BAB III METODE PENELITIAN
E. Rancangan Tindakan
2. Pemberian Tindakan
a. Perencanaan
Sebelum melaksanakan setiap tindakan, peneliti menyusun rencana sebagai berikut :
1). Peneliti berkoordinasi dengan guru pembimbing untuk menentukan subjek penelitian.
2). Menetapkan jadwal pelaksanaan permainan dan diskusi bersama guru pembimbing dan siswa (subjek)
3). Menyiapkan peralatan yang dibutuhkan dalam assertive training serta menetapkan tempat untuk pelaksanaan kegiatan.
b. Tindakan dan Observasi
Tindakan yang dimaksud adalah tindakan yang dilakukan secara sadar dan terkendali. Pemberian tindakan dalam tiap siklus ini berupa simulating real life yang disederhanakan dalam sebuah permainan peran. Tindakan yang dilaksanakan dibarengi dengan observasi yang berfungsi untuk mendokumentasikan tindakan dan pengaruhnya (Suwarsih Madya, 2006: 62). Permainan peran dan diskusi dilaksanakan dalam 2 kali siklus. Siklus pertama terdiri dari 4 kali tindakan dan siklus kedua terdiri dari 3 kali tindakan. Materi assertive training pada setiap tahap tindakan disesuaikan dengan indikator dari kemampuan yang akan ditingkatkan.
Siklus I terdiri dari tindakan 1: self disclosure & openness (kemampuan untuk membuka diri, bersikap dan berkata jujur,
65
menghargai lawan bicara, bertanggung jawab atas perkataan dan pemikiran yang disampaikan); tindakan 2: empathy (kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain tanpa kehilangan identitas diri dan mengekspresikan empati secara tepat); tindakan 3: social relaxation (kemampuan untuk mengurangi kecemasan (perasaan tidak nyaman atau ketakutan dalam interaksi sosial, kemampuan untuk menangani reaksi negatif lain atau menanggapi kritik tanpa stres); tindakan 4: assertivenes (kemampuan untuk melibatkan kesediaan dalam berkomunikasi, menikmati proses komunikasi, membela hak-hak diri sendiri tanpa mengabaikan perasaan atau hak orang lain); tindakan 5: interaction management & equality (kemampuan menerima lawan bicara secara penuh, memahami dalam menggunakan prosedur percakapan yaitu pergantian peran kapan sebagai pembicara dan pendengar, kapan memulai dan mengakhiri percakapan serta mampu untuk mengembangkan topik percakapan).
Selanjutnya, pada Siklus II terdiri dari tindakan 6: altercentrism (kemampuan untuk memperhatikan lawan bicara yaitu apa yang dikatakan dan bagaimana dia mengatakannya baik verbal maupun nonverbal, beradaptasi selama percakapan); tindakan 7: supportiveness & environmental control: (kemampuan untuk berkomunikasi yang bersifat sementara, spontan fleksibel dan tidak kaku, kemampuan untuk menyampaikan pesan yang
66
bersifat deskriptif dan tidak memberikan penilaian, mendengarkan pendapat lawan bicara, kemampuan mengubah pendapat lawan bicara); tindakan 8: immediacy (kemampuan untuk melibatkan emosi dalam komunikasi yaitu ekspresi senang, kontak mata, posisi badan atau gerak tubuh); tindakan 9: positiveness & trust (kemampuan untuk menunjukkan sikap positif terhadap lawan bicara, menunjukkan rasa percaya terhadap lawan bicara)
Jarak waktu dari tiap tahap assertive training adalah 2-5 hari (1 minggu 2 kali pertemuan). Waktu pelaksanaan tiap permainan peran yaitu 30 – 45 menit dan waktu untuk diskusi serta refleksi berkisar antara 45 – 60 menit. Berdasarkan rangkaian tahapan assertive training pada kajian pustaka yang terdiri dari 7 tahapan, maka disusun kembali menjadi 4 tindakan dengan mempertimbangkan waktu dan kesesuaian tindakan.
Adapun langkah-langkah dalam tahap tindakan dan observasi (untuk setiap Siklus) antara lain:
1) Berdasarkan tahapan pertama yaitu peserta pelatihan diajak mendiskusikan tentang komunikasi interpersonal yang efektif dan perbedaannya dengan komunikasi interpersonal yang tidak efektif serta dampaknya terhadap perkembangan siswa.
2) Pada tahap kedua problema rendahnya kemampuan komunikasi
interpersonal didasari dari tahapan dua, tiga dan empat yaitu mengidentifikasi dan memilih masalah atau situasi dimana
67
mereka mengalami kesulitan dalam berkomunikasi efektif dengan orang lain. Peserta diajak untuk mengidentifikasi masalah atau situasi dimana mereka mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain serta memahami penyebab yang membuat mereka tidak mampu mengungkapkan ekspresinya secara tepat. Kemudian trainer (guru pembimbing) memberikan memberikan kartu masalah untuk didiskusikan secara kelompok. Peserta diminta mendiskusikan cara untuk mengatasi masalah sesuai dengan kartu msalah yang didapatkan.
3) Berkomunikasi dengan efektif didasari dari tahap ke lima dan enam yaitu mengimplementasi kemampuan komunikasi interpersonal melalui permainan peran dan diskusi lainnya Pada tahap ini peserta diajak dan diarahkan untuk bermain peran (naskah sudah disiapkan). Setiap anggota kelompok mendapatkan peran sesuai tokoh dalam kartu masalah yang diperoleh. Setelah permainan peran peserta bersama trainer mendiskusikan hasil permainan peran yang telah dilakukan.
4) Evaluasi kemampuan berkomunikasi interpersonal yang
didasari dari tahapan ke tujuh yaitu pemberian tugas di luar pelatihan untuk mengaplikasikan kemampuan komunikasi interpersonal secara efektif pada kehidupan sehari-hari di luar pelatihan. Peserta diminta untuk mencatat semua kejadian
68
komunikasi interpersonal yang sudah dilakukan secara efektif. Waktu yang diberikan untuk mengaplikasikannya selama 1 minggu dan didiskusikan pada pertemuan berikutnya. Tindakan ini diberikan pada pertemuan ke tiga.
Ketika pelaksanaan tindakan dilakukan observasi.
Observasi dan monitoring di sini mempunyai dua fungsi, yaitu: pertama, untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan tindakan dengan rencana tindakan; kedua untuk mengetahui seberapa
pelaksanaan tindakan yang sedang berlangsung dapat
mengahasilkan pengubahan sebagaimana diharapkan.
Adapun langkah-langkah tindakan dan observasi dalam setiap siklus antara lain:
a. Mengorganisir 7 siswa kelas VIII-H SMP N 15 Yogyakarta sebagai subyek.
b. Pelaksanaan assertive training dengan empat tindakan yang telah dijelaskan di atas.
c. Observer melakukan observasi terhadap sikap dan perilaku siswa (dalam kelompok) selama pelatihan.
d. Wawancara kepada siswa, setelah semua tindakan diberikan. e. Observasi terhadap perilaku siswa setelah pemberian tindakaan
yang disertai dengan diskusi bersama guru pembimbing. f. Pemberian post test
69
c. Refleksi
Kegiatan refleksi dilakukan untuk memahami proses dan mengetahui sejauh mana assertive training dalam meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal siswa serta kendala yang terjadi selama proses pelatihan. Dalam penelitian ini, refleksi akan dilakukan pada setiap siklus, dengan tujuan utama untuk mengetahui secara langsung kemajuan pada diri siswa setelah dikenai tindakan. Selain itu tindakan yang kurang efektif dan kekurangan pada siklus I menjadi catatan khusus untuk siklus II. Diharapkan tindakan pada siklus II menjadi lebih efektif dan efisien. Siklus I dan siklus II merupakan sebuah rangkaian tindakan sehingga untuk mengoptimalkan hasil yang ingin dicapai maka kedua siklus tersebut harus dilaksanakan.