakan dalam proses pembelajaran.40
c. Jenis media dan bahan ajar pembelajaran daring 1) Jenis media pembelajaran daring
Menurut bates pemilihan jenis media harus memperhatikan unsur-unsur ACTIONS, yaitu:
a) Access atau aksesibilitas merupakan aspek mudah tidaknya media tersebut dijangkau oleh pembelajar.
b) Costs adalah biaya yang dibutuhkan untuk memberikan pelayanan dan juga memanfaatkan pelayanan tersebut baiaya media tersebut harus dapat dijangkau oleh isntitusi dan oleh pembelajar yang akan memanfaatkan.
c) Teaching adalah kemampuan media yang bersangkutan dalam memfasilitasi komunikasi dan penyampaian materi ajar, kemampuan media tersebut untuk memfasilitasi komunikasi dua arah.
d) Interactivity & friendliness, yaitu kemudahan bagi pembelajar untuk menggunkan media yang bersangkutan.
Media yang digunakan harus mudah dioperasikan. komputer saat ini merupakan media yang membutuhkan keahlian tertinggi untuk dioperasikan dibandingkan dengan media
40 Albert Efendi Pohan, Konsep pemebelajaran daring berbasis pendekatan ilmiah, (Jawa Tengah: CV Sarnu untung, 2020) h.173-180
lain. Kemudahan ini juga berkonotasi pada kontrol yang dipunyai oleh pembelajar dalam mempelajari materi ajar.
e) Organizational issues mengacu pada tuntutan media tersebut terhadap perubahan organisasi yang harus dilakukan.
f) Kemutakhiran (novely) dan sustainability dari media tersebut. Hal yang harus diperhatikan disini adalah seberapa lama teknologi media tersebut akan bertahan dan cara perawatannya.
g) Speed merujuk pada kemampuan media tersebut dalam memfasilitasi perubahan subtansi materi ajar yang akan dikomunikasikan.
2) Jenis bahan ajar pembelajaran daring
Terdapat dua kategori bahan ajar dalam pembelajran online diliihat dari proses pengembangnnya:
a) Bahan ajar utuh
Bahan ajar yang harus dikembangkan dalam pembelajaran online atau daring sebgaai berikut:
(1) Memberikan keleluasaan bagi pembecanya untuk bagi pembacanya untuk menentukan strategi dan kecepatan belajar yang diinginkannya dengan cara dikemas secara moduler berdasarkan materi pokok secara utuh.
(2) Memuat contoh-contoh serta studi-studi kasusu yang disadarkan pada kenyataan dilapangan untuk bidang-bidang yang relevan dengan materi ajar yang disajikan.
(3) Harus bersifat self contained (mengandung seluruh materi ajar secara lengkap).
(4) Harus self-instructional (sisitematis dan jelas) sehingga dapat dipelajari secara mandiri dengan kecepatan yang paling sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing.
(5) Karena di tuntut untuk menjadi bahan yang self-instructiona, bahan ajar juga perlu ditulis dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, serta bergaya percakapan.
b) Bahan ajar kompilasi
Bahan ajar kompilasi merupakan bahan ajar yang materinya tidak disusun secra khusus secara mandiri seperti bahan ajar utuh. Bahan ajar kompilasi, sesuai dengan namanya, disusun dengan menggabungkan berbagai bahan dari sumber-sumber yang berbeda sehingga membentuk satu paket bahan ajar lebngkap sesuai dengan kebutuhan kurikulum.
Bahan ajar komplikasi juga dapat terdiri dari satu jenis media ataupun multi media. Bahan-bahan ajar terbuka yang dapat dikomplikasi dapat dicari dari berbagai sumber belajar digital ataupun online yang tersedia di internet.41
Selain bahan jara utuh dan bahan ajar kompilasi terdapat pula prosedur pengembangan bahan ajar daring yaitu:
a) Analisis kurikulum mata pelajaran
Pada tahap ini, pendidik melakukan analisis terhadap pokok bahasan atau materi tiap pertemuan yang akan diproduksi dalam bentuk bahan ajar daring.
b) Merumuskan treatment
Tahapan kedua ini, ditujukan guna mendapatkan bagian-bagian yang sulit untuk dijelaskan secara parsial atau memang menuntut penyajian dalam bentuk gambar, audio,video, teks,uraian,animasi,atau memang penampilan
41 Tian Belawati, Pembelajaran Online, (Pamulang : Universitas terbuka, 2019) h.85-94
virtual guru yang harus memperkuatpenyajian dilayar computer atau handphone.
c) Merumuskan synopsis
Rumusan synopsis ini lebih cenderung dalam bentuk rangkuman materi, inti-inti yang akan disajikan dalam bentuk daring. Dengan demikian, jika ada 14 pertemuan pembelajaran daring, maka jumlah synopsis ada 14 juga.
d) Mengembangkan storyboard/line
Tahap ini mememberikan acuan bagaimana peserta didik akan belajar dengan menggunakan platform pembelajaran daring untuk tiap pertemuan, ketika mereka mempelajari materi yang disajikan oleh pendidik saat itu.
e) Produksi stock shoot Dbase Short File
Tahapan ini memmang snagat mudah, namun sulit juga ketika emmang bahan-bahan tidak tersedia dengan lengkap, kadang kita harus mencari surfing, browsing, dan bahkan hunting, untuk membuat sendiri sajian-sajian visual, animasi, foto-foto yang secara naturalmemmang dibutuhkan.
f) Mempelajari atau menyiapkan aplikasi pengembangan (Multi-Sytem)
Jika pendidik mampu menguasi inila empat aplikasi, seperti PPT, Desain Grafis,Authoring, dan editing video, maka produksi bahan ajar daring ini akan lebih cepat dan berkaulitas. Demikian pula sebaliknya, jika para pendidik kurang mengausai sejumlah aplikasi yang dimaksud, maka pengembangan bahan ajar akan sulit, khususnya jika dilihat dari kualitasnya.
g) Melakukan proses produksi
Proses produksi dilakukan secara kolaboratif anatara embina mata kuliah atau guru mata pelajaran dengan dosen
atau guru, laboran, programmer, pakar kurikulum, media spesialis, atau pakar media dan juga melibatkan peserta didik.
h) Uji coba produksi bahan ajar
Proses uji coba produk bahan ajar daring yang diproduksi secara teamwork sangat dibutuhkan untuk segera digunakan, namun untuk menjaga kualitas dan kemudahan penggunaannya, khususnya untuk memenuhi indicator dari kualitas bahan ajar daring, maka wajib dilakukan produksi uji coba.
i) Revisi produk bahan ajar
Bahan ajar daring memerlukan uji coba untuk memperoleh masukan dari para calon pengguna. Hasilnya akan menjadi bahan untuk evaluasi bagi para pengembang, kemudian akan direvisi kembali dan hasilnya diuji cobakan lagi. Dalam rangkaian uji coba dan revisi, terus dikembangkan lagi merupakan syarat mutlak dalam produksi bahan ajar digital online saat ini. Untuk melakukan proses bahan revisi bahan ajar daring ini biasanya wajib dilakuakn oleh para expert dalam bidang teknologi pendidikan, bidang media pembelajaran, dan bidang materi pembelajarn.
j) Filling dan pemetaan penggunaan
Sejumlah produk bahan ajar daring akan dikelola oleh init pelaksana khusus penyelenggaraan atau pelayanan pembelajaran, sebgaimana hal ini akan dilakukan dalam hal pemetaan materi produk. Upaya ini sangat penting agar setiap pendidik yang memerlukan bahan ajar daring mengakses untuk dijadikan bahan ajar utama, atau mereka dijadikan sebgai bahan acuan dalam produksi bahan ajar oleh dirinya sendiri ketika mereka berbeda pengampunya.
k) Evaluasi hasil pemanfaatan
Proses pembelajaran daring, tentunya akan banyak tantangan dalam proses melakukan evaluasi, baik penilaian proses pembelajaran (monitoring pembelajaran), kendala yang berhubungan dengan waktu pelaksanaan evaluasi, serta waktu saat para pendidik akan mengembangakan bahan-bahan pembelajaran daring lainnya.42
d. Penilaian hasil belajar pembelajaran daring 1) Analisis penilaian
a) Pengertian penilaian
Secara umum proses pemeblajaran terdiri dari 3 tahapan, yaitu tahapan persiapan, pengajaran, dan evaluasi. Ketiga proses tersebut harus dilewati dengan sebaik mungkin guna menghasilkan pembelajaran yang bermutu dan terukur tingkat kemajuan dan ketuntasannya.
Penilaian merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik dalam ranah sikap, ranah pengetahuan, dan ranah keterampilan yang dilakukan secara terencana dan sistematis, selama dan setelah proses pembelajaran suatu kompetensi muatan pembelajaran untuk kurun waktu tertentu.
b) Konsep penilaian
Penilaian hasil belajar dilakukan oleh pendidik satuan pendidikan dan pemerintah. Penilaian hasil belajar oleh pendidik adalah proses pengumpulan informasi atau bukti tentang capaian pembelajaran peserta didik dalam ranah sikap spiritual dan sikap sosial, ranah pengetahuan, dan
42Deni Darmawan dan Toto Ruhimat, pembelajaran jarak jauh pendeketan & implementasi VCDLN Teknologi Televisi dan E-Learning Blended, (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2021) h.82-91
ranah keterampilan yang dilakukan secara terencana dan sistematis, selama dan setelah proses pembelajaran.
Ulangan adalah proses yangdilakukan oleh pendidik untuk memantau kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkelanjutan. Ujian sekolah atau madrasah adalah kegiatan yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai pengakuan prestasi belajar dan penyelesaian dari suatu satuan pendidikan.
Teknik penilaian yang digunakan meliputi observasi, tes tertulis, tes lisan, penugasan, kinerja, proyek, dan portofolio.
Prinsip penilaian hasil belajar adalah sahih, obyektif, adil, terpadu, terbuka, menyeluruh, dan berkesinambungan, sistematis, berancuan kriteria, akuntabel dan andal.
Penilaian autentik adalah suatu proses pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa, dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian, pelaksanaan berkelanjutan, bukti-bukti autentik, akurat, dan konsisten sebagai akuntabilitas publik.
Penilaian kinerja merupakan penilaian yang dilakuakn secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input), proses, dan keluaran (output) pembelajaran.
Penilaian berbasisi portofolio merupakan penilai yang dilaksanakan untuk menilai keseluruhan indetitas proses belajar peserta didik termasuk penugasan perseorangan dan kelompok di dalam atau di luar kelas khususnya sikap dan keterampilan.
Penilaian berbasis HOTS adalah penilaian yang bertujuan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan berpikir kretaif yang merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Mengukur ketuntatsan penilaian didasari oleh kriteria ketuntasan minimal yang selanjutnya disebut KKM. Kriteria ketuntasan minimal adalah kriteria ketuntasan belajar untuk mata pelajaran muatan umum ditentukan oleh satuan pendidikan dan mata pelajaran muatan kejuruan ditentukan oleh satuan pendidikan bersama dengan DUDI atau lembaga terkait.
c) Deskripsi penilaian
Penilaian hasil belajar oleh pendidik untuk raah pengetahuan dan ramah keterampilan menggunakan skla penilaian 0-100, sedangkan skala penilaian untuk ranah sikap menggunakan rentang predikat sangat baik (SB),Baik (B), dan kurang (K). penilaian ranah sikap spiritual dan sikap sosial dilakuakn oelh wali kelas, guru BK, guru pendidikan agama dan budi pekerti serta guru guru PPKn. Sedangkan penilaian sikap spiritual dan sosial oleh guru mata pelajaran lainnya, merupakank bahan masukan bagi wali kelas untuk menentukn deskripsi akhir.
2) Fungsi penilaian
a) Pendekatan penilaian
Terdapat tiga pendekatan dalam penilaian dalam proses pembelajaran adalah:
(1) Penilaian akhir pembelajaran (assessment of learning) Penilaian ini merupakan penilaian yang dilaksanakan setelah proses pembelajaran selesai. Setiap pendidikan melakukan penilaian yang dimaksudkan untuk membrikan pengakuan terhadap pencapain hasil belajar setelah proses pembelajaran selesai, yang berarti pendidik tersebut melakukan assessment of learning.
(2) Penilaian untuk pembelajaran (assessment for learning)
Penilaian ini dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dan biasanya digunakan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan proses belajar mengajar.
(3) Penilaian sebagai pembelajaran (assessment as learning) Penilaian ini mempunyai fungsi yang mirip dengan assessment as learning, yaitu berfungsi sebagai formatif dan dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung.
b) Fungsi penilaian (1) Fungsi untuk kelas
(a) Mengadakan diagnosis terhadap kesulitan belajar.
(b) Mengevaluasi celah antara bakat dengan pencapaian.
(c) Menaikkan tingkat presetasi.
(2) Fungsi untuk bimbingan
(a) Menentukan arah pembicaraan dengan orang tua tentang anak-anak mereka.
(b) Membantu siswa dalam menentukan pilihan
(c) Membantu sisiwa mencapai tujuan pendidikan dan jurusan.
(3) Fungsi untuk administasi
(a) Memebrikan petunjuk dalam pengelompokan siswa.
(b) Penempatan siswa baru.
(c) Membantu siswa memilih kelompok.
(d) Menilai kurikulum 3) Langkah-langkah penyusunan tes
Urutan langkah-langkah yang dilakuakn dalm penyusunan tes adalah :
a) Menentukan tujuan mengadakan tes.
b) Mengadakan pembetasan terhadap bahan yang akan dijadikan tes.
c) Merumuskan tujuan instruksional khusus dari tiap bagaian bahan.
d) Menyusun table speksifikasi yang memuat pokok materi, aspek berfikir yang diukur beserta imbangan anatara kedua hal tersebut.
e) Menuliskan butir-butir soal,didasarkan atas indicator-indikatir yang sudah dituliskan.
f) Menderetkan semua indicator dalam table persiapan yang memuat pula aspek-aspek terkandung dalam indikator itu.
4) Jenis-jenis penilaian
a) Penilaian sikap (attitude)
Penilaian ranah sikap bertujuan membnetuk sikap dan karakter peserta didik (attitude) terkait dengan perngembangan karakter bangsa dan kearifan lokal, yang dilaksanakan selama kegiatan proses pembelajaran berlangsung di dalam kelas. Penilaian ranah sikap dilakukan melalui observasi yang dicatat dalam buku jurnal, mencakup catatan anekdot (anecdotal record), catatan kejadian tertentu (incidental record) dan informasi lain yang valid dan relevan.
b) Penilaian pengetahuan (knowledge)
Penilaian pengetahuan dilakauakn untuk mengetahui pencapaian ketuntasan belajar sisiwa dan mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan proses pembelajaran yang dilakukan.penilaian ranah pengetahuan dilakukan mellui berbagai teknik anatara lain tes tertulis (pilihan ganda beralasan,isian),tes lisan, penugasan dan portofolio.
c) Penilaian keterampilan (competences)
Penilaian keterampilan meliputi keterampilan abstrak dan keterampilan konkret,keterampilan abstrak cenderung pada keterampilan seperti mengamati, menanya, mengolah,
menalar, dan mengomunikasikan yang lebih dominan pada kemampuan mental (berpikir).
Sedangkan untuk keterampilan kongkret cenderung pada kemampuan fisik seperti menggunakan alat, mencoba, membuat, memodifikasi, dan mencipta dengan bantuan alat.
Teknik penilaian keterampilan dilakukan mellaui kinerja, pruduk, proyek, dan portofolio.
5) Pengembangan soal HOTS
a) Pengertian berpikir tingkat tinggi
Secara sederhana, berpikir tingkat tinggi dapat dikatakan sebagai proses berpikir rasional. Menurut dewey berpikir merupakan aktivitas psikologis ketika terjadi keraguan.
Menurut wiwik mengatakan bahwa keterampilan berpikir tingkat tinggi adalah keterampilan berpikir logis, kritis, kreatif, dan problem solving secara mandiri. Berpikir logis adalah kemampuan bernalar yaitu berpikir yang dapat diterima oleh akal sehat karena memenuhi kaidah berpikir ilmiah. Berpikir kritis adalah berpikir reflektif-evaluatif.
b) Karakteristik Soal HOTS
Secara taksonom soal dinyatakan HOTS adalah soal yang terdiri dari soal C4, C5, dan C6. Dibawah ini deskripsi karakteristik imstrument penilaian tingkat tinggi (HOTS):
(1) Mengukur kemampuan berpikir tingkat Tinggi
Kemampuan berpikirtingkat tinggi adalah kemmpuan untuk memecahkan masalah (problem solving), keterampilan berpikir kritis (critical thingking) berpikir kreatif (creative thingking), kemampuan berargumen (reasoning), dan kemampuan mengambil keputusan (decision making).
(2) Bersifat divergen
Instrument penilaian HOTS harus bersifat divergen, artinya memungkinkan peserta didik memberikan jawaban berbeda-beda sesuai proses berpikir dan sudut pandnag yang digunakan karena mengukur proses berpikir analitis, kritis, dan kreatif yang cendrung bersifat unik atau berbeda-beda responsnya bagi setiap individu.
(3) Menggunakan multirepresentasi
Instrument penilaian HOTS berbentuk multipresentasi mengharuskan siswa mampu mencari dan memahami informasi tersirat.
(4) Berbasis permasalahan kontekstual
Berdasarakan wiwik ada lima karakteristik asesmen kontekstual. Yaitu:
(a) Relating, asesmen terkait langsung dengan konteks pengalaman kehidupan nyata.
(b) Experiencing, asesmen yang ditekankan kepada penggalian (exploration), penemuan (discovery), dan penciptaan (creation).
(c) Applying, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh di dalam kelas untuk menyelesaiakan masalah-masalah nyata.
(d) Communicating, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk mampu mengkomunikasikan kesimpulan model pada kesimpulan konteks masalah.
(e) Transferring, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk mentransformasikan konsep-konsep pengetahuan dalam kelas ke dalam situasi atau konteks baru.
(5) Menggunakan bentuk soal beragam
Tujuan menggunakan soal beragam untuk memberikan informasi secara rinci dan menyeluruh tentang tingkatan kemampuan peserta didik yang mengikuti tes tersebut.
c) Level kognitif
Berdasarkan puspendik level kognitif dapat diklasifikasikan menjadi 3 level kognitif sebagaimana digunakan dalam kisi-kisi UN sejak tahun pelajaran
Berdasarkan puspendik level kognitif dapat diklasifikasikan menjadi 3 level kognitif sebagaimana digunakan dalam kisi-kisi UN sejak tahun pelajaran