• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Deskripsi Teoretik

2. Perkembangan kognitif peserta didik (Siswa)

Secara sederhana, kemampuan kognitif dapat dipahami sebagai kemampuan anak untuk berpikir lebih kompleks serta kemampuan melakukan penalaran dan pemecahan masalah. Dengan berkembangnya kemampuan kognitif ini akan memudahkan anak untuk menguasai pengetahuan umum lebih luas, sehingga anak mampu menjalankan fungsinya dengan wajar dalam interaksinya dengan masyarakat dan lingkungan sehari-hari.34

Menurut susan C. Burwash, Robera Snover, dan Robert Krueger.

Bloom mengemukakan tiga taksonomi dalam pembelajaran yaitu Kognitif, afektif dan psikomotor. Peserta didik diharapkan mencapai keberhasilan belajar sesuai dengan jenjang kemmapuan dalam taksonomi tersebut. Yang paling banyak digunakan taksonomi ini adalah yang kognitif. Di dalam taksonomi asli (awal kelahirannya), evaluasi disajikan sebagai puncak pembelajaran.

1) Ranah kognitif

Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak) Bloom menggolongkan ranah kognitif pada pengetahuan sederhana atau penyadaran terhadap fakta-fakta sebagai tingkatan yang paling rendah, dan penilaian (evaluasi) yang lebih kompleks dan abstrak sebagai tingkatan yang paling tinggi.

Ranah kognitif memiliki enam jenjang proses berpikir mulai dari

33ibid., hal. 669-670

34 Desmita, psikologi perkembangan peserta didik, (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2009) h.96

yang paling rendah sampai kepada yang paling tinggi yaitu sebagai berikut:

a) Pengetahuan, didefinisikan sebagai ingatan terhadap hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya. Kemampuan ini merupakan kemampuan awal meliputi kemmapuan mengetahui sekaligus menyampaikan awal meliputi kemampuan mengetahui sekaligus menyapaikab ingatanya bila diperlukan.

b) Pemahaman, di definisikan sebagai kemampuan untuk memahami materi atau arahan. Proses pemahama terjadi karena adanya kemampuan menjabarkan suatu materi ke materi lain. Pemahaman juga dapat ditunjukkan dengan kemampuan memperkirakan kecenderungan, kemampuan meramalkan akibat dari berbagai penyebab suatu gejala.

c) Penerapan, merupakan kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari dan dipahami ke dalam sitausi konkrit atau baru. Kemampuan ini mencakup penggunaan pengetahuan, aturan, rumus, konsep, prinsip, hukum dan teori.

d) Analisis, merupakaan kemampuan untuk menguraikan materi ke dalam bagian-bagian atau komponen-komponen yang lebih terstruktur dan mudah dimengerti.

e) Sintesis, kemampuan berpikir yang merupakan kebalikan proses berpikir analisis, sintesis merupakan proses yang memadukan bagian atau unsur-unsur secara logis sehingga menjelma menjadi suatu pola yang terstruktur atau berbentuk pola baru.

f) Penilaian atau evaluasi, merupakan jenjang berpikir paling tinggi dalam ranah kognitif menurut taksonomi Bloom.

Penilaian atau evaluasi diri merupakan kemampuan

seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu situasi, nilai atau ide.35

Evaluasi merupakan suatu komunikasi dari bukti-bukti, ketepatan logika, konsisiten dengan kriteria dan ukuran-ukuran internal. Pendidikan formal dalam suatu tatanan yang memimiliki nilai demokrasi, sangat hati-hati dalam menghadapi permasalahan evaluasi, terytama dalam ilmu-ilmu sosial pada samapai taraf tertentu dan terkait dengan permasalahan umat manusia serta ilmu pengetahuan Alam.36 b. Proses perkembangan kognitif siswa

1) Tahap sensori motor

Selama perkembangan dalam periode sensori moto yang berlangsung sejak anak lahir sampai usia 2 tahun, inteligensi yang dimiliki anak tersebut masih berbentuk primitive dalam arti masih di dasarkan pada perilaku terbuka. Meskipun primitive dan terkesan inteligensi dasar yang amat berarti karena ia menjadi fondasi untuk tipe-tipe inteligensi tertentu yang akan memiliki anak tersebut kelak.

Inteligensi sensori-motor dipandang sebagai inteligensi praktis (pratical intelligence) yang berfaidah bagi anak usia 0-2 tahun untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum ia mampu berpikir mengenai hal yang sedang ia perbuat. Anak pada periode ini belajar car mengikuti dunia kebendaaan secara praktis dan belajar menimbulkan efek tertentu tanpa memahami

35 Hikmatu Ruwaida “Proses kognitf dalam taksonomi Bloom Revisi:Analisi kemampuan mencipta ( C6) pada pembelajaran Fikih di MI Miftahul Anwar Desa Banua Lawas” jurnal ilmiah pendidikan Madarsah Ibtidaiyah,Vol.4 No.1, 2019 h.58-60

36 Wowo Sunaryo Kuswana, Taksonomi Kognitif, (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2012), h.67

hal yang sedang ia perbuat kecuali hanya mencari cara melakukan perbuatan diatas.

2) Tahap pra-operasional (2-7 tahun)

Periode perkembangan kognitif pra-operasional terjadi dalam diri anak ketika berumur 2 samapai 7 Tahun.

Perkembangan ini bermula pada saat anak telah memiliki penguasaan sempurna mengenai object permanence. Artinya, anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan “tetap eksisnya”

suatu benda yang harus ada atau biasa ada, walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan, atau sudah tak dilihat dan tak di dengar lagi. Jadi eksistensi benda tersebut berbeda dengan periode sensori-motor, tidak lagi bergantung pada pengamatannya belaka.

Perolehan kemampuan berupa kesadaran terhadap eksistensi object permanence (ketetapan adanya benda) adalah hasil dari munculnya kapasitas kognititf baru yang disebut representation atau mental representation (gambaran mental). Secara singkat, representasi adalah seuatu yang mewakili atau menjadi symbol atau wujud seauatu yang lainnya. Represemtation mental merupakan bagian penting dari skema kognitif yang memungkinkan anak berpikir dan mentimpulkan eksistensi sebuah benda atau kejadian tertentu walaupun benda atau kejadian itu berada di luar pandangan, pendengaran, atau jangkauan tangannya.

Representasi mental juga memungkinkan anak untuk mengembangkan deferred-imitation (peniruan yang tertunda) yakni kapasitas meniru perilaku orang lain sebelumnya pernah ia lihat untuk merespons lingkungan. Perilaku-perilaku yang ditiru terutama perilaku-perilaku orang lain (khususnya

oarangtua dan guru) yang pernah ia lihat ketika orang itu merespons barang, orang, keadaan, dan kejadian yang dihadapi pada masa lampau.

Dalam periode ini anak mulai mampu menggunakan kata-kata yang benar dan mampu pula mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif. Hal lain yang perlu penyusun utarakan sehbungan dengan penggunaan skema kogntif anak yang masih terbatas itu ialah bahwa pengamatan dan pemahaman anak terhadap sitausi lingkungan yang ia tanggapi sangat dipengaruhi oleh watak egocentrism (egosentrisme).

Maksudnya anak termasuk belum bisa memahami pandangan-pandangan orang lain yang berbeda dengan pandangan-pandangan sendiri.

Gelaja egosentrisme ini disebabkan oleh masih terbatasnya conservation (konservasi/pengekalan), yakni operasi kognitif yang berhubungan dengan pemahaman anak terhadap aspek dan dimensi kuantitatif materi lingkungan yang ia respons.

Sebagai catatan akhir periode pra-operasional ini, kemmapuan-kemampuan skema kognitif anak adalam rentang 2-7 tahun memang masih sangat terbatas.

3) Tahap konkret-operasional (7-11 Tahun)

Dalam periode konkret-operasional yang berlangsung hingga usia menjelang remaja, anak memperoleh tambahan kemampuan yang disebut system of operations (satuan langkah berpikir). Kemampuan satuan langkah berpikir ini berfaedah bagi anak mengkooerdinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam sistem pemikirannya sendiri.

Satuan langkah berpikir anak terdiri atas aneka ragam operation (tatanan langkah) yang masing-masing berfungsi sebagai skema kognititf khusus yang merupaakan perbuatan

intern yang tertutup (interiorized action) yang dapat dibolak-balik atau ditukar dengan operasi-operasi lainnya. Satuan langkah berpikir anak kelak akan menjadi dasar terbentuknya inteligensi intuitif. Inteligensi, menurut piaget, bukan sifat yang biasanya digambarkan dengan skor IQ itu.

Inteligensi adalah proses, tahapan atau langkah operasioanl tertentu yang mendasari semua pemikiraan dan pengetahuan manusia, di samping merupakan proses pembentukan pemahaman. Dalam inteligensi operasional anak sedang berada pada tahap konkret-operasional terdapat sistem operasi kognitif yang meliputi:

a) Conservation (konservasi/pengekalan) adalah kemampuan anak dalam memahami aspek-aspek kumulatif materi, seperti volume dan jumlah. Anak yang mampu mengenali sifat kuantitatif sebuah benda akan tahun bahwa sifat kuantitatif benda tersebut tidak akan berubah secara sembarangan.

b) Addition of classes (penambahan golongan benda) yakni kemampuan dalam memahami cara mengkombinasikan beberapa golongan benda yang dianggap berkelas serta lebih rendah.

c) Multiplication of classes (pelipatan gandaan golongan benda) yakni kemampuan melibatkan pengetahuan mengenai cara mempertahankan dimensi-dimensi benda untuk membentuk gabungan golongan benda. Selain itu, kemampuan ini juga meliputi kemampuan memahami cara sebaliknya. Yakni cara memisahkan gabungan golongan benda menjadi dimesi-dimensi tersendiri.

Berdasarkan hasil-hasil eksperimen dan observasinya, piaget menyimpulkan bahwa pemahaman terhadap aspek kuantitatif materi, pemahaman terhadap penambahan golongan benda, dan

pemahaman terhadap pelibat gandaan golongan benda merupakan ciri khas perkembangan kognitif anak berusia 7-11 Tahun. Perolehan pemahaman tersebut diiringi dengan banyak berkurangnya egosentrisme anak. Artinya anak sudah mulai memiliki kemampuan mengkoordinasikan pandangan-pandangan orang lain dengan padangannya sendiri, dan memiliki persepsi positif bahwa pandangannya hanyalah salah satu dari sekian bahwa pandangannya hanyalah salah satu dari sekian banyak pandangan orang.

Namun demikian, masih ada keterbatasan-keterbatasan kapasitas anak dalam mengkoordinasikan pemikirannya. Anak-anak dalam rentanf usia 7-11 tahun baru mampu berpikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang konkret. Inilah yang menjadi alas an perkembangan kognitif anak yang berusia 7-11 Tahun tersebut dinamakan tahap konkret-operasional.

4) Tahap formal-operasional (11-15 Tahun)

Dalam tahap perkembangan formal-operasional, anak yang sudah menjelang atau sudah menginka masa remaja, yakni usia 11-15 Tahun akan dapat mengatasi masalah keterbatasan pemikiran konkret-operasional.37

c. Karakteristik perkembangan kognitif peserta didik Remaja (SMP dan SMA)

Secara umum karakteristik pemikiran remaja pada tahap operasional formal ini adalah diperolehnya kemampuan untuk

37 Muhibbin Syah, psikologi pendidikan, (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2014) h.67-70

berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia.

Pada tahap ini anak yang menginjak usia remaja sudah dapat berpikir secara abstrak dan hipotesis, sehingga ia mampu memikirkan sesuatu yang akan atau mungkin terjadi, sesuatu yang bersifat abstrak. Remaja di tahap operasi formal dapat mengintegrasikan apa yang mereka pelajari dengan tantangan di masa mendatang dan membuat rencana untuk masa depan. Mereka juga sudah mampu berpikir secara sistematik, mampu berpikir dalam kerangka apa yang mungkin terjadi, bukan hanya apa yang terjadi. Mereka memikirkan semua kemungkinan secara sistematik untuk memecahkan permasalahan.

Anak tahap operasional mulai mampu memecahkan masalah dengan membuat perencanaan kegiatan terlebih dahulu dan berusaha mengantisipasi berbagai macam informasi yangakan diperlukannya untuk memecahkan masalah tesebut.38

Dokumen terkait