• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV STRATEGI PERSAINGAN WIRAUSAHA AKSESORIS

Foto 45 Pembeli Sedang Mengamati Aksesoris yang Dipajang

Pembeli Sedang Mengamati Aksesoris yang Dipajang

Sumber: OAM Aksesoris, Pasar UD Pajus Baru Medan

Pak Muslim juga mempunyai anggapan yang sama. Beliau tidak jarang memberikan potongan harga kepada pembeli. Terutama kepada pembeli yang dianggap sudah menjadi langganan, karena sering membeli aksesoris ditempat beliau. Bagi beliau yang terpenting bukan hanya untung material saja, tetapi juga proses pertukaran barang itu sendiri. Semakin banyak barang yang laku terjual, semakin cepat terjadinya pertukaran barang baru. Hal ini akan membuat pembeli tidak bosan melihat barang yang sama setiap dia datang berkunjung. Selain itu pembeli juga akan penasaran untuk melihat aksesoris dengan model baru.

Selain potongan harga yang diberikan pak Muslim kepada pembeli, beliau juga beranggapan bahwa pelanggan adalah aset yang harus dipertahankan dengan membina hubungan yang baik. Sikap ramah juga merupakan salah satu strategi yang selalu digunakan ketika melayani pelanggan. Kesimpulan yang dapat saya tarik bahwa dalam menjalankan usaha aksesoris, yang sangat dibutuhkan adalah strategi dagang dengan cara memberi potongan harga serta pelayanan yang ramah kepada pelanggan. Hal inilah yang menjadi pedoman bagi informan saya untuk tetap bertahan dalam bisnis aksesorisnya.

Semua strategi yang dilakukan bertujuan untuk mengatasi segala permasalahan yang timbul dalam menjalankan usaha aksesoris. Bagi wirausahawan sendiri strategi ekonomi aksesoris seperti pemanfaatan barang bekas, sangat membantu dalam meringankan biaya yang dikeluarkan untuk proses pembuatan dan modifikasi aksesoris. Strategi kreatifitas dalam bidang produksi dan modifikasi dapat digunakan untuk mengatasi persaingan yang muncul diantara sesama pedagang aksesoris, sehingga mereka dapat bertahan dan tetap eksis dalam menjalankan usahanya.

Selain mempertahankan kualitas barang, strategi pelayanan prima kepada pembeli, seperti: keramahan, memberikan garansi barang, pemesanan barang pembeli, hingga memberikan potongan harga juga perlu dilakukan. Hal ini dimaksudkan untuk membina hubungan yang baik diantara pedagang dengan pembeli. Pembeli akan mengingat kesan yang baik dari pedagang, sehingga mereka tertarik dengan barang yang dijual dan mau kembali lagi dilain waktu.

Oleh karena itu, dalam strategi persaingan wirausaha aksesoris di Pasar UD Pajus Baru Medan terdapat proses resiprositas, yaitu sebuah hubungan timbal balik antara pedagang dengan pembeli. Di sini tidak ada keharusan untuk membalas secara langsung, seperti membeli barang yang ditawarkan oleh pedagang pada saat itu juga. Namun melalui strategi yang dilakukan oleh pedagang, maka terbangun sebuah simbol kesetiakawanan diantara pedagang dan pembeli. Sehingga jika suatu hari si pembeli ingin membeli aksesoris, maka dia akan mengingat ada sebuah toko aksesoris yang dapat dikunjungi untuk kemudian membeli barang aksesoris dari tempat tersebut.

BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian mengenai Wirausaha Aksesoris di Pasar UD Pajus Baru Medan, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

Sebagian orang di Pasar UD Pajus Baru Medan cenderung menekuni usaha aksesoris untuk dijadikan sebagai sumber mata pencahariannya. Mereka memilih usaha aksesoris karena melihat pangsa pasar, yang pengunjungnya sebagian besar berasal dari kalangan anak-anak muda, mulai dari anak sekolah hingga mahasiswa. Mereka mengganggap bahwa anak-anak muda pada umumnya menyukai benda-benda aksesoris. Sehingga peminat aksesoris akan lebih banyak dibandingkan dengan dagangan yang lain.

Meskipun banyak yang menjual pernak-pernik aksesoris di tempat tersebut, namun tidak banyak yang tahu persis bagaimana proses pembuatan dari aksesoris yang mereka jual. Sebagian besar dari mereka lebih memilih untuk membeli benda- benda aksesoris siap pakai dari tempat lain, seperti pusat pasar atau dari luar kota Medan untuk dijual kembali kepada pengunjung Pajus. Mereka hanya berharap memperoleh keuntungan dari penyesuaian harga yang telah mereka lakukan dari aksesoris yang telah dibeli sebelumnya.

Mereka tentu mempunyai alasan tersendiri, mengapa lebih memilih untuk melakukan cara tersebut. Alasan mereka bermacam-macam, seperti: tidak memiliki kemampuan khusus (skill) dalam membuat aksesoris, tidak berbakat, modal material yang minim, biaya produksi yang tinggi, jangka waktu pembuatan aksesoris yang relatif lebih lama, proses pembuatan yang dianggap cukup sulit, membutuhkan

ketekunan, keuletan, dan kesabaran yang lebih dalam proses pembuatannya. Sehinggga dengan demikian membeli barang jadi dan siap pakai dianggap lebih efektif dan efisien daripada harus membuat sendiri aksesoris yang akan dijual.

Namun bagi orang yang berjiwa kreatif seperti Pak Ojie dan Pak Muslim, semua hambatan seperti yang disebutkan diatas tidak menjadi alasan bagi mereka untuk menghentikan kreatifitasnya. Mereka selalu berusaha mencari cara untuk dapat menyalurkan kreatifitasnya pada aksesoris. Menurut mereka sumber daya manusia, ide, kreatifitas, dan inovasi merupakan modal utama dalam wirausaha aksesoris. Apabila mengalami kekurangan dalam hal materi, hal tersebut masih bisa dicari solusinya dengan cara memanfaatkan limbah atau barang bekas. Hal ini menjadi salah satu strategi bagi mereka untuk menghemat biaya produksi. Oleh karena itu, tidak ada lagi halangan untuk tidak berkreatifitas. Siapa saja bisa belajar mengkreasikan aksesorisnya karena ide, kreatifitas, dan inovasi tersebut merupakan hasil dari pemikiran manusia itu sendiri23

.

Kreatifitas Pak Ojie dan Pak Muslim terhadap aksesoris yang tadinya hanya dianggap sebagai sebuah hobi ternyata bisa menjadi peluang kerja bagi mereka untuk mencari nafkah. Pada saat mereka mencari pekerjaan untuk memperoleh penghasilan agar tetap dapat bertahan hidup, aksesoris menjadi solusi bagi persoalan mereka. Adanya rasa tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan hidup pribadi dan keluarga membuat mereka mencoba mengubah cara pandangnya tentang mencari pekerjaan menjadi membuka lapangan pekerjaan.

Hal tersebut seperti pendapat Hessinger tentang selective perceptive24

, yang menjelaskan bahwa kebutuhan terhadap inovasi itu lebih dulu ada, baru kemudian orang mencari pengetahuan. Ide-ide kreatif itu sebenarnya sudah muncul, namun tidak dikembangkan karena dianggap masih belum dibutuhkan. Demikian halnya dengan apa yang dilakukan oleh Pak Muslim maupun Pak Ojie. Saat kesulitan dalam mencari pekerjaan itu muncul, mereka pun berusaha memikirkan apa yang dapat mereka lakukan dan apa yang harus mereka lakukan. Pada saat itu lah ide-ide kreatif yang tadinya masih tersimpan dalam pikiran akhirnya disadari sebagai sebuah peluang usaha.

Usaha yang mereka lakukan tidak terlepas dari adanya sebuah proses. Mereka mencoba memahami peluang tersebut dengan melihat situasi pasar yang juga banyak dijadikan oleh orang lain sebagai mata pencahariannya. Di lapangan terdapat banyak pengusaha aksesoris, namun mereka hanya sekedar menjual aksesoris yang sudah siap pakai kepada pembeli saja. Hal ini mereka lihat sebagai peluang, dengan menjadikan kelemahan dari pedagang aksesoris lain sebagai salah satu kelebihan mereka.

Pak Ojie dan Pak Muslim berupaya memperoleh ide-ide kreatif untuk diaplikasikan pada aksesoris yang akan dibuat. Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan di Pasar UD Pajus Baru Medan, maka dapat diketahui bahwa ide dapat diperoleh melalui: referensi sejumlah gambar aksesoris, buku, majalah, brosur- brosur, internet, perpustakaan, jalanan, mitos atau cerita, galeri seni, fenomena dalam masyarakat, pengalaman, permintaan pelanggan, teman, dan semua aspek dari segala tempat dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi. Oleh karena itu, tidak ada batasan- batasan untuk memperoleh ide-ide jika peka terhadap sekitar.

Mereka menyadari bahwa persaingan pasar aksesoris di Pasar UD Pajus Baru sangat ketat, oleh karena itu untuk dapat tetap bertahan mereka harus mempunyai strategi sendiri. Berbeda orangnya maka berbeda pula strategi yang digunakan. Di sinilah kreatifitas mereka dikembangkan. Bagi orang yang mempunyai keahlian dan pengetahuan tentang membuat aksesoris, ia akan lebih mudah mengembangkan kreatifitasnya. Namun bagi orang yang tidak mempunyai keahlian khusus, mereka harus berupaya memikirkan ide-ide kreatif untuk mengkreasikan benda yang sudah ada menjadi aksesoris yang lebih berbeda, seperti melakukan modifikasi dengan menggabungkan beberapa unsur, untuk menghasilkan tampilan yang lebih menarik. Tidak hanya membuat aksesoris yang dikatakan kreatif, tetapi juga termasuk memodifikasi.

Tidak jarang dalam dunia bisnis, strategi yang dilakukan para wirausahawan terlihat sama. Seperti yang terjadi di Pasar UD Pajus Baru Medan, jika seorang pedagang memberikan diskon 50%, maka pedagang yang lain juga ikut-ikutan melakukan hal yang sama. Jika di toko yang satu menjual gelang persegi, di toko yang lain juga menjual aksesoris yang sama.

Namun dalam hal inovasi, aksesoris yang sama bisa menjadi terlihat lebih berbeda. Hal ini terjadi karena adanya campur tangan dari kreatifitas si pembuatnya. Sehingga aksesoris yang mereka tawarkan mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan dengan aksesoris yang tengah beredar di pasaran. Hal tersebut disebabkan karena beberapa faktor, seperti: permintaan dari setiap pelanggan yang berbeda, segi emosional pengrajin pada saat proses pembuatan, maupun dari segi ide pembuatannya.

Salah satu bentuk inovasi yang dilakukan adalah dengan cara memanfaatkan barang bekas sebagai bahan untuk membuat aksesoris. Hal tersebut dilakukan bertujuan untuk meminimalis biaya produksi, serta menunjukkan kreatifitas dengan melakukan perubahan nilai seni pada benda yang sudah dianggap sampah menjadi aksesoris yang unik. Sehingga aksesoris yang bernilai seni menjadi memiliki nilai ekonomi yang layak untuk dijual, dan dapat mnghasilkan keuntungan.

Melakukan strategi pelayanan prima kepada setiap pelanggan, yang bertujuan untuk memberikan kesan yang positif bagi pembeli. Sehingga memunculkan hubungan emosional kedekatan antara pedagang dengan pembeli, hal ini dalam konteks persahabatan. Para wirausahawan berusaha memunculkan rasa kepercayaan bagi pembeli. Oleh karena itu, berbagai cara dilakukan mulai dari keramahan dalam menawarkan produk aksesoris, memberikan garansi pada aksesoris tertentu, menerima pemesanan barang konsumen, hingga memberikan potongan harga. Semua stategi tersebut diharapkan dapat memberikan kenyamanan bagi para pembeli sehingga mereka mau kembali lagi dilain hari.

Berhasil tidaknya sebuah usaha tidak terlepas dari strategi apa yang dilakukan oleh pengusahanya. Namun meski demikian tidak berarti orang tersebut tidak pernah mengalami hambatan atau pun kegagalan. Selama melakukan penelitian di lapangan, Pak Ojie maupun Pak Muslim selalu mengingatkan bahwa menjadi seorang wirausaha aksesoris itu tidak mudah, selalu banyak cobaan dan halangan. Menjadi wirausaha aksesoris mengajarkannya untuk lebih bersabar dan tidak mudah untuk menyerah, karena mereka percaya bahwa pengalaman hidup menjadi guru terbaik yang mengajarkan kedewasaan serta menambah wawasan.

Seperti yang disampaikan oleh Pak Muslim, bahwa masalah itu perlu ada dalam sebuah usaha, agar seseorang selalu diingatkan untuk bersyukur kepada Tuhan, sehingga jika sudah sukses tidak lupa diri. Sukses menurut Pak Muslim adalah ketika dia bisa melakukan pekerjaan yang disukai dan melalui pekerjaannya dapat membahagiakan orang yang dicintainya.

Pak Ojie sendiri juga mengakui, bahwa beliau tidak jarang melakukan kesalahan pada saat membuat aksesoris. Namun dari kesalahan itu beliau bisa belajar lagi dan tidak jarang muncul ide baru untuk mengatasi masalah tersebut. Bagi beliau kesuksesan itu bukan dilihat dari seberapa banyak uang yang dihasilkan, karena orang yang bisa menghasilkan banyak uang belum tentu hidupnya bahagia. Mendapat pekerjaan yang disenangi dan tidak merasa tertekan saat melakukannya, itulah yang disebut dengan kesuksesan. Beliau pernah ditawarkan untuk bekerjasama dengan sebuah perusahaan asing yang membutuhkan seorang designer mebel dengan bayaran yang menurut beliau sangat besar, namun meski demikian beliau memilih untuk menolaknya. Alasannya karena beliau tidak ingin terikat dengan pihak lain. Beliau lebih suka menjadi seorang wirausaha aksesoris, bisa bekerja dalam kondisi yang dia mau tanpa ada tekanan dari pihak lain.

Oleh karena itu, melalui penelitian ini dapat diketahui bahwa kesuksesan dalam wirausaha aksesoris itu bersifat relatif. Kesuksesan itu merupakan sebuah proses yang dilalui oleh seseorang, bukan hanya berupa hasil akhir saja. Hal ini sejalan dengan pandangan Antropologi Ekonomi dalam melihat sistem ekonomi sebagai sebuah proses yang bersifat relatif. Antropologi Ekonomi tidak melihat hasil sebagai inti permasalahan, namun proses yang dilakukan dalam mencapai hasil itulah yang terpenting dan perlu untuk diketahui.

Manusia pasti akan meninggal, dan benda bisa saja hilang dan rusak termakan waktu, namun ide-ide dalam proses pembuatan benda itu sendiri tidak akan pernah habis dan bisa diwariskan secara turun-temurun. Sehingga melalui proses itulah orang lain bisa belajar bagaimana cara membuat aksesoris, bahkan dapat memberikan solusi dalam mengatasi sebuah permasalahan.

5.2. Saran

Berdasarkan penjelasan dari bab-bab sebelumnya serta hasil penelitian yang dilakukan, maka penulis melihat bahwa aktivitas wirausaha aksesoris yang dilakukan di Pasar UD Pajus Baru Medan, merupakan suatu upaya untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup di tengah lingkungan sosialnya. Namun dari sekian banyak wirausaha aksesoris di tempat tersebut, tidak banyak yang menjadi wirausaha kreatif. Hal ini terjadi karena kurangnya modal, baik dari segi material maupun pengetahuan tentang aksesoris itu sendiri.

Oleh karena itu, untuk mengembangkan wirausaha kreatif di Pasar UD Pajus Baru Medan, dibutuhkan perhatian dari pemerintah setempat untuk mensosialisasikan tentang pentingnya berwirausaha kreatif kepada masyarakat khususnya pengusaha aksesoris di Pasar UD Pajus Baru Medan. Menurut keterangan Pak Ojie, pihak pemerintah di Kota Medan memang pernah mengadakan pameran UKM. Namun beliau sendiri tidak pernah ikut serta dalam kegiatan tersebut. Alasannya karena kurangnya informasi dan tidak ada pemberitahuan dari pihak penyelenggara. Beliau juga menambahkan, biasanya orang yang punya kenalan dengan pihak penyelenggaralah yang sering diajak untuk ikut berpartisipasi dalam pameran. Beliau sendiri biasanya selalu terlambat mengetahui informasinya, sehingga kurang persiapan dan akhirnya lebih memilih untuk tidak mengikutinya.

Pak Muslim juga mempunyai pendapat yang sama dengan Pak Ojie. Kurangnya informasi menjadi faktor utama mengapa beliau tidak pernah ikut serta dalam kegiatan pameran UKM di Kota Medan. Selain itu beliau juga mempunyai pertimbangan sendiri, karena biasanya yang mengikuti pameran tersebut cenderung berasal dari kalangan anak-anak muda yang hanya ingin menunjukkan kreatifitasnya pada orang lain. Sementara bagi beliau sendiri, wirausaha aksesoris bukan hanya sekedar menunjukkan kreatifitas pada orang lain, tetapi juga sebagai lahan untuk mencari nafkah. Sehingga beliau beranggapan bahwa waktu lebih baik digunakan untuk bekerja dan menghasilkan uang, daripada digunakan untuk ikut pameran.

Oleh karena itu, penulis melihat perlu ada komunikasi dua arah antara pihak pemerintah atau pun penyelenggara dengan pihak wirausaha, agar tidak terjadi kesalahpahaman. Informasi yang berkaitan dengan penyelenggaraan kegiatan pengembangan kreatifitas, khususnya aksesoris harus disosialisasikan terlebih dahulu kepada seluruh masyarakat di Kota Medan, sehingga mereka mempunyai persiapan yang lebih matang saat ingin mengikutinya.

Selain itu keberagaman suku, agama, dan budaya yang dimiliki masyarakat Kota Medan akan mempengaruhi cara pandang mereka dalam menyikapi pensosialisasian tersebut. Oleh karena itu, sosialisasi yang disampaikan hendaknya tidak memberikan kesan sedang menggurui, namun lebih pada saling bertukar pikiran (sharing) untuk menambah pengetahuan dan wawasan dibidang aksesoris. Melalui pensosialisasian tersebut masyarakat diharapkan menjadi lebih termotivasi serta mempunyai kesadaran sendiri untuk mengembangkan kreatifitasnya, sehingga dapat bermanfaat bagi dirinya dan juga orang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Ahimsa-Putra, Heddy Shri, dkk., Ekonomi Moral, Rasional, dan Politik Dalam Industri Kecil di Jawa. Yogyakarta: Kepel Press, 2003.

Belshaw, Cyril S., Tukar-Menukar Tradisional dan Pasar Modern. Jakarta: PT Gramedia, 1981.

Berutu, Lister, “Kearifan Lokal Masyarakat Adat Dalam Pengelolaan Serta Pelestarian Hutan”, makalah disajikan pada Workshop Penyusunan Metode dan Kriteria Inventarisasi Masyarakat Hukum Adat dan Kearifan Lokal Yang Terkait Dengan PPLH. Jakarta: 2011.

Depdiknas. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2005.

Dinsi, Valentino, dkk, Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian. Jakarta: Let’s Go Indonesia, 2004.

Hanafi, Abdillah, Memasyarakatkan Ide-Ide Baru. Surabaya: Usaha Nasional, 1981. Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia,

1974.

Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi Cetakan ke-8. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1990.

Kluchohn, Clyde, “Cermin Bagi Manusia”, Manusia, Kebudayaan dan Lingkungannya. Jakarta: Balai Pustaka, 1998.

Mintargo, Bambang S., Tinjauan Manusia dan Nilai Budaya. Jakarta: Penerbit Universitas Trisakti, 2000.

Sairin, Syafri, “Kriteria dan Metode Inventarisasi Kearifan Lokal”, makalah disajikan pada Workshop Penyusunan Metode dan Kriteria Inventarisasi Masyarakat Hukum Adat dan Kearifan Lokal Yang Terkait Dengan PPLH. Jakarta: 2011. Simatupang, G. R. Lono Lastoro, “Budaya sebagai Strategi dan Strategi

Budaya”,Global/Lokal, Jurnal Seni Pertunjukan Indonesia Th. X. Bandung: MSPI, 2000.

Soetadi, IskandaRini, Kewirausahaan. Medan: USU Press, 2010.

Spradley, James P., Medode Etnografi, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997.

Tambunan, Tulus, Perkembangan Industri Skala Kecil di Indonesia. Jakarta: PT. Mutiara Sumber Widya, 1999.

Sumber Lain

Arsip Harian SUMUT Pos, “Pajak USU jadi abu”,

2013)

“Bandung Jadi Kota Kreatif Se-Asia Timur”,

“Boyband”,

“Cerita unik dibalik anting-anting”,

http://laman-info.blogspot.com/2012/03/cerita-unik-dibalik-anting-anting.html

(diakses pada tanggal 6 Februari 2013)

(diakses pada tanggal 21 Februari 2013)

“Defenisi Interaksi Sosial Menurut Para Ahli”,

“Fenomena Boyband dan Girlband Indonesia”,

FMEI, “Pengangguran Akibat Krisis Global”,

“Handy Craft”,

http:/arti kata.com/arti-85438-handicraft.html (diakses 13 Februari, 2012) Hafidzoh, Siti Muyassarotul, “Mode, cermin peradaban”,

Waspada online, “Pajak USU terbakar, 9 orang diperiksa”,

“Industri Kreatif”,

(diakses 15 Februari, 2012)

2013)

“Mode”,

“Pengertian Pengangguran dan Jenis/Macam Pengangguran: Friksional, Struktural, Musiman dan Siklikal”,

(diakses 17 Februari,

2012)

“Pertumbuhan Industri Sumut Masih Minim”,

Putra, Ridwan, “Membangun karakter mental kewirausahaan pemuda”,

Puspita, Winda Ragil, “Asal Aksesoris Gelang”,

(diakses pada tanggal 6 Februari 2013) “Sejarah Cincin”,

“Sejarah Kalung”,

(diakses pada tanggal 6 Februari 2013)

Sianturi, “UKM Medan: 28% Bergerak di Indusri Kreatif”,

Wibisono, Agus. “Industri Kreatif”,

DAFTAR ISTILAH

Bor Tangan : Alat yang digunakan dengan mengandalkan tenaga tangan, berfungsi untuk melubangi suatu benda.

Clear Semprot : Berupa cairan yang disemprotkan pada benda, agar terlihat lebih mengkilap.

Crof : Proses membentuk atau mengukir bahan baku.

Desain : Proses menggambar atau membuat pola.

Finishing : Proses merapikan hasil akhir.

Flat Steanless : Bahan yang terbuat dari steanless dengan sisi yang lebar dan datar, digunakan sebagai bahan membuat mata kalung.

Gergaji Triplek : Lebih dikenal dengan gergaji tangan, berfungsi untuk memotong benda.

Gliter : Benda berupa serbuk yang berkilau, biasa digunakan pada saat proses finishing sebagai kreasi untuk menambah daya tarik aksesoris.

Grafir : Sebuah alat seperti solder yang digunakan dengan bantuan arus listrik, yang berfungsi untuk mengukir benda. Perbedaan grafir dengan solder terletak pada mata bornya. Grafir menggunakan mata bor yang ujungnya lebih tipis, sehingga cocok digunakan untuk mengukir benda dalam wadah yang berukuran kecil. Sedangkan solder menggunakan mata bor yang lebih tebal, biasanya lebih cocok digunakan untuk melubangi dan mengukir benda dalam wadah yang lebih besar.

Gunting : Alat yang berfungsi untuk memotong benda seperti kertas, benang, plastik, lak ban, isolasi, kain dan lain sebagainya.

Kertas Pasir : Alat ini berfungsi untuk menghaluskan permukaan benda yang belum merata.

Kuas : Alat yang berfungsi untuk membersihkan sisa-sisa debu dari hasil pemotongan.

Lem Jepang : Sering disebut dengan lem setan, berfungsi untuk melekatkan benda yang satu dengan benda lainnya.

Modifikasi : Melakukan suatu perubahan terhadap barang yang sudah ada, menjadi lebih berbeda dari sebelumnya.

Meronce : Menjalin benang menjadi rantai kalung atau gelang.

Obeng : Alat ini berfungsi untuk membuka dan menutup benda, sehingga benda tersebut bisa lebih tertutup rapat.

Pasta : Benda yang bentuknya seperti sebuah adonan dengan beranekamacam warna, berfungsi untuk membuat kreasi pada aksesoris dalam bentuk tulisan timbul.

Ragum : Alat yang terbuat dari besi, berfungsi untuk mengapit dua benda atau lebih agar bisa menempel lebih kuat.

Rol : Penggaris, berfungsi untuk mengukur benda.

Serbuk Kayu : Serbuk atau debu hasil dari pemotongan suatu benda, berfungsi sebagai bahan cadangan untuk menutup atau mendempul bagian sambungan aksesoris yang tidak dapat tertutup rapat.

Solder : Alat yang digunakan dengan bantuan arus listrik, berfungsi untuk mengukir benda.

Tang : Alat yang berfungsi untuk menjepit atau

PEDOMAN PENGUMPULAN DATA

WIRAUSAHA AKSESORIS DI PASAR UD PAJUS BARU MEDAN No. Isu Utama Variabel Aspek Parameter Metode Sumber

Data/Informan 1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Sejarah dan Profil Wirausaha Aksesoris •Sejak kapan OAM Aksesoris berdiri

•Apa yang melatar belakangi

sehingga Pak Ojie memilih menjadi wirausahawan aksesoris •Struktur OAM Aksesoris •Sejak Kapan IMEJI berdiri

•Apa yang melatar belakangi Pak Muslim sehingga memilih menjadi wirausahawan aksesoris •Struktur Organisasi IMEJI •Jenis-jenis aksesoris yang dijual Wawancara dan observasi partisipasi Para wirausahawan atau pengrajin aksesoris di Pasar UD Pajus Baru Medan 2. Proses Pembuatan dan Modifikasi Aksesoris Tahapan dalam membuat aksesoris •Apa sajakah bahan dan peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan dan modifikasi aksesoris •Bagaimana proses pembuatan dan memodifikasi aksesoris •Darimanakah para wirausahawan dapat mengetahui

Dokumen terkait