A. Landasasn Teori
1. Pemberdayaan Masyarakat
a. Pengertian Pemberdayaan Masyarakat
Kata pemberdayaan awal mulanya berasal dari bahasa Inggris “empowerment” yang artinya pemberkuasaan. Dengan kata lain, pemberdayaan merupakan suatu cara yang dilakukan untuk membuat suatu objek memiliki daya atau kekuatan. Sedangkan kata masyarakat memiliki arti sekelompok orang yang saling berinteraksi dalam suatu sistem, serta memiliki kepentingan bersama. Jadi, pemberdayaan masyarakat adalah kondisi dimana masyarakat mengambil peran dalam kegiatan sosial untuk memperbaiki keadaan hidupnya sendiri (Maryani & Nainggolan, 2019).
Menurut Sumodiningrat (1999), arti pemberdayaan (empowerment) adalah serangkaian dukungan untuk meningkatkan kemampuan serta memperluas segala akses kehidupan sehingga mampu mendorong kemandirian yang berkerlanjutan terhadap masyarakat (Sumodiningrat, 1999). Sumodingrat berpendapat bahwa pemberdayaan masyarakat harus dilakukan melalui tiga jalur, yaitu: (1) menciptakan iklim yang memungkinkan potensi masyarakat
29
berkembang (enabling); (2) menguatkan potensi dan daya yang dimiliki masyarakat (empowering); (3) memberikan perlindungan (protecting). Menurut ife (1995), proses pemberdayaan dapat dimaknai sebagai usaha untuk pengembangan, kemandirian, keswadayaan dan memperkuat posisi masyarakat lapisan bawah terhadap kekuatan-kekuatan penekan (Nasdian, 2014).
Menurut Sunyoto Usman, pemberdayaan masyarakat adalah sebuah proses dalam bingkai usaha memperkuat apa yang lazim disebut dengan community self-reliance atau kemandirian masyarakat. Dalam proses ini masyarakat didampingi untuk membuat analisis masalah yang dihadapi, dibantu untuk menemukan alternatif solusi masalah tersebut, serta diperlihatkan strategi memanfaatkan berbagai resources yang dimiliki dan dikuasai (Huraerah, 2008). Sedangkan menurut Jim Ife (2007) dalam (Saleh, 2020) menyatakan pemberdayaan masyarakat berarti memberi daya, memberi power (kuasa), dan memberikan kekuatan kepada pihak yang kurang berdaya.
Pemberdayaan menunjuk pada kemampuan orang, khususnya kelompok lemah dan rentan, sehingga mereka memiliki kekuatan dalam (a) memenuhi kebutuhan dasarnya sehingga mereka memiliki kebebasan (freedom), dalam arti bukan saja
30
bebas mengemukakan pendapat, melainkan bebas dari kelaparan, bebas dari kebodohan, bebas dari kesakitan, (b) menjangkau sumber-sumber produktif yang memungkinkan mereka dapat meningkatkan pendapatannya dan memperoleh barang-barang dan jasa yang mereka perlukan, (c) berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan yang mempengaruhi mereka (Suharto, 2005).
Jadi dari beberapa pendapat ahli di atas terkait definisi pemberdayaan masyarakat, dapat disimpulkan bahwa pemberdayaan masyarakat adalah upaya yang dilakukan untuk membuat individu atau kelompok menjadi berdaya, mandiri, dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dengan mengandalkan sumber-sumber yang dimilikinya tanpa banyak bantuan dari pihak lain.
b. Tujuan Pemberdayaan
Menurut Keban (1999) dalam (Mulyono, Sungkowo Edy, 2017) tujuan yang ingin dicapai dari pemberdayaan adalah untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. Kemandirian tersebut meliputi kemandirian berpikir, bertindak dan mengandalkan apa yang mereka lakukan tersebut. Kemandirian masyarakat merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai oleh kemampuan untuk memikirkan, memutuskan serta
31
melakukan sesuatu yang dipandang tepat demi mencapai pemecahan masalah-masalah yang dihadapi dengan mempergunakan daya kemampuan serta pengerahan sumber daya yang dimiliki oleh lingkungan internal tersebut.
Menurut Payne (2001) dalam (Saleh, 2020), pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk membantu penyandang masalah untuk mendapatkan daya, kekuatan, dan kemampuan dalam mengambil keputusan dan tindakan yang akan dilakukan yang berhubungan dengan dirinya, termasuk mengurangi kendala pribadi dan sosial. Pemberdayaan bertujuan untuk memandirikan masyarakat, baik mandiri dalam segi pola pikir, tindakan, maupun pengendalian atas tingkah lakunya (Nofriansyah, 2018). Sedangkan menurut Mardikanto (2015) dalam (Maryani & Nainggolan, 2019), tujuan dari pemberdayaan mengandung enam butir, yaitu :
1) Perbaikan Kelembagaan “Better Institution” Lembaga yang baik pastinya memiliki visi, misi, tujuan, serta program kerja yang terarah. Tujuan dari suatu lembaga akan cepat tercapai apabila masyarakat aktif berpartisipasi dalam kegiatan kelembagaan. Dengan partisipasi aktif dari masyarakat maka seluruh fungsi lembaga dapat berjalan dengan maksimal. Semua anggota lembaga
32
telah memiliki peran serta tanggung jawabnya masing-masing sesuai dengan kompetensi mereka masing-masing. Dengan demikian, setiap anggota yang terlibat dalam lembaga merasa berdaya dan memiliki peran untuk dapat memajukan lembaga terkait.
2) Perbaikan Usaha “Better Business”
Perbaikan kelembagaan diharapkan dapat berimplikasi juga kepada perbaikan bisnis yang ada di lembaga tersebut. Perbaikan bisnis yang ada diharapkan mampu memberikan kepuasan bagi para anggota lembaga dan juga dapat memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat sekitar.
3) Perbaikan Pendapatan “Better Income”
Perbaikan pendapatan (income) yang diperoleh lembaga, termasuk pendapatan keluarga dan masyarakat masih berkaitan dengan perbaikan bisnis yang dilakukan. Apabila perbaikan bisnis berjalan lancar, diharapkan terjadi peningkatan pendapatan dari seluruh anggota lembaga.
4) Perbaikan Lingkungan “Better Environment” Saat ini, banyak manusia yang secara sadar maupun tidak melakukan perusakan lingkungan. Alasan dari hal ini biasanya demi memenuhi
33
kebutuhan hidupnya, dalam arti lain juga bisa dikatakan dikarenakan kondisi kemiskinan di masyarakat. Oleh sebab itu, pendapatan masyarakat harus memadai agar kebutuhan hidupnya tercukupi dengan layak, sehingga tidak ada lagi kemungkinan manusia untuk melakukan perusakan lingkungan. Karenanya, perbaikan pendapatan diharapkan dapat memperbaiki keadaan lingkungan “fisik dan sosial”. 5) Perbaikan Kehidupan “Better Living”
Diharapkan dengan membaiknya pendapatan yang dihasilkan, maka keadaan lingkungan sekitar akan membaik pula. dengan hal ini, diharapkan dapat memperbaiki keadaan kehidupan setiap keluarga dan masyarakat.
6) Perbaikan Masyarakat “Better Community”
Dengan keadaan lingkungan (fisik dan sosial) yang baik, diharapkan akan menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih baik juga.
Pada intinya, pemberdayaan masyarakat ini bertujuan untuk membuat masyarakat berdaya dan mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Untuk mencapai hasil yang maksimal, maka dalam menjalankan setiap tahapan kegiatan pemberdayaan masyarakat ini harus melibatkan
34
kerjasama yang baik anatara elemen masyarakat dan institusi pembuat program pemberdayaan.
c. Strategi Pemberdayaan
Dalam konteks pekerjaan sosial, menurut (Suharto, 2005), pemberdayaan dapat dilakukan melalui tiga aras (empowerment setting), yaitu:
1) Aras Mikro
Pemberdayaan dilakukan terhadap klien secara individual melalui bimbingan, konseling, stress management, crisis intervention. Tujuan utamanya adalah membimbing atau melatih klien dalam menjalankan tugas-tugas kehidupannya, model ini sering disebut dengan pendekatan yang berpusat pada tugas (task centered approach).
2) Aras Mezzo
Pemberdayaan dilakukan terhadap sekelompok klien. Pemberdayaan dilakukan dengan menggunakan kelompok sebagai media intervensi. Pendidikan dan pelatihan, dinamika kelompok, biasanya digunakan sebagai strategi dalam meningkatkan kesadaran, pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap klien agar memiliki kemampuan memecahkan permasalahan yang dihadapi.
3) Aras Makro
Pada pendekatan ini, sasaran perubahan diarahkan pada sistem lingkungan yang lebih luas.
35
Perumusan kebijakan, perencanaan sosial, kampanye, aksi sosial, pengorganisasian masyarakat, manajemen konflik adalah beberapa strategi dalam pendekatan ini. Strategi besar memandang klien sebagai orang yang memiliki kompetensi untuk memahami situasi-situasi mereka sendiri dan memilih serta menentukan strategi yang tepat untuk bertindak.
Selain strategi pemberdayaan di atas, terdapat juga pendapat ahli lain yang mengemukakan tiga point strategi pemberdayaan, yaitu :
1) Strategi tradisional
Strategi ini menekankan bahwa tidak ada pihak lain yang dapat mencampuri masyarakat dalam proses penentuan keputusan. Strategi ini juga mendorong masyarakat untuk dapat memahami permasalahan dan kebutuhannya sendiri.
2) Strategi direct-action
Strategi ini memerlukan dominasi kepentingan yang dihormati semua pihak yang terlibat, dipandang dari sudut perubahan yang mungkin terjadi.
3) Strategi transformatif
Strategi ini menunjukkan bahwa sebelum pengidentifikasian kepentingan diri, diperlukannya pendidikan massa dalam jangka panjang.
36
Selain itu, Suharto (1997) lebih lanjut memaparkan strategi pemberdayaan menjadi istilah 5 (lima) P, yaitu : Pemungkinan, Penguatan, Perlindungan, Penyokongan dan Pemeliharaan (Handini dkk., 2019):
1) Pemungkinan
Pemberdayaan harus mampu membebaskan masyarakat miskin dari sekat-sekat kultural dan struktural yang menghambat. Oleh sebab itu, penting untuk menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat miskin agar dapat berkembang secara optimal.
2) Penguatan
Melalui memperkuat pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki masyarakat miskin dalam memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan hidupnya, pemberdayaan harus mampu menumbuhkembangkan segenap kemampuan dan kepercayaan diri masyarakat miskin yang menunjang kemandirian mereka.
3) Perlindungan
Melindungi masyarakat lemah dan rentan supaya tidak tertindas oleh kelompok kuat, menghindari terjadinya persaingan yang tidak
37
sehat dan seimbang antara yang kuat dan lemah, dan mencegah eksploitasi kelompok kuat terhadap kelompok lemah. Pemberdayaan harus mengarah pada penghapusan diskriminasi dan dominasi yang tidak menguntungkan rakyat kecil.
4) Penyokongan
Pemberdayaan harus mampu menyokong masyarakat miskin agar tidak terjatuh ke dalam posisi yang semakin lemah dan tersingkirkan, dengan cara memberikan bimbingan atau motivasi agar masyarakat miskin dapat menjalankan peran dan tugas-tugasnya dalam kehidupan.
5) Pemeliharaan
Memelihara kondisi yang kondusif agar tetap terjadi keseimbangan distribusi kekuasaan antara berbagai kelompok dalam masyarakat. Pemberdayaan harus mampu menjamin keselarasan dan kesinambungan yang memungkinkan setiap orang memperoleh kesempatan berusaha.
d. Tahap - Tahap Pemberdayaan
Menurut Soekanto (1987) dalam (Maryani & Nainggolan, 2019), pemberdayaan masyarakat
38
memiliki tujuh tahapan atau langkah yang dilakukan, yaitu sebagai berikut:
1. Tahap Persiapan (engagement)
Pada tahapan ini ada dua tahapan yang harus dikerjakan, yaitu: pertama, penyiapan petugas, yaitu tenaga pemberdayaan masyarakat yang bisa dilakukan oleh community worker, tahap ini penting supaya efektivitas program pemberdayaan berjalan dengan baik. Dan kedua, penyiapan lapangan yang pada dasarnya dilakukan secara non-direktif.
2. Tahapan pengkajian (assessment)
Pada tahapan ini yaitu proses pengkajian dapat dilakukan secara individual melalui kelompok-kelompok dalam masyarakat. Dalam hal ini petugas harus berusaha mengidentifikasi masalah kebutuhan yang dirasakan (feel needs) dan juga sumber daya yang dimiliki klien. Dengan demikian program yang dilakukan tidak salah sasaran, artinya sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang ada pada masyarakat yang mengikuti kegiatan pemberdayaan masyarakat. 3. Tahap perencanaan alternatif program atau kegiatan
Pada tahapan ini petugas sebagai agen perubahan (change agent) secara partisipatif mencoba melibatkan warga untuk berfikir tentang masalah
39
yang mereka hadapi dan bagaimana cara mengatasinya. Dalam konteks ini masyarakat diharapkan dapat memikirkan beberapa alternatif program dan kegiatan yang dapat dilakukan. Beberapa alternatif itu harus dapat menggambarkan kekurangan dan kelebihannya, sehingga alternatif program yang dipilih nantinya dapat menunjukkan kegiatan atau program yang paling efektif dan efisien untuk tercapainya tujuan pemberdayaan masyarakat.
4. Tahap pemformalisasi rencana aksi
Pada tahapan ini agen perubahan membantu masing-masing kelompok untuk merumuskan dan menentukan program dan kegiatan apa yang mereka akan lakukan untuk mengatasi permasalahan yang ada. Di samping itu juga petugas membantu untuk memformalisasikan gagasan mereka ke dalam bentuk tertulis, terutama bila ada kaitannya dengan pembuatan proposal kepada penyandang dana. Dengan demikian penyandang dana akan paham terhadap tujuan dan sasaran pemberdayaan masyarakat yang akan dilakukan tersebut.
40
5. Tahap pelaksanaan (implementasi) program atau kegiatan
Dalam upaya pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat peran masyarakat sebagai kader diharapkan dapat menjaga keberlangsungan program yang telah dikembangkan. Kerja sama antar petugas dan masyarakat merupakan hal penting dalam tahapan ini karena terkadang sesuatu yang sudah direncanakan dengan baik melenceng saat di lapangan. Pada tahap ini, supaya seluruh peserta program dapat emmahami dengan jelas akan maksud, tujuan, serta sasarannya, maka program itu terlebih dahulu perlu disosialisasikan, sehingga dalam implementasinya tidak menghadapi kendala yang berarti.
6. Tahap evaluasi
Evaluasi sebagai proses pengawasan dari warga dan petugas program pemberdayaan masyarakat yang sedang berjalan sebaiknya dilakukan dengan melibatkan warga. Dengan keterlibatan warga tersebut diharapkan dalam jangka waktu pendek biasanya membentuk suatu sistem komunitas untuk pengawasan secara internal dan untuk jangka panjang dapat membangun komunikasi masyarakat yang lebih mendirikan dengan memanfaatkan sumber daya yang
41
ada. Pada tahap evaluasi ini diharapkan dapat diketahui secara jelas dan terukur seberapa besar keberhasilan program ini dapat dicapai, sehingga diketahui kendala-kendala yang pada periode berikutnya bisa diantisipasi untuk pemecahan permasalahan atau kendala yang dihadapi itu.
7. Tahap terminasi
Tahap terminasi merupakan tahapan pemutusan hubungan secara formal dengan komunitas sasaran. Dalam tahap ini diharapkan proyek harus segera berhenti. Artinya masyarakat yang diberdayakan telah mampu mengatur dirinya untuk bisa hidup lebih baik dengan mengubah situasi kondisi sebelumnya yang kurang bisa menjamin kelayakan bagi dirinya dan keluarganya.
Keberhasilan dari program atau kegiatan pemberdayaan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh pihak yang melakukan pemberdayaan saja, tetapi juga oleh aktifnya pihak yang diberdayakan untuk mengubah situasi dan kondisi menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Pada dasarnya, pemberdayaan tidak bersifat selamanya, melainkan hanya sementara saja sampai target yang diinginkan tercapai, yaitu masyarakat mampu untuk mandiri dalam menjalani
42
kehidupannya, dan tetap di jaga agar tidak jatuh lagi (Sumodiningrat, 2000).
Masyarakat yang sudah mandiri juga tidak dapat dibiarkan begitu saja. Masyarakat tersebut tetap memerlukan perlindungan, supaya dengan kemandirian yang dimiliki dapat melakukan dan mengambil tindakan nyata dalam proses pembangunan. Dengan demikian, dalam rangka menjaga kemandirian tersebut tetap dilakukan pemeliharaan semangat, motivasi, kondisi, dan kemampuan secara menerus supaya tidak mengalami kemunduran lagi.
e. Indikator Keberhasilan Pemberdayaan
Terdapat beberapa indikator keberhasilan program pemberdayaan menurut Sumodiningrat (1999) dalam (Effendi & Wirawan, 2013), yaitu : 1. Berkurangnya jumlah penduduk miskin.
2. Berkembangnya usaha dan peningkatan pendapatan yang dilakukan oleh penduduk miskin dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. 3. Meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap
upaya peningkatan kesejahteraan keluarga miskin di lingkungannya.
4. Meningkatkan kemandirian kelompok yang ditandai dengan makin berkembangnya usaha produktif anggota dan kelompok, makin kuatnya
43
permodalan kelompok, makin rapinya sistem administrasi kelompok, serta makin luasnya interaksi kelompok dengan kelompok lain di dalam masyarakat.
5. Meningkatnya kapasitas masyarakat dan pemerataan pendapatan yang ditandai oleh peningkatan pendapatan keluarga miskin yang mampu memenuhi kebutuhan pokok dan kebutuhan sosial dasarnya.