PERBEDAAN PRESTASI
BELAJARSISWAYANGMENGGUNAKAN PEMBELAJARAN MEANS ENDSANALYSIS
(MEA)DENGAN PEMBELAJARAN
KONVENSIONALPADA SUBPOKOKBAHASAN SISTEM PERSAMAANLINEARDUAVARIABEL
PADA SISWAKELAS XSMANEGERI 5KUPANG TAHUNAJARAN2013/2014
SKRIPSI
AGNES SEDON GORAN NO.REGIS : 131 09 003
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDIRA KUPANG
2013
PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR SISWA YANG MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN MEANS ENDS
ANALYSIS (MEA) DENGAN PEMBELAJARAN KONVENSIONAL PADA SUB POKOK BAHASAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 5 KUPANG
TAHUN AJARAN 2013/2014
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan
SKRIPSI
AGNES SEDON GORAN 131 09 003
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDIRA KUPANG
2013
SKRIPSI INI KUPERSEMBAHKAN UNTUK :
1. TUHAN YESUS YANG SELALU ADA DAN SENANTIASA MEMBERI KEKUATAN
2. YANG TERCINTA BAPA MATEUS MAMU BEDA DAN MAMA KRISTINA SEDO SUBAN 3. KAKAK KASMIRUS BOLI, DAN ADIK BEJU,
EXSIS, IRNA, ANSI
4. ALMAMATERKU TERCINTA
KAN KUHAPUS KERINGAT DAN AIR
MATA KEDUA
ORANGTUAKU DENGAN
SAPU TANGAN
KEBERHASILAN
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas penyertaan dan bimbingan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan judul : PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR SISWA YANG MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN MEANS ENDS ANALYSIS DENGAN PEMBELAJARAN KONVENSIONAL PADA SUB
POKOK BAHASAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 5 KUPANG TAHUN AJARAN 2011/2012 dengan baik.
Begitu besar anugerah Tuhan yang penulis rasakan lewat orang–orang terdekat penulis yang dengan berbagai caranya masing-masing telah membantu penulis dalam meraih gelar sarjana, semoga Tuhan selalu dan senantiasa menyertai, dan membimbing mereka. Sehingga dengan rendah hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Drs.Alfons Bunga Naen, M.Pd selaku Dekan FKIP Unwira yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian.
2. Bapak Samuel Igo Leton, S.Pd, M.Pd selaku Ketua Program Studi Pendidikan Matematika yang telah mengijinkan penulis untuk melaksanakan penelitian.
3. Bapak Dr.Agapitus H. Kaluge, M.Pd selaku penasehat akademik sekaligus sebagai pembimbing I yang telah membimbing penulis dengan penuh tanggung jawab sejak penyusunan proposal hingga penyusunan skripsi ini.
4. Ibu Dra.Yohana R. Rowa, M.Pd selaku ketua jurusan Pendidikan MIPA Unwira sekaligus sebagai pembimbing II yang telah membimbing penulis dengan penuh tanggung jawab sejak penyusunan proposal hingga penyusunan skripsi ini.
5. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Pendidikan Matematika yang telah membimbing penulis selama proses perkuliahan dengan muatan praktis kependidikan dan keguruan.
6. Pegawai Tata Usaha Program Studi Pendidikan Matematika yang sudah mengurus segala adsministrasi sehingga penulis dapat melakukan penelitian tepat pada waktu yang telah dijadwalkan.
7. Bapak Wali Kota Kupang dan Kepala SMA Negeri 5 Kupang yang telah memberikan rekomendasi dan ijin penelitian kepada penulis.
8. Ibu Dra.Fransiska R. Muda yang telah membantu penulis selama melakukan penelitian guna menyusun skripsi ini.
9. Siswa-siswa SMA Negeri 5 Kupang kelas XH dan XI semester ganjil tahun ajaran 2013/2014.
10. Teman-teman seperjuangan angkatan 2009 Program Studi Pendidikan Matematika khususnya buat D’nyai dan Sengelenge yang telah memberikan dorongan , motivasi dan bantuan untuk menyelesaikan skripsi ini.
11. Keluarga besar Wunblolong, Bapak Besu, Bapak Payong, Mama Lonek, Mama Lena, Mama Uba, Mama Prada, Kaka Ris, Kaka Apolo, Kaka Titi, Kaka Maria, Kaka Tina, yang selalu setia mendorong dan mendoakan
penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan studi di FKIP Unwira Kupang.
12. Keluarga besar Lamawitak, Om Bernadus Duhan, Om Dismas, Om Stef, om Deni,Om Boli, Om Koren, Om Jhon Sili, Om Kopong, Om Frans,Wae Prada, Wae Ning, Wae Tekla, Wae Ose, Wae Yus, Mama Olan, Mama Rini, yang selalu setia memberikan dukungan baik moril maupun material sehingga penulis dapat menyelesaikan studi di FKIP Unwira Kupang ini.
13. Saudara Yosafat O. Boli, Damianus Tara, kekasih tersayang Kristoforus Ndona, teman-teman asrama St.Louis yang selalu memberi dukungan dan bantuan selama masa perkuliahan.
14. Pihak – pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu memberikan dukungan baik secara langsung maupun tidak langsung bagi kelancaran penelitian dalam penulisan skripsi ini.
Penulis menyadari skripsi ini masih belum sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan kritik, saran yang bersifat membangun dari semua pihak yang sempat membaca tulisan ini guna penyempurnaan skripsi ini.
Tuhan menyertai.
Kupang, 2013
Penulis
PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR SISWA YANG MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN MEANS ENDS ANALYSIS (MEA) DENGAN PEMBELAJARAN KONVENSIONAL PADA SUB POKOK BAHASAN
SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 5 KUPANG TAHUN AJARAN 2013/2014
ABSTRAK
Penelitian ini bertolak dari masalah utama yaitu apakah ada perbedaan prestasi belajar siswa yang menggunakan pembelajaran means ends analysis dengan pembelajaran konvensional pada sub pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel siswa kelas X SMA Negeri 5 Kupang tahun ajaran 2013/2014?
Untuk menjawab masalah di atas, peneliti menggunakan penelitian eksperimen yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai yaitu untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan prestasi belajar siswa yang menggunakan pembelajaran means ends analysis(MEA)dengan pembelajaran konvensional pada sub pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel pada siswa kelas X SMA Negeri 5 Kupang tahun ajaran 2013/2014.
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri Kupang tahun ajaran 2013/2014 yang terdiri dari delapan kelas kelas dengan jumlah siswa 256 0rang. Pemilihan sampel dilakukan dengan cara acak. Dari pengacakan sampel terpilih kelas XH yang terdiri dari 30 siswa dan kelas XI yang terdiri dari 30 siswa. Dengan demikian jumlah sampel adalah 60 siswa. Uji persyaratan analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji homogenitas yang menggunakan One-Way Anova, uji normalitas yang menggunakan uji Kolmogrof- Sminov Test dan uji hipotesisnya menggunakan uji t.
Berdasarkan hasil analisis, diperoleh pada tabel Independen Samples Test sebesar 9,480 dan = 2,002 dengan taraf signifikan sebesar 0,05 dan dk = 58. Dari hasil perhitungan = 2,002. Jadi hipotesis alternatif (Ha) diterima maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan prestasi belajar siswa dengan menggunakan pembelajaran means ends analysis (MEA) dengan pembelajaran konvensional pada sub pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel pada siswa kelas X SMA Negeri 5 Kupang tahun ajaran 2013/2014.
Berdasarkan kesimpulan diatas, penulis menyarankan agar guru bidang studi matematika dapat menerapkan pembelajaran means ends analysis (MEA) khususnya pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel.
DIFFERENCES IN LEARNING ACHIEMENT OF STUDENTS USING LEARNING MEANS ENDS ANALYSIS (MEA) WITH CONVENTIONAL
LEARNING ON THE SUBJECT OF THE SUB SYSTEM OF LINEAR EQUATIONS IN TWO VARIABELS ON STUDENTS CLASS X SMA
NEGERI 5 KUPANG SCHOOL YEAR 2013/2014.
ABSTRACT
This research from the mainissue, namely whether there is a difference between learning achievements of students using learning means ends analysis with conventional learning on the subject of the sub system of linear equations in two variabels on students class X SMA Negeri 5 Kupang school year 2013/2014?
To address the above problem,researcher use research experiments in accordance with the objective to achieve, namely to know or no differences in learning achievement of students using learning means ends analysis (MEA) with conventional learning on the subject of the sub systems of linear equations in two variables on students class X SMA Negeri 5 Kupang school year 2013/2014.
Population in this research is a student X SMA Negeri 5 Kupang the academic year 2013 / 2014 consisting of eight class a class by the number of students 256 students. Selection samples conducted by ways of random. Of randomization samples elected class xh consisting of 30 students a and class xi consisting of 30 students. Thus the number of samples is 60 students. Test the requirements analysis used in this research is a test of homogeneity who uses one- way anova, a test of normality who uses test kolmogrof-sminov test and test hipotesisnya using test t.
Based on the results of analysis, retrieved thitung on independent samples test table of 9,480 and ttable = 2,002 with a significant level of 0,05 and dk = 58.
So the alternative hypothesis (Ha) is accepted then it can be inferred that there is a difference between learning achievements of students using learning means ends analysis (MEA) with conventional learning on the subject of the sub systems of linear equations in two variables on students class X SMA Negeri 5 Kupang school year 2013/2014.
Based on the conclusion by way of writer suggested that the teacherfield of study math can apply learning means ends analysis (MEA), especially in on the subjects of a system of linear equations two variables.
DAFTAR ISI
Halaman Halaman Judul
Halaman Pengesahan ... ... ii
Dewan penguji ... ... iii
Moto dan Persembahan ... ... iv
Kata Pengantar ... ... v
Abstrak ... …… ...vi
Abstract ... ... vii
Daftar Isi ... ...viii
Daftar Tabel ... ………....ix
Daftar Lampiran ... …...……x
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... ... 1
B. Rumusan Permasalahan ... ... 4
C. Tujuan Penelitian ... ... 4
D. Asumsi dan Kerbatasan ... ... .... 5
E. Batasan Istilah ... ... .... 5
F. Manfaat Penelitian ... ... .... 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Hakekat Belajar dan Pembelajaran Matematika ... ... 7
B. Teori yang mendukung pembelajaran Means End Analysis ... ... 9
C. Pembelajaran Means Ends Analysis ... ... 11
D. Pembelajaran Konvensional ... ... 16
E. Tinjauan Materi Sub Pokok Bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel ... ... 22
F. Hipotesis Penelitian ... ... 25
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan Desain Eksperimen ... ... 26
B. Populasi dan Sampel ... ... 27
C. Variabel Penelitian ... ... 27
D. Waktu dan Tempat Penelitian ... ... 27
E. Teknik Pengumpulan Data ... ... 28
F. Analisis Statistik ... ... 29
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Analisis Data ... ... 35
B. Pembahasan Hasil Penelitian ... ... 38
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... ... 42
B. Saran ... ... 42 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 3.1 Desain Eksperimen... 26
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : RPP Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Lampiran 2 : LKS ( LEMBAR KERJA SISWA)
Lampiran 3 : Soal Setelah Divalidasi Lampiran 4 : Soal Tes Prestasi Belajar Lampiran 5 : Data hasil Tes
Lampiran 6 : Raiting Scale Lampiran 7 : OutPut SPSS Lampiran 8 : Analisis Manual
Lampiran 9 : Tabel Distribusi F, Tabel Distribusi T, tabel kolmogrov Lampiran 10 : Surat - Surat
Lampiran 11 : Dokumentasi Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Melalui pendidikan akan tercipta perubahan tingkah laku dari seseorang yaitu dari sebelumnya tidak tahu menjadi tahu dan mengerti tentang sesuatu hal. Menurut UU No.30 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional pendidikan merupakan usaha secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peseta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, kepribadian, aklak mulia serta keterampilan untuk dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Untuk mewujudkan tujuan pendidikan Nasional tersebut disusunlah kurikulum yang sesuai dan dijadikan pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Dalam lingkup pendidikan sekolah, siswa harus mempelajari banyak mata pelajaran. Salah satunya adalah mata pelajaran matematika. Matematika merupakan salah satu bidang studi yang dipelajari mulai dari tingkat TK sampai tingkat perguruan tinggi. Peranan matematika banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti untuk menyajikn informasi, kemampuan berpikir logis, dan usaha memecahkan masalah yang menentang sesuai perkembangan dan kemajuan teknologi yang terjadi. Matematika sering dianggap sebagai pelajaran yang membosankan, ditakuti bahkan dihindari oleh sebagian siswa.
Sebagaimana tercantum dalam Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) dalam KTSP (2006:345) bahwa tujuan diberikan matematika mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah adalah untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kreatif, serta kemampuan bekerja. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.
Tujuan utama dari mengajar dan belajar matematika adalah untuk mengembangkan kemampuan menyelesaikan berbagai masalah matematika kompleks yang mendalam. (Jacob, 2010:2). Guru merupakan salah satu faktor yang dapat mengoptimalkan minat belajar siswa sehingga dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, guru perlu menciptakan suasana kondusif sehingga dapat memelihara perhatian dan semangat siswa dalam mengikuti pelajaran. Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki kemampuan dan keterampilan yang baik serta professional di dalam bidangnya, sehingga dapat menghasilkan peserta didik yang berprestasi.
Peningkatan prestasi yang sesuai dengan bidang keahlian dapat dicapai dengan meningkatkan prestasi belajar. Peningkatan prestasi yang memuaskan serta tercapainya tujuan pendidikan merupakan harapan bagi setiap siswa yang mengikuti proses pendidikan. Tugas siswa untuk mencapai prestasi dan tujuan pendidikan yakni melalui kegiatan belajar. Kegiatan belajar yang berlangsung dengan baik akan membantu mencapainya sebuah prestasi yang
memang sesuai dengan potensi dan keahlian yang dimiliki.Beberapa aspek yang harus dikuasai oleh mahasiswa yakni keahlian dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. (Jematu,2012 : 2)
Berdasarkan praktek pengalaman lapangan (PPL), mata pelajaran matematika di SMA Negeri 5 Kupang bahwa siswa kelas X mengalami kesulitan dalam mempelajari pelajaran matematika, karena siswa kurang mempersiapkan diri sebelum pembelajaran berlangsung. Adapun sebagian besar siswa kurang aktif dalam mengikuti proses pembelajaran matematika dan masih berpatokan pada guru (teacher centered).Salah satu model pembelajaran yang membantu agar aktifitas mental yang kompleks dimana melibatkan visualisasi, imajinasi, abstraksi, dan asosiasi gagasan atau ide-ide dalam menemukan strategi atau prosedur untuk menemukan solusi adalah pembelajaran Means Ends Analysis (MEA). Melalui pembelajaran MEA, siswa tidak akan dinilai berdasarkan hasil saja, namun berdasarkan proses pengerjaan. Selain itu siswa dituntut untuk mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai atau masalah apa yang hendak diselesaikan dan memecahkan suatu masalah ke dalam dua atau lebih sub tujuan dan kemudian dikerjakan berturut-turut pada masing-masing sub tujuan tersebut. Pembelajaran ini juga lebih memusatkan pada perbedaan antara pernyataan sekarang dengan tujuan yang hendak dicapai.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis merasa tertarik untuk mengadakan suatu penelitian dengan judul : Perbedaan Prestasi Belajar Siswa Yang Menggunakan Pembelajaran Means Ends Analysis (MEA) dengan Pembelajaran Konvensional pada sub pokok bahasan sistem persamaan
linear dua variabel Siswa Kelas X Semester Ganjil SMA Negeri 5 Kupang tahun ajaran 2013/2014.
B. Rumusan Permasalahan
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, maka permasalah dalam penelitian ini adalah: apakah ada Perbedaan Prestasi Belajar Siswa Yang Menggunakan Pembelajaran Means Ends Analysis (MEA) dengan Pembelajaran Konvensional pada sub pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel Siswa Kelas X Semester Ganjil SMA Negeri 5 Kupang tahun ajaran 2013/2014?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidak Perbedaan Prestasi Belajar Siswa Yang Menggunakan Pembelajaran Means Ends Analysis (MEA) Dengan Pembelajaran Konvensional pada sub pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel Siswa Kelas X Semester Ganjil SMA Negeri 5 Kupang tahun ajaran 2013/2014.
D. Asumsi dan Keterbatasan 1. Asumsi
Dalam penelitian ini terdapat beberapa asumsi sebagai berikut :
a. Pelaksanaan proses belajar – mengajar pada SMA berjalan sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
b. Proses pembelajaran berjalan dengan efektif dan efisien.
c. Dalam mengerjakan soal, siswa mengerjakan sendiri.
2. Keterbatasan
a. Penelitian ini terbatas pada perbedaan prestasi belajar siswa yang menggunakan pembelajaran MEA dengan pembelajaran konvensional pada sub pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel siswa kelas X semester ganjil SMA Negeri 5 Kupang tahun ajaran 2013/2014.
b. Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini dapat diterima sejauh asumsi diatas terpenuhi.
E. Batasan Istilah
1. Perbedaan : membandingkan selisih dua nilai atau lebih dari suatu besaran yang sejenis dan dinyatakan dengan cara yang sederhana.
2. Means Ends Analysis adalah strategi belajar mengajar yang menganalisa suatu masalah dengan bermacam cara sehingga mendapatkan hasil atau tujuan akhir.
3. Prestasi belajar adalah: taraf keberhasilan sebuah proses pembelajaran yang dicapai oleh seseorang siswa setelah melakukan kegiatan pembelajaran yang dinyatakan dalam raport.
4. Pembelajaran konvensional.
Merupakan model pembelajaran yang digunakan guru dalam proses pembelajaran dan metode yang dipakai dalam metode ceramah yang berpusat pada guru.
F. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Bagi Siswa
a. Siswa mendapat variasi dalam pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran Means Ends Analysis.
b. Diharapkan siswa dapat meningkatkan prestasi belajar matematika dan lebih termotivasi untuk belajar.
2. Bagi guru
Pembelajaran Means Ends Analysis ini dapat dijadikan salah satu alternatif salah satu pembelajaran matematika di kelas dalam upaya meningkatkan prestasi belajar matematika.
3. Bagi sekolah
Dapat memberi masukan yang berarti/bermakna pada sekolah dalam rangka perbaikan atau peningkatan pembelajaran.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Hakekat Belajar dan Pembelajaran Matematika 1. Pengertian Belajar
Belajar merupakan suatu proses pembentukan tingkah laku seseorang sebagai hasil pengalaman yang berulang – ulang dalam memenuhi kebutuhan.
Kegiatan belajar sifatnya kompleks dan tidak dapat dilihat dengan nyata dan terjadi dalam diri individu.
Menurut Gange (Jematu,2012:7) belajar merupakan kecenderungan perubahan pada diri manusia yang dapat dipertahankan selama proses pertumbuhan. Hal ini dijelaskan kembali oleh Gange bahwa belajar merupakan suatu peristiwa yang terjadi di dalam kondisi-kondisi tertentu yang dapt diamati, diubah dan dikontrol.
Menurut Slameto (1988:2), Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri didalam interaksi dengan lingkungannya.
Senada dengan itu Morgan (Do carmo:2009), mendefinisikan belajar sebagai perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman. Ada tiga unsur yang terdapat dalam definisi ini yaitu:
a. Belajar adalah perubahan tingkah laku.
b. Perubahan itu terjdi karena latihan atau pengalaman.
c. Perubahan harus relatif dan permanent dan tetap ada untuk jangka waktu yang cukup lama.
Dari uraian di atas peneliti menyimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan secara sadar, bersifat kontinu baik dalam tingkah laku ataupun pengetahuan yang mempunyai tujuan terarah sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya.
2. Pembelajaran Matematika
Pembelajaran dapat diartikan sebagai usaha sadar dari seorang guru untuk membelajarkan siswanya (mengarahkan interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan. Hubungan dengan pelajaran matematika, Nikson (Jematu,2012:9) mengemukakan bahwa pembelajaran matematika adalah suatu upaya membantu siswa untuk mengkonstruksi (membangun) konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi sehingga konsep atau prinsip itu terbangun kembali. Dengan demikian pembelajaran matematika dapat didefinisikan sebagai suatu proses membangun pemahan siswa terhadap materi matematika.
3. Prestasi Belajar
Menurut Winkel (Raton,2012:12) prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapai. Prestasi tidak selamanya tergantung pada suatu kepandaian dan ketekunan saja, tetapi tergantung pula pada cara belajar yang efisien. Dengan demikian walaupun
siswa memiliki kemampuan tetapi cara belajar yang digunakan tidak efisien maka hasil yang diperoleh tentu jauh berbeda dari apa yang diharapkan.
Menurut Tirtonegoro (Kewa, 2012 : 14) prestasi belajar adalah usaha kegiatan belajar yang dinilai dalam bentuk angka, huruf, simbol maupun kalimat yang mencerminkan hasil yang telah dicapai oleh setiap siswa dalam periode tertentu. Untuk mengetahui tingkat prestasi belajar matematika dan tujuan pembelajaran yang dicapai maka diadakan tes atau evaluasi prestasi belajar matematika.
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan taraf keberhasilan sebuah proses pembelajaran yang dicapai oleh seseorang setelah melakukan kegiatan pembelajaran yang dinyatakan dalam raport. Prestasi ditunjukan dengan skor atau angkah yang menunjukan nilai- nilai dari sejumlah mata pelajaran yang menggambarkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa, serta untuk dapat memperoleh nilai digunakan tes terhadap mata pelajaran lebih dahulu. Hasil tes inilah yang menunjukan keadaan tinggi rendahnya prestasi yang dicapai oleh siswa.
B. Teori yang mendukung strategi pembelajaran MEA 1. Teori Belajar David Ausubel
Menurut Ausubel (Leton, 2004:23) belajar dapat klasifikasikan ke dalam dua dimensi, yaitu:
a. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi
atau materi pelajaran disajikan pada siswa melalui penerimaan ata unemuan
b. Dimensi kedua menyangkut cara bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada.
Pada tingkat pertama dalam belajar informasi dikomunikaskan pada siswa baik dalam bentuk belajar penerimaan yang menyajikan informasi itu dalam bentuk final maupundengan bentukbelajar penemuan yang mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri sebagian atau seluruh materi yang akan diajarkan pada tingkat kedua, siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi pada pengetahuan yang telah dimilikinya, dalam hal ini terjadi belajar bermakan. Akan tetapi siswa dapat juga hanya mencoba – coba menghafalkan informas baru itu, tanpa menghubungkannya pada konsep – konsep yang telah ada dalam struktur kognitifnya dalam hal ini terjadi belajar hafalan. Ausubel membedakan antara belajar bermakna dan belajar hafalan.
Belajar bermakna merupakan proses belajar dimana informasi baru dibuka dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki siswa yang sedang belajar.
Belajar menghafal bila siswa memperoleh informasi baru dalam pengetahuan yang sama sekali tidak berhubungan dengan yang telah diketahui sebelumnya.
Kaitan dengan proses belajar mengajar dalam hal ini mengaitkan informasi baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki oleh siswa.
2. Teori belajar Vygostky
Perkembangan intelektual terjadi pada saat indivdu berhadapan dengan pengalaman baru dan menatang, dan ketika mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang dimunculkan. Dalam upaya mendapatkan pemahaman, individu berusaha mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan awal yang telah dimilikinya kemudian membangun pengertian baru. (Leton,2004:21)
3. Teori Belajar Bruner
Menurut Bruner (Leton,2004:7) dalam bukunya perkembangan belajar menekankan bahwa setiap individu pada waktu mengalami atau mengenal peristiwa atau benda dialam lingkungan, menemukan cara untuk menyatakan kembali peristiwa atau benda tersebut didalam pikirannya, yaitu suatu model mental tentang peristiwa atau benda yang dialaminya atau dikenalnya.
C. Pembelajaran Means Ends Analysis (MEA) 1. Pengertian Means Ends Analysis (MEA)
MEA terdiri dari tiga unsur kata yakni; Means, Ends dan Analysis. Means berarti banyaknya cara, sedangkan End adalah akhir atau tujuan, dan Analysis berarti analisa atau penyelidikan secara sistematis. Jadi, MEA adalah strategi belajar mengajar yang menganalisa suatu masalah dengan bermacam cara sehingga mendapatkan hasil atau tujuan akhir.
MEA pertama kali diperkenalkan oleh Newell dan Simon (wikipedia, 2007) dalam General Problem Solving (GPS), yang menyatakan bahwa MEA
adalah suatu teknik pemecahan masalah di mana pernyataan sekarang dibandingkan dengan tujuan, dan perbedaan di antaranya dibagi ke dalam sub- sub tujuan untuk memperoleh tujuan dengan menggunakan operator yang sesuai.
Yang mengandung pengertian bahwa MEA merupakan metode pemikiran sistem dalam penerapannya merencanakan tujuan keseluruhan, dimana tujuan tersebut dijadikan kedalam beberapa tujuan yang pada akhirnya menjadi beberapa langkah atau tindakan berdasarkan konsep yang berlaku. Dan pada setiap akhir tujuan akan berakhir pada tujuan yang lebih umum. Sedangkan menurut Zaheer (2006) : MEA merupakan salah satu yang penting dalam mencari algoritma matematika dan digunakan pada semua aplikasi yang dibutuhkan seluruh pencarian untuk mendapatkan hasil. MEA juga digunakan untuk keefektifan dalam pencarian distribusi dari sebuah pemikiran. Eeden (2003) suatu pemecahan masalah mempunyai beberapa situasi dengan menentukan hasil, mengidentifikasi perbedaan diantara masalah tersebut dan menentukan tindakan untuk menemukan kesamaan dari perbedaan tersebut”.
Selanjutnya Suherman (2007) menyatakan MEA merupakan model pembelajaran variasi antara metode pemecahan masalah dengan sintaks yang menyajikan materinya pada pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristik, mengelaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana, mengidentifikasi perbedaan, menyususun sub-sub masalahnya sehingga terjadi koneksivitas. Kemudian Jacob (2005) menyatakan bahwa Means-Ends
Analysis merupakan suatu proses untuk memecahkan suatu masalah ke dalam
dua atau lebih subtujuan.
Dari uraian di atas bahwa strategi pembelajaran MEA merupakan suatu strategi pembelajaran bervariasi antara metode pemecahan masalah dengan sintaks dalam penyajian materinya menggunakan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristik, yaitu memecahkan suatu masalah ke dalam dua atau lebih sub tujuan. Di mana MEA mengelaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana, mengidentifikasi perbedaan, dan menyusun sub-sub masalahnya sehingga terjadi koneksivitas.
2. Strategi Means-Ends Analysis
Adapun dalam menerapkan langkah-langkah dalam strategi MEA, Glass &
Holyoak (Jacob , 2010), menyatakan bahwa komponen utama dari MEA memuat dua langkah yang digunakan berulang-ulang. Yang dalam hal ini mengidentifikasi perbedaan diantara pernyataan sekarang dan tujuan yang ditentukan.Kemudian menggunakan suatu tindakan untuk mengurangi satu dari perbedaan.
Kemudian Herbert (2003) menyatakan bahwa langkah-langkah yang dimiliki oleh pembelajaran MEA hampir memiliki persamaan dengan model pemecahan masalah (Problem Solving) karakteristik permasalahannya yakni:
pertama, Problem Space, dimana masalah dibagi ke dalam suatu konfigurasi beberapa kemungkinan-kemungkinan, yang kedua yakni, Problem State dimana inti dari suatu masalah tersebut di buat ke dalam beberapa bagian konfigurasi particular masalah, kemudian yang ketiga yakni, Key to solving is
a problem is to choose the right operators, dimana kunci untuk suatu
pemecahan adalah suatu masalah yang harus dipilih dalam proses perubahan dari masalah tersebut, dan yang keempat yakni, Problem solving is a search process: Each action takes us front one part of the problem space to another,
dimana suatu pemecahan masalah adalah proses pemilihan satu tindakan dari beberapa masalah yang ada.
Sedangkan Kamran (2006), menyatakan bahwa langkah-langkah dalam mempergunakan pembelajaran MEA adalah sebagai berikut: (a) Mentransfer inti masalah ke dalam beberapa bagian dari masalah tersebut, (b) Bagian tersebut diolah, (c) Bagian masalah tersebut dikirimkan untuk mencari kesamaan dari beberapa perbedaan. Jacob (2010) menambahkan, apabila kita mempergunakan pembelajaran MEA agar dapat menyelesaikan masalah dengan cepat dan mudah, kita dapat memulainya dengan cara: (a) Mendahulukan petunjuk/arahan, dari pernyataan awal sampai pernyataan tujuan, (b) Terbalik mulai dari pernyataan tujuan sampai kepada pernyataan awal.
Dari konsep di atas disimpulkan bahwa langkah-langkah pembelajaran MEA adalah:
a. Mengidentifikasi perbedaan antara pernyataan sekarang dan tujuan yang ditentukan
b. Menyusun subtujuan untuk mengurangi perbedaan tersebut
c. Memilih operator yang tepat sehingga subtujuan yang telah disusun dapat dicapai
d. Ulangi sehingga mendapat tujuan akhir
Berdasarkan konsep di atas jelas bahwa setiap tujuan yang dicapai ada dalam cara/langkah itu sendiri untuk mendapatkan tujuan yang lebih umum dan rinci. Pembelajaran MEA juga dapat mengembangkan berpikir reflektif, kritis, logis, sistematis dan kreatif.
Keunggulan dari pembelajaran MEA, sebagai berikut:
a. Merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
b. Melatih dan membiasakan siswa untuk berani berpikir lain dari yang lainnya.
c. Memberikan kesempatan siswa berdiskusi dengan siswa yang lainnya, yaitu pada proses menemukan jawaban dari permasalahan.
d. Dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.
e. Dapat mendorong siswa untuk menyusun teorinya melalui berpikir secara kritis dan berpikir secara kreatif.
Kelemahan dari pembelajaran MEA, sebagai berikut:
a. Siswa tidak memiliki minat atau tidak memiliki kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, siswa akan merasa enggan untuk mencoba.
b. Besarnya jumlah siswa dalam setiap kelas juga merupakan salah satu hambatan yang sangat berat. Karena ini bisa menyebabkan sulitnya bagi guru untuk berinteraksi degan muridnya ketika MEA diterapkan.
c. Keberhasilan strategi pembelajaran membutuhkan waktu yang cukup lama untuk persiapan.
D. Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran pada dasarnya adalah proses penambahan informasi dan kemampuan. Seorang guru dituntut untuk menguasai model pembelajaran yang digunakannya agar dapat memberikan nilai tambah bagi anak didiknya.
Selanjutnya yang tidak kalah pentingnya dari nilai proses pembelajarannya adalah hasil belajar yang optimal atau maksimal. Salah satu model pembelajaran yang masih berlaku dan sangat banyak digunakan oleh guru adalah model pembelajaran konvensional. Walaupun pembelajaran ini banyak dikritik tapi metode inilah yang paling banyak digunakan oleh pengajar dalam proses pembelajaran. Pembelajaran konvensional mempunyai beberapa pengertian menurut para ahli, diantaranya:
Djamarah (http://ads3.kompasads.com/new/www/) model pembelajaran
konvensional adalah model pembelajaran tradisional atau disebut juga dengan metode ceramah, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar dan pembelajaran. Dalam pembelajaran, sejarah metode konvensional ditandai dengan ceramah yang diiringi dengan penjelasan, serta pembagian tugas dan latihan.
Freire (http://ads3.kompasads.com/new/www/) memberikan istilah terhadap pengajaran seperti itu sebagai suatu penyelenggaraan pendidikan “bergaya
bank” (banking concept of education). Penyelenggaraan pendidikan hanya dipandang sebagai suatu aktivitas pemberian informasi yang harus “ditelan”
oleh siswa, yang wajib diingat dan dihafal. Dalam pembelajaran konvensional, cenderung pada Belajar hafalan yang mengacu pada penghafalan fakta-fakta, hubungan - hubungan, prinsip, dan konsep.
Di sini terlihat bahwa proses pembelajaran yang lebih didominasi guru sebagai “pentransfer” ilmu, sementara siswa lebih pasif sebagai “penerima”
ilmu. Institute of Computer Technology menyebutnya dengan istilah
“Pengajaran tradisional”. Dijelaskannya bahwa pengajaran tradisional yang berpusat pada guru adalah perilaku pengajaran yang paling umum yang diterapkan di sekolah-sekolah di seluruhdunia (http://blog.tp.ac.id/model- pembelajaran konvensional#ixzz1ntvnyqE9).
Secara umum, ciri-ciri pembelajaran konvensional adalah:
1. Siswa adalah penerima informasi secara pasif, dimana siswa menerima pengetahuan dari guru dan pengetahuan diasumsinya sebagai badan dari informasi dan keterampilan yang dimiliki sesuai dengan standar.
2. Belajar secara individual.
3. Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis.
4. Perilaku dibangun atas kebiasaan.
5. Guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran.
6. Interaksi di antara siswa kurang.
Namun perlu diketahui bahwa pengajaran dengan menggunakan model pembelajaran konvensional dipandang efektif atau mempunyai keunggulan antara lain :
1. Model pembelajaran konvensional merupakan model pembelajaran yang “murah” dan “mudah” untuk dilakukan.
2. Dapat menyajikan materi yang luas.
3. Melalui model pembelajaran konvensional, guru dapat mengontrol keadaan kelas.
4. Organisasi kelas dengan menggunakan model pembelajaran konvensional dapat diatur menjadi lebih sederhana.
Di samping beberapa keunggulan di atas, model pembelajaran konvensional juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya :
1. Materi yang dapat dikuasai siswa sebagai hasil dari ceramah akan terbatas pada apa yang dikuasai guru. Kelemahan ini memang kelemahan yang paling dominan, karena apa yang diberikan guru adalah apa yang dikuasainya, sehingga apa yang dikuasai siswa pun tergantung pada apa yang dikuasai guru.
2. Tidak semua siswa memiliki cara belajar terbaik dengan mendengarkan.
3. Sering terjadi kesulitan untuk menjaga agar siswa tetap tertarik dengan apa yang dipelajari.
4. Guru yang kurang memiliki kemampuan bertutur yang baik, maka model pembelajaran konvensional sering dianggap sebagai model pembelajaran yang membosankan.
5. Penekanan sering hanya pada penyelesaian tugas dan daya serapnya rendah dan cepat hilang karena bersifat menghafal.
Jika dilihat dari tiga jalur modus penyampaian pesan pembelajaran, penyelenggaraan pembelajaran konvensional lebih sering menggunakan modus telling (pemberian informasi), ketimbang modus demonstrating (memperagakan) dan doing direct performance (memberikan kesempatan untuk menampilkan unjuk kerja secara langsung). Guru berasumsi bahwa keberhasilan program pembelajaran dilihat dari ketuntasannya menyampaikan seluruh materi yag ada dalam kurikulum. Penekanan aktivitas belajar lebih banyak pada buku dan kemampuan mengungkapkan kembali isi buku teks tersebut. Jadi, pembelajaran konvensional kurang menekankan pada pemberian keterampilan proses (hands-on activities).
Berdasarkan definisi atau ciri-ciri tersebut, penyelenggaraan pembelajarankonvensional merupakan sebuah praktik yang mekanistik dan diredusir menjadi pemberian informasi. Dalam kondisi ini, guru memainkan peran yang sangat penting karena mengajar dianggap memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar. Dengan kata lain, penyelenggaraan pembelajaran dianggap sebagai model transmisi pengetahuan. Dalam model ini, peran guru adalah menyiapkan dan mentransmisi pengetahuan atau informasi kepada siswa. Sedangkan peran para siswa adalah menerima,
menyimpan, dan melakukan aktivitas-aktivitas lain yang sesuai dengan informasi yang diberikan.
Adapun langkah – langkah dalam model pembelajaran konvensional terdiri dari dua tahap yang saling berkaitan yaitu :
1. Tahap persiapan
a. Merumuskan tujuan yang ingin dicapai.
Merumuskan tujuan jelas merupakan langkah awal yang harus dipersiapkan guru. Apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran dengan ceramah berakhir.
b. Menentukan pokok – pokok materi yang akan disampaikan dikelas.
Keberhasilan model pembelajaran konvensional sangat tergantung pada tingkat penguasaan guru tentang materi yang akan dibawakan. Oleh karena itu guru harus mempersiapkan pokok – pokok materi yang akan disampaikan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang harus dicapai.
2. Tahap pelaksanaan
Pada tahap ini ada tiga langkah yang harus dilakukan antara lain : a) Langkah pembukaan
Langkah pembukaan dalam model pembelajaran konvensional merupakan langkah yang menentukan. Keberhasilan model pembelajaran konvensional sangat ditentukan oleh langkah ini. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam langkah ini yaitu :
1) Menyampaikan tujuan pembelajaran.
Yakinkah bahwa siswa memahami tujuan yang akan dicapai. Oleh karena itu guru mengemukakan terlebih dahulu tujuan yang harus dicapai oeh siswa. Oleh karena itu tujuan pembelajaran akan akan mengarahkan segala aktivitas siswa.
2) Apersepsi
Apersepsi yaitu langkah menghubungkan materi pelajaran yang lalu dengan materi pelajaran yang akan disampaikan. Guna langkah apersepsi dalam langkah pembukaan ini adalah untuk mempersiapkan secara mental agar siswa mampu dan dapat menerima materi pelajaran.
b) Langkah penyajian
Langkah penyajian adalah langkah penyampaian materi pembelajaran dengan cara bertutur. Agar model pembelajaran ini berkualitas sebagai model pembelajaran, maka guru harus menjaga perhatian siswa agar tetap terarah pada materi pelajaran yang sedang disampaikan. Untuk menjaga perhatian siswa ada beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain :
1) Menjaga kontak mata secara terus menerus dengan siswa. Kontak mata adalah suatu isyarat dari guru agar siswa mau memerhatikan.
2) Gunakan bahasa yang komunikatif dan mudah dicerna oleh siswa.
3) Sajikan materi secara sistematis, tidak meloncat – loncat agar mudah ditangkap oleh siswa.
4) Menanggapi respons siswa dengan segera, artinya sekecil apa pun respon siswa harus kita tanggapi.
5) Menjaga agar kelas tetap kondusif dan menggairahkan untuk belajar.
c) Langkah mengakhiri atau menutup pelajaran.
Model pembelajaran konvensional atau metode ceramah harus ditutup agar materi pelajaran yang sudah dipahami dan dikuasai siswa tidak terbang kembali. Ciptakanlah kegiatan – kegiatan yang memungkinkan siswa tetap mengingat materi pembelajaran. Hal – hal yang dapat dilakukan antara lain :
1) Membimbing siswa untuk menarik kesimpulan atau merangkum materi pelajaran yang baru saja disampaikan.
2) Merangsang siswa untuk dapat menanggapi atau memberi semacam ulasan tentang materi pembelajaran yang telah disampaikan.
3) Melakukan evaluasi untuk mengetahui kemampuan siswa menguasai materi pembelajaran yang baru saja disampaikan.
E. Tinjauan Materi Sub Pokok Bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV)
Suatu persamaan linear dengan dua variabel (yang tidak diketahui) x dan y dapat ditulis dalam bentuk:
a, b R , a1, a2 0
Secara lebih umum, mendefenisikan persamaan linear dalam n peubah sebagai persamaan yang dapat dinyatakan dalam bentuk
dengan Perhatikan dua persamaan berikut:
Dua persamaan linear dengan dua variabel diatas, dapat membentuk sistem persamaan linear dalam dua variabel, jika penyelesaian SPLDV tersebut adalah pasangan bilangan (x, y) yang memenuhi kedua persamaan tersebut.
Himpunan penyelesaian suatu SPLDV ditentukan dengan beberapa cara, diantaranya dengan menggunakan:
1. Metode grafik
Grafik dari persamaan linear berupa garis lurus, penyelesaian dari pasangan persamaan linear adalah titik potong dari kedua garis lurus tersebut. Misalnya garis dan . Karena titik (x, y) terletak pada suata garis jika dan hanya jika bilangan-bilangan x dan y memenuhi persamaan garis tersebut, maka pemecahan sistem persamaan tersebut akan bersesuaian dengan titik potong dari garis dan garis . Ada tiga kemungkinan yang terjadi pada garis yang terletak pada satu bidang:
a1, a2, …,an 0
(a) (b)
(c)
a. Jika dua garis sejajar, maka himpunan penyelesainya tidak memiliki anggota, dimana himpunan penyelesaiannya adalah himpunan kosong (ditulis {}).
Dengan persamaan ;
…………..( ) …………..( )
=
b. Jika dua garis berpotongan pada satu titik, maka himpunan penyelesaiannya memiliki tepat satu anggota.
Dua garis dikatakan saling berpotongan jika;
…………..( ) …………..( )
c. Jika dua garis saling berhimpit, maka himpunan penyelesaiannya memiliki anggota yang takhingga banyaknya.
Dua garis dikatakan saling berhimpit jika;
…………..( ) …………..( ) 2. Metode substitusi
Dari kedua persamaan diatas, pilih salah satu persamaan, kemudian nyatakan x sebagai fungsi y atau y sebagai fungsi x. Setelah itu substitusikan nilai x atau y yang diperoleh kedalam dua persamaan yang lainnya.
3. Metode eliminasi
Dari kedua persamaan diatas untuk menyelesaikan SPLDV dengan metode eliminasi dapat ditentukan nilai x dengan cara mengeliminasi peubah y, sedangkan nilai y ditentukan dengan cara mengeliminasi peubah x.
F. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan uraian di atas maka hipotesis penelitian ini yaitu : ada perbedaan prestasi belajar siswa yang menggunakan pembelajaran MEA dengan pembelajaran konvensional siswa kelas X semester ganjil SMA Negeri 5 Kupang tahun ajaran 2013/2014.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis penelitian dan Desain Eksperimen 1. Jenis Penelitian
Sesuai dengan jenis permasalahan yang telah dirumuskan terlebih dahulu, maka peneliti menggunakan penelitian eksperimen yaitu jenis penelitian yang dilakukan untuk mempelajari bagaimana sebuah perlakuan atau lebih terhadap variabel respon yang diperhatikan. Sehingga dengan jenis penelitian ini penulis dapat mengetahui sejauh mana perbedaan pembelajaran MEA terhadap prestasi belajar matematika pada sub pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel.
2. Desain Eksperimen
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Randomized Control-group post test design.
Table 3.1 Desain eksperimen
Sampel Pre test Perlakuan Post test
Eksperimen T1 X1 T2
Kontrol T1 X0 T2
Keterangan :
X1 = Perlakuan dengan pembelajaran Means Ends Analysis X0 = Perlakuan dengan penbeajaran konvensional
T1 = Pemberian Pre test
T2 = Pemberian post test
B. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi dalam penelitan ini yaitu siswa kelas X semester ganjil SMA Negeri 5 Kupang tahun ajaran 2013/2014 yang terdiri dari delapan kelas kelas dengan jumlah siswa 256 0rang.
2. Sampel
Teknik pengambilan sampel secara Random yaitu dengan memilih satu kelas sebagai kelas eksperimen dan satu kelas sebagai kelas control, hal ini didasarkan karena penempatan siswa dari awal secara acak, tidak berdasarkan pada kelas maupun rangking. Peneliti memilih kelas eksperimen adalah kelas XH yang berjumlah 30 orang, sedangkan kelas kontrolnya adalah kelas XI yang berjumlah 30 orang.
C. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah:
X1 = Prestasi belajar siswa dengan menggunakan pembelajaran MEA dalam pembelajaran matematika
X2 = Prestasi belajar siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional dalam pembelajaran matematika.
D. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan pada semester ganjil tahun ajaran 2013/2014.
2. Tempat penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 5 Kupang tahun ajaran 2013/2014.
E. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini data yang diperlukan adalah data primer yang diperoleh dengan cara sebagai berikut :
1. Tahap persiapan
Dalam tahap ini hal – hal yang dilakukan adalah
a. Menyiapkan rencana pembelajaran sesuai pokok bahasan dengan pembelajaran MEA.
b. Menyiapkan rencana pembelajaran sesuai pokok bahasan dengan pendekatan konvensional
c. Menyusun soal tes prestasi belajar
Mengenai penyusunan soal tes dilakukan sebagai berikut :
1) Soal yang disusun mengacu pada kisi-kisi soal. Banyak soal yang disusun sebelum divalidasi 15 nomor. Setelah dilakukan validasi soal yang diambil 7 nomor. Bentuk tes yang digunakan adalah Tes Uraian (essaytes). Soal-soal di validasi oleh dosen pembimbing dan guru mata pelajaran.
2) Skor yang digunakan sesuai skor dalam rating scale.
3) Skala penilaian yang digunakan adalah 0 – 100. Penentuan nilai akhir adalah jumlah skor yang benar per total skor keseluruhan dikali 100. Dengan rumus :
N = × 100 Keterangan simbol:
N = nilai yang diperoleh 2. Tahap pelaksanaan
Dalam tahap ini kegiatan dilakukan sebagai berikut:
a. Pemberian materi sesuaia pokok bahasan dengan pembelajaran MEA pada kelas eksperimen.
b. Pemberian materi sesuai pokok bahasan dengan pembelajaran konvensional pada kelas control.
c. Tes hasil belajar (THB) digunakan untuk mengetahui prestasi belajar siswa dari kedua pendekatan yang digunakan.
F. Analisis Statistik
Untuk membedakan prestasi belajar siswa yang diajarkan dengan menggunakan pembelajaran Means Ends Analysis (MEA) dengan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas X SMA Negeri 5 Kupang tahun pelajaran 2013 / 2014 maka peneliti menempuh langkah-langkah:
1. Data Hasil Pre Test
Data hasil Pre Test dilakukan sebelum diberi perlakuan. Data ini digunakan untuk mengukur kemampuan awal dari sampel yang ada sehingga dapat ditentukan dengan menggunakan uji t. Syarat uji t yaitu :
a) Uji homogenitas
Uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui apakah dari beberapa kelompok data penelitian, memiliki varians yang sama atau tidak. Homogenitas berarti bahwa himpunan data yang diteliti memiliki karakteristik yang sama. Untuk menguji homogenitas dua kelompok data, digunakan uji F dengan rumus sebagai berikut :
(Sugiyono, 2011 : 140) Dalam hal ini bila harga Fhitung Ftabel ,dengan taraf signifikan 5% maka Ho diterima dan Ha ditolak. Ho diterima berarti varians homogen.
Dan sebaliknya jika harga Fhitung Ftable maka Ho ditolak dan Ha diterima. Ha diterima berarti varians tidak homogen, derajat kebebasan =
b) Uji Normalitas
Data yang diperoleh terlebih dahulu dilakukan pengujian normalitas data. Dalam pengujian ini penulis menggunakan uji metode Kolmogrov – Smirnov. Menurut Purwanto (2011:164) rumus Kolmogrof – Smirnof sebagai berikut:
. . .
Keterangan :
= Distribusi frekuensi komulatif teoritis.
= Distribusi frekuensi komulatif skor observasi
Data yang dinyatakan berditribusi normal apabila , pada taraf kesalahan tertentu.
c) Uji t
Uji t dilakukan dengan tujuan untuk melihat kemampuan awal siswa sebelum perlakuan. Karena sampel dan varians homogens maka rumus t-test yang digunakan yaitu:
………(Sugiyono,2012;273)
Keterangan :
= Rata – rata nilai kelas ekperimen
= Rata – rata nilai kelas kontrol
= Standar deviasi sampel kelas ekperimen
= Standar deviasi sampeli kelas kontrol
= Jumlah sampel penelitian kelas ekperimen
= Jumlah sampel penelitian kelas control
Nilai dikonsultasikan dengan nilai pada taraf signifikansi 5% yang digunakan untuk pengujian homogenitas.
Adapun kaidah pengujian signifikansinya adalah jika
maka Ho diterima dan Ha ditolak. Ho diterima berarti
varians homogen. Sedangkan jika maka Ho ditolak dan Ha diterima, berarti varians tidak homogen. Besarnya dk =
. 2. Data Hasil Post Test
Data hasil Post Test digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan prestasi belajar siswa setelah diberi perlakuan. Syarat untuk uji t-test yaitu:
a) Homogenitas Varians
Uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui apakah dari beberapa kelompok data penelitian, memiliki varians yang sama atau tidak.
Homogenitas berarti bahwa himpunan data yang diteliti memiliki karakteristik yang sama. Untuk menguji homogenitas dua kelompok data, digunakan uji F dengan rumus sebagai berikut :
(Sugiyono, 2011 : 140) Dalam hal ini bila harga Fhitung Ftabel ,dengan taraf signifikan 5% maka Ho diterima dan Ha ditolak. Ho diterima berarti varians homogen.
Dan sebaliknya jika harga Fhitung Ftable maka Ho ditolak dan Ha diterima. Ha diterima berarti varians tidak homogen, derajat kebebasan =
b) Uji Normalitas
Data yang diperoleh terlebih dahulu dilakukan pengujian normalitas data. Dalam pengujian ini penulis menggunakan uji metode Kolmogrov – Smirnov.
Menurut Purwanto (2011:164) rumus Kolmogrov – Smirnov sebagai berikut:
Keterangan :
= Distribusi frekuensi komulatif teoritis.
= Distribusi frekuensi komulatif skor observasi
Data yang dinyatakan berditribusi normal apabila , pada taraf kesalahan tertentu.
c) Uji t-test
Uji perbedaan dua mean dilakukan dengan tujuan melihat perbedaan prestasi belajar siswa yang diajarkan dengan pembelajaran MEA dengan pembelajaran konvensional.
Karena sampel independen, jumlah anggota sampel dan varians homogens , maka dapat digunakan rumus t-test:
(Sugiyono, 2010:273)
Keterangan :
= Rata – rata nilai kelas ekperimen
= Rata – rata nilai kelas kontrol
= Standar deviasi sampel kelas ekperimen
= Standar deviasi sampeli kelas kontrol
= Jumlah sampel penelitian kelas ekperimen
= Jumlah sampel penelitian kelas control
Nilai dikonsultasikan dengan nilai pada taraf signifikansi 5% yang digunakan untuk pengujian homogenitas. Adapun kaidah
pengujian signifikansinya adalah jika maka Ho diterima dan Ha ditolak. Ho diterima berarti varians homogen. Sedangkan jika maka Ho ditolak dan Ha diterima, berarti varians tidak homogen. Besarnya dk = .
d) Pengujian hipotesis
Langkah- langkah pengujian hipotesis:
1) H0 :
Tidak ada perbedaan prestasi belajar siswa yang mendapat pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran Means Ends analysis dengan siswa yang mendapatkan pengajaran dengan menggunakan pendekatan konvensional
Ada perbedaan prestasi belajar siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran Means Ends analysis dengan siswa yang mendapatkan pengajaran dengan menggunakan pendekatan konvensional
2) Taraf signifikan : 5 % atau taraf kepercayaan 95 %
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Analisis Data
Untuk menguji kebenaran hipotesis penelitian, data yang digunakan penulis adalah data primer berupa nilai tes matematika pada kelas eksperimen dan kelas control. Pengolahan data dilkukan dengan menggunakan program SPSS 16.0 dan manual (sebagai pembanding).
1. Pre Test
Analisis data pada nilai pre test bertujuan untuk melihat kemampuan awal siswa sebelum diberikan perlakuan. Dalam pengujiannya penulis menggunakan rumus uji t. Syarat sebelum menggunakan uji t yaitu:
a) Uji Homogenitas
Pengujian homogenitas menggunakan uji F yaitu :.
F =
(Sugiyono, 2011 : 140)
Berdasarkan hasil analisis data diperoeh angka signifikansi = 0,867 (hasil manual Fhitung= 1,054 dan Ftabel = 1,861).
b) Uji Normalitas.
Untuk menguji kenormalan kedua kelas, penulis menggunakan ujiKolmogrov Smirnov dengan rumus:
1. Kelas eksperimen
Berdasarkan hasil analisis SPSS 16.0 angka signifikan sebesar 0,652 = dan untuk ukuran sampel 30).
2. Kelas kontrol
Berdasarkan hasil analisis SPSS 16.0 angka signifikan sebesar 0,305 = dan untuk ukuran sampel 30).
c) Uji t
Untuk mengetahui kemampuan awal dari kedua sampel digunakan rumus:
Berdasarkan hasil analisis SPSS 16.0 angka signifikan sebesar 0,250 dan = 1,161 (hasil manual = 0,803 dan = 2,002 dengan dk = 58).
2. Post test
Analisis data pada nilaiPost Test digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan prestasi belajar siswa setelah diberi perlakuan.
Untukitu digunakan uji t. Syarat sebelum menggunakan uji t yaitu uji homogenitas dan uji normalitas terlebih dahulu.
a. Uji Homogenitas
Pengujian homogenitas menggunakan uji F dengan rumus:
F =
Berdasarkan hasil analisis data diperoeh angka signifikansi = 0,629 (hasil manual Fhitung= 1,093 dan Ftabel = 1,861).
b. Uji Normalitas.
Untuk menguji kenormalan kedua kelas, penulis menggunakan ujiKolmogrov Smirnov dengan rumus:
1) Kelas eksperimen
Berdasarkan hasil analisis SPSS 16.0 angka signifikan sebesar 0,389 = dan untuk ukuran sampel 30).
2) Kelas kontrol
Berdasarkan hasil analisis SPSS 16.0 angka signifikan sebesar 0,988 = dan untuk ukuran sampel 30).
c. Uji t
Untuk mengetahui kemampuan awal dari kedua sampel digunakan rumus:
Berdasarkan hasil analisis SPSS 16.0 angka signifikan sebesar 0,00 dan = 9,480 (hasil manual = 9,354 dan = 2,002 dengan dk = 58).
Kriteria penerimaan hipotesis sebagai berikut:
1. Ho : Tidak ada perbedaan prestasi belajar siswa yang mendapat pengajaran dengan menggunakan pembelajaran Means Ends Analysis (MEA) dengan siswa yang mendapat pengajaran dengan
menggunakan pembelajaran konvensional.
2. Ha : Ada perbedaan prestasi belajar siswa yang mendapat pengajaran dengan menggunakan pembelajaran Means Ends Analysis (MEA) dengan siswa yang mendapat pengajaran dengan menggunakan pembelajaran konvensional.
B. Pembahasan 1) Pre test
a) Uji Homogenitas
Syarat homogenitas pada SPSS adalah taraf sinifikansi lebih besar dari 0,05, dari output diketahui bhwa nilai signifikansi 0,867. Jadi, nilai signifikansi 0,867 > 0,05. (hasil manual Fhitung= 1,054 dan Ftabel
= 1,861). Jadi
Berdasarkan hasil pengolahan SPSS 16.0 dan hasil manual yang diperoleh, disimpulkan bahwa kedua sampel homogen.
b) Uji Normalitas
Syarat normalitas pada SPSS 16.0 taraf signifikan lebih besar 0,05.
a. Kelas Eksperimen
Dari output diketahui bahwa nilai signifikansi sebesar 0,652 >
0,05 = dan jadi . Berdasarkan hasil pengolahan SPSS 16.0 dan hasil manual yang diperoleh, disimpulkan bahwa data kelas eksperimen berdistribusi normal.
b. Kelas Kontrol
Dari output diketahui bahwa nilai signifikansi sebesar 0,305>
0,05 = dan jadi . Berdasarkan hasil pengolahan SPSS 16.0 dan hasil manual yang diperoleh, disimpulkan bahwa data kelas kontrol berdistribusi normal.
Hal ini disimpulkan bahwa kedua sampel berdistribusi normal.
c) Uji t
Berdasarkan hasil analisis SPSS 16.0 diketahui angka signifikan sebesar 0,250 dan = 1,161 maka nilai signifikansi 0,250 > 0,05 (hasil manual = 0,803 dan = 2,002), jadi .
Berdasarkan hasil pengolahan SPSS 16.0 dan hasil manual yang diperoleh, disimpulkan bahwa kemampuan awal kedua sampel sama atau homogen.
2) Post test
a. Uji Homogenitas
Syarat homogenitas pada SPSS adalah taraf sinifikansi lebih besar dari 0,05, dari output diketahui bhwa nilai signifikansi 0,629. Jadi, nilai signifikansi 0,629 > 0,05.(hasil manual Fhitung= 1,093 dan Ftabel
= 1,861).
Berdasarkan hasil pengolahan SPSS 16.0 dan hasil manual yang diperoleh, disimpulkan bahwa kedua sampel homogen.
b. Uji Normalitas
Syarat normalitas pada SPSS 16.0 taraf signifikan lebih besar 0,05.
1) Kelas Eksperimen
Dari output diketahui bahwa nilai signifikansi sebesar 0,389 >
0,05 = dan jadi . Berdasarkan hasil pengolahan SPSS 16.0 dan hasil manual yang diperoleh, disimpulkan bahwa data kelas eksperimen berdistribusi normal.
2) Kelas Kontrol
Dari output diketahui bahwa nilai signifikansi sebesar 0,988>
0,05 = dan jadi . Berdasarkan hasil pengolahan SPSS 16.0 dan hasil manual yang diperoleh, disimpulkan bahwa data kelas kontrol berdistribusi normal.
Hal ini disimpulkan bahwa kedua sampel berdistribusi normal.
c. Uji t
Berdasarkan hasil analisis SPSS 16.0 diketahui angka signifikan sebesar 0,000 dan = 9,480 maka nilai signifikansi 0,000 < 0,05 (hasil manual = 9,354 dan = 2,002), jadi .
Berdasarkan hasil pengolahan SPSS 16.0 dan hasil manual yang diperoleh, disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Berarti terdapat perbedaan prestasi belajar siswa yang diajarkan menggunakan pembelajaran MEA dengan siswa yang diajarkan menggunakan pembelajaran konvensional pada sub pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel Siswa kelas X SMA Negeri 5 Kupang tahun ajaran 2013/2014.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dimana dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan prestasi belajar siswa kelas X sub pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel dengan menggunakan pembelajaran Means Ends Analysis (MEA) pada SMA Negeri 5 Kupang tahun ajaran 2013/2014.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka peneliti menyarankan kepada:
1. Guru bidang studi matematika, agar dalam proses pembelajaran dapat menggunakan atau menerapkan pembelajaran Means Ends Analysis (MEA) khususnya pada materi sub pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel.
2. Para siswa, agar dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan prestasi belajar dengan menggunakan pembelajaran Means Ends Analysis (MEA).
3. Bagi sekolah disarankan tingkatkan kualitas pendidikan dengan mengembangkan pembelajaran Means Ends Analysis (MEA) pada mata pelajaran lainnya selain matematika.