BAB IV HASIL PENELITIAN
3. Pembentukan Desa Kristen Margorejo
Melihat jumlah jemaatnya yang bertambah banyak, Pieter Jansz berniat untuk mengumpulkan jemaat pada satu tempat dengan adanya gembala di tengah-tengahnya. Agar tidak menimbulkan kesukaran, Pieter Jansz merencanakan sebaiknya desa yang akan dibuka tersebut tidak jauh dari Jepara sehingga memudahkan Pieter Jansz maupun pembantunya untuk melayani kebaktian tanpa menimbulkan prasangka-prasangka buruk. Baru sesudah semuanya berjalan dengan baik, dia akan mengajukan ijin untuk tinggal di tengah-tengah mereka
commit to user
untuk sementara, lalu kemudian meminta perpanjangan ijin tinggal. Demikian dapat dilihat bahwa tenaga zendeling berbangsa Eropa tetap dibatasi meskipun sudah diberi ijin untuk memberitakan Injil kepada masyarakat Jawa di wilayah itu. Ide awal untuk membuka sebuah desa khusus untuk mengumpulkan jemaat berasal dari Pieter Jansz, namun baru benar-benar terlaksana pada saat kepemimpinan Zending Mennonit digantikan oleh Pieter Anthonie Jansz, putra Pieter Jansz. Pergantian kepemimpinan ini dipicu oleh konflik yang dialami Pieter Jansz dengan pemerintah. Konflik ini berawal ketika Jansz mengarang sebuah buku yang berjudul Landontginning en Evangelisatie op Java. Buku ini berisi tentang pembukaan hutan dan penginjilan di Jawa.(Lombard, 2008:102). Tulisan Pieter Jansz ini menimbulkan protes dari pihak Islam yang didengar oleh residen oleh sebab itu Pieter Jansz dilaporkan kepada Gubernur Jenderal, sebagai pihak yang memberikan ijin kepada Pieter Jansz untuk melakukan penginjilan. Sebelumnya Pieter Jansz juga sempat menulis sebuah selebaran dalam bahasa
Jawa yang berjudul “Waktoene woes Tekan, Kratone Allah woes Tjedhak, Padha
Mratobata lan Pratjajaa Marang Indjil” (waktunya sudah tiba, Kerajaan Allah sudah dekat, bertobatlah dan percayalah pada Injil). Karangan ini bertujuan untuk mendorong siapapun untuk bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, lebih-lebih kepada lapisan masyarakat yang sudah mampu membaca dan menulis tetapi belum dapat bertatap muka dengan Pieter Jansz. (Guillot, 1985:12).
Sesuai aturan pasal 123 tentang pekabaran Injil,Pieter Jansz mengirimkan naskah tersebut ke pemerintah Karesidenan Semarang agar diteliti dan memberi ijin beredar. Satu eksemplar dari karangan itu dikirim kepada Asisten Residen Jepara, H.J Dagneaux, pada akhir Desember 1858. Namun Dagneaux khawatir kalau isi karangan ini mendatangkan dampak yang tidak menguntungkan bagi pemerintah. Oleh karena itu Dagneaux menyampaikan karangan itu kepada Bupati Jepara dan Residen pati, C.Cartens. Berdasarkan kekhawatiran yang sama maka tulisan Pieter Jansz tersebut dilarang untuk diedarkan. (Van Den End, 1993:220).
Dengan pertimbangan dan dukungan para pembantunya, Pieter Jansz tetap mengedarkan karangan itu kepada penduduk. Karena tindakannya ini, pemerintah mengeluarkan keputusan Gubernur Jenderal Ch. F. Pahud tanggal 17
commit to user
Maret 1860, yang menyatakan bahwa ijin pekabaran Injil yang diberikan kepada Pieter Jansz dicabut, namun tetap diperbolehkan untuk tinggal di Hindia Belanda tapi tidak boleh melakukan Kristenisasi pada orang non-Kristen.(Sukoco, 2010:148). Pieter Jansz menolak keputusan tersebut dan tetap melanjutkan pekerjaannya. Karena tindakannya itu, Asisten Residen dan Bupati disertai para serdadunya mendatangi Pieter Jansz untuk memastikan bahwa Pieter Jansz hanya melayani orang-orang yang sudah beragama Kristen. Pada waktu itu jemaat sudah beranggotakan 42 orang. (Guillot, 1985:12-13). Reaksi dari Pieter Jansz adalah tetap pada pendiriannya, Jansz merasa bahwa sejak semula dia tidak pernah meminta ijin dari pemerintah untuk mengabarkan Injil, maka pemerintah juga tidak berhak melarangnya untuk melakukan pekabaran Injil. (Sukoco, 2010:149).
Sejak konflik pertama dan ditambah dengan konfliknya yang kedua dengan pemerintah, Pieter Jansz makin ditekan dan akhirnya menarik diri dari aktivitas pelayanan yang terlibat langsung dengan jemaat. Pieter Jansz pindah ke Solo dan menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jawa, sebuah pekerjaan yang dulu telah dirintis oleh zendeling lain yakni Bruckner dan Gericke. Setelah resmi menjadi pegawai British and Foreign Society dan menerjemahkan Alkitab, maka sejak saat itu Pieter Jansz sudah bukan menjadi zendeling lagi.( Guillot, 1985:13). Pada tahun 1892 setelah menyelesaikan tugas penerjemahan Alkitab ini, Pieter Jansz dan istrinya menetap di Kayuapu, di rumah anak perempuannya yang bernama Jacoba Johanna Maria. Pieter Jansz meninggal di Kayuapu pada tanggal 6 Juni 1904. Sedangkan istrinya meninggal di Wonorejo, Nyemoh, Salatiga pada tanggal 29 Maret 1909. Keduanya dimakamkan di makam Kristen Kayuapu.(Sukoco, 2010:176).
Sejak ayahnya menarik diri dari pelayanan jemaat, Pieter Anthonie Jansz melanjutkan pekerjaan Zending di Jepara. Pieter Anthonie Jansz dilahirkan di Jawa pada tanggal 29 Mei 1853. Karena itu Pieter Anthonie Jansz sejak kecil mengerti tentang kehidupan di Jawa. Pada tahun 1867 Pieter Anthonie Jansz dikirim ke Belanda untuk belajar di sekolah guru di Utrecht. Studi ini berhasil diselesaikan pada tahun 1875 dengan baik dan melanjutkan sekolah dalam bidang teologi di Badan Studi Zending dan Penginjilan di Amsterdam. (Sukoco,
commit to user
2010:165). Dalam hal tugas belajar lanjutan ini terjadi ketegangan antara Pieter Jansz dan pengurus pusat Zending Mennonit. Pieter Jansz menghendaki supaya anaknya memiliki bekal yang tidak hanya penguasaan terhadap masalah pendidikan saja tetapi juga menguasai teologi, karena dalam praktek pekabaran Injil di Jawa tidak mungkin seseorang hanya berbekal pengetahuan pendidikan saja.
Pengurus pusat Zending di Belanda justru hanya menginginkan supaya Pieter Anthonie Jansz nanti menjadi penerus Shuurmans yang “mengkristenkan suatu bangsa melalui pendidikan” merupakan proses peradaban atau akulturasi, dimana masyarakat yang dianggap kurang berkebudayaan akan diberi kebudayaan yang baik, dalam hal ini yang dimaksud dengan kebudayan yang baik adalah Agama Kristen. (Sukotjo, 2010: 165). Tetapi Pieter Jansz dan putranya yakin bahwa pekerjaan penginjilan bukan sekedar itu.
Sejak Pieter Jansz menyerahkan pimpinan pekerjaan Zending Mennonit ke tangannya, Pieter Anthonie Jansz, yang masih muda itu tinggal bekerja sendirian melayani jemaat Tuhan di Jepara dan sekitarnya. Sesuai dengan rencananya untuk merombak lapangan pekerjaan Injil. Pieter Anthonie Jansz mulai mencari tempat untuk melanjutkan cita-cita ayahnya untuk membangun sebuah desa Kristen. Tempat ini nantinya akan diolah menjadi suatu perusahaan perkebunan, tetapi sedikit berbeda dengan apa yang dicita-citakan ayahnya. Kalau dalam karangan Pieter Jansz bahwa zendeling tidak dibenarkan ikut campur dalam urusan perusahaan, dan para pengolah tanah boleh terdiri dari orang Kristen ataupun bukan Kristen. Tetapi Pieter Anthonie Jansz justru menempatkan zendeling sebagai pemilik tanah, yaitu dirinya sendiri, dan yang berhak mengolah tanah hanya orang-orang Kristen. (Wawancara dengan Suharto, 8 Februari 2011).
Menurut Pieter Anthonie Jansz, perusahaan perkebunan persil ini merupakan sarana pelayanan atas jemaat yang masih muda itu. Dengan tegas Pieter Anthonie Jansz berkeinginan membangun perusahaan itu menjadi semacam desa Kristen dengan penghuni-penghuninya terdiri dari orang-orang Kristen. Dalam persetujuan dengan pemerintah, Pieter Anthonie Jansz mendapat wewenang untuk menerima siapa saja yang disukai dan menolak yang tidak
commit to user
disenangi, dan kalau perlu mengusir orang-orang yang tidak mentaati peraturan desa. Dengan mendirikan tempat yang baru ini Pieter Anthonie Jansz bermaksud memindahkan jemaatnya di daerah Jepara itu, termasuk jemaat Kedungpenjalin. Beberapa orang Kedungpenjalin sudah menyatakan kesediaannya untuk mengikuti Pieter Anthonie Jansz ke desa yang baru. (Wawancara dengan Suharto, 8 Februari 2011).
Dukungan dari pemerintah daerah terhadap rencana Pieter Anthonie Jansz dinilai sangat baik. Bahkan Residen J.W. Moojen menyatakan kesediaannya untuk membantu rencana Pieter Anthonie Jansz. Dengan sikap terbuka dan penuh perhatian residen memberikan saran-saran yang cukup bermanfaat dan menganjurkan supaya rencana ini segera ditindaklanjuti mengingat masa jabatannya yang tinggal satu tahun. Selama itu residen akan membantu dan memberi jaminan secara diam-diam, karena sebagai aparat pemerintah yang seharusnya bersikap tidak memihak dia tidak bisa dibenarkan oleh atasannya oleh perilakunya ini. Karena itu kalau perlu residen menyarankan supaya Pieter Anthonie Jansz tidak terlalu lama menunggu persetujuan dari pengurus Zending, melainkan segera mengajukan permohonan untuk membangun usaha perkebunan atas namanya sendiri dulu. Tidak hanya residen, bahkan Bupati Juana maupun Wedana Tayu yang membawahi daerah yang dipilih Pieter Anthonie Jansz juga setuju dan bersedia membantu. Bupati ini sangat mendukung rencana Pieter Anthonie Jansz karena dengan menetapnya Pieter Anthonie Jansz dan jemaatnya di daerahnya akan membantu dan membawa pengaruh yang baik bagi orang-orang Jawa. (Sukoco, 2010:181).
Setelah melakukan pencarian dan pemeriksaan kelayakan, Pieter Anthonie Jansz akhirnya menentukan tempat yang sesuai dengan keinginannya, yaitu Desa Puncel di distrik Margotahu, wilayah Kabupaten Juana, Karesidenan Jepara. Area tersebut berupa lahan semak-semak yang tidak jauh dari pantai. Sesuai saran residen, Pieter Anthonie Jansz segera mengajukan permohonan kepada pemerintah pada tanggal 3 Januari 1881 untuk menyewa tanah itu dengan jangka panjang selama 75 tahun. Luas tanah tersebut kira-kira 200 bau. Enam bulan kemudian berdasarkan persetujuan Gubernur Jenderal tertanggal 13 Agustus
commit to user
1881 No. 29 keluarlah besluit No.37 tertanggal 21 Sepetember 1882, disusul dengan surat tanda hak (akte) No. 5 tertanggal 13 November 1882 yang isinya menyetujui permohonan Pieter Anthonie Jansz untuk membuka tanah sewa jangka panjang di tempat yang dikehendaki seluas 192 bau. Adapun batas-batasnya antara lain berupa hutan dan ara-ara (semak) di sebelah utara, hutan di sebelah timur, hutan dan ara-ara di sebelah barat, dan di sebelah selatan merupakan jalan raya menuju Tayu. Ijin ini berlaku dengan empat syarat tertentu, antara lain :
a. Pemilik erfpacht (tanah sewa jangka panjang) harus melindungi sumber-sumber air yang ada dengan jalan menghutankan daerah sekitarnya paling tidak sampai dengan 25 RR.
b. Jalan besar antara Tayu dan Puncel maupun jalan dari Tegalombo ke pantai harus dipelihara.
c. Tidak dibenarkan menanam kopi.
d. Setiap bau tanah tersebut dikenakan uang sewa f 2.10 per tahun
Desa Kristen yang akan dibuka tersebut tidak dibuka untuk semua orang melainkan dengan syarat-syarat dan ketentuan yang diatur oleh Pieter Anthonie Jansz. Peraturan-peraturan yang ditetapkan itu antara lain :
a. Diakui berkelakuan baik. Bersedia mentaati tata hidup Kristen b. Bagi yang melakukan perbuatan tercela akan diusir dari desa persil
c. Keturunan penduduk yang meninggalkan tata hidup Kristen tidak mendapat bagian tanah
d. Dilarang memiliki, menyelundupkan, dan menggunakan candu atau minuman keras
e. Taat pada pimpinan persil atau diusir dari desa
f. Bersedia mentaati hari Minggu dengan tidak bekerja dan bersedia dengan sungguh-sungguh mengikuti kebaktian gereja maupun kegiatan yang lain. g. Menyekolahkan anak-anaknya dalam Sekolah Zending dalam usia tujuh
tahun sampai selesai secara gratis, dan bersedia mengasuh anaknya menurut tata hidup Kristen sampai dewasa.
h. Bersedia dengan sungguh-sungguh menghindari sikap dan perbuatan penyembahan berhala seperti memelihara punden, jimat, tumbal,
commit to user
berhubungan dengan setan dan danyang, mengikuti primbon, perhitungan hari, dan sebagainya yang bertentangan dengan ajaran Agama Kristen.
i. Tidak boleh berbuat zina, melacur, atau kawin lebih dari satu orang. j. Dilarang berjudi dan tayuban.
k. Dilarang melakukan gadai atau merentenkan uang dan memperkaya diri dengan merugikan orang lain.
l. Harus menjaga kebersihan jalan-jalan, jembatan, pengairan, dan kubur. m. Membayar f 18 per tahun dan pada tahun keempat sesudah mereka
menempati dan menerima 1 bau sawah dan satu bau tanah tegal dan bebas dari kerja paksa. Bila menginginkan menambahkan sawah maka untuk tiap bau membayar f5,-.
n. Tiap petani/ penggarap tidak boleh memiliki sawah lebih dari tujuh bau. o. Mereka yang setelah menduduki tanah selama dua tahun tetapi belum
mengolah tanah tersebut, akan dicabut haknya atas tanah itu.
p. Tiap penduduk pada waktu membangun rumah dan pagar halaman harus bersedia mengikuti petunjuk-petunjuk dan perjanjian pemilik persil.
q. Kerbau, sapi, dan ternak yang lain ditempatkan dalam satu kandang bersama, kecuali kuda yang diperbolehkan dibuatkan kandang di halaman rumah. r. Para penduduk wajib taat pada peraturan-peraturan pemilik tanah/ persil
dalam hal kebersihan, kesusilaan, kesehatan, ketenteraman, dan ketertiban. s. Mulai tahun keenam sejak menempati tanah, tiap petani memberi bantuan
untuk pembangunan dan perawatan gedung gereja dan sekolah, perawatan orang-orang miskin dan sakit, maksimal sepersepuluh dari hasil tanahnya. Apabila ada kelebihan dari dana tersebut, uang itu menjadi fonds dana jemaat, ditangani oleh pemilik tanah.
t. Fonds ini digunakan untuk pengeluaran luar biasa bagi kepentingan bersama setelah dirundingkan bersama dengan orang-orang tua di desa.
u. Kepala desa terpilih oleh rakyat dengan persetujuan pemilik tanah. Calon-calon diajukan oleh pemilik tanah untuk dipilih oleh rakyat. Para Calon-calon tidak diperkenankan mencari atau mengumpulkan suara dengan jalan “membeli” suara secara suap.
commit to user
v. Bagi yang melanggar peraturan-peraturan di atas data diusir dari tanah-tanah itu. Dan kalau selama itu mereka telah menambah sawahnya dengan usaha sendiri, maka waktu meninggalkan persil akan menerima pengganti biaya mengolah sawahnya sebanyak f 10,- per bau. (Sukoco, 2010:182).
Tujuan didirikannya desa Kristen ialah supaya orang-orang yang ingin memeluk Agama Kristen tidak mundur karena takut diusir dari desanya sendiri. (Van Den End, 1993:221). Selain orang yang sudah Kristen, orang-orang yang non-Kristen juga diperbolehkan untuk menempati desa persil dengan syarat harus memenuhi tata hidup Kristen. Secara tidak langsung, orang-orang yang non-Kristen harus meninggalkan agamanya yang lama dan memeluk Agama non-Kristen apabila ingin menempati desa persil.(Wawancara dengan Sulistyo, 7 Februari 2011).
Peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh Pieter Anthonie Jansz tersebut tidak mendapat larangan dari pemerintah karena pemberian ijin pembukaan tanah sewa jangka panjang itu merupakan kebijaksanaan yang umum pada waktu itu. Hanya saja, dalam kasus desa persil Kristen Margorejo ini disamping persyaratan-persyaratan umum tersebut masih ada persyaratan lain. Misalnya kayu-kayu yang ditebang dari hutan itu masih menjadi milik dari pemerintah sehingga rakyat atau penduduk persil yang menginginkannya masih harus merogoh kantong sendiri. Penanganannya diserahkan pada pemilik persil yang bekerja sama dengan kantor yang mengurus kayu-kayu. Biarpun ada kebebasan dari pemerintah untuk pengelolaan tanah persil itu, tetapi ada satu larangan yang tidak boleh dilanggar yaitu tentang penanaman kopi.(Sukoco, 2010:188)
Larangan pemerintah agar tidak menanam kopi disebabkan pada waktu itu kopi merupakan komoditi yang sedang ramai dibutuhkan di pasaran dunia, sehingga pemerintahan kolonial mendapat keuntungan yang besar sekali dari penanaman kopi. Supaya harga dapat terus dipertahankan pada tingkat maksimum, maka produksi selalu diusahakan tidak bertambah. Produksi yang bertambah akan menyebabkan harga menjadi merosot, sehingga keuntungan menjadi berkurang pula. Itulah mengapa di tanah sewa jangka panjang dilarang keras menanam kopi, karena dikhawatirkan hasilnya akan membanjir dan
commit to user
menggoncangkan harga dasar. Adanya pembatasan-pembatasan itu tidak terlalu mengganggu maksud dan tujuan Pieter Anthonie Jansz untuk desa persil ini. Sebab sejak dahulu ia sudah menetapkan bahwa tanahnya akan diusahakan melulu demi tercapainya cita-cita pekabaran Injil, bukan untuk keuntungan semata-mata. Atas dasar non-komersialisasi tanah, maka desa ini akan diusahakan untuk sawah dan tegalan tanpa mengharapkan keuntungan berlebihan atau laba material, kecuali tanaman kapuk yang dapat dimanfaatkan untuk membiayai demi berlangsungnya penyelenggaraan desa persil tersebut. (Wawancara dengan Martati Ins Kumaat, 6 Februari 2011).
Setelah persiapan-persiapan untuk membuka desa persil ini memadai, Pieter Anthonie Jansz segera meminta pada Nicodemus Sudjalmohardjo untuk memimpin pekerjaan membuka lahan. Dibantu oleh 160 orang yang lain, Sudjalmohardjo mulai bekerja di awal tahun 1882. Dengan cepat tanah tersebut dibuka dan disusul dengan pembangunan rumah tinggal sementara untuk zendeling dan bangunan sekolah yang sekaligus digunakan sementara sebagai gereja. Sudjalmohardjo inilah yang nantinya banyak menurunkan pemuka-pemuka jemaat GITJ.
Pieter Anthonie Jansz mengadakan pesta pembukaan untuk meresmikan desa persil baru pada tanggal 9 Juni 1883 dan memberi nama Margorejo bagi desa persil ini. Margorejo dipilih sebagai nama karena mengandung arti “jalan kepada kesejahteraan”. Fasilitas dan keuntungan seperti tanah garapan, rumah, dan terbebas dari kerja paksa, membuat banyak orang Kristen maupun orang-orang yang bukan Kristen berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk tinggal di Margorejo, namun baru tinggal sebentar di sana kemudian tanpa alasan yang jelas mereka pergi dari Margorejo. Mungkin mereka menjadi tidak sanggup untuk memenuhi aturan persil yang diberikan Jansz, atau mereka takut tidak mampu mengerjakan tanah yang masih perawan itu, apalagi ternyata tanah tersebut belum memiliki sumber yang cukup. (Wawancara dengan Suparsono, 8 Februari 2011). Pada awal musim tanam tahun 1884 datang 13 orang yang di antaranya merupakan tiga anggota jemaat. Lima orang datang dari Tegalombo dan tiga orang yang lain mengaku Islam tetapi bersedia mentaati peraturan desa
commit to user
Margorejo. Dihitung dengan isteri-isteri mereka, anak-anak, murid-murid sekolah dan para pegawai, Margorejo pada tahun 1884 berpenduduk 91 jiwa. (Sukoco, 2010:190).
Pekerjaan di Margorejo di bidang rohani dibantu oleh Yakobus Semadin sebagai utusan dari Kedungpenjalin. Sedangkan sebagian besar anggota jemaat Kedungpenjalin tetap tinggal di tempat semula dengan dilayani oleh Pasrah Karso yang sudah sangat tua. Dia dibantu oleh pekabar Injil Yokanan Semadin, saudara tua Yakobus Semadin yang sama-sama menantu Pasrah Karso, serta Yahuda Limbun, menantu yang lain yang sifatnya lebih senang mengabarkan Injil ke Kedungpenjalin. Sebagai pekabar Injil Yakobus Semadin diharapkan dapat menjadi teladan yang baik bagi jemaat muda. Apagi berkenaan dengan peraturan-peraturan desa persil yang demikian ketat. Tetapi bukannya menjadi teladan yang baik justru dia terjerumus menjadi pemadat candu yang tidak tanggung-tanggung. Oleh sebab itu terpaksa Yakobus Semadin diminta meninggalkan persil. Demikian juga seorang guru sekolah dasar yang bernama Sis Kerso pun terpaksa diminta untuk meninggalkan Margorejo karena dia pun jatuh dalam kehidupan yang kurang baik.(Sukoco, 2010: 190). Setahun kemudian jumlah penduduk di Margorejo ini kecuali pegawai-pegawai guru dan keluarga zendeling berkembang menjadi 18 orang di antara 137 warga. Sedangkan tanah desa persil yang telah digarap mencapai 44 bau, diantaranya berhasil ditanami padi dan palawija. Untunglah tanaman kapuk segera tumbuh sehingga hasilnya masih dapat digunakan untuk bertahan hidup.
Dalam hal urusan administrasi, Pieter Anthonie Jansz mengangkat adminstratur J. Schroot Betting sebagai tenaga yang mengurus administrasi desa persil. Kegiatan administratif desa persil meliputi pendataan warga dan penempatan tempat tinggal warga di desa persil. Sedangkan yang bertugas menangani urusan pemerintahan desa persil diserahkan pada seorang lurah yang bertindak sebagai kepala desa. Demikian kehidupan jemaat asuhan Zending Mennonit sampai tahun 1884. Sebagian ada di daerah Kabupaten Jepara dengan Kedungpenjalin sebagai intinya. Sebagian lagi jemaat boyongan Margorejo, tempat barunya di Kabupaten Juana, yang sangat diperhatikan oleh pengasuh.
commit to user
(Sukoco, 2010: 191). Selain mendirikan desa-desa Kristen, Zending memiliki pandangan bahwa mereka dapat mempengaruhi lingkungannya yang tidak mau mendengarkan pekabaran Injil secara langsung dengan menulis berbagai buku bacaan Kristen. Selama 30 tahun, Pieter Jansz dan putranya membaktikan diri untuk menyelesaikan tugas itu. Hasilnya berupa kamus bahasa Jawa; terjemahan Alkitab Perjanjian Baru yang selesai pada tahun 1891 dan Perjanjian Lama-Baru yang selesai pada tahun 1896; Katekismus Heidelberg, dan lainnya. Di samping itu ada usaha pendidikan dan pelayanan di bidang sosial.(Van Den End, 1993: 222). Usaha Kristenisasi dalam bidang sosial adalah pendirian sebuah rumah sakit di Margorejo untuk memelihara kesehatan penduduk Margorejo dan orang-orang di luar Margorejo yang membutuhkan perawatan kesehatan. Selain rumah sakit, usaha Kristenisasi yang memainkan peranan penting bagi kemajuan pekabaran Injil di Indonesia adalah pendidikan.