Oktober 1946
Setelah Keputusan Pengadilan Nuremberg, kongres interna-sional mengadakan pertemuan di Paris dan menyerukan pengadopsian undang-undang kejahatan internasional yang melarang kejahatan kemanusiaan, dan penetapan Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
9 Desember 1948
Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (MU PBB) mengadopsi Konvensi tentang Larangan dan Hukuman Kejahatan Genosida Konvensi ini menyerukan para penjahat untuk diadili “oleh pengadilan akhir internasional seperti halnyayang dilakukan yuridiksi.” Secara terpisah, para anggota meminta Komisi Hukum Internasional (International Law Commission) untuk mengkaji kemungkinan dibentuknya ICC.
10 Desember 1984
Majelis Umum PBB mengadopsi Deklarasi Universal tentang Hak-Hak Asasi Manusia berisi tentang rincian hak-hak asasi manusia dan kebebasan fundamental
Buku Saku ICC
1949 - 1954
ILC membuat rancangan untuk ICC, tetapi ditentang oleh negara-negara adi kuasa di kedua pihak dalam Perang Dingin mencegah usaha tersebut. MU PBB secara efektif mengabaikan usaha penundaan kesepakatan tentang definisi kejahatan agresi dan Hukum Kejahatan internasional
1974
Majelis Umum PBB menyetujui definisi agresi
1989
Akhir Perang Dingin meningkat drastis dari segi jumlah operasi perdamaian PBB di dunia, memberikan kepercayaan bagi pembentukan ICC
Juni 1989
Setelah termotivasi oleh usaha untuk memerangi perdagangan obat terlarang, Trinidad dan Tobago menerapkan kembali proposal yang pernah ada untuk membentuk ICC. MU PBB meminta ILC mempersiapkan statuta rancangan
1991-1992
Perang Bosnia-Herzegovina dan Kroasia, termasuk pelanggaran atas Konvensi tentang Genosida dan Genewa, mengarahkan Dewan Keamanan PBB untuk membentuk pengadilan ad hoc sementara bagi bekas Yugoslavia (tahun 1993) dan memperkuat pembahasan mengenai ICC tetap
1994
ILC menyerahkan statuta rancangan ICC kepada Majelis Umum PBB. Perang di Rwanda mengarahkan Dewan Keamanan PBB untuk menetapkan pengadilan kejahatan perang ad hoc PBB ke dua. ILC mengajukan
Buku Saku ICC
statuta rancangan tentang ICC kepada MU PBB dan menganjurkan sebuah konferensi para pejabat berwenang untuk merundingkan suatu perjanjian tentang penegakkan Statuta. Majelis Umum PBB menetapkan komite ad hoc di ICC untuk mengkaji ulang statuta rancangan tersebut.
1995
Koalisi Lembaga Swadaya Masyarakat dibentuk untuk mengkoordinir usaha-usaha organisasi hak-hak asasi manusia seperti Amnesti Internasional, Asociacion Pro Derechos Humanos, federation Internationale des Ligues des Droits de l'Homme, Badan Pemantau Hak-Hak Asasi Manusia, Komite Pengacara bagi Hak-Hak Asasi Manusia. TIdak Ada Perdamaian Tanpa Keadilan, Parlementarian untuk Aksi Global, Hak-Hak dan Demokrasi serta Kaukus Perempuan untuk Keadilan Gender. Tn. Willian Pace, Direktur Eksekutif Lembaga Gerakan Kaum Federal Dunia bagi Kebijakan Global, dipilih sebagai Pelaksana. Komite ad hoc menyelenggarakan pertemuan selama 2 minggu di markas besar PBB. Pada bulan Desember 1995, MU PBB membentuk Komite Persiapan (Preparatory Committee) untuk masa kerja 3 tahun dari bulan Maret 1996 hingga april 1998, untuk menyelesaikan sebuah teks yang akan diajukan di hadapan konferensi para pejabat berwenang
15 Juni - 17 Juli 1998
160 Negara hadir dalam Konferensi Diplomatis Para Pejabat Berwenang PBB untuk membentuk Mahkamah Pidana Internasional di Roma, Italia
17 Juli 1998
Tanpa diduga negara-negara anggota memberikan suara mereka untuk Statuta Roma ICC sehingga tercipta perjanjian yang menetapkan pengadilan internasional tetap pertama
Buku Saku ICC
yang mampu mengadili para tertuduh genosida, kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan
2 Februari 1999
Senegal menjadi Negara Anggota pertama yang meratifikasi Statuta Roma
13 Mei 1999
Koalisi ICC meluncurkan kampanye dari Den Haag dan menyerukan ratifikasi Statuta ICC ke seluruh dunia
30 Juni 2000
Komisi Persiapan mengadopsi teks-teks rancangan bagi Peraturan tentang Prosedur, Bukti dan Unsur-unsur Kejahatan, seperti diperintahkan oleh Undang-undang Akhir Konferensi Roma
September 2000
Selama Pertemuan Tingkat Tinggi, Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan menyerukan semua negara anggota PBB untuk meratifikasi Statuta Roma secepatnya
31 Desember 2000
Batas waktu bagi penanda-tanganan Statuta Roma. Amerika Serikat bergabung dengan Iran Israel sebagai negara terakhir yang menanda-tangani perjanjian sehingga jumlah total tanda tangan mencapai 139
30 April 2001
Setengah dari jumlah tanda tangan menuju 60 ratifikasi atau pengakuan yang diperlukan untuk memicu ditegakkannya Statuta Roma tercapai ketika Andorra menjadi negara ke-30 penanda tangan Statuta Roma
Buku Saku ICC
11 April 2002
Ratifikasi ke-60 yang diperlukan untuk menegakkan Statuta Roma disimpan dalam upacara khusus di markas besar PBB. Negara-negara yang menyimpan peralatan perjanjian mereka selama upacara berlangsung adalah Bosnia dan Herzegovina, Bulgaria, Kamboja, Republik Demokrat Kongo, Irlandia, Yordania, Mongolia, Nigeria, Rumania san Slovakia
6 Mei 2002
Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Bush secara resmi memberitahukan tujuannya di hadapan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk tidak meratifikasi Statuta Roma, dan pendapat mereka bahwa mereka tidak lagi terikat oleh ketentuan dalam perjanjian. Maksud mereka tersebut dinyatakan dengan tanda tangan Pemerintahan Clinton pada bulan Desember 2001
30 November 2002
Hari terakhir nominasi para calon untuk pos-pos 18 hakim danJaksa Penuntut di ICC tercapat. Hanya negara-negara yang telah menyerahkan alat-alat ratifikasi atau pengakuan atas Statuta Roma sebelum tanggal ini berhak masuk nominasi resmi atau mempunyai hak suara dalam pemilihan para hakim. Empat puluh lima nominasi diterima sebelum hari terakhir yang telah ditetapkan, meskipun dua negara mengundurkan diri dari pencalonan, meninggalkan 43 calon pada waltu pemilihan berlangsung. Tidak pengumuman tentang calon Jaksa Penuntut
3 - 7 Februari 2003
Sesi pertama Majelis Negara-negara Anggota (ASP) bertemu di marka besar PBB di New York untuk memilih 18 hakim pertama Pengadilan. Presiden Majelis Negara-negara
Buku Saku ICC
Anggota, Duta Besar Yordania Pangeran Zeid Ra'ad Zeid al-Husein, mengumumkan bahwa periode nominasi untuk jabatanJaksa Penuntut akan dibuka kembali dari tanggal 24 Maret - 4 April 2003
11 Maret 2003
18 Hakim pertama ICC diambil sumpah dalam upacara tingkat-tinggi di Den Haag, Belanda
21 - 23 April 2003
Sesi kedua Majelis Negara-negara Anggota memilih Tn. Luis Moreno Ocampo dari Argentina sebagai ketua Jaksa Penuntut pertama
12 Mei 2003
Lituania menjadi Negara anggota Statuta Roma ICC ke-90
16 Juni 2003
Luis Moreno Ocampo diambil sumpahnya sebagai Jaksa Penuntut dalam sebuah upacara yang berlangsung di Den Haag, Belanda
3 Juli 2003
Bruno Cathala dari Prancis disumpah sebagai Pejabat Catatan Sipil Pengadilan, setelah dipilih oleh para Hakim ICC di bulan Juni. Peristiwa ini merupakan tanda pertemuan akhir para pejabat senior Pengadilan
16 Juli 2003
Jaksa Penuntut ICC Moreno Ocampo konferensi pers pertamanya untuk membahas hampir 500 komunikasi telah diterima Pengadilan. Ia menyebut situasi tersebut dalam Republik Demokratis Kongo sebagai situasi paling mendesak yang harus "dipantau dari dekat"
Buku Saku ICC
12 September 2003
Sembilan puluh dua (92) anggota Majelis Negara-negara anggota bertemu di PBB New York untuk memilih Lembaga Direktur untuk Pendanaan Para Korban ICC yang akan mengadakan pemulihan bagi para korban. Para Direktor bersal dari masing-masing lima kelompok regional PBB: Yang Dipertuan Agung Ratu Rania Al-abdullah dari Yordania, Yang Mulia Tn. Oscar arias Sanches, mantan Presiden Costa Rica dan Peraih Nobel Perddamaian; Yang Mulia Tn. Tadeusz Mazowieki, mantan Perdana Menteri Polandian dan mantan Repoporter Khusus Komisi Hak-Hak Asasi Manusia di PBB di Wilayah bekas Yugoslavia; Mme. Somine Veil, mantan Menteri Kesehatan Prancis dan mantan Presiden Parlemen Eropa; dan Archbishop Desmon Tutu, mantan Ketua Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Afrika Selatan dan Peraih Nobel Perdamaian
3 November 2003
Deputi Jaksa Penuntut (Penyelidikan Serge Brammertz) dari Belgia diambil sumpah jabatannya
29 Januari 2004
Kantor jaksa Penuntut menngumumkan bahwa Uganda (Negara Anggota ICC) telah mengajukan situasi di Uganda bagian Utara ke Pengadilan. Jaksa Penuntut mengumumkan bahwa ada "basis yang cukup untuk mulai merencanakan Penetapan penyelidikan resmi
19 April 2004
Kantor Jaksa Penuntut mengumumkan bahwa Republik Demokratis Kongo (DRC), termasuk Negara anggota Statuta Roma, telah merujuk sistuasi kejahatan yang terbukti dilakukan di DRC sejak diterapkan dalam Statuta. Jaksa Penuntut kini akan langsung memutuskan apakah
Buku Saku ICC
ada basis yang masuk akal untuk memulai penyelidikan di bulan-bulan mendatang
22 April 2004
Lembaga Tingkat Tinggi Direktur mengadakan pertemuan di ICC untuk pertama kali mengenai Pengumupulan Dana Bagi Para Korban. Selama pertemuan pertama, para anggota mulai mengembangkan kriteria-kriteria yang akan menuntun pelaksanaan Pengumpulan Dana Bagi Para Korban
22 Juni 2004
Kanada memicu ditegakkannya Kesepakatan tentang Hak-Hak dan Kekebalan ICC (APIC). Kanada merupakan negara ke-10 yang meratifikasi APIC sehingga mencapai jumlah yang dibutuhkan agar Kesepakatan bermamfaat. Para pejabat Pengadilan akan menikmati hak-hak dan kekebalan sama dengan PBB dan organisasi internasional lainnya
23 Juni 2004
Kantor Jaksa Penuntut mengumumkan penetapan penyelidikan resmi situasi Republik Demokratis Kongo (DRC). Kantor Jaksa Penuntut kini memperhatikan bukti-bukti kejahatan di wilayah yuridiksi ICC
23 Juni 2004
Setelah melewati perundingan berminggu-minggu dan dihapkan pada oposisi terus-menerus, pemerintah Amerika Serikat menarik permohonannya untuk memperbaharui Resolusi 1487 Dewan Keamanan untuk menarik pasukan perdamaian AS dari yuridiksi ICC. Pemberitahuan ini datang setelah konsultasi tak resmi sehingga jelas bahwa teks kompromis yang diajukan AS di menit terakhir tidak akan mendapat dukungan yang diperlukan
Buku Saku ICC
29 Juli 2004
Kantor Jaksa Penuntut mengumumkan penetapan penyelidikan resmi situasi di Uganda. Jaksa Penuntut kini akan memerikasa bukti-bukti kejahatan dalam yuridiksi ICC
6-10 September 2004
Den Haag menjadi tuan rumah Majelis Negara-negara Anggota ke Tiga, yang mengadopsi anggaran ICC untuk tahun 2005 dan memilih Deputi Jaksa Penuntut untuk Dakwaan, Fatou Bensouda dari Gambia, selain keputusan-keputusan penting lain
7 Januari 2005
Jaksa Penuntut menerima surat yang dikirimkan atas nama pemerintah Republik Afrika Tengah, merujuk pada “situasi kejahatan yang termasuk dalam yurisdiksi Mahkamah yang terjadi di dalam teritori Republik Afrika tengah sejak 1 Juli 2002.” Sebagai tanggapan terhadap surat tersebut, Jaksa Penuntut mengumumkan bahwa ia tengah melakukan sebuah analisa untuk menentukan apakah sebuah investigasi bisa dilakukan.
31 Maret 2005
Dewan Keamanan PBB merujuk situasi di Darfur, Sudan ke ICC dengan adopsi Resolusi 1593. Menindak lanjuti rujukan tersebut, Jaksa Penuntut menerima arsip dokumen Komisi Internasional Penyelidikan Atas Darfur.
12 Mei 2005
Republik Dominika menjadi Negara Pihak ke-99 dari Statuta Roma tentang ICC.
Buku Saku ICC
6 Juni 2005
Jaksa Penuntut memutuskan untuk membuka sebuah investigasi atas situasi di Darfur, Sudan. Setelah analisa menyeluruh atas ribuan dokumen dan wawancara dengan lebih dari 50 ahli independen, Jaksa Penuntut menyimpulkan bahwa persyaratan untuk melakukan investigasi telah terpenuhi.
29 Juni 2005
Jaksa Penuntut untuk yang pertama kalinya melaporkan secara singkat kepada Dewan Keamanan PBB mengenai perkembangan investigasinya di Darfur, Sudan sesuai mandat Resolusi 1593 yang mensyaratkan laporan dua kali setahun kepada Dewan
28 Oktober 2005
Mexico menjadi Negara Pihak ke-100 dari Statuta Roma tentang ICC.
8 November 2005
Presiden ICC Philippe Kirsch menyampaikan untuk yang pertama kalinya laporan ICC kepada Sidang Umum PBB.
28 November - 3 Desember 2005
Den Haag menjadi tuan rumah Sidang Negara Pihak yang keempat yang diselenggarakan pada 26 – 27 Januari 2006 dengan dipilihnya enam Hakim ICC dan enam anggota Komite Anggaran Dana dan Keuangan.
13 Desember 2005
Jaksa penuntut menyampaikan laporan singkat pada Dewan Keamanan untuk yang kedua kalinya mengenai perkembangan investigasinya di Darfur, Sudan.
Buku Saku ICC
11 Januari 2006
Serge Brammertz, deputi Jaksa penuntut yang memegang tanggung jawab terhadap investigasi ICC, menjadi Direktur Komisi Internasional PBB Untuk Penyelidikan Atas Lebanon (untuk masa waktu enam bulan pertama).
26 - 27 Januari 2006
Sesi Sidang Negara Pihak (ASP) keempat dilanjutkan dengan pemilihan enam hakim ICC dan enam anggota Komite Anggaran Dana dan Keuangan (di New York).
26 Januari 2006
Enam hakim terpilih di sesi keempat ASP. Dari enam hakim ini, lima diantaranya sudah pernah menjabat sebagai hakim ICC selama tiga tahun dan satu hakim terpilih yang baru berasal dari Eropa Timur (Professor Ekaterina Trendafilova dari Bulgaria).
11 Maret 2006
Pemilihan Presiden: Hakim Philippe Kirsch (Canada) dan Akua Kuenyehia (Ghana) terpilih kembali sebagai Presiden dan Wakil Presiden Pertama Mahkamah.
17 Maret 2006
ICC mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Thomas Lubanga Dyilo, yang dituduh melakukan kejahatan perang di daerah Ituri, DRC. Thomas Lubanga Dyilo ditangkap dan dipindahkan ke Den Haag oleh pemerintah Kongo pada hari yang sama setelah Majelis Sidang Pendahuluan I mengeluarkan surat perintah penangkapan. Ini merupakan surat perintah penangkapan yang dikeluarkan oleh Mahkamah untuk situasi DRC dan merupakan penangkapan pertama.
Buku Saku ICC
20 Maret 2006
Majelis Sidang Pendahuluan I ICC menggelar Dengar Pendapat Publik dimana Thomas Lubanga Dyilo hadir di hadapan Majelis untuk yang pertama kalinya. Jean Flamme (Belgia) ditunjuk sebagai dewan permanen untuk Lubanga dan konfirmasi dengar pendapat tuntutan dijadwalkan pada 27 Juni 2006.
5 April 2006
ICC mengumumkan kematian Dr. Medard Rwelamira, Direktur Sekretariat Permanen Sidang Negara Pihak.
10 April 2006
Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan Uni Eropa menandatangani sebuah perjanjian kerjasama dan bantuan.
19 April 2006
Peraturan untuk Pengajuan Mahkamah Pidana Internasional dipublikasikan. Peraturan ini disetujui pada 6 Maret 2006 oleh Presiden Mahkamah, dibawah Aturan 15 dari Peraturan Prosedur dan Bukti.
16 Mei 2006
Mantan Presiden Trinidad dan Tobago, Arthur Napoleon Raymond Robinson, terpilih sebagai Dewan Direktur Dana Untuk Korban ICC.
14 Juni 2006
Jaksa Penuntut menyampaikan laporan singkat pada Dewan Keamanan untuk ketiga kalinya tentang perkembangan investigasinya di Darfur, Sudan. Di presentasi terbarunya ini, Jaksa menegaskan kembali pentingnya kerjasama dengan Negara dan organisasi dalam rangka menjalankan mandatnya.
Buku Saku ICC
16 Juni 2006
Dewan keamanan PBB mengadopsi sebuah resolusi yang mengijinkan pemindahan legal mantan Presiden Liberia Charles Taylor dari Sierra Leone ke Belanda. Pengadilan Khusus untuk Sierra Leone (SCSL) meminta pengadilan Taylor dipindahkan dari Freetown ke Den Haag dimana SCSL akan menyelenggarakan pengadilan dengan menggunakan fasilitas ruang pengadilan ICC.
9 Oktober 2006
Presiden ICC menyampaikan laporan tahunan kedua di hadapan Sidang Umum PBB.
9 November 2006
ICC untuk pertama kalinya melakukan pembacaan surat dakwaan dalam kasus Jaksa penuntu umum melawan Thomas Lubanga Dyilo yang berlangsung hingga 28 November 2006.
23 November–1 Desember 2006
Sesi kelima ASP bertempat di Den Hag, dibuka dengan Debat Umum. Sidang ini menyepakati anggaran Mahkamah, termasuk permintaan Mahkamah atas sumber daya untuk aktivitas menjangkau masyarakat luas, dan memilih kembali 4 anggota Dewan Direktur Dana Untuk Korban.
14 Desember 2006
Jaksa Penuntut menyampaikan laporan singkat tentang perkembangan investigasinya di Darfur, Sudan pada Dewan Keamanan untuk keempat kalinya. Jaksa Penuntut mengumumkan bahwa beliau sudah hampir menuntaskan investigasinya dan siap untuk menyerahkan bukti-bukti kepada hakim pada bulan Februari 2007.
Buku Saku ICC
25 Januari-1 Februari 2007
Sidang Negara Pihak kelima diselenggarakan di Markas Besar PBB di New York dan memfokuskan pada diskusi-diskusi mengenai Kelompok Kerja Khusus tentang Kejahatan Agresi.
29 Januari 2007
Majelis Sidang Pendahuluan I mensahkan dakwaan terhadap Thomas Lubanga Dyilo, yang mana melancarkan jalan menuju persidangannya.
27 Februari 2007
Jaksa Penuntut menyerahkan sebuah pengajuan kepada Majelis Sidang Pendahuluan I meminta Majelis mengeluarkan panggilan terhadap Ahmad Muhammad (mantan Menteri Dallam Negeri Pemerintahan Sudan) dan Ali Muhammad Ali Abdal-Rahman (pemimpin milisia yang juga dikenal sebagai Ali Kushayb) agar mereka hadir dalam Mahkamah untuk pengadilan awal.
6 Maret 2007
Kepresiden ICC mengeluarkan sebuah Keputusan yang mengatur Majelis Sidang I. Keputusan ini menentukan bahwa Majelis Sidang I terdiri dari Hakim Elizabeth Odio Benito, Hakim René Blattmann, dan Hakim Adrian Fulford dan merujuk kasus Jaksa Penuntut melawan Thomas Lubanga Dyilo ke Majelis.
14 Maret 2007
Hakim Karl T. Hudson-Phillips mengajukan pengunduran dirinya dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dengan alasan pribadi.
2 Mei 2007
Buku Saku ICC
Majelis Sidang Pendahuluan I mengeluarkan surat perintah penangkapan pada tanggal 27 April 2007 untuk Ahmad Muhammad Harun dan Ali Muhammad Al Abd-Al-Rahman.
8 Mei 2007
Hakim Claude Jorda mengundurkan diri dari ICC.
22 Mei 2007
Jaksa Penuntut mengumumkan dibukanya investigasi keempat atas kejahatan serius yang diduga dilakukan oleh CAR selama puncak kekerasan yang terjadi di tahun 2002 dengan fokus pada kekerasan seksual.
7 Juni 2007
Jaksa Penuntut menyampaikan laporan singkat kepada Dewan Keamanan untuk yang ke-5 kalinya mengenai perkembangan investigasinya di Darfur, Sudan yang mendorong penangkapan Ahmad Harun dan Ali Kushayb. Beliau menyampaikan bahwa “Dewan Keamanan dan organisasi-organisasi regional harus mengambil kepemimpinan dalam menyerukan Sudan sebagai Negara territorial untuk menangkap dua orang tersebut dan menjamin kehadiran mereka di pengadilan. Dan kami mengandalkan semua Negara untuk melakukan penangkapan jikalau kedua orang tersebut memasuki wilayah mereka.”
7 Juni 2007
Presiden Kirsch dan Menteri Luar negeri Maxime Verhagen dari Belanda menandatangani Perjanjian Markas Besar antara ICC dan Belanda.
14 Juni 2007
Serge Brammertz, Deputi Jaksa Penuntut untuk Investigasi, mengajukan pengunduran dirinya.
Buku Saku ICC
1 Juli 2007
Peringatan lima tahun diberlakukannya Statuta Roma.
17 Juli 2007
Jepang secara formal mengaksesi Statuta Roma, yang membawa jumlah Negara pihak Mahkamah menjadi 105. Di saat yang sama pemerintah, organisasi non pemerintah dan masyarakat sipil merayakan Hari Keadilan Internasional.
4 September 2007
Sebuah dengar pendapat untuk persiapan pengadilan Thomas Lubanga Dyilo diselenggarakan di ICC.
20 September 200
Dalam laporan singkat PBB untuk pers, Jaksa Penuntut menyerukan pada semua pemimpin dunia “untuk memahami bahwa bila komponen keadilan diabaikan, maka kejahatan akan terus berlangsung, dan akan mempengaruhi operasi kemanusiaan dan keamanan.
17 Oktober 2007
Pemerintah Kongo menahan dan menyerahkan pada ICC Germain Katanga, seorang warga Negara Kongo dan diduga sebagai komandan Force de Resistance Patriotiques en Ituri (Gerakan Perlawanan Patriotik di Ituri). Pada tanggal 2 Juli 2007, Majelis Sidang Pendahuluan I mengeluarkan sebuah surat perintah penangkapan untuk Katanga, tetapi surat perintah ini baru diumumkan pada tanggal 18 Oktober 2007.
1 November 2007
Presiden Kirsch menyampaikan Laporan ICC ketiga pada UN GA. Dalam pidatonya, beliau mencatat bahwa Mahkamah membutuhkan dukungan dan kerjasama di
Buku Saku ICC
banyak wilayah, terutama di wilayah penangkapan dan penyerahan terdakwa dan perlindungan bagi korban dan saksi.
30 November-14 Desember 2007
Sidang Negara Pihak ICC keenam diselenggarakan di Markas Besar PBB di New York.
30 November-3 Desember 2007
MsFumiko Saiga (Jepang), Bruno Cotte (Perancis) dan Daniel Ntanda Nsereko (Uganda) terpilih sebagai hakim ICC. Mereka menggantikan tiga hakim yang mengundurkan diri sebelum masa jabatan mereka habis.
5 Desember 2007
Jaksa Penuntut menyampaikan laporan singkat kepada Dewan Keamanan untuk yang keenam kalinya mengenai perkembangan ivestigasinya di Darfur, Sudan. Beliau melaporkan tentang penolakan Pemerintah Sudan untuk bekerjasama dengan Mahkamah dan mengumumkan pembukaan dua kasus baru: yang pertama akan menginvestigasi serang yang berlanjut terhadap masyarakat sipil, terutama di kemah-kemah pengungsian, dan yang kedua akan fokus pada serangan terhadap pekerja kemanusiaan yang baru terjadi.
17 Januari 2008
Tiga hakim baru ICC yang dipilih oleh Sidang Negara Pihak (ASP) pada akhir tahun 2007 disumpah di sebuah upacara yang digelar di tempat Mahkamah berada di Den Haag. Hakim Daniel David Ntanda Nsereko (Uganda), Hakim Fumiko Saiga (Jepan) dan Hakim Bruno Cotte (Perancis) masing-masing mengucapkan sumpah dengan sungguh-sungguh di depan publik.
Buku Saku ICC
7 Februari 2008
Mathieu Ngudjolo Chui, seorang warga kebangsaan Kongo dan diduga sebagi mantan pimpinan Fron Integrasionis Nasional (FNI) dan sekarang menjabat sebagai seorang kolonel di Tentara Nasional Pemerintahan Demokratik Kongo, ditangkap oleh pemerintah Kongo dan diserahkan kepada ICC. Surat perintah penangkapan tersegel dikeluarkan pada tanggal 6 Juli 2007 dan dibuka pada tanggal 7 Februari 20008.
28 Februari 2008
Hakim-hakim ICC dipilih, dengan suara Meioritas absolut, Silvana Arbia dari Italia sebagai Panitera ICC untuk masa jabatan lima tahun sesuai dengan prosedur yang dituangkan dalam Peraturan Prosedur dan Bukti.
10 Maret 2008
Pejabat Panitera ICC bertemu dengan delegasi Tentara Perlawanan Tuhan Uganda (LRA) di Den Hag untuk mendiskusikan isyu-isyu prosedural yang terkait dengan perwakilan hukum dari orang-orang yang dituduh dan juga yang terkait dengan prosedur dan batas waktu untuk melengkapi dokumen dan materi-materi dengan panitera.
11 Maret 2008
Majelis Sidang Pendahuluan I memutuskan bergabung dalam kasus Jaksa Penuntut melawab Germain Katanga dan Jaksa Penuntut melawan Mathieu Ngudjolo Chui. Pembacaan surat dakwaan dalam kasus Jaksa Penuntut melawan Germain Katanga dan Mathieu Ngudjolo Chui harus dimulai pada tanggal 21 Mei 2008. Dalam kasus gabungan ini, setiap tertuduh harus diberikan hak yang sama seperti halnya bila mereka diadili secara terpisah.
Buku Saku ICC
Baik Katanga Maupin Ngudjolo Chui didakwa karena tuduhan bertanggung jawab atas kejahatan yang diduga dilakukan selama dan setelah serangan gabungan atas desa Bogoro, Ituri pada tanggal 24 Februari 2003.
14 Maret 2008
Madagaskar mendepositkan instrumen ratifikasi Statuta Roma tentang ICCnya, menjadikan total Negara pihak menjadi 106.
17 April 2008
Silvana Arbia (Itali) disumpah sebagai Panitera ICC di tempat kedudukan Mahkamah di Den Haag.
27 April 2008
Koalisi dan kampanye baru Keadilan Untuk Darfur menyerukan aksi yang lebih besar dari Dewan Keamanan PBB di peringatan satu tahun dikeluarkannya surat penahanan Darfur.
28 April 2008
Pembacaan surat dakwaan kasus melawan Katanga dan Ngudjolo Chui ditunda hingga 27 Juni 2008.
29 April 2008
Majelis Sidang Pendahuluan I membuka surat perintah penangkapan melawan Bosco Ntaganda, yang diduga sebagai mantan Deputi Ketua dari Staff Umum Forces Patriotiques pour la Libération du Congo (FPLC), dan diduga sebagai Ketua Staff dari kelompok bersenjata Congrès national pour la défense du people (CNDP), aktif di Kivu Utara, DRC. Ini merupakan surat perintah