• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHAN DAN METODE

3.3. Metode Penelitian

3.3.2. Pemberian Filler

Pemberian filler bertujuan untuk menutup pori-pori dan merataan permukaan bambu. Ada dua jenis filler yang digunakan , yaitu Wood Filler SH- 113 yang berpelarut minyak dan Impra Aqua Wood Filler AWF-911 yang berpelarut air. Cara pengaplikasiannya dengan menggunakan kuas setelah filler

dicampur dengan pelarutnya masing-masing. 3.3.3. Pembatikan

Tahapan proses pembatikan adalah:

a. Anyaman bambu terlebih dahulu diampelas halus kemudian diberi gambar dengan pola yang diinginkan. Kegiatan membuat pola ini disebut mola.

b. Anglo atau kompor kecil dan wajan yang berisi malam disiapkan. Malam harus mencair sempurna agar lancar keluar dari cucuk canting dan dapat menempel dengan baik pada permukaan anyaman bambu.

c. Pembatikan dimulai dengan mengambil malam yang telah mencair dengan canting. Canting harus ditiup terlebih dahulu sebelum dibatikkan. Peniupan ini dilakukan untuk mengembalikan cairan malam dari cucuk ke nyamplung sehingga malam tidak meleleh sebelum ditempelkan pada permukaan anyaman bambu. Selain itu canting ditiup untuk membebaskan cucuk dari sumbatan atau kotoran malam.

d. Langkah selanjutnya yaitu menggoreskan ujung canting pada permukaan anyaman bambu. Dibutuhkan kesabaran dan ketelitian karena tebal tipisnya garis batikan sangat ditentukan oleh keterampilan tangan pembatik. Jika cairan malam dalam nyamplung telah habis atau dingin, maka malam dikembalikan lagi dalam wajan untuk kemudian mengambil cairan malam yang baru. Malam yang dingin tadi akan meleleh dan bercampur lagi dengan malam yang lain karena selama pembatikan kompor akan terus dinyalakan dengan api yang kecil. Pembatikan diteruskan sampai seluruh pola yang disiapkan tertutup oleh malam.

e. Anyaman bambu yang telah selesai dimalam terlebih dahulu dibersihkan menggunakan kuas. Setelah itu dapat langsung diwarnai. Pada penelitian ini pewarna yang digunakan adalah jenis naphtol dengan cara pencelupan dingin. Garam yang digunakan ada 2 tiga jenis, yaitu merah B dan merah GG sedangkan napthol yang digunakan terdiri dari 3 jenis, yaitu ASG, ASOL dan soga 91. Pewarna disiapkan dengan melarutkan kostik soda, ASG, dan TRO dalam air panas. Setelah itu dicampur dengan 1 liter air dingin dan dimasukkan ke dalam ember. Larutan pewarna didiamkan beberapa menit sampai dingin. Setelah itu anyaman dicelup dalam larutan pewarna sambil disiram agar seluruh permukaan anyaman terkena pewarna. Pencelupan ini tidak membutuhkan waktu yang lama.

f. Anyaman bambu dapat diproses lebih lanjut untuk membangkitkan warnanya melalui pencelupan dalam garam diazodium jenis merah B. Lamanya pencelupan tergantung pada tingkatan warna yang diinginkan. Semakin lama anyaman berada dalam larutan ini maka warna yang dihasilkan akan semakin tua. Konsentrasi garam diazodium harus diperhatikan setelah digunakan untuk membangkitkan warna beberapa kali. Konsentrasi garam diazodium dapat dilihat dari warna yang berhasil dibangkitkan. Anyaman bambu yang telah dicelup kemudian dijemur untuk mengeringkan larutan garam diazodium. g. Tahapan selanjutnya adalah pencantingan kembali (kedua). Langkah ini sama

halnya dengan poin d-e, namun pada pewarnaan pertama larutan yang digunakan adalah kostik soda, ASOL, dan TRO sedangkan pada larutan kedua menggunakan garam diazodium jenis merah GG. Pada pewarnaan tahapan ketiga, setelah pencantingan kembali (ketiga) pewarnaan pertama larutan yang digunakan adalah kostik soda, soga 91, dan TRO sedangkan pada larutan kedua menggunakan garam diazodium jenis merah B.

h. Tahapan selanjutnya adalah nglorot. Tahap nglorot dilakukan dengan merebus anyaman dalam air yang telah dicampur dengan soda abu. Soda abu ini bertujuan untuk melunakkan malam sehingga lebih mudah terlepas dari anyaman. Anyaman bambu yang telah kering setelah pewarnaan dapat segera dilorot. Anyaman bambu dimasukan dalam air mendidih sambil dibolak-balik, hal ini dilakukan sampai semua permukaan anyaman terbebas dari malam.

Setelah permukaan anyaman bersih, anyaman diangkat dan langsung dimasukan dalam air dingin untuk dibersihkan. Anyaman bambu yang telah bersih dari malam kemudian dijemur kembali dan siap untuk mendapat perlakuan finishing selanjutnya.

3.3.4. Pemberian Sealer

Sanding sealer diaplikasikan menggunakan spray gun untuk menutupi pori-pori. Sesuai petunjuk penggunaan produk propan raya, MSS-123 diaplikasikan dengan perbandingan campuran MSS-123 : Hardener : Thinner

adalah 9 : 1 : 6, sedangkan SS-121 diaplikasikan dengan perbandingan campuran SS-121 : Thinner adalah 1 : 1, dan ASS-941 diaplikasikan dengan perbandingan campuran ASS-941 : Air adalah 1 : 1. Selanjutnya anyaman bambu di ampelas dengan kertas amplas nomor 400 untuk meratakan permukaan lapisan sealer. Pemberian sealer dapat dilakukan 1 atau 2 kali tergantung hasil permukaan yang dihasilkan.

3.3.5. Pengecatan Akhir (Top Coating)

Pemberian top coat diaplikasikan dengan menggunakan spray gun. Top coat dapat dilakukan sampai 2 kali dengan terlebih dahulu dilakukan pengampelasan ambang menggunakan ampelas nomor 1000. Pengampelasan ini bertujuan untuk meratakan permukaan tanpa merusak lapisan filmnya. Kemudian anyaman bambu diangin-anginkan sampai kering. ML-131 diaplikasikan dengan perbandingan campuran ML-131 : Hardener : Thinner adalah 9 : 1 : 6, NC-141 diaplikasikan dengan perbandingan campuran NC-141 : Thinner adalah 1 : 1, dan AL-961 diaplikasikan dengan perbandingan campuran AL-961 : Air adalah 1 : 1. 3.4. Pengujian Contoh Uji

Setelah proses finishing selesai maka dilakukan pengujian terhadap lapisan

finishing-nya, antara lain uji ketahanan lapisan finishing terhadap bahan kimia rumah tangga, uji ketahanan terhadap pengasapan, dan uji ketahanan terhadap uap air panas. Pembagian bahan uji pada lembaran anyaman yang telah di-finishing

Gambar 3. Skema pembagian contoh uji pada pengujian daya tahan terhadap bahan kimia rumah tangga, pengasapan, dan uap air panas. Keterangan:

A = Uji ketahanan lapisan finishing terhadap bahan kimia rumah tangga pada interval waktu 1 jam (1 = Uji minyak sayur, 2 = Uji kecap, 3 = Uji saos, 4 = Kontrol).

B = Uji ketahanan lapisan finishing terhadap bahan kimia rumah tangga pada interval waktu 24 jam(1 = Uji minyak sayur, 2 = Uji kecap, 3 = Uji saos, 4 = Kontrol).

C = Uji ketahanan terhadap pengasapan. D = Uji ketahanan terhadap uap air panas.

3.4.1. Uji Ketahanan Lapisan Finishing Terhadap Bahan Kimia Rumah Tangga

Standar yang digunakan dalam pengujian ini adalah ASTM D 1308-02. Adapun bahan kimia rumah tangga yang digunakan adalah minyak sayur, kecap, dan saos. Sebelum dilakukan pengujian, contoh uji harus dikering udarakan terlebih dahulu selama 1 minggu. Adapun urutan pengujian yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Permukaan contoh uji yang akan diuji dibagi menjadi empat bagian. Tiga bagian untuk melaburkan bahan kimia rumah tangga, sementara satu bagian sebagai kontrol.

b. Setiap bagian tersebut kemudian dilabur dengan bahan kimia rumah tangga yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Pelaburan dilakukan pada seluruh permukaan anyaman bambu lalu didiamkan selama 1 jam.

c. Setelah itu contoh uji dibersihkan dengan kain lap bersih kemudian diamati perubahan fisik yang terjadi, kemudian diklasifikasikan dalam 10 kelas seperti tersaji pada Tabel 1. Pengamatan yang sama dilakukan pada interval waktu selama 24 jam.

C

D

A

1

A

2

A

4

A

3

B

1

B

2

B

3

B

4

Tabel 1. Klasifikasi kondisi permukaan dalam 10 kelas

Persentase Permukaan Bercacat (%) Kelas Tidak bercacat 0 – 1 2 – 3 4 – 6 7 – 10 11 – 20 21 – 30 31 – 40 41 – 55 56 – 75 > 75 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Sumber: ASTM D 1654-92 (2000)

3.4.2. Uji Ketahanan Terhadap Pengasapan

Pengujian ini mengacu pada ASTM D 1308-02. Pengujian dilakukan dengan menggunakan asap yang diperoleh dari pembakaran serbuk gergaji dan jerami. Sebelum dilakukan pengujian, contoh uji dikering udarakan terlebih dahulu selama 1 minggu. Adapun urutan pengujiannya adalah sebagai berikut:

a. Asap yang dibuat dari pembakaran serbuk gergaji dan jerami kemudian diarahkan pada permukaan contoh uji dengan menggunakan cerobong. Pengujian dilakukan selama 5-10 menit.

b. Kemudian contoh uji diamati terhadap perubahan fisik (cacat) yang terjadi. Perubahan fisik (cacat) yang terjadi pada permukaan contoh uji diklasifikasikan dalam 10 kelas seperti tersaji pada Tabel 1.

3.4.3. Uji Ketahanan Terhadap Uap Air Panas

Pengujian dengan uap air panas ini mengacu pada ASTM D 1308-02. Uap air panas diperoleh dari perebusan air pada water bath. Sebelum dilakukan pengujian, contoh uji dikering udarakan terlebih dahulu selama 1 minggu. Adapun urutan pengujiannya sebagai berikut:

a. Contoh uji diletakkan diatas water bath selama 5-10 menit.

b. Kemudian contoh uji diamati terhadap perubahan fisik (cacat) yang terjadi. Perubahan fisik (cacat) yang terjadi pada permukaan contoh uji diklasifikasikan dalam 10 kelas seperti tersaji pada Tabel 1.

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1. Pembentukan Lapisan Film dengan Teknik Batik

Penelitian mengenai finishing dengan menggunakan teknik batik ini menerapkan kombinasi beberapa urutan proses pengerjaan. Pada kombinasi pertama tahapan awal yang dilakukan adalah dengan mengaplikasikan woodfiller

berpelarut oil pada permukaan anyaman bambu sebelum proses pembatikan. Pada proses pembatikan tahapan yang dilakukan adalah pemalaman, pewarnaan dan penglorotan. Hasil yang diperoleh pada kombinasi ini ternyata tidak bagus. Wood filler yang diberikan menutup pori-pori dari anyaman bambu sehingga pewarna napthol tidak dapat menyerap secara sempurna ke dalam pori-pori anyaman yang mengakibatkan tampilan warna yang dihasilkan kurang baik.

Kombinasi kedua dicobakan dengan mengaplikasikan wood filler yang berpelarut air dengan harapan pewarna napthol dapat meresap dengan baik kedalam pori-pori anyaman bambu. Proses selanjutnya sama yaitu pemalaman, pewarnaan, dan penglorotan. Hasil yang diperoleh pada kombinasi kedua ternyata tidak berbeda jauh dengan kombinasi pertama. Wood filler yang telah berikatan dengan pewarna napthol sebagian tercuci pada saat penglorotan yaitu perebusan dengan menggunakan air panas pada saat palarutan malam. Hal ini mengakibatkan warna yang dihasilkan tidak terlalu tegas atau pudar. Bahkan pada anyaman bambu yang berbahan campuran daging dan kulit bambu, warna yang menempel dapat terkelupas dari bahan kulit bambu. Hal ini dapat disebabkan karena kulit bambu memiliki lapisan seperti lilin sehingga wood filler sekaligus pewarna napthol tidak dapat menembus dan berikatan dengan baik dengan kulit bambu. Tahapan proses finishing teknik batik kombinasi pertama dan kedua disajikan pada Gambar 4. Penampilan permukaan teknik batik yang dicobakan pada kombinasi pertama dan kedua disajikan pada Gambar 5.

Gambar 4. Tahapan proses finishing kombinasi pertama dan kedua.

Ampelas dengan kertas ampelas nomer 180 untuk menghilangkan debu, kotoran dan bulu-

bulu pada anyaman

ANYAMAN BAMBU

Wood filler oil base SH 113 diaplikasikan dengan kuas kemudian diampelas dengan

kertas ampelas nomer 240

FILLING (oil base)

Wood filler water base AWF 911 diaplikasikan dengan kuas kemudian diampelas dengan kertas ampelas nomer 240

FILLING (water base)

Menggunakan alat berupa canting, malam, dan kompor

NYANTING

Pembuatan motif dengan pensil

Pewarnaan dilakukan 3 tahap:

1. Pewarna napthol ASG, soda kostik dan TRO dengan bahan pembangkit merah B. 2. Pencantingan kembali, lalu pewarnaan

kedua dengan pewarna napthol ASOL, soda kostik dan TRO dengan bahan pembangkit merah GG.

3. Pencantingan kembali, lalu pewarnaan kedua dengan pewarna napthol Soga 91, soda kostik dan TRO dengan bahan pembangkit merah B.

PEWARNAAN

NGLOROT

Proses penghilangan malam dengan perebusan dengan air mendidih yang

dicampur soda abu

Pembuatan motif dengan pensil

Menggunakan alat berupa canting, malam, dan kompor

NYANTING

Pewarnaan dilakukan 3 tahap:

1. Pewarna napthol ASG, soda kostik dan TRO dengan bahan pembangkit merah B. 2. Pencantingan kembali, lalu pewarnaan

kedua dengan pewarna napthol ASOL, soda kostik dan TRO dengan bahan pembangkit merah GG.

3. Pencantingan kembali, lalu pewarnaan kedua dengan pewarna napthol Soga 91, soda kostik dan TRO dengan bahan pembangkit merah B.

PEWARNAAN

Proses penghilangan malam dengan perebusan dengan air mendidih yang

dicampur soda abu

Gambar 5. Penampilan permukaan anyaman bambu hasil proses finishing teknik batik kombinasi pertama dan kedua.

Tampilan anyaman bambu setelah pemberian filler oil base

(kiri) dan filler water base (kanan)

Tampilan anyaman bambu setelah proses nyanting

Tampilan anyaman bambu setelah proses pewarnaan

Tampilan anyaman bambu setelah proses nglorot

Penampilan penggunaan wood filler pada Gambar 5 mengindikasikan bahwa wood filler pada finishing dengan menggunakan teknik batik tidak dapat diterapkan, hal ini sesuai dengan penelitian Kurniawan 2006. Selanjutnya dicobakan kombinasi tahapan yang tidak diawali dengan pemberian wood filler

melainkan langsung dengan pembatikan pada media anyaman bambu, yaitu pemalaman, pewarnaan, dan penglorotan. Hasil yang ditampilkan pada proses ini sangat baik yaitu pewarna napthol dapat meresap secara sempurna ke dalam anyaman bambu dan menghasilkan warna yang tegas. Hasil pewarnaan ini dapat memberi saran bahwa bahan pembatik harus berikatan langsung dengan lapisan bambu dan tidak boleh ada lapisan lain yang menghalanginya.

Pada tahapan finishing selanjutnya diaplikasikan 3 jenis bahan finishing

yang berbeda, yaitu Melamin, NC (Nitro Cellulose), dan Aqua (Water Based Lacquer). Ketiga jenis bahan ini dipilih karena banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan mebel dan juga untuk mengetahui kualitas tampilan akhir dari ketiga jenis bahan finishing. Berbeda dengan Kurniawan 2006, pada anyaman bambu tidak dibutuhkan pemberian sanding sealer yang banyak dengan pertimbangan pori-pori bambu tidak terlalu besar. Sanding sealer hanya diaplikasikan 1 kali saja dan tidak diperlukan juga pengaplikasian microfiller

untuk mengurangi pengaplikasian sanding sealer. Tahapan proses finishing teknik batik kombinasi ketiga, keempat, dan kelima disajikan pada Gambar 6. Penampilan permukaan teknik batik yang dicobakan pada kombinasi ketiga, keempat, dan kelima disajikan pada Gambar 7. Hasil akhir finishing terhadap anyaman bambu disajikan pada Gambar 8.

Gambar 6. Tahapan proses finishing kombinasi ketiga, keempat, dan kelima.

Ampelas dengan kertas ampelas nomer 180 untuk menghilangkan debu, kotoran dan bulu-bulu pada

anyaman

Pembuatan motif dengan pensil

Menggunakan alat berupa canting, malam, dan kompor

NYANTING

Pewarnaan dilakukan 3 tahap:

1. Pewarna napthol ASG, soda kostik dan TRO dengan bahan pembangkit merah B. 2. Pencantingan kembali, lalu pewarnaan kedua

dengan pewarna napthol ASOL, soda kostik dan TRO dengan bahan pembangkit merah GG. 3. Pencantingan kembali, lalu pewarnaan kedua

dengan pewarna napthol Soga 91, soda kostik dan TRO dengan bahan pembangkit merah B.

PEWARNAAN

Proses penghilangan malam dengan perebusan dengan air mendidih yang dicampur soda abu

NGLOROT ANYAMAN BAMBU

Melamine sanding sealer

diaplikasikan menggunakan spray gun SEALING (Melamine) SEALING (Nitrocellulose) Nitrocellulose sanding sealer diaplikasikan menggunakan spray gun

SEALING (Aqua)

Aqua sanding sealer

diaplikasikan menggunakan spray gun Pengampelasan dengan kertas ampelas 400 Pengampelasan dengan kertas ampelas 400 Pengampelasan dengan kertas ampelas 400

Gunakan spray gun untuk aplikasinya, lakukan 1-2 kali untuk hasil akhir yang lebih baik

(gunakan ampelas nomer 1000)

TOP COATING (Melamine Lacquer)

Gunakan spray gun untuk aplikasinya, lakukan 1-2 kali untuk hasil akhir yang lebih baik

(gunakan ampelas nomer 1000)

Gunakan spray gun untuk aplikasinya, lakukan 1-2 kali untuk hasil akhir yang lebih baik

(gunakan ampelas nomer 1000)

TOP COATING (Nitroselulosa Lacquer)

TOP COATING (Aqua Lacquer)

Gambar 7. Penampilan permukaan anyaman bambu hasil proses finishing teknik batik kombinasi ketiga, keempat, dan kelima.

Tampilan setelah proses nyanting Tampilan setelah proses pewarnaan Tampilan setelah proses nglorot Tampilan setelah pemberian melamine sanding sealer Tampilan setelah pemberian nitrocellulose sanding sealer Tampilan setelah pemberian aqua sanding sealer Tampilan setelah pemberian melamine lacquer Tampilan setelah pemberian nitrocellulose lacquer Tampilan setelah pemberian aqua lacquer

Gambar 8 . Penampilan anyaman bambu yang telah di finishing. Keterangan:

A = Anyaman bambu betung berbahan daging bambu yang diaplikasikan melamin.

B = Anyaman bambu betung berbahan daging bambu yang diaplikasikan nitroselulosa.

C = Anyaman bambu betung berbahan daging bambu yang diaplikasikan aqua. D = Anyaman bambu betung berbahan campuran daging dan kulit bambu yang

diaplikasikan melamin.

E = Anyaman bambu betung berbahan campuran daging dan kulit bambu yang diaplikasikan nitroselulosa.

D

E

F

G

H

I

J

K

L

F = Anyaman bambu betung berbahan campuran daging dan kulit bambu yang diaplikasikan aqua.

G = Anyaman bambu tali berbahan daging bambu yang diaplikasikan melamin. H = Anyaman bambu tali berbahan daging bambu yang diaplikasikan

nitroselulosa.

I = Anyaman bambu tali berbahan daging bambu yang diaplikasikan aqua. J = Anyaman bambu tali berbahan campuran daging dan kulit bambu yang

diaplikasikan melamin.

K = Anyaman bambu tali berbahan campuran daging dan kulit bambu yang diaplikasikan nitroselulosa.

L = Anyaman bambu tali berbahan campuran daging dan kulit bambu yang diaplikasikan aqua.

4.2. Pengaruh Jenis dan Bahan Bambu Terhadap Penampilan Finishing-nya Jenis bambu yang digunakan pada penelitian ini adalah bambu Betung dan bambu Tali dengan 2 jenis variasi bahan yaitu daging bambu serta campuran daging dan kulit bambu. Dari finishing dengan teknik batik didapatkan hasil bahwa bambu Betung menghasilkan warna yang lebih gelap dibandingkan dengan bambu Tali (Gambar 9). Hal ini disebabkan karena anyaman bambu Betung memiliki warna yang lebih terang dibandingkan dengan bambu Tali sehingga pewarna napthol dapat dengan baik diserap oleh bahan anyman bambu Betung. Dari variasi yang digunakan, kulit bambu menghasilkan warna yang tidak bagus atau warna yang dihasilkan tidak begitu jelas (Gambar 10). Hal ini disebabkan karena kulit bambu memiliki lapisan seperti lilin sehingga cairan tidak dapat menembus kulit termasuk pewarna napthol.

Gambar 9. Penampilan finishing batik pada anyaman berbahan daging bambu Betung (A) dan bambu Tali (B).

Gambar 10. Perbedaan penampilan finishing batik antara kulit bambu dan daging bambu.

4.3. Berat Labur Bahan Finishing yang Digunakan

Dari penelitian yang dilakukan didapatkan hasil bahwa wood filler kurang cocok diaplikasikan pada finishing teknik batik karena penggunaan wood filler

menghasilkan warna yang kurang tegas pada bahan yang dibatik. Dengan demikian penggunaan wood filler tidak disarankan pada finishing teknik batik. Hal ini berbeda dengan teknik finishing pada umumnya yang mensyaratkan penggunaan wood filler terlebih dahulu untuk mencapai hasil yang baik. Berat labur rata-rata wood filler untuk kedua jenis bambu dan variasinya berkisar antara 0.0058 - 0.0067 gr/cm2.

Pada penelitian ini digunakan 3 jenis sanding sealer, yaitu impra

Melamine Sanding Sealer MSS-123, Sanding Sealer SS-121, dan Impra Aqua Sanding Sealer ASS-941. Sanding sealer dipilih karena tampilan akhir yang diinginkan adalah flat atau close pore. Sanding sealer memiliki lebih banyak talc

dibandingkan dengan sealer. Sanding sealer dipergunakan untuk membantu meratakan permukaan sehingga dapat berfungsi pula sebagai pengganti wood filler. Pada penelitian ini sanding sealer diaplikasikan 1 kali. Berat labur sanding sealer yang digunakan disajikan pada Tabel 2.

Kulit Daging

Tabel 2. Berat labur sanding sealer.

No. Sampel Berat Labur (gr/cm

2 )

Melamin Nitroselulosa Aqua

1 BD 0.0033 0.0032 0.0024

2 BC 0.0036 0.0022 0.0011

3 TD 0.0026 0.0023 0.0028

4 TC 0.0035 0.0026 0.0020

Keterangan: Bambu Betung (B), bambu Tali (T); bahan daging bambu (D), bahan campuran daging dan kulit bambu (C).

Berat labur sanding sealer pada masing-masing aplikasi tidak jauh berbeda, hal ini disebabkan pengaplikasian sanding sealer sama-sama menggunakan spray gun dengan tekanan 4.5 kg/cm2. Dari hasil tabel di atas didapatkan berat labur rata-rata sanding sealer untuk jenis melamin sebesar 0.0033 gr/cm2, untuk nitroselulosa sebesar 0.0026 gr/cm2, dan aqua sebesar 0.0021 gr/cm2. Pada sistem melamin berat labur yang didapatkan lebih tinggi dibandingkan yang lain. Hal ini disebabkan kadar padatan melamin cukup tinggi, yaitu 52-58 % untuk komponen A dan ± 29 % untuk komponen B (hardener) dengan jumlah pelarut (thinner) 6/16 dari campuran total. Pada sistem nitoselulosa kadar padatannya sebesar 33-35 % dengan jumlah pelarut (thinner) 1/2 dari campuran total. Pada sistem aqua pelarut yang diberikan berupa air dengan jumlah pelarut sebesar 1/2 dari campuram total, berbeda dengan kedua sistem yang lain pada sistem aqua penguapan pelarut lebih lama karena penguapan air lebih lama bila dibandingkan dengan thinner.

Tabel 3. Berat labur top coat.

No Sampel Berat Labur (gr/cm

2 )

Melamin Nitroselulosa Aqua

1. BD 0.0046 0.0042 0.0047

2. BC 0.0053 0.0050 0.0026

3. TD 0.0060 0.0053 0.0047

4. TC 0.0073 0.0072 0.0048

Keterangan: Bambu Betung (B), bambu Tali (T); bahan daging bambu (D), bahan campuran daging dan kulit bambu (C).

Hasil pada Tabel 3 menyajikan berat labur rata-rata top coat untuk jenis melamin tidak berbeda jauh dengan nitroselulosa, yaitu 0.0058 gr/cm2 untuk melamin dan 0.0054 gr/cm2 untuk nitroselulosa. Sedangkan pada aqua berat labur rata-rata yang didapat adalah sebesar 0.0042 gr/cm2.

Pada produk impra melamine lacquer mempunyai beberapa kelebihan, yaitu lapisan film keras dan tebal hingga dapat menutup serat substrat, tahan

solvent dan air, harga relatif murah, namun produk ini juga memiliki kekurangan yaitu bahannya bersifat racun. Pada produk impra nitrocellulose lacquer memiliki beberapa kelebihan, yaitu tidak beracun, terlihat alami, dan mudah di-refinish

sedangkan kekurangan pada produk ini adalah daya tahan mekanis dan kimia rendah, sensitif terhadap kelembaban, dan solid content-nya rendah. Impra aqua wood finish merupakan produk dari PT. Propan Raya dengan sistem finishing

kayu yang ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan manusia. Impra aqua wood finish terdiri dari serangkaian produk finishing kayu water based (berpelarut air) yang diformulasikan dari bahan-bahan yang tidak mengandung logam berat (heavy metal) seperti timah hitam (lead, Pb) dan air raksa (mercury, Hg), dan bahan kimia lain yang dapat menyebabkan kanker, gangguan pernapasan, gangguan sistem hormonal, dan gangguan kesehatan lainnya. Produk impra aqua wood finish mengandung kadar VOC (Volatile Organic Compound) yang sangat rendah, disebut “Low VOC”. VOC yang terlepas ke udara bebas, baik pada saat pengecatan maupun saat pengeringan, akan berdampak pada kerusakan lingkungan dan gangguan kesehatan manusia. Karena menggunakan air sebagai pelarutnya, produk impra aqua wood finish hanya mengeluarkan emisi pelarut organik yang sangat rendah, di bawah ambang batas yang ditetapkan oleh peraturan internasional. Selain itu, impra aqua wood finish juga tidak berbau, dan tidak mengandung formaldehida.

4.4. Cacat yang Terjadi Selama Proses Finishing

Ada beberapa jenis cacat yang ditemukan setelah proses finishing. Hal ini disebabkan kurangnya penguasaan teknik aplikasi bahan finishing. Beberapa cacat

4.4.1. Poor Adhesion

Poor Adhesion merupakan cacat finishing yang disebabkan oleh adanya benda-benda asing pada substrat seperti minyak, debu, lilin, dan oli. Ada beberapa

Dokumen terkait