• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT

D. Pemberesan Harta Pailit

Pemberesan merupakan salah satu tugas yang dilakukan oleh kurator terhadap pengurusan harta debitur pailit. Dalam Penjelasan Pasal 16 ayat (1) UUK dan PKPU dijelaskan bahwa yang dimaksud pemberesan adalah penguangan aktiva untuk membayar atau melunasi utang. Pemberesan baru dapat dilakukan

setelah debitur berada dalam keadaan insolvensi, dimana insolvensi baru dapat terjadi bila:30

1. Jika dalam rapat pencocokan piutang tidak ditawarkan rencana perdamaian.

2. Apabila ada penawaran perdamaian oleh si pailit maupun oleh kurator, tetapi

tidak disetujui oleh para kreditur dalam rapat verifikasi (pencocokan piutang).

3. Apabila terdapat perdamaian dan disetujui oleh para kreditur dalam rapat

verifikasi tetapi tidak mendapat homogolasi (pengesahan) oleh hakim pemutusan kepailitan.

Berikut ini diuraikan tentang hal-hal yang dilakukan dalam tahap pemberesan harta pailit :

1. Mengusulkan agar perusahaan debitur pailit dilanjutkan

Jika dalam rapat pencocokan piutang tidak ditawarkan rencana perdamaian atau jika rencana perdamaian yang ditawarkan tidak diterima, kurator atau kreditur yang hadir dalam rapat dapat mengusulkan supaya perusahaan debitur

pailit dilanjutkan.31

30

Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 178 ayat (1).

Usulan untuk melanjutkan perusahaan dalam rapat tersebut wajib diterima, apabila usul tersebut disetujui oleh kreditur yang mewakili lebih dari ½ dari semua piutang yang diakui dan diterima sementara, yang tidak dijamin dengan hak gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan atas

31

Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 179 ayat (1).

kebendaan lainnya.32 Namun, kelanjutan perusahaan dapat dihentikan oleh hakim

pengawas atas permintaan kreditur atau kurator.33

2. Mengusulkan dan melaksanakan penjualan harta pailit

Dengan memperhatikan ketentuan Pasal 16 ayat (1) UUK dan PKPU disebutkan, kurator harus memulai pemberesan dan menjual semua harta pailit,

tanpa perlu memperoleh persetujuan atau bantuan debitur:34

a. Usul untuk mengurus perusahaan debitur tidak diajukan dalam jangka

waktu sebagaimana diatur dalam undang-undang ini atau usul tersebut telah diajukan tetapi ditolak.

b. Pengurusan terhadap perusahaan dihentikan, namun dalam hal perusahaan

dilanjutkan dapat dilakukan penjualan benda termasuk harta pailit, yang tidak diperlukan dalam meneruskan perushaan. Debitur pailit dapat diberikan sekedar perabot rumah dan perlengkapannya, alat-alat medis yang dipergunakan untuk kesehatan, atau perabot kantor yang ditentukan oleh hakim pengawas.

Terhadap semua harta kekayaan pailit tersebut harus dijual di muka umum sesuai dengan tata cara yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan

yang berlaku.35

32

Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 180 ayat (1).

Dalam hal penjualan di muka umum tidak dapat tercapai, maka

33

Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 183 ayat (1).

34

Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailiatn dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 184.

35

Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailiatn dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 185 ayat (1).

dapat dilakukan penjualan di bawah tangan dengan izin dari hakim pengawas. 36 Sedangkan terhadap semua barang yang tidak segera atau sama sekali tidak dapat dibereskan, maka kurator yang memutuskan tindakan yang harus dilakukan

terhadap barang tersebut dengan izin dari hakim pengawas.37

3. Mengadakan rapat kreditur

Setelah harta pailit berada dalam keadaan insolvensi, maka hakim pengawas dapat mengadakan suatu rapat kreditur pada hari, jam, dan tempat yang ditentukan untuk mendengar mereka seperlunya mengenai cara pemberesan harta

pailit dan jika perlu mengadakan pencocokan piutang.38 Apabila hakim pengawas

berpendapat terdapat cukup uang tunai, kurator diperintahkan untuk melakukan

pembagian kepada kreditur yang piutangnya telah dicocokkan.39

4. Membuat daftar pembagian

Mengenai masalah daftar pembagian, maka kurator wajib menyusun suatu

daftar pembagian untuk dimintakan persetujuan kepada hakim pengawas.40

36

Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 185 ayat (2).

Kurator membuat daftar pembagian yang berisi jumlah uang yang diterima dan yang dikeluarkan, termasuk didalamnya upah kurator, nama-nama kreditur dan jumlah tagihannya yang telah disahkan, pembayaran-pembayaran yang akan dilakukan terhadap tagihan-tagihan itu atau bagian yang wajib diterimakan kepada kreditur.

37

Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 185 ayat (3).

38

Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 187 ayat (1).

39

Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 188.

40

Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 189 ayat (1).

Daftar pembagian tersebut dapat dibuat sekali atau lebih dari sekali dengan memperhatikan kebutuhan. Daftar pembagian yang telah disetujui oleh hakim pengawas wajib disediakan di kepaniteraan pengadilan agar dapat dilihat oleh kreditur selama tenggang waktu yang ditetapkan oleh hakim pengawas pada waktu daftar tersebut disetujui dan diumumkan oleh kurator dalam surat kabar

harian sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 15 ayat (4) UUK dan PKPU.41

Daftar pembagian tersebut dapat dilawan oleh kreditur dengan mengajukan surat keberatan dengan disertai alasan kepada paniteraan pengadilan

dengan menerima tanda bukti penerimaan.42 Hakim pengawas akan menetapkan

hari memeriksa perlawanan di sidang pengadilan yang terbuka untuk umum Dalam sidang tersebut, hakim pengawas memberikan laporan tertulis, sedangkan kurator dan setiap kreditur atau kuasanya dapat mendukung atau membantah daftar pembagian tersebut dengan mengemukakan alasannya dan pengadilan paling lambat dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari wajib memberikan putusan yang

disertai dengan pertimbagan hukum yang cukup.43 Terhadap putusan pengadilan

tersebut dapat diajukan permohonan kasasi.44

Setelah kurator selesai dalam melaksanakan pembayaran kepada masing-

masing kreditur berdasarkan daftar pembagian, maka berakhirlah kepailitan.45

41

Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 192.

42

Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 193 ayat (1).

43

Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 194.

44

Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 196 ayat (1).

45

Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 201 dan Pasal 202 ayat (1).

Kurator melakukan pengumuman mengenai berakhirnya kepailitan dalam berita

negara republik indonesia dan surat kabar harian.46

5. Membuat daftar perhitungan dan pertanggungjawaban pengurusan dan

pemberesan kepailitan kepada hakim pengawas.

Kurator wajib memberikan pertanggungjawaban mengenai pengurusan dan pemberesan yang telah dilakukannya kepada hakim pengawas paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah berakhirnya kepailitan. Semua buku dan dokumen mengenai harta pailit wajib diserahkan kepada debitur dengan tanda bukti

penerimaannya.47

Sesudah diadakan pembagian penutup, ada pembagian yang tadinya dicadangkan jatuh kembali dalam harta pailit atau apabila ternyata masih terdapat bagian harta pailit yang sewaktu diadakan pemberesan tidak diketahui, maka atas perintah pengadilan, kurator membereskan dan membaginya berdasarkan daftar

pembagian dahulu.48 Selanjutnya, kurator bertanggung jawab terhadap kesalahan

atau kelaliannya dalam melaksanakan tugas pengurusan dan/atau pemberesan

yang menyebabkan kerugian terhadap harta pailit.49

Tugas dan kewenangan sebagaimana diuraikan di atas dilakukan dengan menganut asas independen dan tidak memihak hanya pada kepentingan kreditur sendiri atau semata-mata untuk kepentingan debitur. Apabila kurator dalam

46

Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 202 ayat (2).

47

Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 202 ayat (3) dan ayat (4).

48

Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 203.

49

Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 72.

menjalankan tugasnya tidak independen maka para pihak dapat mengajukan penggantian kurator.

E. Kedudukan Hukum Debitur Setelah Berakhirnya Pemberesan Harta

Dokumen terkait