• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

A. Landasan Teoritis

2. Pembelajaran Tematik Kelas III SD

Majid (2014: 107) mengungkapkan bahwa pembelajaran tematik merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema. Tema merupakan alat atau wadah untuk mengenalkan berbagai konsep kepada peserta didik secara utuh. Dalam pembelajaran, tema diberikan dengan maksud menyatukan isi kurikulum dalam satu kesatuan yang utuh, memperkaya perbendaharaan bahasa peserta didik dan membuat pembelajaran lebih bermakna.

Daryanto (2014: 3) juga menjelaskan bahwa pembelajaran tematik diartikan sebagai pembelajaran yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman yang bermakna kepada peserta didik. Hal ini diungkapkan hal serupa dengan Poerwadarminta (dalam Majid, 2014: 80) bahwa pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan. Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, maka dapat dipahami bahwa pembelajaran tematik merupakan salah satu model pembelajaran dengan mengkolaborasikan beberapa mata pelajaran dengan menghubungkan materi atau topik yang satu dengan yang lain sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif.

a) Ciri Khas Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik memiliki arti penting dalam keterlibatan peserta didik dalam proses belajar secara aktif sehingga peserta didik memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya serta menekankan penerapan konsep belajar. Berikut merupakan ciri khas dari pembelajaran tematik, Daryanto (2014 4):

1. Pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia Sekolah Dasar.

2. Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan siswa.

3. Membantu mengembangkan keterampilan berfikir peserta didik.

4. Mengembangkan keterampilan sosial peserta didik, seperti kerjasama, toleransi, komunikasi dan tanggap terhadap gagasan orang lain.

b) Manfaat Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik memiliki manfaat tersendiri, berikut merupakan manfaat dari pembelajaran tematik, Daryanto (2014: 4):

1. Dengan menggabungkan beberapa kompetensi dasar dan indikator serta isi mata pelajaran akan terjadi penghematan, karena tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan.

2. Peserta didik mampu melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab isi/materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat, bukan tujuan akhir.

3. Pembelajaran menjadi utuh sehingga peserta didik akan mendapat pengertian mengenai proses dan materi yang tidak terpecah-pecah.

4. Dengan adanya pemaduan antar mata pelajaran maka penguasaan konsep akan semakin baik dan meningkat.

c) Karakteristik Pembelajaran Tematik

Sebagai suatu model pembelajaran di Sekolah Dasar, menurut Daryanto (2014: 5) pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:

1. Berpusat pada peserta didik

Pembelajaran tematik berpusat pada peserta didik (student centered), hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar, sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator

yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.

2. Memberikan pengalaman langsung

Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik (direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkret) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.

3. Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas

Dalam pembelajaran tematik pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan peserta didik.

4. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran

Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, peserta didik mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu peserta didik dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

5. Bersifat fleksibel

Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada.

6. Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.

7. Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhannya.

8. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan.

3) Pembelajaran Saintifik

Majid dan Rochman (2014: 4) mengungkapkan bahwa dalam saintis kegiatan pembelajaran dilakukan melalui proses mengamati, menanya, mencoba/ mengumpulkan data, mengasosiasi/ menalar, dan mengomunikasikan.

a) Kegiatan mengamati bertujuan agar pembelajaran berkaitan erat dengan konteks situasi nyata yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Proses mengamati fakta atau fenomena menyangkup mencari informasi, melihat, mendengar, membaca, dan atau menyimak (Majid dan Rochman, 2014: 4). Kegiatan mengamati dalam prototipe rancangan pembelajaran dapat dilakukan peserta didik pada saat melihat media pembelajaran, sesuai dengan perintah dari guru atau pengguna prototipe.

b) Kegiatan menanya dilakukan sebagai salah satu proses membangun pengetahuan peserta didik dalam bentuk konsep, prinsip, prosedur, hukum dan teori, hingga berfikir metakognitif. Tujuannya agar peserta didik memiliki kemampuan berfikir tingkat tinggi secara kritis, logis, dan sistematis. Proses menanya dilakukan melalui kegiatan diskusi dan kerja kelompok serta diskusi kelas. Praktik diskusi kelompok memberi ruang kebebasan mengemukakan ide/gagasan dengan bahasa sendiri, termasuk dengan menggunakan bahasa daerah (Majid dan Rochman, 2014: 4). Kegiatan menanya dalam prototipe rancangan pembelajaran dapat dilakukan setelah peserta didik selesai menggunakan media pembelajaran, guru dapat memulai dengan mengajukan pertanyaan kepada peserta didik.

c) Kegiatan mencoba/mengumpulkan data bermanfaat untuk meningkatkan keingintahuan peserta didik untuk memperkuat pemahaman konsep dan prinsip dengan mengumpulkan data, mengembangkan kreativitas, dan keterampilan prosedural. Kegiatan ini mencakup merencanakan, merancang, dan melaksanakan kegiatan, serta memperoleh, menyajikan, dan mengolah data/informasi. Pemanfaatan sumber belajar termasuk teknologi informasi dan komunikasi sangat disarankan dalam kegiatan ini (Majid dan Rochman, 2014: 4). Kegiatan mencoba dalam prototipe rancangan pembelajaran dapat dilakukan dengan cara membagikan LKS kepada peserta didik, kemudian peserta didik akan mengerjakan LKS tersebut.

d) Kegiatan mengasosiasi bertujuan untuk membangun kemampuan berpikir dan bersikap ilmiah. Data yang diperoleh dibuat klasifikasi, diolah, dan ditemukan hubungan-hubungan yang spesifik. Kegiatan dapat dirancang oleh guru melalui

situasi yang direkayasa dalam kegiatan tertentu sehingga peserta didik melakukan aktivitas antara lain menganalisis data, mengelompokan, membuat kategori, menyimpulkan, dan memprediksi/mengestimasi dengan memanfaatkan lembar kerjadiskusi atau praktik. Hasil kegiatan mencoba dan mengasosiasi memungkinkan peserta didik berpikir kritis tingkat tinggi hingga berpikir metakognitif (Majid dan Rochman, 2014: 5). Kegiatan mengasosiasi dalam prototipe rancangan pembelajaran dalam pemilih salah satu aktivitas yang direkayasa oleh guru antara lain menganalisis data, mengelompokan, membuat kategori, menyimpulkan, dan memprediksi/mengestimasi dengan memanfaatkan lembar kerjadiskusi atau praktik. Guru dapat menyesuaikan aktivitas yang akan dilakukan dengan RPP yang sudah dibuat.

e) Kegiatan mengkomunikasikan adalah sarana untuk menyampaikan hasil konseptualisasi dalam bentuk lisan, tulisan, gambar/sketsa, diagram atau grafik. Kegiatan ini dilakukan agar peserta didik mampu mengkomunikasikan pengetahuan, keterampilan, dan penerapannya, serta kreasi peserta didik melalui prestasi, membuat laporan, dan/atau unjuk kerja (Majid dan Rochman, 2014: 5). Kegiatan mengkomunikasikan dalam prototipe rancangan pembelajaran dapat dilakukan dengan menyuruh peserta didik untuk menjelaskan hasil kerjanya atas kegiatan yang sudah dilakukan, misalnya mengerjakan LKS kepada guru dan teman-temannya di kelas.

2. Pembelajaran Tematik Kelas III SD

Dari kekhasan Kurikulum 2013 terdapat pembelajaran tematik yang diajarkan di jenjang pendidikan SD sampai SMA dan salah satunya adalah SD. Hendrifiana (2015: 5) mengungkapkan bahwa pada jenjang pendidikan SD terdapat kelas I hingga VI dan yang akan difokuskan pada penelitian ini adalah kelas III. Tema yang terdapat di kelas III ada 6 tema dan peneliti memilih materi yang terdapat perkalian dan pembagian bilangan bulat maka tema yang dipilih adalah tema 3 perubahan di alam, sub tema 3 perubahan musim. Mata pelajaran yang terkait adalah Matematika materi bilangan bulat, perkalian dan pembagian

dan Bahasa Indonesia tentang membaca serta seni rupa terkait dengan media pembelajaran.

a. Matematika

Matematika merupakan salah satu pelajaran yang sudah dikenalkan pada anak sejak dini terlebih pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar. Matematika dasar yang diajarkan pada anak usia dini adalah mengenal angka. Ini adalah tahapan yang paling utama bagi anak untuk perkembangan pembelajaran Matematika selanjutnya. Pelajaran Matematika ini, akan mengembangkan kemampuan mengolah angka atau berhitung pada anak.

Haryono (2014: 6) mengemukakan bahwa Matematika merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang sifatnya pasti (eksakta) yang digunakan sebagai pengetahuan dalam proses belajar proses belajar. Definisi Matematika menurut Johnson dan Rising (dalam Runtukahu dan Selpius, 2014: 28) adalah bahasa simbol tentang berbagai gagasan dengan menggunakan istilah-istilah yang didefinisikan secara cermat, jelas dan akurat. Matematika dikatakan akurat karena perhitungannya yang bersifat matematis dan pasti. Berbeda dengan Johnson, Reys (dalam Runtukahu dan Selpius, 2014: 29) beranggapan bahwa Matematika adalah studi tentang pola dan hubungan, cara berpikir dengan strategi organisasi, analisis dan sintetis, seni, bahasa dan alat untuk memecahkan masalah-masalah abstrak dan praktis.

Definisi Matematika yang begitu beragam dan luas membuat pengertian Matematika masih terkesan abstrak. Karena banyaknya ilmu-ilmu terapan Matematika yang kian berkembang, Matematika kurang dapat didefinisikan menjadi satu kesatuan yang pasti. Seorang ahli Matematika Bishop (dalam Runtukahu dan Selpius, 2014: 29) mengelompokkan kegiatan Matematika secara umum menjadi enam kegiatan yaitu menghitung, menempatkan (locating), mengukur, mendesain, bermain dan menjelaskan. Kegiatan-kegiatan tersebutlah yang menjadi dasar bagaimana Matematika itu diterapkan dalam pembelajaran.

Matematika selalu memiliki simbol untuk menyatakan sesuatu secara ringkas. Fungsi simbol Matematika ini adalah sebagai komunikasi, merekam

pengetahuan, menunjukkan struktur, menjelaskan, mengingatkan kembali dan sebagai pengertian (Runtukahu dan Selpius, 2014: 32). Kalimat Matematika dapat diungkapkan secara lisan maupun tertulis. Matematika yang dituliskan melalui simbol sebagai ringkasan dari penjelasan secara lisan. Itulah sebabnya simbol digunakan sebagai penunjuk verbal. Simbol yang dipahami secara tertulis, mampu mempermudah otak untuk merekam, mengingat sehingga apa yang sudah dipelajari dapat dibaca kembali. Dengan mencatat, anak mampu mengingat pembelajaran secara terstruktur pada apa yang telah dipelajarinya selama ini. Matematika dikatakan juga memiliki fungsi seni. Matematika memiliki karakteristik keindahan, keteraturan dan keterurutan (Reys dalam Runtukahu dan Selpius, 2014: 40). Matematika tidak hanya diterapkan pada keterampilan matematiknya saja, tetapi harus juga dikembangkan pada keteraturan dan keindahannya. Matematika yang banyak menggunakan simbol, membuat garis, titik, siku atau bentuk geometri lain juga harus memperhatikan kerapian. Kerapian dalam penulisan ini akan berdampak baik bagi pembaca. Ketika tulisan rapi dan tertata, maka niat untuk belajar akan bertambah, sedangkan penulisan yang kurang rapi dapat membuat ketidakfokusan belajar sehingga apa yang dibaca tidak begitu jelas. Oleh karena itu, perlu adanya keteraturan dalam membuat simbol Matematika agar dapat dinikmati dari segi keindahannya.

Dari pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa Matematika adalah sebuah bidang tentang logika mengenai bentuk, susunan dan konsep- konsep yang berhubungan dengan kegiatan berhitung. Matematika di kelas III SD salah satunya mengajarkan materi perkalian dan pembagian bilangan bulat. Sebelum memasuki konsep perkalian dan pembagian, peserta didik harus memahami terlebih dahulu konsep bilangan bulat, sehingga dapat paham lebih lanjut tentang perkalian dan pembagian.

1) Bilangan Bulat

Bilangan digunakan untuk menyatakan jumlah. Bilangan ini terbagi menjadi beberapa bagian salah satunya adalah bilangan bulat. Bilangan bulat adalah bilangan yang digunakan untuk menghitung sesuatu yang utuh, seperti

orang, motor, dan lain sebagainya. Bilangan bulat terdiri dari bilangan asli, nol dan lawan bilangan asli (Purnomo, 2014: 32). Bilangan asli dimulai dari 1, 2, 3, 4 dan seterusnya dan lawan dari bilangan asli adalah -1, -2, -3, -4 dan seterusnya.

Supriadi (2013: 100) mengungkapkan bahwa bilangan bulat terdiri dari bilangan asli, bukan bilangan asli dan nol. Contoh bilangan bulat adalah -4, -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, 4. Surya (2015: 1) menjelaskan hal yang yang sama bahwa bilangan bulat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu bilangan bilangan asli yang dimulai dari 1,2,3,4,5 dan seterusnya, lawan bilangan asli yang dimulai dari -1. -2, -3, -4 dan seterusnya serta nol (0).

Dari pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa bilangan bulat terdiri dari bilangan asli, nol dan lawan bilangan asli. Bilangan asli dimulai dari 1, 2, 3, 4 dan seterusnya dan lawan dari bilangan asli adalah -1, -2, -3, -4 dan seterusnya.

2. Perkalian

Perkalian diajarkan pada siswa kelas III Sekolah Dasar. Penanaman konsep pada perkalian penting untuk siswa untuk dapat mengerti dasar perkalian. Perkalian disimbolkan dengan tanda silang (x) yang dibaca kali. Perkalian merupakan operasi penjumlahan yang diulang-ulang (Fajar, 2009: 10). Penjumlahan berulang yang maksudkan adalah menjumlah ulang bilangan yang kedua sebanyak bilangan pertama atau A x B maka B dijumlahkan sebanyak A. Contohnya: 2 x 3 = 3 + 3. Bilangan pertama adalah 2 dan bilangan kedua adalah 3 maka, 3 dijumlahkan sebanyak 2 kali. Contoh lainnya, ada 2 keranjang yang masing-masing keranjang berisi 3 mangga. Maka cara menghitungnya adalah 3 + 3 hasilnya 6 dan bentuk perkaliannya adalah 2 x 3 = 6.

Suesilowati (2011: 35) menyatakan bahwa perkalian sebagai penjumlahan berulang. contoh: ada 4 keranjang yang masing-masing terdapat 3 kue sehingga, ditulis dalam bentuk penjumlahan berulang sebagai: 3 + 3 + 3 + 3 = 12 dan bentuk perkaliannya sebagai: 4 x 3 = 12.

Rukniyah (2007: 29) juga mengukapkan pendapat yang sama tentang perkalian adalah penjumlahan yang berulang-ulang. misalnya: 3 x 1 = 3 adalah 1 + 1 + 1 = 3. 1 yang dijumlahkan sebanyak 3 kali merupakan penjumlahan

berulang. Perkalian memiliki sifat pertukaran tempat, artinya jika angka yang sama ditukar tempat atau posisinya maka hasilnya akan tetap sama. contoh: 2 x 3 = 3 x 2 = 6. Perkalian mempunyai ciri khusus jika dikalikan dengan angka 1 dan 0. Pada angka satu (1) hasil perkalian adalah tetap dengan angka yang dikalikan. Misal: 5 x 1 = 5. Pada angka nol (0) setiap angka yang dikalikan nol hasilnya adalah nol. Berapa pun besar angka yang dikalikan nol hasilnya adalah nol. Berapa pun besar itu jika dikalikan dengan angka nol maka hasilnya tetap nol. Misal: 5 x 0 = 0; 500 x 0 = 0 (Rukniyah, 2007: 30).

Dapat disimpulkan bahwa perkalian adalah penjumlahan berulang bilangan kedua sebanyak bilangan pertama atau A x B maka B dijumlahkan sebanyak A. Perkalian disimbolkan dengan tanda silang (x).

3. Pembagian

Pembagian diajarkan pula pada siswa kelas III Sekolah Dasar. Pembagian disimbolkan dengan titik dua (:). Jika perkalian adalah penjumlahan berulang, maka pembagian adalah pengurangan berulang (Fajar. 2009: 88). Contohnya: 6 : 3 = 6 – 3 – 3 sisanya nol. 6 dikurangi 3 sebanyak 2 kali, maka 6 : 3 = 2.

Amin dan Zaini (2006: 46) menyatakan bahwa pembagian dapat dinyatakan sebagai pengurangan berulang. Contoh: 12 : 4, maka 12 akan dikurangi 4 sampai hasilnya nol. Ditulis 12 – 4 – 4 – 4 = 0, bentuk pengurangan tersebut adalah pengurangan berulang. Pengurangan dengan 4 dilakukan sebanyak 3 kali. Jadi, 12 : 4 = 3.

Rukniyah (2007: 35) juga mengungkapkan pendapat yang sama tentang pembagian sebagai pengurangan berulang oleh angka yang sama hingga nilainya nol atau habis. Misalnya: 9 : 3 adalah 9 - 3 – 3 - 3 = 0. Sama seperti pada perkalian, pembagian pun mempunyai sifat yang sama yaitu apabila dibagi dengan angka satu (1) maka nilainya akan tetap sama. Misal: 5 : 1 maka hasilnya akan tetap lima (5). Begitu pula dengan angka nol (0) jika dibagikan dengan angka berapa pun hasilnya akan tetap nol, misalnya 5 : 0 = 0. Namun, pada pembagian letak angka yang dibagi sangat berpengaruh pada hasilnya misal 6 : 3 = 2 berbeda hasilnya jika 3 : 6 = 0,5.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa pembagian adalah pengurangan berulang oleh angka yang sama hingga nilainya nol atau habis. Pembagian disimbolkan dengan titik dua (:).

b. Bahasa Indonesia

Menurut Suwarno (2012: 1) bahasa Indonesia berasal dari bahasa melayu yang dalam perkembangan berikutnya mendapat serapan dari bahasa-bahasa daerah dan bahasa asing. Bahasa daerah atau bahasa asing yang menjadi bahasa Indonesia diproses melalui beragam penyeleksian dengan melihat unsur fonetis/fonologis (kesesuaian bunyi) dan morfologis (kesesuaian bentuk kata) di dalamnya. Bahasa Indonesia telah dijadikan bahasa yang sah digunakan oleh bangsa indonesia, namun di setiap daerah, masyaraknya menggunakan bahasa masing-masing untuk berkomunikasi, seperti yang di jelaskan dalam Undang- Undang Dasar 1945 Bab XV, Pasal 36, dinyatakan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa negara, dan bahasa daerah yang dipakai sebagai alat perhubungan dan dipelihara oleh masyarakat pemakainya, dipelihara juga oleh negara sebagai bagian kebudayaan nasional yang hidup (Badudu, 1980: 7).

Bahasa Indonesia menjadi pendidikan yang paling utama dalam pendidikan di Indonesia, seperti yang diterangkan oleh Abidin (2012: 6) bahwa bahasa indonesia memiliki peran yang sangat penting bukan hanya untuk membina keterampilan komunikasi melainkan juga untuk kepentingan penguasaan ilmu pengetahuan. Hal tersebut diperkuat oleh Winarti dkk. (1997: 1) yang menyebutkan bahwa bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa pengantar untuk semua jenis jenjang pendidikan.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa sah bangsa indonesia atau bahasa utama bagi bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia sangat menjadi pendidikan yang paling penting dalam pendidikan di Indonesia, karena bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa pengantar untuk semua jenis jenjang pendidikan di Indonesia.

1) Membaca

Abidin (2012: 148) menjelaskan bahwa membaca adalah mereaksi, yaitu memberikan reaksi karena dalam membaca seseorang terlebih dahulu melaksanakan pengamatan terhadap huruf sebagai representasi bunyi ujaran ataupun tanda penulisan lainnya. Abidin (2012: 150) menjelaskan bahwa membaca dapat diartikan sebagai proses untuk mendapatkan informasi yang terkandung dalam teks bacaan untuk memperoleh pemahaman atas bacaan tersebut. Ditinjau dari teori yang dipakai sebagai landasannya membaca pada prinsipnya dapat didefinisikan dari dua segi yakni sebagai proses dan membaca sebagai hasil. Membaca sebagai proses pada dasarnya adalah kegiatan yang dilakukan untuk mendapatlan arti dari kata-kata tertulis. Proses membaca sendiri meliputi proses visual, perseptual dan, konseptual. Membaca sebagai hasil dapat didefinisikan sebagai pemahaman atas simbol-simbol bahasa tulis yang dipelajari seseorang.

Sependapat dengan pengertian tersebut, maka Abidin (2012: 155) mengartikan pembelajaran membaca sebagai serangkaian aktivitas yang dilakukan peserta didik untuk mencapai keterampilan membaca di bawah arahan, bimbingan, dan motivasi guru. Pembelajaran membaca bukan semata-mata dilakukan agar peserta didik mampu membaca melainkan sebuah proses yang melibatkan seluruh aktivitas visual dan kognisi peserta didik dalam memahami, mengkritisi, dan bahkan memproduksi sebuah bacaan.

Dari pendapat ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa membaca adalah proses untuk mendapatkan informasi dari suatu teks untuk mendapatkan pemahaman dan mengkritisi atas bacaan tersebut. Mata pelajaran Bahasa Indonesia yang terkait dalam Kurikulum 2013 salah satunya adalah Kompetensi Dasar membaca teks bacaan materi perubahan musim.

2) Perubahan Musim

Perubahan musim terjadi ketika perputaran bumi mengelilingi matahari dengan kemiringan sekitar 23,5º terhadap garis vertikal (Woodward, 2006: 18). Bumi selalu bergerak seperti itu, akibatnya pada bulan Juni, Kutub Utara

mendekati matahari dan pada bulan Desember menjauhi matahari. Artinya, pada bulan Juni belahan bumi Utara menerima panas lebih banyak daripada belahan bumi Selatan kemudian setelah enam bulan akan bergantian.

Musim adalah salah satu pembagian utama tahun berdasarkan bentuk iklim yang luas. Perubahan musim terjadi ketika bumi mengelilingi matahari dan bumi berputar miring pada porosnya (Erminawati, 2008: 38). Posisi kemiringan bumi dan gaya putar bumi menyebabkan variasi musim (Howel, 2003: 66). Dipadukan dengan variasi orbit bumi, iklim panas dan dingin bumi mencapai keseimbangan.

Dari pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa perubahan musim merupakan perubahan alami karena posisi kemiringan bumi dan revolusi bumi atau disebut sebagai gerakan bumi mengelilingi matahari.

a) Musim pada Iklim Tropis

Daerah beriklim tropis memiliki dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Lama waktu siang dan malam sama yakni 12 jam (Kusuma, 2015: 89). Tumbuhan yang hidup di wilayah beriklim tropis sangat beragam. Diantaranya adalah buah-buahan yaitu pepaya, nanas, mangga, pisang, rambutan dan tomat. Hewan seperti orang utan, badak bercula satu dan macan tutul banyak terdapat di wilayah ini. Negara-negara yang termasuk dalam wilayah tropis antara lain Malaysia, Singapura dan Hongkong.

Tropis merupakan salah satu iklim yang terletak di Garis Balik Utara 23º 27º LU dan Garis Balik Selatan terletak pada 23º 27º LS (Howel, 2003: 25). Karakteristiknya terjadi dua musim yaitu musim kemarau atau panas dan musim hujan. Musim kemarau terjadi pada bulan April sampai bulan Oktober, sedangkan musim hujan terjadi sebaliknya yaitu pada bulan Oktober sampai bulan April.

Musim hujan di daerah iklim tropis merupakan daerah yang mendapatkan intensitas sinar matahari maksimal bergeser dari arah Utara ke Selatan sepanjang tahun (Woodward, 2006: 19). Hal ini menyebabkan terjadinya badai tropis di Utara dan Selatan serta menimbulkan musim hujan dan musim kemarau.

Dari pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa musim pada iklim tropis meliputi musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan terjadi pada bulan Oktober sampai April, sedangkan musim kemarau terjadi pada bulan April sampai Oktober.

b) Musim pada Iklim Subtropis

Jenis musim pada iklim subtropis, dibagi menjadi 4 musim dan masing-masing terjadi selama 3 bulan (Erminawati, 2008: 40). 4 musim tersebut adalah musim dingin atau musim salju, dimana suhu sangat dingin pada musim ini. musim ini berlangsung selama bulan Desember sampai Maret pada belahan Utara bumi. Kedua, musim gugur dimana pepohonan mulai mengugurkan daun terjadi pada bulan September sampai Desember. Ketiga adalah musim semi dimana musim ini menjadi peralihan dari musim dingin ke panas dan terjadi pada bulan Maret hingga Juni. Musim keempat adalah musim panas yang terjadi pada bulan Juni sampai September.

Kusuma (2015: 89) menjelaskan bahwa daerah beriklim subtropis memiliki empat musim yaitu musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin. Negara-negara yang termasuk dalam wilayah subtropis antara lain Jepang, Korea, Amerika Serikat dan sebagian wilayah Cina. Howel (2003: 27) mengungkapkan hal yang sama bahwa iklim subtropis memiliki empat musim yaitu musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin atau salju. Iklim

Dokumen terkait