Menurut Louis Ma’ruf Al-Yasui akhlak secara bahasa adalah bentuk jama’ dari khulq, secara etimologi yaitu suatu kebiasaan, perilaku, sifat dasar dan perangai.93 Menurut Imam Al-Ghazali, lafad khuluq dan khalqu merupakan dua sifat yang digunakan secara bersamaan. Kata khalqu memiliki arti bentuk lahir, sedangkan makna khuluq yaitu bentuk batin.94Oleh karena itu, hakikat manusia didasari oleh bashar (kasat mata), dan memiliki ruh serta nafs yang didasari dengan adanya bashariah (mata hati), sehingga kekuatan nafs yang didasari dengan bashariah (mata hati) jauh lebih besar dari pada kekuatan jasad yang didasari dengan bashar (kasat mata).95
Menurut Abdullah Salim, makna akhlak secara terminologi adalah sifat yang tumbuh dan menyatu di dalam diri seseorang.96 Dari sifat yang terdapat dalam diri seseorang, dapat menimbulkan sikap dan tingkah laku perbuatan yang ada di dalam diri individu.97 Dari sifat yang terpancar tersebut timbul lah sikap penyabar, sikap penyayang, pemarah, dendam, iri dan
92Sumber ini diperoleh dari informan yaitu, ustadzah rumah tahfidz Hj. Siti Thoyyibatun Malang
93 Siti Halimah, “Upaya Guru Dalam Pembentukan Akhlak Anak Di Raudlotul Baipas Roudhotul Jannah Kota Malang”, Jurnal Dewantara, vol. 1 no. 1, Januari 2019. Hlm. 368
94 Ibid, 368
95 Ibid
96 Ibid
97 Ibid
32 dengki, yang mana sikap-sikap tercela tersebut dapat menimbulkan putusnya tali silaturrahmi.98
Pengertian akhlak menurut Al-Ghazali, akhlak merupakan ungkapan tentang keadaan yang ada di dalam jiwa seseorang, dari situlah muncul perbuatan yang membutuhkan penelitian dan sebuah pemikiran.99 Dari keadaan itulah, muncul sebuah perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk menurut akal dan syriat agma Islam. Seperti halnya sikap jujur dan adil. Maka sikap tersebut dinamakan sikap yang baik, namun apabila yang muncul merupakan perbuatan buruk, seperti halnya berbohong, maka sikap tersebut merupakan akhlak yang buruk.100
Menurut Husain Al-Habsy akhlak dalam kehidupan sehari-hari yaitu di indentifikasikan sebagai moral atau etika seseorang, yang mana etika atau moral tersebut menunjukkan keadaan situasi batiniah manusia.101 Dan Al-Ghazali berpendapat bahwa akhlak bukanlah sekedar dari sebuah perbuatan, dan bukan juga dari kemampuan untuk berbuat, serta bukan juga dari pengetahuan, melainkan akhlak merupakan gabungan dari situasi jiwa seseorang yang dapat memunculkan sifat dan sikap yang dapat menjadi sebuah kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.102
Selain itu, Al-Ghazali mengisyaratkan bahwa pijakan baik dan buruk perilaku lahiriah adalah syari’at dan akal.103 Dengan kata lain, untuk melihat apakah akhlak tersebut baik atau buruk haruslah ditelusuri melalui agama dan akal sehat. Oleh karena itu, akal dan syari’at merupakan dua komponen yang saling melengkapi.104 Dan kesempurnaan akhlak menurut Al-Ghazali adalah seluruh tindakan yang tidak hanya bergantung kepada aspek pribadi, akan tetapi ada empat kekuatan di dalam diri seseorang yang menjadi unsur agar terbentuknya akhlak yang baik dan akhlak yang buruk.105 Kekuatan-kekuatan
98 Ibid
99 Ibid
100 Ibid, 368-369
101 Ibid 369
102 Ibid
103 Ibid
104 Ibid
105 Siti Halimah, “Upaya Guru Dalam Pembentukan Akhlak Anak Di Raudlotul Baipas Roudhotul Jannah Kota Malang”, Jurnal Dewantara, vol. 1 no. 1, Januari 2019. Hlm. 369
33 tersebut yaitu kekuatan ilmu, kekuatan nafsu, kekuatan amarah, dan kekuatan keadilan yang dapat mengimbangi tiga kekuatan tersebut.106
Akhlak buruk pada seseorang secara substansi dapat diubah menjadi akhlak yang baik. Dalam hal ini, Imam Al-Ghazali mengungkapkan bahwa adanya perubahan akhlak yang terdapat di dalam diri seseorang merupakan perilaku yang mungkin, seperti contoh seseorang yang memiliki sifat pemarah akan berubah menjadi sifat yang penyabar.107 Dalam hal tersebut, Al-Ghazali menegaskan lagi bahwa adanya perubahan-perubahan keadaan terhadap ciptaan Allah, kecuali apa yang telah menjadi ketetapan Allah seperti langit dan bintang.108
Selain itu, dalam penyempurnaan akhlak dan pengobatan jiwa, Al-Ghazali mempunyai konsep tentang tazkiyatun nafs. Tazkiyatun nafs yang telah dikonsepkan oleh Al-Ghazali sangat erat kaitannya dengan upaya peningkatan akhlak dan pengobatan jiwa. Tazkitaun nafs adalah upaya untuk pencucian jiwa, dan pembinaan serta peningkatan jiwa untuk menuju kehidupan yang lebih baik lagi, dan cakupan dalam tazkiyatun nafs tidak hanya sebatas pada tathir an-nafs (pencucian diri) saja, melainkan juga pada tanmiyatun an-nafs (menumbuh kembangkan jiwa) ke arah yang lebih baik lagi.109 Oleh karena itu, tazkiyatun nafs sangat erat hubungan nya dengan akhlak dan kejiwaan seseorang, yaitu bagaimana membentuk seseorang agar dapat mempunyai akhlak yang baik, beriman dan bertakwa kepada Allah, serta memiliki keteguhan dalam jiwa nya untuk selalu berpegang teguh kepada syariat-syariat- agama Islam.110
Al-Ghazali dalam teorinya mengungkapkan bahwa badan yang sakit harus diobati dengan obat yang berlawanan seperti contoh apabila sakit panas diobati dengan yang dingin, demikian pula sebaliknya. Dan juga apabila rohani atau jiwa yang sakit. Contohnya orang yang bodoh harus belajar agar dia tidak mengalami kebodohan secara terus menerus, penyakit sombong diobati dengan membatasi keinginan, hal-hal tersebut harus dikerjakan atas
106 ibid
107 Ibid, 370
108 Ibid
109 Ibid
110 Ibid, 374
34 keinginan dan memaksakan diri, agar hal-hal buruk yang ada pada diri sendiri dapat tertahankan atas kehendak diri kita sendiri.111
Al-Ghazali tidak hanya mengungkapkan tentang teorinya tentang akhlak, melainkan beliau juga mengungkapkan tentang ciri-ciri manusia yang berakhlak mulai yaitu, manusia yang memiliki rasa malu, sedikit menyakiti orang lain, banyak berkata jujur atau benar dalam perkataannya, sedikit bicara banyak bekerja, mengeratkan tali silaturrahmi, tidak memiliki rasa iri dan dengki, tidak penghasut, suka berbuat kebaikan.112
Al-Ghazali menempatkan akhlak tidak hanya sebagai tujuan akhir manusia di dalam perjalanan hidupnya, melainkan akhlak merupakan sebagai alat untuk mendukung fungsi tertinggi dari jiwa manusia dalam mencapai kebenaran yang hakiki, ma’rifat Allah yang terpadapat didalam diri manusia, sehingga manusia dapat menikmati kebahagiaannya.113 Puncak kebahagiaan yang diharap oleh setiap manusia yaitu terukirnya dan menyatunya hakikat-hakikat ketuhanan dalam jiwa setiap manusia, sehingga hakikat-hakikat-hakikat-hakikat tersebut berasal dari diri manusia itu sendiri.114 Oleh sebab itu, akhlak sebagai salah satu dari keseluruhan hidup manusia yang tujuannya adalah sebuah kebahagiaan.115
b. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Akhlak
Faktor pembentukan akhlak dipengaruhi oleh dua hal yaitu, faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang merupakan bawaan dari Naluriah seseorang, dan faktor eksternal merupakan faktor dari luar. Berikut ini faktor-faktor yang dapat membentuk akhlak seseorang diantaranya:116
a) Faktor Internal
Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari potensi fisik, Intelektual, dan hati (rohani). Contoh faktor interal adalah faktor pembawaan naluriyah,
111 Ibid, 378
112 Siti Halimah, “Upaya Guru Dalam Pembentukan Akhlak Anak Di Raudlotul Baipas Roudhotul Jannah Kota Malang”, Jurnal Dewantara, vol. 1 no. 1, Januari 2019. Hlm. 376-377
113 Ibid, 369-370
114 Ibid, 370
115 Ibid
116Hestu Nugroho W, “Pembentukan Akhlak Siswa (Studi Kasus Sekolah Madrasah Aliyah Annida Al-Islamy, Cengkaren)”, Jurnal Mandiri: Ilmu Pengetahuan, Seni, dan Teknologi, vol. 02 no. 1, Juni 2018, hlm.
71
35 yaitu merupakan faktor bawaan dari lahir yang mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan. Faktor naluriyah ini disebut tabiat atau naluri
b) Faktor Eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri seseorang contohnya, memiliki sifat keturunan atau sifat yang dapat diwariskan dari kedua orang tua atau dari keluarga
c. Metode Pembinaan Akhlak
Ada beberapa metode dalam pembinaan akhlak yang sesuai dengan syariat Islam yang dapat dilakukan, yaitu sebagai berikut:117
a. Metode Teladan (uswah) adalah sesuatu yang pantas untuk dijalani, karena mengandung nilai-nilai syariat Islam
b. Metode Pembiasaan (ta’widiah), berasal dari kata biasa. Dalam kamus Bahasa Indonesia kata “biasa” berarti umum atau lazim, dalam hal ini mempunyai makna yaitu suatu hal yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari
c. Metode Nasehat (mau’izah), yang berarti nasehat terpuji, memotivasi agar dapat melaksanakan suatu hal dengan perilaku yang terpuji d. Metode Cerita (qisah), yang berarti cara menyampaikan suatu materi
dengan bercerita, tentang bagaimana suatu hal bisa terjadi
e. Metode Perumpamaan (amsal), metode ini banyak digunakan dalam al-qur’an dan hadis untuk mewujudkan akhlakul karimah
Akhlak yang baik dapat dimiliki oleh seseorang apabila ia dapat mengembangkan potensi diri, dan mampu mengontrol emosional, syahwat, serta dapat berprilaku adil yang dilandasi oleh syarak.118 Akhlak yang baik adalah semua kehendak dan perilaku seseorang yang dilandasi dengan syarak serta akal murni manusia.119
d. Tujuan Pendidikan Akhlak
117 Ibid, 72
118Nur Hasan, “Elemen-elemen Psikologi Islami Dalam Pembentukan Akhlak”, Jurnal spiritualita, vol. 3 no.
1, Juni 2019. Hlm. 117
119Ibid, 117
36 Tujuan dari pendidikan akhlak adalah untuk membina manusia menjadi pribadi yang baik serta mampu menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah maupun sebagai hamba Allah SWT. Menjadi manusia yang baik dengan mengikuti akhlak nabi Muhammad SAW, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.120
e. Elemen-elemen Psikologi dalam Pembentukan Akhlak
Dalam pembentukan akhlak sangatlah diperlukan beberapa hal yang berkaitan dengan keadaan psikologi manusia, untuk itu ilmu psikologi memiliki beberapa aliran yang didalam nya memaparkan tentang faktor yang dapat mempengaruhi tingkah laku manusia, pertama, aliaran nativisme, yaitu aliran yang menjelaskan tentang faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi tingakah laku manusia terhadap pembentukan diri. Faktor nativisme merupakan faktor bawaan yang cenderung mampu mempengaruhi, minat, bakat, dan akal manusia. Kedua, aliran empirisme, yaitu aliran yang sangat dominan dalam pembentukan diri seseorang dengan faktor dari luar, seperti lingkungan sosial, yang dapat memberikan pembinaan dan pendidikan yang diberikan. Ketiga, aliran konvergensi, yang menerangkan tentang pembentukan akhlak yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.121
120 Hestu Nugroho W. “Pembentukan Akhlak Siswa (Studi Kasus Sekolah Madrasah Aliyah Annida Al-Islamy, Cengkaren)”, Jurnal Mandiri: Ilmu Pengetahuan, Seni, dan Teknologi, vol. 02 no. 1, Juni 2018, hlm.
76
121Nur Hasan, “Elemen-elemen Psikologi Islami Dalam Pembentukan Akhlak”, Jurnal spiritualita, vol. 3 no.
1, Juni 2019. Hlm. 114