HIV/AIDS
2. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Rancangan Teknokratik RPJMD Kota Pekalongan Tahun 2021-2025 | Gambaran Umum Kondisi Daerah
102 Kota Pekalongan masih berada di bawahnya, tetapi lebih tinggi dari Kota Salatiga dan Kota Magelang.
e. Keselamatan dan Perlindungan
Sebagai salah satu alat kepentingan pegawai dan perusahaan, penerapan K3 di lingkungan perusahaan menciptakan budaya kerja dan keselamatan bagi tercapainya kenyamanan bekerja. Dalam kurun waktu tahun 2015 sampai 2019 terjadi peningkatan penerapan K3 perusahaan di Kota Pekalongan, mulai dari 300 perusahaan di tahun 2015 hingga meningkat menjadi 410 perusahaan yang menerapkan K3 di tahun 2018, namun sangat menurun di tahun 2019 menjadi 319 perusahaan. Jika dilihat dari sisi persentase akan terlihat fluktuatif dan puncaknya pada tahun 2017 sebesar 96,86%. Fluktuasi ini dikarenakan jumlah perusahaan yang juga fluktuatif. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 2.81 berikut.
Tabel 2.81 Persentase Perusahaan Menerapkan Keamanan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Kota Pekalongan Tahun 2015 – 2019
Tahun Jumlah Perusahaan
Menerapkan K3
Jumlah Perusahaan di
Wilayah Kab/kota Persentase
2015 300 334 89,82
2016 300 368 81,52
2017 370 382 96,86
2018 410 425 96,47
2019 319 376 84,84
Sumber : Diperinaker Kota Pekalongan, 2020
2. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
a. Persentase Partisipasi Perempuan Bekerja di Lembaga Pemerintah
Indikator persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah adalah indikator yang diukur dengan membandingkan jumlah ASN perempuan Pemerintah Kota Pekalongan tahun N dengan seluruh pekerja perempuan (ASN perempuan dan pekerja perempuan di perusahaan formal) Tahun N. Tahun 2019 ASN perempuan di Pemerintah Kota Pekalongan sejumlah 2.322 orang (sumber data BKPPD Kota Pekalongan) sedangkan jumlah pekerja perempuan di perusahaan formal sebanyak 8.330 orang (Satuan Pengawasan Ketenagakerjaan Dinperinaker).
Tabel 2.82 Banyaknya Partisipasi Pekerja Perempuan Pada Lembaga Pemerintahan di Kota Pekalongan Tahun 2015-2019
URAIAN 2015 2016 2017 2018 2019 Jumlah pekerja perempuan di
lembaga pemerintah (org)
n/a 2.007 1.621 1.540 2.322 Jumlah pekerja perempuan (org) n/a 56.536 9.799 9.870 45.571 Persentase partisipasi
perempuan di lembaga pemerintah (%)
n/a 3,55 16,54 15,60 5,10
Sumber : BKPPD dan Dinperinaker Kota Pekalongan, 2019
Tabel diatas menunjukkan bahwa pada tahun 2019 jumlah pekerja perempuan di lembaga pemerintah bertambah, semula 1.540 orang pada tahun 2018 menjadi 2.322 orang pada tahun 2019.
Rancangan Teknokratik RPJMD Kota Pekalongan Tahun 2021-2025 | Gambaran Umum Kondisi Daerah
103 b. Partisipasi Perempuan dalam Jabatan Struktural ASN
Partisipasi perempuan dalam jabatan eselon II, III, dan IV di Kota Pekalongan selama kurun waktu 2015-2019 terus menurun. Pada tahun 2015 pejabat perempuan yang menduduki eselon II, III dan IV dibandingkan seluruh jabatan yang terisi sebesar 231 orang. Jumlah tersebut terus menurun sampai pada jumlah 196 orang di tahun 2019. Data selengkapnya disajikan dalam Gambar 2.33 berikut.
Gambar 2.33 Jumlah Perempuan Dalam Jabatan ASN di Kota Pekalongan Tahun 2015-2019
Sumber : Kota Pekalongan Dalam Angka Tahun 2020 (diolah), 2020
c. Rasio KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga)
Rasio KDRT menunjukkan persentase kasus KDRT dibandingkan dengan jumlah rumah tangga. Selama kurun waktu 2015-2019 rasio KDRT mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Semakin kecil rasio KRDT menunjukan indikasi yang semakin baik. Rasio KDRT terendah terjadi pada tahun 2019 dengan angka rasio 0,038%.
Gambar 2.34 Perkembangan Rasio KDRT di Kota Pekalongan Tahun 2015-2019
Sumber : DPMPPA Kota Pekalongan, 2020
2015 2016 2017 2018 2019 Pejabat
Perempuan Menempati Jabatan Eselon II,
III dan IV 231 221 208 203 196 190 195 200 205 210 215 220 225 230 235 2015 2016 2017 2018 2019 Rasio KDRT (%) 0,093 0,064 0,041 0,043 0,038 0,010 0,020 0,030 0,040 0,050 0,060 0,070 0,080 0,090 0,100
Rancangan Teknokratik RPJMD Kota Pekalongan Tahun 2021-2025 | Gambaran Umum Kondisi Daerah
104 d. Penyelesaian Kasus Perlindungan Perempuan dan Anak
Penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak dari tindakan kekerasan di Kota Pekalongan telah menunjukkan prestasi yang baik. Sejak tahun 2015 hingga tahun 2019 seluruh kasus pengaduan perlindungan perempuan dan anak dapat diselesaikan. Salah satu faktor keberhasilan atas prestasi tersebut dikarenakan adanya Lembaga Perlindungan Perempuan, Anak dan Remaja (LP-PAR) dibawah koordinasi Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perlindungan Perempuan dan Anak (DPMPPA).
Gambar 2.35 Perkembangan Penyelesaian Pengaduan Perlindungan Perempuan dan Anak di Kota Pekalongan
Tahun 2015-2019
Sumber : DPMPPA Kota Pekalongan, 2020
3. Pangan
Ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang mencakup empat sub sistem yaitu : (a) Ketersediaan pangan melalui upaya peningkatan ketersediaan pangan di daerah dan pengembangan produksi pangan lokal serta cadangan pangan, (b) Keterjangkauan pangan melalui pemantapan distribusi, pemasaran, perdagangan, informasi; (c) Konsumsi pangan melalui peningkatan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan; serta (d) keamanan pangan melalui sanitasi, pemberian jaminan keamanan dan mutu pangan.
Ketersediaan pangan pada satu wilayah ditunjukkan dengan rasio ketersediaan pangan utama. Pada tabel 2.83 dapat dilihat bahwa sepanjang tahun 2015-2017 ketersediaan pangan utama mengalami kecenderungan naik, dari 6.323.153 di tahun 2015 menjadi 7.382.286 di tahun 2017. Namun pada tahun 2018 mengalami penurunan yang cukup tajam menjadi 5.876.484 dan pada tahun 2019 lebih menurun lagi menjadi 5.400.416. Secara otomatis persentase ketersediaan pangan juga sebanding dengan fluktuasi ketersediaan pangan, yaitu meningkat pada tahun 2015-2017 dan semakin menurun pada tahun 2018-2019.
Tabel 2.83 Rasio Ketersediaan Pangan Utama Kota Pekalongan Tahun 2015 – 2019
Tahun Ketersediaan Pangan Utama Per tahun
Jumlah Penduduk Persentase 2015 6.323.153 296.533 21,31 2016 6.855.003 299.222 22,91 2017 7.382.286 301.870 24,46 2015 2016 2017 2018 2019 Penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak
dari tindakan kekerasan (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 80,00 85,00 90,00 95,00 100,00 105,00
Rancangan Teknokratik RPJMD Kota Pekalongan Tahun 2021-2025 | Gambaran Umum Kondisi Daerah
105
Tahun Ketersediaan Pangan Utama Per tahun
Jumlah
Penduduk Persentase 2018 5.860.781 304.477 19,25 2019 5.400.416 307.097 17,59 Sumber : Dinperpa Kota Pekalongan, 2020
Pola Pangan Harapan adalah susunan beragam pangan atau kelompok pangan yang didasarkan atas sumbangan energinya, baik secara absolut maupun relatif terhadap total energi baik dalam hal ketersediaan maupun konsumsi pangan, yang mampu mencukupi kebutuhan dengan mempertimbangkan aspek-aspek sosial, ekonomi, budaya, agama dan cita rasa ( Depkes RI, 2005). Kualitas konsumsi pangan masyarakat Kota Pekalongan dari tahun 2014-2018 yang ditunjukkan dengan meningkatnya skor Pola Pangan Harapan (PPH), merupakan salah satu indikator keberhasilan ketahanan pangan di Kota Pekalongan dari aspek konsumsi.
Skor PPH selama lima tahun terakhir terus membaik. Skor PPH Kota Pekalongan menunjukkan perkembangan yang semakin membaik pada tahun 2015-2019. Jika skor PPH tahun 2015 sebesar 88,40 maka pada tahun 2019 semakin naik menjadi 91,31. Capaian skor PPH dapat dilihat pada tabel 2.84 berikut.
Tabel 2.84 Skor PPH Kota Pekalongan Tahun 2015 – 2019
Tahun Skor PPH Kota Pekalongan
2015 88,40 2016 88,70 2017 89,71 2018 90,42 2019 91,31
Sumber : Dinperpa Kota Pekalongan, 2020
Berdasarkan pengelompokan menurut jenis bahan pangan, menunjukkan bahwa konsumsi beras di Kota Pekalongan menunjukkan fluktuasi dari tahun ke tahun dan pada tahun 2019 sebesar 102,0 kg per kapita/tahun. Begitu pula dengan sayur dan buah bisa dikatakan cukup tinggi jika dibandingkan dengan kelompok pangan lainnya, yaitu 73,8 kg per kapita/tahun pada tahun 2018 dan meningkat menjadi 82,2 kg per kapita/tahun pada tahun 2019. Di urutan ketiga ditempati kelompok pangan hewani (47 kg/kapita/tahun tahun 2018) dan menurun sedikit menjadi 45,0 kg perkapita/tahun pada tahun 2019, selanjutnya diikuti dengan kacang-kacangan, umbi-umbian dan kelompok pangan lainnya. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 2.85 berikut.
Tabel 2.85 Capaian Konsumsi Kelompok Pangan di Kota Pekalongan Tahun 2015 – 2019
Capaian Konsumsi
Kelompok Pangan Satuan 2015 2016 2017 2018 2019
Padi-padian Kg/Kap/th 89,9 101,5 107,0 98,8 102,0 Umbi-umbian Kg/Kap/th 15,6 16,0 16,5 16,5 18,8 Pangan Hewani Kg/Kap/th 39,3 38,3 40,2 47,0 45,0 Minyak dan Lemak Kg/Kap/th 19,7 17,2 12,2 11,8 5,7 Buah/biji berminyak Kg/Kap/th 2,9 3,5 2,6 2,8 2,3 Kacang-kacangan Kg/Kap/th 11,7 13,8 19,0 18,0 23,5 Gula Kg/Kap/th 7,0 9,5 10,0 9,5 5,9
Rancangan Teknokratik RPJMD Kota Pekalongan Tahun 2021-2025 | Gambaran Umum Kondisi Daerah
106
Capaian Konsumsi
Kelompok Pangan Satuan 2015 2016 2017 2018 2019
Sayur & Buah Kg/Kap/th 70,6 78,4 74,1 73,8 82,2 lain-lain Kg/Kap/th 2,9 2,8 1,3 1,4 2,3 Sumber : Dinperpa Kota Pekalongan, 2020
Dari segi konsumsi energi yang diukur dari kilo kalori (kkal) per kapita/tahun, konsumsi beras selalu menempati posisi pertama dengan jumlah 974,9 kkal/kapita/tahun pada tahun 2018 dan meningkat menjadi 1.006,1 kkal/kapita/tahun pada tahun 2019. Urutan berikutnya selalu berubah jenis kelompok pangannya. Pada tahun 2019, di urutan kedua ada pangan hewani sebesar 255,4 kkal/kapita/tahun, diikuti oleh kacang-kacangan sebanyak 213,2 kkal/kapita/tahun. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 2.86 berikut.
Tabel 2.86 Konsumsi Energi Per Kapita/tahun di Kota Pekalongan Tahun 2015 – 2019
Capaian Konsumsi
Kelompok Pangan Satuan 2015 2016 2017 2018 2019
Padi-padian Kkal/Kg/Kap/th 886,7 1.000,8 1.055,0 974,9 1.006,1 Umbi-umbian Kkal/Kg/Kap/th 46,7 48,0 49,5 49,6 56,3 Pangan Hewani Kkal/Kg/Kap/th 222,7 217,2 228,1 266,7 255,4 Minyak dan Lemak Kkal/Kg/Kap/th 468,4 410,7 289,8 280,1 136,8 Buah/biji berminyak Kkal/Kg/Kap/th 50,8 60,2 45,3 49,1 40,6 Kacang-kacangan Kkal/Kg/Kap/th 105,7 124,9 172,1 163,4 213,2 Gula Kkal/Kg/Kap/th 70,3 94,9 99,8 94,7 58,7 Sayur dan Buah Kkal/Kg/Kap/th 100,2 111,4 105,3 104,9 116,8 Lain-lain Kkal/Kg/Kap/th 23,4 22,6 10,3 11,1 18,5 Sumber : Dinperpa Kota Pekalongan, 2020
4. Pertanahan
Dalam era otonomi daerah saat ini, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota, terdapat 9 urusan pertanahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten Kota. Kesembilan urusan tersebut adalah Izin Lokasi, Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum Pelayanan Umum, Sengketa Tanah Garapan, Ganti Rugi, Penetapan Subyek Obyek Redistribusi tanah, tanah ulayat, pemanfaatan tanah kosong, izin membuka tanah, dan penggunaan tanah. Sedangkan berdasarkan Undang-Undang nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, urusan pertanahan kabupaten/kota hanya meliputi 8 sub urusan yaitu izin lokasi; sengketa tanah garapan; ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan; subyek dan obyek redistribusi tanah, serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absente; tanah ulayat; tanah kosong; izin membuka tanah; serta penggunaan tanah.
Pelayanan umum kepada masyarakat di urusan pertanahan, bertujuan untuk mempertahankan kelestarian lahan dan lingkungan. Beberapa hal yang dilakukan antara lain dengan memberikan insentif kepada masyarakat dalam rangka mempertahankan lahan pertanian, serta memberikan sertifikat tanah masyarakat yang berada di kawasan lindung dan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
Rancangan Teknokratik RPJMD Kota Pekalongan Tahun 2021-2025 | Gambaran Umum Kondisi Daerah
107 Perkembangan kepemilikan sertifikat tanah di Kota Pekalongan terus mengalami peningkatan. Secara lengkap tanah bersertifikat di Kota Pekalongan dijelaskan dalam Tabel 2.87 berikut.
Tabel 2.87 Lahan Bersertifikat di Kota Pekalongan Tahun 2015-2019
Uraian 2015 2016 2017 2018 2019
Luas wilayah 4.525 4.525 4.525 4.525 4.525 Luas tanah bersertifikat 3.617,23 3.690,93 3.778,43 4.013,28 4.157,29 Hak Milik 2.880,99 2.939,78 3.013,55 3.192,36 3.320,74 HGB 286,96 289,49 293,52 305,94 13,21 Hak Guna Usaha 5,76 5,76 6,76 6,76 6,76 Hak Pakai 382,56 394,95 403,04 444,70 451,53 Hak Pengelolaan 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 Hak Wakaf 56,96 56.96 58,57 60,5396 62,06 Lahan Bersertifikat (%) 74,47% 77,96% 79,94% 88,69% 91,87% Sumber : BPN Kota Pekalongan (diolah), 2020
Kinerja persertifikatan bidang tanah di Kota Pekalongan terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2015 luas lahan bersertifikat adalah 74,47%, dalam kurun waktu tahun 2015-2019 terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, dan pada tahun 2019 sebanyak 91,87% lahan di Kota Pekalongan sudah bersertifikat. Semakin meningkatnya persentase tersebut dapat juga menandakan kesadaran hukum masyarakat yang semakin meningkat, khususnya terhadap pertanahan.
Gambar 2.36 Persentase Luas Lahan Bersertifikat di Kota Pekalongan Tahun 2015-2019
Sumber : BPN Kota Pekalongan (diolah), 2020