BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
C. Pemberdayaan Masyarakat Petani
Sebelum diuraikan konsep pemberdayaan, maka terlebih dahulu akan di berikan tentang pemberdayaan yang di kenal dalam bahasa inggris yaitu Empowerment adalah sebuah konsep yang lahir sebagai bagian dari
perkembangan alam pikiran masyarakat dan kebudayaan barat terutama di Negara-negara eropa memahami konsep pemberdayaan secara benar, memerlukan upaya pemahaman latar belakang konseptual yang melahirkannnya. konsep pemberdayaan telah luas di terima dan di gunakan, mungkin dengan pengertian dan persepsi satu engan yang lain. Pemakain konsep tersebut secara kritikal meminta adanya telah yan mendasar dan jernih.
Konsep pemberdayaan menekankan paada proses memberikan atau mengalihkan sebagain kekuasaan atau kemampuan (power) kepada masyarakat, organisasi atau individu agar menjadi lebih berdaya. selanjutnya menekankan kepada proses mestimulasi proses, mendorong dan memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau pemberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi pilihan hidupnya (Pranaka dalam Sedarmayanti, 2003).
Pemberdayaan merupakan langkah yang penting untuk mengembangkan individu atau masyarakat yang lemah karena dengan pemberdayaan maka masyarakat yang lemah akan membebaskan diri mereka sendiri dari keterpeurukan sebagaimana menurut Madekhan Ali (2007) yang mendefinisikan pemberdayaan masyarakat adalah sebagai sebuah bentuk partisipasi untuk membebaskan diri mereka sendiri dari ketergantungan mental maupun fisik
Proses pemberdayaan sendiri Menurut Fauziah dalam Widjayanti (2011) mempunyai pengertian sebagai siklus atau proses yang melibatkan masyarakat untuk bekerjasama dalam kelompok formal maupun nonformal dalam melakukan kajian masalah, merencanakan, melaksanakan, dan melakukan evalusasi terhadap program yang telah direncanakan bersama
Dilihat dari aspek manusia sebagai aktor utama pembangunan, maka pemberdayaan juga dapat berarti proses untuk mengaktualisasikan agar dapat terpenuhi kehidupan sesuai dengan harkat dan martabat manusia, didalamnya terkandung tiga nilai yaitu kelestarian hidup, harga diri dan kebebasan (Soetomo, 2006)
Pengertian pemberdayaan yang dikemukakan oleh (Suhendra dalam Sukmawati, 2012) mengatakan pemberdayaan adalah suatu kegiatan yang berkesinambungan, dinamis, secara sinergis mendorong keterlibatan semua potensi.dengan demikian secara ini akan memungkinkan terbentuknya masyarakat madani yang majemuk, penuh keseimbangan kewajiban dan hak, saling hormat menhormati tanpa ada yang merasa asing dalam komunitasnya.
pemberdayaan menurut (Wrihatnolo dalam Sukmawati, 2012) menyatakan bahwa pemberdayaan adalah “ sebuah proses”, bukan sebuah “ proses instan “ sebagai proses, pemberdayaan mempunyai tiga tahapan yaitu : penyadaran, pengkapasitasan, dan pendayaan.
Menurut Ismail Said dalam Sukmawati (2012) mengatakan bahwa pemberdayaan adalah upaya memberikan otonomi, wewenang dan kepercayaan
agar dapat merampungkan tugasnya sebaik mungkin. selanjutnya (Kristiadi dalam Sukmawati, 2012) melihat bahwa ujung dari pemberdayaan masyarakat
harus membuat masyarakat menjadi mawas diri, mampu mengurus dirinya sendiri, swadana, mampu membiayai keperluan sendiri sacara berkelanjutan. Jadi pemberdayaan dapat disimpulkan adalah upaya menggalang potensi yang ada di masyarakat secara praktis dan produktif untuk mencapai tujuan dengan pemberian
daya dan kekuatan untuk melaksanakan tugas ataupun target yang dicapai menurut (Mardikanto, 2012) pemberdayaan merupakan implikasi dari strategi pembangunan yang berbasis pada masyarakat terkait dengan hal ini, pembangunan, apapun pengertian yang di berikan terhadapnya, selalu merujuk pada upaya perbaikan pada mutu-mutu manusia, baik secara fisik, mental, ekonomi, maupun sosial budaya.
Sumaryadi (2005) pemberdayaan masyarakat merupakan upaya mempersiapkan masyarakat seiring dengan langkah-langkah upaya memperkuat kelembagaan masyarakat agar mereka mampu mewujudkan kemajuan, kemandirian, dan kesejahteraan dalam suasana keadilan sosial yang berkelanjutan.
Kebijaksanaan pemberdayaan masyarakat secara umum dapat dipilah dalam tiga kelompok.Pertama, kebijaksaaan yang secara tidak langsung mengarah pada sasaran tetapi memberikan dasar tercapainya suasana yang mendukung kegiatan sosial ekonomi rakyat, kedua, kebijaksanaan yang secara langsung mengarah pada peningkatan kegiatan ekonomi kelompok sasaran.ketiga, kebijaksanaan khusus yang menjangkau masyarakat miskin melalui upaya khusus.
Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya membangun kemampuan masyarakat dan memberdayakan sumber daya manusia yang ada melalui pengembangan kelembagaan sarana dan prasarana serta pembangunan tiga p (pendampingan, penyuluhan, dan pelaksanaan). Pendampingan yang dapat menggerakkan partisipasi total masyrakat, penyuluhan dan merespons dan memantau ubahan-ubahan yang terjadi dimasyarakat, dan pelayanan yang
berfungsi sebagai unsur pengendali ketepatan distribusi asset sumber daya fisik dan non fisik yang diperlukan masyarakat (Vitalaya,2000)
Dalam pemberdayaan masyarakat tentunya pemerintah berperan penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagaimana yang tercantum dalam pasal 1ayat 2 Undang-undang no 19 tahun 2013 tentang perlindungan dan pemberdayaan petani bahwa pemberdaya adalah segala upaya untuk meningkatkan kemampuan petani untuk melaksanakan usaha tani yang lebih baik melalui pendidikan dan pelatihan, penyuluhan dan pendampingan, pengembangan sistem dan sarana pemasaran hasil pertanian, konsolidasi dan jaminan luasan lahan pertanian, kemudahan akses ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi serta penguatan kelembagaan petani.
Ada Amandemen Kedua Undang-Undang Dasar 1945 tahun 2000 Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) telah banyak di letakkan dasar-dasar politik pemberdayaan masyarakat yaitu:
a. Pasal 28A
setiap orang berhak untuk hidup serta mempertahankan kehidupannnya b. Pasal 28B
1) Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui keturunan melalui keturunan yang sah.
2) Setiap anak berhak atas kelangsungan hidu tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskrimasi
c. Pasal 28C
1) Setiap orang berhak mengembangkan diri elalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh mamfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi menigkatkan kualitas kehidupannya dan demi kesejahteraan ummat manusia
2) Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk masyarakat bangsa dan Negara.
d. Pasal 28D
1) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.
2) Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja.
3) setiap warga Negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan. (Haswan, 2011)
Pemberdayaan dapat mendorong tumbuh dan berkembangnya kreatifitas dan inovasi, mampu mendayagunakan model intelek, sehingga seluruh masalah yang dihadapi dapat di selesaikan dengan cepat dan tepat (Sedarmayanti, 2003)
Pemberdayaan masyarakat secara umum mempunyai tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melaui pemberdayaan pemerintah mengupayakan berbagai program pembangunan sehingga masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan hidup dalam pemenuhan kebutuhannya.
Menurut Ibrahim (2009) konsep pemberdayaan bertujuan untuk memberdayakan masyarakat, baik dalam bentuk kelompok sebagai strategi utama
tanpa mengabaikan pemberdayaan peroranagan. Berdasarkan pendapat tersebut pemberdayaan masyarakat yaitu untuk memberdayakan masyarakat secara merata.
Suharto (2010), sebagai tujuan, maka pemberdayaan menunjuk pada keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh sebuah perubahan sosial, yaitu masyaraka yang berdaya, memiliki kekuasaan atau mempunyai pengetahuan dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik yang bersifat fisik, ekonomi maupun sosial seperti memiliki kepercayaan diri mampu menyampaikan aspirasi mempunyai mata pencaharian berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan mandiri dalam melakukan tugas-tugas kehidupannya.
Tujuan pemberdayaan dalam pembagunan pertanian di arahkan pada terwujudnya perbaikan teknis bertani, perbaikan usahatani, dan perbaikan petani dan masyarakat.untuk mencapai bentuk perbaikan yang di sebutkan diatas masih memerlukan perbaikan- perbaikan lain yang menyangkut Departemen Pertanian (Mardikanto dan Soebiato, 2012):
a. Perbaikan kelembaaan pertanian demi terjalinnya kerjasama dan stackeholder.
b. Perbaikan kehidupan masyarakat yang tercermin dala perbaikan pendapatan, stabilitas keamanan dan politik, yang sangat di perlukan bagi terlaksanaya pembangunan yang merupakan sub-sistem pembangunan msyarakat.
c. Perbaikan usaha dan lingkungan hidup demi usaha kelangsungan taninya Mardikanto (2012) menambah satu hal lagi yang menyangkut pentingnya perbaikan eksabilias petani dan pemangku kepentingan pembangunan pertaniaan yang lain baik terhadap sumber inovasi, input usaha tani ( kredit, sarana produksi,
alat dan mesi pertaniaan ), pasar dan jaminan harga, serta pengambilan keputusan politik.
Hal ini terutama dilandasi oleh pernyataan Hadisapoetra (Mardikanto dan Soebiato, 2012) yang menyebutkan bahwa petani-peani kecil yang merupakan pelaku utama pembangunan pertanian di indonesa pada umunya termasuk golongan ekonomi lemah, yang lemah dalam hal permodalan, penguasaan dan penerapan teknologi, dan sering kali juga lemah semangtanya untuk maju karena sering kali di jadikan objek pemaksaan oleh birokrasi maupun penyuluhnya sendiri.
Tujuan pemberdayaan meliputi upaya perbaikan sebagai berikut:
1. Perbaikan pendidikan ( better education)
Dalam arti bahwa pemberdayaan harus di rancang sebagai suatu bentuk pendidikan yang lebih baik.perbaika yang dialakukan melalui pemberdayaan tidak terbatas pada: perbaikan serta hubungan materi, perbaikan metoda, perbaikan yang menyangkut tempat dan waktu, serta hubungan fasilitator dan penerima mamfaat, tetapi yang lebih penting adalah perbaikan pendidikan.
pendidikan yang mampu menumbuhkan belajar semagat hidup 2. Perbaikan eksabilitas (better accessibility )
Tumbuh dan berkembangnya semangat belajar seumur hidup, diharapkanakan memperbaiki eksabilitasnya utamanya tentang eksabilitas dengan sumber informasi atau inovasi, sumber pembiayaan, penyedia produk dan peralatan lembaga pemasaran.
3. Perbaikan tindakan (better action )
Dengan bekal perbikan pendidikan dan eksebilitas dengan bergam sumber daya yang lebih baik di harapkan akan terjadi tindakan-tidakan yang semakin baik.
4. Perbaikan kelembagaan (better instritusion )
Perbaikan tindakan yang dilakukan, diharapkan akan memperbaiki kelembaga an termasuk pengembangan jejaring kemitra usahaan
5. Perbaikan usaha (better business)
Perbaikan pendidikan, peraikan eksabilitas, kegiatan, dan perbaikan bisnis yang dilakukan.
6. Perbaikan pendapatan (better income)
Terjadinya perbaikan bisnis yang di lakukan di harapkan dapat memperbaiki pendapatan yang diperolehnya, termasuk pendapatan keluarga dan masyarakat.
7. Perbaikan lingkungan (better environment )
Perbaikan pendapatan di harapkan dapat memperbaiki lingkungan (fisik dan social), karena kerusakan pada lingkungan seringkali di sebabkan oleh kemikinan atau pendapatan yang terbatas.
8. Perbaikan kehidupan (better living )
Perbaikan pendapatan dan keadaan lingkungan yang membaik diharapkan dapat memperbaiki keadaan kehidupan setiap keluarga dan masyarakat.
9. Perbaikan masyarakat (better community)
Keadaan kehidupan yang lebih baik, yang di dukung oleh lingkungan (fisik dan sosial) yang lebih baik di harapkan akan terwujud kehidupan masyarakat yang lebiih baik pula. (Mardikanto, 2013).
Fasilitas pemberdayaan masyarakat menurut (Mardikanto, 2012) memiliki beberapa ragam diantaranya penyuluh atau fasilitator, penyuluh atau fasilitator dan peran fasilitator. (Leving dalam Mardikanto, 2012) mengenalkan adanya 3 (tiga) macam peran penyuluh yang terdiri atas kegiatan- kegiatan.
a. Pencairan diri dengan masyarakat sasaran.
b. Menggerakkan masyarakat untuk melakukan perubahan.
c. Pemantapan hubungan dengan masyrakat sasaran.
Ketiga macam peran tersebut oleh ( Lippit dalam Mardikanto, 2012) dikembangkan menjadi beberapa peran lain yang lebih rinci yaitu:
1. Pengembangan kebutuhan untuk melakukan perubahan- perubahan, dalam tahapan ini, setiap penyuluhatau fasilitator harus mampu memainkan perannya pada kegiatan-kegiatan.
2. menggerakkan masyarakat-masyarakat untuk melakukan perubahan.
3. memantapkan hubungan dengan masyarakat penerima mamfaatnya.
Mardikanto (2012) menyampaikan beragam peran penyuluh atau fasilitator permberdayaan masyarakat yang disebutnya sebagai esdfikasi, yaitu akronim dari:
a. Peran edukasi, yaitu berperan sebagai pendidik dalam arti untuk mengembang kan proses belajar bersama penerima mamfaatnya, dan terus menanamkan pentingnya belajar sepanjang hayat kepada penerima mamfaatnya.
b. Peran fasilitasi, yaitu memberikan kemudahan dan atau menunjukkan sumber-sumber kemudahan yang diperlukan oleh penerima mamfaat dan pemangku kepentingan kepentingan yang lain.
c. Peran konsultasi, yaitu sebagai penasehat atau pemberi alternatif pemecahan masalah yang dihadapi oleh masyarakat penerima manfaatnya dan pemangku kepentingan yang lain.
d. Peran advokasi, yaitu memberikan bantuan kaitannya dengan rumusan masalah atau pengambilan keputusan kebijakan yang berpihak kepentingan masyarakat penerima manfaat (utamanya kelompok kelas-bawah).
Pemberdayaan petani menurut Kepala Badan SDMP dilakukan dengan 5 (lima) jurus yakni :
1) Kegiatan agrisbisnis harus berorientasi pasar (kuantitas, kualitas, dan kontinuitas).
2) Usaha agribisnis harus menguntungkan dan comparable dengan usaha lainnya.
3) Agribisnis merupakan kepercayaan jangka panjang.
4) Kemandirian dan daya saing usaha.
5) Komitmen terhadap kontrak usaha.
Den Ban dan Hawskin (1999) adapun beberapa hambatan- hambatan yang dihadapi penyuluh pertanian
1. Rendahnya sumber daya manusia yaitu penyuluh bertanggung jawab untuk meniadakan hambatan yan disebabkan oleh rendahnya sumber daya manusia 2. Teknologi tepat guna tidak tersedia untuk mencapai petani yang efektif
D. Kerangka Pikir
Berdasarkan berbagai konsep yang telah dikemukakan sebelumnya dapat disusun suatu kerangka teoritik atau kerangka pemikiran sebagai berikut.
Upaya yang dilakukan penyuluh agar terlaksananya pemberdayaan petani jagung yang lebih kreatif di Kelurahan Tanah Lemo Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba, maka peran penyuluh sangat diperlukan. Maka dari itu agar tercapainya peran penyuluh dalam pemberdayaan petani jagung maka ada beberapa indikator-indikator pemberdayaan yang mempengaruhinya yaitu, pertama, edukasi, yaitu memberi materi dan pemahaman kepada kelompok tani bagaimana cara bertani yang baik agar mendapat hasil yang bagus. Kedua, fasilitasi, yaitu memberi fasilitas kepada petani untuk mempermudah saat melakukan suatu pekerjaan. Ketiga, konsultasi, dimana petani dapat menyampaikan hal-hal yang menjadi permasalahan-permasalahan yang dihadapinya. Keempat, advokasi, dalam pemberdayaan masyarakat dalam hal untuk menumbuhkan partisipasi dan melindungi masyarakat serta mendukung penyuluh dalam pelaksanaan-pelaksanaannya untuk mensejahterakan petani, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab dari penyuluh kepada petani dalam mengenai hal kekecewaan yang dirasakan petani jika adanya suatu diskriminasi. Dari keempat indikator tersebut jika dapat dilaksanakan secara baik maka akan tercipta masyarakat yang sejahtera serta mandiri. untuk lebih jelasnya kerangka pikir dapat dilihat sebagai berikut
Bagan Kerangka Pikir
E. Fokus Penelitian
Berdasarkan uraian dari kerangka pikir diatas, maka fokus penelitaan ini adalah terkait peran penyuluh tani dalam pemberdayaan petani jagung yang di lihat dari empat fokus peneltian yaitu edukasi, fasilitasi, konsultasi, dan advokasi.
F. Deskripsi Fokus Penelitian
Guna memberikan keseragaman pengertian mengenai objek penelitian, berikut ini diuraikan beberapa diskripsi fokus:
Peran Penyuluhan Pertanian Dalam Pemberdayaan Petani
Jagung
Indikator pemberdayaan 1. Edukasi
2. Fasilitasi 3. Konsultasi 4. Advokasi
Faktor penghambat 1.Rendahnya sumber
daya manusia
2.Kurangnya teknologi
Kesejahteraan masyarakat petani
jagung
1. Edukasi adalah memberikan materi pembelajaran kepada para petani bagaimana cara bertani yang baik agar mendapat hasil tani yang banyak dan berkualitas serta meninggalkan cara-cara bertani yang lama yang kurang menguntungkan
2. Fasilitasi adalah peran pemerintah dalam mendampingi para petani dalam mengambil keputusan mengenai masalah yang dihadapi anggota kelompok tani baik yang berkaitan masalah teknilk atau non teknis serta pemerintah juga harus menfasilitasianggota kelomppok tani agar lebih mudah memperoleh sarana produkdi seperti bibit, pupuk
3. Konsultasi yaitu pemerintah sebagai konsultan memberi bantuan kepada para petani dalam memecahkan masalah, dan anggota kelompok tani dapat berkonsultasi pada pemerintah baik pada saat bertugas ataupun saat tidak bertugas agar masalah yang dihadapi dapat terpecahkan
4. Advokasi yaitu memberi bantuan kepada anggota kelompok tani dalam bentuk hukum atau perlindungan dalam memperjuangankan hak-haknya sebagai anggota kelompok tani
5. Rendahnya Sumber daya manusia, dimana petani susah untuk menerima hal-hal baru dalam bertani di Kelurahan Tanah Lemo Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba
6. Kurangnya teknologi, dimana pemenuhan teknologi bagi anggota kelompok tani masih kurang dalam melaksanakan usaha tani
7. Kesejahteraan masyarakat petani jagung adalah tercapainya tujuan-tujuan dari pemberdayaan petani jagung secara menyeluruh dan maksimal utamanya di Kelurahan Tanah Lemo Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba
31
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini berlangsung selama dua bulan dimulai dari bulan Agustus-Oktober penelitian ini mengambil tempat di kantor balai penyuluh pertanian, perikanan, dan kehutanan, di Kelurahan Tanah Lemo Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba
Alasan memilih lokasi ini didasarkan pada balai penyuluhan pertanian perikanan dan kehutanan Kelurahan Tanah Lemo Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba merupakan unsur birokrasi yang didalamnya terdapat berbagai pihak- pihak yang berkaitan, untuk mengetahui sejauh mana peran penyuluh dalam pemberdayaan petani jagung di Kelurahan Tanah Lemo Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba
B. Jenis dan Tipe Penelitian 1. Jenis Penelitian
Berkaitan dengan tujuan penelitian adalah untuk memberikan gambaran mengenai Peran Penyuluh Tani Dalam Pemberdayaan Petani Jagung di Kelurahan Tanah Lemo Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba.
Secara obyektif, maka jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, yaitu suatu penelitian yang mendeskripsikan tentang Peran Penyuluh Tani Dalam Pemberdayaan Petani Jagung Di Kelurahan Tanah Lemo Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba
31
2. Tipe Penelitian
Tipe dalam penulisan penelitian ini adalah tipe fenomenologi dimaksudkan untuk memberi gambaran secara jelas mengenai masalah-masalah yang diteliti berdasarkan pengalaman yang dialami oleh informan. Adapun masalah-masalah yang diteliti adalah mengenai bagaimana peran penyuluh tani dalam pemberdaayaan petani jagung di Kelurahan Tanah Lemo Kecamatan Bontobahari
C. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini dibagi kedalam dua bagian yaitu:
1. Data Primer, yaitu data yang dikumpulkan penulis untuk memperkaya dan mempertajam analisis bagi penarikan kesimpulan yang meliputi: pengamatan langsung (observasi), dan wawancara yang dilakukan penulis tentang bagaimana peran penyuluh tani dalam pemberdayaan petani jagung di Kelurahan Tanah Lemo Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba . 2. Data Sekunder, yaitu data yang dikumpulkan peneliti dari berbagai
laporan-laporan atau dokumen-dokumen yang bersifat informasi tertulis yang digunakan dalam penelitian. Adapun laporan atau dokumen yang bersifat informasi tertulis yang dikumpulkan peneliti adalah mengenai bagaimana peran penyuluh tani dalam pemberdayaan petani jagung di Kelurahan Tanah Lemo Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba
D. Informan Penelitian
Teknik dalam penentuan informan didasarkan secara purposive sampling (sengaja) maksudnya penentuan informan dipilih sesuai orang-orang yang
dianggap mengetahui betul permasalahan dan memberi keterangan yang objektif, akurat, dan dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan penelitian
NO NAMA INISIAL JABATAN KET
Guna memperoleh data yang relevan dengan tujuan penelitian maka digunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
1. Pengamatan (observasi)
Pada metode pengamatan ini, dilakukan melalui pengamatan penulis secara langsung dilapangan mengenai bagaimana peran Penyuluh tani dalam pemberdayaan petani jagung di Kelurahan Tanah Lemo Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba.
2. Wawancara (interview)
Peneliti akan melakukan interview atau wawancara terhadap Koordinator Balai penyuluh pertanian perikan dan kehutanan , Penyuluh pertanian bagian sumber daya manusia, dan anggota kelompok tani
3. Dokumentasi
Teknik yang dilakukan peneliti untuk mengetahui secara konseptual tentang permasalahan- permasalahan yang sedang diteliti dengan membaca literature khususnya yang berhubungan dengan peran penyuluh dalam pemberdayaan petani jagung dan dokumen lainnya yang menyangkut peran penyuluh tani dalam pemberdayaan petani jagung
F. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode analisis data model Miles dan Huberman. (Miles, Huberman dalam sugiono, 2012), mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh.
Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction data display dan conclusion drawing atau verification.
1. Reduksi Data (Data Reduction)
Semakin lama peneliti kelapangan, maka jumlah data akan semakin banyak, kompleks dan rumit. Untuk itu perlu segera dilakukan analisis data melalui reduksi data. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih
jelas, dan mempermudah peneliti untuk mengumpulkan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan. Reduksi data dapat dibantu dengan peralatan elektronik seperti komputer mini, dengan memberikan kode pada aspek-aspek tertentu. (Sugiono, 2012)
2. Penyajian Data (Data display)
Langkah selanjutnya dalam analisis data kualitatif setelah mereduksi data adalah mendisplaykan data atau penyajian data. Dalam penelitian kulitatif, penyajian data bias dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori flowchart dan sejenisnya. Dalam hal ini (Miles,Huberman sugiono, 2012) menyatakan yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah teks yang bersifat naratif. Dengan mendisplaykan data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut (Miles, Huberman, dalam sugiono, 2012).
3. Penarikan Kesimpulan (Conclusion Drawing and Verification)
Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif model Miles dan Huberman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Dilakukan verifikasi karena kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali kelapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa analisis data adalah rangkaian kegiatan penelaan, pengelompokan, sistematis, penafsiran dan verifikasi data agar sebuah fenomena memiliki nilai sosial, akademik dan ilmiah.
Analisis data penelitian bersifat berkelanjutan dan dikembangkan sepanjang program. Analisis data dilaksanakan mulai penetapan masalah, pengumpulan data dan setelah data terkumpul. Dengan menetapkan masalah penelitian, penelitian sudah melakukan analisis terhadap permasalahan tersebut.
G. Teknik Keabsahan Data
Salah satu cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengujian kredibilitas data adalah tringulasi. Menurut sugiono (2012), tringulasi diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu.
Lebih lanjut sugiono (2012) membagi tringulasi kedalam tiga macam yaitu:
1. Triangulasi Sumber
Dalam hal ini peneliti melakukan pengumpulan dan pengujian data yang telah diperoleh melalui hasil pengamatan, wawancara dan dokumen-dokumen yang ada.Kemudian peneliti membandingkan hasil pengamatan dengan wawancara, dan membandingkan hasil wawancara dengan dokumen yang ada
2. Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Dalam hal ini data yang diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi dan dokumen. Apabila dengan tiga teknik pengujian kredibilitas data tersebut, menghasilkan data yang berbeda-beda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang