BAB II KAJIAN PUSTAKA
D. Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran pada dasarnya adalah proses penambahan informasi dan kemampuan. Seorang guru dituntut untuk menguasai model pembelajaran yang digunakannya agar dapat memberikan nilai tambah bagi anak didiknya.
Selanjutnya yang tidak kalah pentingnya dari nilai proses pembelajarannya adalah hasil belajar yang optimal atau maksimal. Salah satu model pembelajaran yang masih berlaku dan sangat banyak digunakan oleh guru adalah model pembelajaran konvensional. Walaupun pembelajaran ini banyak dikritik tapi metode inilah yang paling banyak digunakan oleh pengajar dalam proses pembelajaran. Pembelajaran konvensional mempunyai beberapa pengertian menurut para ahli, diantaranya:
Djamarah (http://ads3.kompasads.com/new/www/) model pembelajaran
konvensional adalah model pembelajaran tradisional atau disebut juga dengan metode ceramah, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar dan pembelajaran. Dalam pembelajaran, sejarah metode konvensional ditandai dengan ceramah yang diiringi dengan penjelasan, serta pembagian tugas dan latihan.
Freire (http://ads3.kompasads.com/new/www/) memberikan istilah terhadap pengajaran seperti itu sebagai suatu penyelenggaraan pendidikan “bergaya
bank” (banking concept of education). Penyelenggaraan pendidikan hanya dipandang sebagai suatu aktivitas pemberian informasi yang harus “ditelan”
oleh siswa, yang wajib diingat dan dihafal. Dalam pembelajaran konvensional, cenderung pada Belajar hafalan yang mengacu pada penghafalan fakta-fakta, hubungan - hubungan, prinsip, dan konsep.
Di sini terlihat bahwa proses pembelajaran yang lebih didominasi guru sebagai “pentransfer” ilmu, sementara siswa lebih pasif sebagai “penerima”
ilmu. Institute of Computer Technology menyebutnya dengan istilah
“Pengajaran tradisional”. Dijelaskannya bahwa pengajaran tradisional yang berpusat pada guru adalah perilaku pengajaran yang paling umum yang diterapkan di sekolah-sekolah di seluruhdunia (http://blog.tp.ac.id/model-pembelajaran konvensional#ixzz1ntvnyqE9).
Secara umum, ciri-ciri pembelajaran konvensional adalah:
1. Siswa adalah penerima informasi secara pasif, dimana siswa menerima pengetahuan dari guru dan pengetahuan diasumsinya sebagai badan dari informasi dan keterampilan yang dimiliki sesuai dengan standar.
2. Belajar secara individual.
3. Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis.
4. Perilaku dibangun atas kebiasaan.
5. Guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran.
6. Interaksi di antara siswa kurang.
Namun perlu diketahui bahwa pengajaran dengan menggunakan model pembelajaran konvensional dipandang efektif atau mempunyai keunggulan antara lain :
1. Model pembelajaran konvensional merupakan model pembelajaran yang “murah” dan “mudah” untuk dilakukan.
2. Dapat menyajikan materi yang luas.
3. Melalui model pembelajaran konvensional, guru dapat mengontrol keadaan kelas.
4. Organisasi kelas dengan menggunakan model pembelajaran konvensional dapat diatur menjadi lebih sederhana.
Di samping beberapa keunggulan di atas, model pembelajaran konvensional juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya :
1. Materi yang dapat dikuasai siswa sebagai hasil dari ceramah akan terbatas pada apa yang dikuasai guru. Kelemahan ini memang kelemahan yang paling dominan, karena apa yang diberikan guru adalah apa yang dikuasainya, sehingga apa yang dikuasai siswa pun tergantung pada apa yang dikuasai guru.
2. Tidak semua siswa memiliki cara belajar terbaik dengan mendengarkan.
3. Sering terjadi kesulitan untuk menjaga agar siswa tetap tertarik dengan apa yang dipelajari.
4. Guru yang kurang memiliki kemampuan bertutur yang baik, maka model pembelajaran konvensional sering dianggap sebagai model pembelajaran yang membosankan.
5. Penekanan sering hanya pada penyelesaian tugas dan daya serapnya rendah dan cepat hilang karena bersifat menghafal.
Jika dilihat dari tiga jalur modus penyampaian pesan pembelajaran, penyelenggaraan pembelajaran konvensional lebih sering menggunakan modus telling (pemberian informasi), ketimbang modus demonstrating (memperagakan) dan doing direct performance (memberikan kesempatan untuk menampilkan unjuk kerja secara langsung). Guru berasumsi bahwa keberhasilan program pembelajaran dilihat dari ketuntasannya menyampaikan seluruh materi yag ada dalam kurikulum. Penekanan aktivitas belajar lebih banyak pada buku dan kemampuan mengungkapkan kembali isi buku teks tersebut. Jadi, pembelajaran konvensional kurang menekankan pada pemberian keterampilan proses (hands-on activities).
Berdasarkan definisi atau ciri-ciri tersebut, penyelenggaraan pembelajarankonvensional merupakan sebuah praktik yang mekanistik dan diredusir menjadi pemberian informasi. Dalam kondisi ini, guru memainkan peran yang sangat penting karena mengajar dianggap memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar. Dengan kata lain, penyelenggaraan pembelajaran dianggap sebagai model transmisi pengetahuan. Dalam model ini, peran guru adalah menyiapkan dan mentransmisi pengetahuan atau informasi kepada siswa. Sedangkan peran para siswa adalah menerima,
menyimpan, dan melakukan aktivitas-aktivitas lain yang sesuai dengan informasi yang diberikan.
Adapun langkah – langkah dalam model pembelajaran konvensional terdiri dari dua tahap yang saling berkaitan yaitu :
1. Tahap persiapan
a. Merumuskan tujuan yang ingin dicapai.
Merumuskan tujuan jelas merupakan langkah awal yang harus dipersiapkan guru. Apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran dengan ceramah berakhir.
b. Menentukan pokok – pokok materi yang akan disampaikan dikelas.
Keberhasilan model pembelajaran konvensional sangat tergantung pada tingkat penguasaan guru tentang materi yang akan dibawakan. Oleh karena itu guru harus mempersiapkan pokok – pokok materi yang akan disampaikan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang harus dicapai.
2. Tahap pelaksanaan
Pada tahap ini ada tiga langkah yang harus dilakukan antara lain : a) Langkah pembukaan
Langkah pembukaan dalam model pembelajaran konvensional merupakan langkah yang menentukan. Keberhasilan model pembelajaran konvensional sangat ditentukan oleh langkah ini. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam langkah ini yaitu :
1) Menyampaikan tujuan pembelajaran.
Yakinkah bahwa siswa memahami tujuan yang akan dicapai. Oleh karena itu guru mengemukakan terlebih dahulu tujuan yang harus dicapai oeh siswa. Oleh karena itu tujuan pembelajaran akan akan mengarahkan segala aktivitas siswa.
2) Apersepsi
Apersepsi yaitu langkah menghubungkan materi pelajaran yang lalu dengan materi pelajaran yang akan disampaikan. Guna langkah apersepsi dalam langkah pembukaan ini adalah untuk mempersiapkan secara mental agar siswa mampu dan dapat menerima materi pelajaran.
b) Langkah penyajian
Langkah penyajian adalah langkah penyampaian materi pembelajaran dengan cara bertutur. Agar model pembelajaran ini berkualitas sebagai model pembelajaran, maka guru harus menjaga perhatian siswa agar tetap terarah pada materi pelajaran yang sedang disampaikan. Untuk menjaga perhatian siswa ada beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain :
1) Menjaga kontak mata secara terus menerus dengan siswa. Kontak mata adalah suatu isyarat dari guru agar siswa mau memerhatikan.
2) Gunakan bahasa yang komunikatif dan mudah dicerna oleh siswa.
3) Sajikan materi secara sistematis, tidak meloncat – loncat agar mudah ditangkap oleh siswa.
4) Menanggapi respons siswa dengan segera, artinya sekecil apa pun respon siswa harus kita tanggapi.
5) Menjaga agar kelas tetap kondusif dan menggairahkan untuk belajar.
c) Langkah mengakhiri atau menutup pelajaran.
Model pembelajaran konvensional atau metode ceramah harus ditutup agar materi pelajaran yang sudah dipahami dan dikuasai siswa tidak terbang kembali. Ciptakanlah kegiatan – kegiatan yang memungkinkan siswa tetap mengingat materi pembelajaran. Hal – hal yang dapat dilakukan antara lain :
1) Membimbing siswa untuk menarik kesimpulan atau merangkum materi pelajaran yang baru saja disampaikan.
2) Merangsang siswa untuk dapat menanggapi atau memberi semacam ulasan tentang materi pembelajaran yang telah disampaikan.
3) Melakukan evaluasi untuk mengetahui kemampuan siswa menguasai materi pembelajaran yang baru saja disampaikan.
E. Tinjauan Materi Sub Pokok Bahasan Sistem Persamaan Linear Dua