Sejarah yang diajarkan dengan baik dapat menolong manusia menjadi kritis dan berprikemanusiaan. Ada hal penting dalam pembelajaran sejarah untuk memberikan pemahaman sejarah yang benar, dan untuk mewujudkan hal tersebut perlu kiranya melakukan pendekatan khusus dalam pembelajaran sejarah, mengingat karakteristik pembelajaran sejarah berbeda dengan pelajaran lain.
34
Salah satu solusi dari permasalahan di atas dalam dunia pendidikan sejarah adalah melalui pengajaran sejarah yang adapti dan sesuai dengan kondisi dan perkembangan peserta didik. Pendekatan ini bukan soal bagaimana materi sejarah disampaikan, akan tetapi juga apakah konten/isi materi pembelajaran tersebut juga sudah mendapatkan pembelajaran nilai dalam pembelajaran sejarah yang harus di sampaikan.
Pengajaran sejarah merupakan sumber nilai dan karena itu memberikan
“moral precepts” yang mengatur/mengikat kelakuan kelompok sehingga integritas kelompok terjamin kelangsungannya. Hal ini berarti bahwa pembelajaran sejarah dapat berubah menjadi proses indoktrinasi, akan tetapi penyampaian nilai yang benar yang diharapkan setelahnya peserta didik akan memiliki pemahaman dan acuan dalam mengemabangkan sikap nasionalisme.
Ada tiga konsep penting dalam pemaparan di atas yang saling berhubungan, pertama pengajaran sejarah sebagai jiwa pendidikan sejarah sudah selayaknya mendapat perhatian yang lebih besar, karena dengannya akan tercipta generasi-generasi yang memiliki pemahaman sejarah yang baik, adaptable dan aplikatif dalam kehidupan nyata. Kedua, pemahaman sejarah yang benar sebagai dampak pengiring dari pengajaran sejarah yang baik akan menumbuhkan kesadaran untuk menghargai dan melestarikan semangat bangsa. Ketiga, pemahaman sejarah yang baik akan diperoleh peserta didik apabila pembelajaran sejarah disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik, sesuai dengan keadaan lingkungan belajar.
35 B. Penelitian Relevan
Penelitian yang relevan ini digunakan untuk mendukung penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti. Dengan demikian maka penelitian yang relevan ini dipilih sesuai dengan apa yang menjadi variabel-variabel yang ada pada judul penelitian ini. Penelitian yang relevan ini juga dapat dijadikan acuan peneliti dalam menentukan bagaimana kedepannya penelitian ini akan dilaksanakan. Dalam hal ini, peneliti mengambil penelitian relevan yang dilakukan oleh:
1. Venti Widhiawatie Kusumaningtyas. Dengan judul penerapan pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw untuk meningkatkan minat belajar peserta didik mata pelajaran sejarah Indonesia Kelas X SMA Negeri 1 Ngaglik. Dalam penelitian tersebut, ada peningkatan kepuasan belajar peserta didik setelah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw saat kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Hal ini dapat ditunjukkan dari hasil yang diperoleh melalui hasil angket serta hasil observasi. Hasil angket penelitian tindakan kelas pada siklus satu sebesar 64,7%, siklus dua sebesar 66,4%, serta siklus tiga sebesar 67,6%.
Hasil observasi penelitian tindakan kelas pada siklus satu sebesar 58,3%, siklus dua sebesar 75%, serta siklus tiga sebesar 83,3%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif dengan teknik Jigsaw utuh dikolaborasikan dengan perstasi secara acak, memberi gambaran-gambaran permasalahan secara umum serta pemberian reward umum serta dapat meningkatkan minat belajar pada mata pelajaran IPS.29
29Venti Widhiawatie Kusumaningtyas. dalam
http://eprints.uny.ac.id/23578/1/ringkasan%20skripsi.pdf.
36
2. Penelitian yang dilakukan oleh Yuliant Angga Pradanasari dengan judul meningkatkan aktivitas peserta didik dalam pembelajaran sejarah melalui penerapan model Cooperative Learning Tipe Jigsaw di SMA Negeri 1 Jogonalan Klaten. Dalam penelitian ini, ada peningkatan kepuasan belajar peserta didik setelah menerapkan model pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw saat kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Pada siklus I menggunakan model Cooperative Learning tipe Jigsaw secara murni dan utuh.
Pada siklus I hasil observasi aktivitas peserta didik setelah tindakan mencapai 61,25% dan hasil angket aktivitas peserta didik setelah tindakan mencapai 64,25% dan presentase angket terbesar 6,02%. Siklus II peneliti menggunakan model Cooperative Learning tipe Jigsaw dipadukan dengan media power point. Pada siklus II hasil observasi aktivitas peserta didik setelah tindakan mencapai 68,75% dan hasil angket aktivitas peserta didik setelah tindakan mencapai 68,75% dan hasil angket aktivitas peserta didik setelah tindakan mencapai 72,66% dan presentase observasi aktivitas mengalami peningkatan 7,50% dan presentase angket sebesar 8,13%. Pada siklus III peneliti menggunkan model Cooperative Learning tipe Jigsaw hasil pada lembar observasi peserta didik setelah tindakan sebesar 77,52% dan pada lembar angket peserta didik setelah tindakan sebesar 81,57% dan presentase observasi aktivitas mengalami peningkatan sebesar 8,75% dan presentase angket sebesar
37
8,92%. Dapat disimpulkan dalam penerapan model Cooperative Learning tipe Jigsaw untuk meningkatkan aktivitas belajar peserta didik.30
3. Penelitian yang dilakukan oleh Eliseri Mastati. Dengan judul penerapan model CooperativetipeJigsaw untuk meningkatkan hasil belajar sejarah peserta didik.Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw yang dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas X IPA-6 SMA Negeri 1 Padangsidimpuan. Hal ini terlihat dari presentase ketuntasan belajar yang diperoleh oleh peserta didik, dimana pada pelaksanaan siklus I diperoleh ketuntasan belajar adalah 68,97%, dan pada siklus II diperoleh presentase 89,66%. Penggunaan model Cooperative tipe Jigsaw dapat meningkatkan aktivitas peserta didik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar, hal ini terlihat dari hasil observasi yang dilakukan oleh seorang pengamat yang merupakan mitra peneliti dalam melaksanakan penelitian ini.
Hasil observasi pada pelaksanaan siklus I diperoleh peresentase rata-rata adalah 48,71% dan pada siklus II diperoleh rata-rata 87,93%. Hasil observasi terhadap partisipasi belajar peserta didik dari siklus I sampai siklus II menunjukkan adanya peningkatan aktivitas peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.31
4. Penelitian yang dilakukan oleh Januar Barkah. Dengan judul pengaruh model pembelajaran jigsaw terhadap minat belajar dan kreativitas belajar sejarah
30Yuliant Angga Pradanasari. dalam
http://journal.student.uny.ac.id/ojs/index.php/risalah/article/viewFile/924/849
31Eliseri Mastati. dalam
https://www.researchgate.net/publication/327504277_Penerapan_Model_Pembelajaran_Koopera tif_Tipe_Jigsaw_untuk_Meningkatkan_Hasil_Belajar_Sejarah_Peserta didik
38
peserta didik di SMK Kharismawati Jakarta Selatan. Dalam penelitian tersebut ada peningkatan kepuasan belajar peserta didik setelah menerapkan model pembelajaran kooperatif learning tipe Jigsaw. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti dengan menganalisis 2 variabel yaitu variabel X (metode pembelajaran jigsaw) dan variabel Y (minat belajar sejarah) dengan metode kuantitatif menghasilkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara motode pembelajaran jigsaw terhadap minat belajar sejarah peserta didik di SMK Kharismawita sebesar 7,714 dan dapat dilihat bahwa hasil uji t yaitu thitung > ttabel 7,714 > 1,992. Metode pembelajaran jigsaw berperan dalam menumbuhkan minat belajar sejarah peserta didik. Metode pembelajaran jigsaw memiliki kontribusi terhadap minat belajar sejarah peserta didik sebesar 44,89% sedangkan sisanya sebesar 55,11% dipengaruhi oleh variabel lain diluar judul penelitian ini. Hasil penelitian ini menginformasikan bahwa semakin baiknya penerapan metode pembelajaran jigsaw di dalam kelas, maka akan semakin besar pula minat belajar dan kreativitas belajar sejarah peserta didik. Karena metode pembelajaran jigsaw akan membentuk peserta didik untuk berkomunikasi secara efektif, belajar bekerjasama dengan orang lain dan mengembangkan karakter yang mendukung aktivitas menjalin relasi dengan orang lain, misalnya ramah, rendah hati, berpikir positif serta kritis sehingga peserta didik akan mudah dalam memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan yang akan menunjang peserta didik dalam mengikuti proses
39
pembelajaran dan memiliki minat belajar yang besar terhadap mata pelajaran sejarah.32
5. Penelitian yang dilakukan oleh Georgius Arga Dewantara. Dalam Judul Upaya meningkatkan prestasi belajar sejarah melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw berbantu media pmbelajaran audio visual pada siswa kelas X akuntansi 2 SMK Negeri 1 Bantul. Dalam peneitian tersebut, ada peningkatan kepuasan belajar peserta didik setelah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw berbantu media audio visual dapat meningkatkan prestasi belajar sejarah siswa kelas X Akuntansi 2 SMK Negeri 1 Bantul berdasarkan data hasil tes pada pra siklus terdapat 50% siswa yang tuntas KKM, kemudian pada siklus I meningkat menjadi 72 % siswa yang tuntas KKM, dan pada siklus II meningkat lagi menjadi 88 % siswa yang tuntas KKM. Selain itu, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw berbantu media audio visual meningkatkan kegiatan belajar pada siswa kelas X Akuntasi 2 SMK Negeri 1 Bantul, melalui observasi diskusi kelompok yang hasilnya dapat dilihat pada siklus I yang terdapat 83 % siswa cukup aktif dan kemudian meningkatkan pada siklus II menjadi 50 % siswa yang aktif. 33
Kesimpulan dari penelitian relevan adalah dengan diterapkannya model Cooperative Learning Tipe Jigsaw dalam pembelajaran sejarah Indonesia dapat meningkatkan aktivitas belajar, motivasi, dan tanggungjawab bagi peserta didik.
32Januar Barkah, dalam
http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/Candrasangkala/article/download/3432/2538
33Georgius Arga Dewantara. dalam,
http://repository.usd.ac.id/36111/2/151314023_full.pdf
40
Hal ini dapat dilihat dari peningkatan nilai peserta didik sebelum dan sesudah diterapkannya model Cooperative Learning Tipe Jigsaw dalam pembelajaran sejarah Indonesia.