• Tidak ada hasil yang ditemukan

commit to user 3) faktor kelelahan

5. Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan paham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk

commit to user

memahami materi pelajaran (Isjoni, 2010 : 12). Menurut Vygotsky dalam Isjoni (39-40), pembelajaran adalah proses yang terjadi pada individu, tetapi pembelajaran tidak dapat berlangsung tanpa bantuan lingkungan sekitar. Sehingga guru harus melibatkan lingkungan sekitar dalam pembelajaran bagi siswa. Dalam pembelajaran kooperatif, lingkungan sekitar diterjemahkan sebagai teman-teman satu kelas. Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dicirikan oleh struktur tugas, tujuan dan penghargaan kooperatif. Siswa yang bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif didorong dan atau dikehendaki untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama, dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya.

Pembelajaran kooperatif merupakan strategi yang menempatkan siswa belajar dalam kelompok yang beranggotakan 4-6 siswa dengan tingkat kemampuan atau jenis kelamin atau latar belakang yang berbeda. Pembelajaran harus menekankan kerjasama dalam kelompok untuk mencapai tujuan yang sama (Isjoni, 2010 : 44).

Unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif menurut Lungdren dalam Isjoni (2010 : 13), sebagai berikut :

a.

b. Para siswa harus memiliki tanggung jawab terhadap siswa atau peserta didik lain dalam kelompoknya, selain tanggung jawab terhadap diri sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi.

c. Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semua memiliki tujuan yang sama.

d. Para siswa membagi tugas dan berbagi tanggung jawab di antara para anggota kelompoknya.

e. Para siswa diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi kelompok.

f. Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh ketrampilan bekerja sama selama belajar.

g. Setiap siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

In cooperative learning methods, students work together in four member teams to master material initially Dari uraian tersebut dapat dikemukakan bahwa cooperative learning adalah suatu model pembelajaran dimana sistem belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam belajar.

Menurut Zakaria Effandi, Lu Chung Chin dan Yusoff Daud (2010 :272-275) :

science and mathematics classroom, ranging from teacher centered approach to more students centered ones. In the last decade, there is a wast amount of research done on cooperative learning in science and mathematics. Cooperative learning is grounded in the belief that learning is most effective when student are actively involved in sharing ideas and work cooperatively to co

Artinya pada pelajaran matematika guru hendaknya menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa. Akhir-akhir ini telah banyak dilakukan penelitian pada pembelajaran kooperatif dalam ilmu pengetahuan dan matematika.

commit to user

Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang paling efektif, karena siswa terlibat aktif dalam mengemukakan ide dan bekerjasama dalam menyelesaikan suatu tugas.

Pada pembelajaran kooperatif lebih menekankan pada kehadiran teman untuk saling berinteraksi dan bekerjasama sebagai sebuah tim untuk menyele- saikan masalah atau tugas yang diberikan. Sebagaimana yang ditulis oleh Goos Merrilyn (2006) :

The practices and beliefs developed within reform classroom frame learning as participation in a community of practice characterized by inquiry mathematics where students learn to speak and act mathematically by participating in mathematical discussion and solving new or unfamiliar problems. ( Richards, 1991). Such classrooms could be described as communities of mathematical inquiry

Dari uraian tersebut dalam pembelajaran matematika hendaknya guru menggunakan pendekatan, dimana siswa berpartisipasi dalam diskusi untuk memecahkan masalah matematika yang dipelajari.

Anita Lie dalam Isjoni (2010 : 16), menyebut cooperative learning dengan istilah pembelajaran gotong- royong, yaitu sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja sama dengan siswa lain dalam tugas tugas yang terstruktur. Selanjutnya Roger dan David Johnson dalam Anita Lie (2008 : 31), mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap cooperative learning. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran gotong-royong harus diterapkan, yaitu :

1) Saling ketergantungan positif.

2) Tanggung jawab perseorangan.

3) Tatap muka.

4) Komunikasi antar anggota.

5) Evaluasi proses kelompok.

Menurut Djahiri K dalam Isjoni (2010 : 19) menyebutkan cooperative learning sebagai pembelajaran kelompok kooperatif yang menuntut diterapkannya pendekatan belajar siswa yang sentris, humanistik dan demokratis yang disesuaikan dengan kemampuan siswa dan lingkungan belajarnya. Lingkungan belajarnya yang membina dan meningkatkan serta mengembangkan potensi diri siswa sekaligus memberikan pelatihan hidup senyatanya. Jadi cooperative learning dapat dirumuskan sebagai kegiatan pembelajaran kelompok yang terarah, terpadu, efektif, efisien ke arah mencari atau mengkaji sesuatu melalui proses kerja sama dan saling membantu (sharing) sehingga tercapai proses dan hasil belajar yang produktif (survive).

Menurut Murray dalam Luu Trong Tuan (2010 : 66) :

Cooperative learning suggests that learning would be more meaningfull if learners should experiment on theirown learning instead og listening to cts resolution will help .

Artinya: Pembelajaran kooperatif menyarankan bahwa pembelajaran akan lebih berarti apabila siswa bereksperimen dalam pembelajarannya sendiri daripada mendengarkan kuliah guru. Lagipula pemecahan konflik membantu meningkatkan pertumbuhan pikiran siswa. Dalam teori Vygotsky dalam Isjoni (2010 : 40), kualitas berpikir siswa dibangun di dalam ruangan kelas, sedangkan aktivitas sosialnya dikembangkan dalam bentuk kerja sama antara pelajar dengan pelajar lainnya yang lebih mampu di bawah naungan orang dewasa dalam hal ini guru. Model pembelajaran kooperatif kooperatif mengutamakan kerja sama

commit to user

dalam menyelesaikan masalah dalam rangka mencapai prestasi yang maksimal.

learning cooperatively helped them to construct their knowledge

peserta didik untuk membangun pengetahuan mereka. Frackson Mumba (2007 : Teaching and learning science by inquiry involves the means by which students gain knowledge

pembelajaran memberikan arti, dimana siswa mendapatkan pengetahuan.

Berikut ini adalah fase-fase pembelajaran kooperatif dari Agus

Fase 2. Menyajikan informasi Menyampaikan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan peserta didik siap pembentukan tim belajar dan membantu kelompok melakukan transisi yang efisien

Fase 4. Membimbing kerja tim dan belajar

Membantu tim-tim belajar selama peserta didik mengerjakan tugasnya Fase 5. Mengevaluasi Menguji pengetahuan peserta didik

mengenai berbagai materi

Mempersiapkan cara untuk mengakui usaha dan prestasi individu maupu kelompok

Berdasarkan pendapat di atas, pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang memandang keberhasilan individu yang diorientasikan dalam keberhasilan kelompok. Dalam hal ini maka siswa bekerja sama dalam mencapai tujuan, dan siswa berusaha keras membantu dan mendorong teman-temannya untuk bersama-sama berhasil dalam belajar. Lie (2005 : 12) menyatakan bahwa sistem pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur disebut sebagai sistem pembelajaran gotong-royong atau pembelajaran kooperatif.

Dengan demikian, model pembelajaran kooperatif selain mencapai berbagai macam tujuan sosial, juga untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Agar pembelajaran kooperatif terlaksana dengan baik, siswa diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk dikerjakan. Selama kerja kelompok, tugas kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan guru dan saling membantu teman sekelompok untuk mencapai ketuntasan materi tersebut. Siswa diminta mempresentasikan hasil diskusinya. Pada saatnya tes terakhir diusahakan agar siswa tidak bekerja sama pada saat mengerjakan tes.

Dokumen terkait