• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terkait dengan pemberdayaan perempuan dan anak,

pemerintah berupaya untuk memberikan hak yang sama dalam pembangunan melalui upaya kesetaraan gender. Hal tersebut diwujudkan dalam bentuk diterbitkannya Instruksi Presiden Nomor

9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam

Pembangunan Nasional, yang kemudian ditindaklanjuti dengan diterbitkannya Permendagri 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Pengarusutamaan Gender yang kemudian diganti dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 mengamanatkan pengintegrasian isu gender dalam berbagai bidang pembangunan, pembentukan kelembagaan PUG serta dukungan pembiayaan pembangunan yang responsive gender. Selain itu juga

telah diamanatkan Standar Pelayanan Minimal urusan

pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Pelaksanaan SPM tersebut merupakan konsekuensi pelaksanaan program pembangunan yang responsif gender dan responsif anak.

Untuk mengukur keberhasilan pembangunan responsive gender dengan menggunakan Indeks Pembangunan Gender (IPG) atau Gender Development Index (GDI) dengan nilai minimal 40 dan terbesar 80. IPG merupakan IPM yang terpilah antara laki-laki dan perempuan. IPG dapat digunakan untuk mengetahui kesenjangan

pembangunan manusia antara laki-laki dan perempuan. Kesetaraan gender terjadi apabila nilai IPM sama dengan IPG.

Berdasarkan data dari Pembangunan manusia berbasis gender (Kementerian PP dan PA & BPS) tahun 2016, diketahui bahwa nilai IPG dan nilai IDG menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Apabila di tahun 2010 angka IPG dan IDG menunjukkan angka 95,28 dan 75,75 maka pada tahun 2015 mencapai 96,84 dan 74,12.

Jumlah anak usia 0-19 tahun di Kota Surakarta tahun 2015 sebanyak 157.177 jiwa, terdiri dari laki-laki sebanyak 78.708 jiwa dan perempuan sebanyak 78.469 jiwa. Upaya pemerintah untuk melindungi dan memberikan hak anak antara lain diwujudkan dengan pembentukan forum anak, deklarasi Kota Surakarta sebagai Kota Layak Anak, dan pemenuhan hak-hak anak di berbagai bidang sesuai dengan amanat Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Pencapaian kinerja urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan mendasarkan indikator yang diatur dalam beberapa peraturan dapat diidentifikasi pada tabel berikut:

Tabel 2.34.

Pencapaian Kinerja Berbagai Indikator Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak di Kota Surakarta Tahun 2010-2015

No Indikator Capaian Target PD

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 1. Partisipasi perempuan di lembaga pemerintah (%) 3,49 3,50 3,50 3,50 3,51 3,51 3,51 Bapermas PP, PA dan KB 2.

Angka melek huruf perempuan usia 15 th ke atas (%) 100 100 100 100 100 100 100 Bapermas PP, PA dan KB 3. Partisipasi angkatan kerja perempuan (%) 53,67 53,67 53,68 53,68 53,68 53,69 53,70 Bapermas PP, PA dan KB 4. IPG (%) 95,28 95,32 95,70 96,16 96,48 96,84 - Bapermas PP, PA dan KB 5. IDG (%) 75,75 78,06 79,32 78,93 74,93 74,12 73,15 Bapermas PP, PA dan KB 6. Rasio KDRT (% ) 0,14 0,14 0,07 0,04 0,03 0,03 - Bapermas PP, PA dan KB 7. Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan penanganan pengaduan (%) 100 100 100 100 100 100 100 Bapermas PP, PA dan KB 8. Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan layanan kesehatan oleh tenaga kesehatan terlatih di Puskesmas mampu tatalaksana KtP/A dan PPT/PKT di RS.(%)

100 100 100 100 100 100 100

Bapermas PP, PA dan KB

No Indikator Capaian Target PD 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

9.

Cakupan layanan bimbingan rohani yang diberikan oleh petugas bimbingan rohani terlatih bagi

perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu (%) 25 50 50 50 50 100 100 Bapermas PP, PA dan KB 10. Cakupan penegakan hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan pengadilan atas kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. (% ) 50 50 50 75 100 100 100 Bapermas PP, PA dan KB 11. Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan layanan bantuan hukum. (%) 50 50 50 60 80 100 100 Bapermas PP, PA dan KB 12. Cakupan layanan pemulangan bagi perempuan dan anak korban kekerasan (%) 50 60 70 80 100 100 100 Bapermas PP, PA dan KB 13. Cakupan layanan reintegrasi sosial bagi perempuan dan anak korban kekerasan (%) 70 80 90 100 100 100 100 Bapermas PP, PA dan KB 14. Cakupan layanan rehabilitasi sosial yang diberikan oleh petugas rehabilitasi sosial terlatih bagi

perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu (%)

40 40 50 50 60 60 60

Bapermas PP, PA dan KB

Pelaksanaan SPM Bidang Penanganan Korban Kekerasan Perempuan dan Anak di Kota Surakarta telah dilaksanakan dengan baik. Seluruh korban kekerasan perempuan dan anak telah mendapat penanganan pengaduan. Namun penanganan bimbingan rohani belum dilaksanakan oleh tenaga rohaniwan yang dilatih. Berdasarkan data di bawah ini tidak semua korban kekerasan perlu dilakukan rehabilitasi sosial.

3) Pangan

Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Ketahanan pangan di suatu daerah mencakup empat komponen, yaitu: (1) kecukupan ketersediaan pangan; (2) stabilitas ketersediaan

pangan tanpa fluktuasi dari musim ke musim atau dari tahun ke tahun; (3) aksesibilitas/keterjangkauan terhadap pangan; dan (4) kualitas/keamanan pangan.

Ketersediaan pangan utama di Kota Surakarta pada tahun 2011 sebanyak 52.853.000 kg per kapita, dan mengalami peningkatan sampai dengan Tahun 2015 menjadi 90.059.570 kg perkapita. Berkaitan dengan ketersediaan pangan, Kota Surakarta menghadapi kendala produksi bahan pangan yang terbatas, sehingga memerlukan pasokan dari luar daerah. Diperlukan upaya peningkatan produksi pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

Aksesibilitas/keterjangkauan terhadap bahan pangan dipengaruhi oleh inflasi daerah. Dalam kurun waktu lima tahun inflasi di Kota Surakarta relatif stabil, kenaikan harga bahan pangan terutama terjadi pada hari-hari besar keagamaan. Beberapa upaya telah dilakukan pemerintah Kota Surakarta, baik dalam rangka pemantauan maupun pengendalian harga dan pasokan bahan pangan. Berkaitan dengan kualitas/keamanan pangan, pemerintah Kota Surakarta secara rutin melakukan pengecekan sampel bahan pangan agar dapat dikonsumsi secara aman oleh masyarakat.

Beberapa kelompok bahan pangan yang masih rendah konsumsinya adalah daging, sayur dan buah, dan umbi-umbian. Beberapa faktor yang mempengaruhi adalah kebiasan masyarakat dalam mengkonsumsi bahan pangan, dan daya beli masyarakat terhadap bahan pangan tertentu, dan potensi pangan lokal yang belum banyak dimanfaatkan penduduk.

Kinerja pembangunan urusan ketahanan pangan selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.35.

Pencapaian Kinerja Berbagai Indikator Urusan Ketahanan Pangan di Kota Surakarta Tahun 2010-2015

No Indikator

Capaian Target

PD

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

1 Regulasi Ketahanan

Pangan tad tad ada ada ada ada ada KKP

2 Peningkatan Ketersediaan dan Distribusi Pangan (%) 100 100 100 100 100 100 100 KKP 3 Peningkatan kewaspadaan pangan, dan sarana dan prasarana ketahanan pangan menuju terwujudnya mutu keamanan pangan masyarakat (%) 84,9 94,72 115,96 122,83 132,96 140 100 KKP 4 Ketersediaan pangan utama (kg/kap) - 52.853.000 58.000.470 67.366.800 74.943.000 90.059.570 91.860.761 KKP 5

Ketersediaan energi per kapita

(kal/hari/kapita )

No Indikator Capaian Target PD 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 6 Ketersediaan Protein per kapita (Kal/hari/kapita ) - 1.352,14 1.385,89 1.401,12 1.411,13 1.425,26 92,92 KKP 7 Skor PPH ( % ) 84,9 86,11 89,6 90,1 90,3 80,8 81,8 KKP 8 Pengawasan dan Pembinaan Keamanan Pangan (%) - 100 100 100 100 100 100 KKP

Sumber : KKP Kota Surakarta, 2015

4) Pertanahan

Sesuai pasal 2 ayat 2 Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional Bidang Pertanahan, pemerintah daerah memiliki kewenangan dalam bidang pertanahan sebagai berikut:

a) Pemberian izin lokasi, yang meliputi: (a). izin yang diberikan kepada perusahaan untuk memperoleh tanah yang diperlukan dalam rangka penanaman modal yang berlaku sebagai izin pemindahan hak, dan untuk menggunakan tanah tersebut guna keperluan usaha penanaman modal; (b). perusahaan adalah perseorangan atau badan hukum yang telah memperoleh izin untuk melakukan penanaman modal sesuai ketentuan yang berlaku; dan (c). penanaman modal adalah yang menggunakan maupun tidak menggunakan fasilitas penanaman asing maupun penanaman modal dalam negeri.

b) Penyelenggaraan pengadaan tanah untuk pembangunan. Pengadaan tanah adalah kegiatan untuk memperoleh tanah baik dengan cara memberikan ganti kerugian maupun tanpa memberikan ganti kerugian (secara sukarela).

c) Penyelesaian sengketa tanah garapan. Sengketa tanah garapan adalah pertikaian ataupun perbedaan kepentingan dari dua pihak atau lebih atas tanah garapan.

d) Penyelesaian ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan. Ganti kerugian adalah penggantian atas nilai tanah berikut bangunan, tanaman dan/atau benda-benda lain yang terkait dengan tanah akibat pelepasan atau penyerahan hak atas tanah, dalam bentuk uang, tanah pengganti, pemukiman kembali, gabungan dari dua atau lebih bentuk ganti kerugian tersebut atau bentuk lain.

e) Penetapan subjek dan objek redistribusi tanah, serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee yang menjadi tanah objek landreform.

f) Pemanfaatan dan penyelesaian masalah tanah kosong. Tanah kosong adalah tanah yang dikuasai hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, dan hak pakai tanah, hak pengelolaan, atau tanah yang sudah diperoleh dasar penguasaannya tetapi belum diperoleh hak atas tanahnya sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau sebagainya, yang belum

dipergunakan sesuai dengan sifat dan tujuan pemberian haknya atau Rencana Tata Ruang Wilayah yang berlaku.

g) Pemanfaatan dan penyelesaian masalah tanah kosong. Tanah kosong adalah tanah yang di kuasai hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, dan hak pakai tanah, hak pengelolaan, atau tanah yang sudah diperoleh dasar penguasaannya tetapi belum diperoleh hak atas tanahnya sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau sebagainya, yang belum dipergunakan sesuai dengan sifat dan tujuan pemberian haknya atau Rencana Tata Ruang Wilayah yang berlaku.

h) Pemberian izin membuka tanah. Diartikan sebagai izin yang diberikan kepada seseorang untuk mengambil manfaat dan mempergunakan tanah yang dikuasai langsung oleh Negara.

i) Perencanaan penggunaan tanah wilayah Kabupaten/Kota. Hal ini diartikan merupakan pelaksanaan dan penetapan letak tepat rencana kegiatan yang telah jelas anggarannya baik dari pemerintah, swasta maupun perorangan yang akan membutuhkan tanah di wilayah Kabupaten/Kota tersebut berdasarkan data informasi pola penatagunaan tanah yang sesuai dengan kawasan rencana tata ruang wilayah. Adapun pola penatagunaan tanah adalah informasi mengenai keadaan penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah sesuai dengan kawasan yang disiapkan oleh kantor Pertanahan Kabupaten/Kota.

Pembangunan dan penataan pertanahan menjadi sesuatu hal yang penting untuk dikembangkan menjadi lebih baik karena mempunyai peranan sosial dan ekonomi yang penting. Oleh karena itu, untuk dapat menguatkan dan membuktikan kepemilikan akan tanah perlu dibuatkan alat bukti berupa sertifikat tanah. Sertifikat tanah terdiri atas Hak Milik (HM), Hak Guna Usaha (HGU), Hak Guna Bangunan (HGB), Hak Pakai (HP), Hak Pengelolaan, dan Wakaf.

Pada tahun 2015 aset Pemerintah Kota Surakarta berupa tanah seluruhnya seluas 4.676.310 m2 (1.162 titik). Tanah yang sudah bersertifikat seluas 3.983.364 m2 (952 titik) atau sebesar 85,18% dari luas total tanah aset, sedangkan yang belum memiliki sertifikat seluas 692.946 m2 (210 titik) atau 14,82% dari luas total tanah aset. Kewenangan lain yang dimiliki pemerintah daerah adalah pemberian izin lokasi. Data tahun 2013 izin lokasi yang sudah diberikan telah mencapai 100% dari total pengajuan atau dapat dikatakan bahwa seluruh pengajuan izin lokasi telah diselesaikan dengan baik.

Permasalahan pertanahan merupakan permasalahan yang cukup sensitif dan tidak jarang menimbulkan konflik. Hal tersebut tidak terkecuali juga terjadi pada tanah-tanah yang dimiliki oleh negara. Penyelesaian kasus tanah negara selama dua tahun terakhir menunjukkan persentase yang meningkat. Pada tahun 2013 jumlah kasus tanah yang terselesaikan mencapai 76,05%, mengalami

penurunan sehingga menjadi 57,44% pada tahun 2014, untuk tahun 2015 mengalami kenaikan 100%.

Tabel 2.36.

Pencapaian Kinerja Berbagai Indikator Urusan Pertanahan di Kota Surakarta Tahun 2010-2015

No Indikator Satuan Capaian Target PD

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 1. Penyelesaian Kasus Tanah Negara % - - 53,84 76,05 57,44 100 100 Setda 2. Peraturan Walikota Tanah Negara yang ditindaklanjuti % 100 100 100 100 100 100 100 Setda

Sumber: Setda Kota Surakarta, 2015

Dokumen terkait