• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertumbuhan penduduk di Kota Surakarta salah satunya disebabkan oleh keberhasilan program Keluarga Berencana. Rata-rata jumlah anak per keluarga di Kota Surakarta setiap tahunnya di bawah 2 artinya masih dalam kondisi belum mengkhawatirkan di bawah rata-rata nasional dan provinsi. Walaupun terjadi peningkatan rata-rata jumlah anak per keluarga.

Cakupan PUS yang beristri di bawah usia 20 tahun sebanyak 0,42% tahun 2015, kondisi ini di bawah target MDG’s yaitu 3,5%. Demikian juga unmet need Kota Surakarta masih relatif tinggi, yaitu 10,7%. Sedangkan cakupan peserta KB aktif sampai dengan tahun 2015 sebesar 66,83 dengan penggunaan alat kontrasepsi terbanyak adalah suntik, dan pil.

Laju pertumbuhan penduduk Kota Surakarta pada tahun 2010 sebesar 1,31 mengalami penurunan dengan kondisi -1,97 pada tahun 2014, sehubungan dengan pembersihan data ganda dari aplikasi pusat sehubungan dengan tertib administrasi kependudukan tingkat nasional. Pasca penertiban sistem administrasi kependudukan nasional di tahun 2015 laju pertumbuhan penduduk Kota Surakarta sebesar 0,897.Pencapaian kinerja urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera dengan mendasarkan indikator yang diatur dalam beberapa peraturan dapat diidentifikasi pada tabel berikut:

Tabel 2.44.

Pencapaian Kinerja Berbagai Indikator Urusan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana di Kota Surakarta Tahun 2010-2015

No Indikator Capaian Target PD

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

1 Rasio akseptor KB 77,6 78,7 78,7 77,9 77,8 66,8 - Bapermas PP, PA dan KB 2 Cakupan peserta KB aktif 77,58 78,72 78,72 77,93 77,76 66,8 67,3 ,Bapermas PP, PA dan KB 3 Cakupan Pasangan Usia Subur yang isterinya dibawah usia 20 tahun 0,51 0,54 0,54 0,65 0,42 0,42 2,94 Bapermas PP, PA dan KB 4 Cakupan Pasangan Usia Subur yang ingin ber-KB tidak terpenuhi (Unmet

Need) %

12,29 10,92 10,23 10,53 11,02 10,7 10,53 Bapermas PP, PA dan KB

No Indikator Capaian Target PD 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 5 Angka kelahiran remaja (perempuan usia 15-19 tahun) per 1000 perempuan usia 15-19 tahun 17,58 9,77 10,67 10,26 10,08 9,70 - Bapermas PP, PA dan KB 6 Angka pemakaian kontrasepsi/CPR bagi perempuan menikah usia 15-49 (semua cara dan cara modern)

77,56 79,4 80,1 79,6 77,8 21,61 22,00 Bapermas PP, PA dan KB

7

Cakupan penyediaan alat dan obat

Kontrasepsi untuk memenuhi permintaan masyarakat 9 14 12 7 9 9 10 Bapermas PP, PA dan KB 8 Cakupan PUS Peserta KB Anggota Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) yang ber-KB 75,5 75,5 75,5 75,6 76,17 76,0 76,01 Bapermas PP, PA dan KB 9 Cakupan Anggota Bina Keluarga Balita (BKB) ber-KB

71 72 71,5 77,7 77,8 77,22 77,22 Bapermas PP, PA dan KB

10

Wanita menikah usia 15-49 tahun yang menggunakan alat KB - - 80,1 79,59 77,8 - - Bapermas PP, PA dan KB 9) Perhubungan

Pembangunan infrastruktur jaringan transportasi mempunyai peran penting. Ketersediaan aksesibilitas ataupun keterjangkauan pelayanan infrastruktur transportasi dapat lebih mempererat dukungan antarwilayah maupun pemerataan pembangunan wilayah. Transportasi mendukung perkembangan kota dan wilayah sebagai sarana penghubung maupun titik simpul distribusi. Rencana tata guna lahan kota dan wilayah harus didukung secara langsung oleh rencana pola jaringan jalan yang merupakan rincian tata guna lahan yang direncanakan. Pola jaringan jalan yang baik akan mempengaruhi perkembangan kota dan wilayah yang direncanakan sesuai dengan rencana tata guna lahan. Ini berarti transportasi mendukung penuh perkembangan fisik suatu kota atau wilayah.

Terminal bus adalah sebuah prasarana transportasi jalan untuk keperluan menurunkan dan menaikkan penumpang, perpindahan intra dan/atau antarmoda transportasi serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum. Kota Surakarta memiliki fasilitas sarana perhubungan berupa 1 buah terminal bus tipe A, dan 2 buah terminal tipe C. Jumlah terminal yang ada di Kota Surakarta ini sudah dapat memenuhi kebutuhan terminal sebesar 100%.

Sementara itu jumlah orang yang melalui terminal setiap tahun selama 5 tahun terakhir mengalami penurunan. Tahun 2010 jumlah

orang melalui terminal sebanyak 17.633.503 orang, menurun menjadi 16.182.815 orang pada tahun 2015. Kondisi ini dipengaruhi semakin tingginya masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi, dan menggunakan moda transportasi lainnya seperti kereta api dan pesawat terbang dalam melakukan aktivitasnya sehingga terjadi penurunan jumlah penumpang angkutan umum.

Sarana transportasi publik yang disediakan Pemerintah Kota Surakarta Batik Solo Trans (BST). Penyediaan halte BST dimaksudkan untuk mendukung kemudahan menggunakan moda transportasi massal. Jumlah halte BST pada trayek yang telah dilayani angkutan umum tahun 2014 baru mencapai 52,53%.

Angkutan umum yang akan dioperasikan di jalan wajib memiliki pengujian agar memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. Kondisi dimaksudkan menjamin keselamatan penumpang angkutan umum dan menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan. Jumlah uji KIR angkutan umum tahun 2010-2015 mengalami peningkatan dari 1.587 unit tahun 2010 menjadi 1.821 unit tahun 2015. Persentase perbandingan antara jumlah angkutan yang tidak memiliki KIR dengan jumlah angkutan keseluruhan tahun 2015 adalah 1.821: 2.065.

Proses uji KIR angkutan umum ini sebenarnya tidak memerlukan waktu panjang, prosesnya hanya membutuhkan waktu 45 menit. Biaya pengujian kelayakan angkutan umum meliputi : 1) JBB 2100: Rp. 30.000, 2) JBB 2101 s/d 3500: Rp. 35.000, 3) JBB 3501 s/d 8000: Rp. 40.000, 4) JBB 8001 s/d 15000: Rp.45.000, 5) JBB 15000 ke atas: Rp. 50.000, 6) Gandengan: Rp 45.000, dan 7) Tempelan: Rp. 45.000.

Bertambahnya jumlah kendaraan bermotor yang beroperasi di jalan raya tidak dipungkiri telah turut menyumbang pencemaran udara. Hal tersebut tentunya perlu upaya dan antisipasi dari Pemerintah Kota Surakarta. Sebagai salah satu upaya pengendalian kualitas udara ambien di jalan raya adalah dengan mengendalikan emisi gas buang dari kendaraan bermotor. Kendaraan umum yang memenuhi ambang batas emisi gas buang (lulus uji emisi) di Kota Surakarta mengalami peningkatan. Tahun 2010 sebanyak 27.942 unit kendaraan lulus uji emisi, tahun 2015 sebanyak 29.859 unit kendaraan lulus uji emisi.

Perlengkapan jalan yang tersedia di Kota Surakarta meliputi rambu, marka, guardrail, dan penerangan jalan umum. Kondisi perlengkapan jalan di Kota Surakarta dari tahun 2010-2014 mengalami peningkatan. Perkembangan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.45 berikut:

Tabel 2.45.

Pencapaian Kinerja Berbagai Indikator Urusan Perhubungan di Kota Surakarta Tahun 2010-2015

No Indikator Capaian Target PD

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 1. Tersedianya unit

pengujian kendaraan bermotor bagi

Kabupaten/ Kota yang memiliki populasi kendaraan wajib uji Perhubungan Bermotor minimal 4000 (empat ribu) kendaraan wajib uji.

1 1 1 1 1 1 -

Dishub

2. Jumlah orang melalui

terminal per tahun 17.633.503 17.633.503 17.963.961 16.211.241 16.211.241 16.182.815 - Dishub

3. Jumlah uji KIR angkutan

umum 1587 1724 1705 1746 1803 1821 3314 Dishub

4. Persentase kepemilikan

uji KIR angkutan umum 74,2 80,60 81,20 85,40 88,16 88,18 72,48 Dishub

5. Lama pengujian kelayakan angkutan umum (KIR)

45’ 45’ 45’ 45’ 45’ 45’ 45’ Dishub

6. Persentase kendaraan umum yang memenuhi ambang batas emisi gas buang (Lulus uji emisi) (%)

74,2 80,60 81,20 85,40 88,16 88,18 89,6 Dishub

7. Tersedianya halte pada setiap Kabupaten/Kota yang telah dilayani angkutan umum dalam trayek. (%)

- - 25 30 40 52,53 62,36 Dishub

8. Ketersediaan

rambu-rambu lalu lintas 1172 1331 unit 1529 unit 1799 unit 1937 unit 2087 2447 Dishub

9. Tersedianya fasilitas perlengkapan jalan (rambu, marka, dan guardrill) dan penerangan jalan umum (PJU) pada jalan Kota:

Rambu 141 1331 1520 1799 1937 2087 2447 Dishub

Marka 416.018 418.018 424.211 427.884 432.545 436.780 440.780 Dishub

Sumber: Dishubkominfo Kota Surakarta, 2015

Dokumen terkait