BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Pembelajaran yang efektif
Pembelajaran adalah proses pengorganisasian kegiatan belajar. Dengan kata lain pembelajaran merupakan upaya penciptaan kondisi yang kondusif, yaitu membangkitkan kegiatan belajar efektif dikalangan para siswa. Perlu disadari, keberhasilan proses pembelajaran tidak ditentukan oleh metode atau prosedur yang digunakan, bukan kolot atau modernnya pembelajaran, bukan pula konvensional atau progresifnya pengajaran. Semuanya penting tetapi tidak menjadi pertimbangan akhir, karena hanya berkaitan dengan “alat” bukan “tujuan”.Syarat utama pembelajaran adalah „hasil”, dan hasil hanyalah sebuah akibat dari “prosesnya”. Proses inilah yang menentukan hasil.
Belajar adalah proses perubahan perilaku secara aktif, proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada disekitar individu, proses yang diarahkan pada suatu tujuan, proses berbuat melalui berbagai pengalaman, proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu yang dipelajari.
Upaya guru untuk membangkitkan yang berarti menyebabkan atau mendorong seorang (siswa) belajar, menciptakan lingkungan yang memungkinkan terjadi proses belajar. Pembelajaran yang diidentikkan dengan kata “mengajar” berasal dari kata dasar “ajar” yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut), ditambah dengan
awalan “pe” dan akhiran “an” menjadi “pembelajaran”, yang berarti proses, perbuatan, cara mengajar sehingga anak didik mau belajar.
Pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal.
Istilah-istilah pembelajaran sama dengan instruction atau pembelajaran.Menurut Undang-Undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab I pasal 1 ayat 20 tentang pembelajar adalah:
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidikan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Belajar adalah kewajiban dan kebutuhan manusia untuk dapat maju dari berkembang. Mengenai perintah belajar ini dapat kita lihat dalam QS.al-Alaq (96):1-5 berikut.
Terjemahnya :1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Departemen Agama RI, 2002:598).
Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa allah swt telah memerintahkan kepada manusia untuk belajar. Dari proses belajar tersebut manusia akan mengetahui banyak hal.
Menurut Tohirin (2011:8)
Belajar adalah suatu proses yang secara keseluruhan,sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dalam lingkungan. Pembelajaran adalah suatu upaya membelajarkan atau mengarahkan aktifitas siswa ke arah aktifitas belajar. Di dalam proses pembelajaran, terkandung dua aktifitas sekaligus yaitu aktifitas mengajar (guru) dan aktifitas belajar (siswa), dari kata dasar belajar tersebut dapat dipahami.
Berdasarkan uraian diatas maka dapat di tarik kesimpulan bahwa pembelajaran adalah usaha sadar dari guru untuk membuat siswa belajar, yaitu terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa yang belajar, dimana pada perubahan itu dengan didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relevan lama dan karena adanya usaha.
2. Pembelajaran yang efektif
Suasana pembelajaran yang efektif, pada dasarnya sangat erat kaitannya dengan proses pembelajaran yang berjalan dengan efektif pula. Suasana pembelajaran yang efektif, hanya akan tercapai apabila proses pembelajaran yang diterapkan oleh guru berjalan lancar.
Proses pembelajaran merupakan proses komunikasi antara guru dan siswa. Proses komunikasi yang mungkin terjadi selama proses pembelajaran adalah: komunikasi searah, komunikasi dua arah (dwiarah),
dan komunikasi banyak arah (multiarah). Meskipun pilihan komunikasi dalam proses pembelajaran beragam, namun pada kenyataannya usaha mentransfer pengetahuan, pengalaman, dan gagasan guru kepada siswa atau dari siswa kepada siswa yang lain tidak mudah. Kelancaran interaksi antara guru dan siswa sangat bergantung pada sejauh mana kedua belah pihak mampu membangun komunikasi yang efektif.
Pada hakikatnya proses pembelajaran yang efektif terjadi jika guru dapat mengubah kemampuan dan persepsi siswa dari yang sulit mempelajari sesuatu menjadi mudah mempelajarinya. Lebih jauh mereka menjelaskan bahwa proses belajar-mengajar yang efektif sangat bergantung pada pemilihan dan penggunaan metode pembelajaran untuk dapat memaksimalkan pembelajaran.
Pembelajaran yang efektif juga memerlukan efisiensi.Mendefinisikan efisiensi sebagai kemampuan untuk menunjukkan sesuatu dengan sedikit usaha, biaya, dan pengeluaran untuk mencapai hasil yang maksimal. Efisiensi mencakup penggunaan waktu dan sumber daya secara efektif untuk menyelesaikan tugas tertentu.
Dari penjelasan diatas, ada dua hal utama yang diperlukan untuk mencapai pembelajaran yang efektif. Pertama, harus ada kegiatan analisis kebutuhan belajar siswa. Kebutuhan siswa adalah bagaimana menganalisis hubungan antara kemampuan dan harapan siswa dari proses pembelajarannya. Kedua, harus ada gambaran seperti apa sistem ujian
yang dipakai. Dengan demikian, pembelajaran yang efektif harus mempunyai syarat kesesuaian antara kebutuhan belajar siswa dengan sistem ujian.
C. Pengaruh Kompetensi Kepribadian Guru Pendidikan Agama Islam dalam menciptakan suasana pembelajaran yang efektif
Proses pembelajaran berlangsung melalui interaksi antara guru dan peserta didik (siswa) dalam situasi pengajaran yang bersifat edukatif. Melalui proses pembelajaran, siswa akan berkembang kearah pembentukan manusia sebagaimana tersirat dalam tujuan pendidikan. Supaya pembelajaran dapat berlangsung secara efektif, dengan kemampuan kompetensi kepribadian guru mampu mewujudkan proses pembelajaran dalam suasana kondusif. Proses pembelajaran yang efektif dapat terwujud apabila pendidik mampu menjadi seorang guru yang kreatif dan profesional seperti berikut:
1. Di dalam interaksi belajar mengajar dibutuhkan kedisiplinan. Disiplin dalam interaksi belajar-mengajar ini diartikan sebagai suatu pola tingkah laku yang diatur sedemikian rupa menurut ketentuan yang sudah ditaati oleh semua pihak dengan secara sadar, baik pihak guru maupun siswa. Mekanisme konkret dari ketaatan pada ketentuan atau tata tertib itu akan terlihat dari pelaksanaan prosedur. Jadi langkah-langkah yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang sudah digariskan.
Penyimpangan dari prosedur, berarti suatu indikator pelanggaran disiplin.
2. Peranan Guru sebagai motivator penting artinya dalam rangka meningkatkan kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar siswa. Guru harus merangsang dan memberi dorongan serta reinforcement untuk mendimanisasikan potensi siswa, menumbuhkan aktivitas dan daya cipta, sehingga akan terjadi dinamika di dalam proses belajar-mengajar. Peranan guru sebagai motivator ini sangat penting dalam interaksi belajar-mengajar, karena menyangkut esensi pekerjaan mendidik yang membutuhkan kemahiran sosial, menyangkut performance dalam arti personalisasi dan sosialisasi diri.
3. Guru sebagai inisiator, guru dalam hal ini sebagai pencetus ide-ide dalam proses belajar. Sudah barang tentu ide-ide merupakan ide-ide kreatif yang dapat dicontoh oleh anak didiknya.
4. Guru harus responsif. Tanggapan siswa terhadap interaksi belajar-mengajar yang sedang berlangsung dapat berkembang dalam tiga kemungkinan yaitu menerima, acuh tak acuh dan menolak. Kedua yang terakhir sama buruknya terhadap proses dan hasil belajar, meskipun sebabnya mungkin berasal dari guru sendiri. Guru yang cakap dan bijaksana akan mampu membawa sebagian besar siswanya untuk menerima interaksi dengan senang dan penuh perhatian.
5. Respek. Komunikasi harus diawali dengan rasa saling menghargai. Adanya penghargaan biasanya akan menimbulkan kesan serupa dari si penerima pesan. Guru akan sukses berkomunikasi dengan peserta didik bila ia melakukannya dengan penuh respek. Apabila ini dilakukan maka peserta didik pun akan melakukan hal yang sama ketika berkomunikasi dengan guru.
6. Guru harus empati. Empati adalah kemapuan untuk menempatkan diri kita pada situasi dan kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Syarat utama dari sikap empati adalah kemampuan untuk mendengar dan mengerti orang lain, sebelum didengar dan dimengerti orang lain.
Guru yang baik tidak akan menuntut peserta didiknya untuk mengerti keinginannya, tetapi ia akan berusaha memahami peserta didiknya terlebih dulu. Ia akan membuka dialog dengan mereka, juga mendengar keluhan dan harapan mereka. Di sini berarti seorang guru tidak hanya melibatkan komponen indrawinya saja, tetapi melibatkan pula mata hati dan perasaannya dalam memahami berbagai perihal yang ada pada peserta didiknya.
7. Audible berarti “dapat didengarkan” atau bisa dimengerti dengan baik. Sebuah pesan harus dapat disampaikan dengan cara atau sikap yang bisa diterima oleh si penerima pesan. Raut muka yang cerah, bahasa tubuh yang baik, kata-kata yang sopan, atau cara menunjuk, termasuk ke dalam komunikasi yang audible.
8. Pesan yang disampaikan harus jelas maknanya dan tidak menimbulkan banyak pemahaman, selain harus terbuka dan transparan. Ketika berkomunikasi dengan peserta didik, seorang guru harus berusaha agar pesan yang disampaikan bisa jelas maknanya. Salah satu caranya adalah berbicara sesuai bahasa yang mereka pahami.
9. Guru harus rendah hati. Sikap rendah hati mengandung makna saling menghargai, tidak memandang rendah, lemah lembut, sopan, dan penuh pengendalian diri.
10. Guru harus senantiasa menebarkan senyum kepada anak didiknya. Jika guru memberikan senyum kepada anak didik, maka mereka akan memberikan seribu kali cintanya, sebagai imbalan atas senyum itu. Senyum yang tulus dari seorang guru, akan tersimpan indah dlam memori dan pikiran dan relung hati terdalam anak didik. Senyum yang diberikan guru itu, bagi anak didik akan menjadi semacam vitamin yang mampu membangun dan melejitkan potensi mereka.
11. Guru yang humoris. Kebanyakan anak didik itu menyukai guru pintar yang punya selera humor. Humoris bagian dari kecerdasan, guru yang humoris umumnya cerdas dan fleksibel, mudah senyum, tidak cemberut dan performance selalu gembira, termasuk terampil mengelola busana dirinya. Itulah sebabnya ia digandrungi anak didik.
Proses pembelajaran di kelas pada hakikatnya juga merupakan proses komunikasi antara guru dan siswa dan antarsiswa. Oleh sebab itu,
subjek yang terlibat dalam proses itu harus siap untuk saling menerima kondisi pribadi masing-masing agar terjadi sistem komunikasi yang terbuka, dari pribadi yang juga terbuka.Karena keberhasilan hubungan antarmanusia dalam konteks pembelajaran sangat bergantung pada pribadi-pribadi yang melakukannya.
Dari uraian diatas jelas bahwa kerja sama antara pihak sekolah dan orangtua siswa harus dibangun dengan baik. Oleh karena itu, untuk mendukung keberhasilan siswa, dibutuhkan suatu forum ataupun sarana yang dapat dengan mudah mempertemukan kedua belah pihak.
Pada hakikatnya lingkungan memengaruhi kemampuan konsentrasi siswa untuk belajar. Jika siswa dapat memaksimalkan konsentrasinya, maka mereka mampu menggunakan kemampuannya untuk menyerap materi ajar dengan baik. Siswa akan dapat memaksimalkan kemampuan konsentrasinya jika mereka mengetahui faktor apa saja yang berpengaruh terhadap konsentrasi. Melalui cara ini, maka siswa telah menghemat energi belajarnya.
Oleh karena itu, jika guru telah mengetahui faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi konsentrasi belajar, maka guru wajib memaksimalkan lingkungan tersebut demi terbentuknya konsentrasi belajar siswa yang efektif dan kondusif.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif yaitu untuk menggambarkan pengaruh kompetensi kepribadian guru Pendidikan Agama Islam dalam menciptakan suasana pembelajaran yang efektif di SDN 193 Tettikenrarae Kecamatan Marioriwawo Kabupaten Soppeng.