Rancangan Peraturan Daerah Pasal 114
(1) DPRD memegang kekuasaan membentuk Peraturan Daerah. (2) Rancangan Peraturan Daerah dapat berasal dari DPRD atau
Bupati.
(3) Rancangan Peraturan Daerah yang berasal dari DPRD disampaikan oleh Pimpinan DPRD kepada Bupati.
(4) Rancangan Peraturan Daerah yang berasal dari Bupati disampaikan oleh Bupati kepada Pimpinan DPRD.
(5) Rancangan Peraturan Daerah yang berasal dari DPRD atau Bupati dibahas oleh DPRD dan Bupati untuk mendapatkan persetujuan bersama.
(6) Rancangan Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan pada ayat (5) disampaikan oleh Pimpinan DPRD kepada anggota DPRD untuk dibahas lebih lanjut sesuai prosedur Tata Tertib DPRD.
Pasal 115
(1) Rancangan Peraturan Daerah dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh DPRD dan Bupati.
(2) Rancangan Peraturan Daerah yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama DPRD dan Bupati.
(3) Penarikan kembali Rancangan Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) oleh DPRD dilakukan dengan keputusan Pimpinan DPRD dengan disertai alasan-alasan penarikannya.
(4) Penarikan kembali Rancangan Peraturan Daerah sebagimana dimaksud pada ayat (1) oleh Bupati, disampaikan dengan surat Bupati disertai alasan-alasan penarikannya.
(5) Penarikan kembali Rancangan Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dilakukan dalam rapat pembahasan Rancangan Peraturan Daerah antara DPRD dan Bupati dengan disertai persetujuan bersama.
(6) Rancangan Pearturan Daerah yang ditarik kembali tidak dapat diajukan kembali.
Pasal 116
Apabila dalam suatu masa sidang Bupati dan DPRD menyampaikan rancangan peraturan daerah mengenai materi yang sama, maka yang dibahas adalah Rancangan Peraturan Daerah yang disampaikan oleh DPRD, sedangkan rancangan Peraturan Daerah
yang berasal dari Bupati digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan.
Bagian Kedua
Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Paragraf I
Rancangan Peraturan Daerah Prakarsa DPRD
Pasal 117
(1) Rancangan Peraturan Daerah yang berasal dari DPRD dibahas oleh DPRD dan Bupati untuk mendapatkan persetujuan bersama.
(2) Pembahasan Rancangan peraturan Daerah sebagai mana yang dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui 2 (dua) tingkat pembicaraan, pembicaraan tingkat I dan pembicaraan tingkat II.
Pasal 118
(1) Pembicaraan tingkat I sebagai mana dimaksud dalam Pasal 117 pada ayat (2) meliputi :
a. Penjelasan Pimpinan Komisi atau Pimpinan Gabungan Komisi atau Pimpinan Badan Legislasi Daerah atau Pimpinan Panitia Khusus dalam rapat paripurna mengenai rancangan peraturan daerah;
b. Pendapat Bupati terhadap rancangan Peraturan Daerah; dan
c. Tanggapan dan/atau jawaban Fraksi terhadap pendapat Bupati.
(2) Pembahasan dalam rapat Komisi atau Gabungan Komisi atau Panitia Khusus yang dilakukan bersama dengan kepala daerah atau pejabat yang ditunjuk untuk mewakilinya.
Pasal 119
Bahwa pembicaraan tingkat II sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 pada ayat (2) meliputi:
a. Pengambilan keputusan dalam rapat paripurna yang didahului dengan:
1. penyampaian laporan pimpinan komisi/pimpinan gabungan komisi/pimpinan panitia khusus yang berisi proses pembahasan, pendapat fraksi dan hasil pembicaraan sebagaimana dimaksud dalam pasal 118 pada ayat (2) 2. permintaan persetujuan dari anggota secara lisan oleh
pimpinan rapat paripurna. b. Pendapat akhir Bupati.
Paragraf 2
Rancangan Peraturan Daerah Berasal Dari Bupati Pasal 120
(1) Rancangan Peraturan Daerah yang berasal dari Bupati dibahas oleh DPRD dan Bupati untuk mendapatkan persetujuan bersama;
(2) Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah sebagai mana yang dimaksud pada ayat (I) dilakukan melalui 2 (dua) tingkat pembicaraan, yaitu pembicaraan tingkat I dan pembicaraan tingkat II
Pasal 121
(1) Pembicaraan tingkat I sebagai mana dimaksud dalam Pasal 117 pada ayat (2), meliput:
1. Penjelasan Bupati dalam Rapat Paripurna mengenai rancangan peraturan Daerah;
2. Pemandangan Umum Fraksi terhadap rancangan peraturan Daerah; dan
3. Tanggapan dan/atau jawaban Bupati terhadap Pemandangan Umum Fraksi.
(2) Pembahasan dalam Rapat Komisi atau Gabungan Komisi atau Panitia Khusus yang dilakukan bersama dengan Bupati atau Pejabat yang ditunjuk untuk mewakilinya
Pasal 122
(1) Pembicaraan Tingkat II sebagai mana dimaksud dalam Pasal 117 pada ayat (2) meliputi :
a. Pengambilan keputusan dalam Rapat Paripurna yang didahului dengan :
1. Penyampaian Laporan Pimpinan Komisi atau Pimpinan Gabungan Komisi atau Pimpinan Panitia Khusus yang berisi proses pembahasan, pendapat Fraksi dan hasil pembicaraan sebagai mana dimaksud dalam Pasal 118 pada ayat (2).
2. Permintaan Persetujuan dari anggota DPRD secara lisan oleh Pimpinan Rapat Paripurna.
(2) Dalam hal persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a angka 2 tidak dapat dicapai secara musyawarah untuk mufakat, keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak. (3) Dalam hal rancangan Peraturan Daerah tidak mendapat
persetujuan bersama antara DPRD dan Bupati , Rancangan Peraturan Daerah tersebut tidak boleh digunakan lagi dalam persidangan DPRD masa ini.
Bagian Ketiga
Penetapan dan Berlakunya Peraturan Daerah Pasal 123
(1) Rancangan Peraturan yang telah disetujui bersama oleh DPRD dan Bupati, disampaikan kepada Bupati untuk ditetapkan menjadi Peraturan Daerah.
(2) Penyampaian rancangan Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama tujuh hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama.
Pasal 124
(1) Rancangan Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 123 ditetapkan oleh Bupati dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lambat 30 hari sejak Rancangan Peraturan Daerah tersebut disetujui bersama oleh DPRD dan Bupati.
(2) Dalam hal Rancangan Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditandatangani oleh oleh Bupati dalam waktu paling lambat 30 hari sejak Rancangan Peraturan Daerah tersebut disetujui bersama, maka Rancangan
Peraturan Daerah tersebut sah menjadi Peraturan Daerah dan wajib diundangkan.
(3) Dalam hal sahnya Rancangan Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2), maka kalimat pengesahannya berbunyi : Peraturan Daerah ini dinyatakan sah.
(4) Peraturan Daerah yang telah mendapatkan persetujuan bersama disamapikan kepada Gubernur melalui Biro Hukum dan HAM untuk diregister.
Pasal 125
(1) Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 124 tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum, peraturan perundang-undangan yang lebih tingi dan Peraturan Daerah lain.
(2) Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku setelah diundangkan dalam Lembaran Daerah.
(3) Peraturan Daerah yang berkaitan dengan APBD, Pajak Daerah, Retribusi Daerah dan Tata Ruang Daerah sebelum diundangkan dalam lembaran daerah harus dievaluasi oleh Pemerintah.
(4) Peraturan Daerah yang bersifat mengatur setelah diundangkan dalam lembaran daerah harus didaftarkan kepada Gubernur.
BAB XIV