BAB II LANDASAN TEORI
F. Pembelajaran Keterampilan Berbicara Tingkat SMA
Keterampilan berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang wajib dimiliki oleh peserta didik. Nida dan Harris dalam
Henry Guntur Tarigan menyatakan bahwa “Keterampilan berbahasa
mempunyai empat komponen, yaitu keterampilan menyimak (listening
skill), keterampilan berbicara (speaking skill), keterampilan membaca
(reading skill), dan kemampuan menulis (writing skill).”55
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, standar kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik di tingkat SMA mencakup keempat komponen
keterampilan berbahasa yaitu peserta didik mampu “menunjukkan
keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam bahasa
Indonesia dan Inggris.”56
Berbeda dengan Kurikulum 2013, pembelajaran tidak berdasarkan kepada pembagian keempat komponen keterampilan berbahasa. Pada Kurikulum 2013 pembelajaran berdasarkan kepada teks dan keempat komponen keterampilan berbahasa tersebut diintegrasikan masuk ke dalamnya. Berikut pernyataan dari Muhammad Nuh selaku
54
Cole et al, op. cit., hlm. 52
55
Henry Guntur Tarigan, Berbicara (Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa), (Bandung :
Penerbit Angkasa, 2008), hlm. 1
56
Tuszie Widhiyanti, KTSP : Berdasarkan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan,
penggagas kurikulum 2013 dan ketika itu menjabat sebagai menteri pendidikan:
Sebagai bagian dari Kurikulum 2013 yang menekankan pentingnya keseimbangan kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan, kemampuan berbahasa yang dituntut tersebut dibentuk melalui pembelajaran berkelanjutan: dimulai dengan meningkatkan pengetahuan tentang jenis, kaidah dan konteks suatu teks, dilanjutkan dengan keterampilan menyajikan suatu teks tulis dan lisan baik terencana maupun spontan, dan bermuara pada pembentukan sikap kesantunan dan kejelian berbahasa serta sikap penghargan terhadap Bahasa Indonesia sebagai warisan budaya bangsa.57
Berdasarkan pendapat Muhammad Nuh di atas, hal yang dituntut dalam kurikulum 2013 yaitu aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Peserta didik dituntut untuk mengetahui berbagai jenis teks yang ada disertakan dengan kaidah dan konteks teks tersebut. Kemudian peserta didik diharapkan dapat menyajikan berbagai teks tersebut secara tulis maupun secara lisan. Dalam hal tersebut, secara lisan berarti sama halnya dengan melihat kompetensi keterampilan berbicara.
Imber dan Klingler mencetuskan gagasan kurikulum nasional keterampilan berbahasa yang terdiri atas delapan unit dasar. Adapun delapan unit dasar tersebut yaitu sebagai berikut:
8. Aneka Pemahaman
7. Mengomentari, menanya(i), memperbaiki (membetulkan, membenarkan), melaporkan, menganalisis.
6. Mengingatkan, menyarankan, menganjurkan, meyakinkan, menegaskan, memaksakan.
5. Mengkritik, memperingatkan, menghina, menuduh (menyalahkan), mengancam.
4. Memberi pujian, mengucapkan selamat merayu (menyanjung), membanggakan (menyombongkan diri).
57
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Buku Guru : Bahasa Indonesia (Ekspresi diri
3. Menghindarkan (mengelakkan), membelokkan percakapan (mengalihkan arah pembicaraan), menyangkal (mengingkari).
2. Menyetujui, membantah, menyatakan simpati (mengucapkan belasungkawa), menentang (memperdebatkan), mendamaikan (menentramkan)
1. Aneka Kesalahpahaman.58
Salah satu unit dasar keterampilan berbahasa yang ada dalam kurikulum nasional yaitu menentang atau memperdebatkan. Henry Guntur Tarigan dalam bukunya menjelaskan betapa pentingnya berdebat diajarkan di dalam kegiatan pembelajaran. Adapun pendapat Henry Guntur Tarigan tersebut sebagai berikut:
para guru memang wajar mendidik para siswa berpikir logis; yang benar harus dibenarkan, yang salah harus disalahkan. Dalam hal ini penalaranlah yang diutamakan. Walaupun suatu pendapat muncul dari teman karib, tetapi apabila pendapatnya itu tidak masuk akal, harus ditentang atau didebat demi kebenaran. Begitu pula sebaliknya, pendapat yang logis, walaupun dikemukakan oleh orang yang tidak kita senangi, haruslah diterima karena memang masuk akal. Berdebat, berbantah tentang sesuatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat atau pendirian, berguna untuk mendidik para siswa berpikir logis, dapat memilih mana yang benar dan mana yang salah.59
Pendapat Henry Guntur Tarigan tersebut bisa diimplementasikan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan maupun dalam Kurikulum 2013 khususnya untuk pembelajaran keterampilan berbicara. Standar kompetensi untuk keterampilan berbicara dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yaitu salah satunya peserta didik mengungkapkan komentar terhadap informasi dari berbagai sumber. Kompetensi dasar dari standar kompetensi tersebut yaitu: (1) memberikan kritik terhadap informasi dari media cetak dan atau elektronik; (2) memberikan
58
Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Pragmatik, (Bandung : PT. Angkasa, 2009), hlm. 136
59
persetujuan/dukungan terhadap artikel yang terdapat dalam media cetak dan atau elektronik.60
Memberikan kritik berarti tidak setuju dengan isi informasi atau berita sedangkan memberikan persetujuan berarti ikut mengafirmasi isi informasi atau berita. Hal tersebut tentu sama dengan hakikat debat yang mempertemukan pihak yang setuju dengan pihak yang tidak setuju atau kontra. Guru dapat menggunakan metode debat dalam pembelajaran untuk kompetensi dasar tersebut. Dalam implementasinya, guru mempunyai dua pilihan yaitu: (1) memulai dari kompetensi dasar yang pertama dilanjutkan kompetensi dasar yang kedua dan terakhir melakukan evaluasi dengan menggunakan metode debat dalam pembelajaran; (2) menggabungkan kedua kompetensi dasar tersebut dalam satu rancangan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode debat dalam pembelajaran.
Dalam kurikulum 2013 metode debat sebagai keterampilan berbicara bisa digunakan dalam pembelajaran materi teks eksposisi. Dalam buku Bahasa Indonesia SMA Kelas X (buku pelajaran dengan menggunakan kurikulum 2013 yang dikeluarkan pemerintah) disajikan
teks “untung rugi perdagangan bebas”.61
Peserta didik diminta untuk menentukan sikap: setuju atau tidak setuju dengan adanya perdagangan bebas. Dengan demikian, ada dua kelompok yang terbentuk dalam kelas yaitu kelompok yang setuju dengan perdagangan bebas dan kelompok yang tidak setuju dengan perdagangan bebas. Jadi, metode debat dapat digunakan dalam pembelajaran tersebut karena debat mempertemukan dua pihak yang berbeda pendapat dan mencari pendapat yang paling logis dan ideal.
Perlu diketahui sebelumnya, kompetensi dasar dalam pembelajaran tersebut memang dituntut hanya pada aspek keterampilan menulis saja.
60
Badan Standar Nasional Pendidikan, Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan
Menengah : Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SMA/MA, 2015, hlm.110,
(http://www.mansurmok.files.wordpress.com)
61
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Bahasa Indonesia (Ekspresi Diri dan
Meskipun demikian, guru dapat menambahkan atau memasukkan aspek keterampilan secara lisan atau berbicara. Hal tersebut ditunjang juga dengan salah satu indikator yang tertulis dalam silabus yaitu peserta didik memublikasikan teks eksposisi yang telah dibuat melalui media atau forum komunikasi yang tersedia.62 Debat dapat digunakan sebagai forum komunikasi. Hal tersebut tentu tidak menyalahi pembelajaran karena tetap berdasarkan ruh dari kurikulum 2013 yaitu peserta didik dapat menyajikan berbagai jenis teks secara tulis maupun lisan.