Menurut Dudung Abdurahman (2007: 1) mengemukakan bahwa pengertian yang lebih komprehensif tentang sejarah adalah kisah dan peristiwa masa lampau umat manusia. Definisi ini mengandung dua makna sekaligus, yakni sejarah sebagai kisah atau cerita dan sebagai peristiwa. Sejarah sebagai kisah merupakan sejarah dalam pengertiannya secara subyektif, karena peristiwa masa lalu itu telah menjadi pengetahuan manusia. Sedangkan sejarah sebagai peristiwa merupakan sejarah secara objektif, sebab peristiwa masa lampau itu sebagai kenyataan yang masih di luar pengetahuan manusia. Berdasarkan penjelasan diatas maka peristiwa sejarah itu mencakup segala hal yang dipikirkan, dikatakan, dikerjakan, dirasakan, dan dialami oleh manusia.
Menurut pengerian paling umum kata history berarti masa lampau umat manusia. Sedangkan dalam bahasa Jerman sejarah berasal dari kata Getschichte, yang berasal dari kata geschehen yang berarti terjadi. Geschichte berarti sesuatu yang telah terjadi (Gottschalk, 2006: 33).
Pelajaran sejarah merupakan salah satu mata pelajaran yang di pelajari siswa jenjang pendidikan formal mulai dari tingkat SD sampai pada SMA bahkan pada Perguruan Tinggi tidak terlepas dari pelajaran sejarah. Hal ini menunjukkan bahwa sejarah memegang peranan yang penting dalam pendidikan di Indonesia.
Pembelajaran sejarah diharapkan berakhir dengan sebuah pemahaman siswa akan perkembangan sejarah yang dinamis dari masa ke masa. Pemahaman siswa yang dimaksud tidak sekedar memenuhi tuntutan tujuan pembelajaran sejarah secara umum saja, namun diharapkan muncul “efek iringan” dari pembelajaran tersebut.
Seperti pengajaran lain, sejarah merupakan salah satu wahana untuk mencerdaskan bangsa dalam arti luas. Dengan sifatnya, sejarah berpijak pada fakta masa lampau yang dianalisis untuk memahami masa kini dan diproyeksikan untuk kehidupan masa depan. Sejarah adalah pengalaman kelompok manusia, jika sejarah dilupakan atau diabaikan, maka kita sebenarnya berhenti menjadi manusia.
Karena tanpa sejarah, manusia tidak mempunyai pengetahuan tentang dirinya, terutama dalam proses ada dan mengada. Manusia yang demikian tidak mempunyai memori atau ingatan, sehingga pada dirinya tidak dapat dituntut suatu tanggungjawab. Sehubungan dengan hal tersebut, pada semua bangsa yang merdeka pada negara di manapun di dunia. Tidak pernah ada suatu bangsa yang melupakan sejarah bangsanya, asal-usul dan perjuangan mereka untuk hidup dan merdeka. Tujuan yang luhur dari sejarah untuk diajarkan pada semua jenjang
sekolah adalah menanamkan semangat kebangsaan, cinta pada tanah air. Pelajaran sejarah merupakan salah satu unsur pertama pendidikan politik bangsa. Lebih jauh lagi pengajaran sejarah merupakan sumber inspirasi terhadap hubungan antar bangsa dan negara. Siswa memahami bahwa mereka merupakan bagian dari masyarakat negara dan dunia (Hariyono, 1995: 1).
Menurut Sartono Kartodirdjo (1992: 247-254) mengemukakan bahwa tanpa mengetahui sejarahnya, suatu bangsa tak mungkin mengenal dan memiliki identitasnya. Di samping itu, kesadaran sejarah merupakan sumber inspirasi serta aspirasi, keduanya sangat potensial untuk membangkitkan sense of pride (kebanggaan) dan sense of obligation (tanggungjawab dan kewajiban). Dipandang dari wawasan itu, pengajaran sejarah berkedudukan sangat strategis dalam pendidikan nasional sebagai soko guru dalam pembangunan bangsa. Pengajaran sejarah perlu disempurnakan agar dapat berfungsi secara lebih efektif, yaitu penyadaran warga negara dalam melaksankan tugas kewajibannya dalam rangka pembangunan nasional. Pelajaran sejarah di sekolah tidak dapat mengabaikan fungsi didaktis terutama untuk menopang pertumbuhan wawasan kebangsaan.
Pengetahuan sejarah bukanlah sesuatu yang baru tetapi telah dinyatakan baik secara implisit atau eksplisit bahwa maksud pengetahuan sejaraj ialah agar generasi yang berikut dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari pengalaman nenek moyangnya. Lagi pula agar suri-teladan mereka dapat menjadi model bagi keturunannya. Sejarah dianggap sebagai perbendaharaan kebijaksanaan nenek moyang termasuk nilai-nilainya. Fungsi pengajaran sejarah ialah untuk meningkatkan proses penyadaran, khususnya penyadaran diri kolektif, maka muncullah permasalahan yang mencakup “apa” dan “bagaimana” dalam
menyampaikan pengetahuan sejarah kepada anak didik. Maka dari itu, dua aspek didaktif sejarah perlu ditonjolkan yaitu, (1) segi teknik penyampaian, ialah metode; (2) segi substansial, ialah silabus,
Menurut Helius Sjamsuddin (2007: 9) mengemukakan bahwa sejarah memiliki tiga pengertian dasar yaitu : (1) Sejarah sebagai peristiwa-peristiwa masa lalu (past events, res gestae); (2) Sejarah sebagai pelaksanaan riset yang dilakukan oleh seorang sejarawan, dan (3) Sejarah sebagai suatu hasil dari pelaksanaan riset, seperangkat pernyataan-pernyataan tentang peristiwa-peristiwa masa lalu (narrative about past events, historia rerum gestarum) atau sering disebut historiografi. Selanjutnya menurut (Sidi Gazalba, 1981: 1) mengatakan bahwa Kata sejarah dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Melayu mengambil-alih dari bahasa Arab yaitu “Syajarah” yang berarti pohon, keturunan, asal-usul, dan juga diidentikkan dengan silsilah, riwayat, babad, tambo dan tarikh. Bahasa Melayu mengucapkan kata itu menjadi sejarah.
Sejarah merupakan suatu perubahan-perubahan terjadi akibat dari kejadian dan peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Sejarah sebagai kenyataan dari peristiwa yang berlangsung. Fakta ini disimpulkan dari sumber sejarah menurut ketentuan-ketentuan mengenai kejadian atau peristiwa nyata. Sebagai kejadian sejarah merupakan suatu peristiwa dari masa lampau dalam arti yang sebenarnya adalah kejadian dan peristiwa dari masa lampau umat manusia, peristiwa dan kejadian yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Sejarah tidak hanya mencatat kejadian yang telah merupakan fakta warisan masa lalu, tetapi juga menguraikan hubungan antara rentetan peristiwa yang telah terjadi. Jadi lukisan sejarah merupakan gambaran lengkap, yang terdiri dari fakta-fakta kejadian yang telah
berlalu dijalin dengan tafsiran dan penjelasan atau ulasan dari kenyataan-kenyataan itu. Diceritakan saling-hubungan dan kausalitas antara fakta sehingga membentuk gambaran yang dapat dipahami. Sejarah laksana cermin, yang memantulkan gambaran masyarakat tertentu sedemikian rupa, hingga orang mengerti tentang masa lalu masyarakat itu dan paham akan masa kininya.
Berdasarkan pengertian diatas, maka sejarah diartikan gambaran masa lalu tentang manusia dan sekitarnya sebagai makhluk sosial, yang disusun secara ilmiah dan lengkap, meliputi tafsiran dan penjelasan, yang memberi pengertian tentang apa yang telah berlalu itu (Rustam Tamburaka, 1999: 4).
b. Tujuan Pembelajaran Sejarah
Menurut Denis Gunning, secara umum pembelajaran sejarah bertujuan untuk membentuk warga negara yang baik, dan menyadarkan peserta didik untuk mengenal diri dan lingkungannya, serta memberikan perspektif historikalitas.
Sedangkan secara spesifik, lanjut Gunning, tujuan pembelajaran sejarah ada tiga yaitu, mengajarkan konsep, mengajarkan keterampilan intelektual, dan memberikan informasi kepada peserta didik. Dengan demikian, pembelajaran sejarah tidak bertujuan untuk menghafal berbagai peristiwa sejarah. Keterangan tentang kejadian dan peristiwa sejarah hanyalah merupakan suatu tujuan. Sudah barang tentu tujuan di sini dikaitkan dengan arah baru pendidikan modern, yaitu menjadikan peserta didik mampu mengaktualisasikan diri sesuai dengan potensi dirinya dan menyadari keberadaannya untuk ikut serta dalam menentukan masa depan yang lebih manusiawi bersama-sama dengan orang lain. Dengan kata lain adalah berupaya untuk menyadarkan peserta didik akan historikalisasi diri dan masyarakatnya (Terry Irenawaty, 2007: 111).
Menurut Djoko Suryo (2005: 3) mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran sejarah adalah sebagai penunjang pembangunan karakter dan bangsa. Pendidikan sejarah baru mampu mendorong para mahasiswa untuk berpikir kritis analitis dalam memanfaatkan pengetahuan tentang masa lampau, untuk memahami kehidupan masa kini, dan masa yang akan datang. Pembelajaran sejarah harus dapat mengembangkan intelektual dan keterampilan untuk memahami proses perubahan dan berkelanjutan. Selain itu, pembelajaran sejarah juga bertujuan sebagai sarana untuk menanamkan kesadaran akan adanya perubahan dalam kehidupan masyarakat melalui dimensi waktu. Dengan demikian, tujuan pembelajaran akan lebih mempunyai makna yang luas dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Pembelajaran sejarah di sekolah bertujuan agar siswa memperoleh kemampuan berpikir histories dan pemahaman sejarah, melalui pembelajaran sejarah siswa mampu mengembangkan kompetensi untuk berpikir secara kronologis dan memiliki pengetahuan tentang masa lampau yang dapat digunakan untuk memahami dan menjelaskan proses perkembangan dan perubahan masyarakat serta keragaman sosial budaya dalam rangka menemukan dan menumbuhkan jadi diri bangsa di tengah-tengah kehidupan masyarakat dunia.
Pembelajaran sejarah juga bertujuan agar siswa menyadari adanya keseragaman pengalaman hidup pada masing-masing masyarakat dan adanya cara pandang yang berbeda terhadap masa lampau untuk memahami masa kini dan membangun pengetahuan serta pemahaman untuk menghadapi masa yang akan datang. Pada tingkat SMA dan MA pelajaran sejarah bertujuan : (1) Mendorong siswa berpikir kritis-analitis dalam memanfaatkan pengetahuan tentang masa lampau untuk
memahami kehidupan masa kini dan yang akan datang, (2) Memahami bahwa sejarah merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, dan (3) Mengembangkan kemampuan intelektual dan keterampilan untuk memahami proses perubahan dan keberlanjutan masyarakat (Siti Waridah Qamaruddin, 2004: 6).
Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran sejarah akan tercapai apabila didukung oleh pemahaman yang mendalam mengenai hakikat pembelajaran sejarah terutama oleh guru sebagai pengelola pembelajaran dan pihak lain yang bertanggungjawab terhadap pembelajaran terutama bagi Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah.
c. Fungsi Pembelajaran Sejarah
Pembelajaran sejarah tidak semata-mata berfungsi untuk memberi pengetahuan sejarah dalam bentuk kumpulan informasi fakta sejarah, tetapi juga untuk menyadarkan anak didik untuk membangkitkan kesadarannya. Fungsi didaktis pembelajaran sejarah ialah agar generasi yang berikutnya dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari pengalaman nenek moyangnya.
Pembelajaran sejarah membangun kesadaran pada anak didik bahwa segala sesuatu adalah produk dari perkembangan masa lampau. Apa pun yang hadir pada saat ini mempunyai dimensi atau latar belakang sejarah (Sardiman, 2004: 4).
Pembelajaran sejarah di sekolah memiliki karakteristik sebagai pembelajaran yang memberikan pengalaman masa lampau untuk diterapkan pada masa sekarang. Pengetahuan masa lampau dapat berguna untuk memecahkan masa kini dan untuk merencanakan masa depan. Pengalaman masa lampau dapat dijadikan pijakan untuk menyikapi kehidupan nyata saat sekarang dan selanjutnya menciptakan kehidupan masa yang akan datang. Artinya pembelajaran sejarah di
sekolah diharapkan mampu memberikan bekal sikap melalui peristiwa-peristiwa masa lampau.
Pemahaman sejarah perlu dimiliki setiap orang sejak dini agar mengetahui dan memahami makna dari peristiwa masa lampau sehingga dapat digunakan sebagai landasan sikap dalam menghadapi kenyataan pada masa sekarang serta menentukan masa yang akan datang. Artinya sejarah perlu dipelajari sejak dini oleh setiap individu baik secara formal maupun nonformal. Keterkaitan individu dengan masyarakat atau bangsanya memerlukan terbentuknya kesadaran pentingnya sejarah terhadap persoalan kehidupan bersama seperi : nasionalisme, persatuan, solidaritas, dan intergritas nasional. Terwujudnya cita-cita suatu masyarakatnya atau bangsa sangat ditentukan oleh generasi penerus yang mampu memahami sejarah masyarakat atau bangsanya.
Peran guru dalam pembelajaran sejarah menempati posisi yang menentukan terciptanya proses pembelajaran yang efektif dan pencapaian tujuan pembelajaran. Pemahaman guru terhadap filsafat sejarah sangat berguna ketika merencanakan, mengelola dan menilai pembelajaran sejarah sesuai dengan hakikat sejarah. Perencanaan pembelajaran yang dibuat guru dalam bentuk silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran hendaknya telah mengaplikasikan filsafat sejarah terutama ketika menentukan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang harus dicapai siswa, materi pokok, strategi pembelajaran dan sistem penilaian yang akan digunakan. Demikian pula ketika guru melaksanakan proses pembelajaran hendaknya mampu menjelaskan materi pembelajaran sejarah dengan menggunakan metodologi sejarah untuk menguraikan suatu peristiwa sejarah.