• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembelajaran Sejarah Lokal di SMAN 1 Blora

BAB IV DESKRIPSI DATA DAN PEMBAHASAN

C. Pokok-pokok Temuan

2. Pembelajaran Sejarah Lokal di SMAN 1 Blora

Maret Surakarta.

Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan pembelajaran sejarah lokal Saminisme di SMAN 1 Blora. (2) Mendeskripsikan manajemen perencanaan, pengorganisasian, dan pelaksanaan pembelajaran sejarah lokal Saminisme di SMAN 1 Blora. (3) Mendeskripsikan hasil dan dampak pembelajaran sejarah lokal Saminisme di SMAN 1 Blora.

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif studi kasus tunggal bersifat terpancang, karena fokus penelitian ini telah dirumuskan sebelum penelitian dilaksanakan dan variabel-variabelnya sudah ditentukan, sudah terarah pada batasan dan fokusnya pada pembelajaran sejarah lokal.

Lokasi penelitian di SMAN 1 Blora, sedangkan subyek penelitian adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru sejarah, dan peserta didik. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan studi dokumen. Teknik cuplikan menggunakan purposive sampling. Untuk menguji validitas data menggunakan trianggulasi sumber dan analisis data menggunakan analisis model interaktif.

Hasil penelitian menunjukkan (1) Paradigma mengajar guru sejarah telah melaksanakan kurikulum KTSP dengan pembelajaran guru tunggal dan tujuan pembelajaran sejarah lokal Saminisme dapat tercapai. (2) Perencanaan pembelajaran sejarah lokal Saminisme sudah dilaksanakan dengan baik, karena semua guru yang mengajar sejarah memang berlatar belakang pendidikan sejarah sehingga berhasil menanamkan nilai-nilai Saminisme kepada peserta didik. (3) Hasil pembelajaran sejarah lokal Saminisme dapat membuat anak tertarik untuk lebih memahami tentang nilai-nilai yang terkandung didalam ajaran Saminisme.

Peneliti menyarankan perlunya guru sejarah untuk membuat buku khusus tentang ajaran Saminisme yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Tetapi jika guru mengalami kesulitan, MGMP perlu bersama-sama membuat buku pegangan mengajar tentang ajaran Saminisme. Sehingga ajaran Saminisme yang berisi tentang etika perilaku dalam pergaulan seperti kejujuran, tolong-menolong, kerja keras, dan bekerja sama dapat dilestarikan dan diteladani oleh peserta didik dimasa-masa yang akan datang tidak lapuk oleh arus globalisasi.

commit to user

vii ABSTRACT

Sarno. Local History Instruction at State Senior High School 1 of Blora. Thesis: The Master Program in Educational History, Postgraduate Program, Sebelas Maret University, Surakarta, 2012.

The aims of the research are to describe : (1) the Saminisme local history instruction at State Senior High School 1 of Blora; (2) the planning, organizational, and implementing management of the Saminism local history instruction at State Senior High School 1 of Blora; and (3) the results and impacts of the Saminism local history instruction at State Senior High School 1 of Blora.

This research used a descriptive qualitative approach of a single embedded case study and research because their focus were formulated prior to their execution and the variables have been decided and directed to the definition and focus of the local history instruction.

It was conducted at State Senior High School 1 of Blora. The subjects of the research covered the principal, vice-principal, history teachers, and the students. Its data were gathered through in-depth interview, observation, and content analysis (documentation), and its samples were taken by using a purposive sampling technique. Their validity was tested by using a source triangulation and the data were then analyzed by using an interactive model of analysis.

The results of the research show that (1) The history teachers’ instructional paradigms have implemented the curriculum of KTSP with a single teacher-based instruction and the aims of the Saminism local history instruction can be gained. (2) The planning of the Saminism local history instruction has been implemented well because all of the teachers who teach history have the educational background of history education so it succeeded to implant the Saminism values to the students. (3) The result of the Saminism local history instruction can attract the students to understand further values in the Saminism theory.

Based on the results of the research, some recommendations are proposed by the writer. History teachers should be organized to write particular book about the Saminism theory which will be used in the teaching learning proces. However, if the teachers find some difficulties in writing it, MGMP should write it together. As the result, the Saminism theory which contained etiquette how to behave in the social life; such as honesty, helping each other, hard working and cooperation will be continued and followed by the students and will not disappear by the influence of the globalization current.

commit to user

viii

KATA PENGANTAR

Sudah semestinya jika dalam pengantar ini penulis memanjatkan puji syukur kehadirat Allah Swt atas ridho-Nya, dan menyampaikan terima kasih kepada mereka yang telah ikut membantu tersusunnya tesis ini.

Ungkapan terima kasih itu penulis sampaikan kepada:

1. Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta beserta staf yang telah memberikan kesempatan dan kemudahan kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan perkuliahan di Program Studi Pendidikan Sejarah Pascasarjana. 2. Direktur Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah

memberikan kemudahan perijinan dalam peyusunan tesis ini.

3. Dr. Hermanu Joebagio, M.Pd. selaku ketua Program Pendidikan Sejarah, yang selalu memberikan dorongan semangat dalam penulisan tesis ini.

4. Prof. Dr. Herman J. Waluyo dan Dr. Hermanu Joebagio, M.Pd. selaku pembimbing penulis, atas bimbingan, dorongan, arahan dan segala bantuannya. 5. Para dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Pascasarjana Universitas Sebelas

Maret Surakarta yang telah dengan tekun dan sabar memberi dorongan serta motivasi demi terwujudnya penulisan tesis ini.

6. Kepala sekolah SMAN 1 Blora yang telah memberikan kesempatan melakukan penelitian penyusunan tesis ini.

7. Guru-guru sejarah SMAN 1 Blora yang telah membantu jalannya penelitian. 8. Kepala sekolah SMAN 1 Ngawen yang telah memberikan ijin belajar kepada

commit to user

ix

9. Rekan-rekan guru SMAN 1 Ngawen yang telah memberikan semangat dan dorongan.

10.Teman diskusi dan sahabatku Didik Budi Handoko. Khoirus Sholeh, Agus Prasetyo, dan Yuni Faridda, yang telah memberi masukan dan pendalaman untuk kelengkapan tesis ini.

11.Ibunda Warni dan Bapak Suripan (alm.) dan ibu dan bapak mertua Hj. Kiswatun dan H. Rochmin (alm.), yang telah memberikan dorongan dan doa restu dalam menyusun dan menyelesaikan tesis ini.

12.Istri (Eny Ruhayah, S.Pd.) dan kedua putri (Lis Wahyuni dan Dyah Keisworini), yang telah banyak memberikan dorongan, motivasi dan pengorbanan dalam penulisan tesis ini.

Selain itu kritik dan saran sangat penulis harapkan demi kesempurnaan penulisan tesis ini.

Semoga atas kebaikan mereka Allah meridhoi, Amin.

Surakarta, Januari 2012

commit to user x DAFTAR ISI JUDUL………... i PERSETUJUAN……… ii PENGESAHAN……… iii

PERNYATAAN KEASLIAN TESIS………. iv

MOTTO………. v

ABSTRAK……… vi

ABSTRACT………. vii

KATA PENGANTAR………. viii

DAFTAR ISI……… ix

DAFTAR TABEL……… xiii

DAFTAR GAMBAR……….. xiv

DAFTAR LAMPIRAN………... xv BAB I PENDAHULUAN……….. 1 A. Latar Belakang……… 1 B. Rumusan Masalah………... 10 C. Tujuan Penelitian……… 10 D. Manfaat Penelitian………. 11

BAB II KAJIAN TEORI ……….……… 12

A. Kajian Teori……… 12

1. Sejarah……….. 13

2. Sejarah Lokal……… 17

commit to user

xi

4. Budaya Samin Dalam Pembelajaran Sejarah Lokal………. 31

B. Penelitian yang Relevan………. 41

C. Kerangka Berpikir……… 43

BAB III METODE PENELITIAN……… 45

A. Tempat dan Waktu Penelitian………. 45

B. Bentuk dan Strategi Penelitian……… 45

C. Data dan Sumber Data……… 46

D. Teknik Pengumpulan Data dan Sampling……….. 47

E. Validitas Data……… 49

F. Teknik analisis Data……….. 49

BAB IV DESKRIPSI DATA DAN PEMBAHASAN ……… 51

A. Deskripsi Lokasi Penelitian……….. 51

1. Letak Geografis……….. 51

2. Sejarah Sekolah……….. 52

3. Keadaan Guru, Karyawan, dan Peserta Didik……… 53

4. Kurikulum dan Kegiatan Belajar Mengajar……… 55

B. Sajian Data ……….. 59

1. Perencanaan Pembelajaran Sejarah Lokal di SMAN 1 Blora 59 2. Pembelajaran Sejarah Lokal di SMAN 1 Blora…………. 67

3. Dampak Pembelajaran Sejarah Lokal di SMAN 1 Blora.. 68

C. Pokok-pokok Temuan……….. 71 1. Perencanaan Pembelajaran Sejarah Lokal

commit to user

xii

di SMAN 1 Blora……… 71

2. Pembelajaran Sejarah Lokal di SMAN 1 Blora………… 73

3. Dampak Pembelajaran Sejarah Lokal di SMAN 1 Blora.. 78

D. Pembahasan Hasil Penelitian……… 79

1. Perencanaan Pembelajaran Sejarah Lokal di SMAN 1 Blora 79 2. Pembelajaran Sejarah Lokal di SMAN 1 Blora……… 84

3. Dampak Pembelajaran Sejarah Lokal di SMAN 1 Blora…. 88 BAB V PENUTUP………. 97

A. Simpulan………. 97

B. Implikasi Hasil Penelitian………... 103

C. Saran………... 104

commit to user

xiii

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1 Kualifikasi Pendidikan, Status, Jenis Kelamin, dan

Jumlah Guru SMAN 1 Blora……….. 54 Tabel 2 Penerimaan Peserta Didik Baru SMAN 1 Blora…… 54 Tabel 3 Jumlah Peserta Didik SMAN 1 Blora……… 55 Tabel 4 Struktur Program Kurikulum SMAN 1 Blora……... 55 Tabel 5 Jumlah Rombongan Belajar SMAN 1 Blora………. 59 Tabel 6 Materi Pembelajaran Sejarah Kelas X Semester 1

commit to user

xiv

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1 : Kerangka Berpikir……… 34 Gambar 2 : Pola dan teknis analisis data……… 40

commit to user

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Gambar-gambar/dokumentasi……… 121

Lampiran 2 Catatan Lapangan………. 126

Lampiran 3 Skala Likert……….. 155

Lampiran 4 Rakapitulasi Skala Likert………. 159

Lampiran 5 RPP……….. 163

Lampiran 6 Silabus……….. 171

commit to user

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Masa lampau merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan masa kini, begitu pula antara masa lampau dengan masa yang akan datang bertemu dengan masa kini, sehingga ada baiknya untuk menengok ke masa lampau sebelum melangkah ke masa depan. Begitulah rangkaian pernyataan yang sering dikemukakan oleh orang-orang arif, filosof, dan sejarawan yang berusaha mengingatkan tentang pentingnya masa lampau.

Pernyataan diatas ternyata bukan hanya sekedar omong kosong belaka. Masa lampau pantas mendapat perhatian dari semua pihak. Hal ini setidak-tidaknya dibuktikan oleh banyaknya tulisan, kajian-kajian, dan penelitian-penelitian yang berusaha menguak dan mengungkap makna masa lampau dalam kaitannya dengan masa kini. One cannot escape from history (orang tidak dapat lepas melarikan diri dari sejarah) merupakan kata-kata yang sering dan gemar dikemukakan oleh Bung Karno pada masa jayanya (Ruslan Abdulgani, 1963:17).

Soeharto dalam salah satu pesannya kepada generasi muda yang diabadikan diatas sebongkah batu besar pada halaman Kompleks Pusat Komunikasi Pemuda yang terletak disebelah gedung TVRI Senayan-Jakarta, bertuliskan; “Belajar dari sejarah adalah tidak lain usaha untuk membuat sejarah yang lebih baik dan gemilang dimasa depan” (Budhisantoso, 1983/1984:15).

Kalau diperhatikan ungkapan-ungkapan tersebut diatas maka jelaslah bahwa sejarah sebagai salah satu cabang ilmu sosial mempunyai fungsi dan

commit to user

kegunaan yang sangat penting dalam kehidupan, yakni sebagai pedoman dan penunjuk dalam menghadapi masa kini dan masa yang akan datang. Karena dengan mempelajari sejarah berarti memperbanyak pengetahuan dan pengalaman-pengalaman, sehingga memperbanyak pula pedoman atau pelajaran hidup. Untuk hal tersebut jauh sebelum abad Masehi, Herodotus dan Cicero sudah mengungkapkan bahwa, historia magistra vitae, yang berarti sejarah adalah guru kehidupan (Sarita Pawiloy, 1986: 25).

Terkait dengan uraian diatas, Sartono Kartodirdjo (1987) mengemukakan bahwa sejarah adalah cerita tentang pengalaman kolektif suatu komunitas atau bangsa dimasa lampau. Pada pribadi, pengalaman membentuk kepribadian seseorang dan sekaligus menentukan identitasnya. Proses serupa terjadi pula pada koletivitas, yaitu pengalaman kolektifnya atau sejarahnyalah yang membentuk kepribadian nasional dan sekaligus identitas nasionalnya. Bangsa yang tidak mengenal sejarahnya dapat diibaratkan sebagai seorang yang telah kehilangan memorinya. Oleh karena itu untuk mengenal identitas suatu bangsa maka pengetahuan sejarah sangat diperlukan. Pentingnya komunikasi antar daerah akan membentuk jaringan yang merupakan kerangka, yaitu tempat melekatnya “darah dan daging sejarah”, ialah fakta-fakta tentang kegiatan interaksi antara golongan lapisan sosial dan antara daerah-daerah.

Berdasarkan arti penting dari sejarah seperti yang dikemukakan diatas, maka peranan pendidikan dan pengajaran sejarah sangatlah berarti dan berguna bagi kepentingan pembangunan dan kelangsungan hidup suatu bangsa. Jadi tidaklah beralasan apabila masih ada segelintir orang yang mencoba menganggap

commit to user

bahwa pendidikan dan pengajaran sejarah tidak relevan lagi dengan situasi dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi dewasa ini.

Dalam masa pembangunan dewasa ini, salah satu fungsi pendidikan adalah mengembangkan kesadaran nasional sebagai daya mental dalam proses pembangunan nasional dan identitasnya. Struktur kepribadian nasional tersusun dari karakteristik perwatakan yang tumbuh dan melembaga dalam proses pengalaman sepanjang kehidupan bangsa. Dengan demikian kepribadian dan identitasnya bertumpu pada pengalaman kolektif, yaitu pada sejarahnya. Dalam konteks pembentukan identitas bangsa, maka pengetahuan sejarah mempunyai fungsi yang fundamental (Sartono Kartodirdjo, 1989).

Terhadap kepribadian dan identitas suatu bangsa maka pembelajaran sejarah lokal merupakan juga salah satu sarana dan sumber untuk lebih memahaminya secara mendalam. Apalagi kalau bangsa itu tersusun dari berbagai suku atau etnis. Hal ini dapat diungkapkan bahwa untuk mengetahui kesatuan yang lebih besar, maka bagian yang lebih kecil itupun harus dapat dimengerti dengan baik. Terkait dengan hal tersebut, Sartono Kartodirdjo sebagaimana dikutip oleh (Widja,1989) mengemukakan bahwa seringkali hal-hal yang ada di tingkat nasional baru dapat dimengerti dengan lebih baik, apabila dimengerti dan dipahami pula dengan baik perkembangan ditingkat lokal. Hal-hal ditingkat lebih luas itu bisaanya hanya memberikan gambaran dari pola-pola umum saja, sedangkan situasinya yang lebih kongrit dan terperinci baru dapat diketahui dengan melalui gambaran sejarah lokal.

commit to user

Menurut Soedjatmoko (dalam Patahuddin, 1996: 5) sejarah lokal mempunyai peranan penting untuk memahami diri sebagai suatu bangsa dengan berbagai masalah yang dihadapi sekarang. Disamping itu, kepentingan lain dari adanya pembelajaran dan penulisan sejarah lokal menurut Lapian (1980) adalah: (1) Untuk mengenal berbagai peristiwa sejarah di daerah-daerah seluruh Indonesia dengan lebih baik dan lebih bermakna; (2) Untuk dapat mengadakan koreksi terhadap generalisasi-generalisasi yang sering dibuat dalam penulisan sejarah nasional; (3) Guna memperluas pandangan tentang dunia Indonesia, maksudnya ialah untuk meningkatkan saling pengertian diantara kelompok-kelompok etnis yang ada di Indonesia dengan jalan meningkatkan pengetahuan kesejarahan dari masing-masing kelompok terhadap kelompok lainnya.

Pembelajaran sejarah lokal di sekolah dapat mempergunakan sumber kehidupan sosial dan kehidupan budaya masyarakat setempat. Para peserta didik akan lebih mengenal dan akrab dengan kehidupan sosial budaya dan memperoleh contoh yang kongkret. Sejarah lokal sebagai suatu materi pembelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Blora berisi tentang aspek-aspek kesejarahan dari ajaran Samin Surosentiko, yang kita kenal dengan tradisi lisan masyarakat Samin (Saminisme). Dalam membahas Saminisme, yang perlu mendapat perhatian adalah memahami gerakan Samin Surosentiko, memahami tradisi lisan masyarakat Samin, dan memikirkan kelestarian tradisi lisan masyarakat Samin, serta keteladanan yang dapat diambil dari tradisi lisan masyarakat Samin untuk peserta didik.

Penelitian mengenai masyarakat Samin yang dilakukan oleh Soerjanto Sastroatmodjo (2003), mengungkap tentang gerakan masyarakat Samin pimpinan

commit to user

Samin Surosentiko dan bagaimana ideologinya. Ajaran Saminisme berpangkal pada kesusilaan. Inilah yang menjadi segala aksi yang ditujukan kepada pemerintah kolonial Belanda antara tahun 1880-1910, yang kemudian diikuti dengan gerakan moral yang diwujudkan dalam tata kemasyarakatan yang mandiri. Penelitian mengenai masyarakat Samin juga dilakukan oleh Titi Mumfangati dkk. Hasil dari penelitian menyebutan bahwa masyarakat Samin adalah masyarakat yang memiliki ciri-ciri khusus yang menjadi identitas mereka dalam penampilan sehari-hari. Identitas itu menunjukkan karakter dan kelengkapan mereka sesuai dengan ajaran Samin Surosentiko yang mereka pertahankan dari waktu ke waktu. Dengan adanya ciri khas tersebut mereka akan merasa bangga mengenakannya pada saat-saat tertentu, seperti pertemuan rutin, hajatan, dan sebagainya. Masyarakat Samin mempunyai kehidupan yang cukup unik dan menarik untuk dikaji. Ajaran-ajaran dari Samin Surosentiko pada dasarnya merupakan ajaran yang positif terutama yang berkaitan dengan aspek kejujuran, kesederhanaan hidup, dan semangat kerja. Untuk itu perlu diungkap dan dipelajari lebih lanjut untuk diambil segi-segi positifnya.

Menurut Finberg dan Skipp (1973: 25-44) mengatakan bahwa sasaran sejarah lokal adalah asal-usul, pertumbuhan, kemunduran, dan kejatuhan dari kelompok masyarakat lokal.

Pembelajaran sejarah lokal ada sejak kurikulum 1994 (kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif) pelaksanaannya berpedoman kepada Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) dan dipraktekkan dikelas secara bertahap mulai tahun pelajaran 1994/1995, berdasarkan Surat

commit to user

Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 060/U/1993. Disamping mempertimbangkan persiapan berbagai sarana demi kelancaran pelaksanaan kurikulum 1994, juga mempertimbangkan faktor kemampuan guru.

Semenjak Reformasi tahun 1999 terjadi beberapa kali perubahan dibidang kurikulum, utamanya dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 1999 menjadi Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan (KTSP) tahun 2004. KTSP disusun dan dikembangkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 36 ayat 1), dan 2) sebagai berikut:

1. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. 2. Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan

dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. (http://wijayalabs.multiply.com. diunduh 14 April 2011).

Menurut KTSP dan seiring dengan adanya Otonomi Daerah (Otoda), masing-masing daerah kabupaten atau propinsi diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi lokal didaerah tersebut untuk dikembangkan dengan memasukkan kedalam materi pembelajaran di sekolah. Bahan kajian dari suatu mata pelajaran dapat dijabarkan dan ditambah sesuai dengan keadaan lingkungan setempat. Hal tersebut memberi kesempatan bagi guru untuk menyesuaikan tujuan, isi bahan kajian, program kegiatan belajar mengajar dan penilaian. (Hermana Somantrie, 1993: 35).

commit to user

Ada kemungkinan seorang guru tidak mampu menyusun sendiri program pengajaran dan beberapa tuntutan kurikulum. Guru dapat memperingan tugas yang berkaitan dengan kegiatan belajar – mengajar dibahas bersama melalui pertemuan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

Implementasi KTSP di SMA oleh pemerintah memberi otonomi bagi sekolah untuk memilih materi tertentu dalam pembelajaran yang ada kaitannya dengan potensi di daerah. Adanya otonomi sekolah ini dimanfaatkan oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) sejarah Kabupaten Blora memasukkan sejarah lokal yaitu tradisi lisan masyarakat Samin dalam pembelajaran sejarah Kelas X pada Standart Kompetensi (SK) Memahami prinsip dasar ilmu sejarah dan Kompetensi Dasar (KD) Mendeskripsikan tradisi sejarah dalam masyarakat Indonesia masa pra-aksara dan masa aksara. Walaupun hanya sedikit waktu yang tersedia, tetapi paling tidak guru dapat memperkenalkan kepada peserta didik mengenai tradisi lisan masyarakat Samin yang ada di wilayah kabupaten Blora. Harapan dari peneliti adalah tradisi lisan masyarakat Samin Kabupaten Blora dapat dikenali oleh peserta didik yang menyangkut tradisi, ajaran, dan pandangan hidup yang baik dari masyarakat Samin dapat diambil sebagai suri tauladan bagi mereka.

MGMP sejarah SMA Kabupaten Blora memilih Saminisme menjadi materi sejarah lokal karena apabila kita bermaksud menyususn historiografi Indonesia yang baru, artinya yang Indonesiasentris, maka perjuangan tokoh-tokoh terlupakan seperti Samin Surosentiko ini patut diperhatikan sebagai bahan studi yang layak. Apalagi sumber-sumber tentang itu masih dapat dilacak, baik

commit to user

berdasarkan bahan yang tersimpan di Leiden, Amsterdam, mapun beberapa

Dagsregister dan dokumen historis di Bojonegoro, Rembang, dan Pati, karena di

daerah itulah gerakan Samin Surosentiko terjadi. Ajaran Samin Surosentiko sampai sekarang masih banyak dianut oleh masyarakat di kabupaten Blora. Samin Surosentiko menjadi seorang pemimpin besar, bahkan seorang mesias dikalangan pengikutnya, tetapi tokoh ini terlupakan oleh penulis sejarah.

Sejarah lokal termasuk budaya lokal sangat penting untuk dijadikan materi pembelajaran di sekolah. Karena sejarah atau budaya lokal merupakan potensi daerah yang perlu ditumbuh kembangkan, dilestarikan, dan dikenali oleh generasi muda agar tidak punah. Dalam usahanya untuk melestarikan dan mengembangkan potensi daerah inilah pemerintah memberi otonomi kepada sekolah, juga pemerintah kabupaten kota dan propinsi mengembangkan dan memasukkan sejarah lokal ke kurikulum sekolah.

Kebudayaan mempunyai fungsi yang sangat besar bagi masyarakat. Menurut Koentjaraningrat, ada dua fungsi kebudayaan yaitu: 1) sebagai sistem gagasan dan perlambangan yang memberi identitas kepada warga masyarakat dan 2) sebagai sistem gagasan atau pralambang yang dapat digunakan oleh semua warga masyarakat yang majemuk sehingga dapat saling berkomunikasi untuk memperkuat solidaritas.(Koentjaraningrat, 1990 ).

Dengan memasukkan sejarah lokal ke kurikulum sekolah, maka peserta didik tidak akan terasing dengan lingkungannya. Peserta didik akan lebih kenal dengan sejarah daerahnya sehingga mereka akan rumongso handarbeni, rumongso

commit to user

melestarikan, dan mempertahankan bahkan mengembangkan sejarah dan budaya lokal yang ada di daerahnya. Mereka akan mengenali tokoh-tokoh lokal di daerahnya.

Dalam kajian anthropologi, sastra lisan termasuk dalam jenis folklore lisan. Folklore (Danandjaja, 2002:2) yaitu sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan secara turun temurun diantara kolektif apa saja, secara tradisional dan versi yang berbeda baik dalam bentuk lisan yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat. Tradisi lisan adalah berbagai pengetahuan dan adat kebisaaan secara turun temurun disampaikan secara lisan.Adapun bentuk-bentuk tradisi lisan antara lain cerita rakyat, teka-teki, peribahasa, dan nyayian rakyat.

Masyarakat Samin menyebut dirinya wong sikep (orang yang bertanggung jawab), dan disebut Samin karena mereka mempunyai pemimpin yang bernama Samin Surosentiko. Samin Surosentiko mengajarkan kepada pengikutnya untuk berbuat kebajikan, dan kesabaran, kesederhanaan, kejujuran, bekerja sama, tolong menolong, dan kerja keras. Hal yang berkaitan dengan masyarakat Samin cukup banyak, dan – terutama tradisi lisan masyarakat Samin - yang identik dengan

Dokumen terkait