BAB V PENUTUP
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat diberikan yaitu sebagai berikut :
1. Bagi peneliti yang ingin melakukan penelitian dalam bidang pragmatik maka dapat melakukan penelitian yang sama dengan format debat yang berbeda. Misalnya melakukan penelitian prinsip kerja sama dalam debat model British Parliamentary System. Hal tersebut akan
menambah referensi tentang kepatuhan prinsip kerja sama dalam sebuah interaksi komunikasi debat.
2. Penelitian lain yang dapat dilakukan juga yaitu terhadap acara yang membahas sebuah tema/topik yang menjadi sorotan masyarakat luas, Hal tersebut sebagai upaya untuk menangkap implikatur-implikatur yang terkomunikasikan oleh penuturnya. Belum tentu semua masyarakat paham implikatur yang terkomunikasikan tersebut. Peneliti yang menjembatani hal tersebut. Dari hasil penelitian tersebut dapat mengungkapkan dan menjelaskan lebih banyak informasi.
3. Guru dapat mencari contoh-contoh lain yang serupa tentang cara membangun komunikasi yang santun. Hal tersebut dapat menambah bahan referensi bagi peserta didik untuk melatih daya retorikanya. Guru sebaiknya menjadikan debat sebagai metode pembelajaran untuk melihat keberhasilan peserta didiknya dalam membangun dan mempertahankan argumentasi serta keberhasilan dalam mewujudkan komunikasi yang efektif dan santun.
4. Peserta didik harus mempelajari cara seorang partisipan menyusun sebuah argumentasi dalam mempengaruhi dan meyakinkan orang lain untuk setuju kepadanya. Untuk meyakinkan sebuah pendapat atau pendirian tidak perlu dengan marah atau emosi tetapi tetap sampaikan dengan santai, tenang, dan santun. Peserta didik harus membiasakan untuk berkomunikasi secara efektif dan santun terutama dalam berdebat Tidak semua saran dapat dinyatakan secara langsung. Begitupun halnya dengan sindiran, yang sebaiknya disampaikan secara tidak langsung.
104
DAFTAR PUSTAKA
Al-Abrar. KPK Banjir Dukungan, Kelompok ini Malah Minta Abraham Samad
Mundur”. (http://www.news.metrotvnews.com), 4 Juli 2015
Badan Standar Nasional Pendidikan. “Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar
dan Menengah: Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SMA/MA”,
(http://www.mansurmok.files.wordpress.com), 27 September 2015
BBC Indonesia. “MK Menangkan Bibit-Chandra”, (http://www.bbc.com), 2 Juli 2015.
Black, Elizabeth. Pragmatic Stylistics. United Kingdom : Edinburgh University Press. 2009
Cole, Peter., et al. (ed.). “Syntax and Semantics 3: Speech arts”,
(http://www.ucl.ac.uk), 2 Juli 2015.
Cummings, Louise. Pragmatik (Sebuah Perspektif Multidisipliner). Terjemahan Eti Setiawati, dkk. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2007.
Djajasudarma, T. Fatimah. Wacana dan Pragmatik. Bandung : PT. Refika Aditama. 2012
Effendy, Onong Uchjana. Dinamika Komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. 2008
Gunarwan, Asim. Pragmatik (Teori dan Kajian Nusantara). Jakarta : Universitas Atma Jaya. 2007
Hamzah, Andri, dkk. “Laporan Hasil Kerja Tim Analisis dan Evaluasi Hukum
Tentang Pelaksanaan Asas Oportunitas dalam Hukum Acara Pidana Tahun
Anggaran 2006”, (http://www.tu.bphn.go.id), 4 Juli 2015
Harvey, Neill and Smith. “The Practical Guide to Debating: Worlds Style/British
Parliamentary Style, (http://www.debate.uvm.edu), 2 Juli 2015
Hendrikus, Dori Wuwur. Retorika : Terampil Berpidato, Berdiskusi,
Berargumentasi, Bernegosiasi. Yogyakarta : Penerbit Kanisius. 1991
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Bahasa Indonesia (Ekspresi Diri dan Akademik) Kelas X”, (http://www.bse.kemdikbud.go.id), 27 September 2015 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Buku Guru: Bahasa Indonesia
(Ekspresi Diri dan Akademik) kelas X”, (http://www.bse.kemdikbud.go.id), 27 September 2015
KPK RI. “Undang-undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2002 tentang
Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi”, (http://www.kpk.go.id), 4 Juli 2015.
Leech, Geoffrey. Prinsip-prinsip Pragmatik. Terjemahan M.D.D. Oka. Jakarta : UI-Press. 1993
Lubis, A. Hamid Hasan. Analisis Wacana Pragmatik. Bandung : Angkasa. 2011
Mey, Jacob L. (ed.). Concise Encyclopedia of Pragmatics (Second Edition). United Kingdom : Elsevier Ltd. 2009
Morgan, G Rhydian. “ British Parliamentary Debating”,
(http://www.debate.uvm.edu), 2 Juli 2015.
Mulyana. Kajian Wacana : Teori, Metode, dan Aplikasi Prinsip-prinsip Analisis
Wacana. Yogyakarta : Tiara Wacana. 2005
Nadar, F.X. Pragmatik& Penelitian Pragmatik. Yogyakarta : Graha Ilmu, 2009
Nasution, Zuraidah. “ Implikatur Percakapan dalam Acara Debat Kandidat Calon
Kepala Daerah DKI Jakarta”, (http://www.repository.usu.ac.id), 2 Juli 2015 Nuraidah, Nuri. Wacana Politik Pemilihan Presiden di Indonesia. Yogyakarta :
Smart Writing. 2014
Nurcahyo, Rahmat. “Panduan Debat Bahasa Indonesia”,
(http://www.staff.uny.ac.id), 2 Juli 2015.
Quinn, Simon. “Debating”, (http://www.debate.uvm.edu), 2 Juli 2015
Rahardi, R. Kunjana. Pragmatik (Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia). Jakarta : Erlangga. 2006
---. Sosiopragmatik. Jakarta : Erlangga. 2009
Ryo, dkk. Presiden Pertimbangkan KPK. Surat Kabar HarianKompas. 24 Januari 2015, 2015.
Saeed, John I. Semantics (Second Edition). United Kingdom : Blackwell Publishing Ltd. 2003
Sahara, Siti, dkk. Keterampilan Berbicara. Jakarta : FITK UIN Jakarta. 2008 Suharsaputra, Uhar. Metode Penelitian : Kuantitatif, Kualitatif, dan Tindakan.
Bandung : PT. Refika Aditama. 2012
Tarigan, Henry Guntur. Berbicara (Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa). Bandung : Penerbit Angkasa. 2008
---. Pengajaran Pragmatik. Bandung : PT. Angkasa. 2009
TV One. “ Debat”, (http://www.video.tvonenews.tv), 2 Juli 2015.
Verhaar, J.W.M. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. 1996
Waluyo. “ Pelanggaran Prinsip Kerja Sama dan Prinsip Kesopanan dalam
Percakapan Lum Kelar di Radio SAS FM”, (http://www.eprints.uns.ac.id), 2 Juli 2015
Wardah, Fathiyah. “PDIP Tuduh Ketua KPK Sakit Hati karena Gagal jadi Cawapres”, (http://www.voaindonesia.com), 4 Juli 2015
Widhiyanti, Tuszie. “KTSP: Berdasarkan Standar Isi dan Standar Kompetensi
Lulusan”, (http://www.file.upi.edu), 27 September 2015.
Wijana, I. Dewa Putu. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta : Andi. 1996
Yulaehah, Fikri. “Analisis Prinsip Kerja Sama pada Komunikasi Facebook”,
(http://www.eprints.uny.ac.id), 2 Juli 2015
Lampiran 1
RPP
(RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN)
NAMA SEKOLAH SMA ... MATA PELAJARAN Bahasa dan Sastra Indonesia KELAS /SEMESTER X (sepuluh) / 2 (satu)
PROGRAM Umum ASPEK PEMBELAJARAN Berbicara STANDAR KOMPETENSI
10. Mengungkapkan komentar terhadap informasi dari berbagai sumber
KOMPETENSI DASAR 10.1 Memberikan kritik terhadap informasi dari media cetak dan atau elektronik
10.2 Memberikan persetujuan/dukungan terhadap artikel yang terdapat dalam media cetak dan atau elektronik
INDIKATOR 1. Peserta didik mampu mengkritik informasi dari media cetak dan atau elektronik
2. Peserta didik mampu memberikan
persetujuan/mendukung terhadap artikel yang terdapat dalam media cetak dan atau elektronik
TUJUAN PEMBELAJARAN
TUJUAN 1. Peserta didik mampu mengkritik informasi dari media cetak dan atau elektronik
2. Peserta didik mampu memberikan
persetujuan/mendukung terhadap artikel yang terdapat dalam media cetak dan atau elektronik 3. Peserta didik mempunyai etos kerja keras dan
kreatif dalam mencari sumber-sumber data berkaitan dengan tema debat yang dibahasnya 4. Peserta didik jujur dan bertanggung jawab dalam
mencari sumber-sumber data berkaitan dengan tema debat yang dibahasnya
5. Peserta didik gemar membaca saat mencari sumber-sumber data berkaitan dengan tema debat yang dibahasnya
6. Peserta didik merasakan iklim demokratis dan mempunyai sikap demokratis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
MATERI POKOK PEMBELAJARAN
1. Karangan Argumentasi adalah karangan yang isinya bertujuan untuk meyakinkan atau
mempengaruhi pembaca terhadap suatu masalah dengan mengemukakan alasan, bukti, dan contoh nyata.
2. Debat menurut Henry Guntur Tarigan yaitu merupakan suatu argumen untuk menentukan baik tidaknya suatu usul tertentu yang didukung oleh satu pihak yang disebut pendukung atau afirmatif, dan ditolak, disangkal oleh pihak lain yang disebut penyangkal atau negatif.
METODE PEMBELAJARAN
KEGIATAN PEMBELAJARAN
TAHAP KEGIATAN PEMBELAJARAN
PEMBUKA (Apersepsi)
Ketua kelas memimpin berdoa dan memberi salam kepada guru sebagai awal atau pembuka dimulainya pembelajaran
Guru memeriksa kehadiran peserta didik di dalam kelas
Guru menanyakan kepada peserta didik apakah mengetahui dan pernah menonton tayangan debat di televisi
Guru kemudian meminta salah satu peserta didik yang mengetahui dan pernah menonton tayangan debat di televisi untuk menjelaskan pengertian debat
Guru mengingatkan kembali pembelajaran tempo lalu tentang membuat/menulis karangan argumentatif dan guru mengulas kembali tentang membuat/menulis karangan argumentatif
Guru menjelaskan bahwa karangan argumentatif secara tidak langsung itu bisa dijadikan panduan atau pegangan untuk berdebat dengan pihak yang argumentasinya berbeda atau berlawanan dengan kita. Debat bisa dijadikan sebagai wahana untuk peserta didik untuk mempertahankan dan meyakinkan pendapatnya kepada pihak lawannya yang berseberangan dengan dirinya agar kemudian pihak lawan tersebut mengikuti pendapat dirinya.
Guru menjelaskan bahwa di dalam hidup ini selalu terdapat permasalahan yang menyebabkan perbedaan pendapat dan kemudian harus dicarikan solusi atau pendapat yang paling logis dan ideal di antara kedua pendapat itu. Debat merupakan jalan untuk menemukan hal tersebut. Untuk itu peserta didik harus mengerti dan terbiasa dengan debat karena itu bisa berguna dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai catatan tentu cara debat yang efektif, benar dan mempunyai etika.
INTI
Pertemuan ke-1 ( 90 menit)
Peserta didik diajak untuk melihat rekaman video acara Debat TV
One dengan judul Adu Aksi KPK−Polri. Peserta didik diharapkan dapat melihat dan mempelajari bagaimana alur komunikasi dalam debat. Peserta didik dapat melihat dan mempelajari juga cara membangun sebuah pendapat dan pandangan yang diyakini para
tokoh yang tampil sebagai peserta dalam acara debat itu. Guru membantu mengulas tentang acara debat tersebut.
Guru menerangkan kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam interaksi komunikasi debat serta menjelaskan pelanggaran prinsip kerja sama dan implikatur yang terdapat dalam acara debat tersebut khusunya implikatur yang berfungsi untuk menyarankan dan menyindir dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami maksudnya oleh peserta didik. Guru mengenalkan retorika yang santun dalam berdebat.
Setelah selesai menyimak tayangan acara debat TV One (bagian-bagian yang dianggap penting saja) kemudian guru membagi kelas menjadi dua kelompok. Kelompok 1 berada di sebelah kiri dan kelompok 2 berada di sebelah kanan. Guru kemudian menampilkan dua tema debat dalam slide. Tema yang pertama yaitu tentang ”
Hukuman Mati untuk Koruptor” sedangkan tema yang kedua yaitu tentang ” Penggunaan Bahasa Asing dalam Kehidupan Sehari-hari”.
Guru meminta perwakilan satu orang dalam masing-masing kelompok untuk mengambil kertas yang di dalamnya bertuliskan tema debat. Misalkan kelompok 1 mendapatkan tema debat
”Hukuman Mati untuk Koruptor” dan kelompok 2 mendapatkan tema ” Penggunaan Bahasa Asing dalam Kehidupan Sehari-hari. Setelah setiap kelompok sudah mendapatkan temanya masing-masing, guru kemudian meminta peserta didik untuk menyimak sebuah video kembali berkaitan dengan kedua tema tersebut yaitu
tentang ”Hukuman Mati untuk Koruptor” dan kemudian tentang ”
Penggunaan Bahasa Asing dalam Kehidupan Sehari-hari.
Usai menyaksikan kedua video tentang kedua tema tersebut guru kemudian meminta sikap kepada kelompok 1 dengan tema
”Hukuman Mati untuk Koruptor”. Pihak yang pro terhadap
hukuman mati silahkan berada di sisi kiri sedangkan pihak yang kontra untuk menerapkan hukuman mati silahkan berada di sisi kanan. Nanti pecahan kelompok 1 itu akan saling berdebat. Meskipun pada akhirnya nanti kuantitas antara kedua kelompok itu timpang atau tidak seimbang tetapi debat tetap dilanjutkan. Ini sebagai tantangan bagi kelompok yang minoritas untuk meyakinkan pendapatnya yang paling logis dan ideal.
Guru pun melakukan hal yang sama terhadap kelompok 2 untuk menentukan sikap karena tidak mungkin dalam jumlah kelompok yang besar tersebut terdapat pendapat yang seragam tentunya pasti
ada perbedaan pendapat di dalamnya.
Guru pun menjelaskan bahwa untuk dua pertemuan berikutnya akan diisi oleh debat yang dilakukan peserta didik. Untuk itu guru meminta perwakilan kelompok tema maju, tema yang mana yang
akan duluan tampil apakah ”Hukuman Mati untuk Koruptor” atau ”
Penggunaan Bahasa Asing dalam Kehidupan Sehari-hari”.
Dimisalkan yang pertama tampil di pertemuan berikutnya yaitu
”Hukuman Mati untuk Koruptor” dan pertemuan berikutnya lagi yaitu tema ”Penggunaan Bahasa Asing dalam Kehidupan Sehari
-hari” yang tampil.
Guru pun menerangkan bahwa mulai dari sekarang masing-masing tim baik pro dan kontra sesuai dengan tema debatnya mencari bahan-bahan atau data-data untuk dijadikan bahan debat. Setelah itu tim dapat membuatkannya menjadi sebuah karangan argumentatif dan menjadikannya sebuah makalah.
Guru pun mengingatkan bahwa tim yang jumlahnya minoritas untuk tidak berkecil hati dan justru menjadikan ini tantangan untuk membuktikan kalau pendirian dan pandangannya tidak salah terhadap apa yang diyakininya. Guru pun mengingatkan bahwa penilaiannya tetap objektif. Tidak ada nilai tambah untuk tim yang jumlahnya minoritas hanya karena sedikit.
Guru kemudian memberitahu bahwa setiap tim harus menyiapkan tiga orang yang siap untuk maju sebagai pembicara. Sisa dari kelompok tersebut nantinya akan berada di balik layar tetapi kemudian nanti akan diberikan kesempatan juga untuk mengemukakan pendapat dalam kaitannya membantu temannya yang tiga orang tersebut.
Guru menjelaskan bahwa model debat yang dipakai mengikuti model debat seperti acara Debat TV One. Guru yang akan bertindak sebagai moderator dan bertindak sebagai juri. Kuasa ada di tangan guru. Arus lintas komunikasi guru yang memegang sepenuhnya. Peserta didik diminta siap untuk mengikuti dan mempraktikkan model debat seperti acara Debat TV One yang sebelumnya sudah dilihat bersama-sama. Waktu debat berlangsung selama 30 menit.
Terakhir guru menerangkan kepada peserta didik tentang penilaian yang akan dilakukan dalam pembelajaran ini. Penilaian dibagi menjadi dua yaitu berupa karangan atau makalah argumentasi yang isinya sesuai dengan posisi yang dipegang apakah pro dan kontra.
Penilaian yang kedua yaitu pada saat tiga orang timnya tampil dan nilai mereka mewakili kelompok. Ketika mereka tampil buruk maka dampaknya kepada kelompoknya akan ikut mendapat nilai yang jelek dan sebaliknya tentunya. Untuk itu dalam memilih tiga orang itu harus betul-betul orang yang tepat. Sementara akan ada penilaian juga buat para tim dibalik layar yang nantinya akan dilibatkan juga dalam beberapa bagian untuk mengikuti sesi debat. Nilai tambahan itu untuk menambah apabila nilai tiga temannya itu jelek.
Pertemuan ke-2 (90 menit)
Debat dengan tema ”Hukuman Mati untuk Koruptor” dimulai.
Sebelum debat dimulai, Guru meminta makalah tim kelompok yang berdebat.
Guru mempersilahkan tim yang pro dan kontra untuk berada di tempat yang sudah disediakan oleh guru. Untuk tim pro maupun kontra yang tidak tampil sebagai pembicara atau peserta utama debat maka dipersilahkan untuk berada di belakang masing-masing timnya karena ada saatnya nanti moderator (guru) menanyakan kepada masing-masing regu tim yang tidak tampil untuk ikut terlibat dalam perdebatan yang sedang berlangsung. Sementara itu yang tidak terlibat sama sekali maka bertindak sebagai penonton. Guru menunjuk dua orang peserta didik sebagai timer untuk mengingatkan waktu setiap 10 menit sekali.
Guru kemudian membacakan aturan main debat. 1. Guru bertindak sebagai moderator
2. Alur komunikasi berada sepenuhnya di tangan moderator
3. Guru berhak memberhentikan peserta debat yang dianggap belum saatnya untuk berpendapat atau sudah terlalu lama dalam menyatakan pendapatnya
Debat dimulai dan berlangsung selama 30 menit
Ketika debat usai, guru berganti peran dan bertindak kemudian menjadi juri. Guru melakukan refleksi atau penilaian terhadap kedua tim setelah berlangsungnya debat yang dilakukan.
Guru mengajak peserta didik untuk melakukan refleksi dan evaluasi terhadap berlangsungya debat tadi. Diharapkan kesalahan atau kekurangan tidak terjadi lagi pada debat di pertemuan berikutnya
Pertemuan ke-3 (90 menit)
Debat kedua dimulai dengan judul ” Penggunaan Bahasa Asing
dalam Kehidupan Sehari-hari”. Sebelum dimulai debat, Guru
meminta makalah dari masing-masing kelompok.
Guru pun mempersilahkan tim debat yang kedua untuk segera memasuki tempat yang sudah disediakan. Sama halnya dengan sebelumnya untuk tim pro dan kontra yang tidak tampil sebagai pembicara atau peserta utama debat maka dipersilahkan berada di belakang masing-masing timnya.
Guru kembali menunjuk dua orang peserta didik sebagai timer
untuk mengingatkan waktu setiap 10 menit sekali.
Guru kemudian membacakan kembali aturan main debat. Debat dimulai dan berlangsung selama 30 menit
Setelah debat kedua usai maka kemudian guru kembali beralih peran menjadi juri. Guru melakukan penilaian selama berlangsungnya debat kedua.
Guru kemudian mengajak peserta didik untuk bersama-sama kembali melakukan refleksi dan evaluasi terhadap berlangsungnya debat yang dilakukan tadi.
PENUTUP (Internalisasi dan refleksi)
Guru mengajak peserta didik untuk bersama-sama memberikan kesan dan pesan selama 3x pertemuan berkaitan dengan debat
Guru kemudian meminta peserta didik untuk menyimpulkan hal seputar debat sebagai tanda akhirnya pembelajaran mengenai debat atau
pembelajaran berbicara dalam menyampaikan kritik atau persetujuan terhadap informasi yang ada di media cetak atau elektronik.
SUMBER DAN MEDIA BELAJAR
1. Pustaka rujukan Tim Edukatif. Kompeten Berbahasa Indonesia
untuk SMA Kelas X. Jakarta : Erlangga. 2015
Video rekaman dari Youtube:
Debat TV One “Adu Aksi KPK−Polri”
Video rekaman dari Youtube:
“Koruptor Diusulkan Hukuman Mati”oleh
Liputan Berita, 3 Oktober 2013 Video Rekaman Pribadi
“Penggunaan Bahasa Asing dalam Kehidupan dalam Kehidupan Sehari-hari
Tarigan, Henry Guntur. Berbicara (Sebagai
Suatu Keterampilan Berbahasa). Bandung: PT
Angkasa. 2008 3. Laptop/notebook 4. LCD 5. Speaker 6. Papan Tulis PENILAIAN
TEKNIK DAN BENTUK 1.ObservasiKinerja/Demonstrasi (Terlampir)
……….., …… ………..
Mengetahui,
Kepala SMA ……… Wakasek Bidang Kurikulum Guru
FORMAT OBSERVASI DAN PENILAIAN DEBAT
NAMA TIM :
KELAS :
TANGGAL PENILAIAN :
KOMPETENSI DASAR : 10.1 Memberikan kritik terhadap informasi dari
media cetak dan atau elektronik.
10.2 Memberikan persetujuan/dukungan terhadap artikel yang terdapat dalam media cetak dan atau elektronik
ASPEK RINCIAN
NILAI
KURANG CUKUP BAIK AMAT
BAIK
D (10) C (15) B (20) A (25)
ARGUMENTASI
Sesuai dengan topik berita Kritis/mendalam/tajam Ide asli dan aktual
Gagasan logis dan realistis Didukung alasan, bukti serta referensi memadai
ETIKA
Menghargai pendapat orang lain Tidak emosional
Kata-katanya santun
Mematuhi aturan debat yang berlaku
Lampiran 2
TRANSKRIPSI PERCAKAPAN DEBAT TV ONE
“ADU AKSI KPK− POLRI”
Pembicara di Kubu Polri
Sisno Adiwinoto (Pengamat Kepolisian)
Junimart Girsang (Anggota DPR RI F-PDI Perjuangan) Pembicara di Kubu KPK
Bibit Samad Rianto (Mantan Wakil Ketua KPK) Ubedilah Badrun ( Pengamat Politik)
Prolog :
Gonjang-ganjing penegakan hukum tanah air kian memanas. Lihat saja yang terjadi pada dua lembaga tinggi negara; Kepolisian Republik Indonesia dan Komisi Pemberantasan Korupsi berseteru, saling obral status tersangka. Ya, awalnya status tersangka diberikan KPK untuk calon tunggal Kapolri Komjen Budi Gunawan dalam kasus rekening gendut dirinya. Padahal sebelumnya Polri menganggap tuduhan tersebut tidak terbukti dan sudah selesai. Polri juga menetapkan wakil ketua KPK Bambang Widjojanto sebagai tersangka dalam kasus saksi palsu dalam sengketa Pilkada Kota Waringin Barat, Kalimantan Tengah, 5 tahun silam.
Ronny F. Sompie (Kadiv Humas Mabes Polri):
“ Dasar pemeriksaan terhadap tersangka, itu memenuhi 3 alat bukti yang sah. Keterangan saksi,ya, lebih dari dua orang. Keterangan ahli, dua orang. Alat bukti surat, berupa dokumen, itu juga sudah terpenuhi sehingga pemeriksaan
tersangka itu bisa saja dilakukan dengan penangkapan.”
Ada yang berbeda dalam status tersangka Bambang Widjojanto dan Budi Gunawan. Anggota Bareskrim Mabes Polri sempat menangkap Bambang
Widjojanto meski penangguhan penahanan diberikan. Sementara KPK belum mampu menangkap Budi Gunawan meski beberapa saksi telah dipanggil KPK. Bahkan ketegangan yang terjadi lantaran disebut-sebut ketua KPK Abraham Samad gagal menjadi calon wakil Presiden mendampingi Joko Widodo setelah bertemu dengan petinggi dari PDI Perjuangan. Kini profesionalisme dua lembaga penegak hukum dan anti rasuah tersebut dipertaruhkan. Akankah kericuhan ini akan berakhir?
(Acara dimulai)
Moderator :
Selamat malam. Bersama saya Muhammad Rizky debat pada malam hari ini, kita akan mendiskusikan terkait dengan kisruh antara Polri dan juga KPK. Ada yang mengatakan save KPK, save Polri, dan Presiden pun sudah mengambil langkah-langkah untuk menyelesaikan kisruh antara Polri dan juga KPK. Ini berbuntut dari ditetapkannya calon Kapolri Budi Gunawan dan kemudian wakil ketua KPK, Pak Bambang Widjojanto yang ditetapkan menjadi tersangka. Kemudian Presiden pun mengambil langkah salah satunya adalah memanggil 7 orang tim independen untuk menyelesaikan permasalahan ini. Untuk itu pada malam hari ini kita akan mendiskusikan terkait dengan itu. Apakah langkah yang diambil Pak Jokowi terkait dengan membentuk atau memanggil 7 orang tim dari pakar hukum itu merupakan solusi. Saya ke Pak Sisno yang mewakili dari mantan Polri. Pak Sisno, kalau anda melihat apa yang terjadi sama Polri dan KPK ini sebenarnya bukan hal yang baru. Ada catatan, ada ini yang ketiga kali, kisruh seperti ini. Menurut anda sebenarnya solusi seperti apa yang bisa ditawarkan?
Sisno Adiwinoto :
Eh, sebelumnya selamat malam, seluruhnya dan saya bukan menyebut mantan Polri lah. Saya atas nama pemerhati Polri. Jadi, kita lihat dengan mata, kita denger dengan telinga dan kita bawa juga dengan hati, gitu ya, ya, jadi itu. Kemudian yang disampaikan kalau disinggung amanat Presiden yang pertama dan ini yang kedua arahan maksudnya. Yang pertama, untuk tidak terjadi gesekan. Dan untuk
eh… kalau bekerja itu yang objektif. Kemudian yang kemarin paling tidak ada
mungkin 6 ya unsurnya bahwa jaga wibawa, jaga wibawa. Kalau dulu sering kita mendengar pemerintah itu harus aparat pemerintah itu harus bersih dan berwibawa. Jadi kembali sekarang wibawa. Mental. Revolusi mental untuk menegakkan wibawa. Kemudian jangan ada kriminalisasi. Mungkin nanti Pak Jumin, Junimart ya, yang DPR tapi kan mantan Pengacara. Apa sih itu kriminalisasi. Kalau dari kacamata kami, tidak mengenal, kalau pengamat saya selama di Kepolisian,pemerhati,ya, tidak ada kata-kata kriminalisasi,ya,memenuhi
unsur, cukup bukti atau tidak, ya, tindak pidana, eh… kejahatan atau pelanggaran
tapi sekarang memasyarakat,ya,kriminalisasi. Secara awam mungkin, yang tidak kriminal, dikriminalkan, itu menjadi kriminalisasi tapi kalau memang dia kriminal, ya, memenuhi tindak pidana apa dia, tindak pidana umum atau khusus,
kan gitu. Kemudian, kalau diproses,ya, tindak pidana tadi mesti transparan. Eh…
kemudian juga jangan ada intervensi. Itu, ya, kita hukum menjadi, kita negara hukum, hukum menjadi panglima. Penegakan hukum itu mutlak. Ya, mestinya
memang tadi, hanya,eh… garisnya, dia harus adil, tidak melanggar HAM dan