BAB II KAJIAN PUSTAKA
C. Pembelajaran Sholat Jenazah bagi Tunanetra
Ketika anak yang lahir dengan keadaan cacat fisik (tunanetra) bukan berarti Allah SWT. tidak adil dengan menghilangkan anugerah berupa mata sebagai panca indera untuk melihat dan belajar. Karena masih ada segenap panca indera lain yang dapat difungsikan dengan baik guna modal menerima ilmu. Boleh jadi seorang anak tidak dapat melihat (buta), akan tetapi dia memiliki fikiran dan kepekaan rasa yang tinggi melebihi mereka yang mempunyai pengelihatan normal. Dalam hal beribadah juga sama, penyandang tunanetra masih dapat memfungsikan panca indera yang lain untuk menjalankan perintah Allah yaitu beribadah baik ibadah yang berhubungan langsung dengan Allah (habluminallah) dan ibadah yang hubunganya dengan sesama manusia (habluminannas). Berkaitan dengan ibadah sesama manusia (habluminannas) akan ada banyak contoh sepertinya halnya kewajiban terhadap orang yang meninggal, sebagai orang muslim fardhu kifayah hukumnya tak terkecuali terhadap penyandang tunanetra. Keterbasan yang dimilikinya bukan merupakan penghalang bagi mereka untuk beribadah di tengah masyarakat dan ikut serta menjalankan hukum fardhu kifayah diatas semisal menshalatkan jenazah. Masih sangat memungkinkan bagi penyandang tunanetra untuk melaksanakan kewajiban tersebut mengingat potensi yang dimilikinya dapat dijadikan modal untuk menjalankanya.
Pembelajaran sholat jenazah merupakan salah materi/sub pendidikan Agama Islam (PAI) yang diberikan pada jenjang sekolah menengah atas (SMA/SMALB) di kelas XI pada semester ganjil dengan syarat muatan nilai. Dalam konteks NKRI yang notabene mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam. Materi Pembelajaran sholat jenazah yang ada di SMALB bagi penyandang tunanetra memiliki kurikulum yang sama dengan pembelajaran yang ada di sekolah biasa pada umumnya. Hanya saja metode yang digunakan oleh gurunya yang berbeda, mengingat keadaan fisik yang dimiliki siswa penyandang tunanetra menjadikan guru harus memiliki kompetensi khusus untuk mengajar anak-anak berkebutuhan khusus. Seperti yang telah dikutip dalam buku Belajar dan Pembelajaran (Abdul Majid, ) mata pelajaran agama sebaiknya mendapatkan waktu yang proporsional, ini berlaku bagi semua jenjang pendidikan baik sekolah umum dan sekolah berbasic Islam. Begitu juga dengan sekolah luar biasa yang diperuntukan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, hendaknya mata pelajaran pendidikan agama Islam seperti materi sholat jenazah di sampaikan dengan tambahan alokasi waktu ataupun perbandingan jumlah alokasi waktu yang sama dan jumlah hari disetiap minggunya ditambah, karena pembelajaran sholat jenazah membutuhkan adanya praktek baik di sekolah maupun praktek secara langsung di tengah masyarakat, sehingga anak-anak berkebutuhan khusus bisa memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk belajar dan memahami materi sholat jenazah secara maksimal.
Permasalahan yang seringkali dijumpai dalam pengajaran, khususnya pengajaran agama Islam adalah bagaimana cara menyajikan materi kepada siswa secara baik sehingga diperoleh hasil yang efektif dan efisien. Disamping masalah lainya yang juga sering didapati adalah kurangnya perhatian guru agama terhadap variasi penggunaan metode mengajar dalam upaya peningkatan mutu pengajaran secara baik. Bertitik tolak pada pengertian metode pengajaran, yaitu suatu cara penyampaian bahan pelajaran untuk mencapai tujuan yang dutetapkan, maka fungsi metode mengajar tidak dapat diabaikan karena metode mengajar tersebut turut menentukan berhasil tidaknya suatu proses belajar mengajar dan merupakan bagian yang integral dalam suatu sistem pengajaran.
Agar pembelajaran sholat jenazah bagi tunanetra dapat diajarkan secara maksimal perlu adanya metode yang tepat dan berkualitas bagi seorang guru. Adapun metode-metode pembelajaran khusus tunanetra dengan keterbatasan dalam indera pengelihatan bisa disesuaikan dengan cara di bawah ini:
) Memahami pembelajaran dengan metode ceramah
Metode ceramah pada siswa tunanetra hanya berupa penyampaian materi dengan beberapa penjelasan secara lisan. Tepat bagi mereka kaum tak melihat. Sebab, mereka sangat menonjolkan indera pendengaran. Metode ceramah sangat cocok jika ada matapelajaran yang indikatornya mengharuskan siswa menyimak secara matang.
Pendekatan ini adalah metode lanjutan pada proses pembelajaran manakala pembelajaran ingin dibuat siswa turut aktif di dalam kelas. Metode ini dapat diterapkan kepada siswa tunanetra karena metode ini merupakan tambahan dari metode ceramah yang menggunakan indera pendengaran.
) Memahami pembelajaran dengan metode diskusi
Metode ini dapat diterapkan kepada siswa tunanetra karena mereka dapat ikut berpartisipasi dalam kegiatan diskusi, karena dalam metode diskusi kemampuan daya pikir siswa untuk memecahkan suatu persoalan lebih diutamakan. Dan metode ini bisa diikuti tanpa menggunakan indera penglihatan.
) Memahami pembelajaran dengan metode sorogan
Metode ini dapat diterapkan kepada siswa tunanetra karena adanya bimbingan langsung dari guru kepada anak didik dan seorang guru dapat mengetahui langsung sejauh mana kemampuan anak didiknya dalam memahami suatu materi pelajaran.
) Memahami pembelajaran dengan metode bandongan
Metode ini dapat diterapkan kepada siswa tunanetra karena guru memberikan penjelasan materi kepada anak didik tidak secara perorangan. Metode ini kebalikan dari metode sorogan, metode ini dapat di ikut dengan tanpa menggunakan indera penglihatan.
Metode ini dapat diterapkan kepada siswa tunanetra jika materi yang disampaikan dan media yang digunakan mampu mendukung mereka untuk memahami pelajaran.
Metode pembelajaran di atas dapat digunakan oleh guru untuk mengajar siswa tunanetra begitu juga dapat digunakan dalam pembelajaran sholat jenazah. Metode pembelajaran sholat jenazah juga dapat disesuaikan dengan metode pembelajaran PAI pada umumnya dan dipilih sesuai dengan kebutuhan serta kondisi siswa.Adapun pembelajaran tersebut antaralain yaitu:
) Metode demonstrasi dan eksperimen
Demonstrasi adalah suatu tehnik mengajar yang dilakukan oleh seorang guru atau orang lain yang dengan sengaja diminta atau siswa sendiri ditunjuk untuk memperlihatkan kepada kelas tentang suatu proses atau cara melakukan sesuatu. Misalnya semonstrasi tentang memandikan mayat orang muslim/muslimah dengan menggunakan model atau boneka, demonstrasi tentang cara-cara tawaf pada saat menunaikan ibadah haji dan sebagainya.
Metode eksperimen ialah cara pengajaran di mana guru dan murid bersama-sama melakukan suatu latihan atau percobaan untuk mengetahui pengaruh atau akibat dari suatu aksi.
) Metode resitasi
Metode resitasi bisa disebut metode pekerjaan rumah, karena siswa diberi tugas-tugas khusus diluar jam pelajaran. Sebenarnya penekanan metode ini terletak pada jam pelajaran berlangsung dimana siswa disuruh
untuk mencari informasi atau fakta-fakta berupa data yang dapat ditemukan dilaboratorium, perpustakaan, pusat sumber belajar, dan sebagainya. Metode ini dilakukan pabila guru mengharapkan pengetahuan yang diterima siswa lebih mantap.
) Metode kerja kelompok
Metode kerja kelompok dilakukan atas dasar pandangan bahwa anak didik merupkan suatu kesatuan yang dapat dikelompokkan sesuai dengan kemampuan dan minatnya untuk mencapai suatu tujuan pengajaran tertentu dengan sistem gotong royong. Dalam prakteknya ada beberapa jenis kerja kelompok yang dapat dilaksanaan yang semua itu tergantung pada tujuan khusus yang dicapai, umur, dan kemampuan siswa, fasilitas dan media yang tersedia, dan sebagainya.
) Metode sosio drama dan bermain peran
Metode sosio-drama dan bermain peranan merupakan teknik mengajar yang banyak kaitanya dengan pendemonstrasian kejadian- kejadian yang bersifat sosial. Menurut Engkoswara metode sosio darama adalah suatu drama tanpa naskah yang akan dimainkan oleh sekelompok orang. Biasanya permasalahan cukup diceritakan dengan singkat dalam temp atau menit, kemudian anak menerangkanya. Persoalan pokok yang akan didramatisasikan diambil dari kejadian-kejadian sosial, oleh kerena itu dinamakan sosio-drama.
Sistem beregu ini merupakan gagasan baru yang berkembang sebagai salah satu minofasi metode mengajar dan juga dikenal dengan team teaching. Engkoswara ( ) mengemukakan: Team teaching ialah suatu sistem mengajar yang dilakukan oleh dua orang guru atau lebih dalam mengajar sejumlah siswa yang mempunyai perbedaan minat, kemampuan, atau tingkat kelas. Sistem beregu ini dapat dilakukan dengan mengikut sertakan siswa itu sendiri sebagai anggota regu (pembantu atau asisten) (Basyiruddin Usman, : - ).
Dengan uraian beberapa bentuk metode yang digunakan seperti contoh diatas diharapkan pembelajaran sholat jenazah yang dilaksanakan disekolah khususnya bagi siswa penyandang tunanetra dapat dilaksanakan dengan baik, serta materi yang disampaikan oleh guru dapat diserap dengan maksimal sehingga siswa dapat mempraktekanya baik di dalam sekolah maupun dikehidupan nyata. Oleh karena itu pemakaian metode harus sesuai dam selaras dengan karakteristik siswa, materi, kondisi lingkungan (setting) dimana pengajaran berlangsung. Bila ditinjau secara lebih teliti sebenarnya keunggulan suatu metode terletak pada beberapa faktor yang berpengaruh, antara lain: tujuan, karakteristik siswa, situasi dan kondisi, kemampuan dan pribadi guru, serta sarana dan prasarana yang digunakan. Dengan kata lain perbedaan penggunaan atau pemilihan suatu metode mengajar disebabkan oleh adanya beberapa faktor yang harus dipertimbangkan.
Bila pendidikan agama Islam seperti halnya pembelajaran sholat jenazah di sekolah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, mengunakan metode
yang tepat insya Allah akan banyak membantu mewujudkan harapan setiap orang tua, yaitu memiliki anak yang beriman, bertakwa kepada Allah Swt. Berbudi luhur, cerdas, dan terampil, berguna untuk nusa, bangsa dan agama (anak saleh) (Abdul Majid, : ).