• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

No Kecamatan Kelurahan Keterangan

24 Wonokromo Darmo 25 Krembangan Dupak

2.3.2. Fokus Layanan Urusan Wajib Non Pelayanan Dasar 1. Tenaga Kerja

2.3.2.2. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Dalam rangka mengoptimalkan implementasi pengarusutamaan gender dan hak anak, diperlukan upaya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak melalui perluasan akses terhadap perempuan untuk berperan aktif di semua bidang kehidupan serta pemenuhan hak anak. Indikator untuk mengukur keberhasilan pengarusutamaan gender dan hak

anak adalah jumlah perempuan yang bekerja, jumlah partisipasi angkatan kerja perempuan, jumlah tindak kekerasan dalam rumah tangga.

Padatahun 2016 jumlah pekerja perempuan yang bekerja di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya sebanyak 10.159 orang. Adapun pada tahun 2017 jumlah pekerja perempuan yang bekerja di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya sebanyak 12.125 orang dan di tahun 2018, jumlah pekerja perempuan yang bekerja di Pemerintah Kota Surabaya terdiri dari 8.003 orang sebagai PNS dan 13.362 orang sebagai tenaga kontrak yang tersebar di seluruh Perangkat Daerah. Data partisipasi perempuan yang bekerja di Pemerintah Kota Surabaya dapat dilihat padatabel 2.43. berikut.

Tabel 2.43.

Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah Kota Surabaya Tahun 2016 – Triwulan II 2020

No. Uraian 2016 2017 2018 2019 TW II 2020

1 Jumlah Pekerja Perempuan - 583.772 587.684 617.965 N/A

2 Jumlah Perempuan yang Bekerja di Pemerintah Kota Surabaya 10.159 12.125 21.365 24.476 N/A 3 Persen partisipasi perempuan di lembaga pemerintah kota - 2,07 3,63 3,96 N/A

Sumber : Badan Pusat Statistik, Badan Kepegawaian dan Diklat dan Bagian Administrasi Pembangunan,2020

Tabel 2.43 menunjukkan bahwa banyak perempuan yang bekerja di luar sektor pemerintahan, dan persentasenya mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Selain itu, jumlah partisipasi angkatan kerja perempuan di Surabaya pada tahun 2017, sebesar 583.772 orang atau 95,23% dari jumlah angkatan kerja perempuan dan meningkat di 2018 menjadi sebesar 587.684 orang. Pada tahun 2019, jumlah partisipasi angkatan kerja perempuan juga meningkat menjadi 617.965 orang atau 94,05% dari jumlah angkatan kerja perempuan. Data partisipasi angkatan kerja perempuan dapat dilihat pada tabel 2.44 berikut.

Tabel 2.44.

Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan Kota Surabaya Tahun 2017- Triwulan II 2020

No. Uraian 2017 2018 2019 TW II 2020

1. Jumlah angkatan kerja perempuan 612.988 617.096 657.039 N/A 2. Jumlah partisipasi angkatan kerja perempuan 583.772 587.684 617.965 N/A 3. Persentase partisipasi angkatan kerja perempuan 95,23 95,23 94,05 N/A

Sumber : BPS dan Dinas Tenaga Kerja, 2020

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) adalah setiap perbuatan terhadap seseorang, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan pemaksaan atau perampasan kemerdekaan dengan cara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Kasus KDRT secara rinci dapat dilihat pada tabel 2.45 di bawah ini.

Tabel 2.45.

KDRT Kota Surabaya Tahun 2016 – Triwulan II 2020

No. Uraian 2016 2017 2018 2019 TW II 2020

1 Jumlah Rumah Tangga 908.577 935.089 953.888 974.740 -

2 Jumlah KDRT 77 26 37 10 6

3 Rasio KDRT 1:11.800 1:35.965 1:25.781 1:97.474 -

Sumber : Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Kota Surabaya, 2020

Fenomena KDRT ibarat fenomena gunung es, kasus yang terlaporkan dengan fakta yang ada di masyarakat berbeda. Data pada tabel di atas, jumlah KDRT menurun dari tahun 2016-2017 namun mengalami peningkatan di tahun 2018. Salah satu upaya yang wajib dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya dengan tetap waspada terhadap semakin meningkatnya kesadaran masyarakat dan terbukanya akses bagian korban KDRT untuk mengadu ke berbagai layanan yang ada di masyarakat diantaranya adalah PPTP2A, Pusat

Krisis Berbasis Masyarakat (PKBM), Pos Curhat dan Halo Anak Surabaya serta Satgas perlindungan perempuan dan Anak.

Kepedulian Pemerintah Kota Surabaya dalam menangani kasus tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat digambarkan dalam indikator jumlah penanganan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak umumnya adalah

tindak Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), non KDRT dan Trafficking

(perdagangan orang), untuk rekap data penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak dari tindak kekerasan dapat dilihat pada gambar 2.28 berikut.

Gambar 2.28. Penyelesaian Pengaduan Perlindungan Perempuan dan Anak Dari Tindak Kekerasan Kota Surabaya Tahun 2016 –

Triwulan II 2020

Sumber : Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Kota Surabaya, 2020

Pemerintah Kota Surabaya telah memberikan fasilitasi terhadap semua kasus tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Penanganan atas tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak tersebut dilakukan dengan tindakan konseling, medis berupa rujukan ke pusat pelayanan terpadu/rumah sakit, hukum berupa konsultasi hukum serta pendampingan ke Polisi, Pengadilan Agama (PA) maupun Pengadilan Negeri (PN), Psikososial meliputi identifikasi kasus, konseling, home visit, outreach,

sosialisasi serta reintegrasi (pelatihan keterampilan) dan pemberdayaan di

shelter (rumah aman). Pemerintah Kota Surabaya dalam bidang pengarusutamaan gender maka Indeks Pembangunan Gender Kota Surabaya dapat dilihat pada tabel 2.46 berikut.

Tabel 2.46.

Indeks Pembangunan Gender (IPG) Tahun 2016 – 2019 Uraian 2016 2017 2018 2019 TW II 2020

Indeks Pembangunan Gender (IPG) 93,66 93,65 93,66 93,67*** N/A

Sumber : BPS Provinsi Jawa Timur, 2019 (*** Angka Sangat Sementara, BAPPEKO Kota Surabaya, diolah)

2.3.2.3. Pangan

Ketahanan pangan diukur dari ketersediaan pangan utama (beras), dibandingkan dengan tingkat konsumsi pangan utama (beras). Tabel 2.47 di bawah menunjukkan bahwa ketersediaan pangan utama di Kota Surabaya meningkat sejak tahun 2016 yaitu pada tahun 2016 sebesar 145,01 kg/kapita/th dan pada tahun 2017 menjadi 167,946 kg/kapita/th, dan pada tahun 2018 sebesar 521,49 kg/kapita/th. selanjutnya pada tahun 2019 menjadi 310,95 kg/kapita/th. Hal tersebut dikarenakan produksi beras dari daerah penghasil pangan menurun.

Tabel 2.47.

Ketersediaan Pangan Utama Kota Surabaya Tahun 2016 – Triwulan II 2020

Uraian 2016 2017 2018 2019 TW II 2020

Rata-rata Jumlah Ketersediaan

Pangan Utama (Kg) 479.602.970 561.380.280 1.613.871.200 982.443.190 N/A Jumlah Penduduk

(jiwa) 3.016.368 3.074.883 3.094.732 3.159.481 3.157.109

Ketersediaan Pangan Utama

(kg/kapita/th) 145,01 167,946 521,49 310,95 N/A

Sumber: Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya dan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, 2020

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur tingkat konsumsi beras masyarakat di Kota Surabaya pada tahun 2018 rata-rata sebesar 101,54 kilogram per kapita per tahun, sehingga apabila dibandingkan dengan data ketersediaan pangan sebesar 521,49 kilogram per kapita per tahun maka ketersediaan pangan kota Surabaya tahun 2018 masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Kota Surabaya.

Selain diukur dari ketersediaan pangan utama, ketahanan pangan diukur juga dengan menggunakan skor Pola Pangan Harapan (PPH). PPH adalah indikator untuk mengukur pola konsumsi pangan masyarakat berdasarkan gizi yang cukup dan seimbang. Semakin tinggi skor pola pangan menunjukkan satuan pangan yang semakin beragam dan semakin baik komposisi dan mutu gizinya.

Pada Gambar 2.29. Pola Pangan Harapan (PPH) masyarakat kota Surabaya pada tahun 2018mencapai 96,76.Namun, pada tahun 2019 PPH masyarakat kota Surabaya menurun menjadi 96,1, hal ini dikarenakan ada pergeseran pola konsumsi pangan kota Surabaya dari yang semula mengutamakan sumber energi karbohidrat (padi-padian dan umbi-umbian) menjadi sumber protein.

Gambar 2.29. Pola Pangan Harapan Tahun 2016 – Triwulan II 2020 Sumber: Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, 2020

97 96,76 96,5 96,25 96,1 96 95,62 95,5 95,28 95 94,5 2016 2017 2018 2019 TW II 2020

2.3.2.4. Pertanahan

Seiring dengan perkembangan pembangunan Kota Surabaya, maka kebutuhan akan penyediaan sarana, prasarana dan fasilitas pendukung kegiatan masyarakat akan semakin meningkat pula. Penyediaan sarana dan prasarana yang akan dilakukan meliputi penyediaan sarana penunjang kegiatan masyarakat, sistem jaringan jalan dan drainase yang membutuhkan ruang dan lahan. Namun ketersediaan lahan aset Pemerintah Kota Surabaya yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan kebutuhan masyarakat sangatlah terbatas. Upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kota dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut melalui pengadaan lahan untuk merealisasikan rencana pembangunan sehingga dapat terwujud sarana, prasarana dan fasilitas yang terpadu dan bermanfaat bagi masyarakat.

Pemerintah Kota Surabaya memiliki cukup banyak aset khususnya aset tak bergerak berupa tanah yang tersebar di tiap-tiap wilayah Kota Surabaya yang pemanfaatannya dapat dimaksimalkan dan disesuaikan dengan arahan pemanfaatan ruang berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surabaya dan Rencana Rincinya. Pada Tabel 2.48 dapat disimpulkan bahwa hingga tahun 2015, masih 48,84 persen dari keseluruhan aset tanah Pemerintah Kota yang telah bersertifikat, sedangkan sisanya masih belum memiliki bukti kepemilikan berupa sertifikat. Pada tahun 2016, sebanyak 744 aset tanah Pemerintah Kota telah bersertifikat dan pada tahun 2017 sebesar 16,56 persen dari keseluruhan aset tanah Pemerintah Kota telah bersertifikat. Pada tahun 2018, tanah aset yang bersertifikat telah mencapai 20,27 persen dari total tanah aset Pemerintah Kota. Pada tahun 2019, tanah aset yang bersertifikat telah mencapai 20,36 persen dari total tanah aset Pemerintah Kota. Selanjutnya pada triwulan II tahun 2020, tanah aset yang bersertifikat telah mencapai 39,47 persen dari total tanah aset Pemerintah Kota. Pengamanan administrasi berupa pencatatan/inventarisasi aset, sertifikasi dan pengamanan fisik berupa pemasangan pagar, papan, patok merupakan upaya yang terus menerus dilakukan oleh Pemerintah Kota dalam meningkatkan pengelolaan tanah aset bagi pembangunan untuk

kepentingan umum, namun masih terdapat aset tanah maupun bangunan yang belum diamankan secara administrasi dan fisik.

Tabel 2.48.

Jumlah Aset Pemerintah Kota Surabaya yang Telah Tersertifikat Tahun 2016–Triwulan II 2020

Tahun 2017 2018 2019 TW II 2020

Jumlah Aset Pemerintah kota yang telah

bersertifikat 1076 1317 1323 1344

Total aset pemerintah 6497 6497 6497 3405

Presentase Aset Pemerintah yang telah

bersertifikat 16,56% 20,27% 20,36% 39,47%

Sumber : Dinas Pengelolaan Bangunan dan Tanah Kota Surabaya, 2020

**) Total aset 2017-2018 adalah aset tanah dan bangunan milik Pemerintah Kota Surabaya

Total aset 2020 adalah aset tanah dan bangunan yang dikelola oleh DPBT Tabel 2.49.

Jumlah Kasus Tanah dan Bangunan Pemerintah Kota Surabaya Tahun 2016 – Triwulan II 2020

No Uraian 2017 2018 2019 TW II 2020

1. Jumlah Kasus yang Terdaftar 24 30 30 15

2. Jumlah Kasus yang Diselesaikan 2 2 6 1

3. Persen Kasus yang Diselesaikan 8,33% 6,67% 20% 6,67%

Sumber : Dinas Pengelolaan Bangunan dan Tanah, 2020

Kasus tanah di atas merupakan kasus terkait kepemilikan tanah aset Pemerintah Kota Surabaya. Kasus-kasus tersebut merupakan kasus yang ditangani/terdaftar di Pengadilan. Kasus yang belum selesai di tahun terdaftar masih terus berlanjut di tahun berikutnya (ditambahkan dalam jumlah kasus terdaftar di tahun berikutnya).