• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBERSIHAN LUKA

Dalam dokumen Perawatan Luka Makalah Fix (Halaman 28-78)

Proses pembersihan luka terdiri dari memilih cairan yang tepat untuk membersihkan luka dan menggunakan cara-cara mekanik yang tepat untuk memasukkan cairan tersebut tanpa menimbulkan cedera pada jaringan luka. Membersihkan luka dengan lembut tetapi mantap akan membuang kontaminan yang mungkin menjadi sumber infeksi. Namun, jika dilakukan dengan menggunakan kekuatan yang berlebihan, dapat menimbulakan  perdarahan atau cedera yang lebih lanjut.

Untuk luka abrasi, laserasi minor, dan tusuk kecil perawat dapat melakukan hal ini. Pertama perawat membersihkan luka dengan menggunakan air yang mengalir. Kemudian membersihkan luka dengan sabun yang lebut dan air, serta dapat memberikan antiseptik yang dibeli di luar apotik. Antibiotik topikal yang diberikan pada tepi luka dapat memperlambat pertumbuhan mikroorganisme. Namun, penggunaan antibiotik topikal dalam waktu yang lama akan membantu pertumbuhan organisme yang resisten. Apabila laserasi banyak menimbulkan perdarahan,   perawat hanya boleh membuang kontaminan yang ada di permukaan dan  perlu lebih memperhatikan hemostasis sampai klien mendapat perawatan di

Obat-obatan Topikal untuk Membersihkan Luka. Menurut   pedoman klinis AHCPR 1994, cairan pembersih yang dianjurkan adalah cairan salin normal. Salin normal merupakan cairan fisiologis dan tidak akn membahayakan jaringan luka. Banyak obat-obatan topikal yang dulu digunakan untuk membersihkan luka, seperti larutan yodium-povidon, larutan Dakin (larutan natrium hipoklorit), larutan asam asetat, dan hidrogen  peroksida merupakan jenis-jenis larutan yang bersifat toksik bagi fibroblast,

dan oleh karena itu tidak boleh digunakan untuk membersihkan luka.

Membersihkan luka secara hati-hati dengan salin normal dan memasang balutan yang dibasahi larutan salin (basah-basah, basah-lembab) merupakan cara yang sering digunakan untuk menyembuhkan luka dan melakukan debridemen luka (basah-kering). Perawat menggunakan cairan salin untuk mempertahankan permukaan luka agar tetap lembab sehingga dapat meningkatkan perkembangan dan migrasi jaringan epitel. Balutan salin yang lembab (basah-kering) hany boleh dilakukan untuk melakukan debridemen luka dan tidak boleh digunakan pada luka dengan granulasi yang bersih.

1. Drainase

Membersihkan Kulit dan Daerah Drain

Walaupun jumlah eksudat luka yang tidak terlalu banyak dapat meningkatkan pertumbuhan sel epitel, dokter dapat merogramkan  pembersihan luka dan daerah drain jika balutan tidak dapat menyerap drainase secara tepat atau drainase yang keluar dari drain yang terbuka  berkumpul pada kulit. Pembersihan luka memerlukan teknik cuci tangan dan teknik aseptik yang baik. Perawat dapat menggunakan irigasi untuk  mengangkat debris.

Dasar Pembersihan Luka

Perawat membersihkan luka operasi atau traumatik dengan menggunakan cairan sitotoksik yang diberiakn melalui kasa steril atau

melalui irigasi. Berikut ini tiga prinsip penting yang harus diperhatikan saat pembersihan luka insisi atau area di sekitar drain :

1. Bersihkan dari arah area yang sedikit terkontaminasi, seperti dari luka atau insisi ke kulit di sekitarnya atau dari tempat drain ke kulit di sekitarnya.

2. Gunakan friksi lembut saat menuangkan larutan ke kulit. 3. Saat melakukan irigasi, biarkan larutan mengalir dari area yang kurang terkontaminasi ke area yang paling terkontaminasi.

Luka diyakini kurang terkontaminasi daripada kulit di sekitarnya. Setelah menuangkan larutan ke kasa steril, perawat membersihkan luka ke arah luar. Perawat tidak boleh menggunakan kasa yang sama saat membersihkan insisi atau luka untuk kedua kalinya.

Tempat drain sangat terkontaminasi karena drainase yang lembab menjadi tempat berkumpulnya mikro organisme. Apabila luka memiliki area insisi yang kering dan tempat drain yang lembab, maka   pembersihan luka dimulai dari area insisi ke arah drain. Perawat

menggunakan dua buah swap terpisah, satu untuk membersihkan dari atas insisi ke arah drain dan satu lagi untuk membersihkan dari dasar  insisi ke arah drain. Untuk membersihkan area drain, perawat mengusap sekeliling drain dengan gerakan memutar dari tempat yang terdekat dengan drain ke arah luar. Pada situasi ini, kulit di dekat tempat drain lebih terkontaminasi daripada tempat drain itu sendiri. Untuk  membersihkan luka yang bebbentuk lingkaran (luka sirkular), perawat menggunakan teknik yang sama seperti membersihkan drain.

Pembuangan Drainase

Apabila drainase mengganggu proses penyembuhan,   pembuangan drainase dapat dilakukan dengan menggunakan drain atau selang drainase dengan penghisap terus-menerus. Perawat dapat menggunakan barier kulit spesial, sam seperti yang digunakan pada ostomi di sekeliling tempat drain. Barie kulit merupakan bahan yang terbuat dari plastik yang lembut, menyerupai biskuit tipis yang

ditempelkan pada kulit dengan menggunakan plester. Drainase mengalir  di atas barier tapi tidak langsung pada kulit. Alat pembuang drainase adalah unit portabel yang dihubungkan dengan drain berbentuk selang yang berada di dalam dasar luka dan mengeluarkan vakum tekanan rendah yang konstan dan aman untuk membuang dan mengumpulkan drainase. Perawat memastikan bahwa pengisap dapat berfungsi dan sambungan antara alat pembuang drainase dengan selang terpasang dengan baik. Alat pembuang drainase mengumpulkan drainase dan   perawat dapat mengkaji jumlah dan karakternya setiap penggantian  jadwal dinas atau jika diperlukan. Setelah alat pembuang drainase terisi,  perawat mengukur haluaran drainase dengan cara mengosongkan isinya ke dalam silinder yang memiliki ukuran dan set kembali alat pembuang drainase dengan segera untuk membiarkan pengisap bekerja.

2. Irigasi Luka

Irigasi merupakan cara khusus untuk membersihkan luka dengan menggunakan spruit irigasi untuk menyemprot cairan ke area luka dengan tekanan rendah yang konstan. Tekanan irigasi yang lembut akan membersihkan luka dari eksudat dan debris terutama unutk luka terbuka  pada bagian tubuh yang sukar dijangkau misalnya saluran telinga, atau

saat memebersihkan bagian tubuh yang sensitive.

Selain membersihkan luka, irigasi juga berfungsi untuk  memberikan panas ke area luka dan memberikan obat dalam bentuk  larutan steril yang bekerja secara local. Larutan tersebut biasanya berupa air steril atau salin steril.

Prinsip penting dari penyembuhan luka insisi atau area disekitar drain: 1. bersihkan di area yang sedikit terkontaminasi, seperti luka atau insisi kekulit dan sekitarnya.

2. gunakan friksi lembut saat menuangkan luka kekulit.

3. saat melakukan irigasi, biarkan larutan mengalir dari area yang kurang terkontaminasi ke area yang paling terkontaminasi.

Proses Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

a. Identifikasi catatan terakhir tentang tanda dan gejala yang  berhubungan dengan luka terbuka klien. Data digunakan sebagai dasar 

untuk menunjukkan adanya perubahan kondisi.

Luas kerusakan Integritas kulit

 peningkatan suhu tubuh. Dapat menunjukkan respon terhadap infeksi.

Drainase luka (jumlah, warna). Jumlah darinase akan   berkurang seiring dengan proses penyembuhan; drinase serosa   jernih; drainase berwarna merah terang menunjukkan adanya   perdarahan segara; darinase purulen tebal dan berwarna kuning,

kehijauan atau putih.

Bau. Bau menyengat menunjukkan prose infeksi.

Konsistensi Drainase. Leukosit menghasilkan darinase yang tebal.

Ukuran luka, termasu kedalaman, panjang, dan lebar luka. Menentukan tahap penyembuhan

b. Kaji tingkat nyeri klien. Rasa tidak nyaman mungkin   berhubungan langsung dengan luka atau tidak berhubungan langsung

dengan ketegangan otot atau imobilisasi.

c. Kaji ulang program dokter dalam catatan medis untuk   mengirigasi luka terbuka dan jenis larutan yang akan digunakan. Irigasi luka terbuka memerlukan program medis, termasuk jenis larutan yang akan digunakan.

d. Kaji Pengetahuan klien tentang prosedur irigasi. Beri edukasi  pada klien dan kurangi rasa cemas klien.

2. Diagnosa Keperawatan

a. Klien mengeluhkan adanya nyeri pada luka.  b. Mencegah terjadinya infeksi

3. Rencana Keperawatan Hasil yang diharapkan:

a. Klien memahami alasan dilakukannya irigasi  b. Menghilangkan rasa nyeri klien

c. Menghindari infeksi

4. Implementasi Keperawatan a. Persiapan Alat

1. Baskom steril

2. Larutan irigasi steril sesuai program sebanyak 150-500 ml 3. Spuit irigasi steril, kateter lunak steril jika diperlukan. 4. Baskom bersih

5. Sarung tangan bersih (periksa kembali kebijakan institusi) 6. Sarung tangan steril

7. Alas tahan air 

8. Set balutan dan perlengkapan steril untuk penggantian balutan, termasuk pengisian luka jika diprogramkan.

9. Kantong sampah anti bocor 

10. Gaun untuk melindungi seragam perawat.

b. Persiapan klien

1. Berhati-hati dalam menjelaskan tujuan dari prosedur dan langkah tisp prosedur yang dilakukan.

2. Menjelaskan kepada klien dimana perawat harus mencatat dari setiap ketidakbiasaan nyeri atau tekanan dari prosedur yang dilakukan.

3. Jika pengobatan nyeri diperlukan, berhati-hatilah menjelaskan aturan dari pengobatan nyeri yang dirasa memberatkan saat  pelaksanaan.

c. Prosedur tindakan

NO. LANGKAH RASIONAL

gramkan 30-45 menit sebelum melakukan program irigasi luka.

kenyamanan klien akan memudahkan klien ber-gerak dan mengatur posisi yang dapat membantu mengontrol infeksi selama irigasi berlangsung.

2. Jelaskan prosedur Mengurangi kecemasan

3. Atur posisi yang nyaman bagi klien untuk memudahkan cairan irigasi mengalir sesuai gravitasi melewati luka kearah baskom penampung. Atur   posisi klien sehingga luka tegak lurus

dengan baskom penampung.

Mengalirkan cairan dari atas kebawah luka dan dari area yang bersih kearah area yang terkontaminasi akan mencegah infeksi lebih lanjut. Mengatur    posisi klien selama tahap   perencanaan memudahkan   pengaturan permukaan

tempat tidur. 4. Hangatkan cairan irigasi agar  

mendekati suhu tubuh.

Meningkatkan kenyama-nan dan mengurangi res-  pon kontriksi pembuluh

darah dalam jaringan 5. Bentuk kantung sampah anti bocor 

menjadi berbentuk seperti manset dan diletakkan didekat tempat tidur.

Membantu memperta-hankan kantung sampah tetap terbuka lebar   sehingga memudahkan   pembuangan balutan yang

terkontaminasi tanpa mengotori permukaan luar  kantong sampah tersebut. 6. Tutup pintu kamar atau gorden tempat

tidur.

Mempertahankan privasi

7. Letakkan alas kedap air diatas  permukaan tempat tidur didepan muka

Melindungi tempat tidur  sehingga tidak perlu mengganti seprei.

8. Letakkan baskom bersih dibawah luka Menmpung larutan irigasi yang telah terkontaminasi luka.

9. Cuci tangan Mengurangi penyebaran

mikroorganisme

10. Gunakan gaun pelindung bila perlu Melindungi pakaian dan mencegah terjadinya infeksi silang.

11. Siapkan alat disamping tempat tidur  klien

12. Siapkan area steril dengan menggunakan set balutan dan  peralatan steril

Mengurangi resiko masuknya mikroorganisme kedalam luka.

13. Tuangkan larutan irigasi yang hangat kedalam baskom steril dan masukkan larutan irigasi kedalam spluit irigasi didalam baskom

Menyiapkan larutan untuk  irigasi luka

14. Siapkan beberapa potong plester  ditempat yang dapat dijangkau, tetapi  jangan diletakkan di area steril.

Memungkinkan plester  lebih mudah digunakan untuk memfasilitasi  balutan

15. Pasang sarung tangan bersih, lepaskan balutan yang kotor dan buang ketempat sampah

Mengurangi penyebaran mikroorganisme

16. Buka sarung tangan dan buang ketempat sampah

17. Inspeksi luka dan ingat proses   penyembuhan, inflamasi, drainase

atau cairan purulen yang ada pada luka.

Memfasilitasi gambaran lanjutan yang akurat

18. Gunakan sarung tangan steril Mengurangi penyebaran mikroorganisme

19. Lakukan irigasi: Berguna untuk mengangkat debris dan membantu   penyembuhan sekunder.

 jumlah tekanan yang aman dan tidak akan maerusak   jaringan luka.

a. Luka yang terbuka lebar 

1. Isi spuit dengan larutan irigasi. Pasang jarum berukuran 19  pada ujung spuit.

2. pegang ujung spuit 2,5cm diatas ujung luka yang teratas.

Mencegah taruma jaringan granulasi akibat spuit

3. siram luka deengan menggunakan tekanan yang lambat dan berkelanjutan

Memastikan semua debris dibuang

4. ulangi langkah 1-4 sampai cairan yang mengalir kedalam  baskom berwarna jernih

  b. Luka yang dalam dan sedikit terbuka

1) sambungkan kateter lembut dan spuit yang telah terisi

Memungkinkan larutan irigasi mengalir langsung kedalam luka

2. basahi ujung kateter dengan larutan irigasi. Masukkan ujung kateter sampai adanya tekanan secara perlahan-lahan lalu tarik sekitar 1,2 cm untuk  membuang serpihan dinding luka bagian dalam.

3. Siram luka dengan mengunakan tekanan yang lambat dan berkelanjutan

Memastikan debris

terbuang tanpa

menimbulakan trauma   pada jaringan granulasi

yang baru 4. Pencet kateter tepat dibawah

spuit

Menghindari kontaminasi larutan atau baskom

5. Lepas spuit dan sambungkan kembali pada kateter. Ulangi sampai cairan yang mengalir  kedalam baskom berwarna  jernih.

20. Keringkan tepi-tepi luka dengan kasa steril

Mencegah maserasi pada  jaringan sekitar luka akibat kelembaban yang  berlebihan

21. Pasang balutan steril Mempertahankan barier    pelindung yang steril pada

luka

22. Lepas dan buang sarung tangan Memudahkan pemasangan  plester 

23. Fiksasi balutan dengan plester 

24. Bantu klien mendapatkan posisi yang nyaman

Menghilangkan

ketegangan pada daerah luka

25. Rapikan perlengkapan, simpan botol yang masih berisi larutan steril

Larutan steril dapat digunakan untuk irigasi  berikutnya

26. Inspeksi balutan secara teratur Menetukan respon terhadap irigasi luka dan kebutuhan untuk   modifikasi rencana asuhan keperawatan.

27. Evaluasi integritas kulit Menentukan terjadi atau tidaknya perluasan luka 28. Catat penampakan luka irigasi dan

respon klien kedalam catatan keperawatan

Memenuhi tanggungjawab hukum dan memberi informasi yang dibutuhkan untuk memastikan

perawatan yang  berkelanjutan.

5. Evaluasi dan Dokumentasi

Evaluasi klien mengerti prosedur dan bagaiman kenyamanannya

Evaluasi integritas kulit

Catat waktu pelaksanaan prosedur 

Catat penampakan luka irigasi dan respon klien kedalam catatan keperawatan

Diagnosa Keperawatan

1: Tidak efektifnya pertukaran gas/oksigen b.d kerusakan jalan nafas. Tujuan: Oksigenasi jaringan adekuat

 Kriteria Hasil:

Tidak ada tanda-tanda sianosis

Frekuensi nafas 12 - 24 x/mnt

SP O2 > 95  Intervensi :

1. kaji tanda-tanda distress nafas, bunyi, frekuensi, irama, kedalaman nafas.

2. monitor tanda-tanda hypoxia(agitsi,takhipnea, stupor,sianosis)

3. monitor hasil laboratorium, AGD, kadar oksihemoglobin, hasil oximetri nadi,

4. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemasangan endotracheal tube atau tracheostomi tube bila diperlukan.

5. kola bolarasi dengan tim medis untuk pemasangan ventilator bila diperlukan.

6. kolaborasi dengan tim medis untuik pemberian inhalasi terapi bila diperlukan

2: Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b.d banyaknya penguapan/cairan tubuh yang keluar.

Tujuan: Pemulihan cairan optimal dan keseimbangan elektrolit serta perfusi organ vital tercapai

 Kriteria Hasil:

BP 100-140/60 -90 mmHg

Produksi urine >30 ml/jam (minimal 1 ml/kg BB/jam)

Ht 37-43 %

Turgor elastis

Mucosa lembab

Akral hangat

Rasa haus tidak ada  Intervensi :

1. Berikan banyak minum kalau kondisi lambung memungkinkan baik secara langsung maupun melalui NGT

2. Monitor dan catat intake, output (urine 0,5 - 1 cc/kg.bb/jam)

3. Beri cairan infus yang mengandung elektrolit (pada 24 jam ke I), sesuai dengan rumus formula yang dipakai

4. Monitor vital sign

5. Monitor kadar Hb, Ht, elektrolit, minimal setiap 12 jam. 4: Nyeri b.d kerusakan kulit dan tindakan pencucian.

Tujuan: Nyeri berkurang  Kriteria Hasil:

Skala 1-2

Expresi wajah tenang

 Nadi 60-100 x/mnt

Klien tidak gelisah  Intervensi :

1. Kaji karakteristik nyeri

2. Atur posisi tidur senyaman mungkin 3. Anjurkan klien untuk teknik rileksasi

5. Anjurkan klien untuk mengekspresikan rasa nyeri yang dirasakan

6. Beri tahu klien tentang penyebab rasa sakit pada luka bakar  7. Kolaborasi dengan tinm medis untuik pemberian analgetik  5: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d peningkatan

metabolik(BMR)

Tujuan: Intake nutrisi adekuat dengan mempertahankan 85-90% BB  Kriteria Hasil:

Intake kalori 1600 -2000 kkal

Intake protein +- 40 gr /hari

Makanan yang disajikan habis dimakan  Intervensi :

1. kaji sejauh mana kurangnya nutrisi

2. lakukan penimbangan berat badan klien setiap hari (bila mungkin)

3. pertahankan keseimbangan intake dan output

4. jelaskan kepada klien tentang pentingnya nutrisi sebagai  penghasil kalori yang sangat dibutuhkan tubuh dalam kondisi luka  bakar.

5. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian nutrisi  parenteral

6. Kolaborsi dengan tim ahli gizi untuk pemberian nutrisi yang adekuat.

6: Resiko tinggi infeksi b.d kerusakan integritas kulit Tujuan: Infeksi tidak terjadi

 Kriteria Hasil:

Suhu 36 - 37 C

BP 100-140/60 -90 mmHg

Leukosit 5000 -10.000.ul

Tidak ada kemerahan, pembengkakan, dan kelainan fungsi  Intervensi :

2. Cuci tangan sebelum dan sesudah melekukan tindakan 3. Gunakan sarung tangan steril, masker, penutup kepala dan tehnik aseptic selama dalam perawatan

4. Kaji sampai dimana luas dan kedalaman luka klien, kalau memungkinkan beritahu klien tentang kondisinya

5. Kaji tanda-tanda infeksi (dolor, kolor, rubor, tumor dan fungsiolesa)

6. Lakukan ganti balutan dengan tehnik steril, gunakan obat luka (topical)yang sesuai dengan kondisi luka dan sesuai dengan  program medis

7. Monitor vital sign

8. Petahankan personal hygiene

7: Gangguan mobilisasi b.d keruskan jaringan dan kontraktur  Tujuan: Mobilitas fisik optimal

 Kriteria Hasil:

OS mampu melakukan ROM aktif 

Tidak ada tanda-tanda kontraktur daerah luka bakar 

Kebutuhan sehari-hari terpenuhiA  Intervensi :

1. Kaji kemampuan ROM (Range Of Motion)

2. Ajarkan dan anjurkan klien untuk berlatih menggerakan  persendian pada eksteremitas secara bertahap.

3. Beri support mental

4. Kolaborasi dengan tim fisioterapi 5. untuk program latihan selanjutnya 8:Cemas/takut b.d hospitalisasi/prosedur isolasi

Tujuan: Rasa cemas/takut hilang dan klien dapat beradaptasi  Kriteria Hasil :

Klien terlihat tenang

Klien mengerti tentang prosedur perawatan luka bakar   Intervensi :

1. Kaji sejauh mana rasa/takut klien

2. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya 3. Beri tahu klien tentang prosedur perawatan luka bakar  4. Jelaskan pada klien mengapa perlu dilakukan perawatan dengan prosedur isolasi

5. Beritahu keadaan lokasi tempat klien rawat 9:Gangguan body image b.d perubahan penampilan fisik 

Tujuan: Gangguan body image  Kriteria Hasil:

Daerah luka bakar dalam perbaikan

Klien dapat menerima kondisinya

Klien tenang

 Intervensi :

1. Kaji sejauh mana rasa khawatir klien tentang akibat luka  bakar 

2. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya 3. Lakukan prosedur perawatan yang tepat sehingga tidak  terjadi komlikasi berupa cacat fisik 

4. Beri support mental dan ajak keluarga dalam memberikan support

10: Kurang pengetahuan tentang kondisi luka bakar, prognosis dan perawatan luka bakar b.d kurangnya informasi

Tujuan: Klien mengetahui tentang kondisi luka bakar, prognosisi dan  perawatan luka bakar 

 Kriteria Hasil :

Klien terlihat tenang

Klien mengerti tentang kondisinya  Intervensi :

1. Kaji sejauh mana pengetahuan klien tentang kondisi,  prognosis dan harapan masa depan

2. Diskusikan harapan klien untuk kembali kerumah, bekerja dan kembali melakukan aktifitras secara normal

3. Anjurkan klien untuk menentukan program latihan dan waktu untuk istirahat Beri kesempatan pada klien untuk bertanya mengenai hal-hal yang tidak diketahuinya.

2.  PERLINDUNGAN 

Walaupun perdarahan telah berhenti, perawat tetap harus melindungi luka dari cedera atau komplikasi lebih lanjut dengan memberikan balutan steril atau bersih dan mengimobilisasi bagian tubuh. Di rumah dapat digunakan handuk atau popok yang bersih sebagai balutan yang terbaik. Perban atau kain yang dililitkan di sekitar benda yang masuk ke tubuh harus dapat mencegah pergerakan benda secara adekuat.

a. Balutan

Ideal balutan dalam perawatan luka adalah lembab agar    perpindahan sel epitel meningkat, mudah dalam penyerapan drainase

untuk mencegah terkumpulnya eksudat yang dapat menimbulkan  pertumbuhan bakteri dan maserasi di sekeliling kulit akibat eksudat luka.

Tujuan balutan luka:

1. melindungi luka dari kontaminasi mikroorganisme 2. membantu hemostasis

3. mempecepat penyembuhan dengan cara menyerap drainase dan untuk  debrideman luka

4. menyangga atau mengencangkan tepi luka

5. melindungi klien agar tidak melihat keadaan luka bila luka terlihat tidak nyaman bagi klien

6. meningkatkan isolasi suhu pada permukaan luka

7. mempertahankan kelembapan diantara luka dan balutan

Jenis – jenis balutan:

Berguna sebagai absorben khususnya untuk penyerapan eksudat

Balutan ini tidak berinteraksi dengan jaringan luka sehingga menimbulkan sedikit iritasi

Bertekstur dan berbentuk segi empat dengan ukuran 10x10 cm atau 5x5 cm, persegi panjang dengan ukuran 10x20cm dan berbentuk gulungan dalam ukuran yang berbeda

ο Spon kasa tanpa tenunan

Berbahan campuran serat sintetik seperti rayon dan poliester 

Balutan tidak untuk menempel kulit

Hanya untuk membersihkan luka

ο Balutan basah-kering

Untuk luka yang membutuhkan debrideman

Efektif membersihkan luka yang terinfeksi dan nekrotik 

Harus dilembabkan dahulu pada lapisan kontak balutan untuk meningkatkan kemampuan balutan dalam mengumpulkan eksudat dan debris luka kemudian dilapisi dengan absorben yang kering.

ο Kasa Telfa

Untuk luka bersih

Permukaannya mengkilat dan tidak lengket sehingga tidak  akan menempel pada insisi atau luka terbuka tetapi memungkinkan drainase keluar melalui kasa yang telah dilembutkan di atasnya

ο Balutan film transparan

Berfungsi sebagai kulit kedua sementara

Contohnya: Acu-derm, Blisterfilm, Op-Site, Pro-cude, Poluskin, Tegaderm, Uniflex

Digunakan untuk luka permukaan yang kecil dan debrideman otolitik pada luka yang kecil

Keuntungannya:

i. dapat menempel pada kulit yang tidak   rusak 

ii. berfungsi sebagai barier terhadap cairan dari luar dan  bakteri tetapi tetap memungkinkan permukaan yang luka untuk   bernapas

iii. meningkatkan kelembapan luka sehingga mempercepat  pertumbuhan sel epitel

iv. dapat diangkat tanpa merusak jaringan di sekitarnya v. memudahkan melihat kondisi luka

vi. tidak memerlukan balutan sekunder 

ο Balutan hidrokoloid (HCD)

Formulasi koloid, elastomerik dan komponen perekat yang komplek 

Bersifat oklusif 

Contonya: Biofilm, Comfeel, Duo-Derm, Dermiflex, Intact, Intrasite dan Restore

Pada lapisan kontak dengan luka akan mengembang bila terdapat eksudat dan mempertahankan kelembapan luka

Hidrokoloidnya dapat membersihakan luka bergranulasi yang bersih dan untuk debrideman luka nekrotik secara otolitik 

Fungsi:

i. mengabsorpsi drainase dengan penyerapan eksudat di bawah balutan

ii. mempertahankan kelembapan luka

iii. perlahan – lahan mencairkan debris nekrotik   iv. melindungi luka dengan bantalan yang ada

 pada balutan

v. tidak permeabel terhadap bakteri maupun kontaminan lainnya

vi. dapat menempel sendiri an menyesuaikan  bentuk dengan baik 

vii. dapat ditempelkan selama 3-5 hari, meminimalkan trauma kulit dan gangguan penyembuhan luka

ο Balutan hidrogel

Balutan kasa atau lembaran berisi gel yang tidak berbentuk  dan berbahan air atau gliserin

Digunakan pada luka eksudat, luka bakar luka nekrotik dan luka kulit yang terkena radiasi

Contohnya: Aquasorb, balutan luka Carrasyn Hydrogel,

Dalam dokumen Perawatan Luka Makalah Fix (Halaman 28-78)

Dokumen terkait