a. Pengertian Pembelajaran Sejarah
Pembelajaran sejarah bangsa Indonesia telah memperlihatkan bahwa kegigihan, kemandirian, saling menghormati, dan semangat persatuan merupakan karakter utama pembentuk bangsa Indonesia. Dari rangkaian peristiwa sejarah bangsa kita dapat mempelajari nilai-nilai tersebut menjadi kekuatan bagi perjuangan bangsa Indonesia. Pendidikan adalah proses pembudayaan secara terus-menerus dan sistematis yang akan membentuk kepribadian peserta didik menjadi manusia dewasa seutuhnya, dalam tataran ini pendidikan dan budaya adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Memasukkan pemahaman dalam ranah kognitif, pemahaman menempati tingkat kedua setelah pengetahuan, ini berarti memahami lebih sekedar mengetahui, memahami lebih mendalam dari sekedar mengetahui.
Dapat dikatakan bahwa pemahaman adalah gabungan antara mengetahui dan menghayati sesuatu yang menyebabkan seseorang mendapatkan pemahaman secara utuh.21
Pemahaman mancakup kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari. Hal ini berarti bahwa pemahaman
21Heri Susanto (Mengutip Bloom), Seputar Pembelajaran Sejarah, Aswaja Pressindo, Yogyakarta, 2014, Hlm 7.
26
melibatkan beberapa proses, yaitu proses mengetahui, menghayati pengetahuan tersebut, dan kemudian menangkap makna yang terkandung di dalamnya.Jika dihubungkan dengan pemahaman sejarah, berarti seseorang dapat memiliki pemahaman sejarah apabila sebelumnya telah mengetahui konsep sejarah, kemudian menghayati peristiwa sejarah tersebut, dan kemudian dari penghayatan tersebut akan mampu mengangkap makna terkandung dalam peristiwa sejarah.
Dengan mempelajari sejarah didapat suatu konstruksi berpikir yang realisties-empirik, sesuai dengan fenomena sejarah yang ada. Dengan memahami sejarah setidaknya akan mendorong menjadi pribadi yang terbuka dan memiliki hati yang bersih dari prasangka dan penghakiman.
Pendidikan sejarah yang baik akan sangat menentukan apakah masyarakat yang akan datang memiliki karakter yang lebih baik dari masyarakat yang ada sekarang dan di masa lalu, ataukah sebaliknya. Dengan demikian terdapat hubungan yang sangat kuat antara pendidikan karater dengan pendidikan sejarah.22
Pembelajaran merupakan jantung dari proses pendidikan.
Pembelajaran menjadi sangat penting karena dalam kegiatan inilah terdapat proses interaksi antara guru dan peserta didik. Arti penting pembelajaran memberikan penjelasan bahwa pembelajaran merupakan proses yang tidak bisa dianggap remeh dalam proses kemajuan suatu bangsa. Dalam pembelajaran sejarah, peran penting pembelajaran terlihat
22Ibid, hlm 8
27
jelas bukan hanya sebagai transfer ide, akan tetapi juga proses pendewasaan peserta didik untuk memahami identitas, jati diri, dan kepribadian bangsa melalui pemahaman terhadap peristiwa sejarah.
Prinsip dalam pembelajaran sejarah sebagai berikut:23
1) Pembelajaran yang dilakukan haruslah adapti terhadap perkembangan peserta didik dan perkembanan zaman. Sejarah berserita tentang kehidupan pada masa lalu, bukan berarti sejarah tidak bisa diajarkan secara kontekstual. Banyak nilai dan fakta sejarah yang bila disampaikan dengan benar dan sesuai dengan alam fikiran peserta didik akan mampu membangkitkan pemahaman dan kesadaran peserta didik terhadap nilai-nilai nasionalisme, patriotisme, dan persatuan.
2) Pembelajaran sejarah hendaklah berorientasi pada pendekatan nilai.
Menyampaikan fakta memang sangat penting dalam pembelajaran sejarah, akan tetapi yang juga tidak kalah penting adalah bagaimana mengupas fakta-fakta tersebut dan mengembil intisari nilai yang terdapat di dalamnya sehingga si pembelajar akan menjadi lebih mawas diri sebagai akibat dari pemahaman nilai tersebut.
3) Strategi pembelajaran yang digunakan hendaklah tidak mematikan kreatifitas dan memaksa peserta didik hanya untuk menghafal fakta dalam buku teks. Sejarah sudah saatnya diajarkan dengan cara yang berbeda, kebekuan pembelajaran terjadi seringkali dikarenakan rendahnya kreatifitas dan aktif dalam pembelajaran sejarah Indonesia.
b. Tujuan Pembelajaran Sejarah
Pembelajaran, seperti telah dikemukakan sebelumnya merupakan jantung dari proses pendidikan. Pembelajaran menjadi sangat penting karena dalam kegiatan inilah terdapat proses interaksi antara guru sebagai pembawa pesan/ide dan peserta didik sebagai penerima pesan/ide. Dengan pandangan ini nampaklah bahwa pembelajaran merupakan wahana
23Ibid, hlm 56
28
transformasi dan regenerasi budaya dari suatu generasi kegenerasi berikutnya. Pembelajaran sejarah nasional mempunyai tujuan:24
1. Membangkitkan, mengembangkan serta memelihara semnagat kebangsaan.
2. Membangkitkan hasrat mewujudkan cita-cita kebangsaan dalam segala lapangan.
3. Membangkitkan hasrat mempelajari sejarah kebangsaan dan mempelajarinya sebagai bagian dari sejarah dunia.
4. Menyadarkan anak tentang cita-cita nasional (Pancasila dan Undang-undang Pendidikan) serta perjuangan tersebut untuk mewujudkan cita-cita itu sepanjang masa.
Dari tujuan tersebut dapat kita ketahui bahwa aspek sikap menjadi tujuan terpenting dalam pembelajaran sejarah. Aspek sikap tersebut adalah :25
1) Kesadaran waktu yang berimplikasi pada penghargaan terhadap waktu yang dimulai dengan mengembangkan pemahaman tentang hubungan kausalitas antara penyebab sebuah keadaan dengan akibat pada masa kini dan bagaimana menghadapi masa depan.
2) Sikap kritis sebagai sintesa dari pemahaman terhadap peristiwa masa lalu yang membentuk kepribadian budaya bangsa.
3) Sikap menghargai peninggalan sejarah sebagai hasil perjuangan manusia di masa lalu.
4) Bangga sebagai bangsa indonesia yang dapat diimplementasikan pada setiap bidang kehidupan.
5) Historical empati, puncak dari kesadaran bersikap dalam pembelajaran sejarah adalah lahirnya empati. Mampu menghayati dan merasakan bagaimana situasi batin dari para pelaku sejarah adalah kesadaran tertinggi yang dapat dicapai dari pembelajaran sejarah terutama pada materi sejarah perjuangan.
Sedangkan aspek kognitif terpenting dari tujuan pembelajaran sejarah menurut Standar Isi tersebut adalah pemahaman terhadap proses perkembangan bangsa. Lebih jauh lagi perkembangan bangsa Indonesia
24Heri Susanto, Heri Susanto, Seputar Pembelajaran Sejarah, Aswaja Pressindo, Yogyakarta, 2014, Hlm 57.
25Ibid, hlm 58
29
dari masa awal kehidupan masa pra aksara sampai dengan era kekinian dan masih terus berproses. Perkembangan inilah yang pada akhirnya membentuk jati diri bangsa dan mempengaruhi bagaimana cara kita bertindak pada masa sekarang dan akan datang.
c. Karakteristik Pembelajaran Sejarah
Setiap disiplin ilmu memiliki karakteristiknya sendiri, begitu juga ilmu sejarah. Dengan demikian dalam pembelajarannya pun memiliki karakteristik yang berbeda. Beberapa karakteristik pembelajaran sejarah adalah :26
1) Pembelajaran sejarah mengajarkan tentang kesinambungan dan perubahan. Menurut Heri Susanto “ berpikir sejarah mengharuskan kita mempertemukan dua pandangan yang saling tertentangan ; Pertama, cata berpikir yang kita gunakan sekarang ini adalah warisan yang tidak dapat disingkirkan, dan kedua jika tidak berusaha menyingkirkan warisan itu mau tidak mau kita harus menggunakan
“presentisme” yaitu melihat masa lalu dengan kacamata masa kini”.
Dengan demikian kita harus memahami bahwa kesinambungan masa lalu yang membentuk masa kini dan adanya perubahan unsur-unsur, nilai dan tatanan masyarakat sebagai bantuk dari reinterprestasi terhadap perubahan zaman.
2) Pembelajaran sejarah mengajarkan tentang jiwa zaman. Mempelajari sejarah tidak langsung berarti berusaha memahami bagaimana pola dan tindakan manusia sesuai dengan cara pandang dan tata nilai bermasyarakat manusia pada masa lalu. Dengan demikian mempelajari sejarah berarti juga mempelajari bagaimana semnagat ide dan semangat jiwa manusia pada masanya.
3) Pembelajaran sejarah bersifat kronologis. Materi sejarah tidak lepas dari periodesasi dan kronologi, periodesasi diciptakan sesuai dengan kronologi peristiwa. Pembelajaran kronologis ini mengajarkan peserta didik untuk berpikir sistematis dan memahami hukum kausalitas.
4) Pembelajaran sejarah pada hakekatnya adalah mengajarkan tentang bagaimana prilaku manusia. Sejarah bercerita tentang manusia, tentang masyarakat pada suatu bangsa. Gerak sejarah ditentukan oleh bagaimana manusia memberikan respon terhadap tantangan hidup yang dia alami dalam bentuk perilaku. Memahami dan menghayati
26Heri Susanto, Seputar Pembelajaran Sejarah, Yogyakarta, Aswaja Pressindo, 2011, hlm 59.
30
perilaku manusia ini akan membuat kita mampu mengambil nilai-nilai positif dan menerapkannya dalam kehidupan kita.
5) Kulminasi dari pembelajaran sejarah adalah memberikan pemahaman akan hukum-hukum sejarah. Hukum-hukum tersebut adalah (a) hukum keadaan yang terulang, (b) proses kehidupan adalah wajar (bagaimanapun bentuknya), (c) hukum perubahan, (d) waktu yang ditetapkan (takdir sejarah), (e) kelompok/ kelas sosial dan revolusi, (f) adanya manusia luar biasa dalam sejarah.
d. Kurikulum Sejarah di SMA
Kurikulum 2013 mengalami beberapa perkembangan dan perbaikan sejak digulirkannya pada tahun 2013. Perbaikan kurikulum tersebut berlandaskan pada landasan kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidian dan Kebudayaan Nomor 160 tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013. Pelaksanaan perbaikannya juga atas dasar masukan dari berbagai lapisan publik (masyarakat sipil, asosiasi profesi, perguruan tinggi, dunia persekolahan) terhadap ide, dokumen, dan implementasi kurikulum yang diperoleh melalui monitoring dan evaluasi dari berbagai media. Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi serta masukan publik tersebut, terdapat beberapa masukan umum, antara lain adanya pemahaman yang kurang tepat oleh masyarakat yang diakibatkan oleh format penyajian dan nomenklatur dalam Kurikulum 2013: (1) Kompetensi Dasar (KD) pada Kompetensi Inti 1 (1) dan KD pada KI-2 yang dianggap kurang logis dikaitkan dengan karakteristik mata pelajaran; (2) terindikasi adanya inkonsistensi antara KD dalam silabus dan buku teks (baik lingkup materi maupun urutannya); (3) belum ada pernyataan eksplisit dalam dokumen kurikulum tentang perlunya peserta
31
didik lebih melek teknologi; (4) format penilaian dianggap terlalu rumit dan perlu penyederhanaan; (5) penegasan kembali pengertian pembelajaran saintifik yang bukan satu-satunya pendekatan dalam proses pembelajaran di kelas; (6) penyelarasan dan perbaikan teknis buku teks pelajaran agar mudah dipelajari oleh peserta didik.
Secara umum, perbaikan Kurikulum 2013 bertujuan agar selaras antara ide, desain, dokumen, dan pelaksanaannya. Secara khusus, perbaikan Kurikulum 2013 bertujuan menyelaraskan antara SKL, KI,KD, pembelajaran, penilaian, dan buku teks.
Perbaikan tersebut pada tahun 2017 disesuaikan dengan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). PPK adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan melibatkan dan kerjasama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai gerakan nasional revolusi mental (Pasal 1 ayat [1]). PPK mengedepankan lima nilai utama karakter yaitu religiositas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong dan integritas. Penguatan lima nilai karakter tersebut akan dapat mendorong peserta didik untuk memiliki keterampilan Abad 21 yang dibutuhkan dalam meniti kehidupan, seperti keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving), keterampilan berkolaborasi (collaboration skills), keterampilan berkreasi
32
(creativities skills), dan keterampilan berkomunikasi (communication skills).27