• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Temuan

1. Tahap-tahap Pemberdayaan Masyarakat Melalui

Indonesia Membangun (YIIM)

Sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya pada bab III, bahwa Yayasan Inspirasi Indonesia Membangun (YIIM) ini merupakan lembaga yang bergerak di bidang sosial kemanusiaan yang tujuannya untuk membangun kemandirian masyarakat dengan inspirasi kepedulian, toleransi dan nilai - nilai ekonomi. YIIM memiliki empat program unggulan dan salah satunya merupakan program pemberdayaan masyarakat. Hal yang melatarbelakangi dipilihnya ke-empat program di YIIM menjadi program unggulan adalah berdasarkan pada ketentuan SDGs (Suistanable Development Goals) PBB (Perserikatan Bangsa - Bangsa), seperti yang diutarakan oleh Ratih, seorang staff program pemberdayaan di YIIM, sebagai berikut:

“Yang melatarbelakangi dipilihnya program pemberdayaan masyarakat, kalau dari YIIM sendiri dasar dari dipilihnya setiap program terutama program pemberdayaan masyarakat, itu kita berpatokan pada SDGs PBB, yang isinya bahwa tidak boleh ada satu orangpun yang tertinggal, artinya ada di kondisi miskin, kelaparan atau keadaan lemah lainnya, pasti dasarnya itu. Ditambah juga sebelum melakukan kegiatan kan kita banyak

93

melakukan survei, jadi kita lihat dulu kita tahu bahwa memang masyarakat yang kita pilih itu merupakan masyarakat yang betul-betul membutuhkan bantuan.”

Selain atas dasar ketentuan dari SDGs PBB, dalam wawancara lain dengan sekretaris YIIM yaitu ibu Dewi Astari, beliau mengungkapkan bahwa tujuan akhir dari YIIM sendiri adalah untuk dapat menciptakan masyarakat yang mandiri, terutama dari segi ekonominya. Oleh sebab itu, YIIM berusaha membantu dengan memberikan pelatihan-pelatihan diberbagai macam bidang, yang diharapkan nantinya dari pelatihan tersebut akan melahirkan wirausahawan - wirausahawan yang mampu mengangkat perekonomiannya sendiri maupun membantu masyarakat lainnya juga.

“...nah YIIM itu concern dengan kondisi masyarakat yang tidak memiliki kesempatan untuk membuka usaha mandiri, makanya dengan latar belakang seperti itu dan dengan visi misi kita yang ingin memandirikan masyarakat dalam sisi ekoniomi, kami berharap nantinya akan banyak lah muncul masyarakat kita yang menjadi entrepreneur atau wirausahawan, gitu. Nah karena berlatarbelakang itu makanya kita bikin pelatihan, berbagai macam pelatihan lah ya, seperti barista, barbershop, jasa cuci AC, baking class, sablon, dan yang terakhir ini tata rias.”

Seperti yang telah dipaparkan oleh staff program pemberdayaan sebelumnya, target sasaran dari YIIM merupakan kelompok-kelompok rentan dan lemah yang membutuhkan bantuan atau dorongan dari lembaga yang

94

mampu menaungi dan membantu mereka untuk dapat bangkit serta memperbaiki kehidupan mereka. Dalam mencari target sasaran yang tepat, biasanya YIIM bekerjasama dengan beberapa mitra untuk mendapatkan data masyarakat dari berbagai daerah. Seperti yang diungkapkan oleh Ratih, staff program pemberdayaan masyarakat di YIIM, sebagai berikut:

“Jadi kita bekerjasama dengan beberapa komunitas dan balai permasyarakatan juga, jadi memang info-info terkait lokasi dan siapa saja target sasaran yang tepat untuk diberikan bantuan pelatihan, kita dapatkan dari rekan-rekan pengurus yang melakukan survei lapangan, dan juga ada beberapa informasi dari mitra kerja kita dan mungkin juga mendapatkan informasi dari pihak donatur itu sendiri.”

Seperti yang sudah dibicarakan oleh staff program pemberdayaan masyarakat di atas, YIIM disini bekerjasama dengan beberapa mitra dan donatur. Untuk donatur tetap hingga saat ini, pendanaan YIIM untuk berbagai kegiatan berasal dari dana CSR PT. Insight Investment. YIIM tidak hanya melakukan pelatihan-pelatihan saja, melainkan YIIM memiliki program untuk memberikan bantuan hibah modal bagi para alumni pelatihannya, dimana bantuan modal ini diberikan dalam bentuk barang atau alat-alat pendukung untuk membuka usaha mandiri bagi para alumni pelatihan di YIIM. Seperti yang dijelaskan oleh Ratih, staff program pemberdayaan masyarakat di YIIM, sebagai berikut:

95

“Jadi kalo dari kami kan kita mengadakan pelatihan tapi kita gak cuma memberikan pelatihan aja, jadi bisa dibilang kami itu mendampingi dari hulu hingga hilir. Karena kita kan berbeda dengan Balai Latihan Kerja (BLK), kalau YIIM ini kan kita betul-betul kita survei, kita saring pesertanya, siapa sih yang cocok dan tepat untuk diberikan pelatihan, kemudian kita lihat potensi si peserta itu sendiri, biasanya kita tanya-tanya lewat trainner pelatihannya juga, kemudian setelah itu, kita dapet siapa sih yang layak untuk diberikan bantuan modal usaha. Jadi kita biasanya ada monitoring, nah monitoring ini biasanya kita datengin si alumni pelatihannya ini ke rumahnya, kita tanya-tanya ada niatan ngga sih kira-kira buat buka usaha, seperti itu, atau kita tanya, mau mempraktekan ngga pelatihan yang udah pernah diajarkan, gitu. Nah setelah tanya-tanya lewat tranner tadi dan sudah monitoring juga, intinya kita saring dan bicarain betul-betul lah siapa yang cocok sebagai penerima bantuan hibah modal itu, barulah kita tentukan orangnya dan kita hubungi untuk dapat mengambil bantuan tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian yang didapat, YIIM melakukan proses pemberdayaannya kurang lebih melalui 7 (tujuh) tahapan, diantaranya yaitu tahap persiapan (engagement), tahap pengkajian (assessment), tahap perencanaan (Designing), tahap pemformalisasian rencana aksi, tahap pelaksanaan program (implementasi), tahap evaluasi, dan tahap terminasi. Lebih jelasnya dijabarkan sebagai berikut:

a. Tahap Persiapan (Engagement)

Proses persiapan yang dilakukan oleh YIIM sendiri pada saat ingin membentuk dan menjalankan

96

program-programnya ialah menjalin relasi dengan mitra kerja yang bergerak di bidang yang sesuai dengan program pelatihan yang akan dilaksanakan. Kegiatan persiapan ini biasanya dilakukan dengan metode diskusi antar pengurus dan staff Yayasan. Hal tersebut dimaksudkan agar program kegiatan yang berlangsung nantinya akan berjalan dan membuahkan hasil yang maksimal karena telah didukung oleh mitra ahli yang bergerak dibidangnya. Seperti misalnya, saat ingin melakukan program pelatiihan baking class, YIIM melakukan engagement dengan mitra Titan Baking. Sebagaimana penuturan Ratih, staff program pemberdayaan masyarakat di YIIM, sebagai berikut:

“Kalo untuk YIIM sendiri sih untuk saat ini kita berusaha untuk membangun kerjasama dengan pihak ke-dua ya, mengingat dengan kita bekerjasama dengan mitra pihak ke-dua itu kita nantinya jadi punya jaringan masa untuk dapat mencari calon peserta yang memang tepat sasaran di lembaga pemasyarakatan. Kita kan jadi tau bahwa banyak masyarakat yang seperti misalnya klien-klien Bapas setelah mereka keluar kan mereka harus bisa survive di masyarakat untuk mengembalikan keadaan normal mereka lagi di masyarakat, jadi YIIM berusaha untuk merangkul semua kalangan masyarakat, yang salah satunya itu bisa untuk menjaring calon peserta yang tepat sasaran.”

Dari hasil wawancara di atas, diketahui bahwa pada tahapan pertama ini YIIM berusaha membangun relasi dengan beberapa mitra yang sejalan dengan

97

kebutuhan YIIM. Dengan langkah tersebut, maka nantinya YIIM juga akan mendapatkan kelompok sasaran yang sesuai dengan target yang telah ditetapkan dan akan melakukan engagement dengan kelompok sasaran (masyarakat) secara langsung pada saat diadakannya program kegiatan. Proses penjalinan relasi dengan mitra kerja biasanya dilakukan YIIM melalui tahap penyerahan MOU kepada mitra kerja yang bersangkutan. Di samping itu, YIIM juga melakukan persiapan petugas serta persiapan lapangan agar nantinya pelaksanaan program dapat berjalan dengan baik dan maksimal. Dalam tahapan ini terdapat beberapa elemen yang terlibat, yaitu pihak YIIM sendiri yang meliputi pengurus, staff program hingga relawan, pihak mitra kerja, dan juga elemen masyarakat penerima manfaat. Hasil dari tahap persiapan ini yaitu, YIIM memiliki relasi luas dengan para mitra yang sejalan dalam bidang yang sama dengan program yang dilaksanakan oleh YIIM.

Disamping itu, YIIM juga melakukan persiapan perihal kebutuhan yang akan digunakan saat kegiatan pelatihan berlangsung. Seperti misalnya persiapan untuk mencari target sasaran, persiapan alat pendukung acara, dan lain sebagainya. Seperti yang dijelaskan Ratih, dalam wawancara berikut:

98

“Kalo untuk tahapan persiapan awalnya pasti kita mengadakan meeting tim, terus kita bahas semacam tentang rekrutmen peserta, kemudian juga membahas tentang pembuatan flyer, menentukan pelatih atau trainnernya siapa, sama menunya juga. Ada beberapa trainner yang kita kerjasama sama mitra, terus ada juga yang dari alumni pelatihan juga. Jadi alurnya paling pertama sih biasanya kita buat flyer dulu, terus kita sebar untuk cari sasaran juga, terus si calon peserta itu ngisi form yang kita kasih gitu, biasanya butuh waktu sekitar 3-4 hari untuk proses rekrutmen itu. Lalu kita lihat lagi sesuai dengan syarat dan ketentuan dari YIIM, misalnya dia punya SKTM, terus liat juga pemasukannya berapa, pengeluaran berapa, tanggungannya berapa, status dia single atau menikah atau janda kah, ya pokoknya kita saring bareng tim pengurus. Karena kan kita kuotakan juga pesertanya, biasanya 15 sampai 20 sih buat jaga jaga. Lalu sama pengurus dipilih lagi, nanti sesudah itu kita hubungin lagi si peserta itu, kita share jadwal kegiatan kita, biasanya kita buat grup whatsapp, biasanya sih gitu kalo untuk peserta. Nah kalau untuk trainner sendiri, biasanya ketika selama proses pelatihan, kita udah mulai komunikasi sama trainner, kita bahas kita mau buat kegiatan apasih, persiapan menu juga, kita biasanya kalo sekali kegiatan sih biasanya kita persiapin dua menu ya, gitu ajasih.

99 Gambar 4. 9 Mitra kerja YIIM

Sumber : Proposal kegiatan Baking Class YIIM

Berdasarkan gambar di atas, diketahui bahwa YIIM sendiri melakukan kerjasama dengan beberapa mitra kerja yang sesuai atau sejalan dengan jenis kegiatan pelatihan yang akan dilaksanakan oleh YIIM. Mitra kerja ini juga dibagi lagi menjadi beberapa bagian, seperti misalnya mitra donatur, mitra penyedia calon peserta pelatihan, dan juga mitra trainner atau pemateri yang biasanya juga sebagai

100

mitra penyedia tempat untuk pelatihan. Dengan bekerjasama dengan banyak mitra seperti itu, maka akan lebih memungkinkan bagi YIIM dalam memaksimalkan setiap program yang ada, dan diharapkan juga dapat lebih banyak membantu masyarakat luas yang membutuhkan.

Tabel 4. 1

Persiapan kebutuhan kegiatan pelatihan Keperluan Pelatihan

Baking Class

Menu pelatihan Baking Class

 Pembelian bahan baku pelatihan.

 Sewa peralatan masak.  Sewa tempat (apabila

lokasi diluar kantor YIIM)

 Fee chef pelatihan baking class  Konsumsi  Goodiebag  Transportasi (biaya bensin, e-toll)  Komunikasi : pembelian pulsa untuk rekrutmen calon peserta hingga hari pelaksanaan pelatihan  ATK (notebook, pulpen,

fotocopy, dll.)

 Mater promosi (flyer,

 Kue kering (Kastngel, nastar, cheese stick, aneka kue pie)

 Kue basah (bolu gulung batik, brownies, donat)  Jajanan pasar (pastel, kue

mangkok, risol, dadar gulung, kue bola)

 Mie ayam sehat

 Aneka dimsum dan bapao  Makaroni skotel

 Ayam crispy  Pizza

101 spanduk, giant card)  Media

 Dokumentasi (foto dan video)

Sumber : Proposal kegiatan Baking Class YIIM

Berdasarkan gambar di atas, diketahui bahwa pada tahap persiapan ini, YIIM juga mempersiapkan alat-alat dan semua kebutuhan yang diperlukan untuk kegiatan pelatihan keterampilan baking class. Salah satu kebutuhannya yaitu terkait menu masakan yang akan didemokan saat kegiatan pelatihan nanti. Menu yang dipilih oleh YIIM merupakan menu-menu masakan yang telah disurvei dan diketahui memiliki peluang besar untuk dapat dipasarkan di masyarakat luas. Menunya pun dicari yang ekonomis dan terjangkau, serta sesuai dengan target pemasaran masing-masing peserta.

b. Tahap Pengkajian (Assessment)

Tahapan kedua ini diartikan sebagai pengumpulan sekaligus penggalian informasi lebih lanjut mengenai permasalahan yang dirasakan oleh masyarakat. Pada tahapan assessment ini, pihak YIIM bersama dengan trainner pelatihan yang berasal dari mitra kerja yang telah disepakati di tahap engagement sebelumnya, bekerjasama untuk dapat mengidentifikasi serta mengkaji masalah-masalah serta potensi-potensi yang

102

dimiliki oleh kelompok sasaran masyarakat. Dimana dalam hal itu, masyarakat sendiri juga menyadari bahwa mereka harus memperbaiki kehidupannya dengan cara mengembangkan kemampuan yang dimilikinya untuk mencari solusi dari permasalahan yang mereka miliki. Sama halnya dengan tahap persiapan, tahap pengkajian ini juga dilakukan dengan metode diskusi internal antar pengurus dan staff di YIIM. Dalam hal ini, peran YIIM dituntut aktif untuk dapat melakukan assessment dengan baik dan menyeluruh sebagaimana yang telah dilakukan YIIM untuk dapat mengenali masalah apa yang sedang dialami oleh masyarakat dan bagaimana cara atau solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Seperti hasil wawancara peneliti dengan Ratih, selaku staff program pemberdayaan, sebagai berikut:

“Kalo untuk menggali masalah dan potensi si calon peserta pelatihan sih kita lihat dari form yang diisi oleh si calon peserta waktu kita proses pencarian sasaran itu. Dan biasanya kita juga ada diskusi dengan trainner, karena kan trainner yang mengetahui waktu di lapangan, bahwa si peserta ini mampu nggak untuk diberikan proses pemberdayaan selanjutnya, atau biasanya kita diskusi juga sama pihak pengurus.”

Ibu Dewi Astari selaku sekretaris YIIM pun mengatakan dalam sebuah wawancara, sebagai berikut:

“...biasanya kan kita survei langsung juga untuk mencari target sasaran, nah disitu juga sekalian kita interview si calon penerima manfaatnya. Kita gali apa yang lagi dirasakan oleh mereka,

103

kita tanya dan amati juga kira-kira potensi yang mereka miliki tuh apasih, yang sekiranya bisa dijadikan peluang untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang mereka rasakan. Kita kan kerjasama juga ya dengan Bapas, LPSK juga, dan beberapa komunitas, nah jadi nanti mereka istilahnya menyetorkan beberapa nama ke kita untuk kita saring dan pilih siapa yang berhak untuk menerima pelatihan keterampilan di YIIM, gitu mba”

Dari hasil wawancara dengan Ibu Dewi dan Mba Ratih di atas, peneliti memahami bahwa masyarakat yang menjadi penerima manfaat program pelatihan di YIIM memang benar-benar merasa bahwa mereka perlu melakukan tindakan untuk dapat membawa kehidupannya ke arah yang lebih baik, khususnya dalam segi ekonomi. Maka dengan begitu, para calon penerima manfaat yang telah di rekomendasikan oleh mitra kerja YIIM, mereka antusias dan semangat untuk menerima kesempatain baik tersebut untuk mengikuti pelatihan atas kemauan dan kesadarannya sendiri. Selain melakukan pengkajian melalui trainner pelatihan, YIIM juga melakukan wawancara langsung kepada calon penerima manfaat pada proses pencarian sasaran program. Data yang didapat saat itu juga dijadikan acuan untuk proses pengkajian masalah serta potensi lebih lanjut. Dalam kegiatan pengkajian masalah (assesssment) ini biasanya melibatkan pihak pengurus YIIM dan juga trainner kegiatan pelatihan.

104 Tabel 4. 2

Standar dan ketentuan calon peserta

Pelatihan / training baking class

Penentuan target group

peserta, anatara lain :

 Warga binaan Badan Pemasyarakatan.  Ibu-ibu atau janda yang menjadi sumber

penghasilan keluarga untuk membiayai kebutuhan bulanan anak-anaknya.  Kaum difable, hanya terbatas pada cacat

kaki.

 Individu yang termasuk dalam kategori kelompok masyarakat miskin dan kurang beruntung yang telah ditentukan YIIM. Kategori kelompok masyarakat miskin dan kurang beruntung

 Memiliki Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari Kelurahan tempat tinggalnya.

 Tagihan rekening listrik maksimal Rp. 200.000 per bulan.

 Hasil survey tempat tinggal.  Interview langsung (assessment). Sumber : Proposal kegiatan Baking Class YIIM

Berdasarkan penjelasan serta gambar di atas, diketahui bahwa pada tahap pengkajian ini YIIM betul-betul mengkaji serta memilih calon peserta yang benar-benar sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Ada beberapa standar dan ketentuan yang ditetapkan oleh YIIM untuk proses penyaringan calon peserta pelatihan. Standar dan ketentuan tersebut tertera pada tabel 4.2, hal itu dimaksudkan agar nantinya masyarakat yang terpilih sebagai penerima manfaat pelatihan keterampilan di YIIM benar-benar sudah sesuai dengan target dan tepat sasaran.

105

Disamping proses penyaringan peserta, pihak YIIM juga melakukan assessment secara mendalam melalui proses interview langsung dengan para calon peserta, agar didapatkan hasil terkait masalah dan potensi yang dirasakan dan dimiliki oleh masyarakat tersebut.

c. Tahap Perencanaan (Designing)

Pada tahap perencanaan ini, pihak YIIM biasanya telah menetapkan rencana program berdasarkan kesepakatan pendirinya sejak awal YIIM didirikan yaitu pada tahun 2014. Namun, terkait jenis pelatihan pemberdayaan yang diberikan, YIIM melakukan dengan cara diskusi dan riset lapangan untuk dapat mengetahui jenis pelatihan apa yang akan diberikan. Riset yang dilakukan biasanya dilihat dari apa saja jenis profesi ataupun pekerjaan yang peluangnya besar untuk mendapatkan uang dari berwirausaha tersebut, terlebih lagi pada saat era pandemi seperti sekarang ini. Seperti yang dijelaskan oleh Ibu Dewi, sekretaris YIIM, sebagai berikut:

“Kalo untuk perencanaan program itu ada di pengurus, tapi juga berdasarkan saran dan masukan dari para mitra, dan para penerima manfaat juga. Jadi kan kadang ada si penerima manfaat yang ngasih masukan, tolong dong adain pelatihan skill ini (tata rias). Nah tata rias itu berangkat dari masyarakat juga, dari masukan mereka di medsosnya YIIM. Karena kan keperluan tata rias kan sekarang sedang tinggi, ya

106

setelah kami lakukan riset tentunya, ternyata itu bagus juga untuk dijadikan pelatihan keteraampilan yang kita berikan kepada masyarakat. Dan kami juga sudah melakukan riset, jadi pekerjaan-pekerjaan seperti barista dan profesi-profesi yang kami latih itu, itu return mendapat peluang dan mendapatkan penghasilan dari wirausaha itu kesempatannya sangat besar dengan kondisi saat ini.”

Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Dewi, diketahui bahwa pada tahap perencanaan ini yang paling banyak terlibat adalah pengurus YIIM sendiri. Namun di samping itu, YIIM biasanya juga menerima aspirasi atau masukan dari penerima manfaat dan para mitra. Saran atau masukan tersebut biasanya diungkapkan melalui beberapa komentar di media sosial YIIM sendiri. Berangkat dari hal tersebut, YIIM juga tetap menyaring masukan yang diterima dari media sosialnya, dan tak jarang pula YIIM menjadikan masukan tersebut sebagai jenis pelatihan keterampilan untuk kegiatan berikutnya.

Tabel 4. 3

Alur pelatihan keterampilan Baking Class Pelatihan

/ training baking class

1. penentuan target group peserta.

2. Seleksi peserta. 3. Perektrutan peserta. 4. Penentuan kerjasama

dengan pihak ketiga,

1. Lokasi pelatihan akan diselenggarakan di YIIM, Dapur Titan Baking (mitra) atau balai desa, puskesmas, ataupun

107 ex: pelatih, mitra, sponsor.

5. Pelaksanaan pelatihan. 6. Penyediaan

perlengkapan, peralatan, dan bahan pelatihan.

7. Pembantuan pemberian modal peralatan. 8. Menghubungkan

dengan koperasi kredit untuk membantu permodalan penerima manfaat.

9. Pembuatan laporan dan database peserta pelatihan dan penerima bantuan modal.

10. Melakukan kunjungan dan komunikasi via telepon untuk mengetahui

perkembangan usaha para penerima bantuan modal peralatan baking. 11. Melakukan pemberdayaan penerima bantuan tempat lainnya. 2. Setiap pelatihan maksimal diikuti oleh dua puluh orang peserta

3. Pelatihan diadakan sebanyak enam kali dalam setahun. 4. Peserta pelatihan

yang memenuhi kriteria dan memiliki kesiapan untuk memulai usaha atau ingin

mengembangkan usaha yang dirintis, akan diberikan bantuan modal peralatan baking. 5. Update database perkembangan usaha para penerima bantuan modal peralatan baking. 6. Penerima bantuan modal peralatan baking menjadi narasumber kelas kewirausahaan

108 modal peralatan baking untuk memberikan kontribusi pada kegiatan YIIM.

YIIM.

7. Penerima bantuan akan dihimbau untuk memberikan donasi berupa keahlian dan materi yang ia mampu dan tidak memberatkan. Sumber : Proposal kegiatan Baking Class YIIM Tabel 4.3 di atas menjelaskan tentang alur serta perencanaan kegiatan pelatihan keterampilan berdasarkan hasil assessment oleh YIIM di tahap sebelumnya. Alur yang direncanakan oleh YIIM sendiri mencakup proses penentuan target group hingga proses pemberian modal bantuan bagi para peserta yang memiliki keinginan untuk membuka usaha mandirinya. YIIM juga melakukan survei terkait profesi-profesi apa saja yang memiliki peluang besar untuk mendapatkan penghasilan dari hasil usaha tersebut. Jadi, untuk menentukan jenis pelatihan keterampilan apa yang akan dilaksanakan, melihat lagi kepada hasil survei profesi dan juga berdasarkan hasil assessment ditahap sebelumnya.

d. Tahap Pemformalisasi Rencana Aksi

Pada tahapan pemformalisasi rencana aksi ini biasanya agen perubahan membantu masyarakat untuk

109

merumuskan dan menentukan program dan kegiatan apa yang mereka akan lakukan untuk mengatasi permasalahan yang ada. Namun dalam hal ini, pihak YIIM belum memiliki tenaga pekerja sosial profesional, sehingga peran pengurus YIIM sendiri lah yang menjadi agen perubahan untuk merangkul dan membantu masyarakat dalam mengakses program-program yang dapat memperbaiki kehidupannya. YIIM sendiri pada dasarnya tidak melewati tahap pemformalisasi rencana aksi dengan melibatkan masyarakat, melainkan hanya melibatkan pengurus internal YIIM saja, seperti yang dipaparkan oleh Ratih selaku staff pelaksana program, sebagai berikut:

“iya jadi karena program kerja kita kan sudah sesuai dengan program kerja saat awal YIIM berdiri, jadi yang membedakan hanya jenis kegiatannya saja. Maka dari itu disini para pengurus yang biasanya melakukan perumusan dan perencanaan program, dan kadang juga atas dasar masukan para peserta juga untuk jenis kegiatannya. Jadi untuk tahap formalisasi rencana program biasanya kami lakukan secara individu dengan tim pengurus saja, tidak melibatkan masyarakat ke dalam diskusi program kami, melainkan hanya kami ambil aspirasi mereka yang tertulis di media sosial kami”

Dari penjelasan di atas, Ratih menuturkan bahwa untuk tahapan pemformalisasi rencana aksi yang dilakukan bersama masyarakat biasanya tidak dilakukan

Dokumen terkait