BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA
IKU 5. Jumlah Paket Teknologi Iptek Litbang Budidaya Air Payau
2. Pembesaran Calon Induk Udang Windu, Penaeus monodon Hasil Selektif Breeding (F1 dan F2) di Tambak
Udang windu merupakan komoditas asli Indonesia mempunyai prospek pasar cerah untuk dikembangkan namun produksinya masih rendah. Beberapa permasalahan yang muncul seperti menurunnya kondisi lingkungan, berkembannya penyakit, dan rendahnya kualitas benih. Benih yang tidak berkualitas diduga disebabkan oleh kurang tersedianya induk unggul yang berkualitas. Untuk itu perlu upaya penyediaan induk unggul dan bebas patogen dalam jumlah yang mencukupi.dan salah satunya adalah pembesaran benih hasil seleksi (selectif breeding) di tambak baik dari alam maupun dari tambak untuk dijadikan calon induk ukuran >60 g. Tujuan penelitian adalah menyediakan calon induk udang windu ukuran 25-60 g.
Unit 1. Distribusi ukuran calon induk udang windu hasil seleksi asal laut (F1) dari 25–60 g pada wadah substrat berbeda. Penelitian dilakukan di tambak Instalasi Tambak Percobaan Punaga, Takalar dengan menggunakan 4 petak tambak beton ukuran 1.000 m2 dan 2 petak tambak tanah ukuran 2.500 m2-3.000 m2 . Hewan uji adalah udang windu asal laut (F1) ukuran 25 g yang ditebar dengan kepadatan 4 ekor/m2. Ada 3 perlakuan
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP) BPPBAP Tahun 2016
46 yaitu: A (tambak beton tanpa dasar pasir), B (tambak beton dasar pasir), dan C
(tambak tanah) dengan masing-masing 2 ulangan. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak kelompok. Peubah yang diamati selama pemeliharaan meliputi pertumbuhan, sintasan dan produksi. Peubah penunjang yang diamati meliputi kualitas air, plankton, dan bakteri vibrio.
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pengaruh perbedaan substrat terhadap pertumbuhan mutlak udang windu memperlihatkan perlakuan A berbeda tidak nyata dengan perlakan B (P>0,05), demikian pula perlakuan B dan perlakuan C (P>0,05), namun perlakuan C berbeda nyata dengan A (P<0,05) (Tabel 21).
Tabel 21. Pertambahan Berat, Laju Pertumbuhan Harian, Sintasan dan Produksi Udang Windu pada Substrat Berbeda
Peubah Perlakuan Perbedaan Substrat
A (Tanpa substrat) B (Pasir) C (Tanah)
Kepadatan (ekor/m2) 4 4 4
Lama Pemeliharaan (hari) 120 120 120
Berat Awal (g) 25,72 25,72 25,72
Berat Akhir (g) 63,22 ± 11,4ab 57,82 ± 14,4a 69,80 ± 14,7b
Pertumbuhan Mutlak (g) 37,50a 32,50a 44,08 ab
Laju Pertumbuhan Harian (%) 0,3057 ± 0,18ab 0,3572 ± 0,138a 0,4198 ± 0,14 b
Tingkat kelangsungan hidup (%) 14,4a 14,6a 9,6a
Produksi (kg ) 576,0a 576,5 a 842,0a
Angka dalam baris yang sama diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata (P>0,05)
Sintasan calon induk udang windu yang diperoleh pada ketiga perlakuan berkisar antara 9,7 dan 14,65%, yaitu perlakuan tanpa substrat sebesar 14,65%, substrat pasir sebesar 14,4% dan substrat tanah sebesar 9,7%. Sintasan yang rendah pada penelitian ini berdampak kepada produksi yang rendah pada semua perlakuan. Berdasarkan Tabel 21, terlihat bahwa produksi udang windu yang diperoleh pada penelitian ini berkisar antara 576,0 dan 842,0 kg selama 120 hari pemeliharaan. Produksi tertinggi diperoleh pada perlakuan C (substrat tanah) yaitu 842 kg, disusul perlakuan A (substrat pasir) yaitu 576,5 kg sedangkan pada perlakuan (tanpa substrat) adalah 576,0 kg. Namun hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perbedaan substrat selama pemeliharaan udang windu berpengaruh tidak nyata terhadap produksi udang (P>0,05). Hasil panen calon induk udang windu ukuran >60 g disimpan sebagai stok hewan uji sebanyak 1.678 ekor
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP) BPPBAP Tahun 2016
47 dan ukuran <60 g yang kondisinya lemah (rusak) dijual sebanyak 87,3 kg, sebagai
penerimaan PNBP.
Unit 2. Seleksi ukuran calon induk udang windu hasil seleksi asal tambak (F2) dan F1 transgenik dari 25–60 g. Penelitian dilakukan di Instalasi Tambak Percobaan Punaga, Takalar dengan menggunakan 2 petak tambak tanah ukuran 5.000 m2. Hewan uji adalah udang windu asal tambak (F2) dan F1 transgenik ukuran 25 g yang ditebar dengan kepadatan 2.000 ekor/5.000 m2 dan dipelihara sampai mencapai ukuran >60 g.
Berdasarkan hasil pengamatan memperlihatkan bahwa pertambahan berat udang windu selama 120 hari pemeliharaan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya waktu pemeliharaan untuk semua perlakuan (Gambar 10). Pertumbuhan udang selama 120 hari pemeliharaan di tambak dapat dilihat pada Gambar 10. Pada Gambar 10 nampak bahwa pertumbuhan udang F2 asal tambak cenderung lebih baik dibandingkan dengan udang F1 transgenik.
Gambar 10. Grafik Pertumbuhan Calon Induk Udang Windu (F2 Tambak dan F1 Transgenik)
Sintasan calon induk udang windu yang diperoleh pada kedua perlakuan berkisar antara 22,6 dan 50,0%. Produksi calon induk udang windu F1 transgenik sebanyak 1.020 ekor dengan sintasan adalah 50,0%, ukuran udang jantan 52,49±6,86 g/ekor dan betina 75,25±12,71 g/ekor, sedangkan produksi calon induk udang windu F2 asal tambak sebanyak 452 ekor dengan sintasan 22,6% yang terdiri dari udang jantan berukuran 54,01 g/ekor dan betina 76,8 g/ekor. Kedua unit kegiatan ini mendukung kegiatan Kelti Nutrisi dan Teknologi Pakan serta Kelti Perbenihan, Genetika, dan Bioteknologi di Instalasi Pembenihan Udang Windu (IPUW) di Barru.
0 10 20 30 40 50 60
1 2 3 4 5 6 7 8
Berat (g/ekor)
Pengamatan (2 minggu)
F1 transgenik F2 tambak
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP) BPPBAP Tahun 2016
48 3. Aplikasi Probiotik RICA untuk Pengendalian Penyakit pada Budidaya Udang di
Tambak
Probiotik RICA adalah bakteri probiotik yang diisolasi oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau (BPPBAP) dari tambak, mangrove, laut, dan makroalga di perairan Sulawesi Selatan. Dari 4.226 isolat diperoleh lima probiotik RICA. Probiotik RICA-1 (Brevibacillus laterosporus) merupakan bakteri asal tambak yang memiliki manfaat dalam perombakan bahan organik dan senyawa sulfida (H2S), juga mampu menekan perkembangbiakan bakteri Vibrio harveyi pathogen. Probiotik RICA-2 (Serratia marcescens) merupakan bakteri asal daun mangrove yang memiliki kemampuan dalam mengurai amoniak dan juga memacu pertumbuhan udang. Probiotik RICA-3 (Pseudoalteromonas sp Edeep-1) merupakan bakteri asal sedimen laut yang memiliki manfaat dalam proses nitrifikasi (mengubah nitrit menjadi nitrat), juga bermanfaat dalam menekan perkembangbiakan bakteri V. harveyi. Probiotik RICA-4 (Bacillus subtilis) merupakan bakteri asal makroalga yang memiliki peranan mirip dengan RICA-1.
Sedangkan probiotik RICA-5 (Bacillus licheniformis) merupakan bakteri asal makroalga yang memiliki manfaat mirip RICA-3 dan juga dalam penguraian amoniak dalam air tambak.
Penelitian ini dilakukan di tambak rakyat di Lingkungan Pangasa, Kelurahan Samataring, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai menggunakan 18 petak tambak dengan luas antara 0,2-0,7 ha/petak menggunakan teknologi ekstensif plus. Semua petakan tergolong tambak tanah sulfat masam (TSM) dengan nilai selisih antara pHF
dengan pHFOX berkisar antara 1,79 (tidak terlalu masam) hingga 4,94 (sangat masam).
Warna air tambak berubah-ubah setiap saat, yang mengindikasikan fitoplankton sulit tumbuh mengingat seringnya terjadi penurunan pH mendadak akibat hujan. Secara umum pH air tambak berkisar antara 5,0-8,9. Kondisi inilah yng menyebabkan udang mudah stres dan akhirnya terserang WSSV dan parasit pemakan darah pada umur udang sekitar 70 hari di tambak. Penggunaan kapur dolomit dan probiotik RICA mampu memperlambat serangan penyakit. Namun demikian beberapa petak tambak terlanjur dipanen oleh pembudidayanya sebelum waktu panen. Dari 9 petak tambak yang sempat terpantau diperoleh bahwa produksi dan sintasan udang rata-rata terbaik (93,9+11,3
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP) BPPBAP Tahun 2016
49 kg/ha dan 16,55+12,38%) pada perlakuan B (pergiliran probiotik RICA-1, RICA-2, dan
RICA-5). Rata-rata produksi udang pada perlakuan B berbeda nyata (P<0,05) dengan perlakuan A (51,5+18,4 kg/ha) dan C (46,9+25,7 kg/ha), namun sintasan udang windu pada perlakuan B berbeda tidak nyata (P>0,05) dengan sintasan udang pada perlakuan A (6,51+0,90%) dan C (5,89+2,72%). Produksi udang windu pada perlakuan A dan C juga berbeda tidak nyata (P>0,05). Aplikasi pergiliran probiotik RICA-1 (asal tambak), RICA-2 (asal mangrove), dan RICA-5 (asal rumput laut) diduga cocok dipakai di tambak tanah sulfat masam apabila penurunan pH air secara mendadak diantisipasi dengan aplikasi kapur dolomit. Agar diperoleh produksi udang yang lebih baik, maka tambak TSM sebaiknya dilakukan bioremediasi terlebih dahulu sebelum digunakan untuk pemeliharaan udang.