Sebagaimana telah diuraikan, bahwa untuk membentuk suatu peraturan perundang-undangan yang ideal haruslah memenuhi unsur-unsur normatif sebagaimana telah diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 12 Tahun 2011 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan dan juga responsif terhadap kebutuhan aspirasi masyarakat untuk menuju tercapainya keadilan yang membahagiakan.323 Sehubungan dengan pembentukan Peraturan Derah (Perda) maka selain harus berdasarkan pada Undang-Undang (UU) Nomor 12 Tahun 2011, juga harus mengacu kepada Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 2014
321Bowles S, Gintis H, Social Capital and Community Governance, The Economic Journal 112, 419-436, 2002, hlm. 58.
322William W. Nelson, On Justifying Democracy, First Published, Routledge & Kegan Pul Ltd, London, 1980, hlm. 38
323 Miftah Thoha, ―Desentralisasi Pendidikan‖. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, No. 17 Tahun ke-5 Juni 1999, hlm. 16.
118 tentang pemerintahan daerah, Permendagri Nomor 53 Tahun 2011 tentang pembentukan produk hukum daerah. Peraturan-peraturan tersebut telah memberikan peluang kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembentukan peraturan perundang-undangan. Adanya partisipasi masyarakat dalam pembentukan perda ini akan memberikan jaminan bahwa pelaksanaan otonomi daerah oleh pemerintah daerah akan dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh daerah tersebut sekaligus menjamin bahwa hasil dari pelaksanaan otonomi akan memberikan keadilan sosial bagi masyarakatnya.324 Partisipasi publik merupakan kebutuhan dan seharusnya menjadi kewajiban dalam setiap pelaksanaan perencanaan kebijakan publik di daerah, hal ini mengingat pentingnya kesesuaian kebijakan publik dengan kepentingan masyarakat yang menjadi objek dari kebijakan publik tersebut.325
a. Pembentukan Perda
Pembentukan Perda adalah proses pembentukan Perda yang pada dasarnya dimulai dari proses perencanaan, perancangan, perumusan, pembahasan, pengesahan, pengundangan, penyebarluasan (Pasal 1 Undang-Undang (UU) Nomor 12 Tahun 2011).326 Perda mencakup Perda Provinsi, Perda Kabupaten, Perda Kota. Adanya tingkatan-tingkatan perda ini dimaksudkan untuk dapat membuat kebijakan pada setiap daerah dengan scoup wilayah
324 Tim Lapera, Otonomi Pemberian Negara, Kajian Kritisatas Kebijakan Otonomi Daerah, Lapera Pustaka Utama, Yogyakarta, 2001, hlm. 59.
325 Muhammad Syaifuddin, Demokratisasi Produk Hukum Ekonomi Daerah, Tunggal Mandir Publishing, Malang, 2009, hlm. 106.
326 Ahmad Baihaqi, Teknik perundang-undangan, Alfabeta, Bandung, 2008, hlm. 17.
119 yang berbeda disusun dengan pertimbangan karakteristik yang sesuai dengan wilayahnya.327 Perda antara wilayah yang lebih luas dengan wilayah yang lebih sempit harus harmonis, hal ini penting untuk dapat memastikan bahwa kebijakan pada tingkatan yang lebih sempt sesuai dengan kebijakan yang diatur pada wilayah yang lebih luas.328
Pembentukan Perda pada dasarnya memerlukan orang-orang yang mempunyai kapasitas tertentu seperti di bidang ilmu dan ahli di bidang teknis perancangan.329 Salah satu hal yang harus dipahami oleh setiap perancang peraturan perundang-undangan (legal drafting) adalah merumuskan secara baik dan benar landasan peraturan perundang-undangan yang dibentuk sehingga mampu mencerminkan peraturan perundang-undangan yang baik.330 Landasan peraturan tersebut merupakan pedoman dasar yang di dalamnya memuat berbagai aturan dalam melaksanakan proses pembentukan perda yang sesuai dengan tata aturan hukum yang berlaku, oleh karenanya penerapan pedoman menjadi kewajiban dalam pelaksanaan pembentukan perda.331
327 Tim Simpul Demokrasi, Reformasi Birokrasi dan Demokratisasi Kebijakan Publik, PLaCID‘s Averroes dan Averroes Press, Malang, 2006, hlm. 16.
328 W. Riawan Tjandra dan Kresno Budi Sudarsono, Legislative Drafting: Teori dan Teknik Pembuatan Peraturan Daerah, Penerbit Universitas Atmajaya, Yogyakarta, 2009, hlm. 8.
329 Edi Wibowo, Kebijakan Publik dan Budaya, YPAPI, Yogyakarta, 2004, hlm. 19.
330 Ria Casmi Arrsa, dkk. Teori dan Hukum Perancangan Perda (The Turning Point Of Legal Paradigm on Sustainaible Development), UB Press, Malang, 2012, hlm. 74.
331 Muhammad Syaifuddin, Demokratisasi Produk Hukum Ekonomi Daerah, Tunggal Mandir Publishing, Malang, 2009, hlm. 75.
120 Beberapa landasan yang perlu diperhatikan secara seksama dalam membentuk sebuah peraturan perundang-undangan, antara lain: landasan filosofis, landasan yuridis, dan landasan sosiologis.332
(1) Landasan filosofis
Landasan filosofis adalah uraian yang memuat tentang pemikiran terdalam yang harus terkandung dalam Perda, dan pandangan hidup yang mengarahkan pembuatan Perda. Pemikiran terdalam dan pandangan hidup yang harus tercermin dalam Perda adalah nilai-nilai Pancasila (2) Landasan Yuridis
Landasan yuridis adalah uraian tentang ketentuan-ketentuan hukum yang harus diacu dalam pembentukan Perda.
Landasan yuridis dibedakan menjadi :
(a) Landasan yuridis formal, yaitu ketentuan-ketentuan hukum yang memberi kewenangan kepada lembaga/organ atau lingkungan jabatan untuk membuat Perda
(b) Landasan yuridis material, yaitu ketentuan-ketentuan hukum yang menentukan isi dari pada Perda.
(3) Landasan Sosiologis
Landasan sosiologis adalah bahwa Perda harus mencerminkan kenyataan hidup dalam masyarakat.
Dengan demikian Perda yang dibentuk akan dapat diterima masyarakat, mempunyai daya laku efektif, dan tidak banyak memerlukan pengerahan institusi/penegak hukum dalam melaksanakannya.
Undang-Undang (UU) Nomor 12 Tahun 2011 mengatur beberapa prinsip mengenai Perda, yaitu :
(1) DPRD membentuk Perda yang dibahas dengan Kepala Daerah untuk mendapat persetujuan bersama ;
(2) Perda ditetapkan oleh Kepala Daerah setelah mendapat persetujuan bersama DPRD;
(3) Perda dibentuk dalam rangka otonomi, tugas pembantuan dan penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah;
332Jazim Hamidi, Pembentukan Perda Partisipatif, Prestasi Pustaka, Jakarta, 2008,hlm. 28.
121 (4) Perda tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi;
(5) Peraturan Kepala Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah ditetapkan untuk melaksanakan Perda;
(6) Perda diundangkan dalam lembaran daerah dan Peraturan Kepala Daerah dimuat dalam berita daerah;
(7) Perda dapat menunjuk pejabat tertentu sebagai pejabat penyidik pelanggaran Perda.
Untuk memperoleh sebuah produk hukum dalam arti Peraturan Perundang-undangan, khususnya Undang-Undang (UU) dan Peraturan Daerah (Perda) yang berkualitas, maka dalam pembentukannya harus dilakukan melalui proses pentahapan.
Pentahapan ini dimaksudkan agar dalam sebuah proses perencanaan kebijakan publik yang demokratis setiap pandangan dan masukan dari masyarakat maupun pihak-pihak lain di dalam masyarakat dapat didengarkan dan dijadikan masukan pertimbangan penyusunan rancangan produk hukum itu sendiri.333 Proses pentahapan pembentukan Perda pada hakekatnya merupakan kebijakan publik yang dilaksanakan secara terbuka sehingga Peraturan Daerah (Perda) yang dihasilkan bersifat partisipatif dan responsif.334 Adapun tahap pembentukan Perda dapat diurut sebagai berikut :335
(1) Tahap perencanaan
Tahap pertama pembentukan Perda baik provinsi maupun kabupaten / kota, pada dasarnya adalah sama, yakni diawali dengan tahap perencanaan yang dituangkan dalam bentuk program legislasi. Untuk
333 Donny Gahral Adian, Demokrasi Kami, Koekoesan, Jakarta, 2006, hlm. 24.
334 Nukthoh Arfawie Kurde, Telaah Kritis Teori Negara Hukum, Konstitusi dan Demokrasi Dalam Kerangka Pelaksanaan Desentralisasi dan Otonomi Daerah Berdasarkan UUD – 1945, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2005, hlm. 47.
335Jazim Hamidi, Op.cit., hlm. 33.
122 program pembentukan undang-undang disebut program legislasi nasional (disingkat prolegnas), sedangkan untuk program pembentukan perda disebut program legislasi daerah (disingkat prolegda) provinsi, kabupaten / kota.
Program legislasi daerah (prolegda) adalah instrumen perencanaan pembentukan Perda yang disusun secara berencana, terpadu dan sistematis
(2) Tahap Perancangan
Tahap perancangan meliputi kegiatan perumusan Raperda, pembentukan tim asistensi, konsultasi raperda dengan pihak-pihak terkait dan persetujuan raperda oleh Kepala Daerah.
(3) Tahap pembahasan
Pada tahap pembahasan, Raperda dibahas oleh DPRD dengan Gubernur, Bupat/Walikota untuk mendapat persetujuan bersama. Sebagaimana diketahui Raperda dapat berasal dari DPRD dan dapat pula berasal dari inisiatif Kepala Daerah. Pembahasan sebuah Raperda di DPRD dilakukan dalam Rapat Paripurna (UU No. 12 Tahun 2011)
(4) Tahap Pengundangan
Perda yang telah ditetapkan, selanjutnya diundangkan dengan menempatkan dalam Lembaran Daerah oleh Sekretaris Daerah, sedangkan Penjelasan Perda dicatat dalam Tambahan Lembaran daerah oleh Sekretaris Daerah atau oleh Kepala Biro hukum/Kepala Bagian Hukum. Pengundangan Perda dalam Lembaran Daerah dimaksudkan sebagai syarat hukum agar setiap orang mengetahuinya (UU No. 12 Tahun 2011)
(5) Tahap Sosialisasi
Meskipun Perda telah diundangkan dalam Lembaran Daerah, namun belum cukup menjadi alasan untuk menganggap bahwa masyarakat telah mengetahui eksistensi Perda tersebut. Oleh karena itu Perda yang telah disahkan dan diundangkan tersebut harus pula disosialisasikan. Pemerintah Daerah wajib menyebarluaskan Perda yang telah diundangkan dalam Lembaran Daerah dan peraturan di bawahnya yang telah diundangkan dalam Berita Daerah (UU No. 12 Tahun 2011).
(6) Tahap Evaluasi
Untuk dapat mengetahui sejauhmana pengaruh sebuah Perda setelah diberlakukan maka perlu dilakukan evaluasi. Melalui evaluasi dapat diketahui kelemahan dan kelebihan Perda yang sedang diberlakukan, yang selanjutnya guna menentukan kebijakan-kebijakan,
123 misalnya apakah Perda tetap dipertahankan atau perlu direvisi.
Setiap dari tahapan pembentukan Perda tersebut hanya dapat dilakukan apabila ada keinginan kuat (keharusan) baik dari lembaga legislatif maupun eksekutif di daerah. Jika hanya satu pihak saja tentu akan menemui kendala dalam pelaksanaannya. Kehadiran dari kedua pihak merupakan keharusan karena keduanya merupakan sinergi yang saling terkait dalam pelaksanaan otonomi daerah, kepala daerah sebagai pelaksana kewenangan yang diberikan kepercayaan oleh masyarakat, sementara DPRD sebagai perwakilan masyarakat untuk melakukan kontrol terhadap jalannya pemerintahan oleh kepala daerah.336
Berdasarkan uraian tentang pembentukan Perda yang telah disampaikan di atas, maka dapat ditarik sebuah model pembentukan Perda di Indonesia. Pada dasarnya setiap peraturan perundang - undangan yang berlaku di Indonesia harus mengacu dan berdasar pada setiap ketentuan yang termuat dalam Undang-Undang Dasar (UUD) Tahun 1945 yang merupakan dasar hukum tertinggi di Indonesia.337 Hal ini berarti bahwa dalam setiap kebijakan yang dirumuskan oleh seluruh pemerintah daerah yang ada di Indonesia, maka semua tujuan yang ada di dalam Undang-Undang Dasar (UUD) Tahun 1945 harus menjadi tujuan pokok yang akan dicapai
336 Edy Suandi Hamid dan Sobirin Malian, Memperkokoh Otonomi Daerah, Kebijakan, Evaluasi dan Saran, UII Press, Yogyakarta, 2007, hlm 24.
337 Sri Soemantri Martosoewignjo, Pengantar Perbandingan Antara Hukum Tata Negara, Rajawali, Jakarta, 1998, hlm. 52.
124 melalui tujuan-tujuan khusus yang termuat dalam perda itu sendiri.338 Tujuan utama negara yang termuat dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Tahun 1945 menyebutkan bahwa negara bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Salah satu tujuan kesejahteraan sosial bagi seluruh masyarakat dan juga keadilan dalam pemenuhan tujuan tersebut, negara kemudian mengeluarkan Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.339 Undang-Undang (UU) ini menjadi dasar dalam penyelenggaraan pendidikan di seluruh wilayah RI untuk kemudian memastikan bahwa seluruh warga negara mendapatkan pelayanan pendidikan yang optimal agar dapat memiliki kemampuan untuk meningkatkan kesejahteraannya di kemudian hari.340
Namun demikian, pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan pada wilayah yang sangat luas tidak mungkin dilakukan oleh pemerintah pusat, oleh karenanya dalam rangka mencapai tujuan tersebut negara kemudian mendelegasikan kewenangan penyelenggaraan pemerintahan kepada seluruh wilayah yang diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dimana di dalamnya termuat kewenangan
338 Pataniari Siahaan, Politik Hukum Pembentukan Undang-Undang Pasca Amandemen UUD 1945, Penerbit Konpress, Jakarta, 2012, hlm. 51.
339Agus Dwiyanto, Mewujudkan Good Governance: Melalui Pelayanan Publik. Gajahmada University Press, Yogyakarta,2005, hlm. 36.
340 Nuril Huda, ―Desentralisasi Pendidikan Pelaksanaan dan Permasalahannya”, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, No. 17 Tahun ke-5, Juni 1999, hlm. 24.
125 pemerintah daerah dalam mengelola dan menyelenggarakan pemerintahan dan pelayanan pemenuhan kebutuhan masyarakat di daerahnya masing-masing.341 Beberapa kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah daerah terkait dengan pelayanan pemenuhan kebutuhan pendidikan warganya adalah kewenangan untuk menyelenggarakan pendidikan itu sendiri, serta kewenangan untuk mengeluarkan berbagai ketentuan perundang-undangan yang dijadikan sebagai dasar dalam penyelenggaraan pendidikan itu sendiri.342
Dalam rangka mengoptimalkan seluruh Peraturan Daerah (Perda) di seluruh wilayah Indonesia yang dibentuk oleh masing-masing daerah, negara kemudian mengeluarkan Undang-Undang (UU) Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan yang dimaksudkan untuk menjadi dasar acuan bagi seluruh daerah dalam melakukan proses pembentukan Perda di wilayahnya masing-masing, termasuk di dalamnya Peaturan Daerah (Perda) tentang pendidikan.Secara lebih jelas, model pembentukan Peraturan Daerah (Perda) bidang pendidikan tersebut dapat dilihat pada gambar berikut.
341 Aulia Reza Bastian, Reformasi Pendidikan, LAPPERA Pustaka Utama, Yogyakarta, 2002, hlm.
11.
342 Hari Susanto & Asep S, Pembangunan Berbasis Pemberdayaan (Kasus Kalimantan Barat). PT.
Sarbi Moerhani Lestari, Bogor, 2000, hlm. 17.
126 Gambar 2.1
Model Pembentukan Perda Bidang Pendidikan di Indonesia
Sumber : Telaah Tata Urutan Pembentukan Peraturan Daerah di Indonesia oleh Peneliti, 2016.
b. Perda Pendidikan
Menyusun Perda Pendidikan bukan pekerjaan yang mudah, karena rancangannya membutuhkan naskah akademik yang memberikan arah serta menterjemahkan rumusan ideal, seperti:
Pertama, bagaimana mewujudkan kehidupan berbangsa, bernegara bagi tercapainya tatanan masyarakat sebagaimana yang dicita-citakan dalam Pancasila. Artinya bahwa raperda pendidikan harus mampu merumuskan pola-pola pembelajaran yang sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.343 Hal ini termuat di dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas yang menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha
343 Reza Bastian Aulia, Reformasi Pendidikan, Lappera Pustaka Utama, Yogyakarta, 2002, hlm.
49.
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945
UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas UU No. 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan
UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
Pembentukan Perda bidang Pendidikan
127 sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Oleh karenanya, pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa.
Kedua, pengintegrasian partisipasi antara pemerintah, masyarakat dan dunia usaha/industri guna menyelesaikan permasalahan pendidikan dan kebudayaan. Tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan bukan hanya oleh pemerintah namun oleh seluruh komponen masyarakat merupakan prinsip penyelenggaraan pendidikan yang termuat di dalam Undang-Undang (UU) Sisdiknas Pasal 4 ayat (1). Pada Pasal tersebut diterangkan bahwa Pendidikan tidak lagi diserahkan kepada sekolah, melainkan menjadi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat.
Lebih jauh lagi, pada Bab XV tentang peran serta masyarakat dalam pendidikan, dijelaskan bahwa masyarakat berperan serta dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan yang meliputi perencanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan. Pasal 54 ayat (1) memberikan gambaran bahwa peranan masyarakat dapat
128 dilakukan dalam bentuk perorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan, dimana pada ayat (2) dijelaskan bahwa bentuk peran serta masyarakat tersebut dapat sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan.
Pasal 56 ayat (1) menjelaskan tentang peran serta masyarakat dalam perencanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan melalui dewan pendidikan/ komite sekolah. Sementara pada ayat (2) dinyatakan bahwa Dewan Pendidikan sebagai lembaga mandiri sekaligus mitra pemerintah bersama-sama meningkatkan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan saran, pendapat, pemikiran serta pertimbangan kepada Pemerintah Daerah melalui Kepala Dinas Pendidikan. Karena Dewan Pendidikan dibentuk dan berperan serta dalam peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan.
Terkait dengan sasaran yang akan diwujudkan dalam perda, menurut Sutoro ruang lingkup pengaturan, jangkauan, dan arah pengaturan penyelenggaraan pendidikan harus dibangun atas dasar filosofi, bahwa pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang
129 tumbuh dan berkembang secara dinamis.344 Bersamaan dengan itu, maka proses pembelajaran harus mengarah pada aktivitas eksplorasi dengan alam dan sesamanya, bagi tercapainya kehidupan yang lebih baik. Belajar mengkonstruksi dunianya dan sebaliknya menyadari sebagai makhluk yang dikonstruksi dunianya sehingga selama itulah pendidikan terus dimodifikasi dan dikembangkan.345
Ruang lingkup penyelenggaraan pendidikan yang diatur dalam Perda bidang pendidikan meliputi:346
(1) Peserta didik
(2) Penyelenggaraan pendidikan formal (3) Penyelenggaraan pendidikan non formal (4) Pendidikan anak usia dini;
(5) Pendidikan khusus;
(a) Pendidikan keagamaan;
(b) Pendidikan bertaraf internasional dan pendidikan berbasis keunggulan lokal;
(c) Penyelenggara pendidikan oleh lembaga asing;
(6) Pendidik dan tenaga kependidikan;
(7) Sarana dan prasarana;
(8) Evaluasi;
(9) Akreditasi;
(10) Pengawasan (11) Wajib belajar;
(12) Partisipasi masyarakat dalam pendanaan pendidikan yang menjadi batas kewenangan pemerintah daerah (13) Pendidikan karakter
Salah satu ruang ringkup pendidikan yang sangat penting untuk dapat membangun jati diri bangsa, dimana dengan pendidikan karakter yang berkelanjutan ini maka diharapkan dapat diciptakan
344 Eko Sutoro, Orde Partisipasi; Bunga Rampai Partisipasi dan Politik Anggaran, Perkumpulan Prakarsa, Jakarta, 2005, hlm. 162.
345 Armida S.Alisyahbana, ―Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pendidikan”, Jurnal Analisis Sosial, Vol. 5 No. 1 Januari 2000, hlm. 43.
346 Anwar, Moch Idocbi, Administrasi Pendidikan dan Manajemen. Pembiayaan Pendidikan : Teori, Konsep, dan Ilmu, Bandung: Alfabeta, hlm. 64.
130 manusia Indonesia dengan sifat dan kepribadian yang jujur dengan kemauan yang tinggi untuk dapat mewujudkan cita-cita pembangunan bangsa yaitu keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh masyarakat.
Menurut Syafruddin Amir pendidikan karakter harus didasarkan pada ideologi negara Pancasila, dimana:347
“a. As an integral component of this nation, we must agree that Pancasila is a revolutionary concept that advanced civilizations, especially for Indonesia, Pancasila as well as forming the character and identity of a great nation, modern, dignified and civilized.
b. Pancasila is the ideology of the nation that should be the spirit of every pulse of life of citizens and constitutional activity, because the Pancasila is seen as media acculturation in various partial thoughts on religion, education, cultural, political, social and even economic. So by making the philosophy of Pancasila as a nation, we can realize Indonesian nationalism.”
Maksud dari pernyataan Syafruddin diatas ialah bahwa :
Sebagai komponen integral dari bangsa ini, kita harus setuju bahwa Pancasila adalah sebuah konsep revolusioner yang maju peradaban, terutama untuk Indonesia, Pancasila serta membentuk karakter dan identitas suatu bangsa yang besar, modern, bermartabat dan beradab.
Pancasila adalah ideologi bangsa yang harus menjadi semangat setiap denyut nadi kehidupan warga dan aktivitas konstitusional, karena Pancasila dipandang sebagai akulturasi media di berbagai pemikiran parsial pada agama, pendidikan, budaya, politik, sosial dan bahkan ekonomi. Jadi dengan membuat falsafah Pancasila sebagai bangsa, kita dapat mewujudkan nasionalisme Indonesia.
347 Syafruddin Amir, ―Pancasila as Integration Philosophy of Education and National Character”, International Journal of Scientific and Technology Research, Vol. 2, No. 1, 2013.
131 Nilai-nilai karakter juga dapat diberikan secara terintegrasi melalui kurikulum sebagaimana digambarkan dalam penelitian Ibrahim,
& Zubaenur, Cut, M. (2015) menyimpulkan sebagai berikut:348
“The values of wisdom in everyday life (especially water and sanitation, local knowledge, cultural diversity) are expected to be included as a thematic learning goals, so it must be designed in learning by:
(1) Integrative Kuriulum indicator imprinted on lesson plans, student worksheets, and Handbook of learning, Wisdom of students to the values that are integrated in the learning should be assessed as a result of learning.
(2) Teacher sare expected to implement the thematic learning and cultivation of the values and wisdom inherent in everyday life in an integrated manner in theclassroom.
(3) Necessarytesting and implementation of an integrative curriculum that has been developed.
(4) Integrative curriculum that has been developed still need to be expanded to other core subjects (Social science, Longgue, Economi, & Civics).”
Kesimpulan di atas menunjukkan bahwa (1) Nilai-nilai kearifan dalam kehidupan sehari-hari (terutama air dan sanitasi, pengetahuan lokal, keragaman budaya) yang diharapkan akan dimasukkan sebagai tujuan pembelajaran tematik, sehingga harus dirancang dalam belajar oleh: Indikator Integratif Kurikulum dicantumkan pada rencana pelajaran, lembar kerja siswa, dan Handbook pembelajara.
Kebijaksanaan siswa dengan nilai-nilai yang terintegrasi dalam pembelajaran harus dinilai sebagai hasil belajar; (2) Guru diharapkan melaksanakan pembelajaran tematik dan budidaya nilai-nilai dan kearifan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari dengan cara yang terintegrasi
348 Ibrahim dan Cut M. Zubaenur, “Integrative Curicullum Teaching Science in The Elementary School”, International Referred Research Journal, Vol. VI, No. 4, October 2015.
132 di dalam kelas; (3) Pengujian yang diperlukan dan implementasi kurikulum integratif yang telah dikembangkan; (4) Kurikulum Integratif yang telah dikembangkan masih perlu diperluas untuk mata pelajaran inti lainnya (ilmu Sosial, Longgue, Economi dan PKn).
Pendidikan karakter sendiri dapat disampaikan melalui pendidikan kewarganegaraaan, seperti yang dinyatakan oleh Aynur Pala bahwa:349
“Citizenship education especially takes place at schools as a policy of the state and students are encouraged and trained to take part in the societal activities of the community they live in.
Citizenship education and character education are similar in many ways and citizenship education is considered as a type of character education by some scientists. Some of these similarities include the reason why they emerged, the fact that both are connected to the core values, their close relationship with moral education, common identical methods they use, and sharing some positive character traits”
Inti dari paparan tersebut adalah Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah-sekolah sebagai kebijakan negara dan siswa didorong dan dilatih untuk mengambil bagian dalam kegiatan sosial masyarakat mereka tinggal. Pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan karakter serupa dalam banyak cara dan Pendidikan Kewarganegaraan dianggap sebagai jenis pendidikan karakter oleh beberapa ilmuwan. Beberapa kesamaan ini termasuk alasan mengapa mereka muncul, fakta bahwa keduanya terhubung ke nilai-nilai inti, hubungan dekat mereka dengan pendidikan moral, metode identik umum yang mereka gunakan, dan berbagi
349 Aynur Pala, ―The Need for Character Education”, International Journal of Social Sciences and
349 Aynur Pala, ―The Need for Character Education”, International Journal of Social Sciences and