HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Pembelajaran dengan Pendekatan Problem Based Learning Efektif Ditinjau dari Kemampuan Pemecahan Masalah
Kelas eksperimen pertama diberikan perlakuan pembelajaran matematika dengan pendekatan problem based learning. Pembelajaran dengan pendekatan
problem based learning dikatakan efektif jika rata-rata nilai nilai post-test
kemampuan pemecahan masalah di kelas eksperimen pertama lebih dari atau sama dengan 75 dan minimal 75% siswa dikelas memperoleh nilai lebih dari atau
119
sama dengan KKM. Berdasarkan kriteria efektif pertama yaitu rata-rata nilai nilai
post-test kemampuan pemecahan masalah di kelas eksperimen pertama lebih dari
atau sama dengan 75, menunjukkan bahwa hasil pengujian hipotesis pertama dengan bantuan IBM SPSS Statistic 21 diperoleh bahwa nilai signifikansi adalah 0,000. Nilai signifikansi ini kurang dari taraf signifikansi
0,05
maka H0 ditolak artinya pembelajaran dengan pendekatan problem based learning efektif ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah. Bedasarkan kriteria efektif yang kedua yaitu minimal 75% siswa dikelas memperoleh nilai lebih dari atau sama dengan KKM, hasil perhitungan menunjukkan 92,30% siswa dikelas memperoleh nilai lebih dari atau sama dengan KKM.Efektivitas pembelajaran dengan pendekatan problem based learning ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah didukung oleh penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dan pendapat para ahli. Penelitian sebelumnya telah dilakukan oleh Dyah Sartika Putri (2013) yang menunjukkan bahwa strategi pembelajaran berbasis masalah efektif dalam pembelajaran matematika ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah. Pembelajaran berbasis masalah dengan strategi Polya dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa (Arifin, 2014: 9). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Gunantara, Suarjana, dan Riatini menunjukan bahwa pembelajaran problem based learning dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada mata pelajaran matematika. Terdapat beberapa dugaan yang menyebabkan pembelajaran dengan pendekatan
problem based learning pada penelitian ini efektif ditinjau dari kemampuan
120
Pada awal pembelajaran, guru menyajikan masalah kepada siswa. Masalah yang disajikan merupakan masalah yang menantang, dibuat menarik dan dekat dengan kehidupan nyata. Penyajian masalah yang dibuat menarik diharapkan dapat memancing siswa agar antusias mengikuti pembelajaran dan menunjukkan kepada siswa bahwa materi yang akan dipelajari bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hillman (2003: 3), Barret & Moore (2005), Hmelo-Silver (2004: 236), bahwa dalam pada pembelajaran
problem based learning, siswa disajikan masalah yang menantang bagi siswa dan
siswa harus menyelesaikannya. Sejalan pula dengan Duch (2001: 48) dan Untarti (2015: 19), masalah pada pembelajaran dengan pendekatan problem based
learning haruslah masalah yang menarik dan menunjukkan kepada siswa bahwa
materi yang akan dipelajari berguna dalam kehidupan sehari-hari. Siswa belajar materi melalui permasalahan dalam kehidupan sehari-hari sehingga akan memudahkan siswa untuk memahami masalah, dengan demikian memberi kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki untuk memecahkan masalah. Hal ini sejalan dengan Rokhmawati, Djatmika, & Wardana (2016: 53), yang menyatakan bahwa adanya penyajian masalah yang dekat dengan kehidupan sehari akan memudahkan siswa dalam memahami masalah.
Salah satu contoh masalah yang disajikan pada pertemuan ketiga yaitu “Seorang wisatawan Jogja ingin mengukur tinggi Tugu Pal Putih. Ia berdiri sejauh 13 meter dari pusat bagian bawah tugu Tugu Pal Putih. Penampang bagian bawah tugu berbentuk persegi dengan panjang sisi 1 m. Wisatawan tersebut memandang
121
ke arah puncak Tugu Jogja dengan sudut elevasi . Jarak mata wisatawan dari tanah adalah 150 cm. Bantulah wisatawan tersebut untuk mengukur tinggi Tugu Pal Putih!”. Materi yang dipelajari yaitu nilai perbandingan trigonometri sudut khusus, penerapan materi tersebut adalah bagaimana mengukur tinggi Tugu Pal Putih disertai dengan informasi yang mendukung.
Pada fase orientasi masalah melalui kegiatan penyajian masalah, siswa belajar memahami masalah dengan membuat sketsa berdasarkan masalah, mendata informasi apa saja yang tersedia kemudian membuat model matematika, dan mengetahui apa yang ditanyakan. Kegiatan memahami masalah tersebut sesuai dengan aspek kemampuan pemecahan masalah yang pertama. Kegiatan memahami masalah dalam pembelajaran dengan pendekatan problem based
learning ini sesuai dengan pernyataan Duch, Groh, & Allen (2001: 7) dan
Hmelo-Silver (2004: 236) bahwa problem based learning menumbuhkan kemampuan untuk mengidentifikasi informasi yang dibutuhkan untuk penerapan masalah tertentu, melalui langkah identifikasi ini membantu siswa menggambarkan masalah. Problem based learning meningkatkan penerapan pengetahuan siswa, pemecahan masalah, dan keterampilan belajar mandiri dengan mengharuskan mereka untuk secara aktif mengartikulasikan, memahami, dan memecahkan masalah (Jonassen & Hung, 2008: 10).
Pembelajaran dengan pendekatan problem based learning ini dibantu dengan adanya LKS pada pertemuan kedua sampai keenam yang isinya terdapat masalah yang harus siswa pahami kemudian siswa mempelajari materi agar dapat memecahkan masalah, selanjutnya siswa menyelesaiakan masalah tersebut sesuai
122
dengan langkah pemecahan masalah, langkah pemecahan masalah ini diharapkan dapat membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Juliana, Sugiatno & Romal (2015: 10) bahwa faktor pendukung agar pembelajaran dengan pendekatan problem based
learning dapat terlaksana dengan baik adalah dengan merancang suatu LKS yang
berisi masalah-masalah yang akan diselesaikan oleh siswa. Masalah yang disajikan pada LKS merupakan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, siswa diminta untuk mengidentifikasi informasi yang diketahui dan ditanyakan, membuat rencana penyelesaian, melakukan penyelesaian, dan mengecek penyelesaian menggunakan cara lain jika ada kemudian menyimpulkan hasil penyelesaian masalah. Hal tersebut menjadikan LKS yang dibuat dapat digunakan untuk melatih siswa dalam mengembangkan kemampuan pemecahan masalah.
Pada fase pengorganisasian belajar, kelas di bagi dalam kelompok kecil sebagai kelompok diskusi. Pada fase ini, siswa dapat mulai menyusun rencana untuk menyelesaikan masalah Adanya kelompok diskusi ini, siswa bertukar pikiran untuk memecahkan masalah, saling membantu untuk menjelaskan masalah yang belum bisa dipahami, dalam satu kelompok bertanggung jawab terhadap pembelajaran yang dilakukan agar dapat memecahkan masalah. Hal ini sejalan dengan Untarti (2015: 10) bahwa pada saat fase mengorganisasikan siswa, siswa mulai menyusun logistik atau rencana untuk menyelesaikan masalah dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar untuk menyusun rencana penyelesaian. Arends (2007: 75) berpendapat bahwa diskusi kelas untuk mencapai beberapa
123
tujuan di antaranya meningkatkan kemampuan berpikir siswa dan membantu mengkonstruksi pemahaman terhadap apa yang siswa pelajari dan meningkatkan keterlibatan siswa untuk bertanggungjawab atas pembelajaran yang diikuti, dan membantu siswa terampil berkomunikasi. Hal tersebut sesuai pula dengan pendapat Duch, Groh, & Allen (2001: 7) dan Hmelo-Silver (2004: 236) bahwa dalam pendekatan problem based learning, siswa bekerja dalam kelompok belajar kecil, bersama-sama memperoleh pengetahuan, berkomunikasi, dan mengumpulkan informasi.
Pada fase penyelidikan secara berkelompok, siswa menerapkan pengetahuan atau materi matematika yang mereka yang sudah pernah pelajari dikaitkan dengan materi yang baru dipelajari untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Hal tersebut seperti pernyataan Hamruni (2012) dan Duch, Groh, & Allen (2001: 49) bahwa problem based learning membantu siswa mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata menghubungkan pengetahuan sebelumnya dengan konsep baru, dan menghubungkan pengetahuan baru dengan konsep dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan nyata. Ketika berdiskusi, siswa mendiskusikan langkah-langkah untuk menemukan solusi, dan mengumpulkan rumus yang akan digunakan jika ada.
Fase penyelidikan tersebut mengarahkan siswa dalam suatu kelompok mendiskusikan solusi yang tepat atau membuat penyelesaian dari masalah sesuai dengan aspek kemampuan pemecahan masalah yang ketiga yaitu membuat penyelesaian masalah. Hal ini sejalan dengan Loyens & Paas (2011: 4) bahwa
124
dalam kelompok, siswa mencoba untuk membangun pemahaman tentang masalah dan mendiskusikan kemungkinan penjelasan atau solusi. Kegiatan siswa yang dihadapkan pada masalah yang berkaitan dengan kehidupan menjadikan siswa aktif mau berdiskusi dan berpikir agar dapat menemukan pemecahan, memilih langkah agar langkah yang digunakan itu tepat. Hal tersebut menunjukkan bahwa melalui pembelajaran dengan pendekatan problem based learning, memberi masalah matematika kepada siswa dan meminta mereka menyelesaikannya, membuat mereka akan memperoleh keyakinan dan melihat bahwa mereka berhasil memahami masalah yang diberikan (Cazzola, 2008: 4-6). Problem based learning sangat cocok untuk membantu siswa menjadi pelajar aktif karena menempatkan pembelajaran dalam masalah dunia nyata dan membuat siswa bertanggung jawab atas pembelajaran mereka (Rokhmawati, Djatmika, & Wardana, 2016: 510).
Selama siswa mengerjakan LKS untuk memecahkan masalah, guru berkeliling ke semua kelompok untuk membimbing siswa yang merasa kesulitan dan mencermati langkah-langkah pemecahan masalah yang dilakukan siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Eggen & Kauchak (2012) dan Hmelo-Silver (2004: 236) bahwa guru mendukung dan membimbing proses siswa dalam bekerja menyelesaikan masalah.
Kegiatan setelah siswa membuat penyelesaian dari masalah, beberapa kelompok mempresentsikan hasil pemecahan masalah yang mereka diskusikan bersama kelompok. Siswa yang tidak presentasi, memperhatikan kelompok yang sedang presentasi. Memperhatikan langkah-langkah yang digunakan, mengecek apakah langkah penyelesaian dan perhitungannya benar, dan melihat hasil diskusi
125
kelompokya sendiri apakah cara dan hasilnya sama. Kelompok lain yang tidak presentasi, dipersilakan untuk memberikan tanggapan terhadap hasil pemecahan masalah dari kelompok yang presentasi. Kegiatan selanjutnya setelah presentasi adalah guru dan siswa menganalisis dan megevaluasi proses pemecahan masalah. Guru menyampaikan kekurangan pemecahan masalah siswa dan memberi apresiasi pada pemecahan masalah yang dilakukan dengan siswa. Adanya kegiatan presentasi kemudian presentasi siswa dianalisis dan dievaluasi oleh guru dan siswa maka siswa dapat meneliti kembali hasil pekerjaan mereka dan menarik kesimpulan yang benar. Hal ini sejalan dengan Untarti (2015: 11) bahwa pada fase menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah dengan bimbingan guru, siswa berusaha untuk menarik kesimpulan dari masalah yang telah disajikan (hlm 11).
Namun, pada proses pembelajaran ada beberapa siswa yang menunjukkan kurang tertarik dengan pembelajaran dengan pendekatan problem based learning karena merasa sulit dalam memecahkan masalah yang tidak terbiasa mereka lakukan. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Sanjaya (2006: 220) yang menyatakan ketika siswa tidak memiliki minat atau kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit dipecahkan, mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
2. Pembelajaran dengan Pendekatan Problem Posing Efektif Ditinjau dari