Rancangan Awal RPJMD Kota Pekalongan Tahun 2021-2026 | BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah
107
2. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
a. Persentase Partisipasi Perempuan Bekerja di Lembaga Pemerintah
Indikator persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah adalah indikator yang diukur dengan membandingkan jumlah ASN perempuan Pemerintah Kota Pekalongan tahun N dengan seluruh pekerja perempuan (ASN perempuan dan pekerja perempuan di perusahaan formal) Tahun N. Tahun 2019 ASN perempuan di Pemerintah Kota Pekalongan sejumlah 1.616 orang (sumber data Kota Pekalongan Dalam Angka 2021) sedangkan jumlah pekerja perempuan sebanyak 66.690 orang (sumber data Kota Pekalongan Dalam Angka 2021).
Tabel 2.84 Banyaknya Partisipasi Pekerja Perempuan Pada Lembaga Pemerintahan di Kota Pekalongan Tahun 2016-2020
URAIAN 2016 2017 2018 2019 2020
Jumlah pekerja perempuan di lembaga pemerintah (org)
2.007 1.621 1.540 2.322 1.616
Jumlah pekerja perempuan (org) 56.536 9.799 9.870 45.571 66.690 Persentase partisipasi
perempuan di lembaga pemerintah (%)
3,55 16,54 15,60 5,10 2,42
Sumber : Kota Pekalongan Dalam Angka 2021, 2021
Tabel diatas menunjukkan bahwa pada tahun 2020 jumlah pekerja perempuan di lembaga pemerintah berkurang, semula 2.322 orang pada tahun 2019 menjadi 1.616 orang pada tahun 2020.
b. Partisipasi Perempuan dalam Jabatan Struktural ASN
Partisipasi perempuan dalam jabatan eselon II, III, dan IV di Kota Pekalongan selama kurun waktu 2016-2020 terus menurun. Pada tahun 2016 pejabat perempuan yang menduduki eselon II, III dan IV dibandingkan seluruh jabatan yang terisi sebesar 208 orang. Jumlah tersebut terus menurun sampai pada jumlah 193 orang di tahun 2020. Data selengkapnya disajikan dalam Gambar 2.33 berikut.
Gambar 2.33 Jumlah Perempuan Dalam Jabatan ASN di Kota Pekalongan Tahun 2016-2020
Sumber : Kota Pekalongan Dalam Angka Tahun 2021 (diolah), 2021
2016 2017 2018 2019 2020 Pejabat Perempuan
Menempati Jabatan Eselon II, III dan IV
221 208 203 196 193 175 180 185 190 195 200 205 210 215 220 225
Rancangan Awal RPJMD Kota Pekalongan Tahun 2021-2026 | BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah
108
c. Rasio KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga)
Rasio KDRT menunjukkan persentase kasus KDRT dibandingkan dengan jumlah rumah tangga. Selama kurun waktu 2015-2019 rasio KDRT mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Semakin kecil rasio KRDT menunjukan indikasi yang semakin baik. Rasio KDRT terendah terjadi pada tahun 2019 dengan angka rasio 0,038%.
Gambar 2.34 Perkembangan Rasio KDRT di Kota Pekalongan Tahun 2015-2019
Sumber : DPMPPA Kota Pekalongan, 2020
d. Penyelesaian Kasus Perlindungan Perempuan dan Anak
Penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak dari tindakan kekerasan di Kota Pekalongan telah menunjukkan prestasi yang baik. Sejak tahun 2016 hingga tahun 2020 seluruh kasus pengaduan perlindungan perempuan dan anak dapat diselesaikan. Salah satu faktor keberhasilan atas prestasi tersebut dikarenakan adanya Lembaga Perlindungan Perempuan, Anak dan Remaja (LP-PAR) dibawah koordinasi Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perlindungan Perempuan dan Anak (DPMPPA).
Gambar 2.35 Perkembangan Penyelesaian Pengaduan Perlindungan Perempuan dan Anak di Kota Pekalongan
Tahun 2016-2020
Sumber : DPMPPA Kota Pekalongan, 2021
2015 2016 2017 2018 2019 Rasio KDRT (%) 0,093 0,064 0,041 0,043 0,038 0,010 0,020 0,030 0,040 0,050 0,060 0,070 0,080 0,090 0,100 2016 2017 2018 2019 2020 Penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak
dari tindakan kekerasan 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 80,00 85,00 90,00 95,00 100,00 105,00
Rancangan Awal RPJMD Kota Pekalongan Tahun 2021-2026 | BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah
109
e. Kota Layak Anak
Kota Layak Anak (KLA) didefnisikan sebagai Kabupaten/Kota yang mempunyai sistem pembangunan berbasis hak anak melalui pengintegrasian komitmen dan sumber daya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha, yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan, program dan kegiatan untuk menjamin pemenuhan hak dan perlindungan anak. Ada 24 indikator yang mampu mewakili terpenuhinya hak-hak anak sehingga dapat dikatakan menuju kabupaten/kota layak anak yang terdiri dari 5 kluster, yaitu : (1) hak sipil dan kebebasan; (2) lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif/pengganti; (3) kesehatan dasar dan kesejahteraan; (4) pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan seni budaya; (5) perlindungan khusus.
Pada tahun 2018, Kota Pekalongan meraih penghargaan Kota Layak Anak kategori Pratama dengan nilai 565 dari nilai maksimal 1000. Upaya terus ditingkatkan, salah satunya adalah fokus pada sarana dan prasarana mengenai informasi layak anak seperti baliho, dan sebagainya. Upaya lain juga dilakukan untuk memenuhi indikator dan klaster KLA. Hasilnya, pada tahun 2019 Kota Pekalongan kembali meraih penghargaan Kota Layak Anak kategori Madya.
Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan berupaya serius untuk mengejar peringkat Nindya sebagai Kota Layak Anak (KLA) tingkat nasional. Komitmen ini dibuktikan dengan dibukanya layanan Unit Pelaksana Program Kesejahteraan Sosial Anak Integratif (UP PKSAI) yang akan bertugas melakukan penjangkauan kepada anak-anak rentan di Kota Pekalongan. Dengan berdirinya UP PKSAI ini diharapkan dapat semakin memudahkan pemerintah membangun mekanisme layanan terpadu bagi anak di tingkat masyarakat.
3. Pangan
Ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang mencakup empat sub sistem yaitu : (a) Ketersediaan pangan melalui upaya peningkatan ketersediaan pangan di daerah dan pengembangan produksi pangan lokal serta cadangan pangan, (b) Keterjangkauan pangan melalui pemantapan distribusi, pemasaran, perdagangan, informasi; (c) Konsumsi pangan melalui peningkatan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan; serta (d) keamanan pangan melalui sanitasi, pemberian jaminan keamanan dan mutu pangan.
Ketersediaan pangan pada satu wilayah ditunjukkan dengan rasio ketersediaan pangan utama. Pada tabel 2.85 dapat dilihat bahwa sepanjang tahun 2016-2017 ketersediaan pangan utama mengalami kecenderungan naik, dari 6.855.003 di tahun 2016 menjadi 7.382.286 di tahun 2017. Namun pada tahun 2018 mengalami penurunan yang cukup tajam menjadi 5.860.781 dan pada tahun 2019 dan 2020 lebih menurun lagi menjadi 5.400.416 dan 4.769.190. Secara otomatis persentase ketersediaan pangan juga sebanding dengan fluktuasi ketersediaan pangan, yaitu meningkat pada tahun 2016-2017 dan semakin menurun pada tahun 2018-2020.
Tabel 2.85 Rasio Ketersediaan Pangan Utama Kota Pekalongan Tahun 2016 – 2020
Tahun Ketersediaan Pangan Utama Per tahun
Jumlah Penduduk Persentase 2016 6.855.003 299.222 22,91 2017 7.382.286 301.870 24,46 2018 5.860.781 304.477 19,25 2019 5.400.416 307.097 17,59
Rancangan Awal RPJMD Kota Pekalongan Tahun 2021-2026 | BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah
110
Tahun Ketersediaan Pangan Utama Per tahun
Jumlah
Penduduk Persentase
2020 4.769.190 307.150 15,53 Sumber : Dinperpa Kota Pekalongan, 2021
Pola Pangan Harapan adalah susunan beragam pangan atau kelompok pangan yang didasarkan atas sumbangan energinya, baik secara absolut maupun relatif terhadap total energi baik dalam hal ketersediaan maupun konsumsi pangan, yang mampu mencukupi kebutuhan dengan mempertimbangkan aspek-aspek sosial, ekonomi, budaya, agama dan cita rasa ( Depkes RI, 2005). Kualitas konsumsi pangan masyarakat Kota Pekalongan dari tahun 2016-2020 yang ditunjukkan dengan meningkatnya skor Pola Pangan Harapan (PPH), merupakan salah satu indikator keberhasilan ketahanan pangan di Kota Pekalongan dari aspek konsumsi.
Skor PPH selama lima tahun terakhir terus membaik. Skor PPH Kota Pekalongan menunjukkan perkembangan yang semakin membaik pada tahun 2016-2020. Jika skor PPH tahun 2016 sebesar 88,70 maka pada tahun 2020 semakin naik menjadi 92,01. Capaian skor PPH dapat dilihat pada tabel 2.86 berikut.
Tabel 2.86 Skor PPH Kota Pekalongan Tahun 2016 – 2020
Tahun Skor PPH Kota Pekalongan
2016 88,70 2017 89,71 2018 90,42 2019 91,31 2020 92,01
Sumber : Dinperpa Kota Pekalongan, 2021
Berdasarkan pengelompokan menurut jenis bahan pangan, menunjukkan bahwa konsumsi beras di Kota Pekalongan menunjukkan fluktuasi dari tahun ke tahun dan pada tahun 2020 sebesar 108,7 kg per kapita/tahun. Begitu pula dengan sayur dan buah bisa dikatakan cukup tinggi jika dibandingkan dengan kelompok pangan lainnya, yaitu 82,2 kg per kapita/tahun pada tahun 2019 dan meningkat menjadi 70,0 kg per kapita/tahun pada tahun 2020. Di urutan ketiga ditempati kelompok pangan hewani (45 kg/kapita/tahun tahun 2019) dan menurun menjadi 36,8 kg perkapita/tahun pada tahun 2020, selanjutnya diikuti dengan kacang-kacangan, umbi-umbian dan kelompok pangan lainnya. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 2.87 berikut.
Tabel 2.87 Capaian Konsumsi Kelompok Pangan di Kota Pekalongan Tahun 2016 – 2020
Capaian Konsumsi
Kelompok Pangan Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
Padi-padian Kg/Kap/th 101,5 107,0 98,8 102,0 108,7 Umbi-umbian Kg/Kap/th 16,0 16,5 16,5 18,8 7,9 Pangan Hewani Kg/Kap/th 38,3 40,2 47,0 45,0 36,8 Minyak dan Lemak Kg/Kap/th 17,2 12,2 11,8 5,7 6,6 Buah/biji berminyak Kg/Kap/th 3,5 2,6 2,8 2,3 0,8 Kacang-kacangan Kg/Kap/th 13,8 19,0 18,0 23,5 8,4 Gula Kg/Kap/th 9,5 10,0 9,5 5,9 7,7
Rancangan Awal RPJMD Kota Pekalongan Tahun 2021-2026 | BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah
111
Capaian Konsumsi
Kelompok Pangan Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
Sayur & Buah Kg/Kap/th 78,4 74,1 73,8 82,2 70,0 lain-lain Kg/Kap/th 2,8 1,3 1,4 2,3 44,1 Sumber : Dinperpa Kota Pekalongan, 2021
Dari segi konsumsi energi yang diukur dari kilo kalori (kkal) per kapita/tahun, konsumsi beras selalu menempati posisi pertama dengan jumlah 1.006,1 kkal/kapita/tahun pada tahun 2019 dan meningkat menjadi 1.251,5 kkal/kapita/tahun pada tahun 2020. Urutan berikutnya selalu berubah jenis kelompok pangannya. Pada tahun 2020, di urutan kedua ada pangan hewani sebesar 272,5 kkal/kapita/tahun, diikuti oleh Minyak dan Lemak sebanyak 160,7 kkal/kapita/tahun. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 2.88 berikut.
Tabel 2.88 Konsumsi Energi Per Kapita/tahun di Kota Pekalongan Tahun 2016 – 2020
Capaian Konsumsi
Kelompok Pangan Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
Padi-padian Kkal/Kg/Kap/th 1.000,8 1.055,0 974,9 1.006,1 1251,5 Umbi-umbian Kkal/Kg/Kap/th 48,0 49,5 49,6 56,3 24,7 Pangan Hewani Kkal/Kg/Kap/th 217,2 228,1 266,7 255,4 272,5 Minyak dan Lemak Kkal/Kg/Kap/th 410,7 289,8 280,1 136,8 160,7 Buah/biji berminyak Kkal/Kg/Kap/th 60,2 45,3 49,1 40,6 12,7 Kacang-kacangan Kkal/Kg/Kap/th 124,9 172,1 163,4 213,2 53,8 Gula Kkal/Kg/Kap/th 94,9 99,8 94,7 58,7 77,5 Sayur dan Buah Kkal/Kg/Kap/th 111,4 105,3 104,9 116,8 97,3 Lain-lain Kkal/Kg/Kap/th 22,6 10,3 11,1 18,5 56,1 Sumber : Dinperpa Kota Pekalongan, 2021
4. Pertanahan
Dalam era otonomi daerah saat ini, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota, terdapat 9 urusan pertanahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten Kota. Kesembilan urusan tersebut adalah Izin Lokasi, Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum Pelayanan Umum, Sengketa Tanah Garapan, Ganti Rugi, Penetapan Subyek Obyek Redistribusi tanah, tanah ulayat, pemanfaatan tanah kosong, izin membuka tanah, dan penggunaan tanah. Sedangkan berdasarkan Undang-Undang nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, urusan pertanahan kabupaten/kota hanya meliputi 8 sub urusan yaitu izin lokasi; sengketa tanah garapan; ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan; subyek dan obyek redistribusi tanah, serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absente; tanah ulayat; tanah kosong; izin membuka tanah; serta penggunaan tanah.
Pelayanan umum kepada masyarakat di urusan pertanahan, bertujuan untuk mempertahankan kelestarian lahan dan lingkungan. Beberapa hal yang dilakukan antara lain dengan memberikan insentif kepada masyarakat dalam rangka mempertahankan lahan pertanian, serta memberikan sertifikat tanah masyarakat yang berada di kawasan lindung dan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
Rancangan Awal RPJMD Kota Pekalongan Tahun 2021-2026 | BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah
112
Perkembangan kepemilikan sertifikat tanah di Kota Pekalongan terus mengalami peningkatan. Secara lengkap tanah bersertifikat di Kota Pekalongan dijelaskan dalam Tabel 2.89 berikut.
Tabel 2.89 Lahan Bersertifikat di Kota Pekalongan Tahun 2015-2019
Uraian 2015 2016 2017 2018 2019
Luas wilayah 4.525 4.525 4.525 4.525 4.525 Luas tanah bersertifikat 3.617,23 3.690,93 3.778,43 4.013,28 4.157,29 Hak Milik 2.880,99 2.939,78 3.013,55 3.192,36 3.320,74 HGB 286,96 289,49 293,52 305,94 13,21 Hak Guna Usaha 5,76 5,76 6,76 6,76 6,76 Hak Pakai 382,56 394,95 403,04 444,70 451,53 Hak Pengelolaan 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 Hak Wakaf 56,96 56.96 58,57 60,5396 62,06 Lahan Bersertifikat (%) 74,47% 77,96% 79,94% 88,69% 91,87% Sumber : BPN Kota Pekalongan (diolah), 2020
Kinerja persertifikatan bidang tanah di Kota Pekalongan terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2015 luas lahan bersertifikat adalah 74,47%, dalam kurun waktu tahun 2015-2019 terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, dan pada tahun 2019 sebanyak 91,87% lahan di Kota Pekalongan sudah bersertifikat. Semakin meningkatnya persentase tersebut dapat juga menandakan kesadaran hukum masyarakat yang semakin meningkat, khususnya terhadap pertanahan.
Gambar 2.36 Persentase Luas Lahan Bersertifikat di Kota Pekalongan Tahun 2015-2019
Sumber : BPN Kota Pekalongan (diolah), 2020