No Jenis Pengeluaran Volume
Harga Satuan ( Rp.000)
Biaya
1. Belanja Bahan
- ATK, Komp suplay, dan pelaporan
- Bahan saprodi dan pendukung KBI
- Bahan saprodi dan pendukung KBD
- Konsumsi pertemuan
- Bahan informasi, papan merk, CD 1 tahun 1 paket 1 paket 1 tahun 100 OH 1 paket 63.970 62.050 176.980 50 27.400 335.400 63.970 62.050 176.980 5.000 27.400
2 Honor Output Kegiatan :
- Honor petugas lapang KBD,KBI
- UHL petani , petani KBD
1 Tahun 40 OH 400 10035 18.000 4.000 14.000
3. Belanja Bahan Non Operasional :
- Prosesing benih, analisis
lab 1 tahun 1.000
1.000
1.000
4. Belanja Jasa Profesi : Nara sumber, pengarah, evaluator
10 OJ 500 5.000
5. Belanja
Perjalanan/ transport dalam kota :
- Perjalanan dalam rangka pelaksanaan kegiatan - Perjalan pendek 30 OP 50 OH 5000 100 155.000 150.000 5.000 6. Belanja Perjalanan lainnya :
- Perjalanan daerah
- Perjalanan luar provinsi
1 Tahun 420 OH 2 OP 5.000180 85.600 75.600 10.000 Jumlah 600.000
No Jenis Pengeluaran Realisasi Anggaran Persentase Keuangan ( % ) Persentase Fisik ( % ) 1. Belanja Bahan
- ATK, Komp suplay, dan pelaporan
- Bahan saprodi dan pendukung KBI
- Bahan saprodi dan pendukung KBD
- Konsumsi pertemuan
- Bahan informasi, papan merk, CD 63.970.000 62.047.500 176.980.000 4.998.000 27.400.000 100 99,99 100 99,96 100 100 100 100 100 100
2 Honor Output Kegiatan :
- Honor petugas lapang KBD,KBI
- UHL petani , petani KBD
4.000.000 14.000.000 100 100 100 100 3. Belanja Bahan Non
Operasional :
- Prosesing benih, analisis
lab 1.000.000 100 100
4. Belanja Jasa Profesi : Nara sumber, pengarah,
evaluator 1.400.000 28 100
5. Belanja
Perjalanan/ transport dalam kota :
- Perjalanan dalam rangka pelaksanaan kegiatan - Perjalan pendek 149.986.212 5.000.000 99,99 100 100 100 6. Belanja Perjalanan lainnya :
- Perjalanan daerah
- Perjalanan luar provinsi
75.600.000 9.990.500 100 99,90 100 100 Jumlah 596.372.212 99,39 100
PERSONALI A
No Penjab Kegiatan/ Anggota
Peneliti/ Gelar NI P
Bidang Keahlian
Jenjang Fungsional 1 Dr. I r. Umi Pudji Astuti,MP 19610531
199003 2 001 Ekonomi Pertanian Penyuluh Pertanian Madya 2 Dr. Wahyu Wibawa, MP 19690427 199803 1 001
Agronomi Peneliti Muda 3 I r. Ruswendi, MP 19610320 198903 1 003 Peternakan Penyuluh pertanianMadya 4 I r. Eddy Makruf 19561005 198803 1 001 Agronomi Penyuluh Pertanian Madya 5 I r. Siswani DD 19600730 198903 2 001 Peternakan Penyuluh Pertanian Muda 6 Wilda Mikasari, M.Si 19690812
199803 2 001 Pascapanen
Peneliti Muda 7 Tri Wahyuni, S.Si 19790603
20101 2 003 Analis labor
Calon peneliti 8 Bunaiyah Honorita, SP 19890530
201101 2 009
Sosek Calon Penyuluh 9 Taupik Rahman, S.Si 19880808
20101 1 012
Analis Calon peneliti 10 Johan Syafri, A.Md 19630909
199003 1 001
Peternakan Calon Teknisis 11 Robiyanto 19800103 200710 1 001 SLTA Teknisi 12 Waluyo, A.Md 19760111 200003 1 001 Computer Teknisi 13 Heryan I swandi 19831010 200812 1 001 SLTA Teknisi 14 Sri Hartati. A 19780403 200812 2 001 SLTA Administrasi
Lampiran 1. Materi Narasumber
1. PENGEMBANGAN KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI ( KRPL) PENDAHULUAN
Hingga saat ini, upaya mewujudkan ketahanan dan kemandirian pangan terus digarap secara serius. Pemerintah, melalui pernyataan Presiden, menegaskan bahwa ketahanan dan kemandirian pangan nasional harus dimulai dari rumah tangga, sehingga tak ayal setiap rumah tangga memegang peranan sangat penting dalam mendukung upaya tersebut. Banyak cara yang bisa ditempuh, namun pemanfaatan lahan pekarangan sebagai sumber pengembangan pangan untuk mewujudkan kemandirian pangan rumah tangga, merupakan salah satu pilihan yang sangat menarik dan potensial dikembangkan. Presiden RI pada acara Konferensi Dewan Ketahanan Pangan di Jakarta I nternational Convention Center (JI CC) bulan Oktober 2010, menyatakan bahwa ketahanan dan kemandirian pangan nasional harus dimulai dari rumah tangga. Pemanfaatan lahan pekarangan untuk pengembangan pangan rumah tangga merupakan salah satu alternatif untuk mewujudkan kemandirian pangan rumah tangga.
Salah satu butir kesepakatan Gubernur terkait dengan pembangunan ketahanan pangan adalah mengembangkan ketersediaan dan mempercepat penganekaragaman konsumsi pangan berbasis pangan lokal, melalui (a) menjamin ketersediaan sarana dan prasarana produksi, (b) mengendalikan alih fungsi lahan, (c) melakukan pengkajian dan penerapan berbagai teknologi tepat guna pengolahan pangan berbasis tepung-tepungan dan aneka pangan lokal lainnya, (d) menetapkan hari-hari tertentu sebagai hari mengkonsumsi pangan lokal, (e) mendorong berkembangnya kantin/ warung desa / sekolah / perguruan tinggi untuk memanfaatkan bahan-bahan pangan lokal (BKP, 2011).Upaya diversifikasi pangan yang tertuang dalam salah satu butir kesepakatan tersebut sangat strategis dalam rangka menurunkan konsumsi beras. Saat ini konsumsi
beras mencapai 139 kg/ kapita/ tahun. Menurut Wamentan, konsumsi ini perlu diturunkan, idealnya pada kisaran 90 hingga 100 kg/ kapita/ tahun.
Dalam masyarakat perdesaan, pemanfaatan lahan pekarangan untuk ditanami tanaman kebutuhan keluarga sudah berlangsung dalam waktu yang lama dan masih berkembang hingga sekarang meski dijumpai berbagai pergeseran. Kondisi ini tentu menjadi tantangan tersendiri, sehingga pemerintah bersama-sama dengan segenap lapisan masyarakat perlu menggerakkan kembali budaya memanfaatkan dan mengelola lahan pekarangan, tak hanya bagi masyarakat perdesaan namun juga perkotaan. Komitmen pemerintah untuk melibatkan rumah tangga dalam mewujudkan kemandirian pangan perlu diaktualisasikan dalam menggerakkan lagi budaya menanam di lahan pekarangan, baik di perkotaan maupun di pedesaan.
Provinsi Bengkulu memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah. Ketersediaan jenis pangan dan rempah yang beraneka ragam, berbagai jenis tanaman pangan seperti padi-padian, umbi-umbian, kacang-kacangan, sayur, buah, dan pangan dari hewani banyak kita jumpai. Demikian pula berbagai jenis tanaman rempah dan obat-obatan dapat tumbuh dan berkembang dengan mudah di wilayah kita ini. Namun demikian realisasi konsumsi masyarakat masih dibawah anjuran pemenuhan gizi. Oleh karena itu salah satu upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan keluarga dan gizi masyarakat harus diawali dari pemanfaatkan sumberdaya yang tersedia maupun yang dapat disediakan di lingkungannya. Upaya tersebut ialah memanfaatkan pekarangan yang dikelola oleh keluarga.
Berdasarkan pengamatan, perhatian petani terhadap pemanfaatan lahan pekarangan relatif masih terbatas, sehingga pengembangan berbagai inovasi yang terkait dengan lahan pekarangan belum banyak berkembang sebagaimana yang diharapkan. Kementerian Pertanian melihat potensi lahan pekarangan ini sebagai salah satu pilar yang dapat diupayakan untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga, baik bagi rumah tangga di pedesaan maupun di perkotaan. Lahan pekarangan merupakan salah satu sumber potensial penyedia bahan pangan yang bernilai gizi dan memiliki nilai ekonomi tinggi, bila ditata dan dikelola dengan baik. Selain dapat memenuhi kebutuhan pangan dan gizi dari keluarga sendiri, juga berpeluang meningkatkan penghasilan rumah tangga, apabila dirancang dan direncanakan dengan baik. Pemanfaatan pekarangan tersebut juga dirancang untuk meningkatkan konsumsi aneka ragam sumber
pangan lokal dengan prinsip gizi seimbang (Badan Litbang Pertanian, 2012). Ketahanan dan kemandirian pangan secara nasional dapat tercapai jika dimulai dari rumah tangga. Pemanfaatan lahan pekarangan secara terpadu merupakan salah satu inovasi teknologi yang dapat digunakan untuk mewujudkan ketahanan pangan khususnya yang dimulai dari rumah tangga.