BAB I PENDAHULUAN
BAB 11 TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Pengadaan Koleksi
2.4.2 Cara Pengadaan Koleksi
2.4.4.1 Pembelian Bahan Pustaka
Untuk Pengadaan bahan pustaka dengan cara pembelian adalah cara yang paling ideal dalam pembinaan koleksi, sebab ada kebebasan untuk menentukan pilihan bahan pustaka yang dikehendaki. Pengadaan bahan pustaka hendaknya berorientasi kepada pengguna sehingga sesuai dengan tujuan dan fungsi perpustakaan.
Dalam hal pembelian bahan pustaka, dibutuhkan anggaran yang cukup.
mengingat mahalnya harga buku. Hal inilah yang menyebabkan pustakwan dan pihak yang berwenang dalam pemilihan bahan pustaka harus selektif dalam memilih bahan pustaka agar tidak terjadi kekecewaan.
Menurut Yulia dan Sujana (2010: 5.7) Pembelian bahan pustaka dapat dilakukan dengan jalan:
- Membeli langsung ke toko buku.
- Memesan langsung kepada penerbit.
- Memesan melalui agen yang dikenal.
- Mengimpor buku dari luar negeri.
Menurut Yulia dan Sujana (2009: 5.2) untuk membeli bahan pustaka dapat ditempuh dengan berbagai cara yaitu :
1. Membeli ke penerbit
Yang dimaksud disini adalah untuk memperoleh bahan pustaka,pustakawan membeli ke penerbit. Pembelian kepenerbit ini relatif lebih murah bila dibandingkan dengan membeli ke toko buku. Hal ini disebabkan pemilik toko mencari keuntungan walaupun sedikit.
2. Membeli ditoko
Tidak semua perpustakaan dekat dengan penerbit sehingga apabila membeli langsung kepada penerbit akan memakan biaya banyak untuk
ongkos perjalananya. Apabila hal yang demikian terjadi sebaiknya pustakawan membeli buku yang dekat dengan perpustakaannya.
3. Memesan
Sering kali terjadi seorang pustakawan ingin membeli bahan pustaka ke penerbit, tetapi bahan pustaka yang akan dibeli sudah habis. Apabila hal yang demikian ini terjadi maka pustakawan bisa memesan bahan pustaka tersebut. Pemesanan ini bisa ke toko buku atau penyalur. Atau juga bisa langsung kepada penerbit.
Dari urian diatas diketahui bahwa kegiatan pembelian bahan pustaka diperlukan langkah yang sistematis agar pelaksanaan pembelian dapat terlaksana dengan benar sehingga tidak terjadi pemborosan dana serta serta dalam pembelian bahan pustaka perlu disesuaikan dengan kebijakan perpustakaan masing-masing.
No. Judul Pengarang Penerbit Tahun ISBN Harga
Tabel 2.3: contoh Format Daftar Buku yang akan dibeli 2.4.4.2 Hadiah/Sumbangan
Selain dengan cara pembelian, pengadaan bahan pustaka dapat diperoleh dengan menerima hadiah sebagai penambahan koleksinya terutama bagi perpustakaan yang dananya terbatas. Pada umumnya perpustakaan menerima hadiah dari berbagai instansi sebagai penambahan koleksinya. Hadiah buku yang diterima tanpa diminta sering tidak cocok tengan tujuan perpustakaan penerima.
Menurut Yulia dan Sujana (2010: 5.29) bahan pustaka melalui hadiah dapat dilakukan dengan cara yaitu sebagai berikut:
1. Hadiah secara langsung
prosedur perolehan hadiah secara langsung yaitu:
a. Meneliti kiriman bahan perpustakaan hadiah dan mencocokkannya dengan surat pengantarnya.
b. Memilih bahan perpustakaan hadiah yang dibutuhkan.
c. Menyisihkan bahan perpustakaan hadiah yang diperlukan.
2. Hadiah atas permintaan
Prosedur perolehan hadiah atas permintaan yaitu:
a. Menyusun daftar bahan perpustakaan yang diperlukan.
b. Mengirimkan surat permohonan bahan perpustakaan hadiah dan setelah bahan perpustakaan diterima.
c. Memeriksa dan mencocokkan daftar kiriman perpustakaan hadiah dan surat pengantarnya.
d. Mengirimkan kembali surat pengantarnya.
e. Mengolah bahan pustaka hadiah yang diterima seperti pengolahan bahan perpustakaan biasa.
Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa pengembangan koleksi dengan hadiah/sumbangan dapat dilakukan dengan: hadiah atas permintaan dan hadiah tidak atas permintaan yaitu hadiah secara langsung. Hadiah yang sesuai dapat dijadikan koleksi perpustakaan, sedangkan yang tidak sesuai dapat ditukarkan ke perpustakaan lain.
2.4.4.3 Tukar-menukar
Tukar menukar bahan pustaka dapat dilakukan apabila perpustakaan memiliki sejumlah bahan pustaka yang tidak diperlukan lagi, atau memiliki jumlah eksemplar yang terlalu banyak, sehingga dapat dilakukan tukar menukar ahan pustaka dengan perpustakaan yang mau diajak bekerjasama dalam kegiatan tukar menukar bahan pustaka.
Menurut Yulia dan Sujana (2004: 5) tukar menukar bahan pustaka dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Perpustakaan mempunyai buku lebih (duplikat) atau yang sudah tidak diperlukan lagi, disusun dalam bentuk daftar untuk ditawarkan.
Untuk itu maka :
a. Sebelum ditawarkan, setiap buku diproses terlebih dahulu sesuai peraturan yang berlaku untuk dinyatakan dapat dikeluarkan dari koleksi perpustakaan.
b. Dalam penawaran disusun menurut subjek, kemudian menurut pengarang dan judul.
2. perpustakaan mengirimkan penawaran kepada perpustakaan perpustakaan lain diperkirakan memiliki koleksi yang sesuai dengan buku yang ditawarkan, dan telah mempunyai hubungan kerjasama.
Disamping itu disebutkan pula persyaratan untuk mengadakan pertukaran buku tersebut,seperti ongkos kirim, isi, subjek,dan keseimbangan bahan pertukaran.
3. Perpustakaan menerima penawaran dan mempelajari tawaran yang diterima beserta persyaratannya, serta membandingkan dengan kebutuhan dan kebijakan pengembangan koleksi perpustakaannya sendiri.
4. Perpustakaan yang menerima penawaran pertukaran melakukan pemilihan buku yang sesuai dan memilih bahan penukar yang sesuai dengan bobotnya.
5. Kemudian, perpustakaan yang telah menerima tanggapan atas penawarannya, melakukan penilaian keseimbangan buku tentang subjek dan bobotnya.
6. Setelah melakukan kesepakatan maka tukar menukar dapat dilaksanakan.
7. Kegiatan selanjutnya adalah masing-masing perpustakaan menerima bahan pertukaran dan mengelolannya sesuai dengan prosedur yang telah ada.
Dari urian di atas dapat diketahui bahwa pelaksanaan pertukaran dilakukan oleh bagian pengadaan dalam memilih dan memberikan bahan pustaka yang akan dipertukarkan.
2.5. Inventarisasi bahan pustaka
Inventarisasi koleksi adalah kegiatan pencatatan setiap bahan pustaka ke dalam buku inventarisasi (buku induk) sebagai tanda bukti pembendaharaan perpustakaan. Inventarisasi ini merupakan kegiatan yang mencatat koleksi bahan pustaka sebagai bukti bahwa koleksi tersebut milik perpustakaan yang bersangkutan.
Dalam melakukan pencatatan ini harus ditetapkan macam dan ukuran kolom-kolom dalam buku inventaris dan petunjuk untuk mengisinya. Adapun cara yang diterapkan adalah dengan melaksanakan pemberian tanda hak milik perpustakaan (dengan stempel atau cara lain) pada tiap bahan pustaka yang diterima.
Tata laksana kerja inventarisasi bahan pustaka menurut Yulia dan Sujana dikutip oleh Siregar (2014: 37) inventarisasi dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Periksa alamat pengirim dan penerimanya. Jika sesuai baru di buka kemasannya.
2. Periksa kiriman apa sesuai dengan surat pengantar dan daftar pesanan kita, dan sekaligus periksa kondisi fisik bukunya.
3. Jika ada yang tidak sesuai dengan pesanan maka kiriman tersebut disisihkan dan dikembalikan kepada pengirim di sertai dengan surat permintaan pergantian yang sesuai.
4. Untuk kiriman yang sesuai dengan pesanan maka dibuatkan ucapan terimakasih kepada pengirimnya sebagai bukti penerimaan.
5. Bahan pustaka terlebih dahulu diberi stempel kepemilikan dan stempel nama perpustakaan atau lembaga. Stempel kepemilikan paling tidak memuat keterang sebagai berikut:
a. Nomor registrasi b. Tanggal perolehan
c. Asal perolehan (beli, hadiah, pertukaran) d. Lokasi penyimpanan
e. Jumlah eksemplar
Dari uraian di atas diketahui bahwa pemeriksaan buku yang di pesan dilakukan untuk mengetahui apakah buku yang diterima sesuai dengan yang tercantum dalam kartu/daftar pesanan yang ada dalam file perpustakaan.
Setelah pemeriksaan selesai dilakukan maka buku yang diterima diberi stempel/cap untuk mengetahui bahwa buku tersebut adalah milik perpustakaan tersebut. Stempel kepemilikan inventarisasi ini paling tidak memuat tentang keterangan: Tanggal penerimaan, Asal perolehan, Nomor Inventarisasi/induk, Nomor klasifikasi.
Tgl Terima Asal
Nomor Induk Nomor Kelas
Tabel 2.4 Contoh format stempel inventarisasi dan stempel/cap kepemilikan Sumber: Siregar 2014: 38
PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS SURYALAYA
Kegiatan inventarisasi dilakukan setelah pengadaan koleksi selesai dikerjakan yaitu pada waktu koleksi diterima. Kegiatan ini merupakan bagian pekerjaan yang penting untuk proses selanjutnya yaitu pengolahan bahan pustaka karena dengan menginventarisasi koleksi dapat diketahui berapa jumlah pertambahan koleksi setiap tahunnya dan jumlah koleksi yang dimiliki perpustakaan.
2.6 Manajemen Pengetahuan
2.6.1 Pengertian Manajemen Pengetahuan
Definisi manajemen pengetahuan masih beragam pengertiannya oleh berbagai para ahli. Dalam makalahnya “ The ABC’s of Knowledge Management”
Santosus dan Jon yang dikutip oleh Siagian (2005: 1) menyatakan “Unfortunately, there’s no universal definition of KM, just as there’s no agreement as to what constitutes knowledge in the first place. For this reason, it’s best to think of KM in the broadest context”
Pendapat di atas menerangkan bahwa tidak ada definisi manajemen pengetahuan yang universal, sama halnya dengan tidak adanya kesepakatan seperti apa yang membuat pengetahuan menjadi hal utama. Karena itu manajemen pengetahuan sebaiknya dipikirkan pada konteks yang lebih luas.
Secara sederhana, mereka mendefinisikan manajemen pengetahuan sebagai keseluruhan proses membangkitkan nilai organisasi dari modal intelektual organisasi dan aset berbasis pengetahuan.
Manajemen pengetahuan berakar pada banyak sekali disiplin ilmu, dengan demikian banyak sekali definisi mengenai manajemen pengetahuan. Definisi itu juga makin bervariasi dilihat dari cara organisasi menggunakan dan memanfaatkan pengetahuan. Cara pandang terhadap pengetahuan juga menentukan definisi manajemen pengetahuan tersebut.
Beberapa dari definisi tersebut diantaranya seperti yang dikemukakan oleh Widayana (2005: 5) bahwa:
Manajemen pengetahuan merupakan suatu sistem yang dibuat untuk menciptakan, mendokumentasikan, menggolongkan dan menyebarkan pengetahuan dalam organisasi. Sehingga pengetahuan mudah digunakan
kapan pun diperlukan, oleh siapa saja sesuai dengan tingkat otoritas dan kompetensinya.
Definisi lain tentang manajemen pengetahuan dikemukakan pula oleh Turban dalam Aripradono yang dikutip oleh Siagian (2008: 5) bahwa
“Manajemen Pengetahuan adalah sebuah proses yang membantu organisasi melakukan identifikasi, seleksi, organisasi, penyebaran dan transfer informasi penting dan keahlian yang merupakan bagian dari memori organisasi”.
Selain kedua pendapat di atas, Horwitch dan Armacost dalam Sangkala (2007: 6) mendefinisikan:
Manajemen pengetahuan sebagai pelaksanaan penciptaan, penangkapan, pentransferan, dan pengaksesan pengetahuan dan informasi yang tepat ketika dibutuhkan untuk membuat keputusan yang lebih baik, bertindak dengan tepat, serta memberikan hasil dalam rangka mendukung strategi bisnis.
Ketiga uraian di atas memiliki kesamaan yaitu mendefinisikan manajemen pengetahuan sebagai suatu sistem yang dibuat untuk membantu organisasi dalam melakukan penciptaan, pendokumentasian, pengumpulan, penyimpanan, penggolongan, Pemanfaatan dan penyebaran serta pengaksesan pengetahuan dan informasi yang tepat sehingga mudah digunakan kapan pun diperlukan oleh siapa saja sesuai dengan tingkat otoritas dan kompetensinya.
2.6.2 Manfaat Manajemen Pengetahuan
Pada prinsipnya manfaat dari konsep manajemen pengetahuan adalah untuk meningkatkan kinerja organisasi. Menurut Webster Online Dictionary yang dikutip oleh Siagian (2009 : 12) manfaat manajemen pengetahuan adalah:
1. They facilitate the collection, recording, organization, filtering, analysis, retrieval, and dissemination of explicit knowledge. This explicit knowledge consists of all documents, accounting records, and data stored in computer memories. This information must be widely and easily available for an organization to run smoothly. A KMS is valuable to a business to the extent that it is able to do this.
2. They facilitate the collection, recording, organization, filtering, analysis, retrieval, and dissemination of implicit or tacit knowledge. This knowledge consists of informal and unrecorded procedures, practices, and skills. This “how-to” knowledge is essential because it defines the
competencies of emplo yees. A KMS is of value to a business to the extent that it can codify these “best practices”, store them, and disseminate them through-out the organization as needed. It makes the company less susceptible to disruptive employee turnover. It makes tacit knowledge explicit.
3. They can also perform an explicitly strategic function. Many feel that in a fast changing business environment, there is only one strategic advantage that is truly sustainable. That is to build an organization that is so alert and so agile that it can cope with any change, no matter how discontinuous. This agility is only possible with an adaptive system like a KMS which creates learning loops that automatically adjust the organizations knowledge base every time it is used.
4. These three benefits mentioned above can be extended to the whole supply chain with the use of extranet based knowledge portals.
Pendapat di atas dapat diartikan bahwa manfaat manajemen pengetahuan adalah:
1. Memfasilitasi pengumpulan, perekaman, pengorganisasian, penyaringan, analisis, temu kembali dan penyebaran pengetahuan eksplisit.
Pengetahuan eksplisit yang dimaksud terdiri dari seluruh dokumen dan data yang disimpan disimpan di komputer. Informasi ini harus secara menyeluruh dan dengan mudah tersedia untuk kelangsungan organisasi.
2. Memfasilitasi pengumpulan, perekaman, pengorganisasian, penyaringan, analisis, temu kembali dan penyebaran pengetahuan implisit.
Pengetahuan implisit yang dimaksud terdiri dari prosedur informal dan tidak terekam, latihan dan keahlian. Pengetahuan ini penting karena dapat menunjukkan kompetensi pegawai.
3. Dapat menunjukkan fungsi strategis dengan sangat jelas.Banyak yang merasakan bahwa dalam perubahan lingkungan bisnis yang begitu cepat, hanya ada satu manfaat strategis yang benar-benar dapat bertahan yaitu untuk membangun suatu organisasi agar selalu waspada, gesit dan dapat mengatasi segala perubahan. Ketangkasan ini hanya mungkin dilakukan dengan mengadaptasi suatu sistem seperti manajemen pengetahuan yang menciptakan lingkaran pembelajaran yang secara otomatis menyesuaikan dasar pengetahuan organisasi setiap kali digunakan.
4. Ketiga manfaat yang disebutkan di atas dapat diperluas dengan menggunakan extranet berbasis portal pengetahuan.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa manfaat manajemen pengetahuan adalah untuk memfasilitasi pengumpulan, perekaman, pengorganisasian, penyaringan, analisis, temu kembali dan penyebaran pengetahuan eksplisit dan pengetahuan implisit, serta dapat menunjukkan fungsi strategis dengan sangat
jelas. Manfaat tersebut di atas dapat diperluas dengan menggunakan extranet berbasis portal pengetahuan.
Menurut Frappaolo dan Toms dalam Dewiyana yang dikutip oleh Siagian (2009: 8), fungsi aplikasi manajemen pengetahuan dalam suatu organisasi ada lima, yaitu:
1. Intermediation: yaitu peran perantara transfer pengetahuan antara penyedia dan pencari pengetahuan. Peran tersebut untuk mencocokkan (to match) kebutuhan pencari pengetahuan dengan sumber pengetahuan secara optimal. Dengan demikian, intermediation menjamin transfer pengetahuan berjalan lebih efisien.
2. Externalization: yaitu transfer pengetahuan dari pikiran pemiliknya ke tempat penyimpanan (repository) eksternal, dengan cara seefisien mungkin. Externalization dengan demikian adalah menyediakan sharing pengetahuan.
3. Internalization: adalah “pengambilan” (extraction) pengetahuan dari tempat penyimpanan eksternal, dan penyaringan pengetahuan tersebut untuk disediakan bagi pencari yang relevan. Pengetahuan harus disajikan bagi pengguna dalam bentuk yang lebih cocok dengan pemahamannya.
Maka, fungsi ini mencakup interpretasi format ulang penyajian pengetahuan.
4. Cognition: adalah fungsi suatu sistem untuk membuat keputusan yang didasarkan atas ketersediaan pengetahuan. Cognition merupakan penerapan pengetahuan yang telah berubah melalui tiga fungsi terdahulu.
5. Measurement, yaitu kegiatan knowledge management untuk mengukur, memetakan dan mengkuantifikasi pengetahuan korporat dan performance dari solusi knowledge management. Fungsi ini mendukung empat fungsi lainnya, untuk mengelola pengetahuan itu sendiri.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa fungsi aplikasi manajemen pengetahuan adalah sebagai perantara transfer pengetahuan antara penyedia dan pencari pengetahuan dari pikiran pemiliknya ke tempat penyimpanan (repository) eksternal.
2.6.3 Ruang Lingkup Manajemen Pengetahuan
Konsep manajemen pengetahuan memiliki ruang lingkup yang luas meliputi teknologi informasi, dukungan dari pihak manajemen, budaya, strategi dan tujuan, struktur organisasi, motivasi dan manajemen sumber daya manusia. Finerty dalam Handayani yang dikutip oleh Siagian (2009: 9) menyatakan bahwa:
Terdapat beberapa faktor atau kata kunci dalm rangka mengimplementasikan konsep manajemen pengetahuan dalam perpustakaan, yakni:
1. Creation
Sebagai media untuk melakukan transfer pengetahuan, perpustakaan tidak menciptakan pengetahuan. Namun perpustakaan memiliki andil dalam proses pemicu berkembangnya pengetahuan. Dengan adanya perpustakaan, pengetahuan dari pengguna perpustakaan akan bertambah.
Hal ini akan mendukung proses pengembangan pengetahuan. Sehingga bila dihubungkan dengan konsep creation, perpustakaan harus mampu menjadi pemicu (trigger) bagi perkembangan pengetahuan para penggunanya.
2. Utilization
Konsep utilizationberhubungan dengan utilisasi dari sistem itu sendiri.
Dalam hal ini, ut ilisasi sistem perpustakaan adalah bagaimana tingkat utilitas atau pemakaian dari perpustakaan. Seberapa tinggi tingkat utilitasnya, tergantung pada seberapa sering pengguna (user) memanfaatkan fasilitas perpustakaan. Karenanya, perpustakaan harus dirancang sedemikian rupa untuk dapat memenuhi kebutuhan penggunanya. Misalnya, dengan koleksi buku-buku yang lengkap.
3. Storing
Konsep storing adalah salah satu proses transfer pengetahuan. Dalam hal ini perpustakaan harus mampu menyediakan pelayanan yang memuaskan bagi pengunjung, seperti prosedur yang tidak rumit untuk pembuatan kartu anggota dan peminjaman, pelayanan yang cepat, keramahan dari petugas perpustakaan serta didukung oleh fasilitas yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pengunjung.
4. Acquisition
Acquisition berarti kemahiran. Dalam hal ini, transfer pengetahuan yang diberikan oleh perpustakaan harus mampu memberikan nilai tambah bagi pengunjungnya. Kemahiran dalam hal ini adalah tingkat pemahaman tentang suatu bidang ilmu yang makin bertambah, bertambahnya ketrampilan terutama dalam hal membaca dan menulis.
5. Distribution/sharing
Berdasarkan konsep ini, perpustakaan harus mampu berfungsi sebagai transfer pengetahuan. Artinya, bagaimana mentransfer pengetahuan yang ada dalam buku- buku ke dalam pemikiran penggunanya. Perpustakaan harus mampu memberikan kondisi dimana proses transfer pengetahuan dapat berjalan dengan sempurna.
6. Structure
Konsep struktur mengarah tentang bagaimana struktur transfer pengetahuan. Perpustakaan harus mampu mendesain struktur yang benar-benar mendukung tujuan utama, yaitu transfer pengetahuan. Karenanya, perpustakaan harus dirancang sedemikian rupa agar business prosess tidak terlalu panjang dan tidak menghabiskan banyak waktu.
7. Technology
Teknologi adalah suatu alat (tool) yang digunakan dalam mengembangkan sistem perpustakaan. Perkembangan teknologi informasi akan memberikan kemudahan kepada pengguna perpustakaan dan sistem pelayanannya.
Perpustakaan harus menggunakan keunggulan teknologi informasi jika tidak ingin tertinggal. Beberapa bagian penting dari teknologi informasi yang diperlukan meliputi perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software) dan jaringan (network). Perangkat keras yang diperlukan dalam sistem perpustakaan antara lain, CPU, storage, media penghubung, kabel dan lain-lain. Perangkat lunak yang diperlukan adalah program untuk sistem perpustakaan. Namun tanpa membangun jaringan dengan dunia luar, perpustakaan ibarat ”katak dalam tempurung”.
8. Measurement
Diperlukan pengukuran untuk mengetahui apakah implementasi KM telah berlangsung dengan baik. Konsep ini mengarah kepada pengukuran secara kuantitatif. Dengan parameter yang jelas.
9. Organizational Design
Konsep ini mengarah kepada struktur organisasi perpustakaan. Struktur oraganisasi perpustakaan harus berorientasi pada kebutuhan. Artinya jangan sampai struktur dibuat terlalu birokratis dan terlalu banyak jabatan yang kurang perlu. Dalam hal ini perlu dilakukan analisis jabatan (job analysis). Hal ini akan menghilangkan jabatan-jabatan yang kurang perlu.
Dengan demikian, efektifitas dan efisiensi sistem organisasi dapat tercapai.
10. Culture
Perpustakaan harus memiliki kontribusi dalam menumbuhkembangkan budaya. Sesuai dengan kapasitasnya, perpustakaan harus mampu menumbuhkan nilai budaya membaca yang masih kurang di Indonesia.
Selanjutnya kesepuluh faktor di atas dibagi atas dua lapisan yaitu:
Lapisan pertama adalah proses (process) meliputi utilization, storing, acquisition, distribution/sharing dan creation. Lapisan kedua meliputi structure, technology, measurement, organizational design,dan culture. Kedua lapisan tersebut terintegrasi membentuk ruang lingkup manajemen pengetahuan (Finerty dalam Muttaqien, 2006 : 9).
Selain pendapat di atas, Bennet yang dikutip oleh Fajar (2009: 9), mengemukakan bahwa terdapat 5 kategori ruang lingkup manajemen pengetahuan diantaranya adalah:
1. Teknologi: berkaitan erat dengan beberapa hal yaitu memberdayakan, memfasilitasi dan menyebarluaskan inovasi keseluruh organisasi.
2. Isi (Content): berkaitan dengan nilai, relevansi dankeadaan informasi yang terkini.
3. Proses: berkaitan dengan pengelompokan, pengumpulan, penyelarasan (synchronize), menganalisa dan penyebaran informasi.
4. Budaya (culture): berkaitan dengan komitmen, memberikan informasi ke orang lain (sharing), saling bertukar (exchange) dan membangun hubungan (relationship).
5. Pembelajaran (Learning): berkaitan dengan membangun kontekstual, membuat dan mengembangkan proses transfer ilmu.
Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa dalam kedua pendapat di atas terdapat beberapa kesamaan yaitu ruang lingkup manajemen pengetahuan terdiri atas proses, teknologi dan budaya. Perbedaannya adalah terdapat beberapa penambahan kategori yang meliputi struktur, ukuran, desain organisasi, isi (content), dan pembelajaran (learning).
2.6.4 Penerapan Manajemen Pengetahuan
Ada tiga aspek yang berkaitan dengan penerapan manajemen pengetahuan di organisasi. Dewiyana yang dikutip oleh Siagian (2009: 7) menyatakan bahwa ketiga aspek tersebut adalah:
1. People aspects, yaitu terdiri dari pendidikan, pengembangan, rekrutmen, motivasi, retensi, organisasi, uraian pekerjaan, perubahan buda ya perusahaan, dan mendorong adanya pengembangan pemikiran, kerjasama dan partisipasi seluruh pegawai (share knowledge to creating value through social interaction).
2. Process aspects, yaitu terdiri dari proses inovasi, continues improvement, dan perubahan radikal seperti reengineering.
3. Technology aspects, yaitu terdiri dari informasi dan decision support system, knowledge-based system, dan data mining system.
Pendapat di atas menguraikan bahwa ada tiga aspek yang berkaitan dengan penerapan manajemen pengetahuan, yaitu orang, proses, dan teknologi. Ketiga aspek tersebut saling berhubungan, saling mempengaruhi dan saling melengkapi.
Menurut Sangkala yang dikutip oleh Siagian (2009: 10) terdapat sepuluh langkah strategi untuk menerapkan manajemen pengetahuan dalam organisasi, antara lain:
1. Analisis infrastruktur yang ada
2. Mengaitkan manajemen pengetahuan dengan strategi bisnis 3. Mendesain infrastruktur manajemen pengetahuan
4. Mengaudit aset dan sistem pengetahuan yang ada
5. Mendesain tim manajemen pengetahuan
6. Menciptakan blueprint manajemen pengetahuan 7. Pengembangan sistem manajemen pengetahuan 8. Prototipe dan uji coba
9. Pengelola perubahan, kultur dan struktur penghargaan
10. Evaluasi kinerja, mengukur roi, dan perbaikan sistem manajemen pengetahuan.
Sedangkan menurut Brooking dalam Dewiyana yang dikutip oleh Siagian (2009: 8), ada empat langkah strategis aplikasi manajemen pengetahuan di perpustakaan, yaitu:
1. Identify knowledge, yaitu mengidentifikasi pengetahuan, termasuk level dan fungsinya yang sebenarnya.
2. Audit knowledge yaitu mengidentifikasi pengetahuan optimal yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan yang optimal.
3. Document knowledge, yaitu mendokumentasikan asset pengetahuan menggunakan sistem dan alat-alat berbasis pengetahuan.
4. Disseminate knowledge, yaitu menyebarkan pengetahuan.
Kedua pendapat di atas dapat mengindikasikan bahwa strategi penerapan manajemen pengetahuan terdiri dari mengidentifikasi, mengaudit dan
Kedua pendapat di atas dapat mengindikasikan bahwa strategi penerapan manajemen pengetahuan terdiri dari mengidentifikasi, mengaudit dan